Terinspirasi dari perjalanan indah seorang ukhti, sahabatku yang baik, yang kini sedang berbahagia hidup bersanding dengan suami yang sangat menyayangi dan disayanginya
Terimakasih telah berbagi… ^_^
Aku menyibak perlahan gordyn tebal di sisi kiriku. Titik-titik hujan yang bersisa di atas kaca jendela tampak terseret lemah oleh kencangnya angin yang melawan arah laju ular bermesin ini. Syukurlah bunyi gerbong kereta yang bersahutan terdengar begitu keras sehingga menyamarkan teriakan hatiku yang sejak pagi tadi sangat gelisah entah mengapa.
Hpffpff….aku mendesah, mataku menerawang jauh kearah langit yang gelap sekali malam ini, tapi sayangnya aku hanya menemui sepi, padahal aku masih berharap ada satu saja bintang yang mau menemaniku yang sedari tadi tak bisa juga memejamkan mata. Astaghfirullahal’adhiim, aku beristighfar cepat-cepat sebelum malaikat mencatat kelalaianku yang telah menghembuskan napas keluhan akan beban yang seketika saja tadi terasa berat di pundakku, aku harus kuat!
Dan lantunan dzikir deras mengalir dari bibirku…
Hari ini juga ibu memintaku pulang, beliau memohon padaku untuk tidak beralasan macam-macam lagi demi menolak permintaannya, kali ini aku memang harus benar-benar pulang.
Yaah, sepertinya permintaan ibu ini sangat tidak berlebihan. Sudah setahun lebih tepatnya sejak peristiwa itu berlalu, aku memang sengaja menyibukkan diriku, dari mulai materi kuliahku yang luar biasa banyak, sampai kegiatan organisasi kampus yang tidak pernah berhenti. Bakti Sosial di desa terpencil, khitanan masal, pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, privat macam-macam, training ini itu,pengajian sana sini, sampai mengurusi adik-adik asuhku di Panti Asuhan Al-Fataa. Semuanya sangat menyita waktu, atau lebih tepatnya aku ingin itu semua menyita waktuku. Sampai-sampai aku tak sempat pulang bahkan di hari lebaran karena aku mendapat giliran jaga posko kesehatan mudik di stasiun kota, alhasil aku hanya bisa sungkem dengan Bapak, Ibu dan Mas Dimas kakaku satu-satunya melalui telepon seluler. Jadi, wajar saja jika ibu sangat merindukanku, dan jujur… sebenarnya aku pun sangat merindukannya, di tengah beratnya hari-hari yang kulalui selama ini aku sungguh ingin merasakan hangat peluknya yang menentramkan itu, menikmati tiap rasa aman yang hadir di setiap belainya,…alangkah indahnya… tapi aku tidak ingin tampak lemah, aku bukanlah akhwat lemah yang tumbang begitu saja hanya karena tiupan angin, atau merengek seperti bayi hanya karena cubitan kecil. Aku bukannya menyangkal setiap orang punya sisi lemah, tapi paling tidak aku tidak ingin seorangpun melihat saat aku menjadi lemah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Penolongku…
Ah…peristiwa itu, lagi-lagi kenangan itu terekam ulang di kepalaku, kenapa aku masih saja merasakan luka saat mengingatnya. Apakah hati ini masih belum ikhlas menerima qadarMu Ya Allah. Sungguh Aku tak bermaksud begitu Allah, tapi kadang otak kita memang tidak bisa membuang sebuah memori yang sangat berkesan dalam hidup tuannya, terlebih lagi jika bersamaan dengan hadirnya seperti ada kelu menyerang hati sehingga terasa begitu sesak sekali.
* * * * *
Mas Uza,,,pria yang hampir saja menjadi suamiku itu adalah satu-satunya Residen Bedah Jantung dan Pembuluh yang ada di Rumah Sakit Daerah di
kotatempat tinggalku. Namanya sangat dikenal oleh dokter-dokter muda karena ketrampilan bedahnya yang luar biasa, juga oleh perawat-perawat rumah sakit karena ketampanan wajahnya, usia yang terbilang muda tak membuat dokter-dokter senior pun urung menyeganinya. Seperti semua itu belum cukup, ia juga aktif mengisi ceramah keagamaan di event apa saja, kezuhudan dan kealimannya sudah terdengar di telinga setiap orang termasuk telinga pamanku yang sama-sama menjadi aktifis kesehatan di sebuah non government organization dengannya.
Sore itu aku ditelepon Bapak saat aku sedang mengetik bahan presentasi mata kuliah Radiologi di kamar kosku.
“Afra, akhir minggu ini kamu pulang ya…Bapak dan Ibu ingin membicarakan hal penting denganmu” kata Bapak pelan.
“ Adaapa tho pak, sepertinya mendesak sekali, apa ndhak bisa kita bicarakan ditelepon saja…lagi pula Jogja-Surabaya
kan
lumayan jauh, saya khawatir Cuma bisa di rumah sebentar saja” ucapku mencoba meyakinkan.
“ini ndhak bisa Bapak sampaikan lewat telepon, ndhak papa walau Cuma sebentar, sing penting muliho sik nduk...” katanya yang tak lagi bernada penawaran tapi sudah perintah.
“nggih pun Pak, mungkin saya baru bisa berangkat dari Jogja Jum’at sore, tapi minggu malam saya harus sudah sampai di Jogja lagi” ujarku memastikan.
“Ya sudah, sampai ketemu di rumah ya Fra… Hati-hati di jalan… jangan sembrono,…wassalamualaikum” katanya sambil menutup sambungan.
* * * * *
“Ini lho Fra fotonya…”ucap paman menyodorkan dua lembar foto ukuran postcard sambil tersenyum menggoda, lalu ia mulai mempromosikan pria yang ada dalam foto itu dengan semangat kepadaku.
“Wah orang hebat begitu, apa iya dia-nya mau sama saya tho Pak Lik…” kataku ragu sambil mengamati foto pria bertubuh jangkung itu, aku tersenyum…keren juga!weits…!Astaghfirullah…he2..he2…
“aduh nduk, kok pertanyaanmu kayak orang ndhak punya iman saja, sehebat apapun…setidak hebat apapun…kalo sudah jodohnya ya ndhak bakal kemana tho…”ujar ibu memprotes. Aku tersipu, sebenarnya aku sangat paham teori itu, dan pertanyaanku itu hanyalah retorika belaka, maklum lah…aku bingung mau ngomong apa saking bahagianya.
“betul ibumu bilang, dicoba saja dulu kanndhak ada salahnya, urusan akhirnya bagaimana
kan
sudah diatur Allah” kata bapak menimpali.
“Memangnya beliau sudah tahu tentang ini Pak Lik?” tanyaku menyelidik.
“Sudah Fra, Pak Lik sudah bilang, memang dia sedang berencana menikah dekat-dekat ini, mungkin tahun depan, tapi memang belum ada calonnya, dia belum mencari, yoo wis aku langsung mengajukan kamu Fra…dan dia setuju saja”sahut paman menjelaskan, aku mengangguk paham.
“yaa..Saya sih…gimana dawuh Bapak dan Ibu saja…” kataku malu-malu.
* * * * *
Minggu malam aku sudah ada di Jogja, paman memintaku untuk segera membuat curriculum vitae untuk diserahkan pada Fauza Ahmada, nama pria itu. Jadwal esok senin-nya padat sekali, aku memeriksa agendaku kembali, hmm…aku hanya bisa menyusun biodataku disela-sela perjalanan diantara jadwalku, atau selepas shalat dhuhur nanti. Sangat tidak kondusif, untuk hal seperti ini aku butuh banyak waktu. Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakannya senin malam saja selepas pengajian di masjid kampus.
Ya Allah, secepat inikah proses itu akan segera kujalani? Sangat tidak terduga sekali. Memang akhir-akhir ini pembahasan tentang pernikahan sering terdengar di telingaku, dari mulai teman-teman akhwat yang ramai membahasnya, buku-buku nikah yang menjamur jadi best seller membuat semua orang latah berbicara tentang menikah, sampai Ustadz Yusuf di pengajian kamis pagi tidak mau kalah dengan membahas tentang Fiqhul Munakahaat bulan ini. Pusing aku mendengarnya, setiap kata ‘nikah’ itu tertangkap nervus auditoriusku, tiba-tiba ada kegelisahan yang melanda, entah apa yang aku khawatirkan, antara ingin dan cemas. Dan sekarang ketika jalan menuju itu benar-benar membentang dihadapanku, aku menjadi semakin bingung, antara bersemangat, bahagia, dan ketakutan…
Di sepertiga malam diri ini merajuk, membasahi peraduan dengan air mata pinta dan pasrah yang tak terkira, memohon cahayaNya tuk sinari ketidaktahuan diri agar tertunjuki pada ridhaNya semata…
Allahumma in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada khairun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Faqdurhu Lii wa yassirhu Lii Tsumma baarik Lii Fii hii
Wa in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada syarrun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu waqdiru Lii al-khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinii bihii…
* * * * *
Dua minggu kemudian aku menerima biodatanya, tentunya sekarang Mas Uza-begitu paman ingin aku memanggilnya-juga sudah menerima biodataku. Merinding aku membaca curriculum vitae sekeren itu, ternyata beliau lebih hebat dari yang aku perkirakan, selain deretan kehebatan duniawi, dia juga seorang hafidz yang hafal lebih dari sepertiga juz al-quran, subhanallah…dadaku semakin bergemuruh.
Dua sampai tiga bulan berlalu, namanya pun semakin bergaung di telingaku, aku mendapatkan banyak cerita tentangnya dari teman-temanku di Surabaya yang menjadi mahasiswanya di fakultas kedokteran.
Lambat laun bahkan sebelum wajah ini saling bertatap muka, bulir-bulir cinta telah menghinggapi hatiku, semakin sering aku mendengar cerita tentangnya, semakin pula simpati dan jatuh cinta ini menjangkiti. Diriku semakin gede rasa, timbul harapan-harapan membahayakan yang sungguh sulit sekali kutepis, aku hamba yang mengimaniNya ingin bisa mengendalikan diri…tapi aku pun manusia…punya rasa punya hati…pria hebat ini…aku yang seperti ini…berkesempatan menjadi calon pendampingnya,,, yang benar saja!Ya Allah…ujian!Kuatkan aku Allah…!
* * * * *
tiga setengah bulan sudah sejak Bapak memanggilku pulang dulu. Senja hari selepas mengajar privat anak SMU yang tinggal di seberang kosku, aku kembali ke kamar dan bersiap-siap mandi. Ketika kaki ini hendak melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba HP-ku di atas meja bergetar mengabariku ada sebuah pesan singkat yang masuk. Langkahku terhenti dan berniat untuk membukanya…tapi Ah nanti saja kubuka pikirku dan segera masuk tuk menikmati kucuran shower yang sudah kurindukan sejak siang hari yang menyengat tadi.
“supaya kalian tidak berduka atas apa yang luput dari kalian dan supaya kalian jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan Allah kepada kalian. Allah tidak menyukai setiap yang sombong lagi membanggakan diri”
begitulah Al-Quran mengajariku di akhir tilawah ba’da maghribku kali ini. Maha Benar Engkau Yaa Allah dengan segala firmanMu…aku tergugu, tak tersadar air mataku meleleh pilu. Ampuni aku Allah…Lindungi aku…
perlahan kututup mushaf dan melipat mukenaku. Aku jadi teringat ada sms datang sore tadi. Segera saja kuraih HP-ku dari atas meja.
1 message received
“AssalamualaikumWrWb, menurut Dik Afra mengapa Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan?_UZA”
Dueeeenggg!!what???aku membaca ulang sms itu, kuperiksa lagi nama si pengirim yang dicantumkan di akhir pesan. Setelah kubaca berulang-ulang nama itu tetap tidak berubah seperti saat awal aku membacanya, nama itu tetap tertulis UZA. Ya Allah…tubuhku lemas seketika, aku terduduk di atas ranjangku sambil mengucurkan segelas air putih dari dalam teko yang memang selalu kusediakan di meja tidur. Kubaca lagi pesan singkat itu, kali ini lebih kukonsentrasikan pada pertanyaannya. Hmm, apa maksudnya bertanya hal ini kepadaku, tentunya aku boleh curiga
kankalau ini bukan hanya sekedar pertanyaan, dari sekian banyak orang di sekitarnya yang lebih mahir untuk menjawab pertanyaan semacam itu, kenapa harus aku yang ditanyanya, aku tersipu sendiri. Kemudian mulai kutulis balasan pesannya:
“WaalaikumsalamWrWb. karena waktu adalah kehidupan. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan yang dibangun dari sisi amal dan kebajikan yang dibiasakan dan kemudian menjadikannya semakin beriman”
message sent
limamenit kutunggu balasan masuk tapi tidak datang juga hingga ada yang berkumandang, adzan isya. Segera kuletakkan HP-ku dan mengambil wudhu. Kunikmati sejuknya air yang menyusup di setiap pori-pori kulitku.
Ya Allah…jadikanlah aku bagian dari golongan hamba-hambaMu yang senantiasa Bertaubat dan Membersihkan diri…
* * * * *
tiga minggu berlalu sejak sms yang mengagetkan itu datang. Bayang, khayal dan kenyataan semakin membuatku tak kuasa menahan riak-riak rasa yang deras menyambang. Bagaimana ini, kadang ingin rasanya merajam cinta yang tak sopan tumbuh berlebihan sesuka hati, padahal Allah, sebenarnya…aku sadari, semua ini belum berarti apa-apa… belum ada janji, belum ada ikrar, belum ada kata-kata pasti, tetapi mengapa aku telah berharap banyak…mengapa aku telah jatuh cinta sedalam ini…bagaimana jika ini hanya anganku saja…bagaimana jika ini hanya impianku belaka, bagaimana jika aku nanti kecewa…bagaimana jika akhirnya semua ini menyakitiku…
sungguh berkali-kali kuminta padaMu tolonglah aku…jangan kucilkan aku dari hamba-hamba shalihMu karena rasa yang seperti ini…
namun seperti tak mengerti kegalauan hati, pesan singkat yang lain datang kembali…
1 message received
“Assalamu’alaikumWrWb. Dik Afra, Istrinya Mas Dimas itu dinas di Jakartaya?Kemarin saya kebetulan bertemu di sebuah seminar di
Jakarta
, beliau partner saya dalam sebuah proyek, pas ngobrol-ngobrol ternyata ipar Dik Afra…UZA” mataku langsung membelalak tak percaya, Mas Uza?pesan singkat seperti ini?lho,kenapa aku harus heran, memangnya kenapa, wajar
kan, pertanyaan seperti ini bisa ditujukan pada siapapun, ah sudahlah…janganlah terlampau senang, tanggapi ini dengan sewajarnya…tapi diam-diam ada yang menggelitik lesung pipitku, membuat seolah ada kupu-kupu yang mengepak sayap dalam perutku.
Sejak saat itu, paling tidak walau tak terlalu sering semakin banyak pertanyaan dan jawaban yang dikirimkan, katakan padaku teman…apakah kemudian salah jika aku menjadi semakin jatuh cinta, apakah tak wajar jika harapan-harapan itu begitu tampak nyata di depanku…
kadangkala aku menyesal mengapa begitu terlena, dimanakah letak kepasrahan yang selama ini kuatasnamakan? Ya Allah…katakan padaku…bagaimanakah Engkau Mendefinisikan hal ini…Bagaimanakah Engkau Menyebutnya…cobaan, ujian, azab, ataukah jawaban?? bukakanlah tabir itu untukku Kasihku…Terangkanlah bagiku kesamarannya…agar ku tak semakin terpuruk…Sayangilah aku…dan mohon Beri aku kekuatan yang lebih dari biasanya….
(to be continued…)
* * * * *
Hingga sore bersejarah itu pun tiba. Sebuah percakapan yang kuanggap sebagai sinyal dari Allah atas jawaban istikharahku yang tak pernah putus selama ini. Itu terjadi saat aku sedang berada di
Semarangmenghadiri sebuah rapat nasional organisasi tempatku berkegiatan. Aku mengenal seorang kawan yang kebetulan berada di satu divisi yang sama denganku, dia datang dari
Surabaya
, Pradnya namanya.
“Oh…kalau kegiatan seperti itu, biasanya kami mengundang dosen kami yang terkenal multi talented sebagai trainer, namanya Dokter Fauza Ahmada” ucapnya ringan, dia tidak menyadari bahwa aku agak tersedak saat tadi dia mengucapkan nama itu, aku berpura-pura meletakkan minumanku dan menyimak ceritanya kembali untuk menutupi kebodohanku tadi.
“beliau itu dosen idola kita lho Fra, gimana enggak…masih bujang, ganteng, trus orangnya tuh pinter buangett, kayaknya apa sih yang ga dia tau!sayangnya kita dia dah punya calon tuh” ujarnya berapi-api.
Mataku mendelik, aku tak tahu pasti apakah Pradnya memperhatikan ekspresiku ini, secepat itukah kabar ini tersebar, memangnya Paman dah kasih woro-woro ke semua anak didiknya ya?ataukah Mas Uza sendiri yang bikin proklamasi?atau Rasti dan Arifa membisikkan ini dari mulut ke mulut, aduh…menyesal sekali kenapa harus aku bercerita tentang ini, bahkan pada sahabat dekatku, bukankah Rasulullah mengajarkan untuk merahasiakan ini dan baru mengabarkan saat pernikahan??Hussh…Astaghfirullah kok aku jadi suudzon begini, diam-diam aku tersenyum sendiri, antara bangga dan kecewa…
“iya aku tau beliau kok, di Jogja beliau juga sangat dikenal” sahutku tersenyum sok tenang.
“iya Fra… namanya Zahratunnisa. Dia teman baikku. Bayangkan…mereka cocok sekali, senangnya aku…Ya Allah…semoga mereka berjodoh dan menjadi suami istri kelak!”
Dhhuaaaaarrrr…..tiba-tiba petir yang tak kasat mata menyambar kepalaku, seketika saja serombongan gajah seperti menginjak-injak punggungku, aku tak bisa berpikir…
“saat ini mereka sedang bertaaruf…insyaAllah kalau tidak ada halangan mereka akan menikah tahun depan, ini bukan gossip lho Fra!Fakta!”katanya mantap.
“lho Fra…mukamu kok pucat sekali?kamu sakit?”tanyanya cemas, aku jadi salah tingkah.
“Ah…masa sih. Aku emang begini kok, biasa aja kali. Oh iya, Plannary Session nanti malam rencananya mau dipindah ke Aula ya?”ujarku mengalihkan pembicaraaan sambil meminum teh hangatku untuk mengurangi kecanggungan dan menyamarkan pucatnya wajahku.
* * * * *
“maaf saya pulang tidak mengabari Pak Lik, tapi saya hanya ingin tabayyun, agar tidak berlarut-larut dan berefek buruk baik bagi saya sendiri maupun Mas Uza” kataku mantap saat malam itu kami sengaja berkumpul di tempat paman, ibu yang sedari tadi gelisah repot mengelus-elus pundakku.
“ibu tenang saja ya…saya baik-baik saja kok”ujarku sambil tersenyum pada ibu menenangkan.
“ndhak papa Fra, pak lik juga sudah mengundang Mas Uza untuk datang malam ini, mungkin sebentar lagi dia datang, kita tunggu saja…”ungkapnya agak ragu.
Tak lama terdengar ketukan dan salam di daun pintu, dia datang! Bahkan aku belum pernah bertemu muka dengannya, tapi saat ini aku benar-benar tak sanggup melihat padanya. Setelah bersalaman dengan Bapak dan Paman, duduk dan berbasa-basi. Bapak memulai pembicaraan.
“begini Mas Uza, duduk permasalahannya tentu adik saya sudah menyampaikannya kepada Mas Uza, maksud kami mengundang Mas Uza kesini ingin bertabayun dan mendengarkan penjelasan” kata Bapak singkat.
“Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Bapak sekeluarga terutama pada Dik Afra, memang benar selain berproses dengan Dik Afra saat ini saya juga sedang berproses dengan seorang akhwat bernama Zahratunnisa, dia adalah mahasiswa saya sekaligus murid seorang teman yang mengajar kajian di musholla Fakultas, terhitung sejak tiga setengah bulan yang lalu saya dikenalkan oleh kawan saya yang ustadznya itu. Terus terang sebenarnya saya banyak diberikan tawaran untuk bertaaruf dengan akhwat. Saya bermaksud untuk memilih yang terbaik diantara yang baik sebelum saya benar-benar mantap pada satu pilihan…”ucapnya singkat tapi cukup jelas dan tegas, aku sangat menghargai keberaniannya untuk berterus terang.
“sebelumnya, perlu saya sampaikan kepada Mas Uza, saya sangat paham karena belum memasuki khitbah memang tidak dilarang untuk berproses dengan dua orang atau lebih, setiap orang berhak memilih yang terbaik untuk dirinya, terlebih lagi sampai sekarang sebenarnya saya belum bisa mendapatkan definisi yang tepat tentang hubungan kita ini. Andai bisa saya bilang jika selama ini kita berusaha untuk saling mengenal, maka sebut saja ini sebagai taaruf, tapi bagi saya adalah prinsip bahwa bertaaruf itu satu persatu, dengan prinsip itu saya bermaksud melindungi diri saya sendiri, ikhwan yang berproses dengan saya juga akhwat yang dibarengkan prosesnya dengan saya itu. saya tidak menyalahkan Mas Uza karena ini memang belum pernah saya sampaikan kepada Mas Uza sebelumnya, dan belum ada kesepakatan di antara kita. Nah, karena sekarang saya sudah menyampaikan, selanjutnya saya serahkan kepada Mas Uza untuk memutuskan…”ucapku tegar.
“kalau begitu, sebenarnya ini sudah saya pikirkan matang-matang sejak jauh hari, sebelumnya saya mohon maaf Dik, saya memutuskan untuk mundur dari Dik Afra…”jelasnya singkat.
“terima kasih Mas, saya juga mohon maaf jika terkesan terlalu keras, ini demi kebaikan kita bersama” kataku sambil tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan kesedihan yang menyapa sangat dalam lubuk jiwaku.
“saya sangat mengerti Dik”ujarnya pendek.
* * * * *
Bagaimana ini…
Kadang ingin rasanya berhenti dan akhiri saja sampai disini,,
Keberanian yang semula terpancar,hilang timbul tanpa permisi
Bahkan kaki ini merasa tak layak untuk melangkah lebih jauh lagi
Apalagi diri yang punya kaki…
hanyalah sekuntum bunga liar di tepi jalan
yang memaksakan diri tuk masuki taman bunga dalam istana
bersanding dengan bunga-bunga anggun itu
kadang sungguh membuatnya tersiksa
karna tiap waktu rasa ketidakpantasan itu menjalari di setiap lekuk pikirnya,,
Menggaung…menyalahkannya…
Kenapa kau begitu berani,
Apakah kau tidak berkaca diri
Kenapa bayang resiko yang begitu besar kau ambil dari lautan yang bahkan bermimpi pun tak mungkin bisa kau sebrangi
Bagaimana ini…
Apa yang sedang kau cari,,,
Apa kau tak berpikir bahwa akhirnya kau akan sakiti lagi dirimu ini,
Berapa kali lagi
kankau buat hatimu menangis
Masihkah tega kau gadaikan ia,
Mengapa kau begitu yakin akan akhir dari semua ini
Apa yang membuatmu masih tetap bertahan?
Dusta jika kau bilang tak mengapa
Apa yang baik-baik saja?
Kau melihat sakit itu akan mendatangimu dan kau bilang baik-baik saja,?!
Sungguh lihainya berselimut di balik resahmu..
Oh sungguh tak habis kuberpikir…oh bagaimana ini…
Sebuah sisi lain yang galau nian
Entah gerangan apa yang membisikinya…
* * * * *
Ya Allah…bukannya diri ini tidak sabar dan tak menguatkan diri tuk menghadapi takdirmu, tapi ijinkanlah air mata ini mengalir menemani, hanya sekedar untuk kelegaan hati…
Ya Allah…hamba sangat yakin, bahwa di setiap peristiwa tak ada lain kecuali hikmah dan cintaMu semata, bagaimana mungkin tak terucap syukurku atas cinta yang Engkau Curah sederas ini, bagaimana bisa aku menjadi sangat bodoh jika tidak bersyukur padaMu, sedangkan semua yang Kau Berikan untukku begitu ruah, terlalu melimpah, betapa banyaknya Ya Allah, takkan pernah terbayarkan walau aku bersujud seribu kali…sungguh aku tak mampu beralasan lagi untuk tidak merasa bahagia…
aku semakin malu…malu sekali Ya Allah, Engkau Memberikan Lautan cinta tanpa terkira sedangkan aku…terus saja MengecewakanMu,
Maafkan aku Kasihku, ampuni aku…Jangan lalu Kau Menjauhiku, Jangan kemudian Kau Biarkan sesat diriku, Mendekatlah Kasihku, Mendekatlah sedekat-dekatnya, dalam kedekatan yang tak bersekat…,
Lindungilah jasad dan jiwaku dari kedurhakaan padaMu, Penuhilah hatiku dengan cahayaMu yang tiada pernah padam, selamanya…
Selamanya Cintailah aku…aku yang hanya
kanmenjadi lemah tanpamu ini…
* * * * *
malam semakin beranjak larut, penumpang lain pun sudah tertidur pulas di kursi masing-masing, hawa dingin yang menyeruak dari luar ditambah semburan air conditioning menyusupi di tiap celah tubuhku, kurapatkan kembali selimutku mencari kehangatan yang menenangkan. yaah… karena kenangan itulah aku menjadi pengecut yang takut pulang, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menjadi pengecut, hanya saja kadang kita butuh berkompromi dengan diri sendiri untuk melalui fase yang sangat melelahkan agar terasa tidak begitu melelahkan, masalahnya, setiap butuh waktu yang berbeda-beda untuk mengarungi kompromi ini, ada yang hanya butuh satu hari saja, tapi juga ada yang perlu waktu berminggu-minggu bahkan tahunan. Aku pun demikian, aku tak pernah tahu sampai kapan aku membutuhkan waktu untuk berkompromi, hingga saat inilah aku memutuskan untuk mengakhiri fase itu, dan kembali pulang ke kotaku,
Surabayatercinta…
* * * * *
“oalah nduk…kamu tambah cantik sekarang…ibu kangen sekali” berkali-kali ibu mencium dan memelukku seperti anak kecil, aku jadi malu semua orang di stasiun melihat ke arahku.aku tersenyum.
“saya juga kangen Bu…”ucapku dengan pelukan yang tak kalah eratnya.
Di mobil Bapak mulai berbicara serius kepadaku,aku agak gelisah mendengarkan,
“nanti malam ada tamu dari
Bogor, kamu tau tidak nduk Om Wijaya kakak tingkat Bapak waktu kuliah dulu?”tanya Bapak
“tau Pak…”sahutku pelan
“sudah empat kali sejak sebulan yang lalu mereka mampir ke rumah kita” katanya misterius, aku jadi semakin tidak mengerti.
“lho memang ada perlu apa tho Pak sampai berkali-kali datang ke rumah?” tanyaku menyelidik
“putranya itu lho Mas Teguh Arifiyanto, kamu ingat
kan? sekarang dia sudah bekerja di sebuah perusahaan asing di Batam, dia Sarjana Tehnik Elektro. Santun sekali orangnya, Bapak dan Ibu sudah bertemu dengannya seminggu yang lalu” ucap Bapak enteng membiarkanku menyimpulkan sendiri. aku seperti menangkap sesuatu…
“malam ini mereka sekeluarga ingin bertemu denganmu nduk…”ujar ibu menimpali
empat rakaat isya usai tertunai dengan indah,,, geliat rasa mengharapkan guyuran lindungNya menyelimuti tiap keputusan yang mengiring cinta, kini kuserahkan padaMu Kasih, kubiarkan alir darahku mengikuti perintahMu…
* * * * *
aku melihatnya malam ini, Mas Teguh, mungkin dalam usia dewasa aku belum begitu mengenalnya, tapi dulu waktu Om Wijaya belum pindah ke Bogor, Mas Teguh pernah 2 tahun menjadi kakak kelasku di sekolah dasar. Wajah yang bersih, sikap yang bersahabat dan senyumnya yang khas tidak juga berubah sejak dulu, hanya satu yang berubah, dia sekarang lebih tinggi dariku, walau memang tidak terpaut jauh.
“begini Om Zakaria, saya datang kemari beritikad baik bersama orang tua saya bermaksud untuk melamar Dik Afra untuk menjadi istri saya” katanya to the point. Aku sudah menyangka inilah inti pertemuan dari semua ini.
“yaa..kalau
Omsih terserah Afra saja, gimana Fra?”ucap Bapak singkat, Aduh…kenapa Bapak melempar seenaknya padaku, apa Bapak tidak tahu, aku sangat grogi karenanya.
“saya sih…bagaimana dawuh bapak saja…” ujarku malu-malu sambil memainkan ujung jilbabku mencoba mencari celah untuk menghilangkan canggung.
“Yaa…saya sih setuju saja” sahut Bapak mantap.
“Alhamdulillah!!!” ucap Mas Teguh lega, senyumnya semakin sumringah sambil berpelukan dengan Bapak dan Ibunya yang tak kalah bahagia. Aku tersipu-sipu karena diberondong oleh pelukan ibu, Mas Dimas yang duduk di samping istrinya mengedip mata menggodaku.
“insyaAllah kurang lebih satu bulan lagi seperti kesepakatan kita sebelumnya, walimah dan akad akan diadakan disini, disesuaikan dengan jadwal libur Dik Afra” kata Om Wijaya tersenyum ke arah Bapak, Bapak mengangguk tanda setuju.
Sebulan lagi?menyesuaikan libur?Lho, kenapa secepat ini, kenapa tidak ada yang memberitahuku, pantas saja seminggu yang lalu tidak biasanya Mas Dimas menanyakan agenda ini ituku, huuuuuhh…semua orang disini, curanggg!!!protesku dalam hati, protes…tapi aku bahagiaaaa sekali.
* * * * *
Ya Allah, dan kemudian seorang Teguh Arifiyanto memasuki ruang dan alur kehidupanku, inilah babak hidupku selanjutnya…
Ya Allah, apapun pendapat hatiku untuk kejutan cintaMu kali ini…kupercaya yang ada hanyalah keindahan pada akhirnya, entah senyum ataukah air mata yang menghias wajahku kelak…entah apakah pertemuan malam ini benar-benar Engkau Ridhai tuk berujung pada Mitsaaqan Ghaliidzaa yang ia ikrarkan,,,
Ya Allah, terima kasih atas warna-warna yang indah ini,
apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…
apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…
apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…
apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus
asmaradan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…
* * * * *
Maha Sempurna Engkau, begitu terstrukturnya Engkau Merencanakan elegi hidupku, belum genap kekagetanku akan proses yang begitu cepat ini, belum genap pertanyaanku usai kujawab akan nikmat yang mendadak datang berjatuhan hingga ku tak sanggup lukiskan bahagiaku yang tak terkira ini, belum genap 1 bulan sejak aku mulai kembali mengenalnya…kini ia duduk di depan Bapakku, menjabat tangannya dan berucap;
“Saya terima nikahnya Afra Maisya binti Zakaria dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai…”
lalu memandangku dengan wajah yang bahagia dan menyemburatkan kasih sayang. Dia…Teguh Arifiyanto…kini sah menjadi suamiku.
selesai…
* * * * *