~Muara Ikhtiar Cinta~
-Alidina Nur Afifah-

Perih.
Tak ingin mengawali kisah ini dengan keluhan menyakitkan. Tapi begitulah sketsa hidupku ini bermula. Setidaknya, aku ingin mereka yang juga pernah mengalami hari-hari yang sama, mereka yang pernah terpuruk dan tak tahu lagi harus bagaimana, mereka yang merana karena merasa Tuhan tak Adil padanya dapat mengerti bahwa justru sayatan ini adalah nyanyian keadilan dariNya, tiupan cinta yang takkan pernah sampai ilmu kita meraba dan melagukanNya, dan justru dari kelukaan ini aku dapat melompat lebih tinggi jauh dari yang sanggup kuduga, terjun lebih dalam ke dunia hati yang telak berbeda, terbang lebih bebas di alam yang tak lagi sama.
Sebuah nuansa telah menculik pemahamanku hingga sekedip mata saja muatan pesonanya bisa mengantar diriku menukar hidup yang telah kujalani lebih dari dua dasawarsa dengan rangkaian diorama yang asing. Keasingan yang saat itu baru kutahu bahwa sungguh inilah yang mestinya kumiliki sedari dulu. Inilah titik tolak perubahan paradigma yang ikut merevolusi seluruh sudut pandang pikirku. Pena cinta-Nya telah berbicara, memilihkanku alur tak rata yang indah dan sangat kunikmati sepanjang perjalanannya.
Mahasuci Dia, Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka hanya berkata kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah ia”
# # #
Angin Januari berhenti menghembus, seolah beresonansi dengan detak jantungku yang seketika saja lumpuh untuk beberapa saat…

Aku terhenyak. Setelah puluhan purnama setia dan percayaku menyertainya, begitu saja ia hempas diriku dari kejauhan. Lumpuh. Saat-saat seperti ini kurasakan benar habis dayaku.
Di tengah ujian akhir semester yang semestinya total kulalui dengan tiupan semangat dan dukungannya, aku malah kaku dan beku karena ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Pergi meninggalkan diriku yang hancur dan berkabung bersama hasil ujian yang menyedihkan.
Sudah sejak beberapa tahun ini, aku bimbang. Bimbang dengan pemikiranku sendiri.
Inikah yang dinamakan fase pencarian jati diri itu?
Apakah saat ini aku sedang mengalaminya?
Aku merasa tak yakin dengan apa yang aku perbuat, aku sedang mencari sebuah pembenaran yang logis dan hakiki atas setiap apa yang kuputuskan. Namun aku tak kunjung menemukannya… aku masih saja merasa abu-abu, tak ada yang hitam buatku saat itu, pula tak yakin bahwa sesuatu putih untukku di masa yang sama.
Ada yang salah, selalu merasa ada yang salah tapi aku tak tahu mengapa demikian.
Terlebih saat kucoba memaknai hubungan ini, hubungan semacam apa ini? Benarkah demikian cara yang baik untuk mencari pendamping hidup yang tepat? Aku telah tahu ini tidak benar, tapi aku tidak sanggup berlari… Aku sudah paham yang kupilih rupanya salah, tapi aku tak mampu pergi…
Entah, rasanya aku belum siap untuk kehilangan lagi. Ya, lagi. Dahulu, jauh di masa itu. Aku pernah merasakan perihnya dikhianati, aku pernah melalui masa-masa itu, masa dimana aku begitu terpuruk karena harus ditinggalkan untuk perempuan lain. Betapa waktu itu, kurasakan hidup dan kepercayaan diriku telah direnggut oleh kepergiannya. Aku sangat kecewa dan tak sedikit pun bisa menerima ribuan alasan yang disampaikannya, sampai-sampai romansaku telah berkerak menjadi benci, rasa benci yang sampai kini masih tak jua bisa kuampuni.
Susah payah aku merangkak dari kubangan. Tertatih mengais langkah yang masih tersisa dalam energiku. Kembali menghimpun kepingan yang remuk redam menjadi kekuatan seorang perempuan yang tak lagi ingin disepelekan. Hingga akhirnya dia datang menawarkan kebahagiaan versiku saat itu.

Begitulah bagaimana kebimbangan itu begitu mengusik. Lebih dari separuh perjalanan bersamanya, aku merasa mulai ada ruang-ruang hampa dan tak tersentuh di hati. Terombang-ambing di persimpangan dan gundah hendak melangkah kemana. Aku ingin segera memilih arah, tapi seperti ada yang tak rela kutinggalkan…
Pada mereka semua ada iman yang bersemayam di dalam dadanya. Kalaupun manusia bergelimang dosa, ingkar, durhaka, kafir bahkan atheis sekali pun, fitrah manusia tetap tidak berubah. Iman di dalam dada mereka tetap kekal adanya.
Aku malu, ternyata energi hijrahku saat itu belum sekuat rasa takutku. Begitu mudah mengatakan bahwa hanyalah Allah yang pantas kita takuti, tapi ragaku sangat sulit untuk mengerti sehingga ia diam dan tak kunjung bergerak. Aku sedang tertahan dalam perang pemikiranku.
Boleh jadi itulah sebab mengapa kemudian aku memintanya untuk sesegera mungkin menikahiku. Aku pikir, ini adalah jalan tengah yang bisa -sementara waktu- memfasilitasi resahku. Meski sejujurnya aku tak yakin benarkah seperti ini yang disebut terfasilitasi?
Egoku menolak untuk berpikir lebih jauh, yang paling penting bagiku adalah ia pun telah sepakat. Sehingga dalam hitungan tahun, dengan memegang komitmen yang sesungguhnya lebih layak disebut pembenaran itu kujadikan ia sebagai dalih untuk tetap bertahan pada kondisi ini. Paling tidak, dengan memiliki target mengakhiri hubungan yang tak sempurna ini ke jenjang yang halal, aku boleh merasa tenang. Hmm, Tenang? Sungguhkan aku merasa tenang??
Oh… betapa diri ini rindu mengadu. Mengadu tuk akui bahwa sekuat apapun aku menyangsikan, cahaya-Mu tetap tampak terang kulihat meski dari kejauhan. Tak dapat kupungkiri sinar-Mu itu menarik hati dan ingin segera kurengkuh dalam luas yang tak bertepi. Tapi aku terkungkung di sini, terjebak oleh rasa yang masih tak bisa kukendali. Aku ingin segera menyapa, tapi tak tahu harus bagaimana.
Hingga akhirnya, dalam kebekuan malam di atas hamparan sajadah meluncurlah harap dan pinta itu melalui aliran air mata pasrah kepada Yang Maha Menggenggam hati.
“Yang terbaik, Ya Allah”
Kata-kata yang selama ini takut sekali kuucapkan. Kalimat yang selalu saja kuhindari untuk kupanjatkan padaMu, Ya Rabb. Dalam doa-doa sebelumnya, pintaku hanya sanggup bersuara sampai dalam batas “jodohkanlah kami”, “tetapkanlah hati kami satu sama lain”, atau “mudahkanlah langkah kami”.
Karena aku masih resah bagaimana jika Engkau Mengabulkannya. Aku takkan pernah siap melepasnya. Aku tidak siap untuk menerima kenyataan jika dia bukanlah yang terbaik untukku sebagaimana kehendakMu, Allah…
Tapi malam ini, telah sampailah masanya aku melangkah, tidak lagi jalan di tempat, tidak lagi diam dalam gelisah, dengan sepenuh hati dan jiwa aku sungguh pasrah Ya Allah… Berikanlah aku petunjukMu… Aku mohonkan yang terbaik, Ya Allah…
Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagiku… Yang Terbaik…
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
* * *

Hingga tak selang dari 2 bulan sejak aku memberanikan diri mengubah kalimat doaku, Januari ini, tabir itu tersibak sudah…
“Maafkan aku”
Hanya sederet kata itulah yang bisa diucapkannya dari telepon seberang.
Aku masih tidak bisa berdamai dengan isakku yang semakin menjadi-jadi sehingga tidak sanggup bicara. Dia pun hanya terdiam, mungkin sedang bingung kalimat seperti apa yang pantas dipilihnya di saat-saat seperti ini.
“ada apa? Kenapa harus begini tiba-tiba?apakah ada yang salah denganku? katakan apa itu?aku ingin sekali memperbaikinya dan kita tidak perlu seperti ini, Iya kan? bukankah masih bisa kita bicarakan lagi?”
aku berusaha bertanya sebanyak yang aku bisa sebelum aku kembali terisak dan tidak bisa berkata lagi. Dan benar, aku tak dapat menahan tangisku lagi.
“Tidak. Tidak ada yang salah denganmu. Aku hanya…” Dia terbata, dan kembali terdiam.
“Aku hanya tidak bisa berhubungan jarak jauh seperti ini. rentang ini jauh sekali untukku…”
Keluhnya perlahan.
“kenapa baru kau katakan sekarang? Kita telah berulangkali membahasnya. Bukankah kita sama-sama telah sepakat itu adalah bagian dari resiko sebuah komitmen…”
Aku mencoba tetap berpikir logis, padahal semua juga tahu, sulit sekali bagi seorang perempuan untuk berpikir logis dalam kondisi seperti ini.
“baiklah, kuakui itu bukan semata-mata sebuah alasannya. Aku hanya… Hhhhh…Aku hanya belum siap dengan pernikahan yang sangat kau inginkan itu. Kamu tau, aku masih kuliah. Masih banyak yang harus kulakukan. Aku masih ingin bekerja empat atau lima tahun lagi sebelum aku menikah”
Kalimatnya terhenti, ada luapan hati yang coba ditahannya.
“Setahuku, kau tidak pernah keberatan dengan yang kau bilang ‘keinginanku’ itu, kupikir itu ‘keinginan kita’… ” ujarku mulai goyah.
“Hmmm… Kau harus tahu. Sejak awal, aku ingin menganggap hubungan kita ini sebatas hubungan anak muda pada umumnya. Go with the flow! Kita tidak pernah tahu apa akhir dari semua ini. Anggaplah ini sebuah kesenangan masa lajang yang bisa kita nikmati. Tidak perlu berpikir rumit tentang ini dan bagaimana di kemudian hari. Kita masih muda, Demi Tuhan! Kita masih 20 tahun! Kenapa harus cepat-cepat menikah??”
Dia menghela napas.
“Saat dulu pertama kali kau katakan ingin segera menikah seusai kita sarjana nanti, kau tidak pernah tahu betapa bimbangnya aku saat itu. Antara ketidakinginanku menyakitimu, memupuskan impianmu dan ketidakinginanku memusnahkan karir dan kesuksesanku hanya karena aku telah menikah!”
Aku tak percaya dengan apa yang dia katakan. Seketika saja, semua pondasi yang telah dibangun sejak lama runtuh begitu saja dalam sekejap oleh alasan-alasannya tadi. Aku menertawakan diriku dalam aliran air mataku. Selama ini, aku benar-benar menganggap kami mempunyai prinsip dan memandang dari sudut yang sama dalam menyikapinya. Tapi ternyata aku salah. Padahal, poin yang ini adalah bagian paling vital. Setiap pasangan harus memiliki kesepahaman yang sama tentangnya. Sesak sekali rasanya mengetahui bahwa sesungguhnya kami tak memiliki keselarasan itu.
Ia mengembalikan keputusannya kepadaku. Jika aku masih ingin melangkah bersamanya dengan rasa dalam dirinya yang tidak sama, dia katakan takkan berkeberatan. Oh.. demi Tuhan! Apa dia pikir aku gila?! buat apa aku meneruskan sebuah hubungan yang katamu sudah tak ada lagi rasa? Kau pikir aku perempuan seperti apa? perempuan lemah yang mau begitu saja dikasihani hanya karena aku cinta dan kamu tidak lagi??

Kau harus tahu, harga diriku lebih tinggi dibanding rasa cinta yang salah ini! Kenapa kamu masih bertanya lagi apa keputusanku? Sudah jelas dan pasti aku memilih untuk mengakhiri semua ini!
# # #
Temaram sinar rembulan di malam-malam Februari menemani rana dan sepi di tepian hariku…perlahan terang sinarNya menghampiri, membawa bahagia yang takkan pernah kulepas lagi…

Tak gampang untuk pulih, mengingat aku adalah perempuan melankolis yang sangat mudah terlarut dalam warna-warni rasa hati. Mengingat aku adalah perempuan yang terlalu bodoh dengan memberikan perasaanku seutuhnya ketika mencintai seseorang, seorang makhluk, seorang ciptaan.
Dua kali. Disakiti dua kali adalah kebodohanku. Mengapa sejak luka yang pertama aku masih memberi kesempatan kedua untuk lelaki? Baiklah, adalah fitrah untuk merasakan kecenderungan pada lelaki. Aku telah memelihara dan menanamkan setiaku sedalam-dalamnya.
Tapi mengapa mereka begitu tega menghancurkan asa seorang perempuan yang menaruh harapan besar?
Tak sadarkah mereka bahwa bunda-nya adalah pula perempuan?
Tak ingatkah mereka saudari kandungnya pun adalah seorang perempuan yang juga bisa terluka oleh lelaki lain kapan saja?
Jika diri ini serupa mereka yang tak punya iman di hati, tentu saja sumpah serapah bertabur benci telah kuteriakkan demi rasa sakit hati ini…

Pecahan kaca itu menusuk sangat dalam, hingga jiwaku berdarah. Entah bagaimana aku bisa merapikan kembali koyakannya seperti semula. Entah sampai kapan aku sembuh dari kelukaan yang kurasakan seolah tak ada ujungnya.
Karena ulah lelaki itu aku kehilangan diriku. Aku merasa sendiri, sendiri dalam kepedihan yang memilukan. Yang kulihat hanyalah semua orang kini tengah mengolok-olok penderitaanku. Semua orang sedang mengasihani hidupku yang merana dan tersiakan, Aku tidak suka dikasihani! Aku tidak ingin dianggap lemah, aku tidak mau dituduh menyedihkan…
Hei, tunggu dulu!
Tapi Bukankah inilah jawaban yang kutunggu-tunggu sejak dulu? Tidakkah ini sebuah penjelasan dari kebimbangan yang meresahkanku itu?
Kupejamkan mata dan mencoba bernapas lebih dalam… kuselami sebuah sisi hati yang tersimpan jauh di dasar peraduan. Kurasakan getar-getar tersembunyi yang bernyanyi bersama tangisku.
Ajaib, sesungguhnya ada rasa ringan yang menjalar seiring desiran alir darahku. Beban berat yang membuat puluhan otot bahagiaku lumpuh bertahun-tahun ini seketika saja terangkat, sehingga tanpa kusadari jauh di balik alam bawah sadarku ada bagian dari diriku yang tersenyum riang merayakan kebebasan dan kesenangan sejati yang rupanya lambat kupahami.
Inilah aku, Ya Rabb..aku telah pulang bersama segenap jiwaku !
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.

# # #
Irama seruling mengiring geliat Maret yang menari sibuk sekali, laju langkahku terpacu mengikuti alunan yang kian hari kian cepat saja, letih tak dirasa, karena lelahku kini telah bermakna…

Mungkin luka itu masih ada. Tapi aku tak lagi ingin mendefinisikan bahkan di dalam hatiku. Karena mengingatnya hanya memanggil perih itu hadir kembali. Aku telah baik-baik saja, bahkan lebih baik dari yang sanggup kuduga. Meski kini, masa lalu membuatku jadi cenderung apatis. Tanpa kusadari, selalu saja ada picingan mata dan kerutan dahi terhadap setiap tindakan lelaki, siapa pun. Sebagai bentuk proteksi diri dari alam bawah sadarku yang tak mau lagi ditipu. Aku akan bela mati-matian dengan caraku sendiri siapapun perempuan di sekitarku yang hatinya tertoreh karena lelaki. Terdengar feminis memang, tapi tetap ada yang harus membayar setiap air mata yang tumpah dari pelupuk perempuan-perempuan itu.
Syukurlah semua terjadi di puncak karir organisasiku, segala kegundahan yang telah terurai kini bertransformasi menjadi sebuah energi dahsyat untuk mengoptimalkan potensi. Setiap goresan luka yg menyayat terobati dengan letupan semangat yang menghabiskan setiap detikku bergulir demi mengais kembali kasih Allah yang tanpa sadar kubiar saja berserak di depan mataku selama ini sebelumnya. Tak lagi ragu aku melangkah pasrah dan meneriakkan pinta di setiap masa yang terlewati akan datangnya segala hal yang terbaik bagi hidup dan matiku, pula kehidupan setelah kematianku. Yang terbaik seperti yang Allah Mau.
Aku sungguh menikmati ringannya rasa dan semilir cinta yang menyejukkan raga dan jiwa. Kumohon padaMu Allah, Jangan Biarkan lagi aku menjauhiMu. Jangan kau Ijinkan kebodohanku merenggut lagi keindahan saat-saat aku bahagia bercumbu denganMu. Jangan pernah Kau Bolehkan lagi aku merampas sendiri senyumku hanya karena kehilangan energi yang tak sanggup kuraih kecuali dengan kasih dariMu…
Aku telah lupa, bahwa sebelum hari-hari yang sekarang ini aku pernah menangis pilu di pelukan sahabat-sahabatku karena sedih yang tak perlu..
Aku telah lupa, bahwa sebelum pelangi menemaniku sepanjang waktuku ini aku pernah diguyur hujan deras bertubi yang membuatku menggigil kedinginan padahal aku bisa berteduh tapi aku enggan..
Aku telah lupa, bahwa beberapa bulan yang lalu aku sedang terpuruk namun kini aku tengah berdiri dengan senyum yang terkembang…
Aku telah lupa bahwa di masa kelam yang tampaknya dulu tak kuanggap hitam itu aku selalu terbangun dengan mimpi buruk yang tak pernah kusadari sedang kini aku selalu menikmati tidur nyenyak dengan rasa bahagia saat bangun di pagi hari karena yakin Allah akan senantiasa Menjaga diriku meski aku lengah tak mengerti…
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Dekat, Aku Mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu
# # #
Kupu-kupu di bulan Mei menggodaku dengan butir-butir lembutnya, aku melihatnya tertawa riang dan bersenda gurau bersama ayunan ilalang, mengekspresikan cinta Ilahi yang hadir di antaranya.. tulus.. tanpa syarat..

Segalanya terasa begitu cepat, mungkin juga karena aku terlalu bersemangat menyibukkan diri. Hingga akhirnya datanglah malam itu. Setelah hari yang luar biasa padat memaksaku baru pulang seusai maghrib. Tak sempat aku melepas segala atribut yang melekat dan langsung saja menikmati nyamannya pelukan kasur di kamar kosku yang terasa bagai pijatan di tubuh ini. Dan akhirnya telepon itu berbunyi. Sebuah telepon yang membawaku melompat ke dalam fase hidupku selanjutnya tanpa permisi…
“Beberapa waktu lalu mengobrol dengan seorang alumni laki-laki, rupanya siap menikah dan sedang mencari istri, dan saya menawarkan antum untuknya, namanya…”
Suara guru Aqidahku semasa di SMU dulu membahana di telinga. Mengabarkan sebuah nama yang tentu saja sangat kukenal.
“Segera buat CV ya, dikirimkan ke email saya. Nanti saya kirimkan CV-nya juga ke email antum”
Aku terbangun dari diamku. Masih tertegun sampai-sampai aku terlambat menjawab salam penutup dari seberang yang terlebih dulu telah mengakhiri sambungan telepon.

Lelaki itu?
Seketika saja jantungku berdebar. Bagaimana mungkin.
Ah, guruku… engkau sedang bercanda denganku kan? Kuingat engkau yang paling riang saat kukabarkan aku putus Januari lalu sampai-sampai mengucap “Alhamdulillah”. Sejenak kuabaikan kabar melalui telepon penting itu. Segera kubergegas ke kamar mandi menikmati guyuran air mencari kesegaran yang kurindukan sejak tadi.
Menjelang tidur, pikiranku melayang mengingat-ingat. dia, lelaki itu. Hingga detik ini, sebelumnya belum pernah aku berpikir dan mengenang detail tentangnya sampai seserius ini. Sebagai orang yang belum pernah bertemu, aku cukup tahu banyak. Biasalah perempuan di asrama, pasti ada saja cerita tentang lelaki dibahasnya, apalagi dia. Tentu saja orang seperti dia tidak akan luput dari pembicaraan.
Padahal dia ada di sekolah ini jauh sebelum aku menjadi murid di sini. Dan yang paling kuingat dari pembicaraan itu, mereka bilang dia sosok suami idaman, Apa iya? Boleh jadi benar adanya.
Katanya dia bersuara merdu, qira’ah qur’annya fashih dan meluluhkan relung siapa saja yang menjadi makmum-nya. Berperangai baik, lembut dan ramah. Murid yang rajin, pintar, dan menjadi siswa teladan di jamannya. Mantan Ketua OSIS dan .. ehm, tampan pula wajahnya, jauh di atas rata-rata.

Hei, tunggu sebentar. Aku ingat! Kami pernah bertemu sebelumnya. Ya, hari itu kami bertemu. Tak ada seperempat jam, mungkin hanya terhitung 10 menit, entahlah aku tak ingat banyak. Tapi hari itu kami sungguh-sungguh bertemu. Dia menjadi wakil Ikatan Alumni yang mengadakan acara bekerjasama dengan pihak siswa yang diwakili olehku, kami mengadakan rapat koordinasi waktu itu. Aku tersenyum mengingatnya, Itu sudah terhitung 5 tahun yang lalu. Ah, dia rupanya.
Tapi sekenal apapun aku dengannya saat ini, pastilah itu hanya hal-hal superfisial saja, masih banyak yang tentunya belum kuketahui dan tersembunyi. Ini kan urusan menikah, bagaimana mungkin aku menikah hanya dengan mengandalkan hal-hal yg superfisial? Bagaimana bisa aku menikah hanya bertaruh pada atribut-atribut islami yg berkibar di luar saja?
Aku tak akan gegabah, ini kan urusan menikah. Kata itu menikamku, Aku terdiam. Hmm.. sedari tadi aku berpikir banyak, mengapa seperti ada yang terlewat. Ah, Menikah?? Oh, kenapa aku lambat berpikir seperti ini, aku baru menyadari kalo urusannya sepenting ini, Menikah.
Menikah?
Harus secepat ini kah?
Baru saja beberapa bulan yang lalu aku dikecewakan oleh laki-laki setelah beberapa tahun sebelumnya juga mengalami hal yang sama. Dan untuk bangun dari ketakberdayaanku sampai bisa tegar berdiri seperti kini, butuh banyak modal dan energi yang menguras habis perbekalan yang kusimpan. Lalu saat ini, aku harus masuk ke dalam fase hidupku untuk membahas urusan yang teramat penting dengan Tuhanku, dan ini harus melibatkan laki-laki?
Aku gelisah. Sungguhkah aku telah berani melangkah sekarang? Baru beberapa bulan, apakah aku telah selesai berkompromi dengan diriku perihal kesakitan yang lalu?
Apakah aku siap?
Siapakah dia? dia bukanlah malaikat tak berhawa tapi dia adalah manusia, seorang lelaki yang selain bisa saja berhati baik dan peka bahwa dengan seorang perempuan lah dia sedang berurusan, tapi juga memiliki potensi yang sama dengan lelaki-lelaki lainnya untuk menyakitiku.
Aku tahu siapa diriku, Aku bisa mengukur seperti apa karakterku, Aku paham seberapa sensitif dan pekanya perasaanku. Konsekuensinya bukan hanya sekedar tersanding bahagia di pelaminan pada akhirnya, tapi juga puing-puing yang baru saja lekat akan kembali retak, lalu terserak dengan kepingan yang lebih kecil dan rumit. Aku harus mengukur diri, siapkah aku untuk kembali merangkainya jika itu nantilah yang menjadi penghujung?
Hatiku tiba-tiba lelah, pikirku penat, jiwaku resah. Tak henti relung ini meminta, Ya Allah, Tenangkanlah hati ini, Liputilah kegalauannya dengan kebesaranMu Yang Menguasai. Sampai akhirnya kuterlelap dalam buaian malam yang serupa peluk menghangatkan sang bunda.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.
# # #
Dinginnya air di penghujung malam dan pagi terawal hari ini menyentuh wajahku, kesejukannya menelusup ke dalam pori-pori dan merefleksikan kedamaiannya sampai ke dasar bilik-bilik hati. Jadikanlah aku bagian dari hamba-hambaMu yang bertaubat dan senantiasa menyucikan diri…

Ya Allah, apapun pendapat hatiku untuk kejutan cintaMu kali ini…kupercaya yang ada hanyalah keindahan pada akhirnya, entah senyum ataukah air mata yang menghias wajahku kelak…entah apakah proses ini benar-benar Engkau Ridhai tuk berujung pada Mitsaaqan Ghaliidzaa yang diikrarkan,,,
Apapun yang kukatakan, entah terlampau cepat atau tak siap. Seperti inilah yang seharusnya benar berlaku. Bukankah ini jalan yang Engkau Ridha untukku menemukan separuh nafasku? Inilah yang sebenarnya. Lantas mengapa aku harus ragu dan ketakutan? Bukankah Engkau Yang Maha Menyembuhkan kesakitan?
Ya Allah, terima kasih atas warna-warna yang indah ini,
apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…
apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…
apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…
apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus asmara dan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…
Bismillah, Aku siap dengan IjinMu!
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.
# # #
Deru cintaMu mengalir dan menyelimuti butir butir darah merahku. Detak yang semakin mengeras saat detik terus bertambah tetap tertata oleh penjagaanMu. TabirMu kian memamerkan padaku akan binar kilaunya. Pendar cahaya yang telah mempesona. Riang dan Resah silih berganti menyapa.

Ah, siapakah dia? Semakin hari semakin menarik hati. Sungguh aku hanyalah perempuan biasa yang sangat bisa kapan saja dibelai asmara. Tak ada yang meminta, tak ada yang memaksa. Dia datang dengan sendirinya tanpa permisi. Tapi, kuingat ini belumlah waktunya. Belum saatnya diriku bersemangat memupuk dan menyiraminya. Bahkan mendefinisikan apa kiranya yang tengah berlaku dalam hatiku ini aku tak berani. Tapi tetap saja, tak ingin menafikan harum wewangiannya menari-nari sampai di depan indera penciumanku…
Wahai…
Hati yang lemah dan rentan berpaling ini…
Tak sadarkah jiwamu mudah sekali ternoda,
Terayu bujuk duniawi yang menyilap mata…
Duhai,,,
Tak kah kau rasakan lara,,
Lara merindu kebeningan diri yang tak jua menyapa,
Hingga mana kau biarkan titik hitam itu mulai menggunung menyelimuti…
Tak kah pula kau dengar rintih ini,,
Rintih lelah oleh permainan jiwa dan perasaan…
Betapa batas goda itu samar dan tak kasat mata,,
Batas yang justru dimulai dari hatimu sendiri…
Tak sanggupkah kau atur kendali itu,,
Tak kuasakah kau sedikit tegas dengan dirimu sendiri,,,
Tak mampukah kau menjadi pentitah indah bagi jiwamu sendiri…
Kumohon wahai hatiku…tariklah erat pelana itu…
Agar tak kau berikan sedikit pun kesempatan,,
Untuk serahkan diri pada nafsumu walau sekejap mata..
Wahai diriku,,,yang sangat kusayangi,,,
Sejenak…Rasa yang indah itu memang sangat menggoda…
Sekilas…kilaunya amat sangat memikat jiwa,,
Namun Bukankah,,, sangat kau pahami,
Itu hanya akan meracuni jika tak kau bijaki
jangan kau hinakan dirimu dengan mengabdi padanya,,,
lebih lagi jika kau bawa jiwa lain ikut terjebak kedalamnya…
Jangan…
Kumohon jangan…
Bersabarlah…
Kuasailah…dan biarkan waktu yang akan menjawabnya…
Kau tahu semua punya masanya sendiri…
Tinta telah mengering dan lembaran telah dilipat,,,
Allah telah Menuliskan keindahanmu jauh-jauh hari,,,
Dan kau akan menemuinya,,, dengan sendirinya,
Tak perlu seperti yang kau minta…
Tapi sesuai apa yang Allah Punya untukmu,
karena itulah yang terbaik, dan akan selalu menjadi yang terbaik…
bukankah seperti itu yang kau yakini…
Apakah kau melupakan itu wahai diriku yang kusayangi…
Siapakah yang bisa menyembuhkan kesakitanmu?
Bukankah hanya Allah melalui ikhtiarmu sendiri,,
Tiada makhluk yang bisa menopangmu,,
tersenyumlah duhai diriku…
percayalah…kau tidak seburuk itu,,,
janganlah putus asa dengan kerikil yang menyandungmu…
karena Allah tlah Menciptamu dengan segala kurang dan lebihmu…
# # #
Insan Cendekia, sebuah wujud nyata terawal. Menjadi saksi bahwa cinta ini telah berikhtiar semampunya. Di sanalah, suara dan cerita menghimpun kemantapan untuk merapat lebih dekat…

Hm, lama sekali rupanya tak datang menyapa. Sudah banyak yang berubah, perubahan yang indah dan megah. Insan Cendekia, selalu saja ada rindu untuknya. Di sana, kutitipkan berjuta kenangan. Kehadirannya dalam rangkaian puzzle hidupku takkan pernah tergantikan oleh kepingan yang lain. Aku telah melalui proses yang mengagumkan bersamanya. Dan kini, seolah ingin kembali ikut terukir dalam jejak-jejak penting hidupku ia turut menyaksikan slide kali ini.
Kemarin dia sudah mendahului datang menemui guruku, dan sekarang adalah giliranku. Karena jarak yang jauh dan waktu yang sama-sama tak banyak luangnya, kami tidak bisa menyempatkan datang dalam waktu yang sama.
Ruangan perpustakaan begitu sunyi. Padahal banyak sekali siswa di sini, bangga-nya melihat adik-adik tertib seperti ini. Semakin keren saja perpustakaan ini sekarang, seingatku dulu tidak ada koneksi internet di sini.
Akhirnya obrolan serius tapi santai itu dimulai. Kudengar dari sang guru tentang dia yang berkisah perihalku, beberapa diskusi online kami, juga keinginannya untuk segera menemui orang tuaku. Kami menyepakati tidak ingin membuat proses ini terlalu kaku. Baik interaksi maupun waktu. Demi eksistensi seni melukis akhlak dengan sebuah kompromi antara kebiasaan, etika, syariat, juga kepekaan terhadap harapan keluarga dan lingkungan sekitar.
Setelah diskusi siang itu, insya Allah langkahku semakin mantap. Ya Allah, semoga kemantapan hati ini adalah jawabanMu atas istikharahku. Jika inilah yang Engkau Perkenankan, maka Mudahkanlah jalanNya, Aamiin..
# # #
Hari ini, waktu tiba baginya mengunjungi kedua orang tuaku untuk pertama kali. Dan tentu saja adalah kali pertama pula dia bertemu denganku. Seperti apa kiranya dia yang seutuhnya nyata? Bukan hanya sekedar tulisan dan hasil bidikan kamera yang menjadi bayangan di mataku selama ini…
Dia berada tepat di kursi seberang. Memakai setelan koko putih dan celana kain panjang abu-abu. Terlihat sedang asyik sekali mengobrol dengan Ayah dan Ibu. Oh, seperti ini rupanya dia. Aku tersenyum, tampan dan santun seperti yang kuduga. Ups, semoga tidak ada yang membaca apa yang kutulis di pikiranku, aku malu.
Senangnya melihatnya begitu cepat akrab dengan orang tuaku, Alhamdulillah. Aku lega dia mahir mengambil hati mereka. Bagiku, selain persamaan fikrah, prinsip, dan pola pikir, itulah salah satu syarat bagi lelaki yang akan menjadi suamiku kelak. Keluargaku, terutama Ayah dan Ibu harus nyaman berada di sisinya.
Mengingat pengalaman tak menyenangkan yang sudah-sudah, kini sejak awal telah kuniatkan, jika pada pandangan pertama orang tuaku mengatakan “ tidak”, maka selesai lah sampai di sini. Karena kadangkala, aku merasa bahwa mereka yang telah membesarkanku hingga kini itu lebih mengerti tentang diriku daripada aku sendiri.
Tentunya sebelum menghadirkannya kepada orang tua, aku lah yang menjadi penyaring pertama yang menimbang dan mengira-ngira apakah dia akan cocok dengan keluargaku juga keluarga besarku. Setelah itu, aku bertugas mensosialisasikan dia seutuhnya pada mereka, aku harus berjuang bagaimana agar rasa sayang itu tumbuh di hati mereka sebelum saling bertatap muka, dengan cara yang elegan pastinya. Untuk kemudian saat dipertemukan mereka telah menyimpan cinta bagi dia. Cinta yang menggiring pikiran positif dan kompromi atas apapun yang berlaku saat itu.
Memang membuat proses ini memakan waktu yang lebih lama, tapi bagiku. Kenyamanan mereka sangatlah penting.
Kemana kaki akan dilangkahkan adalah pilihan masing-masing, dan tak harus setiap orang mengarahkannya pada alur yang sama. Dan inilah pilihanku. Aku tak mau keluarga kecil yang kubangun nanti akan mengalami kesulitan-kesulitan yang seharusnya bisa diseleksi sejak awal.
Bismillah!
# # #
Duh, inilah masa bagiku menyapa mereka. Orang-orang terkasihnya yang ingin melihatku lebih daripada sekedar cerita. Inilah pertaruhan itu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Memiliki cinta. Semaikan benih kasih itu di antara kami, Ijinkan mereka mencintaiku, dan kumohon kenyamanan dan bahagiaku hadir di antaranya…
Kereta Argo Bima membawaku dari keheningan malam Jogja menuju hingar bingar Jakarta. Kulihat Paman yang turut mengantarku sudah tertidur pulas karena aktivitas-nya seharian. Terimakasih pamanku yang baik telah repot-repot mengantar.
Alih-alih pulas seperti Paman, aku tak bisa sedikit pun memejam mata. Padahal, siang tadi aku pun baru saja tiba di Jogja dari Solo. Aku sedang mencoba meraba apa kiranya yang akan terjadi esok. Terlalu banyak menonton film korea membuatku merasa bahwa pertemuan antara calon menantu dan calon mertua selalu terjadi dramatis dan memilukan. Naudzubillahi min dzaalik, semoga kali ini menjadi pengecualian untukku.
Ya Allah, Jauhkanlah pertemuan esok dari segala yang tidak mengenakkan hati. Mudahkanlah… Lancarkanlah…
Pagi ini kereta tiba terlambat satu jam, hmm.. memprihatinkan, kereta argo sekarang tak seperti dulu lagi, selalu saja terlambat datang. Segera kami menyewa taksi untuk meluncur ke sebuah rumah milik kantor paman yang boleh dipakai olehnya ketika datang ke Jakarta. Seusai mandi dan menata diri, kami berangkat.
Semakin mendekat ke tujuan membuat gemuruh dadaku kian riuh. Terlebih saat mobil yang kunaiki ini berhenti di depan sebuah rumah berpagar hitam yang berarti mengatakan padaku bahwa kami telah sampai. Hooossshhh… Bismillah…
Menyenangkan, meski masih canggung tapi aku merasa nyaman. Obrolan superfisial terangkai akrab. Pamanku yang lebih kerap bersuara sedang aku sepertinya banyak diam, menjawab seperlunya dan tersenyum malu-malu.
Ada sebuah suasana yang terselip dalam kunjunganku, sangat mengesankan dan indah kukenang sampai kini. Ah, baiklah.. mari kita sebut itu dramatis, paling tidak dramatis menurut persepsiku. Sebuah cerita singkat yang sangat menegangkan bagiku.
Entahlah, mungkin aku terlalu sensitif dan hanya perasaanku saja, tapi jika coba kuhitung-hitung sejak awal datang aku merasa bunda-nya tak menanyaiku sedikit pun. Sedih sekali, interaksiku dengan beliau hanya sebatas bersalaman dan cium tangan saat datang. Sebelum pertemuan, aku memang telah dikabari oleh dia tentang karakter keluarganya masing-masing termasuk jurus-jurus jitu untuk menghadapi. Jadi, sepertinya aku cukup paham mengapa sang bunda bersikap demikian. Kita pasti sama-sama mengerti tentang berbagai rasa yang terbingkai di hati seorang bunda yang hendak melepaskan putera lelaki satu-satunya yang bungsu pula itu seperti apa. Siapapun yang ada dalam posisi beliau akan melakukan hal yang sama, selektif dan teliti terhadap ia yang akan mengambil alih sebagian besar peran dirinya atas putera tercinta.
Terlebih kali ini, sang bunda belum pernah mengenalku sebelumnya, sungguh aku memaklumi jika sepanjang pertemuan ini beliau manfaatkan segenap waktu yang terbilang cukup singkat ini untuk mengamati dan memberi penilaian padaku dari mulai hal yang paling remeh sekalipun. Ini hanya masalah waktu,

Tapi sepertinya Tuhan Yang Maha Penyayang Memilih untuk Menghapus gundahku saat itu juga. Di kala jam makan siang tiba, tak dinyana sang bunda menempati tempat duduk kosong di sampingku dan mulai dengan hangat menanyaiku ini itu. Takkan pernah kulupa saat beliau mengisi piringku yang sepi dan malu-malu dengan sepotong Ayam Kuali yang sebenarnya telah kuincar sejak tadi. Dunia boleh tertawa karena aku begitu terpesona dengan hal sesepele ini. Tapi bagiku, momen ini sangatlah berharga dibanding apapun yang kubutuhkan saat itu…
# # #
Langit September Jakarta coba membaca apa yang tersembunyi di hati-hati kami. Setelah pinangan itu cahaya lorong yang semula gulita kini mulai samar menampakkan relief-relief dindingnya. Dan gemericik aliran-aliran kecil riang menemukan rangkaian nadanya. Ah, riuhnya nyanyian yang berdendang di sudut hatiku saat ini, semoga ia tak membuatku malu karena terdengar oleh mereka…

# # #
Januari menjadi akhir sebuah penantian dan awal rangkaian perjalanan panjang. Segala Puji BagiNya Yang Menciptakan rasa cinta dan kecenderungan dalam hati manusia. Lalu Menghimpun mereka untuk berdampingan bersama di bawah naungan kasih sayang-Nya. Purna sudah ikhtiar cinta ini bermuara…

Malam sebelum hari itu tiba, Ibu bilang aku harus lekas tidur, sepupu bilang aku harus memakai masker es batu sebelum tidur, Bude bilang aku jangan banyak ngobrol. Hm.. aku sangat menikmati setiap wejangan dan nasihat yang mampir dari mereka yang sudah berpengalaman itu.
Ditemani kedua sahabatku yang cantik dan baik hati di sampingku, aku mulai melemaskan tubuh dan berbaring. Sedikit mengenang bersama bagaimana proses ini berlangsung hingga aku telah berpijak sampai pada tahap ini dan akhirnya datang hari penting itu esok hari, Insya Allah.
Allah, betapa beruntungnya aku memiliki sahabat seperti mereka. Seperti apapun takdir kami masing-masing nanti, sejauh apapun Engkau Bentangkan jarak perjalanan kami nanti, tetap dekatkanlah hati kami satu ini, seperti malam ini.. saat kami saling menguatkan dan mendekap satu sama lain..
* * *
Aku didudukkan di samping Ayah yang berhadap-hadapan dengan dia yang beberapa menit lagi akan sah menikahiku. Mendengarkannya menguntai tiap ayat surat Ar-Rahman sebagai mahar bagiku seolah menyaksikannya melantunkan sebuah pertaruhan diri akan kesungguhannya untuk kelak akan berlaku ma’ruf dan berkasih sayang terhadapku.
Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
Subhanallah… betapa ayat yang dia lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku..
‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’
berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’
agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..
# # #
Bahasa Tuhan Memberitahuku bahwa seperti inilah aku yang seharusnya. Dia, lelaki tercinta, menjadi wasilah-Nya untukku menemukan jati diri yang sebenarnya. Mengeksplorasi lebih dalam potensiku, jauh lebih dalam hingga menyapa sudut lekukan-lekukan tersembunyi yang bahkan tak pernah kusentuh sebelumnya.
Aku bersyukur,
dialah separuh jiwaku yang menemukannya.. membuat aliran hidupku yg lelah mengembara bermuara dalam hangat peluknya…

rosa said
kakaaakkk…. terharuuu :’) (ada gak sih emoticon kayak gini :p)
pas baca awal2nya, “deg” kok aku merasa hal2 agak mirip yah.. trus baca lagi dan mirip juga.. untuk keputusan iya atau tidak, pertama kali keputusan ada di orang tua .. apapun jawabannya dan perjalanannya, semoga Allah memberikan aku yang terbaik seperti Ia memberikan yang terbaik buat kakak
uhibbuki fillah ^o^
mier4me said
ka alidina,,,!!! bagussss,,,!!! aku suka tulisan yang ini,,,
kapan2 aku pengen cerita2 sama kakak,,, boleh kan?
alids said
@ Ocha : Hehe.. Aamiiin.. semoga Allah Memudahkan sampai waktunya tiba, ga sabar liat ocha bersanding di pelaminan dengan dia yang terbaik ^^
@mirah: makasih say.. ^^ yups, anytime you need.. cerita aja..
jam2 kayak semalem gitu keknya kk senggang asal jangan lagi masuk bagian yg padet, ^^ sukses untuk kalimat “yang terbaik”-nya ya, say..
ulfah mardhiah said
hueee… :’( terharuu… hehehe… apalagi buat bagian pertama, i know exactly how you felt, dan gak ada hal terbaik kecuali ketika akhirnya masrahin hati sama Allah dan ngebiarin Dia memutuskan jalan mana yang musti dijalani…
semoga bahagia selalu ya dinnn
even in sadness, semoga selalu bahagia
doain semoga pada waktu yang tepat, diriku juga Allah temuin sama ‘aa’ terbaik
alids said
heheeee..
jadi malu nih sama kakak.. u know me a lot how definitely i’m looked like in the past, hihihihi..^^
yups, betul kak.. pasrah kepada Allah adalah hal yang paling menenangkan di dunia ini..
aaaaamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnn… makasih doanya k ulfah cantik yang baik hati dan selalu ceria, hehe
and also for u.. semoga Allah Menyandingkanmu dengan yang terbaik di saat yang paling tepat..
ulley said
jadi kesimpulannya bu alidina….
good point, dan pencerahan buat aku…
yang namanya ikhtiar bisa diterapkan di aspek manapun dalam hidup ya… termasuk cinta?
selama ini berikhtiar tentang cita2 aja… kalo cinta… so far belum… hehehe…tapi patut dicoba kayaknya…
didoakan selalu bersemi muara cinta nya…yang lewat mah biarin aja… u move on just fine din.. (tapi aku rasa itu juga bergantung sama orang yang di sebelahnya… ya gak?!?!)
Makasih buat chat facebook-berlanjut chat ym nya… very enlightening! jangan lupa sama kosakata yang aku ajarin ya,,,
ditunggu kiriman paket denzel washington berkoko nya (come 2 think of it,,, kayaknya aku akan pake niy istilah kaw din… hehehe)
btw, mahar nya dahsyat ya ternyata kamu din… maafkan waktu itu absen datang….
soo envious!!!!
(udah ah din… aku punya kecenderungan nyampah niy kalo komen)
maskarina said
baguuuussss….
terharu…
co cwiiiiitttt :-*