My Homy Strawberry Room, Ba’da Isya Jumat 22 Juni 2007
Lama,,,lama sekali saya terpekur di depan layar komputer dan menatap deretan tuts keyboard dengan hampa.Untuk beberapa detik saya terdiam…untuk beberapa menit saya tidak juga menggerakkan jari jemari yang telah siap untuk menekan dan menyusun kalimat demi kalimat. Saya sangat ingin menulis, menerjemahkan bahasa perasaan yang tertahan dari seorang perempuan. Hati saya berteriak meminta untuk diekspresikan,,, tapi semakin lantang ia berteriak semakin hebat aksi dan reaksi dalam kepala saya berperang, sehingga saya seperti kehilangan aliran pikiran yang ingin saya tuangkan.
Boleh dibilang saya terlalu syok dengan apa yang ada dalam pikiran saya sendiri…syok oleh sebuah akumulasi…syok akan sebuah ketidakmengertian…syok terhadap ketidakmampuan untuk memberi alasan demi sebuah pemakluman…Mungkin hanya butuh sekian mili dosis adrenalin untuk membangunkan saya dari kataton mendadak ini, tapi saya tidak tahu seberapa mudah saya akan segera terlupa akan pemicu-pemicu kelelahan ini. Sungguh…saya teramat bimbang dari mana saya harus memulai untuk menulis tulisan ini dengan baik…
Perempuan-perempuan tersakiti itu begitu tegar, dan justru ketegaran mereka itulah yang membuat diri ini teriris-iris. Entah telah berapa kisah singgah dengan penuh kesan ke dalam ruang hati saya, baik yang saya terlibat langsung di dalamnya, atau saya sengaja dilibatkan atau saya tidak sengaja terlibat, atau hanya sekedar sebagai pendengar, penonton, pemerhati, peneropong, atau sekedar pembaca. Semua itu yang ada di sekeliling saya, baik jauh atau pun dekat adalah kisah-kisah berbeda yang hadir dengan rasa yang sama. Sebuah realita yang tidak bisa saya sanggah tapi terkadang mengingatnya begitu menyesakkan, bahwa kita tak pernah tahu apakah sebuah pernikahan itu akan langgeng hingga kematian memisahkan atau tidak, sebab cinta makhluk itu tiada abadi karena makhluk itu sendiri hakikatnya adalah tiada abadi, ia fana, dan sesuatu yang fana tidak bisa kita andalkan untuk sebuah keabadian. Karenanya perpisahan, kekecewaan, pengkhianatan, menyakiti dan tersakiti, bahkan perceraian, semua itu memiliki peluang yang sama dengan kebahagiaan dan derivatnya dalam menghiasi warna hidup kita…
Sosok mereka, perempuan-perempuan itu, sangat kuat bagi saya, teramat kokoh…membuat saya begitu iri dengan energi luar biasa itu…
Siapkah iman di dalam dada ini menopang jika dihadapkan pada hal yang serupa?
Sungguh tak takutkah diri ini akan sebuah iman dan keikhlasan yang tak seberapa saat pergiliran ujian itu menyapa?
Sebuah perjalanan yang tidak mudah…
Tulisan ini berawal dari sebuah buku yang baru saja selesai saya baca tiga jam yang lalu. Sebuah buku yang saya beli siang tadi di sebuah toko buku ternama di kota saya. Catatan Hati Seorang Istri, sebuah karya menyentuh hati dari Asma Nadia yang dimulai dengan sebuah sajak biru;
Saat cinta berpaling
Saat rumah tangga dalam prahara
Saat ujian demi ujianNya mengguncang jiwa
Kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati terus bertasbih?
Telah kutinggalkan cemburu
Di sudut kamar gelap
Telah kuhanyutkan duka
Pada sungai kecil yang mengalir dari mataku
Telah kukabarkan lewat angin gerimis
Tentang segala catatan hati
Yang terhampar di tiap jengkal sajadah
Dalam tahajud dan sujud panjangku
Sisi melankolis saya tiba-tiba menjadi dominan saat membacanya, saya menjadi sangat sentimentil. Saya sempat khawatir karena dominannya sisi ini saya menjadi kurang objektif. Jadi cukup beralasan jika siapapun yang membaca tulisan ini mengomentari bahwa saya kurang objektif. Mungkin saya memang tidak objektif, karena di sini saya berbicara sebagai sosok seorang perempuan yang berbicara dengan naluri dan perasaan. Saya memang belum menjadi seorang istri seperti Asma Nadia dan perempuan-perempuan perkasa yang dikisahkan dalam buku ini, saat ini saya memang seorang lajang yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki suami dan menjadi seorang istri, tapi saya adalah seorang perempuan yang lebih daripada sekedar bermimpi juga ingin dan insyaAllah kelak akan menjadi seorang istri, seorang perempuan yang kurang lebih dengan dasar nurani dan perasaan yang sama.
Maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud menjadi over feminis dan mengintimidasi laki-laki dalam keseluruhan tulisan saya. Selama ini saya mencoba mempelajari dan membaca buku-buku psikologi tentang perbedaan laki2 dan perempuan baik dari karya penulis barat seperti buku Man From Mars and Woman From Venus, atau yang dibahas dari sisi Islami seperti dari DR Thariq Kamal An-Nu’ami dalam bukunya Psikologi Suami Istri, dan berbagai ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah, kurang lebih itu cukup memberi gambaran bagi saya bahwa ternyata tabiat dasar antara laki-laki dan perempuan sungguh sangat berbeda, kita harus ingat bahwa selain perbedaan secara fisik, kebenaran ilmiah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan juga memiliki kondisi psikologis yang berbeda yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara memahami, berbuat, dan merespon. Perbedaan tersebut menjadi dasar yang jelas bahwa tidak mungkin keduanya bersandar pada dunia yang sama, keduanya akan bersandar pada dunia masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki, dan masing-masing dunia itu penuh dengan rahasia-rahasia. Inilah fitrah itu, sebuah perbedaan yang sangat mendasar yang harus kita akui.
Namun bukan berarti ketidaksamaan itu malah menjadi momok yang mengancam, Tidak, sama sekali tidak! justru dua sisi yang berbeda itu saling membutuhkan untuk dipertemukan, agar kehampaan pada satu sisi mampu ter-cover dengan baik oleh yang lain. Di sinilah peran pernikahan itu berfungsi, pernikahan yang berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dan bukan mempertentangkannya atau dengan kata lain untuk saling menerima dan melengkapi satu sama lain. Dan saya pahami ketidakmengertian dari kedua belah pihak tentang perbedaan2 mendasar itu merupakan salah satu pemicu terselubung dari berbagai perselingkuhan, perceraian dan lain sebagainya.
Akan tetapi, seiring dengan berbagai macam kisah yang mampir pada saya, dan meskipun berkali-kali saya mencoba untuk memahami, berusaha untuk mengerti dan menurunkan parameter-parameter ideal saya tentang sosok seorang laki-laki, terkadang saya masih juga tidak bisa mengerti … kemampuan saya sungguh terbatas untuk mengerti akan seorang lelaki…
Mari kita simak salah satu kisah yang saya ambil dari buku ini;
Saya tidak ingin cemburu,,,
(seperti diceritakan oleh Mbak Safitri)
Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ”spongebob”di listnya?
selama menikah, saya pikir tidak ada kamus cemburu dalam rumah tangga kami. Seperti keluarga lain yang berusaha menerapkan kehidupan religius dalam keseharian, kami percaya prinsip saling jujur dan percaya merupakan hal yang harus ada. Apakah suami saya tidak tampan(lantas tidak berpotensi membuat saya cemburu)?tentu saja bukan karena itu. Meskipun saya memilihnya bukan karena wajah dan penampilan luar, saya mengakui betapa menariknya suami. Ini terbukti dari banyak gadis di kampusnya dulu yang jatuh hati, bahkan terang-terangan mengatakan itu ketika walimahan. Di hadapan kami dua orang gadis mengatakan sempat naksir semasa di kampus.
Saya yang mendengar kalimat yang disampaikan serius meski dengan nada bergurau itu hanya tersenyum. Usia saya masih terbilang muda, hanya dua puluh tahun, tapi tidak sesedikitpun rasa cemburu menyelinap.
Apakah saya terlalu percaya diri?
Saya kira tidak. Sebaliknya saya cukup tahu diri dengan wajah yang pas-pasan. Entahlah, tetapi saya yakin suami mencintai saya apa adanya. Dan caranya mengungkapkan itu selama ini memiliki andil besar dalam ketenangan saya.
Sebelum menikah saya tidak pernah berpacaran, memang sempat dekat denan satu dua lawan jenis, tapi hubungan kami lebih seperti sahabat ketimbang pacar. Sekalipun ketika itu saya belum berjilbab, tetapi kesadaran menjaga diri saya memang cukup tinggi. Saya tidak mau berduaan di tempat sepi, bahkan ketika dibonceng motor pun, tangan saya bertahan hanya memegang bawah jok dan tidak pernah melingkar manis di pinggang teman pria.
Otomatis ketika menikah, maka suami menjadi lelaki pertama di luar keluarga yang memiliki kontak fisik. Dan saya percaya, hal inilah yang dengan cepat membangun cinta yang sebelumnya tidak ada di antara saya dan suami. Maklum kami menikah tidak melalui proses pacaran. Apalagi suami benar-benar memperlakukan saya seperti ratu. Tidak jarang dia memberi surprise dengan menyiapkan sarapan pagi ketika dia bangun lebih awal, dan kejutan-kejutan manis lainnya.
Dia adalah sosok suami dan ayah yang baik. Tipe family man yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selepas pulang kerja dan tidak pernah keluyuran.
Begitulah hingga anak ke-empat lahir. Rumah tangga tetap tentram. Demi komitmen keluarga, sejak anak pertama lahir, saya memutuskan bekerja di rumah pekerjaan saya sebagai ilustrator buku anak cukup memungkinkan untuk itu.
Semua terasa sempurna. Saya kira itu jugalah yang ada di gambaran orang luar tentang keluarga kami. Bahkan kerap saya atau suami menjadi tempat curhat keluarga lain.
Beberapa istri yang dihantui kecemburuan karena suami mereka yang sewaktu menikah cukup baik keislamannya, tetapi sekarang mulai tampak ’genit’ selalu saya nasehati untuk tetap berpikir positif dan tidak berburuk sangka.
”barangkali pekerjaan suamimu menuntut itu”
”lingkungan pergaulannya memang kalangan profesional, saya kira dia hanya berusaha tampil lebih luwes di kalangan umum”
”nikmati saja…kan bagus suami merawat diri. Istri-istri lain banyak lho yang ngeluh karena suami mereka sama sekali tidak memedulikan penampilan ketika keluar rumah”
Dan saya bahagia jika para istri yang cemburu dan khawatir suami mereka diam-diam sudah menikah lagi kemudian bisa mengusap air mata dan pulang dengan tenang.
Karir melesat
Seiring waktu karir suami melesat jauh lebih baik dari yang bisa kami harapkan. Ketika menikah, penghasilan suami hanya dua atau tiga ratus ribu rupiah perbulan, dari pekerjaannya di bidang edutaintment. Tetapi sekarang meningkat berpuluh kali lipat, seiring bertambahnya anak kami.
Beberapa teman muslimah sempat menggoda penampilan suami yang menurut mereka semakin modis. Ada juga yang membisiki saya dengan kalimat serius,
”hati-hati puber kedua suami lho,dik…”
Seperti biasa saya hanya tertawa. Tentu saja mata saya tidak luput terhadap perubahan penampilan suami. Tetapi kepercayaan saya terhadap lelaki itu tidak pernah berkurang sedikitpun. Sebab kecuali penampilan, tidak ada yang berubah. Kejutan-kejutan manisnya masih ada. Kami masih sering jalan dan makan malam berdua seperti layaknya pengantin baru.
Bicara soal ibadah, alhamdulillah suami masih menjaga ibadahnya seperti ketika dia masih aktifis rohis di kampus. Shalatnya masih tepat waktu. Tidak hanya itu, kebiasaan shalat malamnya tidak hilang. Pun puasa senin kamis. Jadi apa yang harus saya khawatirkan?setiap hari lelaki itu tetap pulang tepat waktu. Memang ada beberapa kali dalam sebulan agenda keluar kota, tetapi semua murni terkait pekerjaan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk cemburu hanya karena sekarang dia lebih rapi, memilih baju dan sepatu bermerek, atau rutin menyemprot parfum sebelum keluar rumah.
Saya tidak ingin hati mengambil alih logika. Apalagi sejauh ini perasaan saya masih temtram dan sama sekali tidak ada kecurigaan apa-apa. Sekalipun suami memegang handphone kemana-mana, saya merasa tidak perlu mencurigai apalagi terdorong untuk mengecek siapa saja yang diteleponnya seharian itu, atau mencuri2 membaca deretan SMS yang diterimanya.
Hanya istri-istri yang tidak percaya pada kekuatan hubungan dengan pasangannyalah yang melakukan hal demikian, pikir saya.
Berita suami si A selingkuh. Atau suami si B dan C berpoligami, tidak membuat saya menjadi istri yang paranoid. Cemburu bagi saya hanya akan menyesakkan hati. Sementara dengan hati suram, bagaimana saya bisa maksimal merawat anak-anak dan suami?belum lagi mengerjakan order-order ilustrasi yang sering datang tiba2?
Bisa2 gara2 istri yang ccemburuan suami menjadi pusing dan jenuh di rumah. Dan saya menjaga betul, agar suami senantiasa nyaman dan merasa teduh sepulang dari kantor.
Perempuan misterius
Alhamdulillah sejauh ini logika saya selalu menang. Konon semasa di kampus, saya termasuk muslimah yang porsi logikanya sering disamakan dengan lelaki. Ketika muslimah yang lain menangis, ngambek, dan marah-marah, daya masih bisa rasional dan melihat masalah dengan jernih. Suami tahu itu dan kerap memuji.
Suatu hari ponsel CDMA suami tertinggal. Kebetulan saya baru saja ganti handset karena handphone hilang sehari sebelumnya. Karena memerlukan beberapa kontak, tanpa ragu saya pun meraih handphone suami. Sebab biasanya suami juga menyimpan beberapa nomor kontak saya.
Awalnya saya tidak terusik untuk membuka inbox SMS suami. Hanya menelusuri deret huruf kontak yang saya perlukan. Hingga kemudian saya menatap satu nama yang menurut saya ganjil berada disana.
Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ‘spongebob’di listnya?
Ada sesuatu yang tiba2 berdetak di hati, namun saya lawan sebisanya. Pastilah ini hanya gurauan. Bisa jadi ketika saya buka, nomor tersebut merupakan nomor adik perempuan, sepupu, atau keponakan atau bisa jadi teman kantor. Saya bayangkan suami akan terpingkal-pingkal ketika saya ceritakan hal ini.
Saya sempat termenung beberapa lama sebelum membuka kotak SMS. Bagi saya HP dan agenda adalah hal yang private dan saya sangat menghormati privacy suami. Tapi entah ada apa hari itu, firasat seorang istrikah yang akhirnya membuat reaksi saya berbeda?
Untuk pertama kalinya logika saya kalah. Saya akhirnya tergoda untuk menggerakkan jari memencet keyphone untuk membuka baris SMS yang masuk. Debaran di hati saya bertambah kencang ketika saya menemukan empat SMS dari si ’spongebob’.
Saya membaca basmalah dan berdoa sebelum akhirnya memutuskan untuk membaca SMS misterius tersebut. SMS pertama dan kedua hanyalah kalimat resmi tentang janji bertemu. Tetapi menginjak ke SMS ketiga, saya kaget ketika menemukan kalimat2 mesra di dalamnya.
Tetapi bukankah siapa saja bisa berkata mesra?
Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana sikap suami terhadap yang bersangkutan dan bukan sebaliknya?
Nalar saya bicara. Saya tutup kotak pesan masuk dan mencoba menelusuri sent item. Kepala saya mulai berdenyut. Jari2 saya gemetar saat menemukan empat sms dari suami sebagai balasan terhadap sms si ’spongebob’
SMS pertama biasa saja. Tapi SMS kedua?
”hari ini menemani anak2 karate. Sayang sedang apa?jangan terlambat makan, ya?”
Saya periksa tanggal SMS tersebut dikirimkan. Ahad lalu, hari yang sama ketika suami menemani ketiga anak kami latihan karate. Sementara saya seharian di rumah menemani si bungsu yang sedang sakit.
Ketika membaca SMS2 balasan berikutnya perasaan saya semakin diremas2, kedua kaki saya seakan lumpuh dan tak bertenaga. Sementara kepala sontak berdenyut2.
Ahh, bagaimana mungkin?
Suami saya lelaki yang taat beribadah. Al-ma’tsurat-nya tak pernah tertinggal setiap shalat shubuh. Dia mungkin lelaki terakhir yang akan saya curigai untuk selingkuh.
Mungkinkah semua ini hanya guyonan?
Tidak, dia tipe pemikir dan amat menjaga pergaulan denan lawan jenis. Saya tidak bisa menemukan alasan suami memanggil perempuan lain dengan sebutan ’sayang’?
Kemesraan di dalam SMS2 berikutnya yang dikirim suami, semakin mengukuhkan jalinan cinta keduanya. Betapapun saya berusaha berprasangka baik, sia-sia bagi saya menemukan sudut pandang yang mungkin bisa membantah kecemasan saya.
Sesorean itu sepanjang shalat ashar dan menenangkan diri dalam tilawah. Saya menangis. Lima belas tahun pernikahan belum sekalipun suami membuat saya menangis. Tapi hari ini saya benar2 terisak.
Ketika suami pulang, saya mencoba menahan diri dan melayani seperti biasa. Tetapi tangis yang saya tahan akhirnya tumpah juga ketika kami sudah berada di tempat tidur dan siap beristirahat. Dengan lembut suami saya menanyakan apa yang membuat saya begitu sedih.
Saya tidak menjawab. Saya raih HP, membuka sent item, dan saya sodorkan sms yang diketik suami untuk ’spongebob’.
Sikap saya berubah dingin. Saya perhatikan raut wajah suami berubah, tidak lama kemudian dia terisak-isak dan merengkuh saya.
”Aa minta maaf. Aa khilaf…”
Ada air mata yang kini jatuh di pipi suami. Dia pandangi saya, dia usap2 wajah saya sraya mengulang-ulang permintaan maafnya.
”tapi belum jauh dik. Tidak ada yang terjadi.”
Berawal di dunia maya kedekatan mereka terjalin.
”usianya tiga puluh tahun, belum menikah…dia tinggal di bogor”
Gadis itu suka curhat kepada suami tentang apa saja.
”sudah berapa lama Aa?”
Suami saya diam. Matanya tampak ragu.
”saya ingin Aa jujur, tidak apa”
Lelaki itu terdiam. Menghela napas.
”tiga tahun, dik”
Saya tercenung mendengar pengakuannya. Tiga tahun… begitu lama. Bagaimana mata saya bisa dibutakan selama itu?
Pembaca, setelah dialog malam itu, sulit bagi saya membangun kepercayaan kepada suami. Saya terus menerus memikirkan angka 3 tahun itu, imajinasi saya berputar2. tiga tahun waktu yang lama, apa saja yang sudah terjadi diantara mereka?hancur hati saya membayangkannya. Sementara ini saya mengungsi ke rumah ibu. Sudah 6 bulan sejak pengkhianatannya saya ketahui(keduanya belum menikah). Saya berharap waktu bisa memberi saya kejernihan hati, untuk melakukan hal yang benar.-selesai-
Bagaimana menurutmu sahabat? ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang saya baca dari buku ini. Ini hanyalah satu dari sekian banyak realita yang terjadi di sekeliling saya. Mungkin di sekitar anda juga. Saya memang kurang sepakat dengan peniadaan cemburu dalam rumah tangga, karena dalam dosis terapi standar cemburu cukup diperlukan. Tapi cukupkah itu dijadikan sebuah alasan untuk pengkhianatan?saya lelah mendengar tangisan, saya lelah disapa keluhan, saya sesak dengan ketegaran, saya trenyuh dengan kembali memaafkan.
Bagaimana tidak mencemaskan sahabat, tiga hari yang lalu sepupu menelpon, dia mengatakan bahwa sebut saja Shinta(bukan nama sebenarnya) sahabat sepermainan saya waktu kecil yang juga tetangga sepupu saya pulang ke rumah orang tuanya sambil menggendong bayi-nya yang baru berumur 5 bulan dengan wajah yang lebam membiru di seluruh muka dan tubuh karena dipukuli suami, dia tidak tahan sehingga terpaksa kabur dari rumah suami. Demi Allah sahabatku, dia sebaya saya dan baru berusia 20 tahun!
Belum lagi jika sahabat ingat, keponakan saya yang dulu pernah saya ceritakan dalam blog ini bahwa saya memaksakan diri datang ke walimahan-nya. Kemarin melahirkan seorang bayi yang sehat, tapi di rumah ibunya… tanpa suami di sampingnya karena suatu sebab yang menyesakkan.
Lalu bagaimana dengan kisah kakak tingkat saya yang menjadi selingkuhan seorang lelaki berkeluarga? lalu bagaimana dengan sahabat saya yang memang secara fisik menarik digoda dengan terang2an oleh seorang dokter rumah sakit yang telah berkeluarga untuk dijadikan simpanannya?lalu bagaimana dengan kisah2 lain yang tak kalah seramnya sehingga membuat saya repot mengelus dada?
Menjelang maghrib tadi buku ini telah selesai saya baca. Dan di samping saya sekarang ada Aster dan Dina(another Dina di kos saya ^_^) yang sedang membaca buku itu bersama di atas kasur Bugs Bunny saya. Dan seperti yang saya duga, beragam keluh dan cemas itu mengalir, suara para perempuan yang juga turut terkhianati.
Perjuangan mereka, para istri yang berusaha sepenuh hati demi menjaga kehormatan suami bahkan dari keluarga besarnya sendiri sehingga menguatkan hati untuk tetap tinggal mendampingi meski hati perih dikhianati,
Perjuangan mereka, untuk tetap terlihat tak terjadi apa2 dan bersikap seperti biasa, demi melindungi anak2 dari kecemasan karena orang tua-nya yang sedang bermasalah meski tangis hampir tak tertahan ingin sepenuhnya dikeluarkan,
Perjuangan mereka, untuk berbesar hati memafkan dan kembali memberi kesempatan untuk memupuk kepercayaan pada suami meski tidak bisa semaksimal sebelumnya dengan bermodalkan keyakinan ”yang penting Allah Ridha terhadap saya…”,
Ingin rasanya saya menutup mata dan tak mengacuhkan fenomena yang demikian, karena terus terang terkadang saya lumayan kesal dengan buku-buku demikian yang semakin banyak bertebaran, yang mau tidak mau membuat saya terusik mempertanyakan kembali apakah saya benar2 berani mempercayakan diri saya sebagai istri pada seorang lelaki?apakah saya betul2 yakin dengan kepercayaan yang saya berikan sendiri?saya khawatir, paket-paket kepercayaan yang susah payah saya rangkai selama ini menjadi terkikis sedikit demi sedikit seiring dengan semakin seringnya saya mendengar kisah serupa.
Saya sadar, tidak adil rasanya mengeneralisir sesuatu, karena sebuah alasan yang cukup bisa diterima adalah tidak semua lelaki seperti itu. Lalu apakah salah ketika tiba2 para perempuan menjadi takut?bagaimanakah pendapat anda hai cucu Adam tentang semua ini?adakah sedikit yang bisa engkau katakan sehingga hati kami, putri Hawa, menjadi lega?karena itu bukan hanya sekedar cerita tapi sebuah realita…
Tapi seperti yang telah saya baca, bukan untuk kekhawatiran semacam itu buku semacam ini diterbitkan(meski memang mau tidak mau kecemasan itu tetap terpicu). Main Goal disusunnya buku ini adalah agar bisa membawa para pembaca pada kesiapan yang lebih baik ketika nanti (bukan hanya tokoh2 yang ada di dalam buku) kita juga dihadapkan pada ujian yang sama. Bukankah Allah Yang Maha Berkehendak dan hanya atas kehendakNya-lah kita hidup dan bersenyawa dengan warna2 di atas bumi ini?
terus terang, saat ini saya masih memiliki sepercik harapan. Harapan yang tersisa yang dibentuk dari kisah cinta indah kedua orang tua saya, juga kisah cinta sederhana namun sangat istimewa milik orang tua Dina(another Dina yang tadi^_^) yang dia kisahkan dengan penuh bangga, juga diskusi2 tak terlupakan dengan pakde saya yang seorang pensiunan guru tentang bagaimana cinta manis-nya bagi seorang istri tersayang(yang juga bude saya) yang telah memberinya empat anak dan 3 orang cucu itu, dan kata2 seorang laki2 yang ditawari untuk berpoligami bahwa
”kebahagiaan saya dengan istri kedua bukanlah sesuatu yang pasti, sementara luka hati istri pertama itu sudah pasti dan akan abadi, bagaimana saya melakukan suatu tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti dengan mengambil resiko yang kerusakannya sudah pasti dan permanen?”
Saya masih percaya, bahwa masih banyak kisah romantis’Muhammad dan Khadijah’di sekitar kita yang masih bisa diandalkan. Karenanya meski hampir saja saya berada pada titik nadir kepercayaan pada sosok bernama lelaki, saya masih bisa kembali bersama kebahagiaan yang mereka tularkan yang insyaAllah terekam dengan indah dalam kenangan saya.
Pun kalau itu ternyata tidak bisa saya jadikan alasan, saya sangat percaya akan janji Allah bagi seorang istri shalihah, istri yang senantiasa menjaga kehormatan dan hak suami juga dirinya sendiri sebagai bentuk pengabdiannya apapun yang terjadi. Pengabdian yang dimulai tepat setelah mitsaaqan ghaliidzaa itu dikrarkan suaminya, sebuah indikator kesetiaan dan perjuangan yang semata berasal dari kekuatan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kekuatan cinta yang menghasilkan energi yang luar biasa yang membuat para perempuan itu masih mampu bertahan hingga titik terakhir.
Ya Allah Ya Rabb, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi pada hati seorang hamba, saksikanlah kesetiaan2 yang mengagumkan itu. Semoga Engkau Memberi kekuatan dan kejernihan hati bagi semua hambaMu, khususnya para perempuan. Aamiin.