Hari gini, apa sih yang ga dibilang mahal?bahkan permen karet pun ada yang harganya 12 ribu!Wow!Untuk sebagian orang, kehidupan ekonomi dirasakan semakin sulit setiap harinya, termasuk dalam mengupayakan kesehatan. Dulu, kalo sakit tanpa ba-bi-bu kita langsung pergi ke dokter umum, bahkan kalo perlu ke dokter spesialis. Tapi sekarang, banyak orang yang tidak bisa selalu dapat menebus obatnya, atau bahkan hanya sekedar membayar biaya jasa dokter sendiri. Ada sebagian dokter yang memasang tarif jasa lumayan tinggi dan sulit terjangkau. Sehingga berobat ke dokter menjadi momok yang mengerikan bagi ‘kantong’ sebagian orang.
Seperti harga barang-barang lainnya, harga obat pun tak mau kalah ikut meroket ke angkasa. Sedangkan tidak mungkin dalam beberapa penyakit tertentu kita bisa mengobati sendiri, dengan membeli obat ke warung atau ke apotek tanpa resep dokter misalnya. Jika kita tidak paham betul bagaimana bersikap kritis dan rasional dalam penggunaan obat malah cenderung akan menimbulkan bahaya, salah salah akan memperparah penyakit dan justru membuat kita mengeluarkan biaya yang lebih besar karena harus opname di rumah sakit.
Namun ada sedikit tips yang tidak salah untuk dicoba sebagai panduan yang mungkin bias dimanfaatkan agar lebih efisien dalam berobat;
tidak semua keluhan penyakit memerlukan obat.
Prinsip yang harus kita pegang adalah, bagaimanapun obat bisa menjadi "racun" manakala salah alamat dan dipakai secara berlebihan. Setiap Obat pasti memiliki efek samping. seringan apapun, sudah terbukti akan memiliki efek yang buruk bagi tubuh. Misalnya efek samping Obat sakit kepala terhadap ginjal dan hati kita, sebaiknya jangan dibiasakan untuk mengkonsumsi obat sakit kepala jika masih bisa tertahankan.
Penggunaan obat sakit kepala seperti Aspirin di Amerika yang bak makan kacang goreng itu sudah cukup meresahkan dan membuat orang jera, sehingga sekarang sedang gencar2nya dikampanyekan rasionalisme dalam penggunaan aspirin.
Yang paling penting adalah menjaga kondisi dan stamina tubuh serta menjaga kualitas asupan gizi kita. Jangan malas berolahraga, dan Banyak konsumsi vitamin sebagai penangkal radikal bebas, juga mineral yang bermanfaat untuk membantu mengatur tekanan darah dan fungsi jantung, serta memelihara kelenturan otot dan memerlancar impuls saraf, tidak lupa pula untuk menyeimbangkan konsumsi asupan gizi vital seperti karbohidrat, protein, dan lemak.
Banyak upaya alternative dilakukan untuk menghindari penggunaan obat. pengobatan Homeopathy, mixobition, prana, orthomolecular medicine, acupressure, maupun akupuntur adalah suatu upaya pengobatan yang berusaha menjauhkan tubuh dari imbas bahan kimiawi obat.
Tidak semua obat bisa menyembuhkan penyakit.
Jika kita merasa sudah mengkonsumsi obat yang sama dalam waktu yang lama sedangkan tidak mengubah prognosis penyakit, mungkin obatnya memang tidak tepat. Dalam kondisi demikian, sebaiknya penggunaan obat segera dihentikan. Prinsip dalam pemakaian obat adalah memperhitungkan unsure manfaat dan menomorduakan efek samping. Jika masih memiliki manfaat maka efek sampingnya boleh dilupakan. Tapi jika mengkonsumsi obat tidak memberikan manfaat, kita hanya akan memikul efek sampingnya, sehingga ini harus dicegah.
Banyak pasien kanker tidak bersedia diberi obat, karena efek samping dari obat kanker dianggap menyengsarakan;rambut rontok, kulit jelek, dan sel darah rusak. Sedangkan manfaatnya hanya memperpanjang harapan hidup.
Rata2, obat oral sudah memberikan reaksi setelah beberapa kali diminum, juga Obat suntik segera memberikan reaksi sesaat setelah diberikan. Jika tidak ada reaksi sama sekali, maka bertanyalah pada dokternya. Melanjutkan pengobatan tanpa khasiat, selain merugikan keuangan, juga memikul efek buruk obat.
Tidak semua obat dalam resep dokter harus diterima
Dalam meresepkan obat, dokter berpola pada dua hal. Pertama, memberikan jenis obat untuk meringankan keluhan dan penderitaan pasien(terapi simptomatik), obat jenis ini sebetulnya perlu tidak perlu, karena jika pasien masih bias tahan dengan keluhan simptomatis seperti demam, nyeri, mual, atau muntah dan dokter bias memperkirakan bahwa tidak akan mengancam jiwa, maka obat pereda keluhan dan gejala menjadi tidak begitu perlu.
Yang lebih perlu tentu adalah obat pokok(terapi kausal). Obat ini berupaya untuk meniadakan sumber penyakitnya. Kalau infeksi kuman ya diberi antibiotic, kalau darah tinggi ya diputus penyebab darah tingginya,dll.
Orientasi dokter sering memihak pada permintaan pasien, banyak dari pasien mengira keluhan atau gejala yang mereda identik dengan sembuh. Karena itu pasien(dan sering juga dokter) lebih mementingkan obat simptomatik dari pada obat pokok. Dengan atau tanpa obat simptomatik, asal obatnya tepat sasaran insyaAllah akan sembuh juga.
Mutu obat tidak ditentukan oleh harganya.
Bukan sebab harganya tinggi maka obat lebih bermutu. Semua obat generic yang meniru obat aslinya, jika dibuat dengan standar pembuatan obat yang baik(CPOB), insyaAllah sama manjurnya.
Banyak juga kesembuhan pasien ditentukan oleh factor psikologisnya. Rasanya kurang tokcer kalo tidak meminum obat yang mahal. Ada saja Pasien yang dari awal sudah tidak percaya pada obat berharga murah. Sugesti demikian bias berpengaruh terhadp proses penyembuhan dan seringnya jadi tidak sembuh betulan.imbasnya, dokter yang tidak mau dianggap kurang bonafit akan cenderung untuk memberi resep yang mahal, walaupun tahu ada pilihan yang lebih murah.
semoga ini bisa menjadi koreksi bersama bagi kita, baik dari pihak pasien maupun dokter. Mari kita meluruskan niat dan mengubah paradigma pengobatan menjadi pengobatan yang lebih sehat dan efisien.
dek norra said
aswb,,,
sLamat mengarungi hidup baru ya mbak….
alids said
www,
makasih dek.. hehe