FoR yOu GuYs; The MosLem PhySiciaN acTivistS waNNa Be!

Menyusuri sepanjang koridor rumah sakit dan menelisik setiap bangsal yang penuh beragam orang yang rebah di atas ranjang dengan keluhan medisnya masing-masing, Hernia Inguinalis, Non Hodgkin Disease, Ca Mammae, Hemangioma, Megacolon CongenitaL,dll. Kasus-kasus yang selama ini hanya kita hafalkan dari diktat kuliah—terkadang dengan hati malas—ternyata benar2 terjadi di depan mata. Semua itu lebih banyak membuat kata2 dari diri ini hanya mampu dipahami secara tersirat lewat raut muka dan sorot mata, karena bibir yang kelu tak bisa lagi berbicara. ,—sedikit menyesal— kenapa kemarin hanya belajar asal-asalan saja?Subhanallah, ternyata ghirah itu kembali memacu adrenalin ini bekerja…

Maha Suci Allah,

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika kita melihat di sekeliling kita banyak yang diuji dengan kesakitan fisik sedang Allah mengaruniakan kita kesehatan yang begitu nikmat…

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika manusia tenggelam dan terlena menikmati kelezatan dunia dan mereka tiada menyadarinya, sedang Allah masih Berkenan dengan lembut Membimbing kita untuk tetap bersemangat menahan diri—meski berat dan berkali-kali terjerat—namun sungguh tiada ada kekuatan lain yang dapat menggerakkan untuk bertahan melainkan dari Allah jua…

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika kita diberikan kenikmatan untuk beribadah kepadaNya, dan Ia karuniakan rasa ikhlas dalam hati, pula Ia jauhkan dari rasa sombong dan riya… mampukah kita menerangkan dengan lisan betapa nikmat itu begitu indah menenteramkan…

kemudian Ia anugerahkan rasa sesal dan kehilangan yang meresahkan saat ketenteraman itu tak lagi terasa karena ulah diri kita sendiri…

Ya Allah… Fa Bi Ayyi AaLaaI Rabbikumaa Tukadzdzibaan…? maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Sahabat, dalam dunia ini banyak yang tidak bisa kita mengerti. Yah, seperti itulah…karena memang kapasitas pemikiran manusia yang serba terbatas. Manusia yang memang makhluk lemah dan tiada sempurna, dan Allahlah sebaik2nya tempat bergantung dan berlindung. Allah-lah Yang Memberi Kesembuhan, di tanganNya lah tergenggam hidup dan mati seseorang, sama sekali bukan pada dukun maupun dokter.

Manusia diuji untuk berjalan di muka bumi, dan kemudian ditentukan untuk mereka kelak ada di surga atau neraka, adapun jika surga-lah tempatnya maka tidak lain itu hanyalah berasal dari rahmat dan kasih sayang Allah semata.

Teringat sebuah konsep memukau dari seorang dokter di sebuah rumah sakit di Bandung—semoga Allah Menyayanginya—yang disampaikan Aa Gym di sebuah pengajian pagi di radio MQ;


Profesi dokter bukanlah sebuah kontrak ‘menyembuhkan’ tapi tak lain hanyalah sebuah kontrak ‘ikhtiar,subhanallah…

Sekelumit percakapan mengawali sebuah pertemuan seorang Ibu dengan sahabat lama;

“anaknya sekarang kuliah dimana,Bu?”

“Di Fakultas Kedokteran…”

“wah hebat…anak Ibu pinter yaa…saya doain deh biar kuliahnya lancar, nilainya bagus, cepet dapet kerja dan sukses, begitu…aamiin”

Percakapan seperti di atas mungkin tidak asing di telinga kita, para calon dokter. Sebuah harapan besar dari orang tua dan masyarakat;


kuliah lancar, segera jadi dokter yang sukses, kaya raya,menikah, dan mempunyai anak dan disekolahkan di sekolah favorit sampai menjadi anak yang berhasil, dan seterusnya….sungguh berat Ya Allah…

Namun Pertanyaannya, sesederhana itukah hidup di dunia sebagai seorang dokter?seorang Muslim yang dokter?


Mari kita Luruskan Niat dan Mengoreksi diri…

Menjadi sukses adalah impian semua orang. Terlebih dokter, kata ‘sukses’ tampaknya begitu melekat erat dengannya, karena salah satunya konsumen kita nanti tidak akan ribut dan ngeyel atau menawar resep yang kita berikan.

Namun cukup sampai di situkah pemikiran itu berhenti?sahabat, tentunya kita sama-sama ingat, bahwa kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang kita peroleh, sejauh mana dan di wilayah mana ilmu itu diamalkan?

Perlu kita sadari bahwa profesi dokter adalah sebuah lahan amal dan dakwah yang sangat potensial, kita mencari ridha Allah di dalamnya. Semoga itulah yang menjadi motivasi utama kita sejak mulai melangkahkan kaki di dunia medis ini, Jangan sampai iming-iming duniawi yang menumpangi menjadi lebih dominan daripada kebutuhan kita yang lebih mendasar yaitu memperjuangkan agama Allah. Sedangkan motivasi lain yang menyertai hanyalah sebagai efek samping, misalnya;membahagiakan orang tua, kemudahan mendapat kerja, prestise di masyarakat, atau bahkan agar menjadi target utama yang dicari para calon mertua!hehehehe…^_^v(ups!)

Sebagai seorang calon dokter, memang tugas kita sangat berat, kita dituntut untuk menjadi seorang manusia yang mumpuni dalam segala hal, meskipun itu tidak mungkin. Fenomena yang terjadi saat ini, seperti yang disebutkan seorang tokoh utama dalam novel Diorama Sepasang Al-Banna bahwa dalam Islam tengah terjadi krisis professionalisme. Sahabatku, sebagai mahasiswa, tugas kita yang pertama adalah berstudi dengan baik, itulah amanah dari orang tua yang tidak akan pernah bisa kita abaikan, namun secara bersinggungan selalu ada multiperan seseorang dalam hidupnya dan ke-multiperan-an itu hendaknya di-tawazun-kan, sehingga studi itu jangan sampai kita abaikan, pepatah mengatakan janganlah memetik buah sebelum ia matang, jika kematangan ini diabaikan maka kapan krisis professionalisme ini dapat kita pecahkan?

Mengenai hal ini, ada seorang dokter luar biasa yang patut kita teladani dan semoga dapat menginspirasi kita. Beliau adalah Ibnu Nafis, orang pertama yang menemukan sirkulasi darah dalam tubuh manusia sejak abad ke tujuh yang silam. Di samping mengarang karya-karya di bidang kedokteran, beliau juga mengarang kitab ushul fiqh, bahasa arab, dan hadits. Selain itu beliau juga mengajar di sekolah Al-Manshuriah Kairo.

Al-Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyidi berkata,”Alaudin Ibnu Nafis apabila hendak menulis atau mengarang menyediakan setumpuk pinsil yang sudah diraut, menghadapkan wajahnya ke dinding, lalu menulis apa yang didiktekan oleh jiwanya. Beliau menulis secepat air bah yang deras mengalir. Apabila pinsilnya tumpul, maka ia akan segera menggantinya dengan yang baru tanpa harus meraut lagi”

Dikisahkan pula oleh muridnya,”suatu hari Ibnu Nafis masuk ke kamar mandi. Di pertengahan mandi beliau keluar dan menuju ruang ganti pakaian lalu menyuruh seseorang mengambilkan pena dan kertas. Kemudian beliau menulis tentang masalah denyutan-denyutan yang terdapat dalam badan manusia hingga selesai, lalu beliau masuk kamar mandi kembali”


Kapankah seseorang itu dinilai turut berkontribusi?

Memang Idealnya, mahasiswa itu aktif dalam harakah, aktif dalam kegiatan keislaman yang tak pernah putus, mulai dari daurah sampai demo, dan dalam studi mendapat hasil yang excellent. Namun tidak bisa kita pungkiri, bahwa ternyata kapasitas dan kemampuan orang itu berbeda-beda, seperti halnya yang sudah saya tuliskan di artikel saya sebelumnya bahwa kita bukanlah Superman atau Superwoman yang sanggup melakukan segala hal. Adakalanya Memberi terlalu banyak tuntutan pada diri dapat mengakibatkan penetapan tujuan-tujuan yang tidak realistis yang sulit untuk dicapai sehingga justru akan menyakiti diri sendiri. Bukan masalah jika ambang diri kita masih bisa menerima keseluruhan pilihan itu untuk direalisasikan secara paralel dan memberikan jaminan pada kita bahwa pelaksanaan secara paralel itu tidak akan mengurangi kualitas yang dihasilkan seperti halnya jika dilakukan secara serial, lalu bagaimana jika ambang diri ini telah mengisyaratkan bahwa keparalelan itu membuat kapasitas kita overload dan akan berefek menghasilkan output yang tidak berkualitas atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali(baca-gagal)?

Selanjutnya saya bertanya2, haruskah mahasiswa muslim aktivis dakwah Islam hanya bergerak dalam kerangka Islam itu sendiri?Benarkah Dakwah harus selalu direpresentasikan dengan keanggotan Rohis?Haruskah ia menjadi seorang kader dalam gerakan tarbiyah, kemudian ketika ia menjadi anggota di organisasi yang tidak berbasic islami sebagian ikhwah mengatakan apa kalau orientasinya bukan dunia, sedangkan tidakkah disadari bahwa justru di wilayah yang tidak islami itulah sebenarnya arena dakwah berpotensi tinggi sehingga membutuhkan banyak ikhwah berafiliasi?

Memang bukan suatu hal yang urgent untuk mempermasalahkan pandangan manusia terhadap ini semua, hanya sedikit men-stabilo tanda merah di hati bahwa banyak hal yang tidak kita mengerti akan cara berpikir dan bergerak seseorang. Memang data tervalid harus kita dapatkan dari sumbernya dan tidak boleh kita mem-vonis hanya berdasarkan prasangka saja


“…dan jauhilah prasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa”

 


Kereta dakwah itu akan tetap melaju, dengan atau tanpa kita…

Ya Allah, memang tidak akan pernah selesai jika kita hanya menjadi pengamat saja. Tak cukup kita berpangku tangan menyaksikan medan perjuangan yang semakin berkobar membara. Dibutuhkan sebuah kontribusi nyata apapun bentuknya, bagaimana pun caranya asalkan tetap berada dalam koridor Quran dan Sunah, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat oleh manusia ketika kita juga menginginkan sebuah perubahan menuju kebaikan dalam tatanan masyarakat ini. Memang dakwah telah lama diserukan, keretanya terus melaju, banyak jalan yang dapat dipilih, mari segera kita ambil bagian sesuai porsi kita masing-masing, tak peduli diketahui manusia atau tidak, tak peduli dibenci atau tidak meski oleh ikhwah sekalipun. apalagi yang ditunggu selain segera menempatkan diri menjadi salah satu butir tanah tempat bangunan dakwah itu berpijak?tak ada pilihan lain…

Memang sudah seharusnya bangunan Islam dibangun melalui jiwa-jiwa yang bersinar, yang penuh hatinya oleh cahaya keimanan, yang bergema di setiap langkah kakinya alunan gerakan yang hanya dapat Didengar oleh Allah saja.—Ya Allah, betapa diri ini masih sangat jauh dari kriteria itu—, jaman silih berganti dan tantangan semakin menguat,


“pada zaman akhir nanti manusia akan beriman di pagi hari dan ingkar di sore hari”

Sebuah godaan dan ujian yang maha berat. Sungguh tidak akan mungkin bisa masuk dalam gema dakwah ini manusia-manusia yang jahat hatinya, karena di sinilah ladang bersusah payah, lahan bekerja keras, berjihad bersungguh-sungguh. Dan dengan limpahan Allah semoga kita termasuk dalam barisan itu.


 


Dari Allah-lah rezeki itu datang…

Prinsipnya kita insyaAllah menyadari bahwa kita bukanlah dokter yang dai, tapi Dai yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. tinggal kesadaran akan itu ingin kita pupuk atau tidak. tanpa kita tolong pun sebenarnya agama Allah akan tetap selalu ada yang menolong, jika kita berpaling pun maka Allah akan menggantikan kita dengan hamba Allah yang beriman yang akan terus berjuang sedangkan kita terhapus dan terganti, na’udzubillahi min dzaalik.semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yang merugi karenanya.


“hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah Mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…”

Kita mengetahui, bahwa setelah proses penciptaan manusia selama 120 hari, Allah Ta’ala mengutus malaikatNya untuk meniupkan ruh dan menyampaikan 4 perkara;Rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan akan menjadi orang sengsara atau bahagia.

Sehebat apapun gelar seseorang, professor, doctor, spesialis ini, spesialis itu, rezekinya telah diatur oleh Allah. Belum tentu yang dokter spesialis lebih laris daripada dokter umum.

Pernahkah kita membayangkan, 10 tahun lagi tetangga kita adalah dokter-dokter, atau mungkin juga kita akan tinggal di perkampungan dokter dan bila berpikir lebih lanjut, setiap tahunnya akan ada ribuan KoAss disumpah menjadi dokter di Indonesia, belum ditambah dengan akan masuknya dokter-dokter dari luar negeri akibat adanya AFTA. . Lalu rezeki datang dari mana,jika bukan Allah Maha Kuasa Yang Mengaturnya?

Oleh karena itu mari sejak sekarang kita menyiapkan mental dan meluruskan niat, karena profesi dokter adalah profesi social dan sebuah kontrak besar dengan Allah, bukan sebatas materialitas belaka. dan itu harga mati yang tidak bisa lagi ditawar bagi seorang muslim yang dokter. Percayalah, bahwa jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan Menolong kita, dan barangsiapa yang membebaskan suatu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan membebaskan kesusahan2nya di hari kiamat nanti.

Wallahu a’lamu bishshowab.

1 Comment »

  1. ikhwan said

    “everybody is doctor here…”
    -Patch Adams-

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment