Archive for CeRiTa teNtaNg CinTa

~Muara Ikhtiar Cinta~

~Muara Ikhtiar Cinta~

-Alidina Nur Afifah-

SA-20040208c-MidxxxMeander

Perih.

Tak ingin mengawali kisah ini dengan keluhan menyakitkan. Tapi begitulah sketsa hidupku ini bermula. Setidaknya, aku ingin mereka yang juga pernah mengalami hari-hari yang sama, mereka yang pernah terpuruk dan tak tahu lagi harus bagaimana, mereka yang merana karena merasa Tuhan tak Adil padanya dapat mengerti bahwa justru sayatan ini adalah nyanyian keadilan dariNya, tiupan cinta yang takkan pernah sampai ilmu kita meraba dan melagukanNya, dan justru dari kelukaan ini aku dapat melompat lebih tinggi jauh dari yang sanggup kuduga, terjun lebih dalam ke dunia hati yang telak berbeda, terbang lebih bebas di alam yang tak lagi sama.

Sebuah nuansa telah menculik pemahamanku hingga sekedip mata saja muatan pesonanya bisa mengantar diriku menukar hidup yang telah kujalani lebih dari dua dasawarsa dengan rangkaian diorama yang asing. Keasingan yang saat itu baru kutahu bahwa sungguh inilah yang mestinya kumiliki sedari dulu. Inilah titik tolak perubahan paradigma yang ikut merevolusi seluruh sudut pandang pikirku. Pena cinta-Nya telah berbicara, memilihkanku alur tak rata yang indah dan sangat kunikmati sepanjang perjalanannya.

Mahasuci Dia, Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka hanya berkata kepadanya, Jadilah”, maka jadilah ia

# # #


Angin Januari berhenti menghembus, seolah beresonansi dengan detak jantungku yang seketika saja lumpuh untuk beberapa saat…

4579_1066270469650_1612700797_210116_906622_n

Aku terhenyak. Setelah puluhan purnama setia dan percayaku menyertainya, begitu saja ia hempas diriku dari kejauhan. Lumpuh. Saat-saat seperti ini kurasakan benar habis dayaku.

Di tengah ujian akhir semester yang semestinya total kulalui dengan tiupan semangat dan dukungannya, aku malah kaku dan beku karena ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Pergi meninggalkan diriku yang hancur dan berkabung bersama hasil ujian yang menyedihkan.

Sudah sejak beberapa tahun ini, aku bimbang. Bimbang dengan pemikiranku sendiri.

Inikah yang dinamakan fase pencarian jati diri itu?

Apakah saat ini aku sedang mengalaminya?

Aku merasa tak yakin dengan apa yang aku perbuat, aku sedang mencari sebuah pembenaran yang logis dan hakiki atas setiap apa yang kuputuskan. Namun aku tak kunjung menemukannya… aku masih saja merasa abu-abu, tak ada yang hitam buatku saat itu, pula tak yakin bahwa sesuatu putih untukku di masa yang sama.

Ada yang salah, selalu merasa ada yang salah tapi aku tak tahu mengapa demikian.

Terlebih saat kucoba memaknai hubungan ini, hubungan semacam apa ini? Benarkah demikian cara yang baik untuk mencari pendamping hidup yang tepat? Aku telah tahu ini tidak benar, tapi aku tidak sanggup berlari… Aku sudah paham yang kupilih rupanya salah, tapi aku tak mampu pergi…

dishonestrb-150x150Entah, rasanya aku belum siap untuk kehilangan lagi. Ya, lagi. Dahulu, jauh di masa itu. Aku pernah merasakan perihnya dikhianati, aku pernah melalui masa-masa itu, masa dimana aku begitu terpuruk karena harus ditinggalkan untuk perempuan lain. Betapa waktu itu, kurasakan hidup dan kepercayaan diriku telah direnggut oleh kepergiannya. Aku sangat kecewa dan tak sedikit pun bisa menerima ribuan alasan yang disampaikannya, sampai-sampai romansaku telah berkerak menjadi benci, rasa benci yang sampai kini masih tak jua bisa kuampuni.

Susah payah aku merangkak dari kubangan. Tertatih mengais langkah yang masih tersisa dalam energiku. Kembali menghimpun kepingan yang remuk redam menjadi kekuatan seorang perempuan yang tak lagi ingin disepelekan. Hingga akhirnya dia datang menawarkan kebahagiaan versiku saat itu.

sedih

Begitulah bagaimana kebimbangan itu begitu mengusik. Lebih dari separuh perjalanan bersamanya, aku merasa mulai ada ruang-ruang hampa dan tak tersentuh di hati. Terombang-ambing di persimpangan dan gundah hendak melangkah kemana. Aku ingin segera memilih arah, tapi seperti ada yang tak rela kutinggalkan…

Pada mereka semua ada iman yang bersemayam di dalam dadanya. Kalaupun manusia bergelimang dosa, ingkar, durhaka, kafir bahkan atheis sekali pun, fitrah manusia tetap tidak berubah. Iman di dalam dada mereka tetap kekal adanya.

Aku malu, ternyata energi hijrahku saat itu belum sekuat rasa takutku. Begitu mudah mengatakan bahwa hanyalah Allah yang pantas kita takuti, tapi ragaku sangat sulit untuk mengerti sehingga ia diam dan tak kunjung bergerak. Aku sedang tertahan dalam perang pemikiranku.

Boleh jadi itulah sebab mengapa kemudian aku memintanya untuk sesegera mungkin menikahiku. Aku pikir, ini adalah jalan tengah yang bisa -sementara waktu- memfasilitasi resahku. Meski sejujurnya aku tak yakin benarkah seperti ini yang disebut terfasilitasi?

Egoku menolak untuk berpikir lebih jauh, yang paling penting bagiku adalah ia pun telah sepakat. Sehingga dalam hitungan tahun, dengan memegang komitmen yang sesungguhnya lebih layak disebut pembenaran itu kujadikan ia sebagai dalih untuk tetap bertahan pada kondisi ini. Paling tidak, dengan memiliki target mengakhiri hubungan yang tak sempurna ini ke jenjang yang halal, aku boleh merasa tenang. Hmm, Tenang? Sungguhkan aku merasa tenang??

1017207995_2d477b3f90_m1Oh… betapa diri ini rindu mengadu. Mengadu tuk akui bahwa sekuat apapun aku menyangsikan, cahaya-Mu tetap tampak terang kulihat meski dari kejauhan. Tak dapat kupungkiri sinar-Mu itu menarik hati dan ingin segera kurengkuh dalam luas yang tak bertepi. Tapi aku terkungkung di sini, terjebak oleh rasa yang masih tak bisa kukendali. Aku ingin segera menyapa, tapi tak tahu harus bagaimana.

Hingga akhirnya, dalam kebekuan malam di atas hamparan sajadah meluncurlah harap dan pinta itu melalui aliran air mata pasrah kepada Yang Maha Menggenggam hati.

“Yang terbaik, Ya Allah”

Kata-kata yang selama ini takut sekali kuucapkan. Kalimat yang selalu saja kuhindari untuk kupanjatkan padaMu, Ya Rabb. Dalam doa-doa sebelumnya, pintaku hanya sanggup bersuara sampai dalam batas “jodohkanlah kami”, “tetapkanlah hati kami satu sama lain”, atau “mudahkanlah langkah kami”.

Karena aku masih resah bagaimana jika Engkau Mengabulkannya. Aku takkan pernah siap melepasnya. Aku tidak siap untuk menerima kenyataan jika dia bukanlah yang terbaik untukku sebagaimana kehendakMu, Allah…

Tapi malam ini, telah sampailah masanya aku melangkah, tidak lagi jalan di tempat, tidak lagi diam dalam gelisah, dengan sepenuh hati dan jiwa aku sungguh pasrah Ya Allah… Berikanlah aku petunjukMu… Aku mohonkan yang terbaik, Ya Allah…

Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagiku… Yang Terbaik…

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


* * *

flawlesswhite4

Hingga tak selang dari 2 bulan sejak aku memberanikan diri mengubah kalimat doaku, Januari ini, tabir itu tersibak sudah…

“Maafkan aku”

Hanya sederet kata itulah yang bisa diucapkannya dari telepon seberang.

Aku masih tidak bisa berdamai dengan isakku yang semakin menjadi-jadi sehingga tidak sanggup bicara. Dia pun hanya terdiam, mungkin sedang bingung kalimat seperti apa yang pantas dipilihnya di saat-saat seperti ini.

“ada apa? Kenapa harus begini tiba-tiba?apakah ada yang salah denganku? katakan apa itu?aku ingin sekali memperbaikinya dan kita tidak perlu seperti ini, Iya kan? bukankah masih bisa kita bicarakan lagi?”

aku berusaha bertanya sebanyak yang aku bisa sebelum aku kembali terisak dan tidak bisa berkata lagi.  Dan benar, aku tak dapat menahan tangisku lagi.

“Tidak. Tidak ada yang salah denganmu. Aku hanya…” Dia terbata, dan kembali terdiam.

“Aku hanya tidak bisa berhubungan jarak jauh seperti ini. rentang ini jauh sekali untukku…”

Keluhnya perlahan.

“kenapa baru kau katakan sekarang? Kita telah berulangkali membahasnya. Bukankah kita sama-sama telah sepakat itu adalah bagian dari resiko sebuah komitmen…”

Aku mencoba tetap berpikir logis, padahal semua juga tahu, sulit sekali bagi seorang perempuan untuk berpikir logis dalam kondisi seperti ini.

patah-hati“baiklah, kuakui itu bukan semata-mata sebuah alasannya. Aku hanya… Hhhhh…Aku hanya belum siap dengan pernikahan yang sangat kau inginkan itu. Kamu tau, aku masih kuliah. Masih banyak yang harus kulakukan. Aku masih ingin bekerja empat atau lima tahun lagi sebelum aku menikah”

Kalimatnya terhenti, ada luapan hati yang coba ditahannya.

“Setahuku, kau tidak pernah keberatan dengan yang kau bilang ‘keinginanku’ itu, kupikir itu ‘keinginan kita’… ” ujarku mulai goyah.

“Hmmm… Kau harus tahu. Sejak awal, aku ingin menganggap hubungan kita ini sebatas hubungan anak muda pada umumnya. Go with the flow! Kita tidak pernah tahu apa akhir dari semua ini. Anggaplah ini sebuah kesenangan masa lajang yang bisa kita nikmati. Tidak perlu berpikir rumit tentang ini dan bagaimana di kemudian hari. Kita masih muda,  Demi Tuhan! Kita masih 20 tahun! Kenapa harus cepat-cepat menikah??”

Dia menghela napas.

“Saat dulu pertama kali kau katakan ingin segera menikah seusai kita sarjana nanti, kau tidak pernah tahu betapa bimbangnya aku saat itu. Antara ketidakinginanku menyakitimu, memupuskan impianmu dan ketidakinginanku memusnahkan karir dan kesuksesanku hanya karena aku telah menikah!”

Aku tak percaya dengan apa yang dia katakan. Seketika saja, semua pondasi yang telah dibangun sejak lama runtuh begitu saja dalam sekejap oleh alasan-alasannya tadi. Aku menertawakan diriku dalam aliran air mataku. Selama ini, aku benar-benar menganggap kami mempunyai prinsip dan memandang dari sudut yang sama dalam menyikapinya. Tapi ternyata aku salah. Padahal, poin yang ini adalah bagian paling vital. Setiap pasangan harus memiliki kesepahaman yang sama tentangnya. Sesak sekali rasanya mengetahui bahwa sesungguhnya kami tak memiliki keselarasan itu.

Ia mengembalikan keputusannya kepadaku. Jika aku masih ingin melangkah bersamanya dengan rasa dalam dirinya yang tidak sama, dia katakan takkan berkeberatan. Oh.. demi Tuhan! Apa dia pikir aku gila?! buat apa aku meneruskan sebuah hubungan yang katamu sudah tak ada lagi rasa? Kau pikir aku perempuan seperti apa? perempuan lemah yang mau begitu saja dikasihani hanya karena aku cinta dan kamu tidak lagi??

disini_kita_berpisah

Kau harus tahu, harga diriku lebih tinggi dibanding rasa cinta yang salah ini! Kenapa kamu masih bertanya lagi apa keputusanku? Sudah jelas dan pasti aku memilih untuk mengakhiri semua ini!

# # #


Temaram sinar rembulan di malam-malam Februari menemani rana dan sepi di tepian hariku…perlahan terang sinarNya menghampiri, membawa bahagia yang takkan pernah kulepas lagi…

Rembulan Belakang Rumah

Tak gampang untuk pulih, mengingat aku adalah perempuan melankolis yang sangat mudah terlarut dalam warna-warni rasa hati. Mengingat aku adalah perempuan yang terlalu bodoh dengan memberikan perasaanku seutuhnya ketika mencintai seseorang, seorang makhluk, seorang ciptaan.

Dua kali. Disakiti dua kali adalah kebodohanku. Mengapa sejak luka yang pertama aku masih memberi kesempatan kedua untuk lelaki? Baiklah, adalah fitrah untuk merasakan kecenderungan pada lelaki. Aku telah memelihara dan menanamkan setiaku sedalam-dalamnya.

Tapi mengapa mereka begitu tega menghancurkan asa seorang perempuan yang menaruh harapan besar?

Tak sadarkah mereka bahwa bunda-nya adalah pula perempuan?

Tak ingatkah mereka saudari kandungnya pun adalah seorang perempuan yang juga bisa terluka oleh lelaki lain kapan saja?

Jika diri ini serupa mereka yang tak punya iman di hati, tentu saja sumpah serapah bertabur benci telah kuteriakkan demi rasa sakit hati ini…

gelas-kaca

Pecahan kaca itu menusuk sangat dalam, hingga jiwaku berdarah. Entah bagaimana aku bisa merapikan kembali koyakannya seperti semula. Entah sampai kapan aku sembuh dari kelukaan yang kurasakan seolah tak ada ujungnya.

Karena ulah lelaki itu aku kehilangan diriku. Aku merasa sendiri, sendiri dalam kepedihan yang memilukan. Yang kulihat hanyalah semua orang kini tengah mengolok-olok penderitaanku. Semua orang sedang mengasihani hidupku yang merana dan tersiakan, Aku tidak suka dikasihani! Aku tidak ingin dianggap lemah, aku tidak mau dituduh menyedihkan…

Hei, tunggu dulu!

Tapi Bukankah inilah jawaban yang kutunggu-tunggu sejak dulu? Tidakkah ini sebuah penjelasan dari kebimbangan yang meresahkanku itu?

Kupejamkan mata dan mencoba bernapas lebih dalam… kuselami sebuah sisi hati yang tersimpan jauh di dasar peraduan. Kurasakan getar-getar tersembunyi yang bernyanyi bersama tangisku.

Ajaib, sesungguhnya ada rasa ringan yang menjalar seiring desiran alir darahku. Beban berat yang membuat puluhan otot bahagiaku lumpuh bertahun-tahun ini seketika saja terangkat, sehingga tanpa kusadari jauh di balik alam bawah sadarku ada bagian dari diriku yang tersenyum riang merayakan kebebasan dan kesenangan sejati yang rupanya lambat kupahami.

Inilah aku, Ya Rabb..aku telah pulang bersama segenap jiwaku !

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.

sujud-tahajud

# # #

Irama seruling mengiring geliat Maret yang menari sibuk sekali, laju langkahku terpacu mengikuti alunan yang kian hari kian cepat saja, letih tak dirasa, karena lelahku kini telah bermakna…

_RAIN__by_Maozi

Mungkin luka itu masih ada. Tapi aku tak lagi ingin mendefinisikan bahkan di dalam hatiku. Karena mengingatnya hanya memanggil perih itu hadir kembali. Aku telah baik-baik saja, bahkan lebih baik dari yang sanggup kuduga. Meski kini, masa lalu membuatku jadi cenderung apatis. Tanpa kusadari, selalu saja ada picingan mata dan kerutan dahi terhadap setiap tindakan lelaki, siapa pun. Sebagai bentuk proteksi diri dari alam bawah sadarku yang tak mau lagi ditipu. Aku akan bela mati-matian dengan caraku sendiri siapapun perempuan di sekitarku yang hatinya tertoreh karena lelaki. Terdengar feminis memang, tapi tetap ada yang harus membayar setiap air mata yang tumpah dari pelupuk perempuan-perempuan itu.

1_758755715lSyukurlah semua terjadi di puncak karir organisasiku, segala kegundahan yang telah terurai kini bertransformasi menjadi sebuah energi dahsyat untuk mengoptimalkan potensi. Setiap goresan luka yg menyayat terobati dengan letupan semangat yang menghabiskan setiap detikku bergulir demi mengais kembali kasih Allah yang tanpa sadar kubiar saja berserak di depan mataku selama ini sebelumnya. Tak lagi ragu aku melangkah pasrah dan meneriakkan pinta di setiap masa yang terlewati akan datangnya segala hal yang terbaik bagi hidup dan matiku, pula kehidupan setelah kematianku. Yang terbaik seperti yang Allah Mau.

Aku sungguh menikmati ringannya rasa dan semilir cinta yang menyejukkan raga dan jiwa. Kumohon padaMu Allah, Jangan Biarkan lagi aku menjauhiMu. Jangan kau Ijinkan kebodohanku merenggut lagi keindahan saat-saat aku bahagia bercumbu denganMu. Jangan pernah Kau Bolehkan lagi aku merampas sendiri senyumku hanya karena kehilangan energi yang tak sanggup kuraih kecuali dengan kasih dariMu…

smileAku telah lupa, bahwa sebelum hari-hari yang sekarang ini aku pernah menangis pilu di pelukan sahabat-sahabatku karena sedih yang tak perlu..

Aku telah lupa, bahwa sebelum pelangi menemaniku sepanjang waktuku ini aku pernah diguyur hujan deras bertubi yang membuatku menggigil kedinginan padahal aku bisa berteduh tapi aku enggan..

Aku telah lupa, bahwa beberapa bulan yang lalu aku sedang terpuruk namun kini aku tengah berdiri dengan senyum yang terkembang…

Aku telah lupa bahwa di masa kelam yang tampaknya dulu tak kuanggap hitam itu aku selalu terbangun dengan mimpi buruk yang tak pernah kusadari sedang kini aku selalu menikmati tidur nyenyak dengan rasa bahagia saat bangun di pagi hari karena yakin Allah akan senantiasa Menjaga diriku meski aku lengah tak mengerti…

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Dekat, Aku Mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu

# # #

Kupu-kupu di bulan Mei menggodaku dengan butir-butir lembutnya, aku melihatnya tertawa riang dan bersenda gurau bersama ayunan ilalang, mengekspresikan cinta Ilahi yang hadir di antaranya.. tulus.. tanpa syarat..

new_life_by_irondoomdesign

Segalanya terasa begitu cepat, mungkin juga karena aku terlalu bersemangat menyibukkan diri. Hingga akhirnya datanglah malam itu. Setelah hari yang luar biasa padat memaksaku baru pulang seusai maghrib. Tak sempat aku melepas segala atribut yang melekat dan langsung saja menikmati nyamannya pelukan kasur di kamar kosku yang terasa bagai pijatan di tubuh ini. Dan akhirnya telepon itu berbunyi. Sebuah telepon yang membawaku melompat ke dalam fase hidupku selanjutnya tanpa permisi…

telepon“Beberapa waktu lalu mengobrol dengan seorang alumni laki-laki, rupanya siap menikah dan sedang mencari istri, dan saya menawarkan antum untuknya, namanya…”

Suara guru Aqidahku semasa di SMU dulu membahana di telinga. Mengabarkan sebuah nama yang tentu saja sangat kukenal.

“Segera buat CV ya, dikirimkan ke email saya. Nanti saya kirimkan CV-nya juga ke email antum”

Aku terbangun dari diamku. Masih tertegun sampai-sampai aku terlambat menjawab salam penutup dari seberang yang terlebih dulu telah mengakhiri sambungan telepon.

bayang1

Lelaki itu?

Seketika saja jantungku berdebar. Bagaimana mungkin.

Ah, guruku… engkau sedang bercanda denganku kan? Kuingat engkau yang paling riang saat kukabarkan aku putus Januari lalu sampai-sampai mengucap “Alhamdulillah”. Sejenak kuabaikan kabar melalui telepon penting itu. Segera kubergegas ke kamar mandi menikmati guyuran air mencari kesegaran yang kurindukan sejak tadi.

Menjelang tidur, pikiranku melayang mengingat-ingat. dia, lelaki itu. Hingga detik ini, sebelumnya belum pernah aku berpikir dan mengenang detail tentangnya sampai seserius ini. Sebagai orang yang belum pernah bertemu, aku cukup tahu banyak. Biasalah perempuan di asrama, pasti ada saja cerita tentang lelaki dibahasnya, apalagi dia. Tentu saja orang seperti dia tidak akan luput dari pembicaraan.

Padahal dia ada di sekolah ini jauh sebelum aku menjadi murid di sini. Dan yang paling kuingat dari pembicaraan itu, mereka bilang dia sosok suami idaman, Apa iya? Boleh jadi benar adanya.

Katanya dia bersuara merdu, qira’ah qur’annya fashih dan meluluhkan relung siapa saja yang menjadi makmum-nya.  Berperangai baik, lembut dan ramah. Murid yang rajin, pintar, dan menjadi siswa teladan di jamannya. Mantan Ketua OSIS dan .. ehm, tampan pula wajahnya, jauh di atas rata-rata.

168782129_0e663a49cf

Hei, tunggu sebentar. Aku ingat! Kami pernah bertemu sebelumnya. Ya, hari itu kami bertemu. Tak ada seperempat jam, mungkin hanya terhitung 10 menit, entahlah aku tak ingat banyak. Tapi hari itu kami sungguh-sungguh bertemu. Dia menjadi wakil Ikatan Alumni yang mengadakan acara bekerjasama dengan pihak siswa yang diwakili olehku, kami mengadakan rapat koordinasi waktu itu. Aku tersenyum mengingatnya, Itu sudah terhitung 5 tahun yang lalu. Ah, dia rupanya.

Tapi sekenal apapun aku dengannya saat ini, pastilah itu hanya hal-hal superfisial saja, masih banyak yang tentunya belum kuketahui dan tersembunyi. Ini kan urusan menikah, bagaimana mungkin aku menikah hanya dengan mengandalkan hal-hal yg superfisial? Bagaimana bisa aku menikah hanya bertaruh pada atribut-atribut islami yg berkibar di luar saja?

Aku tak akan gegabah, ini kan urusan menikah. Kata itu menikamku, Aku terdiam. Hmm.. sedari tadi aku berpikir banyak, mengapa seperti ada yang terlewat. Ah, Menikah?? Oh, kenapa aku lambat berpikir seperti ini, aku baru menyadari kalo urusannya sepenting ini, Menikah.

roseb018Menikah?

Harus secepat ini kah?

Baru saja beberapa bulan yang lalu aku dikecewakan oleh laki-laki setelah beberapa tahun sebelumnya juga mengalami hal yang sama. Dan untuk bangun dari ketakberdayaanku sampai bisa tegar berdiri seperti kini, butuh banyak modal dan energi yang menguras habis perbekalan yang kusimpan. Lalu saat ini, aku harus masuk ke dalam fase hidupku untuk membahas urusan yang teramat penting dengan Tuhanku, dan ini harus melibatkan laki-laki?

Aku gelisah. Sungguhkah aku telah berani melangkah sekarang? Baru beberapa bulan, apakah aku telah selesai berkompromi dengan diriku perihal kesakitan yang lalu?

Apakah aku siap?

Siapakah dia? dia bukanlah malaikat tak berhawa tapi dia adalah manusia, seorang lelaki yang selain bisa saja berhati baik dan peka bahwa dengan seorang perempuan lah dia sedang berurusan, tapi juga memiliki potensi yang sama dengan lelaki-lelaki lainnya untuk menyakitiku.

Aku tahu siapa diriku, Aku bisa mengukur seperti apa karakterku, Aku paham seberapa sensitif dan pekanya perasaanku. Konsekuensinya bukan hanya sekedar tersanding bahagia di pelaminan pada akhirnya, tapi juga puing-puing yang baru saja lekat akan kembali retak, lalu terserak dengan kepingan yang lebih kecil dan rumit. Aku harus mengukur diri, siapkah aku untuk kembali merangkainya jika itu nantilah yang menjadi penghujung?

Hatiku tiba-tiba lelah, pikirku penat, jiwaku resah. Tak henti relung ini meminta, Ya Allah, Tenangkanlah hati ini, Liputilah kegalauannya dengan kebesaranMu Yang Menguasai. Sampai akhirnya kuterlelap dalam buaian malam yang serupa peluk menghangatkan sang bunda.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

# # #

Dinginnya air di penghujung malam dan pagi terawal hari ini menyentuh wajahku, kesejukannya menelusup ke dalam pori-pori dan merefleksikan kedamaiannya sampai ke dasar bilik-bilik hati. Jadikanlah aku bagian dari hamba-hambaMu yang bertaubat dan senantiasa menyucikan diri…

drop

Ya Allah, apapun pendapat hatiku untuk kejutan cintaMu kali ini…kupercaya yang ada hanyalah keindahan pada akhirnya, entah senyum ataukah air mata yang menghias wajahku kelak…entah apakah proses ini benar-benar Engkau Ridhai tuk berujung pada Mitsaaqan Ghaliidzaa yang diikrarkan,,,

Apapun yang kukatakan, entah terlampau cepat atau tak siap. Seperti inilah yang seharusnya benar berlaku. Bukankah ini jalan yang Engkau Ridha untukku menemukan separuh nafasku? Inilah yang sebenarnya. Lantas mengapa aku harus ragu dan ketakutan? Bukankah Engkau Yang Maha Menyembuhkan kesakitan?

Ya Allah, terima kasih atas warna-warna yang indah ini,

apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…

apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…

apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…

apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus asmara dan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…

Bismillah, Aku siap dengan IjinMu!

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.

# # #

Deru cintaMu mengalir dan menyelimuti butir butir darah merahku. Detak yang semakin mengeras saat detik terus bertambah tetap tertata oleh penjagaanMu. TabirMu kian memamerkan padaku akan binar kilaunya. Pendar cahaya yang telah mempesona. Riang dan Resah silih berganti menyapa.

dan-collier-bright-star-smile-moon

Ah, siapakah dia? Semakin hari semakin menarik hati. Sungguh aku hanyalah perempuan biasa yang sangat bisa kapan saja dibelai asmara. Tak ada yang meminta, tak ada yang memaksa. Dia datang dengan sendirinya tanpa permisi. Tapi, kuingat ini belumlah waktunya. Belum saatnya diriku bersemangat memupuk dan menyiraminya. Bahkan mendefinisikan apa kiranya yang tengah berlaku dalam hatiku ini aku tak berani. Tapi tetap saja, tak ingin menafikan harum wewangiannya menari-nari sampai di depan indera penciumanku…

Wahai…
Hati yang lemah dan rentan berpaling ini…
Tak sadarkah jiwamu mudah sekali ternoda,
Terayu bujuk duniawi yang menyilap mata…
Duhai,,,
Tak kah kau rasakan lara,,
Lara merindu kebeningan diri yang tak jua menyapa,
Hingga mana kau biarkan titik hitam itu mulai menggunung menyelimuti…
Tak kah pula kau dengar rintih ini,,
Rintih lelah oleh permainan jiwa dan perasaan…
Betapa batas goda itu samar dan tak kasat mata,,
Batas yang justru dimulai dari hatimu sendiri…
Tak sanggupkah kau atur kendali itu,,
Tak kuasakah kau sedikit tegas dengan dirimu sendiri,,,
Tak mampukah kau menjadi pentitah indah bagi jiwamu sendiri…
Kumohon wahai hatiku…tariklah erat pelana itu…
Agar tak kau berikan sedikit pun kesempatan,,
Untuk serahkan diri pada nafsumu walau sekejap mata..
Wahai diriku,,,yang sangat kusayangi,,,
Sejenak…Rasa yang indah itu memang sangat menggoda…
Sekilas…kilaunya amat sangat memikat jiwa,,
Namun Bukankah,,, sangat kau pahami,
Itu hanya akan meracuni jika tak kau bijaki
jangan kau hinakan dirimu dengan mengabdi padanya,,,
lebih lagi jika kau bawa jiwa lain ikut terjebak kedalamnya…
Jangan…
Kumohon jangan…
Bersabarlah…
Kuasailah…dan biarkan waktu yang akan menjawabnya…
Kau tahu semua punya masanya sendiri…
Tinta telah mengering dan lembaran telah dilipat,,,
Allah telah Menuliskan keindahanmu jauh-jauh hari,,,
Dan kau akan menemuinya,,, dengan sendirinya,
Tak perlu seperti yang kau minta…
Tapi sesuai apa yang Allah Punya untukmu,
karena itulah yang terbaik, dan akan selalu menjadi yang terbaik…
bukankah seperti itu yang kau yakini…

Apakah kau melupakan itu wahai diriku yang kusayangi…
Siapakah yang bisa menyembuhkan kesakitanmu?
Bukankah hanya Allah melalui ikhtiarmu sendiri,,
Tiada makhluk yang bisa menopangmu,,
tersenyumlah duhai diriku…
percayalah…kau tidak seburuk itu,,,
janganlah putus asa dengan kerikil yang menyandungmu…
karena Allah tlah Menciptamu dengan segala kurang dan lebihmu…

# # #

Insan Cendekia, sebuah wujud nyata terawal. Menjadi saksi bahwa cinta ini telah berikhtiar semampunya. Di sanalah, suara dan cerita menghimpun kemantapan untuk merapat lebih dekat…

logo_masjid-ic1

Hm, lama sekali rupanya tak datang menyapa. Sudah banyak yang berubah, perubahan yang indah dan megah. Insan Cendekia, selalu saja ada rindu untuknya. Di sana, kutitipkan berjuta kenangan. Kehadirannya dalam rangkaian puzzle hidupku takkan pernah tergantikan oleh kepingan yang lain. Aku telah melalui proses yang mengagumkan bersamanya. Dan kini, seolah ingin kembali ikut terukir dalam jejak-jejak penting hidupku ia turut menyaksikan slide kali ini.

Kemarin dia sudah mendahului datang menemui guruku, dan sekarang adalah giliranku. Karena jarak yang jauh dan waktu yang sama-sama tak banyak luangnya, kami tidak bisa menyempatkan datang dalam waktu yang sama.

Ruangan perpustakaan begitu sunyi. Padahal banyak sekali siswa di sini, bangga-nya melihat adik-adik tertib seperti ini. Semakin keren saja perpustakaan ini sekarang, seingatku dulu tidak ada koneksi internet di sini.

Akhirnya obrolan serius tapi santai itu dimulai. Kudengar dari sang guru tentang dia yang berkisah perihalku, beberapa diskusi online kami, juga keinginannya untuk segera menemui orang tuaku. Kami menyepakati tidak ingin membuat proses ini terlalu kaku. Baik interaksi maupun waktu. Demi eksistensi seni melukis akhlak dengan sebuah kompromi antara kebiasaan, etika, syariat, juga kepekaan terhadap harapan keluarga dan lingkungan sekitar.

Setelah diskusi siang itu, insya Allah langkahku semakin mantap. Ya Allah, semoga kemantapan hati ini adalah jawabanMu atas istikharahku. Jika inilah yang Engkau Perkenankan, maka Mudahkanlah jalanNya, Aamiin..

# # #

Hari ini, waktu tiba baginya mengunjungi kedua orang tuaku untuk pertama kali. Dan tentu saja adalah kali pertama pula dia bertemu denganku. Seperti apa kiranya dia yang seutuhnya nyata? Bukan hanya sekedar tulisan dan hasil bidikan kamera yang menjadi bayangan di mataku selama ini…

Dia berada tepat di kursi seberang. Memakai setelan koko putih dan celana kain panjang abu-abu. Terlihat sedang asyik sekali mengobrol dengan Ayah dan Ibu. Oh, seperti ini rupanya dia. Aku tersenyum, tampan dan santun seperti yang kuduga. Ups, semoga tidak ada yang membaca apa yang kutulis di pikiranku, aku malu.

Senangnya melihatnya begitu cepat akrab dengan orang tuaku, Alhamdulillah. Aku lega dia mahir mengambil hati mereka. Bagiku, selain persamaan fikrah, prinsip, dan pola pikir, itulah salah satu syarat bagi lelaki yang akan menjadi suamiku kelak. Keluargaku, terutama Ayah dan Ibu harus nyaman berada di sisinya.

Mengingat pengalaman tak menyenangkan yang sudah-sudah, kini sejak awal telah kuniatkan, jika pada pandangan pertama orang tuaku mengatakan “ tidak”, maka selesai lah sampai di sini. Karena kadangkala, aku merasa bahwa mereka yang telah membesarkanku hingga kini itu lebih mengerti tentang diriku daripada aku sendiri.

Tentunya sebelum menghadirkannya kepada orang tua, aku lah yang menjadi penyaring pertama yang menimbang dan mengira-ngira apakah dia akan cocok dengan keluargaku juga keluarga besarku. Setelah itu, aku bertugas mensosialisasikan dia seutuhnya pada mereka, aku harus berjuang bagaimana agar rasa sayang itu tumbuh di hati mereka sebelum saling bertatap muka, dengan cara yang elegan pastinya. Untuk kemudian saat dipertemukan mereka telah menyimpan cinta bagi dia. Cinta yang menggiring pikiran positif dan kompromi atas apapun yang berlaku saat itu.

Memang membuat proses ini memakan waktu yang lebih lama, tapi bagiku. Kenyamanan mereka sangatlah penting.

Kemana kaki akan dilangkahkan adalah pilihan masing-masing, dan tak harus setiap orang mengarahkannya pada alur yang sama. Dan inilah pilihanku. Aku tak mau keluarga kecil yang kubangun nanti akan mengalami kesulitan-kesulitan yang seharusnya bisa diseleksi sejak awal.

Bismillah!

# # #

Duh, inilah masa bagiku menyapa mereka. Orang-orang terkasihnya yang ingin melihatku lebih daripada sekedar cerita. Inilah pertaruhan itu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Memiliki cinta. Semaikan benih kasih itu di antara kami, Ijinkan mereka mencintaiku, dan kumohon kenyamanan dan bahagiaku hadir di antaranya…

Kereta Argo Bima membawaku dari keheningan malam Jogja menuju hingar bingar Jakarta. Kulihat Paman yang turut mengantarku sudah tertidur pulas karena aktivitas-nya seharian. Terimakasih pamanku yang baik telah repot-repot mengantar.

Alih-alih pulas seperti Paman, aku tak bisa sedikit pun memejam mata. Padahal, siang tadi aku pun baru saja tiba di Jogja dari Solo. Aku sedang mencoba meraba apa kiranya yang akan terjadi esok. Terlalu banyak menonton film korea membuatku merasa bahwa pertemuan antara calon menantu dan calon mertua selalu terjadi dramatis dan memilukan. Naudzubillahi min dzaalik, semoga kali ini menjadi pengecualian untukku.

Ya Allah, Jauhkanlah pertemuan esok dari segala yang tidak mengenakkan hati. Mudahkanlah… Lancarkanlah…

Pagi ini kereta tiba terlambat satu jam, hmm.. memprihatinkan, kereta argo sekarang tak seperti dulu lagi, selalu saja terlambat datang. Segera kami menyewa taksi untuk meluncur ke sebuah rumah milik kantor paman yang boleh dipakai olehnya ketika datang ke Jakarta. Seusai mandi dan menata diri, kami berangkat.

Semakin mendekat ke tujuan membuat gemuruh dadaku kian riuh. Terlebih saat mobil yang kunaiki ini berhenti di depan sebuah rumah berpagar hitam yang berarti mengatakan padaku bahwa kami telah sampai. Hooossshhh… Bismillah…

Menyenangkan, meski masih canggung tapi aku merasa nyaman. Obrolan superfisial terangkai akrab. Pamanku yang lebih kerap bersuara sedang aku sepertinya banyak diam, menjawab seperlunya dan tersenyum malu-malu.

Ada sebuah suasana yang terselip dalam kunjunganku, sangat mengesankan dan indah kukenang sampai kini. Ah, baiklah.. mari kita sebut itu dramatis, paling tidak dramatis menurut persepsiku. Sebuah cerita singkat yang sangat menegangkan bagiku.

Entahlah, mungkin aku terlalu sensitif dan hanya perasaanku saja, tapi jika coba kuhitung-hitung sejak awal datang aku merasa bunda-nya tak menanyaiku sedikit pun. Sedih sekali, interaksiku dengan beliau hanya sebatas bersalaman dan cium tangan saat datang. Sebelum pertemuan, aku memang telah dikabari oleh dia tentang karakter keluarganya masing-masing termasuk jurus-jurus jitu untuk menghadapi. Jadi, sepertinya aku cukup paham mengapa sang bunda bersikap demikian. Kita pasti sama-sama mengerti tentang berbagai rasa yang terbingkai di hati seorang bunda yang hendak melepaskan putera lelaki satu-satunya yang bungsu pula itu seperti apa. Siapapun yang ada dalam posisi beliau akan melakukan hal yang sama, selektif dan teliti terhadap ia yang akan mengambil alih sebagian besar peran dirinya atas putera tercinta.

Terlebih kali ini, sang bunda belum pernah mengenalku sebelumnya, sungguh aku memaklumi jika sepanjang pertemuan ini beliau manfaatkan segenap waktu yang terbilang cukup singkat ini untuk mengamati dan memberi penilaian padaku dari mulai hal yang paling remeh sekalipun. Ini hanya masalah waktu,

mertua

Tapi sepertinya Tuhan Yang Maha Penyayang Memilih untuk Menghapus gundahku saat itu juga. Di kala jam makan siang tiba, tak dinyana sang bunda menempati tempat duduk kosong di sampingku dan mulai dengan hangat menanyaiku ini itu. Takkan pernah kulupa saat beliau mengisi piringku yang sepi dan malu-malu dengan sepotong Ayam Kuali yang sebenarnya telah kuincar sejak tadi. Dunia boleh tertawa karena aku begitu terpesona dengan hal sesepele ini. Tapi bagiku, momen ini sangatlah berharga dibanding apapun yang kubutuhkan saat itu…

# # #

Langit September Jakarta coba membaca apa yang tersembunyi di hati-hati kami. Setelah pinangan itu cahaya lorong yang semula gulita kini mulai samar menampakkan relief-relief dindingnya. Dan gemericik aliran-aliran kecil riang menemukan rangkaian nadanya. Ah, riuhnya nyanyian yang berdendang di sudut hatiku saat ini, semoga ia tak membuatku malu karena terdengar oleh mereka…

windowslivewritermemaknaisebuahpernikahan-751bpernikahan-2

# # #

Januari menjadi akhir sebuah penantian dan awal rangkaian perjalanan panjang. Segala Puji BagiNya Yang Menciptakan rasa cinta dan kecenderungan dalam hati manusia. Lalu Menghimpun mereka untuk berdampingan bersama di bawah naungan kasih sayang-Nya. Purna sudah ikhtiar cinta ini bermuara…

78137490

Malam sebelum hari itu tiba, Ibu bilang aku harus lekas tidur, sepupu bilang aku harus memakai masker es batu sebelum tidur, Bude bilang aku jangan banyak ngobrol. Hm.. aku sangat menikmati setiap wejangan dan nasihat yang mampir dari mereka yang sudah berpengalaman itu.

Ditemani kedua sahabatku yang cantik dan baik hati di sampingku, aku mulai melemaskan tubuh dan berbaring. Sedikit mengenang bersama bagaimana proses ini berlangsung hingga aku telah berpijak sampai pada tahap ini dan akhirnya datang hari penting itu esok hari, Insya Allah.

Allah, betapa beruntungnya aku memiliki sahabat seperti mereka. Seperti apapun takdir kami masing-masing nanti, sejauh apapun Engkau Bentangkan jarak perjalanan kami nanti, tetap dekatkanlah hati kami satu ini, seperti malam ini.. saat kami saling menguatkan dan mendekap satu sama lain..

* * *

Aku didudukkan di samping Ayah yang berhadap-hadapan dengan dia yang beberapa menit lagi akan sah menikahiku. Mendengarkannya menguntai tiap ayat surat Ar-Rahman sebagai mahar bagiku seolah menyaksikannya melantunkan sebuah pertaruhan diri akan kesungguhannya untuk kelak akan berlaku ma’ruf dan berkasih sayang terhadapku.

Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
Subhanallah… betapa ayat yang dia lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku..

‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’

berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’
agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..

# # #

Bahasa Tuhan Memberitahuku bahwa seperti inilah aku yang seharusnya. Dia, lelaki tercinta, menjadi wasilah-Nya untukku menemukan jati diri yang sebenarnya. Mengeksplorasi lebih dalam potensiku, jauh lebih dalam hingga menyapa sudut lekukan-lekukan tersembunyi yang bahkan tak pernah kusentuh sebelumnya.

Aku bersyukur,

dialah separuh jiwaku yang menemukannya.. membuat aliran hidupku yg lelah mengembara bermuara dalam hangat peluknya…

P7050748

Comments (7)

Day 1~Memulai Tisikan Awal Sulaman Cinta

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

Berdiri melihat keretamu berlari menuju Jakarta meninggalkan stasiun ini bersamaku. Teriring lambaian tanganmu di balik jendela dengan bunyi gesekan rel dan roda yang semakin lama semakin terdengar cepat saja.

Entahlah.. rasa-rasanya air mata di pelupuk ini telah menggenang dan tak tahan untuk berebut dilampiaskan. Jika bukan karena malu dilihat orang, tentunya sejak tadi mataku telah basah, merah dan membengkak karenanya..

Terserah orang mau bilang apa, tapi aku sungguh sulit melalui momen ini. Sehingga harus berjalan cepat-cepat menuju pintu taksi yang membawaku pulang agar tak nampak rundung kesedihan yang menggelayuti hatiku.

Tapi, selalu percaya bahwa perpisahan ini hanyalah untuk sementara dan kelak akan ada suatu masa ketika aku kan berada di sisimu, selamanya…

Saat merasa berat, mencoba berpikir bahwa jarak yang jauh terbentang ini bukanlah hanya kita yang punya. ada mereka yang juga merasakan rasa sulit ini, ada mereka yang pula menyimpan kerinduan ini, begitu banyak rupanya yang harus berela hati menitipkan separuh jiwanya di negeri lain..

Sebagian dari mereka telah berhasil melalui masa-masa rumit itu, dan kita pun harus demikian:)

Semoga Allah Menghitung setiap air mata dan rindu ini sebagai pahala.

Semoga Allah Menulis sabar kita ini sebagai ikhtiar di jalan-Nya.

Baik-baik jadi ‘bujangan’ di Jakarta, Cinta.. jangan telat bangun sahur mentang-mentang ga ada adek :D

I Love You…

Leave a Comment

Selamat Datang,…. Selamat Jalan,…


Jumat, 24 April 2009. Di bawah Langit Jakarta, dini hari menjelang adzan Shubuh berkumandang.


Ami terbangun dengan semangat. Mata kelat yang biasanya harus berkali mengerjap terlebih dahulu, seketika saja bisa berbinar dengan lincah. Karena sejak malam, Ami telah menantikan pagi ini tiba, Nak.. Seolah Ami memang berfirasat bahwa akan ada tamu agung datang :-) .

Insting keibuan, mungkin itulah pertama kali insting keibuan Ami yang sesungguhnya mulai terekspresi..

Bergegas Ami menyerbu kamar mandi sambil membawa bungkusan biru bertuliskan SENSITIF yang dibeli Ayah sore kemarin di Drug Store dekat kantor. Di antara harap dan cemas, Ami menanti gerakan urin yang merambat perlahan dari ujung stik berukuran 0,5 x 10 cm2 itu,

satu garis merah…… dada Ami makin bergemuruh….. dan.. akhirnya….. DUA garis merah!!

Alhamdulillah…! Subhanallah…!

POSITIF!^_^

POSITIF!^_^

Ami segera berlari ke kamar karena tak sabar ingin kabari Ayah tentang berita gembira yang telah lama kami nantikan ini.”Gimana, Dek?” tanya Ayah pada Ami dengan kerutan harap di dahinya. Sambil menunjukan dua garis merah di stik biru putih tadi, Ami berkata dengan senyum mengembang, ” Selamat Datang, Cinta..”. ^_______^ “Alhamdulillaaaaaaaaah…..” sahut Ayah langsung memeluk erat dan mengecup kening Ami.

Anakku sayang, melalui darah yang Ami alirkan ke dalam tubuhmu, engkau pun mungkin dapat merasakan betapa bahagianya kami saat itu menyambut kehadiranmu.

Allahu Rabbuna,, Nak...

Allahu Rabbuna,, Nak...

Di waktu ter-awal keberadaanmu ini, Ami ingin mengenalkanmu tentang Penciptamu yang Maha Agung, Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Belajarlah bersyukur padaNya senantiasa, Nak. Segala puji hanya bagi Allah, hanyalah atas IjinNya engkau hadir menyempurnakan kehidupan kami…


—————————————————————-

Sabtu, 25 April 2009. Ante Natal Care (ANC) pertama. Di Ruang Tunggu praktek Dr.Eriana Sp.OG yang cantik dan baik hati. Bertiga menikmati indahnya rinai hujan dan semilir angin Kota Surakarta. Ya.. bertiga, Ami, Ayah, dan Kamu dalam rahim Ami, Nak…

Karena sangat bersemangat, malam itu kita datang setengah jam sebelum Bu Dokter cantik itu tiba. Sehingga kita langsung dapat antrian pertama, Nak :-) . Bu Dokter datang tak lama setelah perawat melengkapi identitas Ami dan Ayah termasuk menanyakan keterangan tentang Menarche Ami yang dimulai saat usia 12 tahun, HPMT Ami tanggal 17 Maret 2009, G1AoPo, Menimbang berat badan, dsb. Setelah identitas diisi lengkap, kemudian berkas diberikan pada Bu Dokter.

Seusai Meng-anamnesa, Bu Dokter meminta Ami untuk berbaring dan diperiksa dengan USG. Sudah sangat sering melihat alat itu dan orang yang diperiksa dengannya. tapi kalau Ami yang diperiksa dan diteropong dengan USG? ini baru pengalaman pertama Ami, Nak:-)

4 minggu 6 hari...

4 minggu 6 hari...

Itulah pertama kalinya Ayah dan Ami melihatmu, begitu mungil.. terlelap di dasar kantong gestasi.. Dalam usiamu yang baru 4 minggu 6 hari, engkau telah merapat sempurna dalam rahim Ami.. di bagian yang terbaik di corpus uteri Ami di sebelah kiri..

Sayang, ternyata Bu Dokter cantik itu menemukan sebuah massa yang tergambar hitam bersekat di seberang tempatmu berbaring yang ia duga sebagai kista endometriosis ovarii dekstra berdiameter 5,3 cm.

Dag dig dug Ami mendengarnya, terlebih lagi Ayah. Tapi penjelasan Bu Dokter sangat menenangkan, ia katakan bahwa sepertinya kista ini ada sejak Ami masih gadis. Ami teringat pada materi Endometriosis yang diajarkan oleh Prof. Tedjo bahwa 90% perempuan memiliki kista endometriosis di rahimnya, seringnya terjadi pada perempuan dengan siklus menstruasi yang pendek/teratur dan masa haid yang panjang.

Ia melanjutkan bahwa biasanya perempuan dengan kista akan sulit mengalami pembuahan atau kehamilan, namun Subhanallah dalam kasus Ami, Allah telah Menghadirkan kamu di sini:-), dan dengan adanya kehamilan, kista yang hidup dengan estrogen sebagai nutrisinya akan terdesak dan hilang sendiri karena kalah oleh hormon progesteron yang meningkat pada saat kehamilan. Pada ANC selanjutnya, akan dilihat lagi kista ini apakah sudah hilang atau belum.

Bu Dokter meyakinkan kami bahwa kista ini tidak akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhanmu, jadi kami boleh merasa tenang:-).

Alhamdulillah, Senangnya melihatmu mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.. segala doa untuk kebaikanmu mengalir deras tanpa henti dari mulut dan hati kami, Nak.. semoga sehat dan kuat dirimu bertahan di dalam sana. :-)

* * *

Anakku sayang, kehadiranmu bukan hanya membahagiakan Ayah dan Ami. seluruh keluarga besar Ayah dan Ami pun turut bersuka cita menyambut kedatanganmu. Eyang Kakung dan Putri, orang tua Ami. Njid dan Jiddah, orang tua Ayah. Mbah buyut di Jogja dan Majenang. Tante Zilfa, Om Faza, juga Om kecil Nabhan, adik-adik Ami. Umi Rafie, Bunda Nayla, dan Mama Ayuri, kakak-kakak Ayah.

Ohya Nak, Ada sedikit cerita yang ingin Ami kisahkan padamu. Mengingat Ayah adalah anak bungsu dalam keluarganya, maka Ayah dan Ami sempat bingung sapaan apa yang ingin Ayah dan Ami ajarkan padamu untuk memanggil kami. Kakak pertama Ayah telah memakai Abi dan Umi. Kakak kedua Ayah sudah memilih Ayah dan Bunda. Kakak ketiga Ayah menggunakan Papa dan Mama. Harus kamu tahu bahwa trade mark panggilan itu telah begitu melekat pada diri mereka dan tidak dapat tergantikan, padahal Ami sangat tertarik untuk memilih Umi atau Bunda,hiks^^’.

Hmm,, sebenarnya Ami adalah anak sulung yang berhak memilih apapun karena Ami akan menjadi orang yang pertama memakainya, hehehe. Tapi berhubung Ayah adalah si bungsu yang mendapat ’sisa’ (hehe, piss Ayah!^____^v) maka akhirnya Ayah dan Ami harus sedikit memutar otak^^ dari mulai meng-googling di internet sampai survey ke segala wacana di berbagai media segala istilah yang sekiranya unik dipakai. namun tak ada juga yang kami anggap cocok,Nak.. hehe. what a perfectionist couple we are, Ayah!^______^’.

Setelah berbagai diskusi dengan Ayah, akhirnya kami memilih panggilan ‘Ayah’ untuk Ayah. selain kami menyukainya juga sifatnya lebih umum di keluarga karena yang memakai panggilan Ayah bukan hanya Ayah Nayla, di keluarga Tebet dan Cirebon ada beberapa yang memakainya. Kelarlah sudah satu tugas kami. hei, tunggu. bagaimana dengan Ami??

sampai terhitung berminggu-minggu usiamu Ami masih bingung dan belum juga memutuskan untuk memilih. hingga akhirnya Ami menulis note ini, Ami memutuskan untuk menggunakan ‘Ami’. Unik, bukan?^^.harus Ami akui selain bagi Ami panggilan ini adalah mixing dari ‘Umi dan Bunda’ juga karena ini terinspirasi dari Sinetron yang tak pernah absen Eyang Putri tonton setiap malam di Indosiar, hehe..^______________^’

Anakku tercinta, Semuanya bergembira dan antusias karena engkau datang. Maka berbagai nasihat dan petuah tak henti mengalir dari mereka kepada Ami demi menjaga kesehatanmu dan Ami yang melindungimu. Tidak boleh naik motor dan becak sampai selesai 4 bulan pertama, tidak boleh makan Duren, Soda, Tape, dsb.

Ami tersenyum dan senang mendapat perhatian yang luar biasa seperti ini. Saat menuruti setiap nasihat sepanjang itu baik dan syar’i, sebenarnya yang terpenting bukanlah materi dari nasihat itu karena menurut Ami itu sangat relatif sekali seperti halnya menaiki motor dan becak, hehehe (Kamu harus tahu bahwa Ami adalah Biker sejati, Nak. ^___^),

tapi yang paling utama adalah sejak dini Ami ingin mengajarimu agar engkau paham tentang seni ketaatan pada orang tua, sakralitas dari nasihat mereka, dan ketentraman hati saat bisa membuat mereka berbahagia, semampu yang kita bisa, sepanjang yang kita sanggup.

Mengingat kita dan orang tua berangkat dari generasi berbeda dan dengan pemikiran yang lain pula, maka saat berhadapan dengan mereka, kitalah sebagai yang lebih muda yang harus berperan aktif dengan hati dan pikir yang jernih memfasilitasi jarak ini agar menjadi keselarasan yang dinamis. Saat inilah akhlak menjadi dominan dibanding syariat, Insya Allah suatu saat engkau akan memahaminya, Nak..

Jadilah Anak Shalih yang taat pada Allah dan Rasul Muhammad SAW, pula bermanfaat dan menenangkan hati setiap orang di sekelilingmu^^.

Buah Hati terkasih, tak akan Ami lupa dan Ami membuatmu ingin engkau selalu mengingat bagaimana perhatian dan bantuan teman-teman terbaik Ayah dan Ami yang membantu secara moril dan fisik untuk kita bertiga. dari berbagai simpati yang mereka sampaikan setiap hari, sampai yang paling luar biasa adalah teman-teman Ami di Solo yang menjaga kamu dan Ami demikian hati-hati. Karena Ayah harus berjuang mencari nafkah di Jakarta sana, maka kecuali di akhir pekan, peran SIAGA nya digantikan oleh teman-teman dekat Ami yang baik hati itu.

Tante Nita, Tante Aster, Om Ary, Om Arifin, dan Tante Dina yang di tengah kesibukan koas mereka rela berpanas-panas mencari kontrakan yang pas dan cocok untuk Ami. Mereka yang selalu mengantar Ami kemana-mana sampai harus jauh-jauh bolak-balik kos-kontrakan Ami untuk menemani Ami yang sendirian di rumah. Membelikan makan yang paling Ami inginkan. dari nasi padang sampai rujak cingur, hehe. What a great friends, You are all guys!

Bukan hanya mereka, ada Tante Ajeng dan Tante Jeje yang mengantar Ami untuk tes TORCH di Lab Budi Sehat. Tante Moya dan Tante Shaumy yang jauh-jauh belikan Empek2 Bu Kamto sepulang dari Jogja. Tante Tyas yang menginap di rumah Ami dan membawakan Kebab Turki Baba Rafi pesanan Ami, hehe. Rekan-rekan koass Ami di stase Bedah juga tak sedikit berperan. Mereka sangat membantu, Nak.. terlalu banyak dan berarti sampai Ami tak mampu sebutkan mereka satu persatu.

Betapa beruntungnya kamu, Nak. Alhamdulillah..

Jadilah orang yang mudah berterima kasih dan menghargai setiap orang yang mencintaimu, agar hatimu menjadi peka dengan kebaikan dan cinta sehingga dapat menjadikannya cahaya menerangi sekitarmu..

Sayang, hadirmu dan semua atensi cinta ini, membuat Ami bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagimu. meski menjelang akhir minggu ke-8 Ami mulai merasakan mual sepanjang hari terlebih di kala bangun tidur dan menjelang maghrib, Ami terus memaksakan diri untuk meminum susu dan nutrisi ibu hamil di trimester pertama. Memakan makanan selengkap mungkin 3 kali sehari meski setelahnya harus menahan mual yang sangat. Semakin bertambah usiamu, Ami mulai kepayahan, pusing dan muntah-muntah air menghiasi hari-hari Ami. Pokoknya begitu Ami pulang dari rumah sakit, Ami langsung beristirahat seoptimal mungkin demi menjaga stamina.

Hmm,, sayangku.. meski kepayahan, tapi ini adalah kepayahan yang membahagiakan, sehingga Ami merasakannya dengan suka cita^_^

—————————————————————-

Selasa, 19 Mei 2009. seminggu menjelang ANC kedua.


Sepulang dari Poli Bedah, seperti biasa Ami langsung pulang. sebelum tidur siang, Ami terlebih dahulu ke kamar mandi untuk buang air kecil karena akhir- akhir ini Ami sudah mulai sering merasakan kandung kemih Ami cepat penuh. ketika di kamar mandi, tiba-tiba, Ami menemukan spotting kecil sepanjang 1 cm.

Ya Allah, Nak.. Ami panik sekali dan langsung menelpon Ayah, dan siapapun yang bisa memberi saran. ketika Eyang Putri katakan asal jangan bleeding yang deras dan merah segar, Ami sedikit lega. Eyang Putri katakan Ami cukup beristirahat saja. Namun Ayah meminta Ami untuk kontrol ke dokter pada sore harinya.

Segeralah sore itu Ami berangkat ke dokter ditemani oleh tante Aster. Setibanya di sana, Bu dokter langsung memeriksa kondisimu melalui USG. Alhamdulillah, nak.. bu dokter katakan kamu baik-baik saja. bahkan kista yang pada ANC pertama dulu bercokol di ovarium kanan Ami saat ini telah hilang. bukan hanya itu, Bu dokter mengatakan bahwa pendar detak jantungmu telah terlihat di USG. Syukurlah, Nak.. Ami lega sekali.. :-)

—————————————————————-

Sabtu, 23 Mei 2009, Ayah tiba dari Jakarta.


Sejak spotting 5 hari yang lalu, Ayah begitu resah dan ingin segera menemui kita di Solo, Nak. dan akhirnya, pagi ini Ayah tiba juga. Kita bertiga berpeluk melepas rindu. Seminggu tak bertemu seolah terasa sewindu. Melihat wajah Ayah serupa penawar gundah dan resah yang menghabiskan tenaga Ami karena kesibukan dan berbagai permasalahan Ami di stase Bedah yang rupanya cukup pelik.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan mencari dokter lain untuk second opinion. bukan karena apa-apa, tapi lebih karena ingin mencari kelegaan hati dan mencari pendapat dari ahli yang lain.

Malam itu juga, sama seperti yang sudah-sudah, di tengah gerimis, taksi yang kita naiki menembus malam kota Surakarta menuju tempat praktek Dr. Tri Budi Sp.OG. Alhamdulillah begitu kita datang, baru saja ruangan itu kosong sehingga kita bisa langsung menemui Pak Dokter.

Sama seperti yang sebelumnya, Pak Dokter mulai meng-anamnesa dan memeriksa kondisimu melalui USG. Yang paling menarik untuk kami adalah Pak Dokter yang bersahaja dan kebapakan ini menyambut pertanyaan Ayah dan Ami dengan bijak dan penuh kesabaran, segala hal yang Ayah dan Ami konsulkan dapat beliau jelaskan dengan detail dan terang sehingga Ayah dan Ami merasakan pencerahan, terlebih memang, saat itu Ayah dan Ami tengah bimbang tentang apakah sebaiknya Ami melanjutkan koass ini mengingat Ami telah menjalani stase bedah sampai separuh jalan, ataukah Ami hendaknya cuti karena sepertinya Ami butuh ketenangan, istirahat, dan juga kehadiran Ayah selalu di sisi Ami sebagai dukungan psikologis.

Pak Dokter mengatakan:

“Kalau bagi saya, kehadiran anak ini adalah amanah. karena amanah, maka saya akan berusaha menjaganya seoptimal yang saya bisa. kita tidak akan pernah tahu apakah akhirnya nanti, tapi paling tidak ada ikhtiar optimalnya. dalam kondisi ini memang harus memilih, dan dalam setiap pilihan memang ada yang harus dikorbankan.”

Ajaib, entah kenapa kata-kata Pak Dokter saat itu begitu saja membuat Ayah dan Ami seketika mantap dengan pilihan untuk cuti dulu dari kegiatan koass dan pulang ke Jakarta sampai usia kamu genap 5 bulan yang pada saat itu proses penancapan plasenta telah selesai dan kamu siap kembali Ami ajak beraktivitas.

Entahlah, sebenarnya tak ada kata-kata atau persepsi baru dalam muatan nasihat Pak Dokter bersahaja tadi, tapi mungkin petuahnya itulah yang memperkuat ghirah Ayah dan Ami untuk memberatkan timbangan pada satu pilihan.

Jika Allah berkehendak untuk memberi petunjuk pada hambaNya, maka tidak ada sesuatupun yang mampu menghalangi petunjuk itu untuk sampai kepadanya…

—————————————————————-

Senin,25 Mei 2009, Argo lawu mengantar Ami kembali pulang ke Jakarta.

ArgoLawu_eksterior2

Sampai Ami menulis paragraf ini, tak ada sedikit pun penyesalan di hati Ami telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari koass sementara waktu dan memilih untuk menghabiskan waktu denganmu sebanyak yang Ami bisa..

-sama sekali tidak menyesal… -

Yang tersisa hanyalah kelegaan. sungguh Ami merasa sangat lega telah mengambil keputusan ini. Insya Allah inilah yang terbaik bagi kita, Nak. Hm, Ami bahagia sekali,, Kita akan berkumpul dengan keluarga dan menikmati indahnya menjadi saksi setiap detik tumbuh kembangmu bersama Ayah dan juga mereka yang Ayah dan Ami cintai,,

—————————————————————-

Selasa, 26 Mei 2009, di Rumah Mereka yang tercinta…

Home Sweet Home

Home Sweet Home

Menenangkan, sungguh tentram berada di samping Bunda, terlebih di saat-saat membutuhkan perhatian optimal seperti ini.

Bunda, bahkan di saat aku telah beranjak tak lagi muda, masih saja tak hentinya diri ini merepotkanmu.

bahkan di kala aku telah bersuami dan seharusnya tak lagi membebani, aku masih saja butuh belaimu..

bahkan di saat aku mengandung dan akan segera memberimu cucu, masih saja aku butuh bantuanmu..

Bunda,, kasihmu takkan pernah lekang oleh waktu

sayangmu selalu menghangatkanku kapan pun itu..

meski kadang terhalang gengsi tuk ucapkan, sungguh tak ingin aku menyesal seumur hidupku jika tak pernah kusampaikan padamu bahwa aku sangat mencintaimu…

—————————————————————-

Sabtu, 30 Mei 2009, Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta Pusat

RSIA Bunda

RSIA Bunda

Hujan lagi, Nak.. setiap Ami kontrol Dokter untuk memantau kondisimu, pasti rinai hujan dan bau tanah basah yang sangat Ami sukai itu turut mengiringi. Menemani setiap langkah antusias Ami menyaksikan dirimu yang semakin hari semakin mendekat dalam dekapan Ami.

Bersama Eyang kakung dan Ayah, Ami menunggu antrian. Kali ini, Eyang kakung memilihkan Dr.Noroyono Wibowo, Sp.OG(K) yang rupanya salah satu dokter ahli senior di Jakarta. Dokter hebat yang juga direkomendasikan karena kepiawaiannya mendiagnosis oleh Bu Dokter yang menangani kita di Solo.

Benar saja, Nak.. hanya dengan sekali melihat gambaran kondisimu dari layar USG, beliau langsung memvonis bahwa telah sejak sepekan lalu perkembanganmu berhenti.

Beliau katakan, Engkau….. telah meninggal, Nak..

Innalillah wa inna ilaihi raaji’uun..

hanya seperti itulah kalimat yang sanggup Ayah dan Ami katakan dengan hampir bersamaan.

Mencoba tampak tegar, Ami dan Ayah mendengar penjelasan dari Dokter tentang kondisi kamu saat ini. Dokter katakan bahwa ada gambaran edema atau penimbunan cairan di bagian kepala dan badanmu dan denyut jantungmu tidak lagi bisa terdengar, karena Tes TORCH Ami negatif sehingga kemungkinan infeksi bisa disingkirkan dan juga tidak ada abortus spontan berupa perdarahan, beliau menduga ini adalah hidrop fetalis yang biasanya disebabkan karena kelainan Hematologi, kemungkinan adalah Thalassemia yang diturunkan dari orang tua.

Dhuaaar! Petir menggelegar, Thalassemia?? bagaimana mungkin.. secara genetis keluarga besar Ayah dan Ami tidak ada yang pernah menderita Thalassemia. Untuk memastikan, dokter membuatkan pengantar laboratorium untuk memeriksa darah Ami dan Ayah agar bisa melihat apakah ada kelainan dalam pembekuan darah sebagai salah satu marker Thalassemia.

Pulang dengan segala gundah, meski tampak terkendali. Ayah menenangkan Ami dalam pelukannya di sepanjang perjalanan. Bagaimana ini, kemarin kamu masih tampak baik-baik saja. bahkan tadi pun Ami melihat, tubuhmu telah terbentuk dengan sempurna.

wajahmu.. hidungmu.. matamu.. tanganmu.. kakimu.. semuanya telah lengkap kau miliki, Sayang…

Ayah, Ami merasa anak kita masih ada dan hidup di dalam sini..

dia hanya sedang lelap tertidur menikmati hangatnya rahim Ami di tubuhnya karenanya dia tak memberi respon apapun..

Lihatlah Ayah, perut Ami masih membesar dan masih melindungi ia dengan aman..

Ami masih merasakan mual-mual itu..

Ami masih rasakan pusing-pusing itu..

Anak kita baik-baik saja, Ayah.. dia masih hadir di tengah kita.. Ayah,

Ami tidak ingin begitu saja ia divonis meninggal…

—————————————————————-

Rabu, 3 Juni 2009. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat.

RSAB Harapan Kita

RSAB Harapan Kita

Senin lalu, hasil laboratorium sudah bisa diambil. setelah melihat hasilnya, Alhamdulillah baik Ayah maupun Ami tidak ada yang membawa sifat/carier Thalassemia. Hmmpppfff….syukurlah. berarti harus berikhtiar lagi untuk mencari tahu penyebab yg lain..

Anakku, semua masih optimis akan kondisimu, bukankah dengan kehendak Allah apapun bisa terjadi? Ami mengakui, Pak Dokter yang kemarin memang sangat pintar dan mendiagnosa dengan baik sesuai tanda-tanda yang kamu tunjukkan di layar USG,

tapi… tak bolehkah Ami berharap lain,,, sepintar apapun.. manusia adalah tempatnya lupa.. maka boleh kan jika sesekali Pak Dokter pintar itu melakukan kesalahan? sekali saja.. Ami berharap beliau salah..

Dengan sigap Eyang kakung menghubungi rekan-rekan seprofesi yang bisa ia kontak untuk mencari second opinion. Sempat muncul beberapa nama seperti Prof. Bambang Karsono, Sp.OG(K) di YPK Jalan Theresia, namun ternyata pasien beliau harus mengantri sebulan sebelumnya, hiks. laris sekali rupanya. lalu ada rekomendasi dari rekan Eyang di RSPAD Gatot Subroto kepada Dr.Nurwansyah Sp.OG di RSAB Harapan Kita. Akhirnya Eyang Kakung memilih RSAB Harapan Kita.

Sesampainya di rumah sakit, ternyata Dr.Nurwansyah Sp.OG sudah lama tidak berpraktek di sana dan pasiennya di rumah sakit ini ditangani Dr.Irvan Adenin Sp.OG. dengan beliau-lah akhirnya Ami berkonsultasi. Ami kembali berbaring untuk diperiksa. Harap-harap cemas, Ami dan Ayah mencoba menebak apa yang akan muncul dalam layar monitor mesin USG. Ami pasrah, Nak.. Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon pertolongan…

Ruangan itu senyap.

Ami menanti.. menanti denyut jantungmu kembali terdengar..

Ayolah Nak.. berjuanglah…

Ami melihat di layar, ukuran panjangmu hanya 2, 6 cm.. itu adalah ukuran untuk janin berumur 9 minggu 6 hari, Nak.. sedangkan usiamu sekarang adalah 11 minggu 1 hari.. seharusnya panjangmu adalah 7, 7 cm..

Ami berharap Ami salah melihat.. Ami salah menghitung.. Ami tidak memakai kaca mata minus Ami, karenanya yang Ami lihat lebih kecil daripada ukuran yang sebenarnya kan Nak? katakan lah Ami hanya salah melihat…

tapi tetap sunyi.

Ayah, Ami, Eyang Kakung, dan Pak Dokter Irvan yang ada di sini,, tidak ada seorang pun yang bisa mendengar detakmu….. ukuranmu pun tetap seperti apa yang Ami lihat, engkau tak kunjung memanjang seperti yang Ami harapkan…

selesai Nak.

usai sudah…. kesenyapan itu telah menjawabnya,,, sebelum Pak Dokter menjelaskan apapun, Ami telah mengerti apa kesimpulannya.. Ami sudah paham apa yang terjadi.. Ayah memandang Ami mencari jawaban, dalam tatapannya Ami membaca bahwa Ayah ingin mendapatkan dukungan bahwa entah apa yang Ayah simpulkan di dalam hatinya itu tidak benar bukan?

Maaf, Ayah.. tapi itu memang benar…

Anak kita telah wafat…

Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…

—————————————————————-

Kamis, 4 Juni 2009. Di Kamar menjelang tidur, beberapa jam sampai tiba menyapa pagi sebelum esok melepasmu pergi ..

Awalnya, Ami tak ingin ada air mata.. tapi… seusai menerima telpon Jiddah ba’da Isya tadi, Ami tak mampu lagi menahan derainya. Jiddah sangat kehilanganmu, Nak.. isaknya begitu memilukan hati Ami.

Maafkan saya Mama, Maafkan karena mama harus kehilangan cucu dari putra tercinta bahkan sebelum genap Mama menyaksikan kehadirannya…

stronging each other...

stronging each other...

Ayah menyeka air mata yang tak henti jatuh dari pelupuk Ami meski pipinya pun basah.. Mendekap erat Ami demi berikan kehangatan dan ketenangan yang sesungguhnya juga sedang Ayah butuhkan..

Dalam pelukan, kami saling menguatkan…

Malam ini.. adalah saat terakhir Ayah dan Ami bersamamu,

sambil mengelus perut Ami, Ayah berharap getaran belainya masih bisa sampaikan pesan padamu bahwa kami sangat menyayangimu agar kamu dapat mengingatnya selamanya…

Insya Allah, kami ikhlas dengan kepergianmu, Nak..

Tak ada yang bisa mencegah jika Allah telah Berkehendak…

Ayah dan Ami yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita bertiga..

Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak tahu,

hanyalah keyakinan akan qadar-Nya yang tersisa, sehingga hati ini dapat lapang untuk membuka tabir hamparan hikmah yang disampaikanNya..

—————————————————————-

Jumat, 5 Juni 2009, Di ruang tindakan kuretase, RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat.

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

Tepat Pukul 10 Pagi,

Ami terbaring dengan baju operasi hijau itu, Ami telah siap melepasmu, Nak.. Dokter Anestesi menyapa Ami dengan hangat, para perawat mempersiapkan alat-alat kuret dengan sigap. Pak Dokter Irvan datang dan mengucap salam pada Ami. tak lama setelah dokter anestesi memasukkan cairan pentotal ke pembuluh darah Ami, Ami mulai merasakan kesadaran Ami menurun, rupanya cepat sekali efek obat bius ini, belum genap hitungan menit Ami sudah tertidur.

Pukul 10.30,

Ami terbangun. rupanya proses kuretase telah selesai, Ami dipindahkan dari ruang tindakan ke ruang perawatan pasca tindakan. sudah ada Ayah di samping Ami. perawat datang mengantarkan hasil kuret di dalam botol bulat transparan. Ada kamu di situ, Nak.. tidak lagi di rahim Ami.. karena sudah dikuret, bentukmu tak tampak lagi seperti waktu di dalam.. hanya terlihat sebatas jaringan-jaringan tubuh yang terendam darah dan larutan fisiologis NaCl..

Pukul 13.00,

waktunya Ami dan Ayah meninggalkanmu di sini ya, Nak.. dokter ahli akan memeriksa jaringanmu untuk keterangan patologi anatomi-mu. . . . .

11 minggu 6 hari...

11 minggu 3 hari...

Di Jumat yang mulia engkau datang kepada kami,

dan di hari Jumat yang agung pula engkau pergi meninggalkan kami,

11 minggu 3 hari bersamamu,

menjadi waktu terlama dalam hidup kami terlebih di minggu-minggu terakhir saat menjelang kepergianmu..

11 minggu 3 hari denganmu,

menjadi waktu tersingkat yang pernah kami rasakan dalam hidup kami, saat mengingat rasa bahagia dan suka cita ketika menyambutmu hadir, terlebih di minggu-minggu pertama kedatanganmu..

Engkaulah kenangan terindah yang takkan pernah Ami dan Ayah lupakan

Kami sangat bangga engkau tersanding menjadi bagian dari perjalanan cinta kami..

Dinda-dindamu kelak akan mengingatmu sebagai kakanda yang kan selalu ada di tengah-tengah mereka, meski hanya dalam kata dan cerita..

Sayang.. Ami dan Ayah akan selalu merindukanmu..

kami percaya, kepergianmu bukan semata-mata hampa makna..

Engkaulah pahlawan bagi kami, yang mengajarkan kami berbagai ilmu berharga dan penuh hikmah..

Insya Allah semoga Allah mencatatmu sebagai penggugur dosa-dosa yang telah Ami dan Ayah lakukan

Kehadiranmu.. pula kepergianmu.. semoga memberi pencerahan bagi siapapun yang bisa mengambil manfaat.. Alhamdulillah.. Subhanallah.. Allahu Akbar..

Milladunnaa ‘ilmaa.

Hanya dari sisi Kami-lah pengetahuan tentangnya berada. itulah namamu..

Pulanglah, Nak.. Kembalilah ke sisiNya.

Kelak, Sambutlah kami dengan senyum terindahmu di pintu Jannah-Nya…

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan…

***

Dalam Kebahagiaan, manusia tidak akan mampu bersyukur ketika dia tidak bersabar

Dalam Kesedihan, manusia tidak akan mampu bersabar ketika dia tidak bersyukur

sungguhlah ada batas yang tak bersekat antara Sabar dan Syukur itu..


Semoga Allah Menjadikan kita bagian dari Orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam menjalankan setiap elegi cintaNya..

Aamiin….

Jakarta, 7 Juni 2009

Tanpa Editing, belum sanggup baca lagi euy! hehe

tulisan yang mengalir begitu saja, jadi maap-maap kalo ada salah tulis, salah EYD, nada-nada kalimat yang kurang merdu dan ada feel kalimat yang kurang maknyus.. hehe.

Semoga bermanfaat. ^____________^

P.S:

beberapa kali menyebutkan nama dokter dan rumah sakit tertentu, semoga ga dipenjara sayah,, heuheuu.. kan ga ngejelek2in ato memfitnah tho?^_________________^

Comments (6)

Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH, bERencaNa MeniKah, IngiN mEniKaH, AtAupuN SuDaH mENIkaH

Di Sebuah Kamar yang menjadi saksi tangis dan tawa kita, 23.45 WIB

Bismillah..

Belum bisa tidur,, padahal besok pagi harus dobel masak sekalian buat bekal makan siang kamu di kantor :) , karena hari selasa adalah jadwal pengajian tafsir ba’da dhuhur di kantor, jadi ga pulang deh siangnya. sambil nongkrongin facebook, iseng2 bikin note di samping kamu yg sudah tertidur pulas,, kamu lucu banget sih kalo lagi tidur begitu, sayang.. kayak anak kecil,hehe.

tak terasa, sudah 57 matahari terbit kita saksikan berdua setelah sekian lama melihat cerahnya sendiri saja.Sepertinya baru kemarin kamu mengikrarkan ijab qabul sambil menjabat tangan Bapak, dan ‘membeli’ kehalalanku atasmu dengan seperangkat alat shalat, surat Ar-Rahmaan, dan uang sebesar 307 Ribu Rupiah 86 Real.

Momen indah yang begitu menegangkan sekaligus mengharukan.
‘Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
subhanallah,,,betapa ayat yang kamu lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku,, ‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’.. berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaanu

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaan.. Fabiayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaan

agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _

Pernikahan itu indah dan menenangkan. Semoga tidak terlalu terburu-buru aku mengatakannya mengingat dua purnama saja belum genap aku menjadi bagian kisahnya. Namun ijinkan aku menuliskan itu untuk meyakinkan para rekan yang tengah ragu melangkah menghampirinya.
Beberapa ada yang bertanya baik dengan serius ataupun sekedar membuka obrolan tentang bagaimana rasanya menikah atau tentang apakah yang jadi berbeda antara sebelum dan sesudah menikah(hayo, ngaku.. siapa yg pernah nanya begituu?:D:D ). Karena sepertinya itu adalah the most lovable question setelah pertanyaan ‘dah isi belom?’-hmmmmm, hehe,,doakan yang terbaik yaa.. ikhtiar mah tetep insya Allah ^^- sehingga membuatku berpikir lagi untuk tidak sekedar menggugurkan kewajiban dengan menjawab:
‘yaaa.. jelas beda, ntar rasain sendiri deh pas udah nikah:)’.

Hmm, teman,, setelah menikah sebagai seorang perempuan tentu perbedaan yang paling pertama kurasakan usai mitsaaqan ghalidzaa itu terucap adalah berpindahnya pengutamaan ketaatanku setelah kepada Allah yaitu dari orang tuaku kepada beliau, suamiku.
Perginya aku ke suatu tempat adalah atas ijinnya,
memutuskannya aku atas suatu perkara adalah atas persetujuannya,
pilihanku atas busana yang kukenakan adalah atas ridhanya,
berteman aku dengan seseorang adalah dengan restunya,
bukan lagi atas orang tuaku terlebih dahulu.Jelas bukan, perbedaannya? :-)

Sejak aku mulai membuka mata di pagi hari hingga ku memejam mata pada malamnya, yang ada di sisiku bukan lagi sebuah angin sepi, tapi ada seseorang di sini. Aku telah menjadi seorang istri, ada tanggung jawab dan hak di pundakku yang tentunya sangat berbeda dibanding aku semasa sendiri saja. Ada seseorang yang harus kuurusi dan kulengkapi kebutuhannya. Aku sebagai istri bertanggung jawab untuk mengurus dirinya, dari mulai membuatkan minuman hangat di pagi hari, menyiapkan sarapan,memastikan bahwa ada pakaian matching dan telah siap ia gunakan untuk berangkat ke kantor, mengupayakan semaksimal mungkin agar ia tidak jatuh sakit, merawatnya ketika mulai flu dan bersin-bersin agar tidak menjadi parah, dsb. Aku juga bertanggungjawab mengelola tempat tinggalnya dan memenej keuangan rumah tangganya.

Hidup dengan orang yang tadinya asing di bawah satu atap yang sama selama 7×24 jam dalam sepekan bukanlah hal yang mudah, aku harus menyesuaikan kebiasaan yang telah lama kubawa sejak kecil dengan kebiasaannya yang juga telah menjadi adatnya sedari dulu.
Misalnya saja, aku tidak bisa tidur tanpa kipas angin yang menyala sedangkan suamiku sangat tidak tahan jika menghadap kipas angin selama tidur, alhasil kadang aku harus berela diri kepanasan sepanjang malam atau suamiku terpaksa kembung-kembung dan masuk angin saat bangun di pagi hari sehingga aku harus memijatnya^^.
Atau aku yang suka dengan makanan yang bergenre asin dan tidak terlalu suka manis, sedang suamiku sangat suka makanan yang manis dan berkecap, apapun masakannya harus ada kecap di meja:-) (yang awalnya sangat aneh bagiku, masa soup jagung macaroni dikecapin*__*, tapi lama-lama ya terbiasa juga, hehe) sehingga aku harus menyesuaikan saat memasak makanan, ketika kucicipi sudah terasa pas kutambah satu/dua sendok gula atau kecap sehingga menjadi pas untuk suamiku, dulu waktu belum tau trik-nya masakanku selalu dibilang kurang manis melulu, -ya kan, mas?- hehe,..

Aku katakan pernikahanku indah bukan berarti tidak ada riak-riak dalam rumah tanggaku. Ombak kecil itu biasa, orang bilang sebagai bumbu katanya, tapi sungguh ungkapan itu bukan bohong, itu benar-benar bumbu yang menyedapkan dan membuat indah.
Sejak awal memutuskan menikah dan dengan siapa akan menikah, perbedaan yang sifatnya prinsip, seperti visi, misi, komitmen yang perlu ditunaikan satu sama lain, keselarasan cara pandang,dsb sebaiknya harus telah diseleksi sedetail mungkin sehingga ke depannya nanti tidak perlu ada konflik besar yang bukan lain dan jelas pasti biasanya berasal dari perbedaan hal-hal prinsip seperti tadi. Yang tinggal hanyalah pasir-pasir dan sedikit kerikil kecil yang melengkapi pesona pernikahan itu sendiri, pesona saat saling merajuk dan meminta maaf, pesona saat berhasil memecahkan keheningan dengan rayuan dan gombalan yang membuat rindu,pesona ketika sama-sama menemukan bagaimana harus saling menyikapi saat aku sedang begini dan suamiku sedang begitu.

mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

Seni mengukir pesona dengan pasir dan kerikil,, bukankah itu layak disebut indah? ^_^

Kukatakan juga bahwa pernikahan itu menenangkan. Kadangkala, sebagian orang mendefinisikan bahwa rasa biasa, tak lagi bergejolak seperti dulu sebelum menikah,tak lagi menggebu-gebu layaknya dahulu belum saling memiliki, dsb adalah refleksi dari kebosanan yang merupakan ancaman bagi pernikahan.
Tapi kami berdua mencoba memandangnya dari sudut yang berbeda, bagi kami ketidakmenggebuan itu adalah rasa tenang, ketidakbergejolakan lagi itu adalah rasa aman, yang merupakan wujud dari sebuah anugerah dan nikmat yang luar biasa yang tiada akan dinikmati jika belum merasakan pernikahan. Karena itulah Al-Quran menyebutnya sebagai Sakinah. Rasa tenang, aman, damai karena telah ada seseorang di sisi. Rasa tentram, nyaman, dan lega yang justru menciptakan kasih sayang yang menggelora lebih daripada yang pernah kita duga.
Menenangkan bukan?^_^

Yang juga menjadi sangat berbeda bagiku setelah menikah adalah dengan gratis aku dianugerahi sebuah keluarga lagi. Sekarang aku punya 2 Ibu dan Bapak, saudara perempuanku ditambah lagi 3 orang, saudara iparku ditambah juga 3 orang, aku juga punya keponakan kandung 3 orang dalam sekejap. Menyenangkan bukan?^^.
Sebagai orang baru, aku harus pintar-pintar bersikap dan mengelola diri dalam bersosialisasi dengan mereka. Bagi papa dan mama, aku adalah anak bungsu mereka bukan lagi menantu. Saudara ipar bukan lagi ipar karena sudah menjadi kakak kandungku sendiri. Menyenangkan sekali menjadi bungsu :) -bukan kamu lagi bungsunya, mas^_^-. Tidak perlu memark-up diri di hadapan mereka, cukup menjadi diri sendiri dan menyesuaikan sebaik mungkin sehingga rasa saling mencintai itu bisa tumbuh dari hari ke hari dengan alami.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ___ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Aku selalu terkesan dengan kasih sayangmu itu setiap hari.

Every day I Love You, Mas... Insya Allah...^_^

Every day I Love You, Mas... Insya Allah...^_^

Ada saja sikapmu yang membuatku merasa menjadi yang paling berharga bagimu.

Dibuat istimewa oleh orang yang sangat istimewa membuatku tak henti bersyukur dan bertahmid bahwa Milik Allah-lah segala Puji.

Subhanallah, lindungilah kami berdua, Ya Allah..

Berikanlah kekuatan kepada kami agar bisa menciptakan keindahan dan ketenangan ini selamanya sampai kami kembali Engkau himpun dalam Surgamu..

Hasbunallah..

cukuplah Engkau sebagai Pelindung dan Penolong bagi kami.

Fawatstsiqillahumma Raabithatahaa, Wa Addim wuddahaa…

-Semoga Bermanfaat-

Comments (8)

bEcaUsE YoU SaiD sO,,,

Sore itu Fatimah terhenyak di depan meja kamarnya,,, tangan kanannya tampak gelisah memainkan pena hitam dengan putaran-putaran tak menentu di atas lembar diary yang sejak tadi masih juga kosong,,,Sesekali Fatimah mencuri pandang ke arah jendela yang sengaja dibuka lebar agar leluasa memamerkan padanya rinai hujan dengan garis-garis putihnya yang amat memikat dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta…Fatimah kembali memeluk diary-nya. Tuk sekian kali terbayang sesosok pria arif dan bersahaja yang selalu dipujanya itu. Lalu Fatimah mulai menulis…

Di Seberang Jalan, 6 Januari 2008.Saat hujan yang cantik kembali datang, 16.17 Waktu Cinta Berkumandang.

Ayah…

Setiap kali mengingatmu,

selalu saja aku merasakan semangat itu

Setiap kali kupejamkan mata hingga sirna semua yang nampak di sekelilingku dan aku hanya membayangkanmu,

selalu saja tak hentinya ku mengakui betapa tampan dirimu

Setiap kali memikirkanmu dan merasakan begitu banyak cinta yang mengelilingimu,

selalu saja ada haru,,,haru yang mengiringi rasa betapa bangganya aku padamu…

Ayah…

Setiap kali merindukanmu aku begitu takut pergi jauh darimu,

Aku takut tak lagi ada yang menghalau srigala jahat yang mengganggu tidurku

Aku takut tak lagi ada yang mencabut duri mawar yang tak sengaja melukai jariku

Ayah…

Setiap kali kurasakan betapa cepatnya waktu berlalu aku begitu takut seseorang kan mengambilku darimu…

Aku telah terbiasa menikmati hujan yang kusukai bersamamu

Aku telah terbiasa memanen mangga di depan rumah denganmu

Aku telah terbiasa mendengar lantunan tilawahmu di malam hari

Aku telah terbiasa kau marahi saat aku mulai nakal dan tak mematuhi

Haruskah aku tetap pergi, Ayah?Tapi bukankah memang aku harus pergi?

Fatimah kembali menjauhkan tinta hitam dari lembaran putih di bawahnya. Kini air mata mulai menganak sungai dengan indah melintasi tulang pipinya dan bersaing dengan derasnya hujan di luar. Tubuhnya bergetar dan beresonansi dengan getaran dari rasa yang berasal dari dalam melodi jiwanya. Kemudian ia kembali mengambil pena-nya…

Ayah…

Saat itu seketika saja seseorang yang asing dari negeri asing datang kepadamu Berkendara dengan kuda putih dan menyarungkan sebuah pedang emas di pinggangnya

Serupa Sayyidina Ali yang gagah berani hendak pergi ke medan perang

Dikatakannya setelah tujuh purnama nanti dia kan datang kembali

Tuk akhirnya membuatku harus meninggalkanmu di sini…

Ayah…

Meski aku begitu berat bukankah aku tetap harus pergi?

Saat aku ingin menangis kau katakan “jangan menangis!” maka aku kan berhenti menangis

Saat aku mulai merapuh kau katakan” tetaplah tegar!” maka aku kan tegak di hadapmu

Lalu saat kau katakan” pergilah!”apakah aku tetap harus pergi, Ayah?

Meski kutahu kau begitu takut jikalau ia tak sebaik dirimu melindungiku

Meski kumengerti kau sangatlah resah jikalau ia tak sebaik dirimu menyayangiku

Meski kupahami kau amat bimbang jikalau ia tak semerdu dirimu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku,

Tak semahir dirimu membuatku tertawa,

Tak sepintar dirimu menyeka air mataku

Bagaimana jikalau ia menyakitiku?

Bagaimana jikalau ia menyia-siakanku?

Hingga kau berkata dalam hatimu seberapa mampukah ia dapat dipercaya untuk menyimpan dan membawa permatamu pergi?

Tapi, Ayah. Kemudian kau tetap berkata padaku “Pergilah!”…

Dan aku pun akan pergi…

Ayah…

Saat ini aku begitu menikmati detik-detik waktu yang tersisa untukku bersamamu sebelum purnama terakhir itu tiba

Ayah…

Aku ingin abdikan saat-saat penghujung ini tuk lakukan yang terbaik untukmu

Sebelum aku pergi harus kupastikan kau kan selalu baik-baik saja

Sebelum aku jauh mesti kuyakinkan bahwa kau kan selalu bahagia

Ayah…

Percayalah bahwa sejak dulu,,,saat ini,,,bahkan nanti meski takkan sesering ini ku memandang wajahmu, aku kan selalu mencintaimu…

Semilir angin menelusup masuk bersama percikan air hingga menyentuh wajahnya yang basah. Fatimah mengakhiri tulisannya seiring terdengarnya sayup adzan maghrib dari surau di samping rumah. Bersama itu ayahnya datang mengetuk pintu: “Segeralah berwudhu, Fatimah. Kita kan dirikan sholat maghrib berjamaah”Sambil berlari kecil Fatimah membuka pintu dan menyeka air mata sekenanya. Ia berkata dengan penuh makna: “Baik, Ayah.”.Senyumnya terkembang dengan sempurnaSang Ayah membalas senyumnya dengan binar yang menyiratkan berjuta cinta, lalu mengusap-usap kepala Fatimah yang tertutup jilbab putihnya. Fatimah memejam mata dan berdoa:

“Ya Allah, Berkahi dan Muliakanlah cinta ini seperti cinta seorang Muhammad kepada Fatimah Az-Zahra ananda yang tercinta,Aamiin”

Leave a Comment

HaRuSkaH RanGkaiaN PaKeT KePeRcaYaAn iTu TeRkiKiS?

My Homy Strawberry Room, Ba’da Isya Jumat 22 Juni 2007

Lama,,,lama sekali saya terpekur di depan layar komputer dan menatap deretan tuts keyboard dengan hampa.Untuk beberapa detik saya terdiam…untuk beberapa menit saya tidak juga menggerakkan jari jemari yang telah siap untuk menekan dan menyusun kalimat demi kalimat. Saya sangat ingin menulis, menerjemahkan bahasa perasaan yang tertahan dari seorang perempuan. Hati saya berteriak meminta untuk diekspresikan,,, tapi semakin lantang ia berteriak semakin hebat aksi dan reaksi dalam kepala saya berperang, sehingga saya seperti kehilangan aliran pikiran yang ingin saya tuangkan.

Boleh dibilang saya terlalu syok dengan apa yang ada dalam pikiran saya sendiri…syok oleh sebuah akumulasi…syok akan sebuah ketidakmengertian…syok terhadap ketidakmampuan untuk memberi alasan demi sebuah pemakluman…Mungkin hanya butuh sekian mili dosis adrenalin untuk membangunkan saya dari kataton mendadak ini, tapi saya tidak tahu seberapa mudah saya akan segera terlupa akan pemicu-pemicu kelelahan ini. Sungguh…saya teramat bimbang dari mana saya harus memulai untuk menulis tulisan ini dengan baik…

Perempuan-perempuan tersakiti itu begitu tegar, dan justru ketegaran mereka itulah yang membuat diri ini teriris-iris. Entah telah berapa kisah singgah dengan penuh kesan ke dalam ruang hati saya, baik yang saya terlibat langsung di dalamnya, atau saya sengaja dilibatkan atau saya tidak sengaja terlibat, atau hanya sekedar sebagai pendengar, penonton, pemerhati, peneropong, atau sekedar pembaca. Semua itu yang ada di sekeliling saya, baik jauh atau pun dekat adalah kisah-kisah berbeda yang hadir dengan rasa yang sama. Sebuah realita yang tidak bisa saya sanggah tapi terkadang mengingatnya begitu menyesakkan, bahwa kita tak pernah tahu apakah sebuah pernikahan itu akan langgeng hingga kematian memisahkan atau tidak, sebab cinta makhluk itu tiada abadi karena makhluk itu sendiri hakikatnya adalah tiada abadi, ia fana, dan sesuatu yang fana tidak bisa kita andalkan untuk sebuah keabadian. Karenanya perpisahan, kekecewaan, pengkhianatan, menyakiti dan tersakiti, bahkan perceraian, semua itu  memiliki peluang yang sama dengan kebahagiaan dan derivatnya dalam menghiasi warna hidup kita…

Sosok mereka, perempuan-perempuan itu, sangat kuat bagi saya, teramat kokoh…membuat saya begitu iri dengan energi luar biasa itu…

Siapkah iman di dalam dada ini menopang jika dihadapkan pada hal yang serupa?

Sungguh tak takutkah diri ini akan sebuah iman dan keikhlasan yang tak seberapa saat pergiliran ujian itu menyapa?

Sebuah perjalanan yang tidak mudah…

Tulisan ini berawal dari sebuah buku yang baru saja selesai saya baca tiga jam yang lalu. Sebuah buku yang saya beli siang tadi di sebuah toko buku ternama di kota saya. Catatan Hati Seorang Istri, sebuah karya menyentuh hati dari Asma Nadia yang dimulai dengan sebuah sajak biru;

Saat cinta berpaling

Saat rumah tangga dalam prahara

Saat ujian demi ujianNya mengguncang jiwa

Kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati terus bertasbih?

Telah kutinggalkan cemburu

Di sudut kamar gelap

Telah kuhanyutkan duka

Pada sungai kecil yang mengalir dari mataku

Telah kukabarkan lewat angin gerimis

Tentang segala catatan hati

Yang terhampar di tiap jengkal sajadah

Dalam tahajud dan sujud panjangku

Sisi melankolis saya tiba-tiba menjadi dominan saat membacanya, saya menjadi sangat sentimentil. Saya sempat khawatir karena dominannya sisi ini saya menjadi kurang objektif. Jadi cukup beralasan jika siapapun yang membaca tulisan ini mengomentari bahwa saya kurang objektif. Mungkin saya memang tidak objektif, karena di sini saya berbicara sebagai sosok seorang perempuan yang berbicara dengan naluri dan perasaan. Saya memang belum menjadi seorang istri seperti Asma Nadia dan perempuan-perempuan perkasa yang dikisahkan dalam buku ini, saat ini saya memang seorang lajang yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki suami dan menjadi seorang istri, tapi saya adalah seorang perempuan yang lebih daripada sekedar bermimpi juga ingin dan insyaAllah kelak akan menjadi seorang istri, seorang perempuan yang kurang lebih  dengan dasar nurani dan perasaan yang sama.

Maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud menjadi over feminis dan mengintimidasi laki-laki dalam keseluruhan tulisan saya. Selama ini saya mencoba mempelajari dan membaca buku-buku psikologi tentang perbedaan laki2 dan perempuan baik dari karya penulis barat seperti buku Man From Mars and Woman From Venus, atau yang dibahas dari sisi Islami seperti dari DR Thariq Kamal An-Nu’ami dalam bukunya Psikologi Suami Istri, dan berbagai ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah, kurang lebih itu cukup memberi gambaran bagi saya bahwa ternyata tabiat dasar antara laki-laki dan perempuan sungguh sangat berbeda, kita harus ingat bahwa selain perbedaan secara fisik, kebenaran ilmiah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan juga memiliki kondisi psikologis yang berbeda yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara memahami, berbuat, dan merespon. Perbedaan tersebut menjadi dasar yang jelas bahwa tidak mungkin keduanya bersandar pada dunia yang sama, keduanya akan bersandar pada dunia masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki, dan masing-masing dunia itu penuh dengan rahasia-rahasia. Inilah fitrah itu, sebuah perbedaan yang sangat mendasar yang harus kita akui.

Namun bukan berarti ketidaksamaan itu malah menjadi momok yang mengancam, Tidak, sama sekali tidak! justru dua sisi yang berbeda itu saling membutuhkan untuk dipertemukan, agar kehampaan pada satu sisi mampu ter-cover dengan baik oleh yang lain. Di sinilah peran pernikahan itu berfungsi, pernikahan yang berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dan bukan mempertentangkannya atau dengan kata lain untuk saling menerima dan melengkapi satu sama lain. Dan saya pahami ketidakmengertian dari kedua belah pihak tentang perbedaan2 mendasar itu merupakan salah satu pemicu terselubung dari berbagai perselingkuhan, perceraian dan lain sebagainya.

Akan tetapi, seiring dengan berbagai macam kisah yang mampir pada saya, dan meskipun berkali-kali saya mencoba untuk memahami, berusaha untuk mengerti dan menurunkan parameter-parameter ideal saya tentang sosok seorang laki-laki, terkadang saya masih juga tidak bisa mengerti … kemampuan saya sungguh terbatas untuk mengerti akan seorang lelaki…

Mari kita simak salah satu kisah yang saya ambil dari buku ini;

Saya tidak ingin cemburu,,,

(seperti diceritakan oleh Mbak Safitri)

Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ”spongebob”di listnya?

selama menikah, saya pikir tidak ada kamus cemburu dalam rumah tangga kami. Seperti keluarga lain yang berusaha menerapkan kehidupan religius dalam keseharian, kami percaya prinsip saling jujur dan percaya merupakan hal yang harus ada. Apakah suami saya tidak tampan(lantas tidak berpotensi membuat saya cemburu)?tentu saja bukan karena itu. Meskipun saya memilihnya bukan karena wajah dan penampilan luar, saya mengakui betapa menariknya suami. Ini terbukti dari banyak gadis di kampusnya dulu yang jatuh hati, bahkan terang-terangan mengatakan itu ketika walimahan. Di hadapan kami dua orang gadis mengatakan sempat naksir semasa di kampus.

Saya yang mendengar kalimat yang disampaikan serius meski dengan nada bergurau itu hanya tersenyum. Usia saya masih terbilang muda, hanya dua puluh tahun, tapi tidak sesedikitpun rasa cemburu menyelinap.

Apakah saya terlalu percaya diri?

Saya kira tidak. Sebaliknya saya cukup tahu diri dengan wajah yang pas-pasan. Entahlah, tetapi saya yakin suami mencintai saya apa adanya. Dan caranya mengungkapkan itu selama ini memiliki andil besar dalam ketenangan saya.

Sebelum menikah saya tidak pernah berpacaran, memang sempat dekat denan satu dua lawan jenis, tapi hubungan kami lebih seperti sahabat ketimbang pacar. Sekalipun ketika itu saya belum berjilbab, tetapi kesadaran menjaga diri saya memang cukup tinggi. Saya tidak mau berduaan di tempat sepi, bahkan ketika dibonceng motor pun, tangan saya bertahan hanya memegang bawah jok dan tidak pernah melingkar manis di pinggang teman pria.

Otomatis ketika menikah, maka suami menjadi lelaki pertama di luar keluarga yang memiliki kontak fisik. Dan saya percaya, hal inilah yang dengan cepat membangun cinta yang sebelumnya tidak ada di antara saya dan suami. Maklum kami menikah tidak melalui proses pacaran. Apalagi suami benar-benar memperlakukan saya seperti ratu. Tidak jarang dia memberi surprise dengan menyiapkan sarapan pagi ketika dia bangun lebih awal, dan kejutan-kejutan manis lainnya.

Dia adalah sosok suami dan ayah yang baik. Tipe family man yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selepas pulang kerja dan tidak pernah keluyuran.

Begitulah hingga anak ke-empat lahir. Rumah tangga tetap tentram. Demi komitmen keluarga, sejak anak pertama lahir, saya memutuskan bekerja di rumah pekerjaan saya sebagai ilustrator buku anak cukup memungkinkan untuk itu.

Semua terasa sempurna. Saya kira itu jugalah yang ada di gambaran orang luar tentang keluarga kami. Bahkan kerap saya atau suami menjadi tempat curhat keluarga lain.

Beberapa istri yang dihantui kecemburuan karena suami mereka yang sewaktu menikah cukup baik keislamannya, tetapi sekarang mulai tampak ’genit’ selalu saya nasehati untuk tetap berpikir positif dan tidak berburuk sangka.

”barangkali pekerjaan suamimu menuntut itu”

”lingkungan pergaulannya memang kalangan profesional, saya kira dia hanya berusaha tampil lebih luwes di kalangan umum”

”nikmati saja…kan bagus suami merawat diri. Istri-istri lain banyak lho yang ngeluh karena suami mereka sama sekali tidak memedulikan penampilan ketika keluar rumah”

Dan saya bahagia jika para istri yang cemburu dan khawatir suami mereka diam-diam sudah menikah lagi kemudian bisa mengusap air mata dan pulang dengan tenang.

Karir melesat

Seiring waktu karir suami melesat jauh lebih baik dari yang bisa kami harapkan. Ketika menikah, penghasilan suami hanya dua atau tiga ratus ribu rupiah perbulan, dari pekerjaannya di bidang edutaintment. Tetapi sekarang meningkat berpuluh kali lipat, seiring bertambahnya anak kami.

Beberapa teman muslimah sempat menggoda penampilan suami yang menurut mereka semakin modis. Ada juga yang membisiki saya dengan kalimat serius,

”hati-hati puber kedua suami lho,dik…”

Seperti biasa saya hanya tertawa. Tentu saja mata saya tidak luput terhadap perubahan penampilan suami. Tetapi kepercayaan saya terhadap lelaki itu tidak pernah berkurang sedikitpun. Sebab kecuali penampilan, tidak ada yang berubah. Kejutan-kejutan manisnya masih ada. Kami masih sering jalan dan makan malam berdua seperti layaknya pengantin baru.

Bicara soal ibadah, alhamdulillah suami masih menjaga ibadahnya seperti ketika dia masih aktifis rohis di kampus. Shalatnya masih tepat waktu. Tidak hanya itu, kebiasaan shalat malamnya tidak hilang. Pun puasa senin kamis. Jadi apa yang harus saya khawatirkan?setiap hari lelaki itu tetap pulang tepat waktu. Memang ada beberapa kali dalam sebulan agenda keluar kota, tetapi semua murni terkait pekerjaan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk cemburu hanya karena sekarang dia lebih rapi, memilih baju dan sepatu bermerek, atau rutin menyemprot parfum sebelum keluar rumah.

Saya tidak ingin hati mengambil alih logika. Apalagi sejauh ini perasaan saya masih temtram dan sama sekali tidak ada kecurigaan apa-apa. Sekalipun suami memegang handphone kemana-mana, saya merasa tidak perlu mencurigai apalagi terdorong untuk mengecek siapa saja yang diteleponnya seharian itu, atau mencuri2 membaca deretan SMS yang diterimanya.

Hanya istri-istri yang tidak percaya pada kekuatan hubungan dengan pasangannyalah yang melakukan hal demikian, pikir saya.

Berita suami si A selingkuh. Atau suami si B dan C berpoligami, tidak membuat saya menjadi istri yang paranoid. Cemburu bagi saya hanya akan menyesakkan hati. Sementara dengan hati suram, bagaimana saya bisa maksimal merawat anak-anak dan suami?belum lagi mengerjakan order-order ilustrasi yang sering datang tiba2?

Bisa2 gara2 istri yang ccemburuan suami menjadi pusing dan jenuh di rumah. Dan saya menjaga betul, agar suami senantiasa nyaman dan merasa teduh sepulang dari kantor.

Perempuan misterius

Alhamdulillah sejauh ini logika saya selalu menang. Konon semasa di kampus, saya termasuk muslimah yang porsi logikanya sering disamakan dengan lelaki. Ketika muslimah yang lain menangis, ngambek, dan marah-marah, daya masih bisa rasional dan melihat masalah dengan jernih. Suami tahu itu dan kerap memuji.

Suatu hari ponsel CDMA suami tertinggal. Kebetulan saya baru saja ganti handset karena handphone hilang sehari sebelumnya. Karena memerlukan beberapa kontak, tanpa ragu saya pun meraih handphone suami. Sebab biasanya suami juga menyimpan beberapa nomor kontak saya.

Awalnya saya tidak terusik untuk membuka inbox SMS suami. Hanya menelusuri deret huruf kontak yang saya perlukan. Hingga kemudian saya menatap satu nama yang menurut saya ganjil berada disana.

Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ‘spongebob’di listnya?

Ada sesuatu yang tiba2 berdetak di hati, namun saya lawan sebisanya. Pastilah ini hanya gurauan. Bisa jadi ketika saya buka, nomor tersebut merupakan nomor adik perempuan, sepupu, atau keponakan atau bisa jadi teman kantor. Saya bayangkan suami akan terpingkal-pingkal ketika saya ceritakan hal ini.

Saya sempat termenung beberapa lama sebelum membuka kotak SMS. Bagi saya HP dan agenda adalah hal yang private dan saya sangat menghormati privacy suami. Tapi entah ada apa hari itu, firasat seorang istrikah yang akhirnya membuat reaksi saya berbeda?

Untuk pertama kalinya logika saya kalah. Saya akhirnya tergoda untuk menggerakkan jari memencet keyphone untuk membuka baris SMS yang masuk. Debaran di hati saya bertambah kencang ketika saya menemukan empat SMS dari si ’spongebob’.

Saya membaca basmalah dan berdoa sebelum akhirnya memutuskan untuk membaca SMS misterius tersebut. SMS pertama dan kedua hanyalah kalimat resmi tentang janji bertemu. Tetapi menginjak ke SMS ketiga, saya kaget ketika menemukan kalimat2 mesra di dalamnya.

Tetapi bukankah siapa saja bisa berkata mesra?

Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana sikap suami terhadap yang bersangkutan dan bukan sebaliknya?

Nalar saya bicara. Saya tutup kotak pesan masuk dan mencoba menelusuri sent item. Kepala saya mulai berdenyut. Jari2 saya gemetar saat menemukan empat sms dari suami sebagai balasan terhadap sms si ’spongebob’

SMS pertama biasa saja. Tapi SMS kedua?

”hari ini menemani anak2 karate. Sayang sedang apa?jangan terlambat makan, ya?”

Saya periksa tanggal SMS tersebut dikirimkan. Ahad lalu, hari yang sama ketika suami menemani ketiga anak kami latihan karate. Sementara saya seharian di rumah menemani si bungsu yang sedang sakit.

Ketika membaca SMS2 balasan berikutnya perasaan saya semakin diremas2, kedua kaki saya seakan lumpuh dan tak bertenaga. Sementara kepala sontak berdenyut2.

Ahh, bagaimana mungkin?

Suami saya lelaki yang taat beribadah. Al-ma’tsurat-nya tak pernah tertinggal setiap shalat shubuh. Dia mungkin lelaki terakhir yang akan saya curigai untuk selingkuh.

Mungkinkah semua ini hanya guyonan?

Tidak, dia tipe pemikir dan amat menjaga pergaulan denan lawan jenis. Saya tidak bisa menemukan alasan suami memanggil perempuan lain dengan sebutan ’sayang’?

Kemesraan di dalam SMS2 berikutnya yang dikirim suami, semakin mengukuhkan jalinan cinta keduanya. Betapapun saya berusaha berprasangka baik, sia-sia bagi saya menemukan sudut pandang yang mungkin bisa membantah kecemasan saya.

Sesorean itu sepanjang shalat ashar dan menenangkan diri dalam tilawah. Saya menangis. Lima belas tahun pernikahan belum sekalipun suami membuat saya menangis. Tapi hari ini saya benar2 terisak.

Ketika suami pulang, saya mencoba menahan diri dan melayani seperti biasa. Tetapi tangis yang saya tahan akhirnya tumpah juga ketika kami sudah berada di tempat tidur dan siap beristirahat. Dengan lembut suami saya menanyakan apa yang membuat saya begitu sedih.

Saya tidak menjawab. Saya raih HP, membuka sent item, dan saya sodorkan sms yang diketik suami untuk ’spongebob’.

Sikap saya berubah dingin. Saya perhatikan raut wajah suami berubah, tidak lama kemudian dia terisak-isak dan merengkuh saya.

”Aa minta maaf. Aa khilaf…”

Ada air mata yang kini jatuh di pipi suami. Dia pandangi saya, dia usap2 wajah saya sraya mengulang-ulang permintaan maafnya.

”tapi belum jauh dik. Tidak ada yang terjadi.”

Berawal di dunia maya kedekatan mereka terjalin.

”usianya tiga puluh tahun, belum menikah…dia tinggal di bogor”

Gadis itu suka curhat kepada suami tentang apa saja.

”sudah berapa lama Aa?”

Suami saya diam. Matanya tampak ragu.

”saya ingin Aa jujur, tidak apa”

Lelaki itu terdiam. Menghela napas.

”tiga tahun, dik”

Saya tercenung mendengar pengakuannya. Tiga tahun… begitu lama. Bagaimana mata saya bisa dibutakan selama itu?

Pembaca, setelah dialog malam itu, sulit bagi saya membangun kepercayaan kepada suami. Saya terus menerus memikirkan angka 3 tahun itu, imajinasi saya berputar2. tiga tahun waktu yang lama, apa saja yang sudah terjadi diantara mereka?hancur hati saya membayangkannya. Sementara ini saya mengungsi ke rumah ibu. Sudah 6 bulan sejak pengkhianatannya saya ketahui(keduanya belum menikah). Saya berharap waktu bisa memberi saya kejernihan hati, untuk melakukan hal yang benar.-selesai-

Bagaimana menurutmu sahabat? ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang saya baca dari buku ini. Ini hanyalah satu dari sekian banyak realita yang terjadi di sekeliling saya. Mungkin di sekitar anda juga. Saya memang kurang sepakat dengan peniadaan cemburu dalam rumah tangga, karena dalam dosis terapi standar cemburu cukup diperlukan. Tapi cukupkah itu dijadikan sebuah alasan untuk pengkhianatan?saya lelah mendengar tangisan, saya lelah disapa keluhan, saya sesak dengan ketegaran, saya trenyuh dengan kembali memaafkan.

Bagaimana tidak mencemaskan sahabat, tiga hari yang lalu sepupu menelpon, dia mengatakan bahwa sebut saja Shinta(bukan nama sebenarnya) sahabat sepermainan saya waktu kecil yang juga tetangga sepupu saya pulang ke rumah orang tuanya sambil menggendong bayi-nya yang baru berumur 5 bulan dengan wajah yang lebam membiru di seluruh muka dan tubuh karena dipukuli suami, dia tidak tahan sehingga terpaksa kabur dari rumah suami. Demi Allah sahabatku, dia sebaya saya dan baru berusia 20 tahun!

Belum lagi jika sahabat ingat, keponakan saya yang dulu pernah saya ceritakan dalam blog ini bahwa saya memaksakan diri datang ke walimahan-nya. Kemarin melahirkan seorang bayi yang sehat, tapi di rumah ibunya… tanpa suami di sampingnya karena suatu sebab yang menyesakkan.

Lalu bagaimana dengan kisah kakak tingkat saya yang menjadi selingkuhan seorang lelaki berkeluarga? lalu bagaimana dengan sahabat saya yang memang secara fisik menarik digoda dengan terang2an oleh seorang dokter rumah sakit yang telah berkeluarga untuk dijadikan simpanannya?lalu bagaimana dengan kisah2 lain yang tak kalah seramnya sehingga membuat saya repot mengelus dada?

Menjelang maghrib tadi buku ini telah selesai saya baca. Dan di samping saya sekarang ada Aster dan Dina(another Dina di kos saya ^_^) yang sedang membaca buku itu bersama di atas kasur Bugs Bunny saya. Dan seperti yang saya duga, beragam keluh dan cemas itu mengalir, suara para perempuan yang juga turut terkhianati.

Perjuangan mereka, para istri yang berusaha sepenuh hati demi menjaga kehormatan suami bahkan dari keluarga besarnya sendiri sehingga menguatkan hati untuk tetap tinggal mendampingi meski hati perih dikhianati,

Perjuangan mereka, untuk tetap terlihat tak terjadi apa2 dan bersikap seperti biasa, demi melindungi anak2 dari kecemasan karena orang tua-nya yang sedang bermasalah meski tangis hampir tak tertahan ingin sepenuhnya dikeluarkan,

Perjuangan mereka, untuk berbesar hati memafkan dan kembali memberi kesempatan untuk memupuk kepercayaan pada suami meski tidak bisa semaksimal sebelumnya dengan bermodalkan keyakinan ”yang penting Allah Ridha terhadap saya…”,

Ingin rasanya saya menutup mata dan tak mengacuhkan fenomena yang demikian, karena terus terang terkadang saya lumayan kesal dengan buku-buku demikian yang semakin banyak bertebaran, yang mau tidak mau membuat saya terusik mempertanyakan kembali apakah saya benar2 berani mempercayakan diri saya sebagai istri pada seorang lelaki?apakah saya betul2 yakin dengan kepercayaan yang saya berikan sendiri?saya khawatir, paket-paket kepercayaan yang susah payah saya rangkai selama ini menjadi terkikis sedikit demi sedikit seiring dengan semakin seringnya saya mendengar kisah serupa.

Saya sadar, tidak adil rasanya mengeneralisir sesuatu, karena sebuah alasan yang cukup bisa diterima adalah tidak semua lelaki seperti itu. Lalu apakah salah ketika tiba2 para perempuan menjadi takut?bagaimanakah pendapat anda hai cucu Adam tentang semua ini?adakah sedikit yang bisa engkau katakan sehingga hati kami, putri Hawa, menjadi lega?karena itu bukan hanya sekedar cerita tapi sebuah realita…

Tapi seperti yang telah saya baca, bukan untuk kekhawatiran semacam itu buku semacam ini diterbitkan(meski memang mau tidak mau kecemasan itu tetap terpicu). Main Goal disusunnya buku ini adalah agar bisa membawa para pembaca pada kesiapan yang lebih baik ketika nanti (bukan hanya tokoh2 yang ada di dalam buku) kita juga dihadapkan pada ujian yang sama. Bukankah Allah Yang Maha Berkehendak dan hanya atas kehendakNya-lah kita hidup dan bersenyawa dengan warna2 di atas bumi ini?

terus terang, saat ini saya masih memiliki sepercik harapan. Harapan yang tersisa yang dibentuk dari kisah cinta indah kedua orang tua saya, juga kisah cinta sederhana namun sangat istimewa milik orang tua Dina(another Dina yang tadi^_^) yang dia kisahkan dengan penuh bangga, juga diskusi2 tak terlupakan dengan pakde saya yang seorang pensiunan guru tentang bagaimana cinta manis-nya bagi seorang istri tersayang(yang juga bude saya) yang telah memberinya empat anak dan 3 orang cucu itu, dan kata2 seorang laki2 yang ditawari untuk berpoligami bahwa

”kebahagiaan saya dengan istri kedua bukanlah sesuatu yang pasti, sementara luka hati istri pertama itu sudah pasti dan akan abadi, bagaimana saya melakukan suatu tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti dengan mengambil resiko yang kerusakannya sudah pasti dan permanen?”

Saya masih percaya, bahwa masih banyak kisah romantis’Muhammad dan Khadijah’di sekitar kita yang masih bisa diandalkan. Karenanya meski hampir saja saya berada pada titik nadir kepercayaan pada sosok bernama lelaki, saya masih bisa kembali bersama kebahagiaan yang mereka tularkan yang insyaAllah terekam dengan indah dalam kenangan saya.

Pun kalau itu ternyata tidak bisa saya jadikan alasan, saya sangat percaya akan janji Allah bagi seorang istri shalihah, istri yang senantiasa menjaga kehormatan dan hak suami juga dirinya sendiri sebagai bentuk pengabdiannya apapun yang terjadi. Pengabdian yang dimulai tepat setelah mitsaaqan ghaliidzaa itu dikrarkan suaminya, sebuah indikator kesetiaan dan perjuangan yang semata berasal dari kekuatan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kekuatan cinta yang menghasilkan energi yang luar biasa yang membuat para perempuan itu masih mampu bertahan hingga titik terakhir.

Ya Allah Ya Rabb, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi pada hati seorang hamba, saksikanlah kesetiaan2 yang mengagumkan itu. Semoga Engkau Memberi kekuatan dan kejernihan hati bagi semua hambaMu, khususnya para perempuan. Aamiin.

Comments (10)

DiOrAmA AfRa MaiSyA

Terinspirasi dari perjalanan indah seorang ukhti, sahabatku yang baik, yang kini sedang berbahagia hidup bersanding dengan suami yang sangat menyayangi dan disayanginya

Terimakasih telah berbagi… ^_^

Aku menyibak perlahan gordyn tebal di sisi kiriku. Titik-titik hujan yang bersisa di atas kaca jendela tampak terseret lemah oleh kencangnya angin yang melawan arah laju ular bermesin ini. Syukurlah bunyi gerbong kereta yang bersahutan terdengar begitu keras sehingga menyamarkan teriakan hatiku yang sejak pagi tadi sangat gelisah entah mengapa.

Hpffpff….aku mendesah, mataku menerawang jauh kearah langit yang gelap sekali malam ini, tapi sayangnya aku hanya menemui sepi, padahal aku masih berharap ada satu saja bintang yang mau menemaniku yang sedari tadi tak bisa juga memejamkan mata. Astaghfirullahal’adhiim, aku beristighfar cepat-cepat sebelum malaikat mencatat kelalaianku yang telah menghembuskan napas keluhan akan beban yang seketika saja tadi terasa berat di pundakku, aku harus kuat!

Dan lantunan dzikir deras mengalir dari bibirku…

Hari ini juga ibu memintaku pulang, beliau memohon padaku untuk tidak beralasan macam-macam lagi demi menolak permintaannya, kali ini aku memang harus benar-benar pulang.

Yaah, sepertinya permintaan ibu ini sangat tidak berlebihan. Sudah setahun lebih tepatnya sejak peristiwa itu berlalu, aku memang sengaja menyibukkan diriku, dari mulai materi kuliahku yang luar biasa banyak, sampai kegiatan organisasi kampus yang tidak pernah berhenti. Bakti Sosial di desa terpencil, khitanan masal, pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, privat macam-macam, training ini itu,pengajian sana sini, sampai mengurusi adik-adik asuhku di Panti Asuhan Al-Fataa. Semuanya sangat menyita waktu, atau lebih tepatnya aku ingin itu semua menyita waktuku. Sampai-sampai aku tak sempat pulang bahkan di hari lebaran karena aku mendapat giliran jaga posko kesehatan mudik di stasiun kota, alhasil aku hanya bisa sungkem dengan Bapak, Ibu dan Mas Dimas kakaku satu-satunya melalui telepon seluler. Jadi, wajar saja jika ibu sangat merindukanku, dan jujur… sebenarnya aku pun sangat merindukannya, di tengah beratnya hari-hari yang kulalui selama ini aku sungguh ingin merasakan hangat peluknya yang menentramkan itu, menikmati tiap rasa aman yang hadir di setiap belainya,…alangkah indahnya… tapi aku tidak ingin tampak lemah, aku bukanlah akhwat lemah yang tumbang begitu saja hanya karena tiupan angin, atau merengek seperti bayi hanya karena cubitan kecil. Aku bukannya menyangkal setiap orang punya sisi lemah, tapi paling tidak aku tidak ingin seorangpun melihat saat aku menjadi lemah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Penolongku…

Ah…peristiwa itu, lagi-lagi kenangan itu terekam ulang di kepalaku, kenapa aku masih saja merasakan luka saat mengingatnya. Apakah hati ini masih belum ikhlas menerima qadarMu Ya Allah. Sungguh Aku tak bermaksud begitu Allah, tapi kadang otak kita memang tidak bisa membuang sebuah memori yang sangat berkesan dalam hidup tuannya, terlebih lagi jika bersamaan dengan hadirnya seperti ada kelu menyerang hati sehingga terasa begitu sesak sekali.

* * * * *

Mas Uza,,,pria yang hampir saja menjadi suamiku itu adalah satu-satunya Residen Bedah Jantung dan Pembuluh yang ada di Rumah Sakit Daerah di
kotatempat tinggalku. Namanya sangat dikenal oleh dokter-dokter muda karena ketrampilan bedahnya yang luar biasa, juga oleh perawat-perawat rumah sakit karena ketampanan wajahnya, usia yang terbilang muda tak membuat dokter-dokter senior pun urung menyeganinya. Seperti semua itu belum cukup, ia juga aktif mengisi ceramah keagamaan di event apa saja, kezuhudan dan kealimannya sudah terdengar di telinga setiap orang termasuk telinga pamanku yang sama-sama menjadi aktifis kesehatan di sebuah non government organization dengannya.

Sore itu aku ditelepon Bapak saat aku sedang mengetik bahan presentasi mata kuliah Radiologi di kamar kosku.

“Afra, akhir minggu ini kamu pulang ya…Bapak dan Ibu ingin membicarakan hal penting denganmu” kata Bapak pelan.

Adaapa tho pak, sepertinya mendesak sekali, apa ndhak bisa kita bicarakan ditelepon saja…lagi pula Jogja-Surabaya

kan

lumayan jauh, saya khawatir Cuma bisa di rumah sebentar saja” ucapku mencoba meyakinkan.

“ini ndhak bisa Bapak sampaikan lewat telepon, ndhak papa walau Cuma sebentar, sing penting muliho sik nduk...” katanya yang tak lagi bernada penawaran tapi sudah perintah.

nggih pun Pak, mungkin saya baru bisa berangkat dari Jogja Jum’at sore, tapi minggu malam saya harus sudah sampai di Jogja lagi” ujarku memastikan.

“Ya sudah, sampai ketemu di rumah ya Fra… Hati-hati di jalan… jangan sembrono,…wassalamualaikum” katanya sambil menutup sambungan.

* * * * *

“Ini lho Fra fotonya…”ucap paman menyodorkan dua lembar foto ukuran postcard sambil tersenyum menggoda, lalu ia mulai mempromosikan pria yang ada dalam foto itu dengan semangat kepadaku.

“Wah orang hebat begitu, apa iya dia-nya mau sama saya tho Pak Lik…” kataku ragu sambil mengamati foto pria bertubuh jangkung itu, aku tersenyum…keren juga!weits…!Astaghfirullah…he2..he2…

“aduh nduk, kok pertanyaanmu kayak orang ndhak punya iman saja, sehebat apapun…setidak hebat apapun…kalo sudah jodohnya ya ndhak bakal kemana tho…”ujar ibu memprotes. Aku tersipu, sebenarnya aku sangat paham teori itu, dan pertanyaanku itu hanyalah retorika belaka, maklum lah…aku bingung mau ngomong apa saking bahagianya.

“betul ibumu bilang, dicoba saja dulu kanndhak ada salahnya, urusan akhirnya bagaimana

kan

sudah diatur Allah” kata bapak menimpali.

“Memangnya beliau sudah tahu tentang ini Pak Lik?” tanyaku menyelidik.

“Sudah Fra, Pak Lik sudah bilang, memang dia sedang berencana menikah dekat-dekat ini, mungkin tahun depan, tapi memang belum ada calonnya, dia belum mencari, yoo wis aku langsung mengajukan kamu Fra…dan dia setuju saja”sahut paman menjelaskan, aku mengangguk paham.

“yaa..Saya sih…gimana dawuh Bapak dan Ibu saja…” kataku malu-malu.

* * * * *

Minggu malam aku sudah ada di Jogja, paman memintaku untuk segera membuat curriculum vitae untuk diserahkan pada Fauza Ahmada, nama pria itu. Jadwal esok senin-nya padat sekali, aku memeriksa agendaku kembali, hmm…aku hanya bisa menyusun biodataku disela-sela perjalanan diantara jadwalku, atau selepas shalat dhuhur nanti. Sangat tidak kondusif, untuk hal seperti ini aku butuh banyak waktu. Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakannya senin malam saja selepas pengajian di masjid kampus.

Ya Allah, secepat inikah proses itu akan segera kujalani? Sangat tidak terduga sekali. Memang akhir-akhir ini pembahasan tentang pernikahan sering terdengar di telingaku, dari mulai teman-teman akhwat yang ramai membahasnya, buku-buku nikah yang menjamur jadi best seller membuat semua orang latah berbicara tentang menikah, sampai Ustadz Yusuf di pengajian kamis pagi tidak mau kalah dengan membahas tentang Fiqhul Munakahaat bulan ini. Pusing aku mendengarnya, setiap kata ‘nikah’ itu tertangkap nervus auditoriusku, tiba-tiba ada kegelisahan yang melanda, entah apa yang aku khawatirkan, antara ingin dan cemas. Dan sekarang ketika jalan menuju itu benar-benar membentang dihadapanku, aku menjadi semakin bingung, antara bersemangat, bahagia, dan ketakutan…

Di sepertiga malam diri ini merajuk, membasahi peraduan dengan air mata pinta dan pasrah yang tak terkira, memohon cahayaNya tuk sinari ketidaktahuan diri agar tertunjuki pada ridhaNya semata…

Allahumma in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada khairun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Faqdurhu Lii wa yassirhu Lii Tsumma baarik Lii Fii hii

Wa in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada syarrun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu waqdiru Lii al-khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinii bihii…

* * * * *

Dua minggu kemudian aku menerima biodatanya, tentunya sekarang Mas Uza-begitu paman ingin aku memanggilnya-juga sudah menerima biodataku. Merinding aku membaca curriculum vitae sekeren itu, ternyata beliau lebih hebat dari yang aku perkirakan, selain deretan kehebatan duniawi, dia juga seorang hafidz yang hafal lebih dari sepertiga juz al-quran, subhanallah…dadaku semakin bergemuruh.

Dua sampai tiga bulan berlalu, namanya pun semakin bergaung di telingaku, aku mendapatkan banyak cerita tentangnya dari teman-temanku di Surabaya yang menjadi mahasiswanya di fakultas kedokteran.

Lambat laun bahkan sebelum wajah ini saling bertatap muka, bulir-bulir cinta telah menghinggapi hatiku, semakin sering aku mendengar cerita tentangnya, semakin pula simpati dan jatuh cinta ini menjangkiti. Diriku semakin gede rasa, timbul harapan-harapan membahayakan yang sungguh sulit sekali kutepis, aku hamba yang mengimaniNya ingin bisa mengendalikan diri…tapi aku pun manusia…punya rasa punya hati…pria hebat ini…aku yang seperti ini…berkesempatan menjadi calon pendampingnya,,, yang benar saja!Ya Allah…ujian!Kuatkan aku Allah…!

* * * * *

tiga setengah bulan sudah sejak Bapak memanggilku pulang dulu. Senja hari selepas mengajar privat anak SMU yang tinggal di seberang kosku, aku kembali ke kamar dan bersiap-siap mandi. Ketika kaki ini hendak melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba HP-ku di atas meja bergetar mengabariku ada sebuah pesan singkat yang masuk. Langkahku terhenti dan berniat untuk membukanya…tapi Ah nanti saja kubuka pikirku dan segera masuk tuk menikmati kucuran shower yang sudah kurindukan sejak siang hari yang menyengat tadi.

“supaya kalian tidak berduka atas apa yang luput dari kalian dan supaya kalian jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan Allah kepada kalian. Allah tidak menyukai setiap yang sombong lagi membanggakan diri”

begitulah Al-Quran mengajariku di akhir tilawah ba’da maghribku kali ini. Maha Benar Engkau Yaa Allah dengan segala firmanMu…aku tergugu, tak tersadar air mataku meleleh pilu. Ampuni aku Allah…Lindungi aku…

perlahan kututup mushaf dan melipat mukenaku. Aku jadi teringat ada sms datang sore tadi. Segera saja kuraih HP-ku dari atas meja.

1 message received

“AssalamualaikumWrWb, menurut Dik Afra mengapa Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan?_UZA”

Dueeeenggg!!what???aku membaca ulang sms itu, kuperiksa lagi nama si pengirim yang dicantumkan di akhir pesan. Setelah kubaca berulang-ulang nama itu tetap tidak berubah seperti saat awal aku membacanya, nama itu tetap tertulis UZA. Ya Allah…tubuhku lemas seketika, aku terduduk di atas ranjangku sambil mengucurkan segelas air putih dari dalam teko yang memang selalu kusediakan di meja tidur. Kubaca lagi pesan singkat itu, kali ini lebih kukonsentrasikan pada pertanyaannya. Hmm, apa maksudnya bertanya hal ini kepadaku, tentunya aku boleh curiga
kankalau ini bukan hanya sekedar pertanyaan, dari sekian banyak orang di sekitarnya yang lebih mahir untuk menjawab pertanyaan semacam itu, kenapa harus aku yang ditanyanya, aku tersipu sendiri. Kemudian mulai kutulis balasan pesannya:

“WaalaikumsalamWrWb. karena waktu adalah kehidupan. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan yang dibangun dari sisi amal dan kebajikan yang dibiasakan dan kemudian menjadikannya semakin beriman”

message sent


limamenit kutunggu balasan masuk tapi tidak datang juga hingga ada yang berkumandang, adzan isya. Segera kuletakkan HP-ku dan mengambil wudhu. Kunikmati sejuknya air yang menyusup di setiap pori-pori kulitku.

Ya Allah…jadikanlah aku bagian dari golongan hamba-hambaMu yang senantiasa Bertaubat dan Membersihkan diri…

* * * * *

tiga minggu berlalu sejak sms yang mengagetkan itu datang. Bayang, khayal dan kenyataan semakin membuatku tak kuasa menahan riak-riak rasa yang deras menyambang. Bagaimana ini, kadang ingin rasanya merajam cinta yang tak sopan tumbuh berlebihan sesuka hati, padahal Allah, sebenarnya…aku sadari, semua ini belum berarti apa-apa… belum ada janji, belum ada ikrar, belum ada kata-kata pasti, tetapi mengapa aku telah berharap banyak…mengapa aku telah jatuh cinta sedalam ini…bagaimana jika ini hanya anganku saja…bagaimana jika ini hanya impianku belaka, bagaimana jika aku nanti kecewa…bagaimana jika akhirnya semua ini menyakitiku…

sungguh berkali-kali kuminta padaMu tolonglah aku…jangan kucilkan aku dari hamba-hamba shalihMu karena rasa yang seperti ini…

namun seperti tak mengerti kegalauan hati, pesan singkat yang lain datang kembali…

1 message received

“Assalamu’alaikumWrWb. Dik Afra, Istrinya Mas Dimas itu dinas di Jakartaya?Kemarin saya kebetulan bertemu di sebuah seminar di

Jakarta

, beliau partner saya dalam sebuah proyek, pas ngobrol-ngobrol ternyata ipar Dik Afra…UZA” mataku langsung membelalak tak percaya, Mas Uza?pesan singkat seperti ini?lho,kenapa aku harus heran, memangnya kenapa, wajar
kan, pertanyaan seperti ini bisa ditujukan pada siapapun, ah sudahlah…janganlah terlampau senang, tanggapi ini dengan sewajarnya…tapi diam-diam ada yang menggelitik lesung pipitku, membuat seolah ada kupu-kupu yang mengepak sayap dalam perutku.

Sejak saat itu, paling tidak walau tak terlalu sering semakin banyak pertanyaan dan jawaban yang dikirimkan, katakan padaku teman…apakah kemudian salah jika aku menjadi semakin jatuh cinta, apakah tak wajar jika harapan-harapan itu begitu tampak nyata di depanku…

kadangkala aku menyesal mengapa begitu terlena, dimanakah letak kepasrahan yang selama ini kuatasnamakan? Ya Allah…katakan padaku…bagaimanakah Engkau Mendefinisikan hal ini…Bagaimanakah Engkau Menyebutnya…cobaan, ujian, azab, ataukah jawaban?? bukakanlah tabir itu untukku Kasihku…Terangkanlah bagiku kesamarannya…agar ku tak semakin terpuruk…Sayangilah aku…dan mohon Beri aku kekuatan yang lebih dari biasanya….

(to be continued…)

* * * * *

Hingga sore bersejarah itu pun tiba. Sebuah percakapan yang kuanggap sebagai sinyal dari Allah atas jawaban istikharahku yang tak pernah putus selama ini. Itu terjadi saat aku sedang berada di
Semarangmenghadiri sebuah rapat nasional organisasi tempatku berkegiatan. Aku mengenal seorang kawan yang kebetulan berada di satu divisi yang sama denganku, dia datang dari
Surabaya

, Pradnya namanya.

“Oh…kalau kegiatan seperti itu, biasanya kami mengundang dosen kami yang terkenal multi talented sebagai trainer, namanya Dokter Fauza Ahmada” ucapnya ringan, dia tidak menyadari bahwa aku agak tersedak saat tadi dia mengucapkan nama itu, aku berpura-pura meletakkan minumanku dan menyimak ceritanya kembali untuk menutupi kebodohanku tadi.

“beliau itu dosen idola kita lho Fra, gimana enggak…masih bujang, ganteng, trus orangnya tuh pinter buangett, kayaknya apa sih yang ga dia tau!sayangnya kita dia dah punya calon tuh” ujarnya berapi-api.

Mataku mendelik, aku tak tahu pasti apakah Pradnya memperhatikan ekspresiku ini, secepat itukah kabar ini tersebar, memangnya Paman dah kasih woro-woro ke semua anak didiknya ya?ataukah Mas Uza sendiri yang bikin proklamasi?atau Rasti dan Arifa membisikkan ini dari mulut ke mulut, aduh…menyesal sekali kenapa harus aku bercerita tentang ini, bahkan pada sahabat dekatku, bukankah Rasulullah mengajarkan untuk merahasiakan ini dan baru mengabarkan saat pernikahan??Hussh…Astaghfirullah kok aku jadi suudzon begini, diam-diam aku tersenyum sendiri, antara bangga dan kecewa…

“iya aku tau beliau kok, di Jogja beliau juga sangat dikenal” sahutku tersenyum sok tenang.

“iya Fra… namanya Zahratunnisa. Dia teman baikku. Bayangkan…mereka cocok sekali, senangnya aku…Ya Allah…semoga mereka berjodoh dan menjadi suami istri kelak!”

Dhhuaaaaarrrr…..tiba-tiba petir yang tak kasat mata menyambar kepalaku, seketika saja serombongan gajah seperti menginjak-injak punggungku, aku tak bisa berpikir…

“saat ini mereka sedang bertaaruf…insyaAllah kalau tidak ada halangan mereka akan menikah tahun depan, ini bukan gossip lho Fra!Fakta!”katanya mantap.

“lho Fra…mukamu kok pucat sekali?kamu sakit?”tanyanya cemas, aku jadi salah tingkah.

“Ah…masa sih. Aku emang begini kok, biasa aja kali. Oh iya, Plannary Session nanti malam rencananya mau dipindah ke Aula ya?”ujarku mengalihkan pembicaraaan sambil meminum teh hangatku untuk mengurangi kecanggungan dan menyamarkan pucatnya wajahku.

* * * * *

“maaf saya pulang tidak mengabari Pak Lik, tapi saya hanya ingin tabayyun, agar tidak berlarut-larut dan berefek buruk baik bagi saya sendiri maupun Mas Uza” kataku mantap saat malam itu kami sengaja berkumpul di tempat paman, ibu yang sedari tadi gelisah repot mengelus-elus pundakku.

“ibu tenang saja ya…saya baik-baik saja kok”ujarku sambil tersenyum pada ibu menenangkan.

ndhak papa Fra, pak lik juga sudah mengundang Mas Uza untuk datang malam ini, mungkin sebentar lagi dia datang, kita tunggu saja…”ungkapnya agak ragu.

Tak lama terdengar ketukan dan salam di daun pintu, dia datang! Bahkan aku belum pernah bertemu muka dengannya, tapi saat ini aku benar-benar tak sanggup melihat padanya. Setelah bersalaman dengan Bapak dan Paman, duduk dan berbasa-basi. Bapak memulai pembicaraan.

“begini Mas Uza, duduk permasalahannya tentu adik saya sudah menyampaikannya kepada Mas Uza, maksud kami mengundang Mas Uza kesini ingin bertabayun dan mendengarkan penjelasan” kata Bapak singkat.

“Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Bapak sekeluarga terutama pada Dik Afra, memang benar selain berproses dengan Dik Afra saat ini saya juga sedang berproses dengan seorang akhwat bernama Zahratunnisa, dia adalah mahasiswa saya sekaligus murid seorang teman yang mengajar kajian di musholla Fakultas, terhitung sejak tiga setengah bulan yang lalu saya dikenalkan oleh kawan saya yang ustadznya itu. Terus terang sebenarnya saya banyak diberikan tawaran untuk bertaaruf dengan akhwat. Saya bermaksud untuk memilih yang terbaik diantara yang baik sebelum saya benar-benar mantap pada satu pilihan…”ucapnya singkat tapi cukup jelas dan tegas, aku sangat menghargai keberaniannya untuk berterus terang.

“sebelumnya, perlu saya sampaikan kepada Mas Uza, saya sangat paham karena belum memasuki khitbah memang tidak dilarang untuk berproses dengan dua orang atau lebih, setiap orang berhak memilih yang terbaik untuk dirinya, terlebih lagi sampai sekarang sebenarnya saya belum bisa mendapatkan definisi yang tepat tentang hubungan kita ini. Andai bisa saya bilang jika selama ini kita berusaha untuk saling mengenal, maka sebut saja ini sebagai taaruf, tapi bagi saya adalah prinsip bahwa bertaaruf itu satu persatu, dengan prinsip itu saya bermaksud melindungi diri saya sendiri, ikhwan yang berproses dengan saya juga akhwat yang dibarengkan prosesnya dengan saya itu. saya tidak menyalahkan Mas Uza karena ini memang belum pernah saya sampaikan kepada Mas Uza sebelumnya, dan belum ada kesepakatan di antara kita. Nah, karena sekarang saya sudah menyampaikan, selanjutnya saya serahkan kepada Mas Uza untuk memutuskan…”ucapku tegar.

“kalau begitu, sebenarnya ini sudah saya pikirkan matang-matang sejak jauh hari, sebelumnya saya mohon maaf Dik, saya memutuskan untuk mundur dari Dik Afra…”jelasnya singkat.

“terima kasih Mas, saya juga mohon maaf jika terkesan terlalu keras, ini demi kebaikan kita bersama” kataku sambil tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan kesedihan yang menyapa sangat dalam lubuk jiwaku.

“saya sangat mengerti Dik”ujarnya pendek.

* * * * *

Bagaimana ini…

Kadang ingin rasanya berhenti dan akhiri saja sampai disini,,

Keberanian yang semula terpancar,hilang timbul tanpa permisi

Bahkan kaki ini merasa tak layak untuk melangkah lebih jauh lagi

Apalagi diri yang punya kaki…

hanyalah sekuntum bunga liar di tepi jalan

yang memaksakan diri tuk masuki taman bunga dalam istana

bersanding dengan bunga-bunga anggun itu

kadang sungguh membuatnya tersiksa

karna tiap waktu rasa ketidakpantasan itu menjalari di setiap lekuk pikirnya,,

Menggaung…menyalahkannya…

Kenapa kau begitu berani,

Apakah kau tidak berkaca diri

Kenapa bayang resiko yang begitu besar kau ambil dari lautan yang bahkan bermimpi pun tak mungkin bisa kau sebrangi

Bagaimana ini…

Apa yang sedang kau cari,,,

Apa kau tak berpikir bahwa akhirnya kau akan sakiti lagi dirimu ini,

Berapa kali lagi
kankau buat hatimu menangis

Masihkah tega kau gadaikan ia,

Mengapa kau begitu yakin akan akhir dari semua ini

Apa yang membuatmu masih tetap bertahan?

Dusta jika kau bilang tak mengapa

Apa yang baik-baik saja?

Kau melihat sakit itu akan mendatangimu dan kau bilang baik-baik saja,?!

Sungguh lihainya berselimut di balik resahmu..

Oh sungguh tak habis kuberpikir…oh bagaimana ini…

Sebuah sisi lain yang galau nian

Entah gerangan apa yang membisikinya…

* * * * *

Ya Allah…bukannya diri ini tidak sabar dan tak menguatkan diri tuk menghadapi takdirmu, tapi ijinkanlah air mata ini mengalir menemani, hanya sekedar untuk kelegaan hati…

Ya Allah…hamba sangat yakin, bahwa di setiap peristiwa tak ada lain kecuali hikmah dan cintaMu semata, bagaimana mungkin tak terucap syukurku atas cinta yang Engkau Curah sederas ini, bagaimana bisa aku menjadi sangat bodoh jika tidak bersyukur padaMu, sedangkan semua yang Kau Berikan untukku begitu ruah, terlalu melimpah, betapa banyaknya Ya Allah, takkan pernah terbayarkan walau aku bersujud seribu kali…sungguh aku tak mampu beralasan lagi untuk tidak merasa bahagia…

aku semakin malu…malu sekali Ya Allah, Engkau Memberikan Lautan cinta tanpa terkira sedangkan aku…terus saja MengecewakanMu,

Maafkan aku Kasihku, ampuni aku…Jangan lalu Kau Menjauhiku, Jangan kemudian Kau Biarkan sesat diriku, Mendekatlah Kasihku, Mendekatlah sedekat-dekatnya, dalam kedekatan yang tak bersekat…,

Lindungilah jasad dan jiwaku dari kedurhakaan padaMu, Penuhilah hatiku dengan cahayaMu yang tiada pernah padam, selamanya…

Selamanya Cintailah aku…aku yang hanya
kanmenjadi lemah tanpamu ini…

* * * * *

malam semakin beranjak larut, penumpang lain pun sudah tertidur pulas di kursi masing-masing, hawa dingin yang menyeruak dari luar ditambah semburan air conditioning menyusupi di tiap celah tubuhku, kurapatkan kembali selimutku mencari kehangatan yang menenangkan. yaah… karena kenangan itulah aku menjadi pengecut yang takut pulang, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menjadi pengecut, hanya saja kadang kita butuh berkompromi dengan diri sendiri untuk melalui fase yang sangat melelahkan agar terasa tidak begitu melelahkan, masalahnya, setiap butuh waktu yang berbeda-beda untuk mengarungi kompromi ini, ada yang hanya butuh satu hari saja, tapi juga ada yang perlu waktu berminggu-minggu bahkan tahunan. Aku pun demikian, aku tak pernah tahu sampai kapan aku membutuhkan waktu untuk berkompromi, hingga saat inilah aku memutuskan untuk mengakhiri fase itu, dan kembali pulang ke kotaku,
Surabayatercinta…

* * * * *

“oalah nduk…kamu tambah cantik sekarang…ibu kangen sekali” berkali-kali ibu mencium dan memelukku seperti anak kecil, aku jadi malu semua orang di stasiun melihat ke arahku.aku tersenyum.

“saya juga kangen Bu…”ucapku dengan pelukan yang tak kalah eratnya.

Di mobil Bapak mulai berbicara serius kepadaku,aku agak gelisah mendengarkan,

“nanti malam ada tamu dari
Bogor, kamu tau tidak nduk Om Wijaya kakak tingkat Bapak waktu kuliah dulu?”tanya Bapak

“tau Pak…”sahutku pelan

“sudah empat kali sejak sebulan yang lalu mereka mampir ke rumah kita” katanya misterius, aku jadi semakin tidak mengerti.

“lho memang ada perlu apa tho Pak sampai berkali-kali datang ke rumah?” tanyaku menyelidik

“putranya itu lho Mas Teguh Arifiyanto, kamu ingat
kan? sekarang dia sudah bekerja di sebuah perusahaan asing di Batam, dia Sarjana Tehnik Elektro. Santun sekali orangnya, Bapak dan Ibu sudah bertemu dengannya seminggu yang lalu” ucap Bapak enteng membiarkanku menyimpulkan sendiri. aku seperti menangkap sesuatu…

“malam ini mereka sekeluarga ingin bertemu denganmu nduk…”ujar ibu menimpali

empat rakaat isya usai tertunai dengan indah,,, geliat rasa mengharapkan guyuran lindungNya menyelimuti tiap keputusan yang mengiring cinta, kini kuserahkan padaMu Kasih, kubiarkan alir darahku mengikuti perintahMu…

* * * * *

aku melihatnya malam ini, Mas Teguh, mungkin dalam usia dewasa aku belum begitu mengenalnya, tapi dulu waktu Om Wijaya belum pindah ke Bogor, Mas Teguh pernah 2 tahun menjadi kakak kelasku di sekolah dasar. Wajah yang bersih, sikap yang bersahabat dan senyumnya yang khas tidak juga berubah sejak dulu, hanya satu yang berubah, dia sekarang lebih tinggi dariku, walau memang tidak terpaut jauh.

“begini Om Zakaria, saya datang kemari beritikad baik bersama orang tua saya bermaksud untuk melamar Dik Afra untuk menjadi istri saya” katanya to the point. Aku sudah menyangka inilah inti pertemuan dari semua ini.

“yaa..kalau
Omsih terserah Afra saja, gimana Fra?”ucap Bapak singkat, Aduh…kenapa Bapak melempar seenaknya padaku, apa Bapak tidak tahu, aku sangat grogi karenanya.

“saya sih…bagaimana dawuh bapak saja…” ujarku malu-malu sambil memainkan ujung jilbabku mencoba mencari celah untuk menghilangkan canggung.

“Yaa…saya sih setuju saja” sahut Bapak mantap.

“Alhamdulillah!!!” ucap Mas Teguh lega, senyumnya semakin sumringah sambil berpelukan dengan Bapak dan Ibunya yang tak kalah bahagia. Aku tersipu-sipu karena diberondong oleh pelukan ibu, Mas Dimas yang duduk di samping istrinya mengedip mata menggodaku.

“insyaAllah kurang lebih satu bulan lagi seperti kesepakatan kita sebelumnya, walimah dan akad akan diadakan disini, disesuaikan dengan jadwal libur Dik Afra” kata Om Wijaya tersenyum ke arah Bapak, Bapak mengangguk tanda setuju.

Sebulan lagi?menyesuaikan libur?Lho, kenapa secepat ini, kenapa tidak ada yang memberitahuku, pantas saja seminggu yang lalu tidak biasanya Mas Dimas menanyakan agenda ini ituku, huuuuuhh…semua orang disini, curanggg!!!protesku dalam hati, protes…tapi aku bahagiaaaa sekali.

* * * * *

Ya Allah, dan kemudian seorang Teguh Arifiyanto memasuki ruang dan alur kehidupanku, inilah babak hidupku selanjutnya…

Ya Allah, apapun pendapat hatiku untuk kejutan cintaMu kali ini…kupercaya yang ada hanyalah keindahan pada akhirnya, entah senyum ataukah air mata yang menghias wajahku kelak…entah apakah pertemuan malam ini benar-benar Engkau Ridhai tuk berujung pada Mitsaaqan Ghaliidzaa yang ia ikrarkan,,,

Ya Allah, terima kasih atas warna-warna yang indah ini,

apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…

apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…

apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…

apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus
asmaradan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…

* * * * *

Maha Sempurna Engkau, begitu terstrukturnya Engkau Merencanakan elegi hidupku, belum genap kekagetanku akan proses yang begitu cepat ini, belum genap pertanyaanku usai kujawab akan nikmat yang mendadak datang berjatuhan hingga ku tak sanggup lukiskan bahagiaku yang tak terkira ini, belum genap 1 bulan sejak aku mulai kembali mengenalnya…kini ia duduk di depan Bapakku, menjabat tangannya dan berucap;

“Saya terima nikahnya Afra Maisya binti Zakaria dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai…”

lalu memandangku dengan wajah yang bahagia dan menyemburatkan kasih sayang. Dia…Teguh Arifiyanto…kini sah menjadi suamiku.

selesai…

* * * * *

Comments (4)

DiBaYaR KoNtaN

cerita ini aku dapet dari buku adekku yang kelas dua SD,katanya dia dikasih mbak2 yang ada di bank BNI waktu ngikut ibu,he2,,he2…aku publish dengan sedikit tambahan.semoga bermanfaat…!

Seorang pemuda baru saja menyelesaikan kuliahnya dan tinggal menunggu saat wisuda. Beberapa bulan ini ia ingin sekali memiliki mobil sport yang selalu dilihatnya di show room mobil mewah dekat kampusnya. Yakin bahwa ayahnya mampu, ia mengatakan kepada ayahnya bahwa satu-satunya yang ia inginkan adalah mobil sport itu.
Hari wisuda pun tiba,dengan was-was ia memperhatikan apakah ada tanda-tanda ayahnya telah membeli mobil sport yang diinginkan. Akhirnya di pagi hari sebelum berangkat untuk wisuda, sang ayah memanggil dan menyuruhnya masuk ke ruang kerja. Ayahnya mengatakan bahwa ia sangat bangga dan sangat mencintainya sambil memberikan sebuah bingkisan yang terbungkus rapih dan diikat dengan pita indah.
pemuda itu membukanya cepat-cepat, namun kemudian ia sangat kecewa ketika mengetahui apa isinya, di dalamnya terdapat sebuah Al-Quran dg sampul kulit yang sangat indah. Dengan marah dan suara yang tinggi dia membentak ayahnya; “dengan uangmu yang melimpah ruah itu, ayah hanya memberi hadiah sebuah Al-Quran?” lalu ia berlari keluar rumah dan mengabaikan kitab suci hadiah dari ayahnya.
Sejak itu ia tak pernah lagi menghubungi ayahnya. Tahun demi tahun berlalu, sang pemuda sudah berhasil dalam usahanya. Dia telah berkeluarga dan mempunyai rumah yang bagus. Suatu hari ia teringat akan ayahnya yang tentunya sudah tua, dan berpikir akan menemuinya.terakhir kali melihat ayahnya adalah saat sebelum wisuda, sesudah itu jangankan menengoknya, mengirim surat pun tidak.
Namun sebelum rencana itu terlaksana, ia menerima telegram bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan mewariskan seluruh kekayaan kepadanya. Dia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah orang tuanya untuk mengurus segalanya. Sampai di rumah tempat dia dibesarkan, rasa sedih dan penyesalan yang mendalam bercampur baur di dalam dada. Ketika mulai membereskan surat-surat penting di meja ayahnya, dilihatnya kitab suci Al-Quran hadiah dari almarhum ayahnya masih berada di tempat yang sama ketika dia meletakkan di meja dan lari keluar rumah pada saat itu.
Dengan berlinang air mata diambilnya kitab suci itu dan dibukanya lembar demi lembar. Tiba-tiba sebuah amplop yang tadinya diselipkan di dalam kitab itu jatuh ke lantai.ketika dibuka, isinya adalah sebuah kunci mobil sport dan kwitansi dari showroom mobil mewah dekat kampusnya dulu. Di kwitansi tertulis;DIBAYAR KONTAN,tertanggal sehari sebelum hari wisudanya waktu itu.
……berapa kali kita kehilangan rahmat Allah karena mereka datang tidak dalam bingkisan seperti yang kita harapkan…..

Leave a Comment