Jumat, 24 April 2009. Di bawah Langit Jakarta, dini hari menjelang adzan Shubuh berkumandang.
Ami terbangun dengan semangat. Mata kelat yang biasanya harus berkali mengerjap terlebih dahulu, seketika saja bisa berbinar dengan lincah. Karena sejak malam, Ami telah menantikan pagi ini tiba, Nak.. Seolah Ami memang berfirasat bahwa akan ada tamu agung datang
.
Insting keibuan, mungkin itulah pertama kali insting keibuan Ami yang sesungguhnya mulai terekspresi..
Bergegas Ami menyerbu kamar mandi sambil membawa bungkusan biru bertuliskan SENSITIF yang dibeli Ayah sore kemarin di Drug Store dekat kantor. Di antara harap dan cemas, Ami menanti gerakan urin yang merambat perlahan dari ujung stik berukuran 0,5 x 10 cm2 itu,
satu garis merah…… dada Ami makin bergemuruh….. dan.. akhirnya….. DUA garis merah!!
Alhamdulillah…! Subhanallah…!

POSITIF!^_^
Ami segera berlari ke kamar karena tak sabar ingin kabari Ayah tentang berita gembira yang telah lama kami nantikan ini.”Gimana, Dek?” tanya Ayah pada Ami dengan kerutan harap di dahinya. Sambil menunjukan dua garis merah di stik biru putih tadi, Ami berkata dengan senyum mengembang, ” Selamat Datang, Cinta..”. ^_______^ “Alhamdulillaaaaaaaaah…..” sahut Ayah langsung memeluk erat dan mengecup kening Ami.
Anakku sayang, melalui darah yang Ami alirkan ke dalam tubuhmu, engkau pun mungkin dapat merasakan betapa bahagianya kami saat itu menyambut kehadiranmu.

Allahu Rabbuna,, Nak...
Di waktu ter-awal keberadaanmu ini, Ami ingin mengenalkanmu tentang Penciptamu yang Maha Agung, Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Belajarlah bersyukur padaNya senantiasa, Nak. Segala puji hanya bagi Allah, hanyalah atas IjinNya engkau hadir menyempurnakan kehidupan kami…
—————————————————————-
Sabtu, 25 April 2009. Ante Natal Care (ANC) pertama. Di Ruang Tunggu praktek Dr.Eriana Sp.OG yang cantik dan baik hati. Bertiga menikmati indahnya rinai hujan dan semilir angin Kota Surakarta. Ya.. bertiga, Ami, Ayah, dan Kamu dalam rahim Ami, Nak…
Karena sangat bersemangat, malam itu kita datang setengah jam sebelum Bu Dokter cantik itu tiba. Sehingga kita langsung dapat antrian pertama, Nak
. Bu Dokter datang tak lama setelah perawat melengkapi identitas Ami dan Ayah termasuk menanyakan keterangan tentang Menarche Ami yang dimulai saat usia 12 tahun, HPMT Ami tanggal 17 Maret 2009, G1AoPo, Menimbang berat badan, dsb. Setelah identitas diisi lengkap, kemudian berkas diberikan pada Bu Dokter.
Seusai Meng-anamnesa, Bu Dokter meminta Ami untuk berbaring dan diperiksa dengan USG. Sudah sangat sering melihat alat itu dan orang yang diperiksa dengannya. tapi kalau Ami yang diperiksa dan diteropong dengan USG? ini baru pengalaman pertama Ami, Nak:-)

4 minggu 6 hari...
Itulah pertama kalinya Ayah dan Ami melihatmu, begitu mungil.. terlelap di dasar kantong gestasi.. Dalam usiamu yang baru 4 minggu 6 hari, engkau telah merapat sempurna dalam rahim Ami.. di bagian yang terbaik di corpus uteri Ami di sebelah kiri..
Sayang, ternyata Bu Dokter cantik itu menemukan sebuah massa yang tergambar hitam bersekat di seberang tempatmu berbaring yang ia duga sebagai kista endometriosis ovarii dekstra berdiameter 5,3 cm.
Dag dig dug Ami mendengarnya, terlebih lagi Ayah. Tapi penjelasan Bu Dokter sangat menenangkan, ia katakan bahwa sepertinya kista ini ada sejak Ami masih gadis. Ami teringat pada materi Endometriosis yang diajarkan oleh Prof. Tedjo bahwa 90% perempuan memiliki kista endometriosis di rahimnya, seringnya terjadi pada perempuan dengan siklus menstruasi yang pendek/teratur dan masa haid yang panjang.
Ia melanjutkan bahwa biasanya perempuan dengan kista akan sulit mengalami pembuahan atau kehamilan, namun Subhanallah dalam kasus Ami, Allah telah Menghadirkan kamu di sini:-), dan dengan adanya kehamilan, kista yang hidup dengan estrogen sebagai nutrisinya akan terdesak dan hilang sendiri karena kalah oleh hormon progesteron yang meningkat pada saat kehamilan. Pada ANC selanjutnya, akan dilihat lagi kista ini apakah sudah hilang atau belum.
Bu Dokter meyakinkan kami bahwa kista ini tidak akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhanmu, jadi kami boleh merasa tenang:-).
Alhamdulillah, Senangnya melihatmu mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.. segala doa untuk kebaikanmu mengalir deras tanpa henti dari mulut dan hati kami, Nak.. semoga sehat dan kuat dirimu bertahan di dalam sana.
* * *
Anakku sayang, kehadiranmu bukan hanya membahagiakan Ayah dan Ami. seluruh keluarga besar Ayah dan Ami pun turut bersuka cita menyambut kedatanganmu. Eyang Kakung dan Putri, orang tua Ami. Njid dan Jiddah, orang tua Ayah. Mbah buyut di Jogja dan Majenang. Tante Zilfa, Om Faza, juga Om kecil Nabhan, adik-adik Ami. Umi Rafie, Bunda Nayla, dan Mama Ayuri, kakak-kakak Ayah.
Ohya Nak, Ada sedikit cerita yang ingin Ami kisahkan padamu. Mengingat Ayah adalah anak bungsu dalam keluarganya, maka Ayah dan Ami sempat bingung sapaan apa yang ingin Ayah dan Ami ajarkan padamu untuk memanggil kami. Kakak pertama Ayah telah memakai Abi dan Umi. Kakak kedua Ayah sudah memilih Ayah dan Bunda. Kakak ketiga Ayah menggunakan Papa dan Mama. Harus kamu tahu bahwa trade mark panggilan itu telah begitu melekat pada diri mereka dan tidak dapat tergantikan, padahal Ami sangat tertarik untuk memilih Umi atau Bunda,hiks^^’.
Hmm,, sebenarnya Ami adalah anak sulung yang berhak memilih apapun karena Ami akan menjadi orang yang pertama memakainya, hehehe. Tapi berhubung Ayah adalah si bungsu yang mendapat ’sisa’ (hehe, piss Ayah!^____^v) maka akhirnya Ayah dan Ami harus sedikit memutar otak^^ dari mulai meng-googling di internet sampai survey ke segala wacana di berbagai media segala istilah yang sekiranya unik dipakai. namun tak ada juga yang kami anggap cocok,Nak.. hehe. what a perfectionist couple we are, Ayah!^______^’.
Setelah berbagai diskusi dengan Ayah, akhirnya kami memilih panggilan ‘Ayah’ untuk Ayah. selain kami menyukainya juga sifatnya lebih umum di keluarga karena yang memakai panggilan Ayah bukan hanya Ayah Nayla, di keluarga Tebet dan Cirebon ada beberapa yang memakainya. Kelarlah sudah satu tugas kami. hei, tunggu. bagaimana dengan Ami??
sampai terhitung berminggu-minggu usiamu Ami masih bingung dan belum juga memutuskan untuk memilih. hingga akhirnya Ami menulis note ini, Ami memutuskan untuk menggunakan ‘Ami’. Unik, bukan?^^.harus Ami akui selain bagi Ami panggilan ini adalah mixing dari ‘Umi dan Bunda’ juga karena ini terinspirasi dari Sinetron yang tak pernah absen Eyang Putri tonton setiap malam di Indosiar, hehe..^______________^’
Anakku tercinta, Semuanya bergembira dan antusias karena engkau datang. Maka berbagai nasihat dan petuah tak henti mengalir dari mereka kepada Ami demi menjaga kesehatanmu dan Ami yang melindungimu. Tidak boleh naik motor dan becak sampai selesai 4 bulan pertama, tidak boleh makan Duren, Soda, Tape, dsb.
Ami tersenyum dan senang mendapat perhatian yang luar biasa seperti ini. Saat menuruti setiap nasihat sepanjang itu baik dan syar’i, sebenarnya yang terpenting bukanlah materi dari nasihat itu karena menurut Ami itu sangat relatif sekali seperti halnya menaiki motor dan becak, hehehe (Kamu harus tahu bahwa Ami adalah Biker sejati, Nak. ^___^),
tapi yang paling utama adalah sejak dini Ami ingin mengajarimu agar engkau paham tentang seni ketaatan pada orang tua, sakralitas dari nasihat mereka, dan ketentraman hati saat bisa membuat mereka berbahagia, semampu yang kita bisa, sepanjang yang kita sanggup.
Mengingat kita dan orang tua berangkat dari generasi berbeda dan dengan pemikiran yang lain pula, maka saat berhadapan dengan mereka, kitalah sebagai yang lebih muda yang harus berperan aktif dengan hati dan pikir yang jernih memfasilitasi jarak ini agar menjadi keselarasan yang dinamis. Saat inilah akhlak menjadi dominan dibanding syariat, Insya Allah suatu saat engkau akan memahaminya, Nak..
Jadilah Anak Shalih yang taat pada Allah dan Rasul Muhammad SAW, pula bermanfaat dan menenangkan hati setiap orang di sekelilingmu^^.
Buah Hati terkasih, tak akan Ami lupa dan Ami membuatmu ingin engkau selalu mengingat bagaimana perhatian dan bantuan teman-teman terbaik Ayah dan Ami yang membantu secara moril dan fisik untuk kita bertiga. dari berbagai simpati yang mereka sampaikan setiap hari, sampai yang paling luar biasa adalah teman-teman Ami di Solo yang menjaga kamu dan Ami demikian hati-hati. Karena Ayah harus berjuang mencari nafkah di Jakarta sana, maka kecuali di akhir pekan, peran SIAGA nya digantikan oleh teman-teman dekat Ami yang baik hati itu.
Tante Nita, Tante Aster, Om Ary, Om Arifin, dan Tante Dina yang di tengah kesibukan koas mereka rela berpanas-panas mencari kontrakan yang pas dan cocok untuk Ami. Mereka yang selalu mengantar Ami kemana-mana sampai harus jauh-jauh bolak-balik kos-kontrakan Ami untuk menemani Ami yang sendirian di rumah. Membelikan makan yang paling Ami inginkan. dari nasi padang sampai rujak cingur, hehe. What a great friends, You are all guys!
Bukan hanya mereka, ada Tante Ajeng dan Tante Jeje yang mengantar Ami untuk tes TORCH di Lab Budi Sehat. Tante Moya dan Tante Shaumy yang jauh-jauh belikan Empek2 Bu Kamto sepulang dari Jogja. Tante Tyas yang menginap di rumah Ami dan membawakan Kebab Turki Baba Rafi pesanan Ami, hehe. Rekan-rekan koass Ami di stase Bedah juga tak sedikit berperan. Mereka sangat membantu, Nak.. terlalu banyak dan berarti sampai Ami tak mampu sebutkan mereka satu persatu.
Betapa beruntungnya kamu, Nak. Alhamdulillah..
Jadilah orang yang mudah berterima kasih dan menghargai setiap orang yang mencintaimu, agar hatimu menjadi peka dengan kebaikan dan cinta sehingga dapat menjadikannya cahaya menerangi sekitarmu..
Sayang, hadirmu dan semua atensi cinta ini, membuat Ami bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagimu. meski menjelang akhir minggu ke-8 Ami mulai merasakan mual sepanjang hari terlebih di kala bangun tidur dan menjelang maghrib, Ami terus memaksakan diri untuk meminum susu dan nutrisi ibu hamil di trimester pertama. Memakan makanan selengkap mungkin 3 kali sehari meski setelahnya harus menahan mual yang sangat. Semakin bertambah usiamu, Ami mulai kepayahan, pusing dan muntah-muntah air menghiasi hari-hari Ami. Pokoknya begitu Ami pulang dari rumah sakit, Ami langsung beristirahat seoptimal mungkin demi menjaga stamina.
Hmm,, sayangku.. meski kepayahan, tapi ini adalah kepayahan yang membahagiakan, sehingga Ami merasakannya dengan suka cita^_^
—————————————————————-
Selasa, 19 Mei 2009. seminggu menjelang ANC kedua.
Sepulang dari Poli Bedah, seperti biasa Ami langsung pulang. sebelum tidur siang, Ami terlebih dahulu ke kamar mandi untuk buang air kecil karena akhir- akhir ini Ami sudah mulai sering merasakan kandung kemih Ami cepat penuh. ketika di kamar mandi, tiba-tiba, Ami menemukan spotting kecil sepanjang 1 cm.
Ya Allah, Nak.. Ami panik sekali dan langsung menelpon Ayah, dan siapapun yang bisa memberi saran. ketika Eyang Putri katakan asal jangan bleeding yang deras dan merah segar, Ami sedikit lega. Eyang Putri katakan Ami cukup beristirahat saja. Namun Ayah meminta Ami untuk kontrol ke dokter pada sore harinya.
Segeralah sore itu Ami berangkat ke dokter ditemani oleh tante Aster. Setibanya di sana, Bu dokter langsung memeriksa kondisimu melalui USG. Alhamdulillah, nak.. bu dokter katakan kamu baik-baik saja. bahkan kista yang pada ANC pertama dulu bercokol di ovarium kanan Ami saat ini telah hilang. bukan hanya itu, Bu dokter mengatakan bahwa pendar detak jantungmu telah terlihat di USG. Syukurlah, Nak.. Ami lega sekali..
—————————————————————-
Sabtu, 23 Mei 2009, Ayah tiba dari Jakarta.
Sejak spotting 5 hari yang lalu, Ayah begitu resah dan ingin segera menemui kita di Solo, Nak. dan akhirnya, pagi ini Ayah tiba juga. Kita bertiga berpeluk melepas rindu. Seminggu tak bertemu seolah terasa sewindu. Melihat wajah Ayah serupa penawar gundah dan resah yang menghabiskan tenaga Ami karena kesibukan dan berbagai permasalahan Ami di stase Bedah yang rupanya cukup pelik.
Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan mencari dokter lain untuk second opinion. bukan karena apa-apa, tapi lebih karena ingin mencari kelegaan hati dan mencari pendapat dari ahli yang lain.
Malam itu juga, sama seperti yang sudah-sudah, di tengah gerimis, taksi yang kita naiki menembus malam kota Surakarta menuju tempat praktek Dr. Tri Budi Sp.OG. Alhamdulillah begitu kita datang, baru saja ruangan itu kosong sehingga kita bisa langsung menemui Pak Dokter.
Sama seperti yang sebelumnya, Pak Dokter mulai meng-anamnesa dan memeriksa kondisimu melalui USG. Yang paling menarik untuk kami adalah Pak Dokter yang bersahaja dan kebapakan ini menyambut pertanyaan Ayah dan Ami dengan bijak dan penuh kesabaran, segala hal yang Ayah dan Ami konsulkan dapat beliau jelaskan dengan detail dan terang sehingga Ayah dan Ami merasakan pencerahan, terlebih memang, saat itu Ayah dan Ami tengah bimbang tentang apakah sebaiknya Ami melanjutkan koass ini mengingat Ami telah menjalani stase bedah sampai separuh jalan, ataukah Ami hendaknya cuti karena sepertinya Ami butuh ketenangan, istirahat, dan juga kehadiran Ayah selalu di sisi Ami sebagai dukungan psikologis.
Pak Dokter mengatakan:
“Kalau bagi saya, kehadiran anak ini adalah amanah. karena amanah, maka saya akan berusaha menjaganya seoptimal yang saya bisa. kita tidak akan pernah tahu apakah akhirnya nanti, tapi paling tidak ada ikhtiar optimalnya. dalam kondisi ini memang harus memilih, dan dalam setiap pilihan memang ada yang harus dikorbankan.”
Ajaib, entah kenapa kata-kata Pak Dokter saat itu begitu saja membuat Ayah dan Ami seketika mantap dengan pilihan untuk cuti dulu dari kegiatan koass dan pulang ke Jakarta sampai usia kamu genap 5 bulan yang pada saat itu proses penancapan plasenta telah selesai dan kamu siap kembali Ami ajak beraktivitas.
Entahlah, sebenarnya tak ada kata-kata atau persepsi baru dalam muatan nasihat Pak Dokter bersahaja tadi, tapi mungkin petuahnya itulah yang memperkuat ghirah Ayah dan Ami untuk memberatkan timbangan pada satu pilihan.
Jika Allah berkehendak untuk memberi petunjuk pada hambaNya, maka tidak ada sesuatupun yang mampu menghalangi petunjuk itu untuk sampai kepadanya…
—————————————————————-
Senin,25 Mei 2009, Argo lawu mengantar Ami kembali pulang ke Jakarta.

Sampai Ami menulis paragraf ini, tak ada sedikit pun penyesalan di hati Ami telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari koass sementara waktu dan memilih untuk menghabiskan waktu denganmu sebanyak yang Ami bisa..
-sama sekali tidak menyesal… -
Yang tersisa hanyalah kelegaan. sungguh Ami merasa sangat lega telah mengambil keputusan ini. Insya Allah inilah yang terbaik bagi kita, Nak. Hm, Ami bahagia sekali,, Kita akan berkumpul dengan keluarga dan menikmati indahnya menjadi saksi setiap detik tumbuh kembangmu bersama Ayah dan juga mereka yang Ayah dan Ami cintai,,
—————————————————————-
Selasa, 26 Mei 2009, di Rumah Mereka yang tercinta…

Home Sweet Home
Menenangkan, sungguh tentram berada di samping Bunda, terlebih di saat-saat membutuhkan perhatian optimal seperti ini.
Bunda, bahkan di saat aku telah beranjak tak lagi muda, masih saja tak hentinya diri ini merepotkanmu.
bahkan di kala aku telah bersuami dan seharusnya tak lagi membebani, aku masih saja butuh belaimu..
bahkan di saat aku mengandung dan akan segera memberimu cucu, masih saja aku butuh bantuanmu..
Bunda,, kasihmu takkan pernah lekang oleh waktu
sayangmu selalu menghangatkanku kapan pun itu..
meski kadang terhalang gengsi tuk ucapkan, sungguh tak ingin aku menyesal seumur hidupku jika tak pernah kusampaikan padamu bahwa aku sangat mencintaimu…
—————————————————————-
Sabtu, 30 Mei 2009, Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta Pusat

RSIA Bunda
Hujan lagi, Nak.. setiap Ami kontrol Dokter untuk memantau kondisimu, pasti rinai hujan dan bau tanah basah yang sangat Ami sukai itu turut mengiringi. Menemani setiap langkah antusias Ami menyaksikan dirimu yang semakin hari semakin mendekat dalam dekapan Ami.
Bersama Eyang kakung dan Ayah, Ami menunggu antrian. Kali ini, Eyang kakung memilihkan Dr.Noroyono Wibowo, Sp.OG(K) yang rupanya salah satu dokter ahli senior di Jakarta. Dokter hebat yang juga direkomendasikan karena kepiawaiannya mendiagnosis oleh Bu Dokter yang menangani kita di Solo.
Benar saja, Nak.. hanya dengan sekali melihat gambaran kondisimu dari layar USG, beliau langsung memvonis bahwa telah sejak sepekan lalu perkembanganmu berhenti.
Beliau katakan, Engkau….. telah meninggal, Nak..
Innalillah wa inna ilaihi raaji’uun..
hanya seperti itulah kalimat yang sanggup Ayah dan Ami katakan dengan hampir bersamaan.
Mencoba tampak tegar, Ami dan Ayah mendengar penjelasan dari Dokter tentang kondisi kamu saat ini. Dokter katakan bahwa ada gambaran edema atau penimbunan cairan di bagian kepala dan badanmu dan denyut jantungmu tidak lagi bisa terdengar, karena Tes TORCH Ami negatif sehingga kemungkinan infeksi bisa disingkirkan dan juga tidak ada abortus spontan berupa perdarahan, beliau menduga ini adalah hidrop fetalis yang biasanya disebabkan karena kelainan Hematologi, kemungkinan adalah Thalassemia yang diturunkan dari orang tua.
Dhuaaar! Petir menggelegar, Thalassemia?? bagaimana mungkin.. secara genetis keluarga besar Ayah dan Ami tidak ada yang pernah menderita Thalassemia. Untuk memastikan, dokter membuatkan pengantar laboratorium untuk memeriksa darah Ami dan Ayah agar bisa melihat apakah ada kelainan dalam pembekuan darah sebagai salah satu marker Thalassemia.
Pulang dengan segala gundah, meski tampak terkendali. Ayah menenangkan Ami dalam pelukannya di sepanjang perjalanan. Bagaimana ini, kemarin kamu masih tampak baik-baik saja. bahkan tadi pun Ami melihat, tubuhmu telah terbentuk dengan sempurna.
wajahmu.. hidungmu.. matamu.. tanganmu.. kakimu.. semuanya telah lengkap kau miliki, Sayang…
Ayah, Ami merasa anak kita masih ada dan hidup di dalam sini..
dia hanya sedang lelap tertidur menikmati hangatnya rahim Ami di tubuhnya karenanya dia tak memberi respon apapun..
Lihatlah Ayah, perut Ami masih membesar dan masih melindungi ia dengan aman..
Ami masih merasakan mual-mual itu..
Ami masih rasakan pusing-pusing itu..
Anak kita baik-baik saja, Ayah.. dia masih hadir di tengah kita.. Ayah,
Ami tidak ingin begitu saja ia divonis meninggal…
—————————————————————-
Rabu, 3 Juni 2009. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat.

RSAB Harapan Kita
Senin lalu, hasil laboratorium sudah bisa diambil. setelah melihat hasilnya, Alhamdulillah baik Ayah maupun Ami tidak ada yang membawa sifat/carier Thalassemia. Hmmpppfff….syukurlah. berarti harus berikhtiar lagi untuk mencari tahu penyebab yg lain..
Anakku, semua masih optimis akan kondisimu, bukankah dengan kehendak Allah apapun bisa terjadi? Ami mengakui, Pak Dokter yang kemarin memang sangat pintar dan mendiagnosa dengan baik sesuai tanda-tanda yang kamu tunjukkan di layar USG,
tapi… tak bolehkah Ami berharap lain,,, sepintar apapun.. manusia adalah tempatnya lupa.. maka boleh kan jika sesekali Pak Dokter pintar itu melakukan kesalahan? sekali saja.. Ami berharap beliau salah..
Dengan sigap Eyang kakung menghubungi rekan-rekan seprofesi yang bisa ia kontak untuk mencari second opinion. Sempat muncul beberapa nama seperti Prof. Bambang Karsono, Sp.OG(K) di YPK Jalan Theresia, namun ternyata pasien beliau harus mengantri sebulan sebelumnya, hiks. laris sekali rupanya. lalu ada rekomendasi dari rekan Eyang di RSPAD Gatot Subroto kepada Dr.Nurwansyah Sp.OG di RSAB Harapan Kita. Akhirnya Eyang Kakung memilih RSAB Harapan Kita.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata Dr.Nurwansyah Sp.OG sudah lama tidak berpraktek di sana dan pasiennya di rumah sakit ini ditangani Dr.Irvan Adenin Sp.OG. dengan beliau-lah akhirnya Ami berkonsultasi. Ami kembali berbaring untuk diperiksa. Harap-harap cemas, Ami dan Ayah mencoba menebak apa yang akan muncul dalam layar monitor mesin USG. Ami pasrah, Nak.. Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon pertolongan…
Ruangan itu senyap.
Ami menanti.. menanti denyut jantungmu kembali terdengar..
Ayolah Nak.. berjuanglah…
Ami melihat di layar, ukuran panjangmu hanya 2, 6 cm.. itu adalah ukuran untuk janin berumur 9 minggu 6 hari, Nak.. sedangkan usiamu sekarang adalah 11 minggu 1 hari.. seharusnya panjangmu adalah 7, 7 cm..
Ami berharap Ami salah melihat.. Ami salah menghitung.. Ami tidak memakai kaca mata minus Ami, karenanya yang Ami lihat lebih kecil daripada ukuran yang sebenarnya kan Nak? katakan lah Ami hanya salah melihat…
tapi tetap sunyi.
Ayah, Ami, Eyang Kakung, dan Pak Dokter Irvan yang ada di sini,, tidak ada seorang pun yang bisa mendengar detakmu….. ukuranmu pun tetap seperti apa yang Ami lihat, engkau tak kunjung memanjang seperti yang Ami harapkan…
selesai Nak.
usai sudah…. kesenyapan itu telah menjawabnya,,, sebelum Pak Dokter menjelaskan apapun, Ami telah mengerti apa kesimpulannya.. Ami sudah paham apa yang terjadi.. Ayah memandang Ami mencari jawaban, dalam tatapannya Ami membaca bahwa Ayah ingin mendapatkan dukungan bahwa entah apa yang Ayah simpulkan di dalam hatinya itu tidak benar bukan?
Maaf, Ayah.. tapi itu memang benar…
Anak kita telah wafat…
Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…
—————————————————————-
Kamis, 4 Juni 2009. Di Kamar menjelang tidur, beberapa jam sampai tiba menyapa pagi sebelum esok melepasmu pergi ..
Awalnya, Ami tak ingin ada air mata.. tapi… seusai menerima telpon Jiddah ba’da Isya tadi, Ami tak mampu lagi menahan derainya. Jiddah sangat kehilanganmu, Nak.. isaknya begitu memilukan hati Ami.
Maafkan saya Mama, Maafkan karena mama harus kehilangan cucu dari putra tercinta bahkan sebelum genap Mama menyaksikan kehadirannya…

stronging each other...
Ayah menyeka air mata yang tak henti jatuh dari pelupuk Ami meski pipinya pun basah.. Mendekap erat Ami demi berikan kehangatan dan ketenangan yang sesungguhnya juga sedang Ayah butuhkan..
Dalam pelukan, kami saling menguatkan…
Malam ini.. adalah saat terakhir Ayah dan Ami bersamamu,
sambil mengelus perut Ami, Ayah berharap getaran belainya masih bisa sampaikan pesan padamu bahwa kami sangat menyayangimu agar kamu dapat mengingatnya selamanya…
Insya Allah, kami ikhlas dengan kepergianmu, Nak..
Tak ada yang bisa mencegah jika Allah telah Berkehendak…
Ayah dan Ami yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita bertiga..
Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak tahu,
hanyalah keyakinan akan qadar-Nya yang tersisa, sehingga hati ini dapat lapang untuk membuka tabir hamparan hikmah yang disampaikanNya..
—————————————————————-
Jumat, 5 Juni 2009, Di ruang tindakan kuretase, RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat.

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...
Tepat Pukul 10 Pagi,
Ami terbaring dengan baju operasi hijau itu, Ami telah siap melepasmu, Nak.. Dokter Anestesi menyapa Ami dengan hangat, para perawat mempersiapkan alat-alat kuret dengan sigap. Pak Dokter Irvan datang dan mengucap salam pada Ami. tak lama setelah dokter anestesi memasukkan cairan pentotal ke pembuluh darah Ami, Ami mulai merasakan kesadaran Ami menurun, rupanya cepat sekali efek obat bius ini, belum genap hitungan menit Ami sudah tertidur.
Pukul 10.30,
Ami terbangun. rupanya proses kuretase telah selesai, Ami dipindahkan dari ruang tindakan ke ruang perawatan pasca tindakan. sudah ada Ayah di samping Ami. perawat datang mengantarkan hasil kuret di dalam botol bulat transparan. Ada kamu di situ, Nak.. tidak lagi di rahim Ami.. karena sudah dikuret, bentukmu tak tampak lagi seperti waktu di dalam.. hanya terlihat sebatas jaringan-jaringan tubuh yang terendam darah dan larutan fisiologis NaCl..
Pukul 13.00,
waktunya Ami dan Ayah meninggalkanmu di sini ya, Nak.. dokter ahli akan memeriksa jaringanmu untuk keterangan patologi anatomi-mu. . . . .

11 minggu 3 hari...
Di Jumat yang mulia engkau datang kepada kami,
dan di hari Jumat yang agung pula engkau pergi meninggalkan kami,
11 minggu 3 hari bersamamu,
menjadi waktu terlama dalam hidup kami terlebih di minggu-minggu terakhir saat menjelang kepergianmu..
11 minggu 3 hari denganmu,
menjadi waktu tersingkat yang pernah kami rasakan dalam hidup kami, saat mengingat rasa bahagia dan suka cita ketika menyambutmu hadir, terlebih di minggu-minggu pertama kedatanganmu..
Engkaulah kenangan terindah yang takkan pernah Ami dan Ayah lupakan
Kami sangat bangga engkau tersanding menjadi bagian dari perjalanan cinta kami..
Dinda-dindamu kelak akan mengingatmu sebagai kakanda yang kan selalu ada di tengah-tengah mereka, meski hanya dalam kata dan cerita..
Sayang.. Ami dan Ayah akan selalu merindukanmu..
kami percaya, kepergianmu bukan semata-mata hampa makna..
Engkaulah pahlawan bagi kami, yang mengajarkan kami berbagai ilmu berharga dan penuh hikmah..
Insya Allah semoga Allah mencatatmu sebagai penggugur dosa-dosa yang telah Ami dan Ayah lakukan
Kehadiranmu.. pula kepergianmu.. semoga memberi pencerahan bagi siapapun yang bisa mengambil manfaat.. Alhamdulillah.. Subhanallah.. Allahu Akbar..
Milladunnaa ‘ilmaa.
Hanya dari sisi Kami-lah pengetahuan tentangnya berada. itulah namamu..
Pulanglah, Nak.. Kembalilah ke sisiNya.
Kelak, Sambutlah kami dengan senyum terindahmu di pintu Jannah-Nya…

Selamat Jalan, Sayang...
Selamat Jalan…
***
Dalam Kebahagiaan, manusia tidak akan mampu bersyukur ketika dia tidak bersabar
Dalam Kesedihan, manusia tidak akan mampu bersabar ketika dia tidak bersyukur
sungguhlah ada batas yang tak bersekat antara Sabar dan Syukur itu..
Semoga Allah Menjadikan kita bagian dari Orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam menjalankan setiap elegi cintaNya..
Aamiin….
Jakarta, 7 Juni 2009
Tanpa Editing, belum sanggup baca lagi euy! hehe
tulisan yang mengalir begitu saja, jadi maap-maap kalo ada salah tulis, salah EYD, nada-nada kalimat yang kurang merdu dan ada feel kalimat yang kurang maknyus.. hehe.
Semoga bermanfaat. ^____________^
P.S:
beberapa kali menyebutkan nama dokter dan rumah sakit tertentu, semoga ga dipenjara sayah,, heuheuu.. kan ga ngejelek2in ato memfitnah tho?^_________________^