Archive for KaRna AkU cInTa

Quote of The Day: 22 November 2009

Ya Allah..

Inilah kehendakMu..

Sungguh manusia hanya mampu menebak dan mengira..


maka siapakah yang mampu meragukan hadirnya segala yang terbaik dari takdirMu?

Wahai Penguasa lembar hidup dan matiku,

Jika demikian yang Engkau Inginkan.. maka hamba mohon Mudahkanlah hingga purna waktunya..


Aamiin..

Leave a Comment

Day 1~Memulai Tisikan Awal Sulaman Cinta

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

Berdiri melihat keretamu berlari menuju Jakarta meninggalkan stasiun ini bersamaku. Teriring lambaian tanganmu di balik jendela dengan bunyi gesekan rel dan roda yang semakin lama semakin terdengar cepat saja.

Entahlah.. rasa-rasanya air mata di pelupuk ini telah menggenang dan tak tahan untuk berebut dilampiaskan. Jika bukan karena malu dilihat orang, tentunya sejak tadi mataku telah basah, merah dan membengkak karenanya..

Terserah orang mau bilang apa, tapi aku sungguh sulit melalui momen ini. Sehingga harus berjalan cepat-cepat menuju pintu taksi yang membawaku pulang agar tak nampak rundung kesedihan yang menggelayuti hatiku.

Tapi, selalu percaya bahwa perpisahan ini hanyalah untuk sementara dan kelak akan ada suatu masa ketika aku kan berada di sisimu, selamanya…

Saat merasa berat, mencoba berpikir bahwa jarak yang jauh terbentang ini bukanlah hanya kita yang punya. ada mereka yang juga merasakan rasa sulit ini, ada mereka yang pula menyimpan kerinduan ini, begitu banyak rupanya yang harus berela hati menitipkan separuh jiwanya di negeri lain..

Sebagian dari mereka telah berhasil melalui masa-masa rumit itu, dan kita pun harus demikian:)

Semoga Allah Menghitung setiap air mata dan rindu ini sebagai pahala.

Semoga Allah Menulis sabar kita ini sebagai ikhtiar di jalan-Nya.

Baik-baik jadi ‘bujangan’ di Jakarta, Cinta.. jangan telat bangun sahur mentang-mentang ga ada adek :D

I Love You…

Leave a Comment

bEcaUsE YoU SaiD sO,,,

Sore itu Fatimah terhenyak di depan meja kamarnya,,, tangan kanannya tampak gelisah memainkan pena hitam dengan putaran-putaran tak menentu di atas lembar diary yang sejak tadi masih juga kosong,,,Sesekali Fatimah mencuri pandang ke arah jendela yang sengaja dibuka lebar agar leluasa memamerkan padanya rinai hujan dengan garis-garis putihnya yang amat memikat dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta…Fatimah kembali memeluk diary-nya. Tuk sekian kali terbayang sesosok pria arif dan bersahaja yang selalu dipujanya itu. Lalu Fatimah mulai menulis…

Di Seberang Jalan, 6 Januari 2008.Saat hujan yang cantik kembali datang, 16.17 Waktu Cinta Berkumandang.

Ayah…

Setiap kali mengingatmu,

selalu saja aku merasakan semangat itu

Setiap kali kupejamkan mata hingga sirna semua yang nampak di sekelilingku dan aku hanya membayangkanmu,

selalu saja tak hentinya ku mengakui betapa tampan dirimu

Setiap kali memikirkanmu dan merasakan begitu banyak cinta yang mengelilingimu,

selalu saja ada haru,,,haru yang mengiringi rasa betapa bangganya aku padamu…

Ayah…

Setiap kali merindukanmu aku begitu takut pergi jauh darimu,

Aku takut tak lagi ada yang menghalau srigala jahat yang mengganggu tidurku

Aku takut tak lagi ada yang mencabut duri mawar yang tak sengaja melukai jariku

Ayah…

Setiap kali kurasakan betapa cepatnya waktu berlalu aku begitu takut seseorang kan mengambilku darimu…

Aku telah terbiasa menikmati hujan yang kusukai bersamamu

Aku telah terbiasa memanen mangga di depan rumah denganmu

Aku telah terbiasa mendengar lantunan tilawahmu di malam hari

Aku telah terbiasa kau marahi saat aku mulai nakal dan tak mematuhi

Haruskah aku tetap pergi, Ayah?Tapi bukankah memang aku harus pergi?

Fatimah kembali menjauhkan tinta hitam dari lembaran putih di bawahnya. Kini air mata mulai menganak sungai dengan indah melintasi tulang pipinya dan bersaing dengan derasnya hujan di luar. Tubuhnya bergetar dan beresonansi dengan getaran dari rasa yang berasal dari dalam melodi jiwanya. Kemudian ia kembali mengambil pena-nya…

Ayah…

Saat itu seketika saja seseorang yang asing dari negeri asing datang kepadamu Berkendara dengan kuda putih dan menyarungkan sebuah pedang emas di pinggangnya

Serupa Sayyidina Ali yang gagah berani hendak pergi ke medan perang

Dikatakannya setelah tujuh purnama nanti dia kan datang kembali

Tuk akhirnya membuatku harus meninggalkanmu di sini…

Ayah…

Meski aku begitu berat bukankah aku tetap harus pergi?

Saat aku ingin menangis kau katakan “jangan menangis!” maka aku kan berhenti menangis

Saat aku mulai merapuh kau katakan” tetaplah tegar!” maka aku kan tegak di hadapmu

Lalu saat kau katakan” pergilah!”apakah aku tetap harus pergi, Ayah?

Meski kutahu kau begitu takut jikalau ia tak sebaik dirimu melindungiku

Meski kumengerti kau sangatlah resah jikalau ia tak sebaik dirimu menyayangiku

Meski kupahami kau amat bimbang jikalau ia tak semerdu dirimu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku,

Tak semahir dirimu membuatku tertawa,

Tak sepintar dirimu menyeka air mataku

Bagaimana jikalau ia menyakitiku?

Bagaimana jikalau ia menyia-siakanku?

Hingga kau berkata dalam hatimu seberapa mampukah ia dapat dipercaya untuk menyimpan dan membawa permatamu pergi?

Tapi, Ayah. Kemudian kau tetap berkata padaku “Pergilah!”…

Dan aku pun akan pergi…

Ayah…

Saat ini aku begitu menikmati detik-detik waktu yang tersisa untukku bersamamu sebelum purnama terakhir itu tiba

Ayah…

Aku ingin abdikan saat-saat penghujung ini tuk lakukan yang terbaik untukmu

Sebelum aku pergi harus kupastikan kau kan selalu baik-baik saja

Sebelum aku jauh mesti kuyakinkan bahwa kau kan selalu bahagia

Ayah…

Percayalah bahwa sejak dulu,,,saat ini,,,bahkan nanti meski takkan sesering ini ku memandang wajahmu, aku kan selalu mencintaimu…

Semilir angin menelusup masuk bersama percikan air hingga menyentuh wajahnya yang basah. Fatimah mengakhiri tulisannya seiring terdengarnya sayup adzan maghrib dari surau di samping rumah. Bersama itu ayahnya datang mengetuk pintu: “Segeralah berwudhu, Fatimah. Kita kan dirikan sholat maghrib berjamaah”Sambil berlari kecil Fatimah membuka pintu dan menyeka air mata sekenanya. Ia berkata dengan penuh makna: “Baik, Ayah.”.Senyumnya terkembang dengan sempurnaSang Ayah membalas senyumnya dengan binar yang menyiratkan berjuta cinta, lalu mengusap-usap kepala Fatimah yang tertutup jilbab putihnya. Fatimah memejam mata dan berdoa:

“Ya Allah, Berkahi dan Muliakanlah cinta ini seperti cinta seorang Muhammad kepada Fatimah Az-Zahra ananda yang tercinta,Aamiin”

Leave a Comment

HaMdaLaHkU MaSiH TeRbaTa,,,

Bahkan hamdalahku masih saja terbata…

Aku khawatir…

Kesadaran ini telah resisten hingga tak mampu lagi mendefinisi

Kehilangan sensitifitasnya akan sebuah konsep proteksi

Kalut,,,

Apakah kekalutan ini sebagai bukti bahwa deteksinya masih berfungsi?

Ataukah itu hanya sekedar apologi? Ya…apologi, Sepertinya hati dan pikirku mulai pandai ber-apologi Menyugesti diri agar lebih permisif Sebuah kecerdasan dalam mempermainkan nalar Jiwaku tersenyum miris mengakuinya Antara harus dan hina untuk berucap ‘iya’ Katakan, Itukah fleksibelitas atau justru kekuatan yang telah kronis ter-supresi ??

Oh,,,bahkan hamdalahku masih juga terbata…

Aku cemas… Tak lagi bisa membedakan antara terlalu sayang dan menyakiti Tak mampu lagi memilah antara ego dan hak aktualisasi diri Mengapa semua menjadi tampak sama, Nyaris tak terbaca dan tak jua bisa dipercaya Inikah arti ketidakpastian akan parameter normalitas dunia, atau hanya aku yang tak lagi peka?

 Tuhan, apakah hamdalahku ini masih terbata?

Maka bantulah aku untuk kembali mengingatnya, Setiap saat,,, setiap waktu,,, Selama butir darah masih berputar mengelilingiku Sepanjang batang otakku belum Kau Izinkan untuk mengkakukan jasadku

Leave a Comment

FoR yOu GuYs; The MosLem PhySiciaN acTivistS waNNa Be!

Menyusuri sepanjang koridor rumah sakit dan menelisik setiap bangsal yang penuh beragam orang yang rebah di atas ranjang dengan keluhan medisnya masing-masing, Hernia Inguinalis, Non Hodgkin Disease, Ca Mammae, Hemangioma, Megacolon CongenitaL,dll. Kasus-kasus yang selama ini hanya kita hafalkan dari diktat kuliah—terkadang dengan hati malas—ternyata benar2 terjadi di depan mata. Semua itu lebih banyak membuat kata2 dari diri ini hanya mampu dipahami secara tersirat lewat raut muka dan sorot mata, karena bibir yang kelu tak bisa lagi berbicara. ,—sedikit menyesal— kenapa kemarin hanya belajar asal-asalan saja?Subhanallah, ternyata ghirah itu kembali memacu adrenalin ini bekerja…

Maha Suci Allah,

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika kita melihat di sekeliling kita banyak yang diuji dengan kesakitan fisik sedang Allah mengaruniakan kita kesehatan yang begitu nikmat…

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika manusia tenggelam dan terlena menikmati kelezatan dunia dan mereka tiada menyadarinya, sedang Allah masih Berkenan dengan lembut Membimbing kita untuk tetap bersemangat menahan diri—meski berat dan berkali-kali terjerat—namun sungguh tiada ada kekuatan lain yang dapat menggerakkan untuk bertahan melainkan dari Allah jua…

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika kita diberikan kenikmatan untuk beribadah kepadaNya, dan Ia karuniakan rasa ikhlas dalam hati, pula Ia jauhkan dari rasa sombong dan riya… mampukah kita menerangkan dengan lisan betapa nikmat itu begitu indah menenteramkan…

kemudian Ia anugerahkan rasa sesal dan kehilangan yang meresahkan saat ketenteraman itu tak lagi terasa karena ulah diri kita sendiri…

Ya Allah… Fa Bi Ayyi AaLaaI Rabbikumaa Tukadzdzibaan…? maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Sahabat, dalam dunia ini banyak yang tidak bisa kita mengerti. Yah, seperti itulah…karena memang kapasitas pemikiran manusia yang serba terbatas. Manusia yang memang makhluk lemah dan tiada sempurna, dan Allahlah sebaik2nya tempat bergantung dan berlindung. Allah-lah Yang Memberi Kesembuhan, di tanganNya lah tergenggam hidup dan mati seseorang, sama sekali bukan pada dukun maupun dokter.

Manusia diuji untuk berjalan di muka bumi, dan kemudian ditentukan untuk mereka kelak ada di surga atau neraka, adapun jika surga-lah tempatnya maka tidak lain itu hanyalah berasal dari rahmat dan kasih sayang Allah semata.

Teringat sebuah konsep memukau dari seorang dokter di sebuah rumah sakit di Bandung—semoga Allah Menyayanginya—yang disampaikan Aa Gym di sebuah pengajian pagi di radio MQ;


Profesi dokter bukanlah sebuah kontrak ‘menyembuhkan’ tapi tak lain hanyalah sebuah kontrak ‘ikhtiar,subhanallah…

Sekelumit percakapan mengawali sebuah pertemuan seorang Ibu dengan sahabat lama;

“anaknya sekarang kuliah dimana,Bu?”

“Di Fakultas Kedokteran…”

“wah hebat…anak Ibu pinter yaa…saya doain deh biar kuliahnya lancar, nilainya bagus, cepet dapet kerja dan sukses, begitu…aamiin”

Percakapan seperti di atas mungkin tidak asing di telinga kita, para calon dokter. Sebuah harapan besar dari orang tua dan masyarakat;


kuliah lancar, segera jadi dokter yang sukses, kaya raya,menikah, dan mempunyai anak dan disekolahkan di sekolah favorit sampai menjadi anak yang berhasil, dan seterusnya….sungguh berat Ya Allah…

Namun Pertanyaannya, sesederhana itukah hidup di dunia sebagai seorang dokter?seorang Muslim yang dokter?


Mari kita Luruskan Niat dan Mengoreksi diri…

Menjadi sukses adalah impian semua orang. Terlebih dokter, kata ‘sukses’ tampaknya begitu melekat erat dengannya, karena salah satunya konsumen kita nanti tidak akan ribut dan ngeyel atau menawar resep yang kita berikan.

Namun cukup sampai di situkah pemikiran itu berhenti?sahabat, tentunya kita sama-sama ingat, bahwa kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang kita peroleh, sejauh mana dan di wilayah mana ilmu itu diamalkan?

Perlu kita sadari bahwa profesi dokter adalah sebuah lahan amal dan dakwah yang sangat potensial, kita mencari ridha Allah di dalamnya. Semoga itulah yang menjadi motivasi utama kita sejak mulai melangkahkan kaki di dunia medis ini, Jangan sampai iming-iming duniawi yang menumpangi menjadi lebih dominan daripada kebutuhan kita yang lebih mendasar yaitu memperjuangkan agama Allah. Sedangkan motivasi lain yang menyertai hanyalah sebagai efek samping, misalnya;membahagiakan orang tua, kemudahan mendapat kerja, prestise di masyarakat, atau bahkan agar menjadi target utama yang dicari para calon mertua!hehehehe…^_^v(ups!)

Sebagai seorang calon dokter, memang tugas kita sangat berat, kita dituntut untuk menjadi seorang manusia yang mumpuni dalam segala hal, meskipun itu tidak mungkin. Fenomena yang terjadi saat ini, seperti yang disebutkan seorang tokoh utama dalam novel Diorama Sepasang Al-Banna bahwa dalam Islam tengah terjadi krisis professionalisme. Sahabatku, sebagai mahasiswa, tugas kita yang pertama adalah berstudi dengan baik, itulah amanah dari orang tua yang tidak akan pernah bisa kita abaikan, namun secara bersinggungan selalu ada multiperan seseorang dalam hidupnya dan ke-multiperan-an itu hendaknya di-tawazun-kan, sehingga studi itu jangan sampai kita abaikan, pepatah mengatakan janganlah memetik buah sebelum ia matang, jika kematangan ini diabaikan maka kapan krisis professionalisme ini dapat kita pecahkan?

Mengenai hal ini, ada seorang dokter luar biasa yang patut kita teladani dan semoga dapat menginspirasi kita. Beliau adalah Ibnu Nafis, orang pertama yang menemukan sirkulasi darah dalam tubuh manusia sejak abad ke tujuh yang silam. Di samping mengarang karya-karya di bidang kedokteran, beliau juga mengarang kitab ushul fiqh, bahasa arab, dan hadits. Selain itu beliau juga mengajar di sekolah Al-Manshuriah Kairo.

Al-Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyidi berkata,”Alaudin Ibnu Nafis apabila hendak menulis atau mengarang menyediakan setumpuk pinsil yang sudah diraut, menghadapkan wajahnya ke dinding, lalu menulis apa yang didiktekan oleh jiwanya. Beliau menulis secepat air bah yang deras mengalir. Apabila pinsilnya tumpul, maka ia akan segera menggantinya dengan yang baru tanpa harus meraut lagi”

Dikisahkan pula oleh muridnya,”suatu hari Ibnu Nafis masuk ke kamar mandi. Di pertengahan mandi beliau keluar dan menuju ruang ganti pakaian lalu menyuruh seseorang mengambilkan pena dan kertas. Kemudian beliau menulis tentang masalah denyutan-denyutan yang terdapat dalam badan manusia hingga selesai, lalu beliau masuk kamar mandi kembali”


Kapankah seseorang itu dinilai turut berkontribusi?

Memang Idealnya, mahasiswa itu aktif dalam harakah, aktif dalam kegiatan keislaman yang tak pernah putus, mulai dari daurah sampai demo, dan dalam studi mendapat hasil yang excellent. Namun tidak bisa kita pungkiri, bahwa ternyata kapasitas dan kemampuan orang itu berbeda-beda, seperti halnya yang sudah saya tuliskan di artikel saya sebelumnya bahwa kita bukanlah Superman atau Superwoman yang sanggup melakukan segala hal. Adakalanya Memberi terlalu banyak tuntutan pada diri dapat mengakibatkan penetapan tujuan-tujuan yang tidak realistis yang sulit untuk dicapai sehingga justru akan menyakiti diri sendiri. Bukan masalah jika ambang diri kita masih bisa menerima keseluruhan pilihan itu untuk direalisasikan secara paralel dan memberikan jaminan pada kita bahwa pelaksanaan secara paralel itu tidak akan mengurangi kualitas yang dihasilkan seperti halnya jika dilakukan secara serial, lalu bagaimana jika ambang diri ini telah mengisyaratkan bahwa keparalelan itu membuat kapasitas kita overload dan akan berefek menghasilkan output yang tidak berkualitas atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali(baca-gagal)?

Selanjutnya saya bertanya2, haruskah mahasiswa muslim aktivis dakwah Islam hanya bergerak dalam kerangka Islam itu sendiri?Benarkah Dakwah harus selalu direpresentasikan dengan keanggotan Rohis?Haruskah ia menjadi seorang kader dalam gerakan tarbiyah, kemudian ketika ia menjadi anggota di organisasi yang tidak berbasic islami sebagian ikhwah mengatakan apa kalau orientasinya bukan dunia, sedangkan tidakkah disadari bahwa justru di wilayah yang tidak islami itulah sebenarnya arena dakwah berpotensi tinggi sehingga membutuhkan banyak ikhwah berafiliasi?

Memang bukan suatu hal yang urgent untuk mempermasalahkan pandangan manusia terhadap ini semua, hanya sedikit men-stabilo tanda merah di hati bahwa banyak hal yang tidak kita mengerti akan cara berpikir dan bergerak seseorang. Memang data tervalid harus kita dapatkan dari sumbernya dan tidak boleh kita mem-vonis hanya berdasarkan prasangka saja


“…dan jauhilah prasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa”

 


Kereta dakwah itu akan tetap melaju, dengan atau tanpa kita…

Ya Allah, memang tidak akan pernah selesai jika kita hanya menjadi pengamat saja. Tak cukup kita berpangku tangan menyaksikan medan perjuangan yang semakin berkobar membara. Dibutuhkan sebuah kontribusi nyata apapun bentuknya, bagaimana pun caranya asalkan tetap berada dalam koridor Quran dan Sunah, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat oleh manusia ketika kita juga menginginkan sebuah perubahan menuju kebaikan dalam tatanan masyarakat ini. Memang dakwah telah lama diserukan, keretanya terus melaju, banyak jalan yang dapat dipilih, mari segera kita ambil bagian sesuai porsi kita masing-masing, tak peduli diketahui manusia atau tidak, tak peduli dibenci atau tidak meski oleh ikhwah sekalipun. apalagi yang ditunggu selain segera menempatkan diri menjadi salah satu butir tanah tempat bangunan dakwah itu berpijak?tak ada pilihan lain…

Memang sudah seharusnya bangunan Islam dibangun melalui jiwa-jiwa yang bersinar, yang penuh hatinya oleh cahaya keimanan, yang bergema di setiap langkah kakinya alunan gerakan yang hanya dapat Didengar oleh Allah saja.—Ya Allah, betapa diri ini masih sangat jauh dari kriteria itu—, jaman silih berganti dan tantangan semakin menguat,


“pada zaman akhir nanti manusia akan beriman di pagi hari dan ingkar di sore hari”

Sebuah godaan dan ujian yang maha berat. Sungguh tidak akan mungkin bisa masuk dalam gema dakwah ini manusia-manusia yang jahat hatinya, karena di sinilah ladang bersusah payah, lahan bekerja keras, berjihad bersungguh-sungguh. Dan dengan limpahan Allah semoga kita termasuk dalam barisan itu.


 


Dari Allah-lah rezeki itu datang…

Prinsipnya kita insyaAllah menyadari bahwa kita bukanlah dokter yang dai, tapi Dai yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. tinggal kesadaran akan itu ingin kita pupuk atau tidak. tanpa kita tolong pun sebenarnya agama Allah akan tetap selalu ada yang menolong, jika kita berpaling pun maka Allah akan menggantikan kita dengan hamba Allah yang beriman yang akan terus berjuang sedangkan kita terhapus dan terganti, na’udzubillahi min dzaalik.semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yang merugi karenanya.


“hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah Mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…”

Kita mengetahui, bahwa setelah proses penciptaan manusia selama 120 hari, Allah Ta’ala mengutus malaikatNya untuk meniupkan ruh dan menyampaikan 4 perkara;Rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan akan menjadi orang sengsara atau bahagia.

Sehebat apapun gelar seseorang, professor, doctor, spesialis ini, spesialis itu, rezekinya telah diatur oleh Allah. Belum tentu yang dokter spesialis lebih laris daripada dokter umum.

Pernahkah kita membayangkan, 10 tahun lagi tetangga kita adalah dokter-dokter, atau mungkin juga kita akan tinggal di perkampungan dokter dan bila berpikir lebih lanjut, setiap tahunnya akan ada ribuan KoAss disumpah menjadi dokter di Indonesia, belum ditambah dengan akan masuknya dokter-dokter dari luar negeri akibat adanya AFTA. . Lalu rezeki datang dari mana,jika bukan Allah Maha Kuasa Yang Mengaturnya?

Oleh karena itu mari sejak sekarang kita menyiapkan mental dan meluruskan niat, karena profesi dokter adalah profesi social dan sebuah kontrak besar dengan Allah, bukan sebatas materialitas belaka. dan itu harga mati yang tidak bisa lagi ditawar bagi seorang muslim yang dokter. Percayalah, bahwa jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan Menolong kita, dan barangsiapa yang membebaskan suatu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan membebaskan kesusahan2nya di hari kiamat nanti.

Wallahu a’lamu bishshowab.

Comments (1)

How to Make Physicians as your Money’s Friend?

Hari gini, apa sih yang ga dibilang mahal?bahkan permen karet pun ada yang harganya 12 ribu!Wow!Untuk sebagian orang, kehidupan ekonomi dirasakan semakin sulit setiap harinya, termasuk dalam mengupayakan kesehatan. Dulu, kalo sakit tanpa ba-bi-bu kita langsung pergi ke dokter umum, bahkan kalo perlu ke dokter spesialis. Tapi sekarang, banyak orang yang tidak bisa selalu dapat menebus obatnya, atau bahkan hanya sekedar membayar biaya jasa dokter sendiri. Ada sebagian dokter yang memasang tarif jasa lumayan tinggi dan sulit terjangkau. Sehingga berobat ke dokter menjadi momok yang mengerikan bagi ‘kantong’ sebagian orang.

Seperti harga barang-barang lainnya, harga obat pun tak mau kalah ikut meroket ke angkasa. Sedangkan tidak mungkin dalam beberapa penyakit tertentu kita bisa mengobati sendiri, dengan membeli obat ke warung atau ke apotek tanpa resep dokter misalnya. Jika kita tidak paham betul bagaimana bersikap kritis dan rasional dalam penggunaan obat malah cenderung akan menimbulkan bahaya, salah salah akan memperparah penyakit dan justru membuat kita mengeluarkan biaya yang lebih besar karena harus opname di rumah sakit.

Namun ada sedikit tips yang tidak salah untuk dicoba sebagai panduan yang mungkin bias dimanfaatkan agar lebih efisien dalam berobat;

tidak semua keluhan penyakit memerlukan obat.

Prinsip yang harus kita pegang adalah, bagaimanapun obat bisa menjadi "racun" manakala salah alamat dan dipakai secara berlebihan. Setiap Obat pasti memiliki efek samping. seringan apapun, sudah terbukti akan memiliki efek yang buruk bagi tubuh. Misalnya efek samping Obat sakit kepala terhadap ginjal dan hati kita, sebaiknya jangan dibiasakan untuk mengkonsumsi obat sakit kepala jika masih bisa tertahankan.

Penggunaan obat sakit kepala seperti Aspirin di Amerika yang bak makan kacang goreng itu sudah cukup meresahkan dan membuat orang jera, sehingga sekarang sedang gencar2nya dikampanyekan rasionalisme dalam penggunaan aspirin.

Yang paling penting adalah menjaga kondisi dan stamina tubuh serta menjaga kualitas asupan gizi kita. Jangan malas berolahraga, dan Banyak konsumsi vitamin sebagai penangkal radikal bebas, juga mineral yang bermanfaat untuk membantu mengatur tekanan darah dan fungsi jantung, serta memelihara kelenturan otot dan memerlancar impuls saraf, tidak lupa pula untuk menyeimbangkan konsumsi asupan gizi vital seperti karbohidrat, protein, dan lemak.

Banyak upaya alternative dilakukan untuk menghindari penggunaan obat. pengobatan Homeopathy, mixobition, prana, orthomolecular medicine, acupressure, maupun akupuntur adalah suatu upaya pengobatan yang berusaha menjauhkan tubuh dari imbas bahan kimiawi obat.

Tidak semua obat bisa menyembuhkan penyakit.

Jika kita merasa sudah mengkonsumsi obat yang sama dalam waktu yang lama sedangkan tidak mengubah prognosis penyakit, mungkin obatnya memang tidak tepat. Dalam kondisi demikian, sebaiknya penggunaan obat segera dihentikan. Prinsip dalam pemakaian obat adalah memperhitungkan unsure manfaat dan menomorduakan efek samping. Jika masih memiliki manfaat maka efek sampingnya boleh dilupakan. Tapi jika mengkonsumsi obat tidak memberikan manfaat, kita hanya akan memikul efek sampingnya, sehingga ini harus dicegah.

Banyak pasien kanker tidak bersedia diberi obat, karena efek samping dari obat kanker dianggap menyengsarakan;rambut rontok, kulit jelek, dan sel darah rusak. Sedangkan manfaatnya hanya memperpanjang harapan hidup.

Rata2, obat oral sudah memberikan reaksi setelah beberapa kali diminum, juga Obat suntik segera memberikan reaksi sesaat setelah diberikan. Jika tidak ada reaksi sama sekali, maka bertanyalah pada dokternya. Melanjutkan pengobatan tanpa khasiat, selain merugikan keuangan, juga memikul efek buruk obat.

Tidak semua obat dalam resep dokter harus diterima

Dalam meresepkan obat, dokter berpola pada dua hal. Pertama, memberikan jenis obat untuk meringankan keluhan dan penderitaan pasien(terapi simptomatik), obat jenis ini sebetulnya perlu tidak perlu, karena jika pasien masih bias tahan dengan keluhan simptomatis seperti demam, nyeri, mual, atau muntah dan dokter bias memperkirakan bahwa tidak akan mengancam jiwa, maka obat pereda keluhan dan gejala menjadi tidak begitu perlu.

Yang lebih perlu tentu adalah obat pokok(terapi kausal). Obat ini berupaya untuk meniadakan sumber penyakitnya. Kalau infeksi kuman ya diberi antibiotic, kalau darah tinggi ya diputus penyebab darah tingginya,dll.

Orientasi dokter sering memihak pada permintaan pasien, banyak dari pasien mengira keluhan atau gejala yang mereda identik dengan sembuh. Karena itu pasien(dan sering juga dokter) lebih mementingkan obat simptomatik dari pada obat pokok. Dengan atau tanpa obat simptomatik, asal obatnya tepat sasaran insyaAllah akan sembuh juga.

Mutu obat tidak ditentukan oleh harganya.

Bukan sebab harganya tinggi maka obat lebih bermutu. Semua obat generic yang meniru obat aslinya, jika dibuat dengan standar pembuatan obat yang baik(CPOB), insyaAllah sama manjurnya.

Banyak juga kesembuhan pasien ditentukan oleh factor psikologisnya. Rasanya kurang tokcer kalo tidak meminum obat yang mahal. Ada saja Pasien yang dari awal sudah tidak percaya pada obat berharga murah. Sugesti demikian bias berpengaruh terhadp proses penyembuhan dan seringnya jadi tidak sembuh betulan.imbasnya, dokter yang tidak mau dianggap kurang bonafit akan cenderung untuk memberi resep yang mahal, walaupun tahu ada pilihan yang lebih murah.

semoga ini bisa menjadi koreksi bersama bagi kita, baik dari pihak pasien maupun dokter. Mari kita meluruskan niat dan mengubah paradigma pengobatan menjadi pengobatan yang lebih sehat dan efisien.

Comments (2)

BeRsAhAbAt DeNgaN KeaDaAn

Saat kesatuan inderawi mempercayai ketidakpastian itu adalah sebuah kepastian

Keyakinan itu menuntun tuk bertaruh dan berserah

tertuju pada satu titik

dan Kemudian,

ruang hati membuka pintu sekali lagi, meski sejujurnya tak ingin terjatuh kembali

akhirnya, hanya pada Allah-lah

Yang Maha Pembolak-balik hati

Alur ini dipasrahkan…

Apakah kamu pernah mengalami saat-saat ketika jerawat yang dulu dengan melegakannya telah mengucap salam perpisahan kini tiba-tiba berjamaah kembali menawarkan persahabatan?

dan rambut indahmu yang kemarin begitu membanggakan tiba-tiba mudah kusam atau rontok, juga berkali-kali kamu temukan saling berpilin bahagia di antara sela sisir kesayanganmu sehingga berhasil membuatmu berteriak histeris dan memaksamu untuk merogoh kocek lebih dalam demi paket shampoo khusus, hair tonic, conditioner, creambath yang lebih intensif, bahkan konsultansi ke hair stylist kenamaan(hiperbolis banget sih gue..,he2)?

dan kamu merasa akhir-akhir ini maag-mu lebih sering kambuh bahkan lebih dahsyat dari biasanya karena dikencani dengan nyeri di sekitar pinggang dan punggungmu yang cukup sukses membuat senyummu tergantikan dengan ringisan kesakitan sepanjang hari?

dan ketika semalam mimpimu begitu indah dan dalam mimpimu itu kamu merasa begitu bahagia tapi kemudian kamu terbangun, berpikir sejenak untuk mengembalikan diri pada dunia nyata, dan saat tersadar kamu merasa begitu kecewa karena ternyata yang semalam hanyalah mimpi, lalu kamu turun dari ranjang dengan lesu dan cemas tanpa sedikitpun sisa kebahagiaan semalam?

dan kamu merasa tiba-tiba keadaan di sekitarmu jadi menyebalkan, tidak bersahabat, dan sulit dikendalikan?

dan kamu merasa bahwa semua terjadi tidak sesuai harapan dan di luar perkiraan?

dan tiba-tiba seluruh agenda, planning dan target menjadi kacau balau tidak karuan?

dan kemudian sebagai puncak dari semuanya kamu akan menangis atau berteriak;

AaarRrggghhhHH,,,GUE STRESSSSSS!!!!!

Well sahabat, mungkin saja kita sedang menderita stress. Hmm…kenanglah saat-saat kita mengalami hal-hal seperti itu, karena jika kita mau membuka mata sedikit saja dan memandang pada sisi indahnya, akan kita temukan saratnya hikmah dan pembelajaran yang mendewasakan.

Terjadi renjatan-renjatan atau shocking therapy dalam hidup itu sudah menjadi sunatullah. Itulah stress yang secara lughawi berarti perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain. Perubahan keadaan itu berupa ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang diterima dengan kemampuan untuk mengatasinya. Sebagian orang memiliki kemampuan untuk menangani stress lebih baik dibanding orang lain. Ini karena pengaruh perkembangan kepribadian, prinsip, cara berpikir, dan ideology yang sangat menentukan cara kita secara individual dalam menghadapi stress.

Dalam Opening Ceremony Munas III FULDFK hari Senin, 5 Februari 2007 kemarin, Sekretaris Daerah Pemkot Solo yang mewakili Walikota yang berhalangan hadir, dalam sambutannya ada sebuah bahasan sederhana yang begitu menarik hati saya, beliau mengatakan;

Seorang pakar mengklasifikasikan typical orang dalam menghadapi konflik;

  1. Orang dengan konflik terdistribusi

Orang type ini cenderung insidental dalam mensikapi konflik. Dia akan memuntahkan kemarahannya saat itu juga jika dia memang marah, dan setelah itu dia akan merasa lega

  1. Orang dengan konflik terakumulasi

Orang type ini cenderung menutupi dan memilih menahan diri dalam mensikapi konflik. Namun secara disadari atau tidak, afeksi terhadap konflik itu terakumulasi dalam dirinya dan dapat meledak sewaktu-waktu.

Sahabat, dengan mengaku pada diri sendiri atau orang lain bahwa kita sedang mengalami stress atau mencari bantuan kepada orang lain bukanlah suatu kelemahan. Mengikuti kursus bahasa Inggris bukanlah pengakuan bahwa kita adalah pengguna bahasa inggris yang buruk tapi cukuplah bahwa kita ingin menjadi pemakai bahasa inggris yang lebih baik dari sebelumnya. Nah, kaitannya dengan statemen Pak Sekda di atas, saya menganalisis bahwa kebanyakan orang yang menderita stress adalah orang dengan typical konflik terakumulasi, karena itu sangatlah membantu bagi kita yang tengah menderita stress untuk sedikit jujur dan terbuka tentang ke-stress-an yang dihadapi untuk lebih mengurangi akumulasi konflik dalam diri kita. Stress ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi, stress mampu kita kendalikan jika kita dapat me-menej-nya dengan baik.

Sahabat, hidup ini tidak selamanya akan berjalan se-ideal keinginan kita. Ego kadang meracuni dengan berkata; lihatlah dia… begitu hebatnya, dia tetap bisa rutin berolahraga padahal tugas kantor yang menggunung datang padanya setiap hari, entah kapan dia melakukannya. Lihatlah dia… begitu luar biasa, dia tetap bisa menulis sebuah buku ilmiah yang menjadi best seller padahal kegiatan-kegiatan sosialnya tak pernah absen berhenti bahkan tak nampak ada waktu senggangnya. Lihatlah dia… betapa kerennya, nilai akademiknya tetap menjadi yang terunggul padahal eksistensi di berbagai organisasi sangat diakui dan dipercaya menjadi pemimpin di sana-sini. Kalau dia bisa, aku pun bisa.

Hei sahabatku, tidakkah kita sadari bahwa kita bukanlah dia. Dia adalah dia, dan kita adalah kita. Dalam beberapa hal boleh jadi terdapat persamaan yang dimiliki, tapi tetap saja kita dan dia adalah individu dengan kesatuan kompleks yang berbeda. Ada hal-hal yang sanggup dia lakukan tetapi kita tidak, begitu juga sebaliknya. Ini bukan hanya karena perbedaan kemampuan, kesempatan, dan kekuatan, tapi juga karena perbedaan beragamnya variabel kehidupan yang mempengaruhi kondisi jiwa dan raga masing-masing.

Dalam Al-Quran Allah Mengatakan; Laa Yukallifullahu Nafsan illaa wus’ahaa(QS 2;286). Mari kita telaah bersama pemilihan kata dalam ayat ini merujuk kepada maknanya. Disini penggunaan kata “Nafsan” yang berarti “seseorang”(satu orang-bentuk kata benda tunggal/mufrad) yang kemudian diikuti dengan “illaa wus’ahaa” yang berarti “sesuai kemampuannya” menjelaskan kepada kita bahwa kadar beban/ujian yang diberikan Allah kepada tiap-tiap orang adalah berbeda, hal ini terkait dengan kapasitas masing-masing yang juga berbeda sehingga Allah tidak menggunakan kata “Anfusun”(banyak orang-bentuk plural/jama’), karena penggunaan kata “Anfusun” akan cenderung termaknai menyamakan kapasitas setiap orang.

Sahabat, ini bukan masalah mengajak untuk bersikap pesimis dan underestimate terhadap diri sendiri, main point-nya tidak untuk mengatakan bahwa dia yang sanggup melakukan beberapa hal sekaligus dengan hampir sempurna lebih hebat daripada kita, sama sekali tidak! bukan soal siapa yang lebih hebat, karena kualitas pengakuan tentang kehebatan seseorang itu sangat relatif, tapi ini tentang bagaimana agar kita bersikap jujur terhadap kemampuan diri, pengakuan akan keterbatasan kapasitas, dan penghargaan yang lebih baik terhadap jiwa dan raga kita yang memiliki nilai ambang sendiri. Kita semua harus belajar untuk mendengarkan fisik dan psikis kita dan membaca serta mengambil catatan tentang pesan-pesan yang sedang dikirimkannya. Ada beberapa langkah yang tidak ada salahnya kita coba, So… mari kita simak bersama;

Sahabat, kita harus pandai melihat prioritas. Setiap hal yang kita jalani adalah pilihan yang telah kita pilih dari sekian banyak tawaran yang diberikan dalam kehidupan ini. Kita memilihnya karena kita enjoy menjalankannya, karena kita suka, karena pilihan ini adalah prinsip, karena kita merasa berkewajiban untuk memilihnya, karena kita merasa cocok, karena kita memandang itu akan menyenangkan dan menguntungkan buat kita, dan berbagai alasan lain. Bukan masalah jika ambang diri kita masih bisa menerima keseluruhan pilihan itu untuk direalisasikan secara paralel dan memberikan jaminan pada kita bahwa pelaksanaan secara paralel itu tidak akan mengurangi kualitas yang dihasilkan seperti halnya jika dilakukan secara serial, lalu bagaimana jika ambang diri ini telah mengisyaratkan bahwa keparalelan itu membuat kapasitas kita overload dan akan berefek menghasilkan output yang tidak berkualitas atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali(baca-gagal)?

Sahabat, kita bukanlah Superman atau Superwoman yang sanggup melakukan segala hal. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk dapat memuaskan semua orang, karena memang kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang, harus ada orang-orang yang kita kecewakan sebagai efek samping dari pilihan yang kita pilih. Karena itu, hendaknya kita tidak terlalu banyak menuntut pada diri kita, marilah kita berikan hak pada fisik dan psikis kita untuk lebih disayangi. Memberi terlalu banyak tuntutan pada diri dapat mengakibatkan penetapan tujuan-tujuan yang tidak realistis yang sulit untuk dicapai sehingga justru akan menyakiti diri sendiri.

Memang segala sesuatu ada resikonya, tapi jika kita pahami bahwa diantara semua pilihan-pilihan hidup yang telah kita pilih ada pilihan-pilihan yang memiliki urgensi lebih daripada yang lain, mengapa kita tidak memberi skala prioritas untuk memilah mana yang benar-benar perlu/urgen dan mana yang masih bisa dikompromikan?

mari kita coba menetapkan prioritas, mengambil catatan dan menulis sasaran dan tujuan dalam hidup, menuliskan semuanya bahkan hal-hal yang kita rasa tidak mungkin untuk dicapai. Setelah itu masing-masing item kita identifikasi kepentingannya, kita buat top priority dari mulai urgensi tertinggi hingga terendah lalu kita cermati dari skala terendah untuk berkompromi apakah perlu dihapus dari daftar pilihan atau kita perlu memutuskan pada sebuah skala waktu dalam bilangan bulanan, tahunan, per-5 tahunan, dst.

Kita buat rencana jangka pendek dan jangka panjang, boleh jadi dengan demikian kita bisa melihat bahwa ada beberapa tujuan yang hanya bisa dicapai melalui perubahan-perubahan dari pola hidup kita sebelumnya sehingga kita bisa mengalokasikan lebih banyak waktu untuk wilayah yang satu daripada yang lain.

Sahabat, kita harus belajar berkata “tidak”. Sebagian orang(termasuk saya^_^) menganggap sulit untuk menolak permintaan-permintaan dari teman-teman, partner kerja, dan dari siapapun meskipun merasa tidak mampu untuk melakukan. Kerap kali ini dilakukan karena kekhawatiran akan buruknya pendapat orang lain atau berpengaruh/merusak terhadap hubungan dg orang lain, termasuk rasa tidak enak dan kekhawatiran akan mengecewakan. Sahabat, akan sangat membantu bagi diri kita untuk bersikap jujur, jelas, dan tegas dalam menjawab, namun tetap perlu kita jelaskan  keperluan dan keberhalangan kita dalam penolakan tersebut dengan santun karena bagaimana pun juga adalah penting bagi kita untuk berkata “tidak” dengan cara yang benar. Sekali lagi, kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Apapun kondisinya, satu hal yang perlu kita cermati, jika kita melakukan suatu aktivitas lebih dari yang kita perkirakan mampu mengatasinya maka kita akan cenderung merasa tertekan, tergesa-gesa, cemas, dan kinerja kita jadi memburuk.

Sahabat, kita harus pandai mencari alternative dan melihat peluang. Adakalanya kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan agenda dan rencana yang telah susah payah kita rancang. Oleh karena itu diperlukan Plan B/rencana cadangan. Terkadang ego terselubung masih tetap keukeuh mempertahankan Plan A yang sudah sangat sulit terwujud, kita masih tidak rela untuk mengubah orientasi, ini bisa terjadi karena cara pandang yang masih terfokus pada anggapan bahwa orang kebanyakan melakukan “ini” dengan cara seperti “ini”(Plan A). Kita merasa asing, minder, dan terhina jika menempuh jalur yang berbeda dengan orang kebanyakan, padahal tidak semua cara tempuh yang berbeda akan menghasilkan output yang kualitasnya lebih buruk.

Jujurlah pada diri sendiri bahwa kita butuh re-charge. Jangan pernah terlena dengan terlalu menikmati keseolah-olahan. Kadang, tidak kita sadari bahwa kita men-suggest diri kita hidup dalam keseolah-olahan. Kita bersikap seolah-olah kita adalah orang yang taat pada aturan, padahal jika kita cermati ternyata banyak aturan yang kita langgar bahkan proporsinya lebih besar, kita bersikap seolah-olah kita adalah orang kuat dan siap untuk bertempur kapan pun, padahal kita lemah dan penakut,kita bersikap seolah-olah semua berjalan dengan baik, padahal kacau! Bukan berarti keseolah-olahan itu buruk, karena terkadang pada suatu waktu kita membutuhkannya, berlagak seolah-olah bahagia sangat membantu dalam stress recovery, tapi tidak jika kita terlalu berlebihan dalam keseolah-olahan karena yang kita hadapi adalah realitas, bukan alam seolah-olah!dan kita butuh untuk segera melakukan sesuatu, semua tidak akan berubah sampai kita mau bangkit dan berikhtiar untuk mengambil langkah-langkah mengatasi masalah.

Sahabat, tenanglah dan jangan cemas!Semua akan baik-baik saja dengan izin Allah. Yang kita butuhkan adalah relaksasi dan menenangkan diri. Berikan suplemen pada otak dan qalb kita dengan senantiasa berdzikir padaNya, sebutlah asma-Nya kapan pun!dimana pun!. Tiada sebuah pengobat hati yang lebih melegakan dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah. Sebuah sumber ketenangan dan kebahagiaan hakiki. Allah telah Menjamin, dengan selalu mengingatNya maka kecemasan, kegundahan, kekesalan, ketidakterimaan dan renjatan itu akan sirna

Akhirnya Percayalah sahabatku, dengan Ridha Allah, tiada suatu masalah yang tidak dapat kita pecahkan. Tiada gunanya terus menangis, karena pada akhirnya air mata tidak akan menyelesaikan masalah, tiada gunanya meratap dan berpangku tangan, karena kita harus segera bertindak! Janganlah terhapus senyummu oleh sayat itu karena ia begitu berharga. Mari mencari way out itu sekuat tenaga, bahu membahu menyempurnakan ikhtiar dan jangan sampai menyerah juga berputus asa. Marilah kita sikapi ketidaksempurnaan ini dengan kesyukuran dan kesabaran, karena sesungguhnya dalam syukur dan sabar itu terdapat kelapangan jiwa yang sejati, semoga Allah Senantiasa Menguatkan dan Mengizinkan semangat ini agar senantiasa berkobar tiada pernah padam, Aamiin.

Wallahu a’lam.

Leave a Comment

HaRgA sEbUaH KoNseKuEnSi

Hidup adalah konsekuensi. Pun memutuskan untuk menjadi bagian dari orang lain adalah konsekuensi, karena membutuhkan keberadaan orang lain sebagai pelaku sejarah kehidupan kita adalah bagian dari hidup yang tidak bisa ditawar.

Dalam perjalanan hidup ditemukan banyak orang dengan berbagai macam watak dan kepribadian. Pada suatu waktu, dari sekian banyak orang yang kita temui ditemukan sebuah kecocokan, persamaan rasa, kesukaan dan jalan pemikiran. Penemuan itu bisa didasari atas frekuensi pertemuan yang lebih banyak, atau hanya sekedar lewat analisis karakter.

Dengan alasan keselarasan, mempererat ikatan lebih dalam menjadi suatu prioritas pilihan. Tidak mungkin kita merasa ‘klop’ dengan semua orang, akan ada gesekan yang kita rasakan dari satu orang lebih keras daripada yang lain, sehingga menjadi fitrah memiliki kecenderungan untuk merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang tertentu lebih dari yang lainnya, karena naluri defensif kita akan selalu mencari celah untuk memberikan perlindungan, naluri itu akan berteriak sekeras mungkin pada diri kita bahwa kita tidak seperti ini sendirian, salah satu teriakan itu disampaikan dengan mengusahakan pengakuan eksistensi diri dari orang lain yang diharapkan akan banyak didapat saat menemukan orang yang ‘seirama’ dengan kita.

Dari situlah muncul sebuah hubungan eksklusif antara seseorang dengan orang lain. Bentuknya bisa diklasifikasikan menjadi dua macam;

Hubungan eksklusif karena terikat secara nasab/pertalian darah. Contohnya adalah hubungan orang tua dengan anak dan antara saudara kandung,

Hubungan eksklusif yang bukan karena ikatan nasab/pertalian darah. Contohnya antara guru dan murid, suami dan istri, dan antara sahabat dekat.

Salah satu bentuk dari contoh di atas kita sebut dengan persahabatan. Sahabat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua tahun 1995 berdefinisi ‘orang yang bersama-sama berbuat atau bekerja; yang menjadi pelengkap’ kita bisa menyimpulkan bahwa esensi dari kalimat di atas adalah sebuah persamaan. Persamaan ini melahirkan sebuah toleransi tinggi. Kita jadikan mereka sahabat karena saat kita berada bersama mereka ada perasaan untuk dimengerti lebih banyak, dihargai lebih dalam, dipahami lebih tepat. Karenanya kita tidak segan untuk mempersilakan mereka memasuki kehidupan kita lebih dalam, berbagi masalah pribadi, bertukar pikiran, meminta pendapat, dll. Kita menanamkan kepecayaan yang lebih besar, memberikan kasih sayang yang lebih banyak, memberikan perlindungan yang lebih tinggi. Keberadaan mereka menjadi istimewa dan berarti, istilah iklan mah bikin hidup menjadi lebih hidup.

Dalam sebuah karya sastranya Kahlil Gibran menulis;


Sahabat sejati mengerti ketika kamu berkata “aku lupa”

Menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”

Tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”

Membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan berkata “bolehkah saya masuk?”

Namun ada sebuah realita yang terkadang kita lupa untuk menelaah bahwa sebaik apapun sahabat kita, semengerti apapun mereka tentang diri kita, seperhatian apapun mereka terhadap kita, mereka tetaplah manusia yang tiada sempurna. Kadangkala mereka muncul sebagai orang yang sangat menyebalkan bagi kita, datang terlambat saat janji bertemu, menghilangkan barang berharga kita yang ia pinjam, bertindak bodoh di depan banyak orang saat bersama kita dan membuat kita malu, lupa merpersiapkan sesuatu yang telah kita pesan sebelumnya bahkan ketika telah kita peringatkan berkali-kali, dll. Kealpaan kita ini menuntut mereka hadir sesuai dengan persepsi sempurna kita tentang mereka. Sehingga saat mereka melakukan suatu hal diluar bingkai yang kita harapkan kita merasa pantas untuk kecewa dan marah.

Begitu pula sebaliknya, sepiawai apapun kita mengusahakan yang terbaik, ada saja kekurangan kita yang muncul dan tidak berkenan bagi mereka, adakalanya kita berbicara terlalu kasar sehingga menyakiti mereka, atau bercanda berlebihan sehingga menyinggung perasaan dan menyentuh bagian yang sensitif dari diri mereka serta masih banyak lagi, singkatnya posisi kita bagi mereka pun tidak jauh berbeda.

Kealpaan seperti ini jika tidak disiasati dengan baik kadang menimbulkan konflik yang pelik, terlebih lagi jika yang dikedepankan menjadi tameng adalah ego masing-masing maka lebih parah dari itu adalah terjadinya perpecahan bahkan permusuhan atau pemutusan hubungan, ego yang biasanya timbul misalnya saja;

Saling menyalahkan

Sikap saling menyalahkan adalah bentuk pertahanan diri, ketidakmauan dikoreksi atau ingin menunjukkan “jika aku bisa salah, maka kamu juga bisa salah”. Menyalahkan lebih dekat pada tindakan menilai negatif pada pribadinya, bukan menunjukkan pada tindakan yang keliru secara spesifik.

Tidak Melihat alternatif

Kecenderungan melihat masalah dari satu arah membuat kita tidak bisa berpikir tenang untuk mencapai yang terbaik dan bagaimana mencapai yang terbaik sehingga tidak akan nampak celah alternatif yang ditawarkan oleh sudut pandang masalah yang lain.

Terlalu sensitif terhadap kritik

Saat pihak lain menyampaikan keberatannya atas sikap atau cara kita berinteraksi diperlukan jiwa besar dan kelapangan dada dalam menerima kritik itu. Penyampaian kritik ini diperlukan untuk menciptakan atmosfir untuk saling memahami dan menjaga, namun bisa menjadi boomerang saat melihatnya dengan sudut pandang yang sempit.

Mengeneralisir

Saat dikritik satu atau beberapa orang tentang pakaian yang kita kenakan, kita mengatakan “semua orang telah mengkritik saya”. Sikap mengeneralisir hanya akan membuat problem semakin rumit bahkan malah menambah beban psikis bagi diri kita sendiri.

tidak mencari akar masalah

karena tidak mau mencari akar masalah maka kita tidak dapat memahami dengan sungguh-sungguh mengapa masalah itu muncul dan tidak segera hilang. Hal ini akan berakibat kita mengalihkan masalah kepada orang lain(mencari kambing hitam),dll

Disinilah peran Teori Konsekuensi di atas dimainkan. Saat kita memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang lain konsekuensi kita adalah melihat mereka seutuhnya sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan, kita harus konsekuen untuk siap merasa bangga dan merasa kecewa.

Dibutuhkan itikad saling memaklumi yang lebih dari sekedar paham dan mengerti. Pemakluman satu sama lain ini akan memunculkan kesadaran timbal balik bahwa kita adalah pelengkap bagi mereka dan mereka adalah pelengkap bagi kita. Jika pemakluman seperti ini telah ‘disepakati’ insyaAllah saat sahabat kita muncul dengan sikap dan karakter negatif menurut persepsi kita maka bukan lagi perasaan marah atau kecewa yang datang, tapi lebih pada keinginan untuk mengoreksi agar mereka tampil lebih baik, begitu pula sebaliknya.

Adapun sikap dan pandangan yang sebaiknya kita kedepankan sebagai tindak lanjut dari pemahaman teori konsekuensi kita adalah;

memahami bahwa sahabat kita bukan hanya milik kita saja, mereka juga memiliki kehidupan di luar interaksinya dengan kita yang juga penting dan membutuhkan banyak waktunya.

setiap orang memiliki karakteristik yang unik dan berbeda, sedapat mungkin kita menyelami lebih dalam karakteristik sahabat kita sehingga makna pemakluman tadi mendapatkan jalannya untuk direalisasikan.

jangan tanyakan apa yang telah mereka beri dan lakukan untuk kita, tapi tanyakan apa yang telah kita beri dan lakukan untuk mereka.

sahabat sebagai pelengkap yang baik bukanlah ia yang diam saat yang lain berbuat kesalahan karena sungkan, tapi ia yang berani membenarkan karena memiliki kasih sayang.

jangan ragu untuk mengucapkan terimakasih

jangan ragu untuk melakukan tindakan heroik, misalnya jemput dia sekali-kali di tempat les or ngaji saat ban motornya kempes, he2..

jangan malu untuk saling menunjukkan perasaan sayang kita, keromantisan dan keterusterangan itulah sebagai penguat ikatan dan pelega hati.

dll(ada yang mau menambahkan???)

nah sahabat sekalian, esensinya adalah bukan masalah sebanyak apa sahabat yang kita miliki, tapi sejauh apa usaha kita untuk membuat persahabatan yang sudah ada ini lebih berarti dari biasanya dan tetap terjaga keutuhannya, prinsip yang terpenting adalah punya sahabat banyak tapi utuh semuanya…(he2..he2…he2…^_^)

wallahu a’lam.

Leave a Comment

SisTeM kEnDaLi KeBeBaSaN

“Ketika kehidupan tak mendapati penyanyi untuk mendendangkan hatinya,

Ia menciptakan filsuf untuk mengungkapkan pikirannya…”

Sudah Allah Gariskan bagi umat manusia untuk menjadi pemegang peran utama di dunia ini. Khalifatun fil-ardhi. Hamparan bumi setiap sentinya memberi kita kebebasan seluas-luasnya untuk mengukir sejarah diri yang akan dikenang atau dilupakan, luasnya kebebasan yang menyapa kita di setiap jeda menawarkan muatan karya yang kita cipta. Kita bebas tuk mencatat setiap capaian kiprah diri sebesar-besarnya. Kita bebas melakukan apa saja. Tapi kita harus tetap ingat, kebebasan baru menemukan nilai kualitatifnya dalam praktis kebersamaan. Dalam kesendirian setiap orang bebas berteriak apa saja, tapi nilai kebebasan berteriak baru menemukan makna liberasinya dalam konteks kehadiran orang lain. Dalam menghadirkan partisipasi orang lain inilah kebebasan seseorang perlu dinegosiasikan.

Karena itulah kebebasan memerlukan sebuah koridor pada masanya, koridor itu adalah kendali diri. Sudah menjadi fitrah manusia untuk memiliki system kendali dalam dirinya sebagai manusia, tetapi kadang ada saja yang tidak menyadari bahwa justru dengan adanya koridor itu kebebasan kita mencapai wujud yang hakiki. Saat kita menggunakan system kendali itu, pada saat itulah kita dapatkan kebebasan kita. Dengan adanya system kendali kita akan meraih karya yang lebih pasti dan berkualitas. Memberikan kita efek berekspresi yang maksimal untuk menjadi sesuatu yang bermakna.

Begitu pula dengan kebebasan untuk menentukan sebuah pilihan, kebebasan yang dikendalikan menuju pada pilihan keimanan dan jalan pulang. seperti saudara-saudara Yusuf AS yang dikisahkan pada kita bahwa kebebasan yang dikendalikan oleh iman pada akhirnya akan membawa kepada jalan pulang. Mereka bebas untuk melakukan apa saja pada Yusuf saat itu, hingga pada awalnya mereka memutuskan untuk membunuh Yusuf; dengan mengatakan :

“Bunuhlah Yusuf !”( Yusuf ayat 9)

namun kendali kebebasan mereka mengantarkan untuk bertaubat sebelum merencanakan itu membuangnya

“…dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”( Yusuf ayat 9)

setelah kendali kebebasan itu bertindak, mereka ditunjuki kepada jalan pulang dengan menyisakan rasa kasih sayang pada Yusuf adiknya itu.

 “Seseorang diantara mereka berkata’janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat’”(Yusuf ayat 10)

 Begitulah Al-Quran mengajari kita tentang iman yang ada di dalam dada. Setelah berbuat kedzaliman dia menginginkan untuk pulang, kembali kepada jalan semula yang benar dan lurus.

Dengan adanya kendali kebebasan berupa iman ini, kita mengakselerasi hidup ini dengan amal dan kebajikan yang disediakan oleh rentang-rentang jatah usia. Setiap qalbun salim cenderung untuk meraih sebuah kebahagiaan, tiap diri cenderung menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya, praktis tidak ada seorang pun yang ingin hidup sengsara. Kemudian Iman sebagai pengendali ini tampil mengarahkan kita pada pilihan untuk kebahagiaan akhirat, kebahagiaan tertinggi yang telah ditawarkan. Namun masalahnya beberapa dari kita mentargetkan kebahagiaan itu hanya sampai pada kebahagiaan dunia saja, dalam perjalanan untuk meraih kebahagiaan tertinggi yang telah ditetapkan sejak kita masih dalam kandungan ibu menjadi terlupakan karena pada perjalanannya kita terlalu banyak singgah. Ibarat sebuah aliran sungai yang pada akhirnya berpulang ke laut, terkadang ada aliran air yang terlalu takut dan lemah untuk mengikuti arus yang telah diajarkan di tengah-tengah sungai, mereka memilih menepi ke hilir dan membentuk aliran-aliran air sendiri yang pada akhirnya membuat mereka tersesat pada hulu-hulu yang buntu, mereka terlalu banyak singgah, tidak mengikuti percepatan dan tidak mengikuti aturan main.

“setiap kalian akan memasuki pagi dan petang dalam takaran usia yang tersembunyi dari pengetahuan kalian…

Bila kalian bisa untuk tidak melewatkan setiap jenak usia itu dengan amal kebajikan, maka lakukanlah…

tetapi kalian tiada kan bisa melakukannya tanpa Pertolongan Allah,

maka bergegaslah menyusuri rentang-rentang kesempatan yang diberikan jatah usia itu…

sebelum ia datang memupus ladang amal…”(Abu Bakr Ash-ShiddiQ RA)

demikianlah sahabat, kita bebas untuk memilih menjadi apa saja, namu keimanan di dalam dada telah mengajari kebebasan kita untuk mengarahkannya kepada jalan pulang. Saat ini tinggal kitalah yang menentukan, mau mengaktifkan system kendali, atau singgah pergi dan tak peduli…Wallahu a’lam.

Leave a Comment

DiOrAmA AfRa MaiSyA

Terinspirasi dari perjalanan indah seorang ukhti, sahabatku yang baik, yang kini sedang berbahagia hidup bersanding dengan suami yang sangat menyayangi dan disayanginya

Terimakasih telah berbagi… ^_^

Aku menyibak perlahan gordyn tebal di sisi kiriku. Titik-titik hujan yang bersisa di atas kaca jendela tampak terseret lemah oleh kencangnya angin yang melawan arah laju ular bermesin ini. Syukurlah bunyi gerbong kereta yang bersahutan terdengar begitu keras sehingga menyamarkan teriakan hatiku yang sejak pagi tadi sangat gelisah entah mengapa.

Hpffpff….aku mendesah, mataku menerawang jauh kearah langit yang gelap sekali malam ini, tapi sayangnya aku hanya menemui sepi, padahal aku masih berharap ada satu saja bintang yang mau menemaniku yang sedari tadi tak bisa juga memejamkan mata. Astaghfirullahal’adhiim, aku beristighfar cepat-cepat sebelum malaikat mencatat kelalaianku yang telah menghembuskan napas keluhan akan beban yang seketika saja tadi terasa berat di pundakku, aku harus kuat!

Dan lantunan dzikir deras mengalir dari bibirku…

Hari ini juga ibu memintaku pulang, beliau memohon padaku untuk tidak beralasan macam-macam lagi demi menolak permintaannya, kali ini aku memang harus benar-benar pulang.

Yaah, sepertinya permintaan ibu ini sangat tidak berlebihan. Sudah setahun lebih tepatnya sejak peristiwa itu berlalu, aku memang sengaja menyibukkan diriku, dari mulai materi kuliahku yang luar biasa banyak, sampai kegiatan organisasi kampus yang tidak pernah berhenti. Bakti Sosial di desa terpencil, khitanan masal, pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, privat macam-macam, training ini itu,pengajian sana sini, sampai mengurusi adik-adik asuhku di Panti Asuhan Al-Fataa. Semuanya sangat menyita waktu, atau lebih tepatnya aku ingin itu semua menyita waktuku. Sampai-sampai aku tak sempat pulang bahkan di hari lebaran karena aku mendapat giliran jaga posko kesehatan mudik di stasiun kota, alhasil aku hanya bisa sungkem dengan Bapak, Ibu dan Mas Dimas kakaku satu-satunya melalui telepon seluler. Jadi, wajar saja jika ibu sangat merindukanku, dan jujur… sebenarnya aku pun sangat merindukannya, di tengah beratnya hari-hari yang kulalui selama ini aku sungguh ingin merasakan hangat peluknya yang menentramkan itu, menikmati tiap rasa aman yang hadir di setiap belainya,…alangkah indahnya… tapi aku tidak ingin tampak lemah, aku bukanlah akhwat lemah yang tumbang begitu saja hanya karena tiupan angin, atau merengek seperti bayi hanya karena cubitan kecil. Aku bukannya menyangkal setiap orang punya sisi lemah, tapi paling tidak aku tidak ingin seorangpun melihat saat aku menjadi lemah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Penolongku…

Ah…peristiwa itu, lagi-lagi kenangan itu terekam ulang di kepalaku, kenapa aku masih saja merasakan luka saat mengingatnya. Apakah hati ini masih belum ikhlas menerima qadarMu Ya Allah. Sungguh Aku tak bermaksud begitu Allah, tapi kadang otak kita memang tidak bisa membuang sebuah memori yang sangat berkesan dalam hidup tuannya, terlebih lagi jika bersamaan dengan hadirnya seperti ada kelu menyerang hati sehingga terasa begitu sesak sekali.

* * * * *

Mas Uza,,,pria yang hampir saja menjadi suamiku itu adalah satu-satunya Residen Bedah Jantung dan Pembuluh yang ada di Rumah Sakit Daerah di
kotatempat tinggalku. Namanya sangat dikenal oleh dokter-dokter muda karena ketrampilan bedahnya yang luar biasa, juga oleh perawat-perawat rumah sakit karena ketampanan wajahnya, usia yang terbilang muda tak membuat dokter-dokter senior pun urung menyeganinya. Seperti semua itu belum cukup, ia juga aktif mengisi ceramah keagamaan di event apa saja, kezuhudan dan kealimannya sudah terdengar di telinga setiap orang termasuk telinga pamanku yang sama-sama menjadi aktifis kesehatan di sebuah non government organization dengannya.

Sore itu aku ditelepon Bapak saat aku sedang mengetik bahan presentasi mata kuliah Radiologi di kamar kosku.

“Afra, akhir minggu ini kamu pulang ya…Bapak dan Ibu ingin membicarakan hal penting denganmu” kata Bapak pelan.

Adaapa tho pak, sepertinya mendesak sekali, apa ndhak bisa kita bicarakan ditelepon saja…lagi pula Jogja-Surabaya

kan

lumayan jauh, saya khawatir Cuma bisa di rumah sebentar saja” ucapku mencoba meyakinkan.

“ini ndhak bisa Bapak sampaikan lewat telepon, ndhak papa walau Cuma sebentar, sing penting muliho sik nduk...” katanya yang tak lagi bernada penawaran tapi sudah perintah.

nggih pun Pak, mungkin saya baru bisa berangkat dari Jogja Jum’at sore, tapi minggu malam saya harus sudah sampai di Jogja lagi” ujarku memastikan.

“Ya sudah, sampai ketemu di rumah ya Fra… Hati-hati di jalan… jangan sembrono,…wassalamualaikum” katanya sambil menutup sambungan.

* * * * *

“Ini lho Fra fotonya…”ucap paman menyodorkan dua lembar foto ukuran postcard sambil tersenyum menggoda, lalu ia mulai mempromosikan pria yang ada dalam foto itu dengan semangat kepadaku.

“Wah orang hebat begitu, apa iya dia-nya mau sama saya tho Pak Lik…” kataku ragu sambil mengamati foto pria bertubuh jangkung itu, aku tersenyum…keren juga!weits…!Astaghfirullah…he2..he2…

“aduh nduk, kok pertanyaanmu kayak orang ndhak punya iman saja, sehebat apapun…setidak hebat apapun…kalo sudah jodohnya ya ndhak bakal kemana tho…”ujar ibu memprotes. Aku tersipu, sebenarnya aku sangat paham teori itu, dan pertanyaanku itu hanyalah retorika belaka, maklum lah…aku bingung mau ngomong apa saking bahagianya.

“betul ibumu bilang, dicoba saja dulu kanndhak ada salahnya, urusan akhirnya bagaimana

kan

sudah diatur Allah” kata bapak menimpali.

“Memangnya beliau sudah tahu tentang ini Pak Lik?” tanyaku menyelidik.

“Sudah Fra, Pak Lik sudah bilang, memang dia sedang berencana menikah dekat-dekat ini, mungkin tahun depan, tapi memang belum ada calonnya, dia belum mencari, yoo wis aku langsung mengajukan kamu Fra…dan dia setuju saja”sahut paman menjelaskan, aku mengangguk paham.

“yaa..Saya sih…gimana dawuh Bapak dan Ibu saja…” kataku malu-malu.

* * * * *

Minggu malam aku sudah ada di Jogja, paman memintaku untuk segera membuat curriculum vitae untuk diserahkan pada Fauza Ahmada, nama pria itu. Jadwal esok senin-nya padat sekali, aku memeriksa agendaku kembali, hmm…aku hanya bisa menyusun biodataku disela-sela perjalanan diantara jadwalku, atau selepas shalat dhuhur nanti. Sangat tidak kondusif, untuk hal seperti ini aku butuh banyak waktu. Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakannya senin malam saja selepas pengajian di masjid kampus.

Ya Allah, secepat inikah proses itu akan segera kujalani? Sangat tidak terduga sekali. Memang akhir-akhir ini pembahasan tentang pernikahan sering terdengar di telingaku, dari mulai teman-teman akhwat yang ramai membahasnya, buku-buku nikah yang menjamur jadi best seller membuat semua orang latah berbicara tentang menikah, sampai Ustadz Yusuf di pengajian kamis pagi tidak mau kalah dengan membahas tentang Fiqhul Munakahaat bulan ini. Pusing aku mendengarnya, setiap kata ‘nikah’ itu tertangkap nervus auditoriusku, tiba-tiba ada kegelisahan yang melanda, entah apa yang aku khawatirkan, antara ingin dan cemas. Dan sekarang ketika jalan menuju itu benar-benar membentang dihadapanku, aku menjadi semakin bingung, antara bersemangat, bahagia, dan ketakutan…

Di sepertiga malam diri ini merajuk, membasahi peraduan dengan air mata pinta dan pasrah yang tak terkira, memohon cahayaNya tuk sinari ketidaktahuan diri agar tertunjuki pada ridhaNya semata…

Allahumma in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada khairun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Faqdurhu Lii wa yassirhu Lii Tsumma baarik Lii Fii hii

Wa in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada syarrun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu waqdiru Lii al-khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinii bihii…

* * * * *

Dua minggu kemudian aku menerima biodatanya, tentunya sekarang Mas Uza-begitu paman ingin aku memanggilnya-juga sudah menerima biodataku. Merinding aku membaca curriculum vitae sekeren itu, ternyata beliau lebih hebat dari yang aku perkirakan, selain deretan kehebatan duniawi, dia juga seorang hafidz yang hafal lebih dari sepertiga juz al-quran, subhanallah…dadaku semakin bergemuruh.

Dua sampai tiga bulan berlalu, namanya pun semakin bergaung di telingaku, aku mendapatkan banyak cerita tentangnya dari teman-temanku di Surabaya yang menjadi mahasiswanya di fakultas kedokteran.

Lambat laun bahkan sebelum wajah ini saling bertatap muka, bulir-bulir cinta telah menghinggapi hatiku, semakin sering aku mendengar cerita tentangnya, semakin pula simpati dan jatuh cinta ini menjangkiti. Diriku semakin gede rasa, timbul harapan-harapan membahayakan yang sungguh sulit sekali kutepis, aku hamba yang mengimaniNya ingin bisa mengendalikan diri…tapi aku pun manusia…punya rasa punya hati…pria hebat ini…aku yang seperti ini…berkesempatan menjadi calon pendampingnya,,, yang benar saja!Ya Allah…ujian!Kuatkan aku Allah…!

* * * * *

tiga setengah bulan sudah sejak Bapak memanggilku pulang dulu. Senja hari selepas mengajar privat anak SMU yang tinggal di seberang kosku, aku kembali ke kamar dan bersiap-siap mandi. Ketika kaki ini hendak melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba HP-ku di atas meja bergetar mengabariku ada sebuah pesan singkat yang masuk. Langkahku terhenti dan berniat untuk membukanya…tapi Ah nanti saja kubuka pikirku dan segera masuk tuk menikmati kucuran shower yang sudah kurindukan sejak siang hari yang menyengat tadi.

“supaya kalian tidak berduka atas apa yang luput dari kalian dan supaya kalian jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan Allah kepada kalian. Allah tidak menyukai setiap yang sombong lagi membanggakan diri”

begitulah Al-Quran mengajariku di akhir tilawah ba’da maghribku kali ini. Maha Benar Engkau Yaa Allah dengan segala firmanMu…aku tergugu, tak tersadar air mataku meleleh pilu. Ampuni aku Allah…Lindungi aku…

perlahan kututup mushaf dan melipat mukenaku. Aku jadi teringat ada sms datang sore tadi. Segera saja kuraih HP-ku dari atas meja.

1 message received

“AssalamualaikumWrWb, menurut Dik Afra mengapa Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan?_UZA”

Dueeeenggg!!what???aku membaca ulang sms itu, kuperiksa lagi nama si pengirim yang dicantumkan di akhir pesan. Setelah kubaca berulang-ulang nama itu tetap tidak berubah seperti saat awal aku membacanya, nama itu tetap tertulis UZA. Ya Allah…tubuhku lemas seketika, aku terduduk di atas ranjangku sambil mengucurkan segelas air putih dari dalam teko yang memang selalu kusediakan di meja tidur. Kubaca lagi pesan singkat itu, kali ini lebih kukonsentrasikan pada pertanyaannya. Hmm, apa maksudnya bertanya hal ini kepadaku, tentunya aku boleh curiga
kankalau ini bukan hanya sekedar pertanyaan, dari sekian banyak orang di sekitarnya yang lebih mahir untuk menjawab pertanyaan semacam itu, kenapa harus aku yang ditanyanya, aku tersipu sendiri. Kemudian mulai kutulis balasan pesannya:

“WaalaikumsalamWrWb. karena waktu adalah kehidupan. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan yang dibangun dari sisi amal dan kebajikan yang dibiasakan dan kemudian menjadikannya semakin beriman”

message sent


limamenit kutunggu balasan masuk tapi tidak datang juga hingga ada yang berkumandang, adzan isya. Segera kuletakkan HP-ku dan mengambil wudhu. Kunikmati sejuknya air yang menyusup di setiap pori-pori kulitku.

Ya Allah…jadikanlah aku bagian dari golongan hamba-hambaMu yang senantiasa Bertaubat dan Membersihkan diri…

* * * * *

tiga minggu berlalu sejak sms yang mengagetkan itu datang. Bayang, khayal dan kenyataan semakin membuatku tak kuasa menahan riak-riak rasa yang deras menyambang. Bagaimana ini, kadang ingin rasanya merajam cinta yang tak sopan tumbuh berlebihan sesuka hati, padahal Allah, sebenarnya…aku sadari, semua ini belum berarti apa-apa… belum ada janji, belum ada ikrar, belum ada kata-kata pasti, tetapi mengapa aku telah berharap banyak…mengapa aku telah jatuh cinta sedalam ini…bagaimana jika ini hanya anganku saja…bagaimana jika ini hanya impianku belaka, bagaimana jika aku nanti kecewa…bagaimana jika akhirnya semua ini menyakitiku…

sungguh berkali-kali kuminta padaMu tolonglah aku…jangan kucilkan aku dari hamba-hamba shalihMu karena rasa yang seperti ini…

namun seperti tak mengerti kegalauan hati, pesan singkat yang lain datang kembali…

1 message received

“Assalamu’alaikumWrWb. Dik Afra, Istrinya Mas Dimas itu dinas di Jakartaya?Kemarin saya kebetulan bertemu di sebuah seminar di

Jakarta

, beliau partner saya dalam sebuah proyek, pas ngobrol-ngobrol ternyata ipar Dik Afra…UZA” mataku langsung membelalak tak percaya, Mas Uza?pesan singkat seperti ini?lho,kenapa aku harus heran, memangnya kenapa, wajar
kan, pertanyaan seperti ini bisa ditujukan pada siapapun, ah sudahlah…janganlah terlampau senang, tanggapi ini dengan sewajarnya…tapi diam-diam ada yang menggelitik lesung pipitku, membuat seolah ada kupu-kupu yang mengepak sayap dalam perutku.

Sejak saat itu, paling tidak walau tak terlalu sering semakin banyak pertanyaan dan jawaban yang dikirimkan, katakan padaku teman…apakah kemudian salah jika aku menjadi semakin jatuh cinta, apakah tak wajar jika harapan-harapan itu begitu tampak nyata di depanku…

kadangkala aku menyesal mengapa begitu terlena, dimanakah letak kepasrahan yang selama ini kuatasnamakan? Ya Allah…katakan padaku…bagaimanakah Engkau Mendefinisikan hal ini…Bagaimanakah Engkau Menyebutnya…cobaan, ujian, azab, ataukah jawaban?? bukakanlah tabir itu untukku Kasihku…Terangkanlah bagiku kesamarannya…agar ku tak semakin terpuruk…Sayangilah aku…dan mohon Beri aku kekuatan yang lebih dari biasanya….

(to be continued…)

* * * * *

Hingga sore bersejarah itu pun tiba. Sebuah percakapan yang kuanggap sebagai sinyal dari Allah atas jawaban istikharahku yang tak pernah putus selama ini. Itu terjadi saat aku sedang berada di
Semarangmenghadiri sebuah rapat nasional organisasi tempatku berkegiatan. Aku mengenal seorang kawan yang kebetulan berada di satu divisi yang sama denganku, dia datang dari
Surabaya

, Pradnya namanya.

“Oh…kalau kegiatan seperti itu, biasanya kami mengundang dosen kami yang terkenal multi talented sebagai trainer, namanya Dokter Fauza Ahmada” ucapnya ringan, dia tidak menyadari bahwa aku agak tersedak saat tadi dia mengucapkan nama itu, aku berpura-pura meletakkan minumanku dan menyimak ceritanya kembali untuk menutupi kebodohanku tadi.

“beliau itu dosen idola kita lho Fra, gimana enggak…masih bujang, ganteng, trus orangnya tuh pinter buangett, kayaknya apa sih yang ga dia tau!sayangnya kita dia dah punya calon tuh” ujarnya berapi-api.

Mataku mendelik, aku tak tahu pasti apakah Pradnya memperhatikan ekspresiku ini, secepat itukah kabar ini tersebar, memangnya Paman dah kasih woro-woro ke semua anak didiknya ya?ataukah Mas Uza sendiri yang bikin proklamasi?atau Rasti dan Arifa membisikkan ini dari mulut ke mulut, aduh…menyesal sekali kenapa harus aku bercerita tentang ini, bahkan pada sahabat dekatku, bukankah Rasulullah mengajarkan untuk merahasiakan ini dan baru mengabarkan saat pernikahan??Hussh…Astaghfirullah kok aku jadi suudzon begini, diam-diam aku tersenyum sendiri, antara bangga dan kecewa…

“iya aku tau beliau kok, di Jogja beliau juga sangat dikenal” sahutku tersenyum sok tenang.

“iya Fra… namanya Zahratunnisa. Dia teman baikku. Bayangkan…mereka cocok sekali, senangnya aku…Ya Allah…semoga mereka berjodoh dan menjadi suami istri kelak!”

Dhhuaaaaarrrr…..tiba-tiba petir yang tak kasat mata menyambar kepalaku, seketika saja serombongan gajah seperti menginjak-injak punggungku, aku tak bisa berpikir…

“saat ini mereka sedang bertaaruf…insyaAllah kalau tidak ada halangan mereka akan menikah tahun depan, ini bukan gossip lho Fra!Fakta!”katanya mantap.

“lho Fra…mukamu kok pucat sekali?kamu sakit?”tanyanya cemas, aku jadi salah tingkah.

“Ah…masa sih. Aku emang begini kok, biasa aja kali. Oh iya, Plannary Session nanti malam rencananya mau dipindah ke Aula ya?”ujarku mengalihkan pembicaraaan sambil meminum teh hangatku untuk mengurangi kecanggungan dan menyamarkan pucatnya wajahku.

* * * * *

“maaf saya pulang tidak mengabari Pak Lik, tapi saya hanya ingin tabayyun, agar tidak berlarut-larut dan berefek buruk baik bagi saya sendiri maupun Mas Uza” kataku mantap saat malam itu kami sengaja berkumpul di tempat paman, ibu yang sedari tadi gelisah repot mengelus-elus pundakku.

“ibu tenang saja ya…saya baik-baik saja kok”ujarku sambil tersenyum pada ibu menenangkan.

ndhak papa Fra, pak lik juga sudah mengundang Mas Uza untuk datang malam ini, mungkin sebentar lagi dia datang, kita tunggu saja…”ungkapnya agak ragu.

Tak lama terdengar ketukan dan salam di daun pintu, dia datang! Bahkan aku belum pernah bertemu muka dengannya, tapi saat ini aku benar-benar tak sanggup melihat padanya. Setelah bersalaman dengan Bapak dan Paman, duduk dan berbasa-basi. Bapak memulai pembicaraan.

“begini Mas Uza, duduk permasalahannya tentu adik saya sudah menyampaikannya kepada Mas Uza, maksud kami mengundang Mas Uza kesini ingin bertabayun dan mendengarkan penjelasan” kata Bapak singkat.

“Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Bapak sekeluarga terutama pada Dik Afra, memang benar selain berproses dengan Dik Afra saat ini saya juga sedang berproses dengan seorang akhwat bernama Zahratunnisa, dia adalah mahasiswa saya sekaligus murid seorang teman yang mengajar kajian di musholla Fakultas, terhitung sejak tiga setengah bulan yang lalu saya dikenalkan oleh kawan saya yang ustadznya itu. Terus terang sebenarnya saya banyak diberikan tawaran untuk bertaaruf dengan akhwat. Saya bermaksud untuk memilih yang terbaik diantara yang baik sebelum saya benar-benar mantap pada satu pilihan…”ucapnya singkat tapi cukup jelas dan tegas, aku sangat menghargai keberaniannya untuk berterus terang.

“sebelumnya, perlu saya sampaikan kepada Mas Uza, saya sangat paham karena belum memasuki khitbah memang tidak dilarang untuk berproses dengan dua orang atau lebih, setiap orang berhak memilih yang terbaik untuk dirinya, terlebih lagi sampai sekarang sebenarnya saya belum bisa mendapatkan definisi yang tepat tentang hubungan kita ini. Andai bisa saya bilang jika selama ini kita berusaha untuk saling mengenal, maka sebut saja ini sebagai taaruf, tapi bagi saya adalah prinsip bahwa bertaaruf itu satu persatu, dengan prinsip itu saya bermaksud melindungi diri saya sendiri, ikhwan yang berproses dengan saya juga akhwat yang dibarengkan prosesnya dengan saya itu. saya tidak menyalahkan Mas Uza karena ini memang belum pernah saya sampaikan kepada Mas Uza sebelumnya, dan belum ada kesepakatan di antara kita. Nah, karena sekarang saya sudah menyampaikan, selanjutnya saya serahkan kepada Mas Uza untuk memutuskan…”ucapku tegar.

“kalau begitu, sebenarnya ini sudah saya pikirkan matang-matang sejak jauh hari, sebelumnya saya mohon maaf Dik, saya memutuskan untuk mundur dari Dik Afra…”jelasnya singkat.

“terima kasih Mas, saya juga mohon maaf jika terkesan terlalu keras, ini demi kebaikan kita bersama” kataku sambil tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan kesedihan yang menyapa sangat dalam lubuk jiwaku.

“saya sangat mengerti Dik”ujarnya pendek.

* * * * *

Bagaimana ini…

Kadang ingin rasanya berhenti dan akhiri saja sampai disini,,

Keberanian yang semula terpancar,hilang timbul tanpa permisi

Bahkan kaki ini merasa tak layak untuk melangkah lebih jauh lagi

Apalagi diri yang punya kaki…

hanyalah sekuntum bunga liar di tepi jalan

yang memaksakan diri tuk masuki taman bunga dalam istana

bersanding dengan bunga-bunga anggun itu

kadang sungguh membuatnya tersiksa

karna tiap waktu rasa ketidakpantasan itu menjalari di setiap lekuk pikirnya,,

Menggaung…menyalahkannya…

Kenapa kau begitu berani,

Apakah kau tidak berkaca diri

Kenapa bayang resiko yang begitu besar kau ambil dari lautan yang bahkan bermimpi pun tak mungkin bisa kau sebrangi

Bagaimana ini…

Apa yang sedang kau cari,,,

Apa kau tak berpikir bahwa akhirnya kau akan sakiti lagi dirimu ini,

Berapa kali lagi
kankau buat hatimu menangis

Masihkah tega kau gadaikan ia,

Mengapa kau begitu yakin akan akhir dari semua ini

Apa yang membuatmu masih tetap bertahan?

Dusta jika kau bilang tak mengapa

Apa yang baik-baik saja?

Kau melihat sakit itu akan mendatangimu dan kau bilang baik-baik saja,?!

Sungguh lihainya berselimut di balik resahmu..

Oh sungguh tak habis kuberpikir…oh bagaimana ini…

Sebuah sisi lain yang galau nian

Entah gerangan apa yang membisikinya…

* * * * *

Ya Allah…bukannya diri ini tidak sabar dan tak menguatkan diri tuk menghadapi takdirmu, tapi ijinkanlah air mata ini mengalir menemani, hanya sekedar untuk kelegaan hati…

Ya Allah…hamba sangat yakin, bahwa di setiap peristiwa tak ada lain kecuali hikmah dan cintaMu semata, bagaimana mungkin tak terucap syukurku atas cinta yang Engkau Curah sederas ini, bagaimana bisa aku menjadi sangat bodoh jika tidak bersyukur padaMu, sedangkan semua yang Kau Berikan untukku begitu ruah, terlalu melimpah, betapa banyaknya Ya Allah, takkan pernah terbayarkan walau aku bersujud seribu kali…sungguh aku tak mampu beralasan lagi untuk tidak merasa bahagia…

aku semakin malu…malu sekali Ya Allah, Engkau Memberikan Lautan cinta tanpa terkira sedangkan aku…terus saja MengecewakanMu,

Maafkan aku Kasihku, ampuni aku…Jangan lalu Kau Menjauhiku, Jangan kemudian Kau Biarkan sesat diriku, Mendekatlah Kasihku, Mendekatlah sedekat-dekatnya, dalam kedekatan yang tak bersekat…,

Lindungilah jasad dan jiwaku dari kedurhakaan padaMu, Penuhilah hatiku dengan cahayaMu yang tiada pernah padam, selamanya…

Selamanya Cintailah aku…aku yang hanya
kanmenjadi lemah tanpamu ini…

* * * * *

malam semakin beranjak larut, penumpang lain pun sudah tertidur pulas di kursi masing-masing, hawa dingin yang menyeruak dari luar ditambah semburan air conditioning menyusupi di tiap celah tubuhku, kurapatkan kembali selimutku mencari kehangatan yang menenangkan. yaah… karena kenangan itulah aku menjadi pengecut yang takut pulang, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menjadi pengecut, hanya saja kadang kita butuh berkompromi dengan diri sendiri untuk melalui fase yang sangat melelahkan agar terasa tidak begitu melelahkan, masalahnya, setiap butuh waktu yang berbeda-beda untuk mengarungi kompromi ini, ada yang hanya butuh satu hari saja, tapi juga ada yang perlu waktu berminggu-minggu bahkan tahunan. Aku pun demikian, aku tak pernah tahu sampai kapan aku membutuhkan waktu untuk berkompromi, hingga saat inilah aku memutuskan untuk mengakhiri fase itu, dan kembali pulang ke kotaku,
Surabayatercinta…

* * * * *

“oalah nduk…kamu tambah cantik sekarang…ibu kangen sekali” berkali-kali ibu mencium dan memelukku seperti anak kecil, aku jadi malu semua orang di stasiun melihat ke arahku.aku tersenyum.

“saya juga kangen Bu…”ucapku dengan pelukan yang tak kalah eratnya.

Di mobil Bapak mulai berbicara serius kepadaku,aku agak gelisah mendengarkan,

“nanti malam ada tamu dari
Bogor, kamu tau tidak nduk Om Wijaya kakak tingkat Bapak waktu kuliah dulu?”tanya Bapak

“tau Pak…”sahutku pelan

“sudah empat kali sejak sebulan yang lalu mereka mampir ke rumah kita” katanya misterius, aku jadi semakin tidak mengerti.

“lho memang ada perlu apa tho Pak sampai berkali-kali datang ke rumah?” tanyaku menyelidik

“putranya itu lho Mas Teguh Arifiyanto, kamu ingat
kan? sekarang dia sudah bekerja di sebuah perusahaan asing di Batam, dia Sarjana Tehnik Elektro. Santun sekali orangnya, Bapak dan Ibu sudah bertemu dengannya seminggu yang lalu” ucap Bapak enteng membiarkanku menyimpulkan sendiri. aku seperti menangkap sesuatu…

“malam ini mereka sekeluarga ingin bertemu denganmu nduk…”ujar ibu menimpali

empat rakaat isya usai tertunai dengan indah,,, geliat rasa mengharapkan guyuran lindungNya menyelimuti tiap keputusan yang mengiring cinta, kini kuserahkan padaMu Kasih, kubiarkan alir darahku mengikuti perintahMu…

* * * * *

aku melihatnya malam ini, Mas Teguh, mungkin dalam usia dewasa aku belum begitu mengenalnya, tapi dulu waktu Om Wijaya belum pindah ke Bogor, Mas Teguh pernah 2 tahun menjadi kakak kelasku di sekolah dasar. Wajah yang bersih, sikap yang bersahabat dan senyumnya yang khas tidak juga berubah sejak dulu, hanya satu yang berubah, dia sekarang lebih tinggi dariku, walau memang tidak terpaut jauh.

“begini Om Zakaria, saya datang kemari beritikad baik bersama orang tua saya bermaksud untuk melamar Dik Afra untuk menjadi istri saya” katanya to the point. Aku sudah menyangka inilah inti pertemuan dari semua ini.

“yaa..kalau
Omsih terserah Afra saja, gimana Fra?”ucap Bapak singkat, Aduh…kenapa Bapak melempar seenaknya padaku, apa Bapak tidak tahu, aku sangat grogi karenanya.

“saya sih…bagaimana dawuh bapak saja…” ujarku malu-malu sambil memainkan ujung jilbabku mencoba mencari celah untuk menghilangkan canggung.

“Yaa…saya sih setuju saja” sahut Bapak mantap.

“Alhamdulillah!!!” ucap Mas Teguh lega, senyumnya semakin sumringah sambil berpelukan dengan Bapak dan Ibunya yang tak kalah bahagia. Aku tersipu-sipu karena diberondong oleh pelukan ibu, Mas Dimas yang duduk di samping istrinya mengedip mata menggodaku.

“insyaAllah kurang lebih satu bulan lagi seperti kesepakatan kita sebelumnya, walimah dan akad akan diadakan disini, disesuaikan dengan jadwal libur Dik Afra” kata Om Wijaya tersenyum ke arah Bapak, Bapak mengangguk tanda setuju.

Sebulan lagi?menyesuaikan libur?Lho, kenapa secepat ini, kenapa tidak ada yang memberitahuku, pantas saja seminggu yang lalu tidak biasanya Mas Dimas menanyakan agenda ini ituku, huuuuuhh…semua orang disini, curanggg!!!protesku dalam hati, protes…tapi aku bahagiaaaa sekali.

* * * * *

Ya Allah, dan kemudian seorang Teguh Arifiyanto memasuki ruang dan alur kehidupanku, inilah babak hidupku selanjutnya…

Ya Allah, apapun pendapat hatiku untuk kejutan cintaMu kali ini…kupercaya yang ada hanyalah keindahan pada akhirnya, entah senyum ataukah air mata yang menghias wajahku kelak…entah apakah pertemuan malam ini benar-benar Engkau Ridhai tuk berujung pada Mitsaaqan Ghaliidzaa yang ia ikrarkan,,,

Ya Allah, terima kasih atas warna-warna yang indah ini,

apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…

apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…

apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…

apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus
asmaradan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…

* * * * *

Maha Sempurna Engkau, begitu terstrukturnya Engkau Merencanakan elegi hidupku, belum genap kekagetanku akan proses yang begitu cepat ini, belum genap pertanyaanku usai kujawab akan nikmat yang mendadak datang berjatuhan hingga ku tak sanggup lukiskan bahagiaku yang tak terkira ini, belum genap 1 bulan sejak aku mulai kembali mengenalnya…kini ia duduk di depan Bapakku, menjabat tangannya dan berucap;

“Saya terima nikahnya Afra Maisya binti Zakaria dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai…”

lalu memandangku dengan wajah yang bahagia dan menyemburatkan kasih sayang. Dia…Teguh Arifiyanto…kini sah menjadi suamiku.

selesai…

* * * * *

Comments (4)

Older Posts »