
kita kan lalui jalan terjal ini bersama...
Berdiri melihat keretamu berlari menuju Jakarta meninggalkan stasiun ini bersamaku. Teriring lambaian tanganmu di balik jendela dengan bunyi gesekan rel dan roda yang semakin lama semakin terdengar cepat saja.
Entahlah.. rasa-rasanya air mata di pelupuk ini telah menggenang dan tak tahan untuk berebut dilampiaskan. Jika bukan karena malu dilihat orang, tentunya sejak tadi mataku telah basah, merah dan membengkak karenanya..
Terserah orang mau bilang apa, tapi aku sungguh sulit melalui momen ini. Sehingga harus berjalan cepat-cepat menuju pintu taksi yang membawaku pulang agar tak nampak rundung kesedihan yang menggelayuti hatiku.
Tapi, selalu percaya bahwa perpisahan ini hanyalah untuk sementara dan kelak akan ada suatu masa ketika aku kan berada di sisimu, selamanya…
Saat merasa berat, mencoba berpikir bahwa jarak yang jauh terbentang ini bukanlah hanya kita yang punya. ada mereka yang juga merasakan rasa sulit ini, ada mereka yang pula menyimpan kerinduan ini, begitu banyak rupanya yang harus berela hati menitipkan separuh jiwanya di negeri lain..
Sebagian dari mereka telah berhasil melalui masa-masa rumit itu, dan kita pun harus demikian:)
Semoga Allah Menghitung setiap air mata dan rindu ini sebagai pahala.
Semoga Allah Menulis sabar kita ini sebagai ikhtiar di jalan-Nya.
Baik-baik jadi ‘bujangan’ di Jakarta, Cinta.. jangan telat bangun sahur mentang-mentang ga ada adek
I Love You…
