Archive for Ada Cinta dariNya

Day 1~Memulai Tisikan Awal Sulaman Cinta

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

Berdiri melihat keretamu berlari menuju Jakarta meninggalkan stasiun ini bersamaku. Teriring lambaian tanganmu di balik jendela dengan bunyi gesekan rel dan roda yang semakin lama semakin terdengar cepat saja.

Entahlah.. rasa-rasanya air mata di pelupuk ini telah menggenang dan tak tahan untuk berebut dilampiaskan. Jika bukan karena malu dilihat orang, tentunya sejak tadi mataku telah basah, merah dan membengkak karenanya..

Terserah orang mau bilang apa, tapi aku sungguh sulit melalui momen ini. Sehingga harus berjalan cepat-cepat menuju pintu taksi yang membawaku pulang agar tak nampak rundung kesedihan yang menggelayuti hatiku.

Tapi, selalu percaya bahwa perpisahan ini hanyalah untuk sementara dan kelak akan ada suatu masa ketika aku kan berada di sisimu, selamanya…

Saat merasa berat, mencoba berpikir bahwa jarak yang jauh terbentang ini bukanlah hanya kita yang punya. ada mereka yang juga merasakan rasa sulit ini, ada mereka yang pula menyimpan kerinduan ini, begitu banyak rupanya yang harus berela hati menitipkan separuh jiwanya di negeri lain..

Sebagian dari mereka telah berhasil melalui masa-masa rumit itu, dan kita pun harus demikian:)

Semoga Allah Menghitung setiap air mata dan rindu ini sebagai pahala.

Semoga Allah Menulis sabar kita ini sebagai ikhtiar di jalan-Nya.

Baik-baik jadi ‘bujangan’ di Jakarta, Cinta.. jangan telat bangun sahur mentang-mentang ga ada adek :D

I Love You…

Leave a Comment

~Ia Tercipta untuk Tegar~

Hmmmm…

sekencang apapun riuh angin menyapa, pohon yg tercipta untuk tegar tak akan rela mencabut akarnya demi menyerah begitu saja…  sebanyak apapun daunnya tergugur, tiada pernah akan membuatnya tumbang dan jera…

ia tak pernah mengerti mengapa Allah memilihnya utk melalui semua ini…  tapi apapun pendapat hatinya, entah ujian, cobaan, ataukah azab…  alih-alih mengeluh ” why it should be me ? ” ia malah berserah dan hanya mengharap… bahwa semoga penghujung dari semua ini hanyalah cinta-Nya semata…

ada yang bertanya, lalu bagaimana jika yang dilaluinya adalah hembusan angin topan skala lima?

jikalau memang ada pohon yang ditakdirkan untuk melalui topan skala lima tentulah ia adalah pohon yang demikian hebat.. karena pohon yang hebat diciptakan untuk menghadapi hal-hal yang hebat…

~Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan…

jika pun pohon itu harus tumbang, siapakah kita yang berani menghakimi bahwa pohon itu telah menyerah dan kalah…

boleh jadi angin membuatnya tumbang untuk membawa sang pohon hidup di tempat lain yang lebih elok dan bermanfaat menyimpankan air untuk hilangkan dahaga makhluk Allah di sekitarnya..

atau boleh jadi pula.. bahwa tumbangnya ia adalah hal yang terbaik baginya karena ia mendapat kebun yang jauh lebih indah di Surga..

~Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak tahu… ^^

Ia Tercipta untuk Tegar...

Ia Tercipta untuk Tegar...

Leave a Comment

Selamat Datang,…. Selamat Jalan,…


Jumat, 24 April 2009. Di bawah Langit Jakarta, dini hari menjelang adzan Shubuh berkumandang.


Ami terbangun dengan semangat. Mata kelat yang biasanya harus berkali mengerjap terlebih dahulu, seketika saja bisa berbinar dengan lincah. Karena sejak malam, Ami telah menantikan pagi ini tiba, Nak.. Seolah Ami memang berfirasat bahwa akan ada tamu agung datang :-) .

Insting keibuan, mungkin itulah pertama kali insting keibuan Ami yang sesungguhnya mulai terekspresi..

Bergegas Ami menyerbu kamar mandi sambil membawa bungkusan biru bertuliskan SENSITIF yang dibeli Ayah sore kemarin di Drug Store dekat kantor. Di antara harap dan cemas, Ami menanti gerakan urin yang merambat perlahan dari ujung stik berukuran 0,5 x 10 cm2 itu,

satu garis merah…… dada Ami makin bergemuruh….. dan.. akhirnya….. DUA garis merah!!

Alhamdulillah…! Subhanallah…!

POSITIF!^_^

POSITIF!^_^

Ami segera berlari ke kamar karena tak sabar ingin kabari Ayah tentang berita gembira yang telah lama kami nantikan ini.”Gimana, Dek?” tanya Ayah pada Ami dengan kerutan harap di dahinya. Sambil menunjukan dua garis merah di stik biru putih tadi, Ami berkata dengan senyum mengembang, ” Selamat Datang, Cinta..”. ^_______^ “Alhamdulillaaaaaaaaah…..” sahut Ayah langsung memeluk erat dan mengecup kening Ami.

Anakku sayang, melalui darah yang Ami alirkan ke dalam tubuhmu, engkau pun mungkin dapat merasakan betapa bahagianya kami saat itu menyambut kehadiranmu.

Allahu Rabbuna,, Nak...

Allahu Rabbuna,, Nak...

Di waktu ter-awal keberadaanmu ini, Ami ingin mengenalkanmu tentang Penciptamu yang Maha Agung, Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Belajarlah bersyukur padaNya senantiasa, Nak. Segala puji hanya bagi Allah, hanyalah atas IjinNya engkau hadir menyempurnakan kehidupan kami…


—————————————————————-

Sabtu, 25 April 2009. Ante Natal Care (ANC) pertama. Di Ruang Tunggu praktek Dr.Eriana Sp.OG yang cantik dan baik hati. Bertiga menikmati indahnya rinai hujan dan semilir angin Kota Surakarta. Ya.. bertiga, Ami, Ayah, dan Kamu dalam rahim Ami, Nak…

Karena sangat bersemangat, malam itu kita datang setengah jam sebelum Bu Dokter cantik itu tiba. Sehingga kita langsung dapat antrian pertama, Nak :-) . Bu Dokter datang tak lama setelah perawat melengkapi identitas Ami dan Ayah termasuk menanyakan keterangan tentang Menarche Ami yang dimulai saat usia 12 tahun, HPMT Ami tanggal 17 Maret 2009, G1AoPo, Menimbang berat badan, dsb. Setelah identitas diisi lengkap, kemudian berkas diberikan pada Bu Dokter.

Seusai Meng-anamnesa, Bu Dokter meminta Ami untuk berbaring dan diperiksa dengan USG. Sudah sangat sering melihat alat itu dan orang yang diperiksa dengannya. tapi kalau Ami yang diperiksa dan diteropong dengan USG? ini baru pengalaman pertama Ami, Nak:-)

4 minggu 6 hari...

4 minggu 6 hari...

Itulah pertama kalinya Ayah dan Ami melihatmu, begitu mungil.. terlelap di dasar kantong gestasi.. Dalam usiamu yang baru 4 minggu 6 hari, engkau telah merapat sempurna dalam rahim Ami.. di bagian yang terbaik di corpus uteri Ami di sebelah kiri..

Sayang, ternyata Bu Dokter cantik itu menemukan sebuah massa yang tergambar hitam bersekat di seberang tempatmu berbaring yang ia duga sebagai kista endometriosis ovarii dekstra berdiameter 5,3 cm.

Dag dig dug Ami mendengarnya, terlebih lagi Ayah. Tapi penjelasan Bu Dokter sangat menenangkan, ia katakan bahwa sepertinya kista ini ada sejak Ami masih gadis. Ami teringat pada materi Endometriosis yang diajarkan oleh Prof. Tedjo bahwa 90% perempuan memiliki kista endometriosis di rahimnya, seringnya terjadi pada perempuan dengan siklus menstruasi yang pendek/teratur dan masa haid yang panjang.

Ia melanjutkan bahwa biasanya perempuan dengan kista akan sulit mengalami pembuahan atau kehamilan, namun Subhanallah dalam kasus Ami, Allah telah Menghadirkan kamu di sini:-), dan dengan adanya kehamilan, kista yang hidup dengan estrogen sebagai nutrisinya akan terdesak dan hilang sendiri karena kalah oleh hormon progesteron yang meningkat pada saat kehamilan. Pada ANC selanjutnya, akan dilihat lagi kista ini apakah sudah hilang atau belum.

Bu Dokter meyakinkan kami bahwa kista ini tidak akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhanmu, jadi kami boleh merasa tenang:-).

Alhamdulillah, Senangnya melihatmu mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.. segala doa untuk kebaikanmu mengalir deras tanpa henti dari mulut dan hati kami, Nak.. semoga sehat dan kuat dirimu bertahan di dalam sana. :-)

* * *

Anakku sayang, kehadiranmu bukan hanya membahagiakan Ayah dan Ami. seluruh keluarga besar Ayah dan Ami pun turut bersuka cita menyambut kedatanganmu. Eyang Kakung dan Putri, orang tua Ami. Njid dan Jiddah, orang tua Ayah. Mbah buyut di Jogja dan Majenang. Tante Zilfa, Om Faza, juga Om kecil Nabhan, adik-adik Ami. Umi Rafie, Bunda Nayla, dan Mama Ayuri, kakak-kakak Ayah.

Ohya Nak, Ada sedikit cerita yang ingin Ami kisahkan padamu. Mengingat Ayah adalah anak bungsu dalam keluarganya, maka Ayah dan Ami sempat bingung sapaan apa yang ingin Ayah dan Ami ajarkan padamu untuk memanggil kami. Kakak pertama Ayah telah memakai Abi dan Umi. Kakak kedua Ayah sudah memilih Ayah dan Bunda. Kakak ketiga Ayah menggunakan Papa dan Mama. Harus kamu tahu bahwa trade mark panggilan itu telah begitu melekat pada diri mereka dan tidak dapat tergantikan, padahal Ami sangat tertarik untuk memilih Umi atau Bunda,hiks^^’.

Hmm,, sebenarnya Ami adalah anak sulung yang berhak memilih apapun karena Ami akan menjadi orang yang pertama memakainya, hehehe. Tapi berhubung Ayah adalah si bungsu yang mendapat ’sisa’ (hehe, piss Ayah!^____^v) maka akhirnya Ayah dan Ami harus sedikit memutar otak^^ dari mulai meng-googling di internet sampai survey ke segala wacana di berbagai media segala istilah yang sekiranya unik dipakai. namun tak ada juga yang kami anggap cocok,Nak.. hehe. what a perfectionist couple we are, Ayah!^______^’.

Setelah berbagai diskusi dengan Ayah, akhirnya kami memilih panggilan ‘Ayah’ untuk Ayah. selain kami menyukainya juga sifatnya lebih umum di keluarga karena yang memakai panggilan Ayah bukan hanya Ayah Nayla, di keluarga Tebet dan Cirebon ada beberapa yang memakainya. Kelarlah sudah satu tugas kami. hei, tunggu. bagaimana dengan Ami??

sampai terhitung berminggu-minggu usiamu Ami masih bingung dan belum juga memutuskan untuk memilih. hingga akhirnya Ami menulis note ini, Ami memutuskan untuk menggunakan ‘Ami’. Unik, bukan?^^.harus Ami akui selain bagi Ami panggilan ini adalah mixing dari ‘Umi dan Bunda’ juga karena ini terinspirasi dari Sinetron yang tak pernah absen Eyang Putri tonton setiap malam di Indosiar, hehe..^______________^’

Anakku tercinta, Semuanya bergembira dan antusias karena engkau datang. Maka berbagai nasihat dan petuah tak henti mengalir dari mereka kepada Ami demi menjaga kesehatanmu dan Ami yang melindungimu. Tidak boleh naik motor dan becak sampai selesai 4 bulan pertama, tidak boleh makan Duren, Soda, Tape, dsb.

Ami tersenyum dan senang mendapat perhatian yang luar biasa seperti ini. Saat menuruti setiap nasihat sepanjang itu baik dan syar’i, sebenarnya yang terpenting bukanlah materi dari nasihat itu karena menurut Ami itu sangat relatif sekali seperti halnya menaiki motor dan becak, hehehe (Kamu harus tahu bahwa Ami adalah Biker sejati, Nak. ^___^),

tapi yang paling utama adalah sejak dini Ami ingin mengajarimu agar engkau paham tentang seni ketaatan pada orang tua, sakralitas dari nasihat mereka, dan ketentraman hati saat bisa membuat mereka berbahagia, semampu yang kita bisa, sepanjang yang kita sanggup.

Mengingat kita dan orang tua berangkat dari generasi berbeda dan dengan pemikiran yang lain pula, maka saat berhadapan dengan mereka, kitalah sebagai yang lebih muda yang harus berperan aktif dengan hati dan pikir yang jernih memfasilitasi jarak ini agar menjadi keselarasan yang dinamis. Saat inilah akhlak menjadi dominan dibanding syariat, Insya Allah suatu saat engkau akan memahaminya, Nak..

Jadilah Anak Shalih yang taat pada Allah dan Rasul Muhammad SAW, pula bermanfaat dan menenangkan hati setiap orang di sekelilingmu^^.

Buah Hati terkasih, tak akan Ami lupa dan Ami membuatmu ingin engkau selalu mengingat bagaimana perhatian dan bantuan teman-teman terbaik Ayah dan Ami yang membantu secara moril dan fisik untuk kita bertiga. dari berbagai simpati yang mereka sampaikan setiap hari, sampai yang paling luar biasa adalah teman-teman Ami di Solo yang menjaga kamu dan Ami demikian hati-hati. Karena Ayah harus berjuang mencari nafkah di Jakarta sana, maka kecuali di akhir pekan, peran SIAGA nya digantikan oleh teman-teman dekat Ami yang baik hati itu.

Tante Nita, Tante Aster, Om Ary, Om Arifin, dan Tante Dina yang di tengah kesibukan koas mereka rela berpanas-panas mencari kontrakan yang pas dan cocok untuk Ami. Mereka yang selalu mengantar Ami kemana-mana sampai harus jauh-jauh bolak-balik kos-kontrakan Ami untuk menemani Ami yang sendirian di rumah. Membelikan makan yang paling Ami inginkan. dari nasi padang sampai rujak cingur, hehe. What a great friends, You are all guys!

Bukan hanya mereka, ada Tante Ajeng dan Tante Jeje yang mengantar Ami untuk tes TORCH di Lab Budi Sehat. Tante Moya dan Tante Shaumy yang jauh-jauh belikan Empek2 Bu Kamto sepulang dari Jogja. Tante Tyas yang menginap di rumah Ami dan membawakan Kebab Turki Baba Rafi pesanan Ami, hehe. Rekan-rekan koass Ami di stase Bedah juga tak sedikit berperan. Mereka sangat membantu, Nak.. terlalu banyak dan berarti sampai Ami tak mampu sebutkan mereka satu persatu.

Betapa beruntungnya kamu, Nak. Alhamdulillah..

Jadilah orang yang mudah berterima kasih dan menghargai setiap orang yang mencintaimu, agar hatimu menjadi peka dengan kebaikan dan cinta sehingga dapat menjadikannya cahaya menerangi sekitarmu..

Sayang, hadirmu dan semua atensi cinta ini, membuat Ami bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagimu. meski menjelang akhir minggu ke-8 Ami mulai merasakan mual sepanjang hari terlebih di kala bangun tidur dan menjelang maghrib, Ami terus memaksakan diri untuk meminum susu dan nutrisi ibu hamil di trimester pertama. Memakan makanan selengkap mungkin 3 kali sehari meski setelahnya harus menahan mual yang sangat. Semakin bertambah usiamu, Ami mulai kepayahan, pusing dan muntah-muntah air menghiasi hari-hari Ami. Pokoknya begitu Ami pulang dari rumah sakit, Ami langsung beristirahat seoptimal mungkin demi menjaga stamina.

Hmm,, sayangku.. meski kepayahan, tapi ini adalah kepayahan yang membahagiakan, sehingga Ami merasakannya dengan suka cita^_^

—————————————————————-

Selasa, 19 Mei 2009. seminggu menjelang ANC kedua.


Sepulang dari Poli Bedah, seperti biasa Ami langsung pulang. sebelum tidur siang, Ami terlebih dahulu ke kamar mandi untuk buang air kecil karena akhir- akhir ini Ami sudah mulai sering merasakan kandung kemih Ami cepat penuh. ketika di kamar mandi, tiba-tiba, Ami menemukan spotting kecil sepanjang 1 cm.

Ya Allah, Nak.. Ami panik sekali dan langsung menelpon Ayah, dan siapapun yang bisa memberi saran. ketika Eyang Putri katakan asal jangan bleeding yang deras dan merah segar, Ami sedikit lega. Eyang Putri katakan Ami cukup beristirahat saja. Namun Ayah meminta Ami untuk kontrol ke dokter pada sore harinya.

Segeralah sore itu Ami berangkat ke dokter ditemani oleh tante Aster. Setibanya di sana, Bu dokter langsung memeriksa kondisimu melalui USG. Alhamdulillah, nak.. bu dokter katakan kamu baik-baik saja. bahkan kista yang pada ANC pertama dulu bercokol di ovarium kanan Ami saat ini telah hilang. bukan hanya itu, Bu dokter mengatakan bahwa pendar detak jantungmu telah terlihat di USG. Syukurlah, Nak.. Ami lega sekali.. :-)

—————————————————————-

Sabtu, 23 Mei 2009, Ayah tiba dari Jakarta.


Sejak spotting 5 hari yang lalu, Ayah begitu resah dan ingin segera menemui kita di Solo, Nak. dan akhirnya, pagi ini Ayah tiba juga. Kita bertiga berpeluk melepas rindu. Seminggu tak bertemu seolah terasa sewindu. Melihat wajah Ayah serupa penawar gundah dan resah yang menghabiskan tenaga Ami karena kesibukan dan berbagai permasalahan Ami di stase Bedah yang rupanya cukup pelik.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan mencari dokter lain untuk second opinion. bukan karena apa-apa, tapi lebih karena ingin mencari kelegaan hati dan mencari pendapat dari ahli yang lain.

Malam itu juga, sama seperti yang sudah-sudah, di tengah gerimis, taksi yang kita naiki menembus malam kota Surakarta menuju tempat praktek Dr. Tri Budi Sp.OG. Alhamdulillah begitu kita datang, baru saja ruangan itu kosong sehingga kita bisa langsung menemui Pak Dokter.

Sama seperti yang sebelumnya, Pak Dokter mulai meng-anamnesa dan memeriksa kondisimu melalui USG. Yang paling menarik untuk kami adalah Pak Dokter yang bersahaja dan kebapakan ini menyambut pertanyaan Ayah dan Ami dengan bijak dan penuh kesabaran, segala hal yang Ayah dan Ami konsulkan dapat beliau jelaskan dengan detail dan terang sehingga Ayah dan Ami merasakan pencerahan, terlebih memang, saat itu Ayah dan Ami tengah bimbang tentang apakah sebaiknya Ami melanjutkan koass ini mengingat Ami telah menjalani stase bedah sampai separuh jalan, ataukah Ami hendaknya cuti karena sepertinya Ami butuh ketenangan, istirahat, dan juga kehadiran Ayah selalu di sisi Ami sebagai dukungan psikologis.

Pak Dokter mengatakan:

“Kalau bagi saya, kehadiran anak ini adalah amanah. karena amanah, maka saya akan berusaha menjaganya seoptimal yang saya bisa. kita tidak akan pernah tahu apakah akhirnya nanti, tapi paling tidak ada ikhtiar optimalnya. dalam kondisi ini memang harus memilih, dan dalam setiap pilihan memang ada yang harus dikorbankan.”

Ajaib, entah kenapa kata-kata Pak Dokter saat itu begitu saja membuat Ayah dan Ami seketika mantap dengan pilihan untuk cuti dulu dari kegiatan koass dan pulang ke Jakarta sampai usia kamu genap 5 bulan yang pada saat itu proses penancapan plasenta telah selesai dan kamu siap kembali Ami ajak beraktivitas.

Entahlah, sebenarnya tak ada kata-kata atau persepsi baru dalam muatan nasihat Pak Dokter bersahaja tadi, tapi mungkin petuahnya itulah yang memperkuat ghirah Ayah dan Ami untuk memberatkan timbangan pada satu pilihan.

Jika Allah berkehendak untuk memberi petunjuk pada hambaNya, maka tidak ada sesuatupun yang mampu menghalangi petunjuk itu untuk sampai kepadanya…

—————————————————————-

Senin,25 Mei 2009, Argo lawu mengantar Ami kembali pulang ke Jakarta.

ArgoLawu_eksterior2

Sampai Ami menulis paragraf ini, tak ada sedikit pun penyesalan di hati Ami telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari koass sementara waktu dan memilih untuk menghabiskan waktu denganmu sebanyak yang Ami bisa..

-sama sekali tidak menyesal… -

Yang tersisa hanyalah kelegaan. sungguh Ami merasa sangat lega telah mengambil keputusan ini. Insya Allah inilah yang terbaik bagi kita, Nak. Hm, Ami bahagia sekali,, Kita akan berkumpul dengan keluarga dan menikmati indahnya menjadi saksi setiap detik tumbuh kembangmu bersama Ayah dan juga mereka yang Ayah dan Ami cintai,,

—————————————————————-

Selasa, 26 Mei 2009, di Rumah Mereka yang tercinta…

Home Sweet Home

Home Sweet Home

Menenangkan, sungguh tentram berada di samping Bunda, terlebih di saat-saat membutuhkan perhatian optimal seperti ini.

Bunda, bahkan di saat aku telah beranjak tak lagi muda, masih saja tak hentinya diri ini merepotkanmu.

bahkan di kala aku telah bersuami dan seharusnya tak lagi membebani, aku masih saja butuh belaimu..

bahkan di saat aku mengandung dan akan segera memberimu cucu, masih saja aku butuh bantuanmu..

Bunda,, kasihmu takkan pernah lekang oleh waktu

sayangmu selalu menghangatkanku kapan pun itu..

meski kadang terhalang gengsi tuk ucapkan, sungguh tak ingin aku menyesal seumur hidupku jika tak pernah kusampaikan padamu bahwa aku sangat mencintaimu…

—————————————————————-

Sabtu, 30 Mei 2009, Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta Pusat

RSIA Bunda

RSIA Bunda

Hujan lagi, Nak.. setiap Ami kontrol Dokter untuk memantau kondisimu, pasti rinai hujan dan bau tanah basah yang sangat Ami sukai itu turut mengiringi. Menemani setiap langkah antusias Ami menyaksikan dirimu yang semakin hari semakin mendekat dalam dekapan Ami.

Bersama Eyang kakung dan Ayah, Ami menunggu antrian. Kali ini, Eyang kakung memilihkan Dr.Noroyono Wibowo, Sp.OG(K) yang rupanya salah satu dokter ahli senior di Jakarta. Dokter hebat yang juga direkomendasikan karena kepiawaiannya mendiagnosis oleh Bu Dokter yang menangani kita di Solo.

Benar saja, Nak.. hanya dengan sekali melihat gambaran kondisimu dari layar USG, beliau langsung memvonis bahwa telah sejak sepekan lalu perkembanganmu berhenti.

Beliau katakan, Engkau….. telah meninggal, Nak..

Innalillah wa inna ilaihi raaji’uun..

hanya seperti itulah kalimat yang sanggup Ayah dan Ami katakan dengan hampir bersamaan.

Mencoba tampak tegar, Ami dan Ayah mendengar penjelasan dari Dokter tentang kondisi kamu saat ini. Dokter katakan bahwa ada gambaran edema atau penimbunan cairan di bagian kepala dan badanmu dan denyut jantungmu tidak lagi bisa terdengar, karena Tes TORCH Ami negatif sehingga kemungkinan infeksi bisa disingkirkan dan juga tidak ada abortus spontan berupa perdarahan, beliau menduga ini adalah hidrop fetalis yang biasanya disebabkan karena kelainan Hematologi, kemungkinan adalah Thalassemia yang diturunkan dari orang tua.

Dhuaaar! Petir menggelegar, Thalassemia?? bagaimana mungkin.. secara genetis keluarga besar Ayah dan Ami tidak ada yang pernah menderita Thalassemia. Untuk memastikan, dokter membuatkan pengantar laboratorium untuk memeriksa darah Ami dan Ayah agar bisa melihat apakah ada kelainan dalam pembekuan darah sebagai salah satu marker Thalassemia.

Pulang dengan segala gundah, meski tampak terkendali. Ayah menenangkan Ami dalam pelukannya di sepanjang perjalanan. Bagaimana ini, kemarin kamu masih tampak baik-baik saja. bahkan tadi pun Ami melihat, tubuhmu telah terbentuk dengan sempurna.

wajahmu.. hidungmu.. matamu.. tanganmu.. kakimu.. semuanya telah lengkap kau miliki, Sayang…

Ayah, Ami merasa anak kita masih ada dan hidup di dalam sini..

dia hanya sedang lelap tertidur menikmati hangatnya rahim Ami di tubuhnya karenanya dia tak memberi respon apapun..

Lihatlah Ayah, perut Ami masih membesar dan masih melindungi ia dengan aman..

Ami masih merasakan mual-mual itu..

Ami masih rasakan pusing-pusing itu..

Anak kita baik-baik saja, Ayah.. dia masih hadir di tengah kita.. Ayah,

Ami tidak ingin begitu saja ia divonis meninggal…

—————————————————————-

Rabu, 3 Juni 2009. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat.

RSAB Harapan Kita

RSAB Harapan Kita

Senin lalu, hasil laboratorium sudah bisa diambil. setelah melihat hasilnya, Alhamdulillah baik Ayah maupun Ami tidak ada yang membawa sifat/carier Thalassemia. Hmmpppfff….syukurlah. berarti harus berikhtiar lagi untuk mencari tahu penyebab yg lain..

Anakku, semua masih optimis akan kondisimu, bukankah dengan kehendak Allah apapun bisa terjadi? Ami mengakui, Pak Dokter yang kemarin memang sangat pintar dan mendiagnosa dengan baik sesuai tanda-tanda yang kamu tunjukkan di layar USG,

tapi… tak bolehkah Ami berharap lain,,, sepintar apapun.. manusia adalah tempatnya lupa.. maka boleh kan jika sesekali Pak Dokter pintar itu melakukan kesalahan? sekali saja.. Ami berharap beliau salah..

Dengan sigap Eyang kakung menghubungi rekan-rekan seprofesi yang bisa ia kontak untuk mencari second opinion. Sempat muncul beberapa nama seperti Prof. Bambang Karsono, Sp.OG(K) di YPK Jalan Theresia, namun ternyata pasien beliau harus mengantri sebulan sebelumnya, hiks. laris sekali rupanya. lalu ada rekomendasi dari rekan Eyang di RSPAD Gatot Subroto kepada Dr.Nurwansyah Sp.OG di RSAB Harapan Kita. Akhirnya Eyang Kakung memilih RSAB Harapan Kita.

Sesampainya di rumah sakit, ternyata Dr.Nurwansyah Sp.OG sudah lama tidak berpraktek di sana dan pasiennya di rumah sakit ini ditangani Dr.Irvan Adenin Sp.OG. dengan beliau-lah akhirnya Ami berkonsultasi. Ami kembali berbaring untuk diperiksa. Harap-harap cemas, Ami dan Ayah mencoba menebak apa yang akan muncul dalam layar monitor mesin USG. Ami pasrah, Nak.. Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon pertolongan…

Ruangan itu senyap.

Ami menanti.. menanti denyut jantungmu kembali terdengar..

Ayolah Nak.. berjuanglah…

Ami melihat di layar, ukuran panjangmu hanya 2, 6 cm.. itu adalah ukuran untuk janin berumur 9 minggu 6 hari, Nak.. sedangkan usiamu sekarang adalah 11 minggu 1 hari.. seharusnya panjangmu adalah 7, 7 cm..

Ami berharap Ami salah melihat.. Ami salah menghitung.. Ami tidak memakai kaca mata minus Ami, karenanya yang Ami lihat lebih kecil daripada ukuran yang sebenarnya kan Nak? katakan lah Ami hanya salah melihat…

tapi tetap sunyi.

Ayah, Ami, Eyang Kakung, dan Pak Dokter Irvan yang ada di sini,, tidak ada seorang pun yang bisa mendengar detakmu….. ukuranmu pun tetap seperti apa yang Ami lihat, engkau tak kunjung memanjang seperti yang Ami harapkan…

selesai Nak.

usai sudah…. kesenyapan itu telah menjawabnya,,, sebelum Pak Dokter menjelaskan apapun, Ami telah mengerti apa kesimpulannya.. Ami sudah paham apa yang terjadi.. Ayah memandang Ami mencari jawaban, dalam tatapannya Ami membaca bahwa Ayah ingin mendapatkan dukungan bahwa entah apa yang Ayah simpulkan di dalam hatinya itu tidak benar bukan?

Maaf, Ayah.. tapi itu memang benar…

Anak kita telah wafat…

Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…

—————————————————————-

Kamis, 4 Juni 2009. Di Kamar menjelang tidur, beberapa jam sampai tiba menyapa pagi sebelum esok melepasmu pergi ..

Awalnya, Ami tak ingin ada air mata.. tapi… seusai menerima telpon Jiddah ba’da Isya tadi, Ami tak mampu lagi menahan derainya. Jiddah sangat kehilanganmu, Nak.. isaknya begitu memilukan hati Ami.

Maafkan saya Mama, Maafkan karena mama harus kehilangan cucu dari putra tercinta bahkan sebelum genap Mama menyaksikan kehadirannya…

stronging each other...

stronging each other...

Ayah menyeka air mata yang tak henti jatuh dari pelupuk Ami meski pipinya pun basah.. Mendekap erat Ami demi berikan kehangatan dan ketenangan yang sesungguhnya juga sedang Ayah butuhkan..

Dalam pelukan, kami saling menguatkan…

Malam ini.. adalah saat terakhir Ayah dan Ami bersamamu,

sambil mengelus perut Ami, Ayah berharap getaran belainya masih bisa sampaikan pesan padamu bahwa kami sangat menyayangimu agar kamu dapat mengingatnya selamanya…

Insya Allah, kami ikhlas dengan kepergianmu, Nak..

Tak ada yang bisa mencegah jika Allah telah Berkehendak…

Ayah dan Ami yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita bertiga..

Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak tahu,

hanyalah keyakinan akan qadar-Nya yang tersisa, sehingga hati ini dapat lapang untuk membuka tabir hamparan hikmah yang disampaikanNya..

—————————————————————-

Jumat, 5 Juni 2009, Di ruang tindakan kuretase, RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat.

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

Tepat Pukul 10 Pagi,

Ami terbaring dengan baju operasi hijau itu, Ami telah siap melepasmu, Nak.. Dokter Anestesi menyapa Ami dengan hangat, para perawat mempersiapkan alat-alat kuret dengan sigap. Pak Dokter Irvan datang dan mengucap salam pada Ami. tak lama setelah dokter anestesi memasukkan cairan pentotal ke pembuluh darah Ami, Ami mulai merasakan kesadaran Ami menurun, rupanya cepat sekali efek obat bius ini, belum genap hitungan menit Ami sudah tertidur.

Pukul 10.30,

Ami terbangun. rupanya proses kuretase telah selesai, Ami dipindahkan dari ruang tindakan ke ruang perawatan pasca tindakan. sudah ada Ayah di samping Ami. perawat datang mengantarkan hasil kuret di dalam botol bulat transparan. Ada kamu di situ, Nak.. tidak lagi di rahim Ami.. karena sudah dikuret, bentukmu tak tampak lagi seperti waktu di dalam.. hanya terlihat sebatas jaringan-jaringan tubuh yang terendam darah dan larutan fisiologis NaCl..

Pukul 13.00,

waktunya Ami dan Ayah meninggalkanmu di sini ya, Nak.. dokter ahli akan memeriksa jaringanmu untuk keterangan patologi anatomi-mu. . . . .

11 minggu 6 hari...

11 minggu 3 hari...

Di Jumat yang mulia engkau datang kepada kami,

dan di hari Jumat yang agung pula engkau pergi meninggalkan kami,

11 minggu 3 hari bersamamu,

menjadi waktu terlama dalam hidup kami terlebih di minggu-minggu terakhir saat menjelang kepergianmu..

11 minggu 3 hari denganmu,

menjadi waktu tersingkat yang pernah kami rasakan dalam hidup kami, saat mengingat rasa bahagia dan suka cita ketika menyambutmu hadir, terlebih di minggu-minggu pertama kedatanganmu..

Engkaulah kenangan terindah yang takkan pernah Ami dan Ayah lupakan

Kami sangat bangga engkau tersanding menjadi bagian dari perjalanan cinta kami..

Dinda-dindamu kelak akan mengingatmu sebagai kakanda yang kan selalu ada di tengah-tengah mereka, meski hanya dalam kata dan cerita..

Sayang.. Ami dan Ayah akan selalu merindukanmu..

kami percaya, kepergianmu bukan semata-mata hampa makna..

Engkaulah pahlawan bagi kami, yang mengajarkan kami berbagai ilmu berharga dan penuh hikmah..

Insya Allah semoga Allah mencatatmu sebagai penggugur dosa-dosa yang telah Ami dan Ayah lakukan

Kehadiranmu.. pula kepergianmu.. semoga memberi pencerahan bagi siapapun yang bisa mengambil manfaat.. Alhamdulillah.. Subhanallah.. Allahu Akbar..

Milladunnaa ‘ilmaa.

Hanya dari sisi Kami-lah pengetahuan tentangnya berada. itulah namamu..

Pulanglah, Nak.. Kembalilah ke sisiNya.

Kelak, Sambutlah kami dengan senyum terindahmu di pintu Jannah-Nya…

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan…

***

Dalam Kebahagiaan, manusia tidak akan mampu bersyukur ketika dia tidak bersabar

Dalam Kesedihan, manusia tidak akan mampu bersabar ketika dia tidak bersyukur

sungguhlah ada batas yang tak bersekat antara Sabar dan Syukur itu..


Semoga Allah Menjadikan kita bagian dari Orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam menjalankan setiap elegi cintaNya..

Aamiin….

Jakarta, 7 Juni 2009

Tanpa Editing, belum sanggup baca lagi euy! hehe

tulisan yang mengalir begitu saja, jadi maap-maap kalo ada salah tulis, salah EYD, nada-nada kalimat yang kurang merdu dan ada feel kalimat yang kurang maknyus.. hehe.

Semoga bermanfaat. ^____________^

P.S:

beberapa kali menyebutkan nama dokter dan rumah sakit tertentu, semoga ga dipenjara sayah,, heuheuu.. kan ga ngejelek2in ato memfitnah tho?^_________________^

Comments (6)

DiOrAmA AfRa MaiSyA

Terinspirasi dari perjalanan indah seorang ukhti, sahabatku yang baik, yang kini sedang berbahagia hidup bersanding dengan suami yang sangat menyayangi dan disayanginya

Terimakasih telah berbagi… ^_^

Aku menyibak perlahan gordyn tebal di sisi kiriku. Titik-titik hujan yang bersisa di atas kaca jendela tampak terseret lemah oleh kencangnya angin yang melawan arah laju ular bermesin ini. Syukurlah bunyi gerbong kereta yang bersahutan terdengar begitu keras sehingga menyamarkan teriakan hatiku yang sejak pagi tadi sangat gelisah entah mengapa.

Hpffpff….aku mendesah, mataku menerawang jauh kearah langit yang gelap sekali malam ini, tapi sayangnya aku hanya menemui sepi, padahal aku masih berharap ada satu saja bintang yang mau menemaniku yang sedari tadi tak bisa juga memejamkan mata. Astaghfirullahal’adhiim, aku beristighfar cepat-cepat sebelum malaikat mencatat kelalaianku yang telah menghembuskan napas keluhan akan beban yang seketika saja tadi terasa berat di pundakku, aku harus kuat!

Dan lantunan dzikir deras mengalir dari bibirku…

Hari ini juga ibu memintaku pulang, beliau memohon padaku untuk tidak beralasan macam-macam lagi demi menolak permintaannya, kali ini aku memang harus benar-benar pulang.

Yaah, sepertinya permintaan ibu ini sangat tidak berlebihan. Sudah setahun lebih tepatnya sejak peristiwa itu berlalu, aku memang sengaja menyibukkan diriku, dari mulai materi kuliahku yang luar biasa banyak, sampai kegiatan organisasi kampus yang tidak pernah berhenti. Bakti Sosial di desa terpencil, khitanan masal, pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, privat macam-macam, training ini itu,pengajian sana sini, sampai mengurusi adik-adik asuhku di Panti Asuhan Al-Fataa. Semuanya sangat menyita waktu, atau lebih tepatnya aku ingin itu semua menyita waktuku. Sampai-sampai aku tak sempat pulang bahkan di hari lebaran karena aku mendapat giliran jaga posko kesehatan mudik di stasiun kota, alhasil aku hanya bisa sungkem dengan Bapak, Ibu dan Mas Dimas kakaku satu-satunya melalui telepon seluler. Jadi, wajar saja jika ibu sangat merindukanku, dan jujur… sebenarnya aku pun sangat merindukannya, di tengah beratnya hari-hari yang kulalui selama ini aku sungguh ingin merasakan hangat peluknya yang menentramkan itu, menikmati tiap rasa aman yang hadir di setiap belainya,…alangkah indahnya… tapi aku tidak ingin tampak lemah, aku bukanlah akhwat lemah yang tumbang begitu saja hanya karena tiupan angin, atau merengek seperti bayi hanya karena cubitan kecil. Aku bukannya menyangkal setiap orang punya sisi lemah, tapi paling tidak aku tidak ingin seorangpun melihat saat aku menjadi lemah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Penolongku…

Ah…peristiwa itu, lagi-lagi kenangan itu terekam ulang di kepalaku, kenapa aku masih saja merasakan luka saat mengingatnya. Apakah hati ini masih belum ikhlas menerima qadarMu Ya Allah. Sungguh Aku tak bermaksud begitu Allah, tapi kadang otak kita memang tidak bisa membuang sebuah memori yang sangat berkesan dalam hidup tuannya, terlebih lagi jika bersamaan dengan hadirnya seperti ada kelu menyerang hati sehingga terasa begitu sesak sekali.

* * * * *

Mas Uza,,,pria yang hampir saja menjadi suamiku itu adalah satu-satunya Residen Bedah Jantung dan Pembuluh yang ada di Rumah Sakit Daerah di
kotatempat tinggalku. Namanya sangat dikenal oleh dokter-dokter muda karena ketrampilan bedahnya yang luar biasa, juga oleh perawat-perawat rumah sakit karena ketampanan wajahnya, usia yang terbilang muda tak membuat dokter-dokter senior pun urung menyeganinya. Seperti semua itu belum cukup, ia juga aktif mengisi ceramah keagamaan di event apa saja, kezuhudan dan kealimannya sudah terdengar di telinga setiap orang termasuk telinga pamanku yang sama-sama menjadi aktifis kesehatan di sebuah non government organization dengannya.

Sore itu aku ditelepon Bapak saat aku sedang mengetik bahan presentasi mata kuliah Radiologi di kamar kosku.

“Afra, akhir minggu ini kamu pulang ya…Bapak dan Ibu ingin membicarakan hal penting denganmu” kata Bapak pelan.

Adaapa tho pak, sepertinya mendesak sekali, apa ndhak bisa kita bicarakan ditelepon saja…lagi pula Jogja-Surabaya

kan

lumayan jauh, saya khawatir Cuma bisa di rumah sebentar saja” ucapku mencoba meyakinkan.

“ini ndhak bisa Bapak sampaikan lewat telepon, ndhak papa walau Cuma sebentar, sing penting muliho sik nduk...” katanya yang tak lagi bernada penawaran tapi sudah perintah.

nggih pun Pak, mungkin saya baru bisa berangkat dari Jogja Jum’at sore, tapi minggu malam saya harus sudah sampai di Jogja lagi” ujarku memastikan.

“Ya sudah, sampai ketemu di rumah ya Fra… Hati-hati di jalan… jangan sembrono,…wassalamualaikum” katanya sambil menutup sambungan.

* * * * *

“Ini lho Fra fotonya…”ucap paman menyodorkan dua lembar foto ukuran postcard sambil tersenyum menggoda, lalu ia mulai mempromosikan pria yang ada dalam foto itu dengan semangat kepadaku.

“Wah orang hebat begitu, apa iya dia-nya mau sama saya tho Pak Lik…” kataku ragu sambil mengamati foto pria bertubuh jangkung itu, aku tersenyum…keren juga!weits…!Astaghfirullah…he2..he2…

“aduh nduk, kok pertanyaanmu kayak orang ndhak punya iman saja, sehebat apapun…setidak hebat apapun…kalo sudah jodohnya ya ndhak bakal kemana tho…”ujar ibu memprotes. Aku tersipu, sebenarnya aku sangat paham teori itu, dan pertanyaanku itu hanyalah retorika belaka, maklum lah…aku bingung mau ngomong apa saking bahagianya.

“betul ibumu bilang, dicoba saja dulu kanndhak ada salahnya, urusan akhirnya bagaimana

kan

sudah diatur Allah” kata bapak menimpali.

“Memangnya beliau sudah tahu tentang ini Pak Lik?” tanyaku menyelidik.

“Sudah Fra, Pak Lik sudah bilang, memang dia sedang berencana menikah dekat-dekat ini, mungkin tahun depan, tapi memang belum ada calonnya, dia belum mencari, yoo wis aku langsung mengajukan kamu Fra…dan dia setuju saja”sahut paman menjelaskan, aku mengangguk paham.

“yaa..Saya sih…gimana dawuh Bapak dan Ibu saja…” kataku malu-malu.

* * * * *

Minggu malam aku sudah ada di Jogja, paman memintaku untuk segera membuat curriculum vitae untuk diserahkan pada Fauza Ahmada, nama pria itu. Jadwal esok senin-nya padat sekali, aku memeriksa agendaku kembali, hmm…aku hanya bisa menyusun biodataku disela-sela perjalanan diantara jadwalku, atau selepas shalat dhuhur nanti. Sangat tidak kondusif, untuk hal seperti ini aku butuh banyak waktu. Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakannya senin malam saja selepas pengajian di masjid kampus.

Ya Allah, secepat inikah proses itu akan segera kujalani? Sangat tidak terduga sekali. Memang akhir-akhir ini pembahasan tentang pernikahan sering terdengar di telingaku, dari mulai teman-teman akhwat yang ramai membahasnya, buku-buku nikah yang menjamur jadi best seller membuat semua orang latah berbicara tentang menikah, sampai Ustadz Yusuf di pengajian kamis pagi tidak mau kalah dengan membahas tentang Fiqhul Munakahaat bulan ini. Pusing aku mendengarnya, setiap kata ‘nikah’ itu tertangkap nervus auditoriusku, tiba-tiba ada kegelisahan yang melanda, entah apa yang aku khawatirkan, antara ingin dan cemas. Dan sekarang ketika jalan menuju itu benar-benar membentang dihadapanku, aku menjadi semakin bingung, antara bersemangat, bahagia, dan ketakutan…

Di sepertiga malam diri ini merajuk, membasahi peraduan dengan air mata pinta dan pasrah yang tak terkira, memohon cahayaNya tuk sinari ketidaktahuan diri agar tertunjuki pada ridhaNya semata…

Allahumma in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada khairun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Faqdurhu Lii wa yassirhu Lii Tsumma baarik Lii Fii hii

Wa in kunta ta’lamu anna Fauza Ahmada syarrun Lii Fii Diini wa Dunya wa Ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, Fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu waqdiru Lii al-khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinii bihii…

* * * * *

Dua minggu kemudian aku menerima biodatanya, tentunya sekarang Mas Uza-begitu paman ingin aku memanggilnya-juga sudah menerima biodataku. Merinding aku membaca curriculum vitae sekeren itu, ternyata beliau lebih hebat dari yang aku perkirakan, selain deretan kehebatan duniawi, dia juga seorang hafidz yang hafal lebih dari sepertiga juz al-quran, subhanallah…dadaku semakin bergemuruh.

Dua sampai tiga bulan berlalu, namanya pun semakin bergaung di telingaku, aku mendapatkan banyak cerita tentangnya dari teman-temanku di Surabaya yang menjadi mahasiswanya di fakultas kedokteran.

Lambat laun bahkan sebelum wajah ini saling bertatap muka, bulir-bulir cinta telah menghinggapi hatiku, semakin sering aku mendengar cerita tentangnya, semakin pula simpati dan jatuh cinta ini menjangkiti. Diriku semakin gede rasa, timbul harapan-harapan membahayakan yang sungguh sulit sekali kutepis, aku hamba yang mengimaniNya ingin bisa mengendalikan diri…tapi aku pun manusia…punya rasa punya hati…pria hebat ini…aku yang seperti ini…berkesempatan menjadi calon pendampingnya,,, yang benar saja!Ya Allah…ujian!Kuatkan aku Allah…!

* * * * *

tiga setengah bulan sudah sejak Bapak memanggilku pulang dulu. Senja hari selepas mengajar privat anak SMU yang tinggal di seberang kosku, aku kembali ke kamar dan bersiap-siap mandi. Ketika kaki ini hendak melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba HP-ku di atas meja bergetar mengabariku ada sebuah pesan singkat yang masuk. Langkahku terhenti dan berniat untuk membukanya…tapi Ah nanti saja kubuka pikirku dan segera masuk tuk menikmati kucuran shower yang sudah kurindukan sejak siang hari yang menyengat tadi.

“supaya kalian tidak berduka atas apa yang luput dari kalian dan supaya kalian jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan Allah kepada kalian. Allah tidak menyukai setiap yang sombong lagi membanggakan diri”

begitulah Al-Quran mengajariku di akhir tilawah ba’da maghribku kali ini. Maha Benar Engkau Yaa Allah dengan segala firmanMu…aku tergugu, tak tersadar air mataku meleleh pilu. Ampuni aku Allah…Lindungi aku…

perlahan kututup mushaf dan melipat mukenaku. Aku jadi teringat ada sms datang sore tadi. Segera saja kuraih HP-ku dari atas meja.

1 message received

“AssalamualaikumWrWb, menurut Dik Afra mengapa Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan?_UZA”

Dueeeenggg!!what???aku membaca ulang sms itu, kuperiksa lagi nama si pengirim yang dicantumkan di akhir pesan. Setelah kubaca berulang-ulang nama itu tetap tidak berubah seperti saat awal aku membacanya, nama itu tetap tertulis UZA. Ya Allah…tubuhku lemas seketika, aku terduduk di atas ranjangku sambil mengucurkan segelas air putih dari dalam teko yang memang selalu kusediakan di meja tidur. Kubaca lagi pesan singkat itu, kali ini lebih kukonsentrasikan pada pertanyaannya. Hmm, apa maksudnya bertanya hal ini kepadaku, tentunya aku boleh curiga
kankalau ini bukan hanya sekedar pertanyaan, dari sekian banyak orang di sekitarnya yang lebih mahir untuk menjawab pertanyaan semacam itu, kenapa harus aku yang ditanyanya, aku tersipu sendiri. Kemudian mulai kutulis balasan pesannya:

“WaalaikumsalamWrWb. karena waktu adalah kehidupan. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan yang dibangun dari sisi amal dan kebajikan yang dibiasakan dan kemudian menjadikannya semakin beriman”

message sent


limamenit kutunggu balasan masuk tapi tidak datang juga hingga ada yang berkumandang, adzan isya. Segera kuletakkan HP-ku dan mengambil wudhu. Kunikmati sejuknya air yang menyusup di setiap pori-pori kulitku.

Ya Allah…jadikanlah aku bagian dari golongan hamba-hambaMu yang senantiasa Bertaubat dan Membersihkan diri…

* * * * *

tiga minggu berlalu sejak sms yang mengagetkan itu datang. Bayang, khayal dan kenyataan semakin membuatku tak kuasa menahan riak-riak rasa yang deras menyambang. Bagaimana ini, kadang ingin rasanya merajam cinta yang tak sopan tumbuh berlebihan sesuka hati, padahal Allah, sebenarnya…aku sadari, semua ini belum berarti apa-apa… belum ada janji, belum ada ikrar, belum ada kata-kata pasti, tetapi mengapa aku telah berharap banyak…mengapa aku telah jatuh cinta sedalam ini…bagaimana jika ini hanya anganku saja…bagaimana jika ini hanya impianku belaka, bagaimana jika aku nanti kecewa…bagaimana jika akhirnya semua ini menyakitiku…

sungguh berkali-kali kuminta padaMu tolonglah aku…jangan kucilkan aku dari hamba-hamba shalihMu karena rasa yang seperti ini…

namun seperti tak mengerti kegalauan hati, pesan singkat yang lain datang kembali…

1 message received

“Assalamu’alaikumWrWb. Dik Afra, Istrinya Mas Dimas itu dinas di Jakartaya?Kemarin saya kebetulan bertemu di sebuah seminar di

Jakarta

, beliau partner saya dalam sebuah proyek, pas ngobrol-ngobrol ternyata ipar Dik Afra…UZA” mataku langsung membelalak tak percaya, Mas Uza?pesan singkat seperti ini?lho,kenapa aku harus heran, memangnya kenapa, wajar
kan, pertanyaan seperti ini bisa ditujukan pada siapapun, ah sudahlah…janganlah terlampau senang, tanggapi ini dengan sewajarnya…tapi diam-diam ada yang menggelitik lesung pipitku, membuat seolah ada kupu-kupu yang mengepak sayap dalam perutku.

Sejak saat itu, paling tidak walau tak terlalu sering semakin banyak pertanyaan dan jawaban yang dikirimkan, katakan padaku teman…apakah kemudian salah jika aku menjadi semakin jatuh cinta, apakah tak wajar jika harapan-harapan itu begitu tampak nyata di depanku…

kadangkala aku menyesal mengapa begitu terlena, dimanakah letak kepasrahan yang selama ini kuatasnamakan? Ya Allah…katakan padaku…bagaimanakah Engkau Mendefinisikan hal ini…Bagaimanakah Engkau Menyebutnya…cobaan, ujian, azab, ataukah jawaban?? bukakanlah tabir itu untukku Kasihku…Terangkanlah bagiku kesamarannya…agar ku tak semakin terpuruk…Sayangilah aku…dan mohon Beri aku kekuatan yang lebih dari biasanya….

(to be continued…)

* * * * *

Hingga sore bersejarah itu pun tiba. Sebuah percakapan yang kuanggap sebagai sinyal dari Allah atas jawaban istikharahku yang tak pernah putus selama ini. Itu terjadi saat aku sedang berada di
Semarangmenghadiri sebuah rapat nasional organisasi tempatku berkegiatan. Aku mengenal seorang kawan yang kebetulan berada di satu divisi yang sama denganku, dia datang dari
Surabaya

, Pradnya namanya.

“Oh…kalau kegiatan seperti itu, biasanya kami mengundang dosen kami yang terkenal multi talented sebagai trainer, namanya Dokter Fauza Ahmada” ucapnya ringan, dia tidak menyadari bahwa aku agak tersedak saat tadi dia mengucapkan nama itu, aku berpura-pura meletakkan minumanku dan menyimak ceritanya kembali untuk menutupi kebodohanku tadi.

“beliau itu dosen idola kita lho Fra, gimana enggak…masih bujang, ganteng, trus orangnya tuh pinter buangett, kayaknya apa sih yang ga dia tau!sayangnya kita dia dah punya calon tuh” ujarnya berapi-api.

Mataku mendelik, aku tak tahu pasti apakah Pradnya memperhatikan ekspresiku ini, secepat itukah kabar ini tersebar, memangnya Paman dah kasih woro-woro ke semua anak didiknya ya?ataukah Mas Uza sendiri yang bikin proklamasi?atau Rasti dan Arifa membisikkan ini dari mulut ke mulut, aduh…menyesal sekali kenapa harus aku bercerita tentang ini, bahkan pada sahabat dekatku, bukankah Rasulullah mengajarkan untuk merahasiakan ini dan baru mengabarkan saat pernikahan??Hussh…Astaghfirullah kok aku jadi suudzon begini, diam-diam aku tersenyum sendiri, antara bangga dan kecewa…

“iya aku tau beliau kok, di Jogja beliau juga sangat dikenal” sahutku tersenyum sok tenang.

“iya Fra… namanya Zahratunnisa. Dia teman baikku. Bayangkan…mereka cocok sekali, senangnya aku…Ya Allah…semoga mereka berjodoh dan menjadi suami istri kelak!”

Dhhuaaaaarrrr…..tiba-tiba petir yang tak kasat mata menyambar kepalaku, seketika saja serombongan gajah seperti menginjak-injak punggungku, aku tak bisa berpikir…

“saat ini mereka sedang bertaaruf…insyaAllah kalau tidak ada halangan mereka akan menikah tahun depan, ini bukan gossip lho Fra!Fakta!”katanya mantap.

“lho Fra…mukamu kok pucat sekali?kamu sakit?”tanyanya cemas, aku jadi salah tingkah.

“Ah…masa sih. Aku emang begini kok, biasa aja kali. Oh iya, Plannary Session nanti malam rencananya mau dipindah ke Aula ya?”ujarku mengalihkan pembicaraaan sambil meminum teh hangatku untuk mengurangi kecanggungan dan menyamarkan pucatnya wajahku.

* * * * *

“maaf saya pulang tidak mengabari Pak Lik, tapi saya hanya ingin tabayyun, agar tidak berlarut-larut dan berefek buruk baik bagi saya sendiri maupun Mas Uza” kataku mantap saat malam itu kami sengaja berkumpul di tempat paman, ibu yang sedari tadi gelisah repot mengelus-elus pundakku.

“ibu tenang saja ya…saya baik-baik saja kok”ujarku sambil tersenyum pada ibu menenangkan.

ndhak papa Fra, pak lik juga sudah mengundang Mas Uza untuk datang malam ini, mungkin sebentar lagi dia datang, kita tunggu saja…”ungkapnya agak ragu.

Tak lama terdengar ketukan dan salam di daun pintu, dia datang! Bahkan aku belum pernah bertemu muka dengannya, tapi saat ini aku benar-benar tak sanggup melihat padanya. Setelah bersalaman dengan Bapak dan Paman, duduk dan berbasa-basi. Bapak memulai pembicaraan.

“begini Mas Uza, duduk permasalahannya tentu adik saya sudah menyampaikannya kepada Mas Uza, maksud kami mengundang Mas Uza kesini ingin bertabayun dan mendengarkan penjelasan” kata Bapak singkat.

“Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Bapak sekeluarga terutama pada Dik Afra, memang benar selain berproses dengan Dik Afra saat ini saya juga sedang berproses dengan seorang akhwat bernama Zahratunnisa, dia adalah mahasiswa saya sekaligus murid seorang teman yang mengajar kajian di musholla Fakultas, terhitung sejak tiga setengah bulan yang lalu saya dikenalkan oleh kawan saya yang ustadznya itu. Terus terang sebenarnya saya banyak diberikan tawaran untuk bertaaruf dengan akhwat. Saya bermaksud untuk memilih yang terbaik diantara yang baik sebelum saya benar-benar mantap pada satu pilihan…”ucapnya singkat tapi cukup jelas dan tegas, aku sangat menghargai keberaniannya untuk berterus terang.

“sebelumnya, perlu saya sampaikan kepada Mas Uza, saya sangat paham karena belum memasuki khitbah memang tidak dilarang untuk berproses dengan dua orang atau lebih, setiap orang berhak memilih yang terbaik untuk dirinya, terlebih lagi sampai sekarang sebenarnya saya belum bisa mendapatkan definisi yang tepat tentang hubungan kita ini. Andai bisa saya bilang jika selama ini kita berusaha untuk saling mengenal, maka sebut saja ini sebagai taaruf, tapi bagi saya adalah prinsip bahwa bertaaruf itu satu persatu, dengan prinsip itu saya bermaksud melindungi diri saya sendiri, ikhwan yang berproses dengan saya juga akhwat yang dibarengkan prosesnya dengan saya itu. saya tidak menyalahkan Mas Uza karena ini memang belum pernah saya sampaikan kepada Mas Uza sebelumnya, dan belum ada kesepakatan di antara kita. Nah, karena sekarang saya sudah menyampaikan, selanjutnya saya serahkan kepada Mas Uza untuk memutuskan…”ucapku tegar.

“kalau begitu, sebenarnya ini sudah saya pikirkan matang-matang sejak jauh hari, sebelumnya saya mohon maaf Dik, saya memutuskan untuk mundur dari Dik Afra…”jelasnya singkat.

“terima kasih Mas, saya juga mohon maaf jika terkesan terlalu keras, ini demi kebaikan kita bersama” kataku sambil tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan kesedihan yang menyapa sangat dalam lubuk jiwaku.

“saya sangat mengerti Dik”ujarnya pendek.

* * * * *

Bagaimana ini…

Kadang ingin rasanya berhenti dan akhiri saja sampai disini,,

Keberanian yang semula terpancar,hilang timbul tanpa permisi

Bahkan kaki ini merasa tak layak untuk melangkah lebih jauh lagi

Apalagi diri yang punya kaki…

hanyalah sekuntum bunga liar di tepi jalan

yang memaksakan diri tuk masuki taman bunga dalam istana

bersanding dengan bunga-bunga anggun itu

kadang sungguh membuatnya tersiksa

karna tiap waktu rasa ketidakpantasan itu menjalari di setiap lekuk pikirnya,,

Menggaung…menyalahkannya…

Kenapa kau begitu berani,

Apakah kau tidak berkaca diri

Kenapa bayang resiko yang begitu besar kau ambil dari lautan yang bahkan bermimpi pun tak mungkin bisa kau sebrangi

Bagaimana ini…

Apa yang sedang kau cari,,,

Apa kau tak berpikir bahwa akhirnya kau akan sakiti lagi dirimu ini,

Berapa kali lagi
kankau buat hatimu menangis

Masihkah tega kau gadaikan ia,

Mengapa kau begitu yakin akan akhir dari semua ini

Apa yang membuatmu masih tetap bertahan?

Dusta jika kau bilang tak mengapa

Apa yang baik-baik saja?

Kau melihat sakit itu akan mendatangimu dan kau bilang baik-baik saja,?!

Sungguh lihainya berselimut di balik resahmu..

Oh sungguh tak habis kuberpikir…oh bagaimana ini…

Sebuah sisi lain yang galau nian

Entah gerangan apa yang membisikinya…

* * * * *

Ya Allah…bukannya diri ini tidak sabar dan tak menguatkan diri tuk menghadapi takdirmu, tapi ijinkanlah air mata ini mengalir menemani, hanya sekedar untuk kelegaan hati…

Ya Allah…hamba sangat yakin, bahwa di setiap peristiwa tak ada lain kecuali hikmah dan cintaMu semata, bagaimana mungkin tak terucap syukurku atas cinta yang Engkau Curah sederas ini, bagaimana bisa aku menjadi sangat bodoh jika tidak bersyukur padaMu, sedangkan semua yang Kau Berikan untukku begitu ruah, terlalu melimpah, betapa banyaknya Ya Allah, takkan pernah terbayarkan walau aku bersujud seribu kali…sungguh aku tak mampu beralasan lagi untuk tidak merasa bahagia…

aku semakin malu…malu sekali Ya Allah, Engkau Memberikan Lautan cinta tanpa terkira sedangkan aku…terus saja MengecewakanMu,

Maafkan aku Kasihku, ampuni aku…Jangan lalu Kau Menjauhiku, Jangan kemudian Kau Biarkan sesat diriku, Mendekatlah Kasihku, Mendekatlah sedekat-dekatnya, dalam kedekatan yang tak bersekat…,

Lindungilah jasad dan jiwaku dari kedurhakaan padaMu, Penuhilah hatiku dengan cahayaMu yang tiada pernah padam, selamanya…

Selamanya Cintailah aku…aku yang hanya
kanmenjadi lemah tanpamu ini…

* * * * *

malam semakin beranjak larut, penumpang lain pun sudah tertidur pulas di kursi masing-masing, hawa dingin yang menyeruak dari luar ditambah semburan air conditioning menyusupi di tiap celah tubuhku, kurapatkan kembali selimutku mencari kehangatan yang menenangkan. yaah… karena kenangan itulah aku menjadi pengecut yang takut pulang, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menjadi pengecut, hanya saja kadang kita butuh berkompromi dengan diri sendiri untuk melalui fase yang sangat melelahkan agar terasa tidak begitu melelahkan, masalahnya, setiap butuh waktu yang berbeda-beda untuk mengarungi kompromi ini, ada yang hanya butuh satu hari saja, tapi juga ada yang perlu waktu berminggu-minggu bahkan tahunan. Aku pun demikian, aku tak pernah tahu sampai kapan aku membutuhkan waktu untuk berkompromi, hingga saat inilah aku memutuskan untuk mengakhiri fase itu, dan kembali pulang ke kotaku,
Surabayatercinta…

* * * * *

“oalah nduk…kamu tambah cantik sekarang…ibu kangen sekali” berkali-kali ibu mencium dan memelukku seperti anak kecil, aku jadi malu semua orang di stasiun melihat ke arahku.aku tersenyum.

“saya juga kangen Bu…”ucapku dengan pelukan yang tak kalah eratnya.

Di mobil Bapak mulai berbicara serius kepadaku,aku agak gelisah mendengarkan,

“nanti malam ada tamu dari
Bogor, kamu tau tidak nduk Om Wijaya kakak tingkat Bapak waktu kuliah dulu?”tanya Bapak

“tau Pak…”sahutku pelan

“sudah empat kali sejak sebulan yang lalu mereka mampir ke rumah kita” katanya misterius, aku jadi semakin tidak mengerti.

“lho memang ada perlu apa tho Pak sampai berkali-kali datang ke rumah?” tanyaku menyelidik

“putranya itu lho Mas Teguh Arifiyanto, kamu ingat
kan? sekarang dia sudah bekerja di sebuah perusahaan asing di Batam, dia Sarjana Tehnik Elektro. Santun sekali orangnya, Bapak dan Ibu sudah bertemu dengannya seminggu yang lalu” ucap Bapak enteng membiarkanku menyimpulkan sendiri. aku seperti menangkap sesuatu…

“malam ini mereka sekeluarga ingin bertemu denganmu nduk…”ujar ibu menimpali

empat rakaat isya usai tertunai dengan indah,,, geliat rasa mengharapkan guyuran lindungNya menyelimuti tiap keputusan yang mengiring cinta, kini kuserahkan padaMu Kasih, kubiarkan alir darahku mengikuti perintahMu…

* * * * *

aku melihatnya malam ini, Mas Teguh, mungkin dalam usia dewasa aku belum begitu mengenalnya, tapi dulu waktu Om Wijaya belum pindah ke Bogor, Mas Teguh pernah 2 tahun menjadi kakak kelasku di sekolah dasar. Wajah yang bersih, sikap yang bersahabat dan senyumnya yang khas tidak juga berubah sejak dulu, hanya satu yang berubah, dia sekarang lebih tinggi dariku, walau memang tidak terpaut jauh.

“begini Om Zakaria, saya datang kemari beritikad baik bersama orang tua saya bermaksud untuk melamar Dik Afra untuk menjadi istri saya” katanya to the point. Aku sudah menyangka inilah inti pertemuan dari semua ini.

“yaa..kalau
Omsih terserah Afra saja, gimana Fra?”ucap Bapak singkat, Aduh…kenapa Bapak melempar seenaknya padaku, apa Bapak tidak tahu, aku sangat grogi karenanya.

“saya sih…bagaimana dawuh bapak saja…” ujarku malu-malu sambil memainkan ujung jilbabku mencoba mencari celah untuk menghilangkan canggung.

“Yaa…saya sih setuju saja” sahut Bapak mantap.

“Alhamdulillah!!!” ucap Mas Teguh lega, senyumnya semakin sumringah sambil berpelukan dengan Bapak dan Ibunya yang tak kalah bahagia. Aku tersipu-sipu karena diberondong oleh pelukan ibu, Mas Dimas yang duduk di samping istrinya mengedip mata menggodaku.

“insyaAllah kurang lebih satu bulan lagi seperti kesepakatan kita sebelumnya, walimah dan akad akan diadakan disini, disesuaikan dengan jadwal libur Dik Afra” kata Om Wijaya tersenyum ke arah Bapak, Bapak mengangguk tanda setuju.

Sebulan lagi?menyesuaikan libur?Lho, kenapa secepat ini, kenapa tidak ada yang memberitahuku, pantas saja seminggu yang lalu tidak biasanya Mas Dimas menanyakan agenda ini ituku, huuuuuhh…semua orang disini, curanggg!!!protesku dalam hati, protes…tapi aku bahagiaaaa sekali.

* * * * *

Ya Allah, dan kemudian seorang Teguh Arifiyanto memasuki ruang dan alur kehidupanku, inilah babak hidupku selanjutnya…

Ya Allah, apapun pendapat hatiku untuk kejutan cintaMu kali ini…kupercaya yang ada hanyalah keindahan pada akhirnya, entah senyum ataukah air mata yang menghias wajahku kelak…entah apakah pertemuan malam ini benar-benar Engkau Ridhai tuk berujung pada Mitsaaqan Ghaliidzaa yang ia ikrarkan,,,

Ya Allah, terima kasih atas warna-warna yang indah ini,

apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…

apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…

apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…

apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus
asmaradan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…

* * * * *

Maha Sempurna Engkau, begitu terstrukturnya Engkau Merencanakan elegi hidupku, belum genap kekagetanku akan proses yang begitu cepat ini, belum genap pertanyaanku usai kujawab akan nikmat yang mendadak datang berjatuhan hingga ku tak sanggup lukiskan bahagiaku yang tak terkira ini, belum genap 1 bulan sejak aku mulai kembali mengenalnya…kini ia duduk di depan Bapakku, menjabat tangannya dan berucap;

“Saya terima nikahnya Afra Maisya binti Zakaria dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai…”

lalu memandangku dengan wajah yang bahagia dan menyemburatkan kasih sayang. Dia…Teguh Arifiyanto…kini sah menjadi suamiku.

selesai…

* * * * *

Comments (4)

AkU InI sEdAnG fUtUR…


Tausyiah, special banget buat diri yang lemah ini

Juga buat Anda, dan Antum semua

Yang tengah Futur…

atau yang senantiasa berjuang melawan kefuturan diri….


(dari Mbak Ika N-Murabbi-ku sayang-dengan sedikit perubahan, semoga tidak mengurangi esensi yang ingin disampaikan)

Saya ini sedang futur…Terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekandengan alasan klasik,seperti kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah…

Saya ini sedang Futur…Jarang baca buku tentang Islam, lagi suka baca KoranDulu tilawah tidak pernah ketinggalan, sekarang satu lembar aja dah lumayan…Tilawah udah ga berkesan, nonton layar emas malah ketagihan…

Saya ini sedang Futur…Mulai malas sholat malam, jarang bertafakkurba’da shubuh kanan kiri salam, lantas kembali mendengkurApalagi waktu libur, bablas sampai menjelang dhuhur…

Saya ini sedang FuturLihat perut semakin buncit, karena junkfood dan pangsitKalo infaq sudah mulai sedikit dan mulai pelitapalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah

Kamu tau saya sedang Futur…Sedikit Dzikir, banyak tidur, belajar ngawur, IP pun hancurTeman-teman ga ada yang negur…Kamu tau banget kalo saya ini lagi Futur

Hati beku, otak mikirin orang lain sampe ngelanturDiri sendiri ga pernah ngukurKamu tau lah saya sekarang..Senang duduk di kursi goyang, perut kenyang hati melayangMulut sibuk ngomongin orang, aib sendiri ga pernah kebayangKamu pasti tau saya ini Bengal

Bangun malam sering ditinggalOtak bebal banyak mengkhayal, dah lupa yang namanya ajal…

Kamu tau saya beginiUdah sok tau, seneng dipuji, ngomong sok suciKayak murabi, ga ngaca diri sendiriSaya ini sedang Futur

Ga lagi pandai bersyukurSeneng disanjung dikritik murungSaya ini sedang benar-benar Futurmulai terlena sms-an ga penting dengan ikhwan,padahal tau tapi ga mau ngelawanGa jaga jarak hati dan jasad, ga sadar diri mulai asyik berkhalwat

Saya ini sedang Futur…Rajin bikin ortu marah, sedikit sekali muhasabah, seringkali mengghibah…

Astaghfirullah, Saya ini memang sedang Futur….Mengapa tiada satu ikhwah pun yang datang menegur dan menghibur??Kenapa batas-batas mulai mengendur??Kepura-puraan, basa-basi, dan kekakuan subur??

Kenapa begitu mudah pekat itu luntur??

Kenapa di antara kita hanya pandai bertutur??

Ya Allah berikan hamba ini pelipur…

Agar kemudian tidak menjadi semakin Futur…

Apalagi sampai tersungkur…

untukmu teman2ku, tengoklah saudaramu barang sejenak,

barangkali saat ini, imannya tengah berada di ujung tanduk,

dan membutuhkan sekali belai ingatmu…

Leave a Comment

mY oNLy HoPe aNd PraY

berhubung pas hari Minggu nanti aku ga bias OnLine karena aku harus ke jogja bantu2 keluarga disana jadi tukang,ngangkutin bata,beresin puing2,sama apa aja deh yang aku bias Bantu,jadi aku korupsi hari ultahku di blog ini dua hari sebelumnya yah?plis..jangan dilaporin ke KPK.hyak..hyakk..!

aku terinspirasi mengkorup dari Bang Reza yang ngucapin ultah buat aku kemaren,parahan dia

kan

korupsi 3 hari..takut lupa katanya,he2..gapapa..thanks ya Bang,Always Be ACTIVE with CIMSA!okey..lets check this Out!

July 30, 2006:AllaH GiveS coloRs eVeRywHeRe,,,

Alhamdulillah, segala puji dan cinta yang special melulu luruh hanya untukMu Kekasihku,

Kasih yang tak pernah lekang,

Mesra yang tak akan hilang,

Sekali lagi, Kau ijinkan kulewati satu bilangan hidupku. Dan semakin berkurang sisa waktuku membentang sauh di bumi agungMu, semakin dekat pula masa itu, masa yang selalu kurindu, masa perjumpaanku denganMu Cintaku,

Dua dasawarsa sudah ruh dan jasad yang berpadu dalam diriku ini mengembara, menikmati indah cintaMu di setiap alunan masa yang melenggang dengan anggunnya, mewarnai lembar kisahku dengan warna-warna menawan, yang setiap detiknya semakin membuatku terpesona akan keagunganMu yang tiada dua.

Kadang Merah, kadang kuning, kadang jingga, kadang biru, kadang hitam, kadang hijau, kadang kelabu, kadang putih, kadang ungu, kadang merah jambu

apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…

apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…

apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…

apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus

asmara

dan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…

Wahai Kekasihku,

Lihatlah yang telah Engkau Sedia untukku hingga detik ini,keimanan padaMu ini, keluarga yang sangat membanggakan ini, sahabat-sahabat yang sangat baik dan pengertian ini, napas kehidupan di sekitarku yang penuh pembelajaran ini, kejutan-kejutanMu yang mendewasakan ini, semua ini…

bagaimana bisa aku menjadi sangat bodoh jika tidak bersyukur padaMu, sedangkan semua yang Kau Berikan untukku begitu ruah, terlalu melimpah, betapa banyaknya Ya Allah, takkan pernah terbayarkan walau aku bersujud seribu kali…sungguh aku tak mampu beralasan lagi untuk tidak merasa bahagia…

aku semakin malu…malu sekali Ya Allah, Engkau Memberikan Lautan cinta tanpa terkira sedangkan aku…terus saja MengecewakanMu,

Maafkan aku Kasihku, ampuni aku…Jangan lalu Kau Menjauhiku, Jangan kemudian Kau Biarkan sesat diriku, Mendekatlah Kasihku, Mendekatlah sedekat-dekatnya, dalam kedekatan yang tak bersekat…,

Lindungilah jasad dan jiwaku dari kedurhakaan padaMu, Penuhilah hatiku dengan cahayaMu yang tiada pernah padam, selamanya…

Selamanya Cintailah aku…aku yang hanya kan menjadi lemah tanpamu ini…

Teruntuk kedua orang tuaku,

Kerut usia di wajahmu itu menggambarkan berjuta kearifan yang telah membentuk dan menempa diriku hingga saat ini, lisanmu dengan penuh kasih kan bertutur menasehati kala ku ragu berada diantara pilihan, binarmu dengan penuh sayang kan terus menyemangati kala ku mulai putus asa dan patah arang, pelukmu dengan penuh cinta kan selalu terbuka kala ku mulai lelah dan butuh tubuh hangat tuk bersandar, tangan lembutmu kan senang hati menyeka kala ku mulai menangis dan merengek seperti balita.

Wahai Bapak Ibu Tersayang…

Terima kasih atas seluruh cinta kasih yang tak pernah lelah kau curahkan,melalui ridhaNya semoga semua itu menjadi amal shalihMu yang tiada putusnya, tabunganmu yang berlipatganda di yaumul hisab nanti…

Semoga ku kan selalu bisa buatmu bahagia, semoga ku kan

selalu menjadi putri yang buatmu bangga, semoga ku kan

selalu memegang teguh kesahajaan yang senantiasa engkau ajarkan, biarkan aku mengabdi padamu, biarkan kubasuh kakimu dengan kemuliaan…

Teruntuk adik2ku sayang,

Zairullah Mighfaza,

Zilfa Shofi Ibrani,

Nabhan ‘Athou Rabbani.

Sebuah kebanggaan untukku melihat kalian tumbuh setiap harinya. Selalu hanya kebahagiaan yang kutemukan kala kujumpai kalian di depan mata. Lelah ini menjadi hilang karena tawa, tangis ini menjadi reda dengan canda, gelisah ini menjadi sirna oleh cinta.Semoga keshalihan tetap menjadi milik kalian, semoga Allah senantiasa Melindungi dan Menerangi hati kalian. Semoga aku kan selalu bisa menjadi kakak yang kalian banggakan, semoga aku kan selalu bisa menjadi teman yang menyenangkan bagi kalian, semoga aku kan selalu bisa menjadi tempat yang nyaman tuk berkeluh kesah bagi kalian,,, tetaplah berjuang dan nikmatilah keindahan elegi yang Allah Berikan setiap kalinya mata kalian terbuka,, adik2ku sayang…

Teruntuk sahabat2ku yang baik,

Terima kasih telah meminjamkan bahumu untuk bersandar, terimakasih telah memberikan pelukmu untuk menangis, terimakasih untuk motivasi yang selalu memberi efek yang sangat mengagumkan, terimakasih untuk setiap pengertian yang sangat menenangkan, terimakasih untuk setiap keindahan saat berbagi suka dan duka, terimakasih untuk saling mengingatkan saat diri mulai menyimpang, terimakasih untuk canda tawa yang menyenangkan, terimakasih untuk cerita2 indah yang kita rangkai bersama setiap harinya…

Semoga aku kan

selalu bisa menjadi sahabat yang baik bagi kalian…

Semoga aku bisa menjadi sahabat yang membukakan pintu sebelum engkau mengetuknya

Semoga aku bisa menjadi sahabat yang menunggu sebelum engkau bilang”tunggu sebentar…”

Semoga aku bisa menjadi sahabat seperti yang engkau harapkan…

Sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan, Janganlah pernah lupa bahwa aku sangat menyayangimu…

Teruntuk semua orang yang telah mengajariku sesuatu, baik yang menyadarinya atau pun tidak, baik yang mengenalku atau pun tidak,terimakasih atas semua pembelajaran yang bermakna, terimakasih atas hikmah yang mengalir di setiap halnya, semoga Allah senantiasa Melimpahkan berkahNya bagi kita semua…

Teruntuk semua orang yang pernah terluka hatinya olehku, baik yang kusadari ataupun tidak, baik yang kukenali ataupun tidak, kumohon maafmu bagiku,karena tiada manusia itu sempurna, pula diriku yang menjadi tempat khilaf dan alpa, semoga Allah senantiasa Mengampuni kita semua…

Teruntuk semua orang yang telah dan sedang menjadi bagian dari cerita hidupku, terimakasih telah menyemarakkan warna-warna kisahku, terimakasih telah menjadi bagian dari proses diriku, entah bahagia ataupun duka yang engkau tinggalkan untukku, insya Allah semua akan berakhir dengan indah, karena aku yakin karena Allahlah Yang Menghendaki semuanya,kita semua memang harus berproses seperti itu, kita dididik untuk semakin lihai menata, dan diasah untuk semakin peka akan kasih sayangNya, sehingga apapun…semua menjadi tampak indah karena berada di balik iradahNya, semoga kita menjadi bagian dari orang2 yang selalu bisa memetik pembelajaran di setiap peristiwa…

Teruntuk calon suamiku dimana pun engkau berada, siapapun dirimu, bagaimanapun dirimu, baik kini aku telah mengenalmu atau pun belum, baik engkau dan aku dipertemukan di dunia ini ataukah di surga nanti,semoga Allah mencipta keikhlasan dalam diri kita dan kesabaran yang tak berbatas untuk dapat menerima dan melengkapi satu sama lain…

aku merasa begitu penting kau kusebutkan tuk jadi bagian dari lembaran2 doa ini, karena engkaulah nanti yang menggeser posisi prioritas ketaatanku terhadap kedua orangtuaku, engkaulah nanti yang kupatuhi perintahmu sebelum mereka, engkaulah yang kan menjadi imam dan sahabatku dalam mengarungi warna-warna Allah selanjutnya,,,di tanganmu lah surga dan nerakaku kan berada…

Semoga Allah senantiasa Melindungimu dari kedurhakaan atasNya

Semoga Allah senantiasa Menjauhkan dirimu di setiap desah napasmu dari segala goda dan bujuk rayu dunia yang melena dan senantiasa Menjaga keshalihan dan keistiqamahanmu di jalanNya,,,

Semoga Allah Melapangkan setiap perkaramu dan Menentramkanmu dari segala kegelisahan,

Semoga Allah Meluaskan rizkimu dari segala penjuru dan Menghalalkan setiap milikmu

Semoga doa-doaku untukmu setiap harinya tersampaikan padamu dan diridhaiNya…

Dan Semoga Allah segera Mempertemukanku denganmu(he2..he2..wah permintaan yang sangat emosional neh…)

Ya Allah sungguh Engkau Mengetahui bahwa seluruh hati ini telah bersatu padu dalam cinta padaMu, bertemu dalam ketaatan padaMu, dan bersatu dalam dakwahMu, telah bersumpah setia tuk membela syariatMu,maka Kokohkanlah Ya Allah ikatannya, dan abadikanlah kemesraannya, tunjukilah jalan2nya,dan penuhilah hati kami dengan cahayaMu yang tak pernah padam, lapangkanlah dada kami dengan curahan iman padaMu, dan indahnya tawakkal padaMu, hidupkanlah hati kami dengan ma’rifatMu, dan matikanlah kami sebagai syuhada’ di jalanMu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya Penolong dan Pelindung. Kabulkanlah Ya Allah. Dan semoga Engkau Bershalawat bagi pemimpin kami Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya, Sampaikanlah salam…

Wahai diriku,

Tak perlu cemas betapa gelapnya hari yang lalu, tak perlu gundah betapa hina waktu yang telah lewat, karena semua telah menjadi masa lalu dan tak akan pernah kembali lagi,yang terpenting adalah bagaimana kita jadikan hari ini adalah hari yang terbaik dalam hidup kita, menghadiahkan kualitas ibadah terbaik untuk Allah Tercinta, Senantiasa Memperbaiki diri setiap salah melanda, Menebar senyum terindah pada sesama, Mendayagunakan diri seluas2nya bagi sekeliling kita, dan seterusnya…

Terus seperti itu sehingga setiap harinya adalah hari yang terbaik di sisa usia kita…

Mengapa harus resah, sedangkan Allah Maha Penerima taubat…

Mengapa harus gelisah, sedangkan Allah Maha Pengampun dosa2 semuanya lagi Maha Luas kasihsayangNya…

Mengapa harus begitu sibuk dengan dunia yang fana, sedang kebahagiaan yang tak pernah lekang hanya ada di akhirat

sana

Mari akhiri proses ini dengan akhir yang indah,karena hakikat manusia adalah kembali ke pangkuanNya, kita tak pernah punya pilihan lain…

Selamat hari lahir

semoga selalu menjadi pendar sinar yang damaikan setiap hati di sekelilingmu….

Semoga hari-harimu selalu berkah dan menyenangkan…

Semoga warna-warna mu semakin mempesona dan bermakna…

Semoga Allah semakin Mengasihimu setiap detiknya…

Semoga Allah…Semoga Allah…Semoga Allah…Allah…Allah…Allah…

Comments (1)