Archive for sAjaK-saJaK ciNta

The Original Song of Maltavista

Our Graduation...

Malagasiy:Our Graduation...

Malta Vista,,,
Kenangan indah tiada pernah usainya
Terikat kasih dan sayang
Jalinan penuh makna
Merenda persahabatan suka duka bersama

Malta Vista,
Diamku bukan arti tak cinta
Tidurku bukan arti tak bela
Sgala salahmu tak tanda pupuslah ukhuwah kita
Tak ada yang sadari, jauh di lubuk hati aku bangga

Malta Vista oh Maltaku…
Dedikasiku untukmu
Terjaga dirimu oleh jiwa kami yang bersatu
Tetap kokoh pribadimu selalu

Malta Vista oh Maltaku…
Ku kan slalu rindukanmu
Walau rintangan membentang walau godaan menghadang
Ku kan pasti tetap sayang kepadamu
Oh, Maltaku…

Comments (4)

Saat Kau Menyapa

silir angin membisik
dalam hening,
sampaikan sapamu Cinta

dan ku melihatnya
sedalam rindu yang kau rasa
melalui hati yang ku jaga
dengan ijinNya

dengarkanlah, Cinta
mereka beresonansi dengan indahnya
melantunkan irama megah
iringi tiap detik
yang selalu kuhitung
saat menantimu
di sini… di sisiku…

(Huhuhu…aku ni knapa… ko jadi  melloo banget.. huks..huks..!)

Comments (3)

Hingga Tiba Masanya…

selangkah lagi...

selangkah lagi...

karena menghitung hari hingga hadir saat itu

semua pun tampak merah jambu…

semoga takkan lagi menjadi kelabu…

terimakasih…

telah menghadirkannya

dalam ketulusan dan apa adanya

kala menikmati tiap detik yang bergulir

aku berkata dalam hatiku

belum pernah ada yang menganggapku istimewa seperti ini

karena demi Tuhan!Aku ini biasa saja…

sungguh ini sudah lebih dari cukup…

Comments (1)

Senja di Akhir Sya’ban

perjalanan masih panjang... saatnya melihat ke depan dan pulang...

perjalanan masih panjang... saatnya melihat ke depan dan pulang...

senja tersenyum anggun bersama semburat jingga dan merah tua

hadirkan untukku rangkaian slide yang terekam sepanjang perjalanan hidupku

aku terhenti bersama dahan akasia yang tak lagi melambai

meneliti barangkali ada yang luput kuamati.

sejauh ini, apa saja yang telah terjadi…


tak ada yang salah dengan masa lalu

kuharap aku akan selalu berpikir begitu

meski sisi manusiaku malu


berpikir,

begitu ruah melimpah kasih telah tercurah

meski seringkali sengaja berpaling muka

tapi tetap saja ada cinta

gundah,

menjadi takut aku jadi tak pandai bersyukur

seperti senja…

yang ingin segera mengakhiri siang namun resah menyambut keindahan malam

aku kaku di antara sebuah akhir dan awal

seperti apakah cahaya di balik gulita langit itu

ku dengar begitu menawan

tapi aku ragu mencari tahu

seperti meninggalkan Sya’ban yang berarti menyapa Ramadhan

sebuah suka cita bagi siapapun yang rindu limpah kasihNya

tak pantas lagi mengulur waktu

aku pun bergegas

menari bersama irama yang telah terbiasa menjadi melodi hidupku

Leave a Comment

KaTaKan aKu PuN LeLaKi,,,

Apakah ada yang seperti ini

Kan selalu hadir sebagai bayang-bayang

Katanya sama saja seperti pecundang

Yang kalah sebelum berperang

Tahu jawabnya hanya membuat diriku benci

benci pada diri dan merasa bodoh sendiri

Atau malah sebaliknya?

buatku bangga karena berbeda?

Sehingga ku jadi istimewa? 

Perempuan mana yang tertarik dengan rasio

nampaknya seperti terdengar,

Lelaki mana yang tak berpikir dengan rasio 

Tapi bolehkah sekali ini saja ku jadi lelaki

Kupakai otakku dan mengabaikan keabstrakan rasaku

Karenaku butuh berlindung dari luka itu

Menjadi kokoh dan tak peduli walau dilupakan

Tetap mengeras walau tahu sebuah ruang

mungkin takkan pernah ada

Aku ingin tetap tegak di barisan depan

Seperti lelaki yang pantang berperasaan 

Aku tertantang

Dan akan kubuktikan

Bahwa takkan pernah ada keluhan

Mengurai air di pelupuk hanya mengundang kelemahan

Kau harus tahu aku tidak lemah!

Tidak akan! 

Tapi sesosok bayang

Tak sedikitpun berminat dengan pengakuanku

Bersembunyi dalam gelap

menertawai membiarkanku bernyanyi semu

Rautnya mencibir meragukanku

Dia menyeringai

Lalu melemparkan sapu tangan putih biru di depan wajahku

Sebelum akhirnya menghilang

Dan meninggalkanku dalam kegamangan

Aku berdiri angkuh dan genggam erat sapu tangan itu

Mataku memerah marah

Memandang dendam ke arah sirnanya sang bayang-bayang

Tapi tubuhku tetap saja menggigil pilu 

Comments (5)

bEcaUsE YoU SaiD sO,,,

Sore itu Fatimah terhenyak di depan meja kamarnya,,, tangan kanannya tampak gelisah memainkan pena hitam dengan putaran-putaran tak menentu di atas lembar diary yang sejak tadi masih juga kosong,,,Sesekali Fatimah mencuri pandang ke arah jendela yang sengaja dibuka lebar agar leluasa memamerkan padanya rinai hujan dengan garis-garis putihnya yang amat memikat dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta…Fatimah kembali memeluk diary-nya. Tuk sekian kali terbayang sesosok pria arif dan bersahaja yang selalu dipujanya itu. Lalu Fatimah mulai menulis…

Di Seberang Jalan, 6 Januari 2008.Saat hujan yang cantik kembali datang, 16.17 Waktu Cinta Berkumandang.

Ayah…

Setiap kali mengingatmu,

selalu saja aku merasakan semangat itu

Setiap kali kupejamkan mata hingga sirna semua yang nampak di sekelilingku dan aku hanya membayangkanmu,

selalu saja tak hentinya ku mengakui betapa tampan dirimu

Setiap kali memikirkanmu dan merasakan begitu banyak cinta yang mengelilingimu,

selalu saja ada haru,,,haru yang mengiringi rasa betapa bangganya aku padamu…

Ayah…

Setiap kali merindukanmu aku begitu takut pergi jauh darimu,

Aku takut tak lagi ada yang menghalau srigala jahat yang mengganggu tidurku

Aku takut tak lagi ada yang mencabut duri mawar yang tak sengaja melukai jariku

Ayah…

Setiap kali kurasakan betapa cepatnya waktu berlalu aku begitu takut seseorang kan mengambilku darimu…

Aku telah terbiasa menikmati hujan yang kusukai bersamamu

Aku telah terbiasa memanen mangga di depan rumah denganmu

Aku telah terbiasa mendengar lantunan tilawahmu di malam hari

Aku telah terbiasa kau marahi saat aku mulai nakal dan tak mematuhi

Haruskah aku tetap pergi, Ayah?Tapi bukankah memang aku harus pergi?

Fatimah kembali menjauhkan tinta hitam dari lembaran putih di bawahnya. Kini air mata mulai menganak sungai dengan indah melintasi tulang pipinya dan bersaing dengan derasnya hujan di luar. Tubuhnya bergetar dan beresonansi dengan getaran dari rasa yang berasal dari dalam melodi jiwanya. Kemudian ia kembali mengambil pena-nya…

Ayah…

Saat itu seketika saja seseorang yang asing dari negeri asing datang kepadamu Berkendara dengan kuda putih dan menyarungkan sebuah pedang emas di pinggangnya

Serupa Sayyidina Ali yang gagah berani hendak pergi ke medan perang

Dikatakannya setelah tujuh purnama nanti dia kan datang kembali

Tuk akhirnya membuatku harus meninggalkanmu di sini…

Ayah…

Meski aku begitu berat bukankah aku tetap harus pergi?

Saat aku ingin menangis kau katakan “jangan menangis!” maka aku kan berhenti menangis

Saat aku mulai merapuh kau katakan” tetaplah tegar!” maka aku kan tegak di hadapmu

Lalu saat kau katakan” pergilah!”apakah aku tetap harus pergi, Ayah?

Meski kutahu kau begitu takut jikalau ia tak sebaik dirimu melindungiku

Meski kumengerti kau sangatlah resah jikalau ia tak sebaik dirimu menyayangiku

Meski kupahami kau amat bimbang jikalau ia tak semerdu dirimu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku,

Tak semahir dirimu membuatku tertawa,

Tak sepintar dirimu menyeka air mataku

Bagaimana jikalau ia menyakitiku?

Bagaimana jikalau ia menyia-siakanku?

Hingga kau berkata dalam hatimu seberapa mampukah ia dapat dipercaya untuk menyimpan dan membawa permatamu pergi?

Tapi, Ayah. Kemudian kau tetap berkata padaku “Pergilah!”…

Dan aku pun akan pergi…

Ayah…

Saat ini aku begitu menikmati detik-detik waktu yang tersisa untukku bersamamu sebelum purnama terakhir itu tiba

Ayah…

Aku ingin abdikan saat-saat penghujung ini tuk lakukan yang terbaik untukmu

Sebelum aku pergi harus kupastikan kau kan selalu baik-baik saja

Sebelum aku jauh mesti kuyakinkan bahwa kau kan selalu bahagia

Ayah…

Percayalah bahwa sejak dulu,,,saat ini,,,bahkan nanti meski takkan sesering ini ku memandang wajahmu, aku kan selalu mencintaimu…

Semilir angin menelusup masuk bersama percikan air hingga menyentuh wajahnya yang basah. Fatimah mengakhiri tulisannya seiring terdengarnya sayup adzan maghrib dari surau di samping rumah. Bersama itu ayahnya datang mengetuk pintu: “Segeralah berwudhu, Fatimah. Kita kan dirikan sholat maghrib berjamaah”Sambil berlari kecil Fatimah membuka pintu dan menyeka air mata sekenanya. Ia berkata dengan penuh makna: “Baik, Ayah.”.Senyumnya terkembang dengan sempurnaSang Ayah membalas senyumnya dengan binar yang menyiratkan berjuta cinta, lalu mengusap-usap kepala Fatimah yang tertutup jilbab putihnya. Fatimah memejam mata dan berdoa:

“Ya Allah, Berkahi dan Muliakanlah cinta ini seperti cinta seorang Muhammad kepada Fatimah Az-Zahra ananda yang tercinta,Aamiin”

Leave a Comment

AllaH,pLiSs..StAy BeSiDe..aLL tHe TiMe…

Lagi…

Lagi-lagi aku kalah dalam pertempuran ini

Lagi-lagi aku dibutakan oleh deras riak-riak rasa yang menguasai

Lagi-lagi aku menyesal

tepat beberapa detik setelah ketidakmatangan itu terkirimkan

Berjuta tanya berteriak di usainya…

Mengapa kau lakukan itu!

Kenapa kau perbuat itu!

Ooooh Kasihku…Tolonglah aku…

Aku merasa begitu buruk

Aku merana dengan dosa

Aku nista dengan permainanku sendiri

Aku hampir saja putus asa dengan ujianmu ini

Aku benar-benar sekarat…aku…sekarat…sungguh sekarat…

Lagi-lagi aku menangisi kebodohan yang terus terulang

Menghinakan diri dengan kelusuhan yang sama

Apa artinya air mata yang terus kau peras saat akhirnya menyesali

Kau bertingkah lagi

Dan lalu kau menangis lagi

Kemudian bertingkah lagi

Dan masih juga menangis lagi

Penyesalan macam apa yang kau pilih itu?

OOhhh…Ya Allah,,,

Apa yang telah kulakukan…

Apa yang aku lakukan…!

Betapa aku telah begitu mengecewakanMu…

Mengecewakan diriku sendiri, aku benci!!!

Ayolah…

Tidakkah kau dengar!

Hatimu menjerit!

Ragamu sakit!

Jiwamu tercabik!

Merintih lelah oleh deru goda yang samar dan tak kasat mata

Sadarlah…kumohon…sadarlah…

bangun…bangunlah dari semua ini sayang…

Sudahi…Akhiri…Akhiri kebodohanmu!

Kendalikan…Kendalikan…Kendalikan…

kumohon kendalikan dirimu!

Sekali lagi…tak kan pernah jemu kumemohon, kendalikan…

Kendalikan dirimu!

Ken..da…li..kan…lah…

Sampai kapan…imunitas-mu ini dipertanyakan??

Hingga mana…benteng dirimu itu disangsikan??

Tidakkah kau merasa pedih,

Saat Syaitan menertawakanmu di depan wajahmu sendiri

Memperolok kadar imanmu dan meneriakkannya di telingamu

Tidakkah kau merasa tertampar,

Dengan kelemahanmu yang lalai menjaga hati

Kamu harus tegas!

Didiklah dirimu lebih keras!

Bukan ‘seperti’…tapi ‘lebih’ keras dari biasanya!

Sayangku…

jangan terlampau lemah menghadapi dirimu,

kenalilah batas kerentananmu sendiri…

pandai-pandailah memahami

sejauh mana kau mampu untuk tetap tegak berdiri

bertahan pada pijakan kakimu

sekuat apapun yang kau mampu terjagalah sebisamu

kerahkan seluruh tenagamu

berkeraslah!

memperjuangkan harga dirimu sebagai muslimah

yang beriman, berihsan, dan berislam

bukankah kau rindu dengan kebeningan itu, sayang?

Sayang…

Sadarilah dengan segenap kurang dan lebihmu

Bahwa waktu yang terbentang itu masih begitu panjang

Belum terhitung separuhnya kau lulus mengarungi,

Waspada…waspada…waspada…

Lihatlah syaitan telah mengincarmu dari segala penjuru

Jangan beri kesempatan mereka

Tuk memperbudakmu dengan nafsumu sendiri

jangan kau hinakan dirimu dengan mengabdi padanya,,,

lebih lagi jika kau bawa jiwa lain ikut terjebak kedalamnya…

Jadikanlah itu tantangan yang akan kau taklukan

Kalahkan mereka!

Jangan pernah menyerah… sekejap matapun!

Kuasailah…dan biarkan cintaNya saja yang bertindak…

Ya Allah, Engkaulah Pemilik kekuatan yang sempurna

Tiadalah kumohon lindung dan pertolongan selain daripadaMu

Jangan tinggalkan aku Kasih…

tetaplah ada disini…

disisiku

selalu…

Comments (2)

ApAkAh kaU jEnUh paDaKu,SaHaBaT?

Ada apa sahabat…

Hati ini bertanya-tanya, ada apa denganmu…

Ataukah seharusnya aku bertanya pada diriku,

Ada apa denganku?

Mengapa…diri ini merasa, kau jenuh padaku sahabat

Akukah yang terlalu perasa, ataukah itu benar adanya

Sahabat,

Bukalah mata, dan rasakanlah kegalauanku ini…

Mengapa aku merasa kau jenuh padaku sahabat,

Apakah diri ini terlalu banyak bicara…

Apakah aku terlalu sering hadir di tiap hari2mu

Apakah aku terlalu lama selalu ada di dekatmu

Maafkan aku,,,

Aku sungguh takut, jika kau harus jenuh padaku

Sungguh tiada maksudku membuatmu jenuh di tiap kemunculanku

Aku hanya,,,ingin kau merasa bahwa,

Aku ada disini, di sampingmu…

Apakah kau tidak sepakat dengan keinginanku itu, sahabatku…

Sahabat,

mengapa kau begitu jenuh padaku…

Lalu apakah yang harus kulakukan agar kau merasa nyaman?

Apakah yang kau ingin aku buat,

Haruskah aku menjauh darimu sahabat…

Haruskah itu?

Jika engkau berkenan tahu, itu sangatlah sulit bagiku…

Tapi, sungguhkah kau menginginkan itu?

Itukah yang membuatmu kembali hangat…

Sahabat,

Jika disitulah kebahagiaanmu,

Maka seharusnyalah aku pergi jauh darimu,,,

Mungkin untuk sementara, atau bahkan untuk selamanya

Sampai Kapanpun selama kau mau…

Sahabat,

Ketika suatu saat,

kau membutuhkanku, kau merindukanku,

dan kau ingin aku kembali padamu…

kabarkanlah itu padaku secepatnya,

datanglah padaku kapanpun kau mau,

dengan segera aku kan sambut dirimu dengan suka…

Sahabat,,,

Ada apa denganmu…ada apa denganku…

Mengapa aku merasa…kau tengah jenuh padaku

Katakanlah padaku sesuatu,

Agar hilang bimbang dan galauku yang begitu menyesakkan ini…

Saat winamp di kompi melantunkan I finally found someOne-nya Bryan Adams feat Barbara Streisand, cordis-ku begitu ramai berdetak…

Hingga What a Wonderful world-nya Kenny G pun habis, cordis-ku masih ramai berdetak…

Mengapa aku begitu meresahkan itu, Allah…save me please…

Leave a Comment

I ReaLLy BeG yOu ApoLogiZe…

Jika yang kuhadirkan adalah luka,

Maka Maafkanlah aku teman,,

Aku yakin dengan IzinNya kelak kau pun akan mengerti

Bukankah malam tak selamanya berbintang

Dan siang tak selalu harus berawan

Tidakkah engkau rasakan,

Betapa banyak keindahan yang belum kau kunjungi

dibalik kokoh bukit ini…

Lihatlah ia teman,

Dan jangan sedikitpun beranjak dari nuansanya…

Sehingga saat itu kau kan mengerti

Mengapa aku berkata seperti ini

Jika ku kado-kan kecewa seiring pengharapanmu

Maafkan aku teman, sungguh…maafkanlah…

Sinar mentari tak kan meminang cahya rembulan

Dan tak selamanya mentari kan tersenyum

Karena sekali dua haruslah hadir keindahan hujan

Dan Tuhan telah Memutuskan

Kali ini, mentari kah atau hujan kah yang kan menyapa bumi

Keduanya sama indah,

Tapi hanya Dia Yang Tahu, apakah yang tepat untuk bertandang

Orang bilang,,,

Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung

Begitu pulalah diriku ini,

Telah memilih sebuah regulasi tuk pagari tutur dan laku

Memilih sebuah sistem tuk menerangi mata dan hati

Yang selama ini lama kucari

Meyakini Dzat yang suci yang mengatur alur dhamirku

Aku yang mengarung sungai

Tak pernah tahu kemana sampan ini kan berujung membawaku

Tapi dengan sepenuh hatiku

pilihan itu saat ini menggiringku berkata padamu;

Sungguh maafkan aku teman,,,kelak pun engkau akan mengerti

Maafkan aku untuk Desember yang mengecewakan…Aku percaya, dengan izinNya kau kan buat Desember-mu selanjutnya menjadi sangat menyenangkan melalui cara yang lebih indah…^_^ you can make it, hey!

Leave a Comment

AkU InI sEdAnG fUtUR…


Tausyiah, special banget buat diri yang lemah ini

Juga buat Anda, dan Antum semua

Yang tengah Futur…

atau yang senantiasa berjuang melawan kefuturan diri….


(dari Mbak Ika N-Murabbi-ku sayang-dengan sedikit perubahan, semoga tidak mengurangi esensi yang ingin disampaikan)

Saya ini sedang futur…Terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekandengan alasan klasik,seperti kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah…

Saya ini sedang Futur…Jarang baca buku tentang Islam, lagi suka baca KoranDulu tilawah tidak pernah ketinggalan, sekarang satu lembar aja dah lumayan…Tilawah udah ga berkesan, nonton layar emas malah ketagihan…

Saya ini sedang Futur…Mulai malas sholat malam, jarang bertafakkurba’da shubuh kanan kiri salam, lantas kembali mendengkurApalagi waktu libur, bablas sampai menjelang dhuhur…

Saya ini sedang FuturLihat perut semakin buncit, karena junkfood dan pangsitKalo infaq sudah mulai sedikit dan mulai pelitapalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah

Kamu tau saya sedang Futur…Sedikit Dzikir, banyak tidur, belajar ngawur, IP pun hancurTeman-teman ga ada yang negur…Kamu tau banget kalo saya ini lagi Futur

Hati beku, otak mikirin orang lain sampe ngelanturDiri sendiri ga pernah ngukurKamu tau lah saya sekarang..Senang duduk di kursi goyang, perut kenyang hati melayangMulut sibuk ngomongin orang, aib sendiri ga pernah kebayangKamu pasti tau saya ini Bengal

Bangun malam sering ditinggalOtak bebal banyak mengkhayal, dah lupa yang namanya ajal…

Kamu tau saya beginiUdah sok tau, seneng dipuji, ngomong sok suciKayak murabi, ga ngaca diri sendiriSaya ini sedang Futur

Ga lagi pandai bersyukurSeneng disanjung dikritik murungSaya ini sedang benar-benar Futurmulai terlena sms-an ga penting dengan ikhwan,padahal tau tapi ga mau ngelawanGa jaga jarak hati dan jasad, ga sadar diri mulai asyik berkhalwat

Saya ini sedang Futur…Rajin bikin ortu marah, sedikit sekali muhasabah, seringkali mengghibah…

Astaghfirullah, Saya ini memang sedang Futur….Mengapa tiada satu ikhwah pun yang datang menegur dan menghibur??Kenapa batas-batas mulai mengendur??Kepura-puraan, basa-basi, dan kekakuan subur??

Kenapa begitu mudah pekat itu luntur??

Kenapa di antara kita hanya pandai bertutur??

Ya Allah berikan hamba ini pelipur…

Agar kemudian tidak menjadi semakin Futur…

Apalagi sampai tersungkur…

untukmu teman2ku, tengoklah saudaramu barang sejenak,

barangkali saat ini, imannya tengah berada di ujung tanduk,

dan membutuhkan sekali belai ingatmu…

Leave a Comment

Older Posts »