Sore itu Fatimah terhenyak di depan meja kamarnya,,, tangan kanannya tampak gelisah memainkan pena hitam dengan putaran-putaran tak menentu di atas lembar diary yang sejak tadi masih juga kosong,,,Sesekali Fatimah mencuri pandang ke arah jendela yang sengaja dibuka lebar agar leluasa memamerkan padanya rinai hujan dengan garis-garis putihnya yang amat memikat dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta…Fatimah kembali memeluk diary-nya. Tuk sekian kali terbayang sesosok pria arif dan bersahaja yang selalu dipujanya itu. Lalu Fatimah mulai menulis…
Di Seberang Jalan, 6 Januari 2008.Saat hujan yang cantik kembali datang, 16.17 Waktu Cinta Berkumandang.
Ayah…
Setiap kali mengingatmu,
selalu saja aku merasakan semangat itu
Setiap kali kupejamkan mata hingga sirna semua yang nampak di sekelilingku dan aku hanya membayangkanmu,
selalu saja tak hentinya ku mengakui betapa tampan dirimu
Setiap kali memikirkanmu dan merasakan begitu banyak cinta yang mengelilingimu,
selalu saja ada haru,,,haru yang mengiringi rasa betapa bangganya aku padamu…
Ayah…
Setiap kali merindukanmu aku begitu takut pergi jauh darimu,
Aku takut tak lagi ada yang menghalau srigala jahat yang mengganggu tidurku
Aku takut tak lagi ada yang mencabut duri mawar yang tak sengaja melukai jariku
Ayah…
Setiap kali kurasakan betapa cepatnya waktu berlalu aku begitu takut seseorang kan mengambilku darimu…
Aku telah terbiasa menikmati hujan yang kusukai bersamamu
Aku telah terbiasa memanen mangga di depan rumah denganmu
Aku telah terbiasa mendengar lantunan tilawahmu di malam hari
Aku telah terbiasa kau marahi saat aku mulai nakal dan tak mematuhi
Haruskah aku tetap pergi, Ayah?Tapi bukankah memang aku harus pergi?
Fatimah kembali menjauhkan tinta hitam dari lembaran putih di bawahnya. Kini air mata mulai menganak sungai dengan indah melintasi tulang pipinya dan bersaing dengan derasnya hujan di luar. Tubuhnya bergetar dan beresonansi dengan getaran dari rasa yang berasal dari dalam melodi jiwanya. Kemudian ia kembali mengambil pena-nya…
Ayah…
Saat itu seketika saja seseorang yang asing dari negeri asing datang kepadamu Berkendara dengan kuda putih dan menyarungkan sebuah pedang emas di pinggangnya
Serupa Sayyidina Ali yang gagah berani hendak pergi ke medan perang
Dikatakannya setelah tujuh purnama nanti dia kan datang kembali
Tuk akhirnya membuatku harus meninggalkanmu di sini…
Ayah…
Meski aku begitu berat bukankah aku tetap harus pergi?
Saat aku ingin menangis kau katakan “jangan menangis!” maka aku kan berhenti menangis
Saat aku mulai merapuh kau katakan” tetaplah tegar!” maka aku kan tegak di hadapmu
Lalu saat kau katakan” pergilah!”apakah aku tetap harus pergi, Ayah?
Meski kutahu kau begitu takut jikalau ia tak sebaik dirimu melindungiku
Meski kumengerti kau sangatlah resah jikalau ia tak sebaik dirimu menyayangiku
Meski kupahami kau amat bimbang jikalau ia tak semerdu dirimu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku,
Tak semahir dirimu membuatku tertawa,
Tak sepintar dirimu menyeka air mataku
Bagaimana jikalau ia menyakitiku?
Bagaimana jikalau ia menyia-siakanku?
Hingga kau berkata dalam hatimu seberapa mampukah ia dapat dipercaya untuk menyimpan dan membawa permatamu pergi?
Tapi, Ayah. Kemudian kau tetap berkata padaku “Pergilah!”…
Dan aku pun akan pergi…
Ayah…
Saat ini aku begitu menikmati detik-detik waktu yang tersisa untukku bersamamu sebelum purnama terakhir itu tiba
Ayah…
Aku ingin abdikan saat-saat penghujung ini tuk lakukan yang terbaik untukmu
Sebelum aku pergi harus kupastikan kau kan selalu baik-baik saja
Sebelum aku jauh mesti kuyakinkan bahwa kau kan selalu bahagia
Ayah…
Percayalah bahwa sejak dulu,,,saat ini,,,bahkan nanti meski takkan sesering ini ku memandang wajahmu, aku kan selalu mencintaimu…
Semilir angin menelusup masuk bersama percikan air hingga menyentuh wajahnya yang basah. Fatimah mengakhiri tulisannya seiring terdengarnya sayup adzan maghrib dari surau di samping rumah. Bersama itu ayahnya datang mengetuk pintu: “Segeralah berwudhu, Fatimah. Kita kan dirikan sholat maghrib berjamaah”Sambil berlari kecil Fatimah membuka pintu dan menyeka air mata sekenanya. Ia berkata dengan penuh makna: “Baik, Ayah.”.Senyumnya terkembang dengan sempurnaSang Ayah membalas senyumnya dengan binar yang menyiratkan berjuta cinta, lalu mengusap-usap kepala Fatimah yang tertutup jilbab putihnya. Fatimah memejam mata dan berdoa:
“Ya Allah, Berkahi dan Muliakanlah cinta ini seperti cinta seorang Muhammad kepada Fatimah Az-Zahra ananda yang tercinta,Aamiin”