Saat kesatuan inderawi mempercayai ketidakpastian itu adalah sebuah kepastian
Keyakinan itu menuntun tuk bertaruh dan berserah
tertuju pada satu titik
dan Kemudian,
ruang hati membuka pintu sekali lagi, meski sejujurnya tak ingin terjatuh kembali
akhirnya, hanya pada Allah-lah
Yang Maha Pembolak-balik hati
Alur ini dipasrahkan…
Apakah kamu pernah mengalami saat-saat ketika jerawat yang dulu dengan melegakannya telah mengucap salam perpisahan kini tiba-tiba berjamaah kembali menawarkan persahabatan?
dan rambut indahmu yang kemarin begitu membanggakan tiba-tiba mudah kusam atau rontok, juga berkali-kali kamu temukan saling berpilin bahagia di antara sela sisir kesayanganmu sehingga berhasil membuatmu berteriak histeris dan memaksamu untuk merogoh kocek lebih dalam demi paket shampoo khusus, hair tonic, conditioner, creambath yang lebih intensif, bahkan konsultansi ke hair stylist kenamaan(hiperbolis banget sih gue..,he2)?
dan kamu merasa akhir-akhir ini maag-mu lebih sering kambuh bahkan lebih dahsyat dari biasanya karena dikencani dengan nyeri di sekitar pinggang dan punggungmu yang cukup sukses membuat senyummu tergantikan dengan ringisan kesakitan sepanjang hari?
dan ketika semalam mimpimu begitu indah dan dalam mimpimu itu kamu merasa begitu bahagia tapi kemudian kamu terbangun, berpikir sejenak untuk mengembalikan diri pada dunia nyata, dan saat tersadar kamu merasa begitu kecewa karena ternyata yang semalam hanyalah mimpi, lalu kamu turun dari ranjang dengan lesu dan cemas tanpa sedikitpun sisa kebahagiaan semalam?
dan kamu merasa tiba-tiba keadaan di sekitarmu jadi menyebalkan, tidak bersahabat, dan sulit dikendalikan?
dan kamu merasa bahwa semua terjadi tidak sesuai harapan dan di luar perkiraan?
dan tiba-tiba seluruh agenda, planning dan target menjadi kacau balau tidak karuan?
dan kemudian sebagai puncak dari semuanya kamu akan menangis atau berteriak;
AaarRrggghhhHH,,,GUE STRESSSSSS!!!!!
Well sahabat, mungkin saja kita sedang menderita stress. Hmm…kenanglah saat-saat kita mengalami hal-hal seperti itu, karena jika kita mau membuka mata sedikit saja dan memandang pada sisi indahnya, akan kita temukan saratnya hikmah dan pembelajaran yang mendewasakan.
Terjadi renjatan-renjatan atau shocking therapy dalam hidup itu sudah menjadi sunatullah. Itulah stress yang secara lughawi berarti perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain. Perubahan keadaan itu berupa ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang diterima dengan kemampuan untuk mengatasinya. Sebagian orang memiliki kemampuan untuk menangani stress lebih baik dibanding orang lain. Ini karena pengaruh perkembangan kepribadian, prinsip, cara berpikir, dan ideology yang sangat menentukan cara kita secara individual dalam menghadapi stress.
Dalam Opening Ceremony Munas III FULDFK hari Senin, 5 Februari 2007 kemarin, Sekretaris Daerah Pemkot Solo yang mewakili Walikota yang berhalangan hadir, dalam sambutannya ada sebuah bahasan sederhana yang begitu menarik hati saya, beliau mengatakan;
Seorang pakar mengklasifikasikan typical orang dalam menghadapi konflik;
- Orang dengan konflik terdistribusi
Orang type ini cenderung insidental dalam mensikapi konflik. Dia akan memuntahkan kemarahannya saat itu juga jika dia memang marah, dan setelah itu dia akan merasa lega
- Orang dengan konflik terakumulasi
Orang type ini cenderung menutupi dan memilih menahan diri dalam mensikapi konflik. Namun secara disadari atau tidak, afeksi terhadap konflik itu terakumulasi dalam dirinya dan dapat meledak sewaktu-waktu.
Sahabat, dengan mengaku pada diri sendiri atau orang lain bahwa kita sedang mengalami stress atau mencari bantuan kepada orang lain bukanlah suatu kelemahan. Mengikuti kursus bahasa Inggris bukanlah pengakuan bahwa kita adalah pengguna bahasa inggris yang buruk tapi cukuplah bahwa kita ingin menjadi pemakai bahasa inggris yang lebih baik dari sebelumnya. Nah, kaitannya dengan statemen Pak Sekda di atas, saya menganalisis bahwa kebanyakan orang yang menderita stress adalah orang dengan typical konflik terakumulasi, karena itu sangatlah membantu bagi kita yang tengah menderita stress untuk sedikit jujur dan terbuka tentang ke-stress-an yang dihadapi untuk lebih mengurangi akumulasi konflik dalam diri kita. Stress ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi, stress mampu kita kendalikan jika kita dapat me-menej-nya dengan baik.
Sahabat, hidup ini tidak selamanya akan berjalan se-ideal keinginan kita. Ego kadang meracuni dengan berkata; lihatlah dia… begitu hebatnya, dia tetap bisa rutin berolahraga padahal tugas kantor yang menggunung datang padanya setiap hari, entah kapan dia melakukannya. Lihatlah dia… begitu luar biasa, dia tetap bisa menulis sebuah buku ilmiah yang menjadi best seller padahal kegiatan-kegiatan sosialnya tak pernah absen berhenti bahkan tak nampak ada waktu senggangnya. Lihatlah dia… betapa kerennya, nilai akademiknya tetap menjadi yang terunggul padahal eksistensi di berbagai organisasi sangat diakui dan dipercaya menjadi pemimpin di sana-sini. Kalau dia bisa, aku pun bisa.
Hei sahabatku, tidakkah kita sadari bahwa kita bukanlah dia. Dia adalah dia, dan kita adalah kita. Dalam beberapa hal boleh jadi terdapat persamaan yang dimiliki, tapi tetap saja kita dan dia adalah individu dengan kesatuan kompleks yang berbeda. Ada hal-hal yang sanggup dia lakukan tetapi kita tidak, begitu juga sebaliknya. Ini bukan hanya karena perbedaan kemampuan, kesempatan, dan kekuatan, tapi juga karena perbedaan beragamnya variabel kehidupan yang mempengaruhi kondisi jiwa dan raga masing-masing.
Dalam Al-Quran Allah Mengatakan; Laa Yukallifullahu Nafsan illaa wus’ahaa(QS 2;286). Mari kita telaah bersama pemilihan kata dalam ayat ini merujuk kepada maknanya. Disini penggunaan kata “Nafsan” yang berarti “seseorang”(satu orang-bentuk kata benda tunggal/mufrad) yang kemudian diikuti dengan “illaa wus’ahaa” yang berarti “sesuai kemampuannya” menjelaskan kepada kita bahwa kadar beban/ujian yang diberikan Allah kepada tiap-tiap orang adalah berbeda, hal ini terkait dengan kapasitas masing-masing yang juga berbeda sehingga Allah tidak menggunakan kata “Anfusun”(banyak orang-bentuk plural/jama’), karena penggunaan kata “Anfusun” akan cenderung termaknai menyamakan kapasitas setiap orang.
Sahabat, ini bukan masalah mengajak untuk bersikap pesimis dan underestimate terhadap diri sendiri, main point-nya tidak untuk mengatakan bahwa dia yang sanggup melakukan beberapa hal sekaligus dengan hampir sempurna lebih hebat daripada kita, sama sekali tidak! bukan soal siapa yang lebih hebat, karena kualitas pengakuan tentang kehebatan seseorang itu sangat relatif, tapi ini tentang bagaimana agar kita bersikap jujur terhadap kemampuan diri, pengakuan akan keterbatasan kapasitas, dan penghargaan yang lebih baik terhadap jiwa dan raga kita yang memiliki nilai ambang sendiri. Kita semua harus belajar untuk mendengarkan fisik dan psikis kita dan membaca serta mengambil catatan tentang pesan-pesan yang sedang dikirimkannya. Ada beberapa langkah yang tidak ada salahnya kita coba, So… mari kita simak bersama;
Sahabat, kita harus pandai melihat prioritas. Setiap hal yang kita jalani adalah pilihan yang telah kita pilih dari sekian banyak tawaran yang diberikan dalam kehidupan ini. Kita memilihnya karena kita enjoy menjalankannya, karena kita suka, karena pilihan ini adalah prinsip, karena kita merasa berkewajiban untuk memilihnya, karena kita merasa cocok, karena kita memandang itu akan menyenangkan dan menguntungkan buat kita, dan berbagai alasan lain. Bukan masalah jika ambang diri kita masih bisa menerima keseluruhan pilihan itu untuk direalisasikan secara paralel dan memberikan jaminan pada kita bahwa pelaksanaan secara paralel itu tidak akan mengurangi kualitas yang dihasilkan seperti halnya jika dilakukan secara serial, lalu bagaimana jika ambang diri ini telah mengisyaratkan bahwa keparalelan itu membuat kapasitas kita overload dan akan berefek menghasilkan output yang tidak berkualitas atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali(baca-gagal)?
Sahabat, kita bukanlah Superman atau Superwoman yang sanggup melakukan segala hal. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk dapat memuaskan semua orang, karena memang kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang, harus ada orang-orang yang kita kecewakan sebagai efek samping dari pilihan yang kita pilih. Karena itu, hendaknya kita tidak terlalu banyak menuntut pada diri kita, marilah kita berikan hak pada fisik dan psikis kita untuk lebih disayangi. Memberi terlalu banyak tuntutan pada diri dapat mengakibatkan penetapan tujuan-tujuan yang tidak realistis yang sulit untuk dicapai sehingga justru akan menyakiti diri sendiri.
Memang segala sesuatu ada resikonya, tapi jika kita pahami bahwa diantara semua pilihan-pilihan hidup yang telah kita pilih ada pilihan-pilihan yang memiliki urgensi lebih daripada yang lain, mengapa kita tidak memberi skala prioritas untuk memilah mana yang benar-benar perlu/urgen dan mana yang masih bisa dikompromikan?
mari kita coba menetapkan prioritas, mengambil catatan dan menulis sasaran dan tujuan dalam hidup, menuliskan semuanya bahkan hal-hal yang kita rasa tidak mungkin untuk dicapai. Setelah itu masing-masing item kita identifikasi kepentingannya, kita buat top priority dari mulai urgensi tertinggi hingga terendah lalu kita cermati dari skala terendah untuk berkompromi apakah perlu dihapus dari daftar pilihan atau kita perlu memutuskan pada sebuah skala waktu dalam bilangan bulanan, tahunan, per-5 tahunan, dst.
Kita buat rencana jangka pendek dan jangka panjang, boleh jadi dengan demikian kita bisa melihat bahwa ada beberapa tujuan yang hanya bisa dicapai melalui perubahan-perubahan dari pola hidup kita sebelumnya sehingga kita bisa mengalokasikan lebih banyak waktu untuk wilayah yang satu daripada yang lain.
Sahabat, kita harus belajar berkata “tidak”. Sebagian orang(termasuk saya^_^) menganggap sulit untuk menolak permintaan-permintaan dari teman-teman, partner kerja, dan dari siapapun meskipun merasa tidak mampu untuk melakukan. Kerap kali ini dilakukan karena kekhawatiran akan buruknya pendapat orang lain atau berpengaruh/merusak terhadap hubungan dg orang lain, termasuk rasa tidak enak dan kekhawatiran akan mengecewakan. Sahabat, akan sangat membantu bagi diri kita untuk bersikap jujur, jelas, dan tegas dalam menjawab, namun tetap perlu kita jelaskan keperluan dan keberhalangan kita dalam penolakan tersebut dengan santun karena bagaimana pun juga adalah penting bagi kita untuk berkata “tidak” dengan cara yang benar. Sekali lagi, kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Apapun kondisinya, satu hal yang perlu kita cermati, jika kita melakukan suatu aktivitas lebih dari yang kita perkirakan mampu mengatasinya maka kita akan cenderung merasa tertekan, tergesa-gesa, cemas, dan kinerja kita jadi memburuk.
Sahabat, kita harus pandai mencari alternative dan melihat peluang. Adakalanya kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan agenda dan rencana yang telah susah payah kita rancang. Oleh karena itu diperlukan Plan B/rencana cadangan. Terkadang ego terselubung masih tetap keukeuh mempertahankan Plan A yang sudah sangat sulit terwujud, kita masih tidak rela untuk mengubah orientasi, ini bisa terjadi karena cara pandang yang masih terfokus pada anggapan bahwa orang kebanyakan melakukan “ini” dengan cara seperti “ini”(Plan A). Kita merasa asing, minder, dan terhina jika menempuh jalur yang berbeda dengan orang kebanyakan, padahal tidak semua cara tempuh yang berbeda akan menghasilkan output yang kualitasnya lebih buruk.
Jujurlah pada diri sendiri bahwa kita butuh re-charge. Jangan pernah terlena dengan terlalu menikmati keseolah-olahan. Kadang, tidak kita sadari bahwa kita men-suggest diri kita hidup dalam keseolah-olahan. Kita bersikap seolah-olah kita adalah orang yang taat pada aturan, padahal jika kita cermati ternyata banyak aturan yang kita langgar bahkan proporsinya lebih besar, kita bersikap seolah-olah kita adalah orang kuat dan siap untuk bertempur kapan pun, padahal kita lemah dan penakut,kita bersikap seolah-olah semua berjalan dengan baik, padahal kacau! Bukan berarti keseolah-olahan itu buruk, karena terkadang pada suatu waktu kita membutuhkannya, berlagak seolah-olah bahagia sangat membantu dalam stress recovery, tapi tidak jika kita terlalu berlebihan dalam keseolah-olahan karena yang kita hadapi adalah realitas, bukan alam seolah-olah!dan kita butuh untuk segera melakukan sesuatu, semua tidak akan berubah sampai kita mau bangkit dan berikhtiar untuk mengambil langkah-langkah mengatasi masalah.
Sahabat, tenanglah dan jangan cemas!Semua akan baik-baik saja dengan izin Allah. Yang kita butuhkan adalah relaksasi dan menenangkan diri. Berikan suplemen pada otak dan qalb kita dengan senantiasa berdzikir padaNya, sebutlah asma-Nya kapan pun!dimana pun!. Tiada sebuah pengobat hati yang lebih melegakan dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah. Sebuah sumber ketenangan dan kebahagiaan hakiki. Allah telah Menjamin, dengan selalu mengingatNya maka kecemasan, kegundahan, kekesalan, ketidakterimaan dan renjatan itu akan sirna
Akhirnya Percayalah sahabatku, dengan Ridha Allah, tiada suatu masalah yang tidak dapat kita pecahkan. Tiada gunanya terus menangis, karena pada akhirnya air mata tidak akan menyelesaikan masalah, tiada gunanya meratap dan berpangku tangan, karena kita harus segera bertindak! Janganlah terhapus senyummu oleh sayat itu karena ia begitu berharga. Mari mencari way out itu sekuat tenaga, bahu membahu menyempurnakan ikhtiar dan jangan sampai menyerah juga berputus asa. Marilah kita sikapi ketidaksempurnaan ini dengan kesyukuran dan kesabaran, karena sesungguhnya dalam syukur dan sabar itu terdapat kelapangan jiwa yang sejati, semoga Allah Senantiasa Menguatkan dan Mengizinkan semangat ini agar senantiasa berkobar tiada pernah padam, Aamiin.
Wallahu a’lam.