Balita dan Kelas RSBI


Saya dan suami termasuk yang happy undang-undang RSBI dicabut sama MK. Meskipun sekolah tsaqeef sekolah swasta dan gak ngaruh dg adanya keputusan MK tersebut ya tetep seneng aja, Kenapa? Lebih daripada tentang kesenjangan ekonomi, saya dan suami kok risih ya ada kelas dg pengantar bahasa inggris yang full gitu. Kasian kalo kelas saringan yanag notabene isinya anak anak pinter itu dicekokin bahasa asing. Secara tidak langsung alam bawah sadar mereka dicekokin sama gaya kebarat-baratan dan mengeruhkan nilai nasionalisme. Dan bahkan yang lebih ekstrem dari itu ada yang beropini bahwa adanya kelas RSBI merupakan salah satu pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda.

Belajar dari bangsa jepang dan bangsa jerman, mereka begitu bangga dengan bahasanya sendiri. Orang2 asing yang berpendididikan disana diberi porsi yang banyak mata pelajaran dg bahasa mereka. Liat artis2 korea yang konser di luar negri, mereka dg santainya melakukan wawancara dg bahasa mereka sendiri, bukan bahasa inggris, dan mereka tidak berkurang kesuksesannya tuh dg tetap mengeksiskan bahasa mereka sendiri. Si lee min hoo malahan seksi banget karna dia ngomongnya tetep pake bahasa korea, hahaha.

Sutra lah kalo dibilang kita berdua jadul, itu kan opini orang. Silakan silakan aja, karena saya sendiri kan juga sedang beropini, hihi. Kami juga punya mimpi tentang sekolah di luar negri, tapi bukan karena tertarik dg kebarat-baratannya, lebih karena kita mencari suasana yang baru, yang unik. Dan keluar dari zona nyaman kami mencari zona nyaman yang lain. Tetep, bahasa indonesia itu

nomer kahiji, nomer satu!

Kemudian ya baiklah deh jika anak2 yang telah dewasa dikenalkan dg bahasa bahasa asing, semisal setara SD gitu. Sebatas tau dan bisa aja siy okey, asal jangan jadi habit. Nah ini yang parah buat kami berdua kalo udah diadain kelas internasional di ranah playgroup dan TK.

Sejak awal masukin tsaqeef ke playgroup al-hamidiyah dan ditawari brosur yang isinya pilihan kelas reguler atau kelas internasional, kita tanpa berantem lagi satu suara milih kelas reguler. Kemudian ketika pertengahan semester satu, ada sosialisasi dari sekolah kalau mau dibuat kelas islamic montessori tapi cuma diterapin di kelas internasional.
Kita cukup tertarik dengan adanya islamic montessori class ini, di kelas montessori anak diajari untuk mandiri, bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Tools di montessori class akan lebih mengasah life skills anak lebih berkembang. Saya suka dg gagasan itu. Tapi yang disayangkan, kenapa ya tidak diberlakukan di kelas reguler. Saya dan suami suka montessori sistemnya, tapi agak risih dg full english-nya.

Waktu ada acara sosialisasi dari sekolah tsaqeef tentang montessori class ini, salah satu yg kita tanyain waktu termin tanya jawab adalah kita curious kenapa sih begitu tertarik membuat international class, dg full english di dalamnya. Saat itu salah satu guru menjawab, ya kan sekarang apa apa yang di sekitar anak itu sudah menggunakan bahasa inggris, film film yang mereka tonton, iklan iklan di tivi, dsb. Bu guru itu menyitir hadits rasulullah : didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, bukan jamanku. Karena ia hidup di jamannya, bukan jamanmu.
Rite! Tidak ada yang sangsi dengan hadits ini, rasul yang paling peka instingnya dan paling bijak dalam tarbiyatul aulad. Tapi ya ini lagi lagi menurut kami, kurang match ya kalau hadits itu disitir untuk problem full english class ini, memangnya klo dididik sesuai jaman terus harus beringgris terus? Menurut kami sih tidak, ada porsi yang harus seimbang antara yang lokal dan impor. Kan islam mengajarkan keseimbangan dan hubbul wathan. Lah bisa bisa aja kalo mencari dalil buat menguatkan statemen kita, kan kecenderungan banyak manusia adalah mengambil dalil yang disukai dan lupa ya dengan dalil yang tidak disukai. Teruuusss alasan tentang film dan iklan di atas itu loh, menurut kita gak substansial banget, terlalu remeh untuk dijadikan alasan, saya n suami kan pengen denger alasan yang sifatnya lebih idealis. Tapi ya sudahlah, kita waktu itu gak pengen berpanjang panjang apalagi berdebat, lha wong melenceng dari topik siy, xixixi.

Jelas, meskipun ada kelas montessori. Kita tetep gak akan masukin tsaqeef ke kelas itu hingga TK. Full english for kindergarten is the matter. Saat SD kelak, baru kita diskusikan tentang montessori class ini. But NO for now. Belum waktunya. Gak antipati loh ya dengan english as daily, cuma gak pas aja waktunya. Dulu pan jaman mondok juga arabic n english udah jadi bahasa percakapan sehari hari. Umur segitu tuh, baru pas deh. Tetep, prinsipnya anak balita kudu enjoy  dulu sama bahasa ibunya, baru abis itu belajar bahasa asing.

Silakan Tinggalkan Komentar Anda di sini..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s