Bahkan hamdalahku masih saja terbata…
Aku khawatir…
Kesadaran ini telah resisten hingga tak mampu lagi mendefinisi
Kehilangan sensitifitasnya akan sebuah konsep proteksi
Kalut,,,
Apakah kekalutan ini sebagai bukti bahwa deteksinya masih berfungsi?
Ataukah itu hanya sekedar apologi? Ya…apologi, Sepertinya hati dan pikirku mulai pandai ber-apologi Menyugesti diri agar lebih permisif Sebuah kecerdasan dalam mempermainkan nalar Jiwaku tersenyum miris mengakuinya Antara harus dan hina untuk berucap ‘iya’ Katakan, Itukah fleksibelitas atau justru kekuatan yang telah kronis ter-supresi ??
Oh,,,bahkan hamdalahku masih juga terbata…
Aku cemas… Tak lagi bisa membedakan antara terlalu sayang dan menyakiti Tak mampu lagi memilah antara ego dan hak aktualisasi diri Mengapa semua menjadi tampak sama, Nyaris tak terbaca dan tak jua bisa dipercaya Inikah arti ketidakpastian akan parameter normalitas dunia, atau hanya aku yang tak lagi peka?
Tuhan, apakah hamdalahku ini masih terbata?
Maka bantulah aku untuk kembali mengingatnya, Setiap saat,,, setiap waktu,,, Selama butir darah masih berputar mengelilingiku Sepanjang batang otakku belum Kau Izinkan untuk mengkakukan jasadku