Archive for November 13, 2007

bEcaUsE YoU SaiD sO,,,

Sore itu Fatimah terhenyak di depan meja kamarnya,,, tangan kanannya tampak gelisah memainkan pena hitam dengan putaran-putaran tak menentu di atas lembar diary yang sejak tadi masih juga kosong,,,Sesekali Fatimah mencuri pandang ke arah jendela yang sengaja dibuka lebar agar leluasa memamerkan padanya rinai hujan dengan garis-garis putihnya yang amat memikat dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta…Fatimah kembali memeluk diary-nya. Tuk sekian kali terbayang sesosok pria arif dan bersahaja yang selalu dipujanya itu. Lalu Fatimah mulai menulis…

Di Seberang Jalan, 6 Januari 2008.Saat hujan yang cantik kembali datang, 16.17 Waktu Cinta Berkumandang.

Ayah…

Setiap kali mengingatmu,

selalu saja aku merasakan semangat itu

Setiap kali kupejamkan mata hingga sirna semua yang nampak di sekelilingku dan aku hanya membayangkanmu,

selalu saja tak hentinya ku mengakui betapa tampan dirimu

Setiap kali memikirkanmu dan merasakan begitu banyak cinta yang mengelilingimu,

selalu saja ada haru,,,haru yang mengiringi rasa betapa bangganya aku padamu…

Ayah…

Setiap kali merindukanmu aku begitu takut pergi jauh darimu,

Aku takut tak lagi ada yang menghalau srigala jahat yang mengganggu tidurku

Aku takut tak lagi ada yang mencabut duri mawar yang tak sengaja melukai jariku

Ayah…

Setiap kali kurasakan betapa cepatnya waktu berlalu aku begitu takut seseorang kan mengambilku darimu…

Aku telah terbiasa menikmati hujan yang kusukai bersamamu

Aku telah terbiasa memanen mangga di depan rumah denganmu

Aku telah terbiasa mendengar lantunan tilawahmu di malam hari

Aku telah terbiasa kau marahi saat aku mulai nakal dan tak mematuhi

Haruskah aku tetap pergi, Ayah?Tapi bukankah memang aku harus pergi?

Fatimah kembali menjauhkan tinta hitam dari lembaran putih di bawahnya. Kini air mata mulai menganak sungai dengan indah melintasi tulang pipinya dan bersaing dengan derasnya hujan di luar. Tubuhnya bergetar dan beresonansi dengan getaran dari rasa yang berasal dari dalam melodi jiwanya. Kemudian ia kembali mengambil pena-nya…

Ayah…

Saat itu seketika saja seseorang yang asing dari negeri asing datang kepadamu Berkendara dengan kuda putih dan menyarungkan sebuah pedang emas di pinggangnya

Serupa Sayyidina Ali yang gagah berani hendak pergi ke medan perang

Dikatakannya setelah tujuh purnama nanti dia kan datang kembali

Tuk akhirnya membuatku harus meninggalkanmu di sini…

Ayah…

Meski aku begitu berat bukankah aku tetap harus pergi?

Saat aku ingin menangis kau katakan “jangan menangis!” maka aku kan berhenti menangis

Saat aku mulai merapuh kau katakan” tetaplah tegar!” maka aku kan tegak di hadapmu

Lalu saat kau katakan” pergilah!”apakah aku tetap harus pergi, Ayah?

Meski kutahu kau begitu takut jikalau ia tak sebaik dirimu melindungiku

Meski kumengerti kau sangatlah resah jikalau ia tak sebaik dirimu menyayangiku

Meski kupahami kau amat bimbang jikalau ia tak semerdu dirimu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku,

Tak semahir dirimu membuatku tertawa,

Tak sepintar dirimu menyeka air mataku

Bagaimana jikalau ia menyakitiku?

Bagaimana jikalau ia menyia-siakanku?

Hingga kau berkata dalam hatimu seberapa mampukah ia dapat dipercaya untuk menyimpan dan membawa permatamu pergi?

Tapi, Ayah. Kemudian kau tetap berkata padaku “Pergilah!”…

Dan aku pun akan pergi…

Ayah…

Saat ini aku begitu menikmati detik-detik waktu yang tersisa untukku bersamamu sebelum purnama terakhir itu tiba

Ayah…

Aku ingin abdikan saat-saat penghujung ini tuk lakukan yang terbaik untukmu

Sebelum aku pergi harus kupastikan kau kan selalu baik-baik saja

Sebelum aku jauh mesti kuyakinkan bahwa kau kan selalu bahagia

Ayah…

Percayalah bahwa sejak dulu,,,saat ini,,,bahkan nanti meski takkan sesering ini ku memandang wajahmu, aku kan selalu mencintaimu…

Semilir angin menelusup masuk bersama percikan air hingga menyentuh wajahnya yang basah. Fatimah mengakhiri tulisannya seiring terdengarnya sayup adzan maghrib dari surau di samping rumah. Bersama itu ayahnya datang mengetuk pintu: “Segeralah berwudhu, Fatimah. Kita kan dirikan sholat maghrib berjamaah”Sambil berlari kecil Fatimah membuka pintu dan menyeka air mata sekenanya. Ia berkata dengan penuh makna: “Baik, Ayah.”.Senyumnya terkembang dengan sempurnaSang Ayah membalas senyumnya dengan binar yang menyiratkan berjuta cinta, lalu mengusap-usap kepala Fatimah yang tertutup jilbab putihnya. Fatimah memejam mata dan berdoa:

“Ya Allah, Berkahi dan Muliakanlah cinta ini seperti cinta seorang Muhammad kepada Fatimah Az-Zahra ananda yang tercinta,Aamiin”

Leave a Comment

HaRuSkaH RanGkaiaN PaKeT KePeRcaYaAn iTu TeRkiKiS?

My Homy Strawberry Room, Ba’da Isya Jumat 22 Juni 2007

Lama,,,lama sekali saya terpekur di depan layar komputer dan menatap deretan tuts keyboard dengan hampa.Untuk beberapa detik saya terdiam…untuk beberapa menit saya tidak juga menggerakkan jari jemari yang telah siap untuk menekan dan menyusun kalimat demi kalimat. Saya sangat ingin menulis, menerjemahkan bahasa perasaan yang tertahan dari seorang perempuan. Hati saya berteriak meminta untuk diekspresikan,,, tapi semakin lantang ia berteriak semakin hebat aksi dan reaksi dalam kepala saya berperang, sehingga saya seperti kehilangan aliran pikiran yang ingin saya tuangkan.

Boleh dibilang saya terlalu syok dengan apa yang ada dalam pikiran saya sendiri…syok oleh sebuah akumulasi…syok akan sebuah ketidakmengertian…syok terhadap ketidakmampuan untuk memberi alasan demi sebuah pemakluman…Mungkin hanya butuh sekian mili dosis adrenalin untuk membangunkan saya dari kataton mendadak ini, tapi saya tidak tahu seberapa mudah saya akan segera terlupa akan pemicu-pemicu kelelahan ini. Sungguh…saya teramat bimbang dari mana saya harus memulai untuk menulis tulisan ini dengan baik…

Perempuan-perempuan tersakiti itu begitu tegar, dan justru ketegaran mereka itulah yang membuat diri ini teriris-iris. Entah telah berapa kisah singgah dengan penuh kesan ke dalam ruang hati saya, baik yang saya terlibat langsung di dalamnya, atau saya sengaja dilibatkan atau saya tidak sengaja terlibat, atau hanya sekedar sebagai pendengar, penonton, pemerhati, peneropong, atau sekedar pembaca. Semua itu yang ada di sekeliling saya, baik jauh atau pun dekat adalah kisah-kisah berbeda yang hadir dengan rasa yang sama. Sebuah realita yang tidak bisa saya sanggah tapi terkadang mengingatnya begitu menyesakkan, bahwa kita tak pernah tahu apakah sebuah pernikahan itu akan langgeng hingga kematian memisahkan atau tidak, sebab cinta makhluk itu tiada abadi karena makhluk itu sendiri hakikatnya adalah tiada abadi, ia fana, dan sesuatu yang fana tidak bisa kita andalkan untuk sebuah keabadian. Karenanya perpisahan, kekecewaan, pengkhianatan, menyakiti dan tersakiti, bahkan perceraian, semua itu  memiliki peluang yang sama dengan kebahagiaan dan derivatnya dalam menghiasi warna hidup kita…

Sosok mereka, perempuan-perempuan itu, sangat kuat bagi saya, teramat kokoh…membuat saya begitu iri dengan energi luar biasa itu…

Siapkah iman di dalam dada ini menopang jika dihadapkan pada hal yang serupa?

Sungguh tak takutkah diri ini akan sebuah iman dan keikhlasan yang tak seberapa saat pergiliran ujian itu menyapa?

Sebuah perjalanan yang tidak mudah…

Tulisan ini berawal dari sebuah buku yang baru saja selesai saya baca tiga jam yang lalu. Sebuah buku yang saya beli siang tadi di sebuah toko buku ternama di kota saya. Catatan Hati Seorang Istri, sebuah karya menyentuh hati dari Asma Nadia yang dimulai dengan sebuah sajak biru;

Saat cinta berpaling

Saat rumah tangga dalam prahara

Saat ujian demi ujianNya mengguncang jiwa

Kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati terus bertasbih?

Telah kutinggalkan cemburu

Di sudut kamar gelap

Telah kuhanyutkan duka

Pada sungai kecil yang mengalir dari mataku

Telah kukabarkan lewat angin gerimis

Tentang segala catatan hati

Yang terhampar di tiap jengkal sajadah

Dalam tahajud dan sujud panjangku

Sisi melankolis saya tiba-tiba menjadi dominan saat membacanya, saya menjadi sangat sentimentil. Saya sempat khawatir karena dominannya sisi ini saya menjadi kurang objektif. Jadi cukup beralasan jika siapapun yang membaca tulisan ini mengomentari bahwa saya kurang objektif. Mungkin saya memang tidak objektif, karena di sini saya berbicara sebagai sosok seorang perempuan yang berbicara dengan naluri dan perasaan. Saya memang belum menjadi seorang istri seperti Asma Nadia dan perempuan-perempuan perkasa yang dikisahkan dalam buku ini, saat ini saya memang seorang lajang yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki suami dan menjadi seorang istri, tapi saya adalah seorang perempuan yang lebih daripada sekedar bermimpi juga ingin dan insyaAllah kelak akan menjadi seorang istri, seorang perempuan yang kurang lebih  dengan dasar nurani dan perasaan yang sama.

Maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud menjadi over feminis dan mengintimidasi laki-laki dalam keseluruhan tulisan saya. Selama ini saya mencoba mempelajari dan membaca buku-buku psikologi tentang perbedaan laki2 dan perempuan baik dari karya penulis barat seperti buku Man From Mars and Woman From Venus, atau yang dibahas dari sisi Islami seperti dari DR Thariq Kamal An-Nu’ami dalam bukunya Psikologi Suami Istri, dan berbagai ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah, kurang lebih itu cukup memberi gambaran bagi saya bahwa ternyata tabiat dasar antara laki-laki dan perempuan sungguh sangat berbeda, kita harus ingat bahwa selain perbedaan secara fisik, kebenaran ilmiah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan juga memiliki kondisi psikologis yang berbeda yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara memahami, berbuat, dan merespon. Perbedaan tersebut menjadi dasar yang jelas bahwa tidak mungkin keduanya bersandar pada dunia yang sama, keduanya akan bersandar pada dunia masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki, dan masing-masing dunia itu penuh dengan rahasia-rahasia. Inilah fitrah itu, sebuah perbedaan yang sangat mendasar yang harus kita akui.

Namun bukan berarti ketidaksamaan itu malah menjadi momok yang mengancam, Tidak, sama sekali tidak! justru dua sisi yang berbeda itu saling membutuhkan untuk dipertemukan, agar kehampaan pada satu sisi mampu ter-cover dengan baik oleh yang lain. Di sinilah peran pernikahan itu berfungsi, pernikahan yang berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dan bukan mempertentangkannya atau dengan kata lain untuk saling menerima dan melengkapi satu sama lain. Dan saya pahami ketidakmengertian dari kedua belah pihak tentang perbedaan2 mendasar itu merupakan salah satu pemicu terselubung dari berbagai perselingkuhan, perceraian dan lain sebagainya.

Akan tetapi, seiring dengan berbagai macam kisah yang mampir pada saya, dan meskipun berkali-kali saya mencoba untuk memahami, berusaha untuk mengerti dan menurunkan parameter-parameter ideal saya tentang sosok seorang laki-laki, terkadang saya masih juga tidak bisa mengerti … kemampuan saya sungguh terbatas untuk mengerti akan seorang lelaki…

Mari kita simak salah satu kisah yang saya ambil dari buku ini;

Saya tidak ingin cemburu,,,

(seperti diceritakan oleh Mbak Safitri)

Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ”spongebob”di listnya?

selama menikah, saya pikir tidak ada kamus cemburu dalam rumah tangga kami. Seperti keluarga lain yang berusaha menerapkan kehidupan religius dalam keseharian, kami percaya prinsip saling jujur dan percaya merupakan hal yang harus ada. Apakah suami saya tidak tampan(lantas tidak berpotensi membuat saya cemburu)?tentu saja bukan karena itu. Meskipun saya memilihnya bukan karena wajah dan penampilan luar, saya mengakui betapa menariknya suami. Ini terbukti dari banyak gadis di kampusnya dulu yang jatuh hati, bahkan terang-terangan mengatakan itu ketika walimahan. Di hadapan kami dua orang gadis mengatakan sempat naksir semasa di kampus.

Saya yang mendengar kalimat yang disampaikan serius meski dengan nada bergurau itu hanya tersenyum. Usia saya masih terbilang muda, hanya dua puluh tahun, tapi tidak sesedikitpun rasa cemburu menyelinap.

Apakah saya terlalu percaya diri?

Saya kira tidak. Sebaliknya saya cukup tahu diri dengan wajah yang pas-pasan. Entahlah, tetapi saya yakin suami mencintai saya apa adanya. Dan caranya mengungkapkan itu selama ini memiliki andil besar dalam ketenangan saya.

Sebelum menikah saya tidak pernah berpacaran, memang sempat dekat denan satu dua lawan jenis, tapi hubungan kami lebih seperti sahabat ketimbang pacar. Sekalipun ketika itu saya belum berjilbab, tetapi kesadaran menjaga diri saya memang cukup tinggi. Saya tidak mau berduaan di tempat sepi, bahkan ketika dibonceng motor pun, tangan saya bertahan hanya memegang bawah jok dan tidak pernah melingkar manis di pinggang teman pria.

Otomatis ketika menikah, maka suami menjadi lelaki pertama di luar keluarga yang memiliki kontak fisik. Dan saya percaya, hal inilah yang dengan cepat membangun cinta yang sebelumnya tidak ada di antara saya dan suami. Maklum kami menikah tidak melalui proses pacaran. Apalagi suami benar-benar memperlakukan saya seperti ratu. Tidak jarang dia memberi surprise dengan menyiapkan sarapan pagi ketika dia bangun lebih awal, dan kejutan-kejutan manis lainnya.

Dia adalah sosok suami dan ayah yang baik. Tipe family man yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selepas pulang kerja dan tidak pernah keluyuran.

Begitulah hingga anak ke-empat lahir. Rumah tangga tetap tentram. Demi komitmen keluarga, sejak anak pertama lahir, saya memutuskan bekerja di rumah pekerjaan saya sebagai ilustrator buku anak cukup memungkinkan untuk itu.

Semua terasa sempurna. Saya kira itu jugalah yang ada di gambaran orang luar tentang keluarga kami. Bahkan kerap saya atau suami menjadi tempat curhat keluarga lain.

Beberapa istri yang dihantui kecemburuan karena suami mereka yang sewaktu menikah cukup baik keislamannya, tetapi sekarang mulai tampak ’genit’ selalu saya nasehati untuk tetap berpikir positif dan tidak berburuk sangka.

”barangkali pekerjaan suamimu menuntut itu”

”lingkungan pergaulannya memang kalangan profesional, saya kira dia hanya berusaha tampil lebih luwes di kalangan umum”

”nikmati saja…kan bagus suami merawat diri. Istri-istri lain banyak lho yang ngeluh karena suami mereka sama sekali tidak memedulikan penampilan ketika keluar rumah”

Dan saya bahagia jika para istri yang cemburu dan khawatir suami mereka diam-diam sudah menikah lagi kemudian bisa mengusap air mata dan pulang dengan tenang.

Karir melesat

Seiring waktu karir suami melesat jauh lebih baik dari yang bisa kami harapkan. Ketika menikah, penghasilan suami hanya dua atau tiga ratus ribu rupiah perbulan, dari pekerjaannya di bidang edutaintment. Tetapi sekarang meningkat berpuluh kali lipat, seiring bertambahnya anak kami.

Beberapa teman muslimah sempat menggoda penampilan suami yang menurut mereka semakin modis. Ada juga yang membisiki saya dengan kalimat serius,

”hati-hati puber kedua suami lho,dik…”

Seperti biasa saya hanya tertawa. Tentu saja mata saya tidak luput terhadap perubahan penampilan suami. Tetapi kepercayaan saya terhadap lelaki itu tidak pernah berkurang sedikitpun. Sebab kecuali penampilan, tidak ada yang berubah. Kejutan-kejutan manisnya masih ada. Kami masih sering jalan dan makan malam berdua seperti layaknya pengantin baru.

Bicara soal ibadah, alhamdulillah suami masih menjaga ibadahnya seperti ketika dia masih aktifis rohis di kampus. Shalatnya masih tepat waktu. Tidak hanya itu, kebiasaan shalat malamnya tidak hilang. Pun puasa senin kamis. Jadi apa yang harus saya khawatirkan?setiap hari lelaki itu tetap pulang tepat waktu. Memang ada beberapa kali dalam sebulan agenda keluar kota, tetapi semua murni terkait pekerjaan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk cemburu hanya karena sekarang dia lebih rapi, memilih baju dan sepatu bermerek, atau rutin menyemprot parfum sebelum keluar rumah.

Saya tidak ingin hati mengambil alih logika. Apalagi sejauh ini perasaan saya masih temtram dan sama sekali tidak ada kecurigaan apa-apa. Sekalipun suami memegang handphone kemana-mana, saya merasa tidak perlu mencurigai apalagi terdorong untuk mengecek siapa saja yang diteleponnya seharian itu, atau mencuri2 membaca deretan SMS yang diterimanya.

Hanya istri-istri yang tidak percaya pada kekuatan hubungan dengan pasangannyalah yang melakukan hal demikian, pikir saya.

Berita suami si A selingkuh. Atau suami si B dan C berpoligami, tidak membuat saya menjadi istri yang paranoid. Cemburu bagi saya hanya akan menyesakkan hati. Sementara dengan hati suram, bagaimana saya bisa maksimal merawat anak-anak dan suami?belum lagi mengerjakan order-order ilustrasi yang sering datang tiba2?

Bisa2 gara2 istri yang ccemburuan suami menjadi pusing dan jenuh di rumah. Dan saya menjaga betul, agar suami senantiasa nyaman dan merasa teduh sepulang dari kantor.

Perempuan misterius

Alhamdulillah sejauh ini logika saya selalu menang. Konon semasa di kampus, saya termasuk muslimah yang porsi logikanya sering disamakan dengan lelaki. Ketika muslimah yang lain menangis, ngambek, dan marah-marah, daya masih bisa rasional dan melihat masalah dengan jernih. Suami tahu itu dan kerap memuji.

Suatu hari ponsel CDMA suami tertinggal. Kebetulan saya baru saja ganti handset karena handphone hilang sehari sebelumnya. Karena memerlukan beberapa kontak, tanpa ragu saya pun meraih handphone suami. Sebab biasanya suami juga menyimpan beberapa nomor kontak saya.

Awalnya saya tidak terusik untuk membuka inbox SMS suami. Hanya menelusuri deret huruf kontak yang saya perlukan. Hingga kemudian saya menatap satu nama yang menurut saya ganjil berada disana.

Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ‘spongebob’di listnya?

Ada sesuatu yang tiba2 berdetak di hati, namun saya lawan sebisanya. Pastilah ini hanya gurauan. Bisa jadi ketika saya buka, nomor tersebut merupakan nomor adik perempuan, sepupu, atau keponakan atau bisa jadi teman kantor. Saya bayangkan suami akan terpingkal-pingkal ketika saya ceritakan hal ini.

Saya sempat termenung beberapa lama sebelum membuka kotak SMS. Bagi saya HP dan agenda adalah hal yang private dan saya sangat menghormati privacy suami. Tapi entah ada apa hari itu, firasat seorang istrikah yang akhirnya membuat reaksi saya berbeda?

Untuk pertama kalinya logika saya kalah. Saya akhirnya tergoda untuk menggerakkan jari memencet keyphone untuk membuka baris SMS yang masuk. Debaran di hati saya bertambah kencang ketika saya menemukan empat SMS dari si ’spongebob’.

Saya membaca basmalah dan berdoa sebelum akhirnya memutuskan untuk membaca SMS misterius tersebut. SMS pertama dan kedua hanyalah kalimat resmi tentang janji bertemu. Tetapi menginjak ke SMS ketiga, saya kaget ketika menemukan kalimat2 mesra di dalamnya.

Tetapi bukankah siapa saja bisa berkata mesra?

Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana sikap suami terhadap yang bersangkutan dan bukan sebaliknya?

Nalar saya bicara. Saya tutup kotak pesan masuk dan mencoba menelusuri sent item. Kepala saya mulai berdenyut. Jari2 saya gemetar saat menemukan empat sms dari suami sebagai balasan terhadap sms si ’spongebob’

SMS pertama biasa saja. Tapi SMS kedua?

”hari ini menemani anak2 karate. Sayang sedang apa?jangan terlambat makan, ya?”

Saya periksa tanggal SMS tersebut dikirimkan. Ahad lalu, hari yang sama ketika suami menemani ketiga anak kami latihan karate. Sementara saya seharian di rumah menemani si bungsu yang sedang sakit.

Ketika membaca SMS2 balasan berikutnya perasaan saya semakin diremas2, kedua kaki saya seakan lumpuh dan tak bertenaga. Sementara kepala sontak berdenyut2.

Ahh, bagaimana mungkin?

Suami saya lelaki yang taat beribadah. Al-ma’tsurat-nya tak pernah tertinggal setiap shalat shubuh. Dia mungkin lelaki terakhir yang akan saya curigai untuk selingkuh.

Mungkinkah semua ini hanya guyonan?

Tidak, dia tipe pemikir dan amat menjaga pergaulan denan lawan jenis. Saya tidak bisa menemukan alasan suami memanggil perempuan lain dengan sebutan ’sayang’?

Kemesraan di dalam SMS2 berikutnya yang dikirim suami, semakin mengukuhkan jalinan cinta keduanya. Betapapun saya berusaha berprasangka baik, sia-sia bagi saya menemukan sudut pandang yang mungkin bisa membantah kecemasan saya.

Sesorean itu sepanjang shalat ashar dan menenangkan diri dalam tilawah. Saya menangis. Lima belas tahun pernikahan belum sekalipun suami membuat saya menangis. Tapi hari ini saya benar2 terisak.

Ketika suami pulang, saya mencoba menahan diri dan melayani seperti biasa. Tetapi tangis yang saya tahan akhirnya tumpah juga ketika kami sudah berada di tempat tidur dan siap beristirahat. Dengan lembut suami saya menanyakan apa yang membuat saya begitu sedih.

Saya tidak menjawab. Saya raih HP, membuka sent item, dan saya sodorkan sms yang diketik suami untuk ’spongebob’.

Sikap saya berubah dingin. Saya perhatikan raut wajah suami berubah, tidak lama kemudian dia terisak-isak dan merengkuh saya.

”Aa minta maaf. Aa khilaf…”

Ada air mata yang kini jatuh di pipi suami. Dia pandangi saya, dia usap2 wajah saya sraya mengulang-ulang permintaan maafnya.

”tapi belum jauh dik. Tidak ada yang terjadi.”

Berawal di dunia maya kedekatan mereka terjalin.

”usianya tiga puluh tahun, belum menikah…dia tinggal di bogor”

Gadis itu suka curhat kepada suami tentang apa saja.

”sudah berapa lama Aa?”

Suami saya diam. Matanya tampak ragu.

”saya ingin Aa jujur, tidak apa”

Lelaki itu terdiam. Menghela napas.

”tiga tahun, dik”

Saya tercenung mendengar pengakuannya. Tiga tahun… begitu lama. Bagaimana mata saya bisa dibutakan selama itu?

Pembaca, setelah dialog malam itu, sulit bagi saya membangun kepercayaan kepada suami. Saya terus menerus memikirkan angka 3 tahun itu, imajinasi saya berputar2. tiga tahun waktu yang lama, apa saja yang sudah terjadi diantara mereka?hancur hati saya membayangkannya. Sementara ini saya mengungsi ke rumah ibu. Sudah 6 bulan sejak pengkhianatannya saya ketahui(keduanya belum menikah). Saya berharap waktu bisa memberi saya kejernihan hati, untuk melakukan hal yang benar.-selesai-

Bagaimana menurutmu sahabat? ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang saya baca dari buku ini. Ini hanyalah satu dari sekian banyak realita yang terjadi di sekeliling saya. Mungkin di sekitar anda juga. Saya memang kurang sepakat dengan peniadaan cemburu dalam rumah tangga, karena dalam dosis terapi standar cemburu cukup diperlukan. Tapi cukupkah itu dijadikan sebuah alasan untuk pengkhianatan?saya lelah mendengar tangisan, saya lelah disapa keluhan, saya sesak dengan ketegaran, saya trenyuh dengan kembali memaafkan.

Bagaimana tidak mencemaskan sahabat, tiga hari yang lalu sepupu menelpon, dia mengatakan bahwa sebut saja Shinta(bukan nama sebenarnya) sahabat sepermainan saya waktu kecil yang juga tetangga sepupu saya pulang ke rumah orang tuanya sambil menggendong bayi-nya yang baru berumur 5 bulan dengan wajah yang lebam membiru di seluruh muka dan tubuh karena dipukuli suami, dia tidak tahan sehingga terpaksa kabur dari rumah suami. Demi Allah sahabatku, dia sebaya saya dan baru berusia 20 tahun!

Belum lagi jika sahabat ingat, keponakan saya yang dulu pernah saya ceritakan dalam blog ini bahwa saya memaksakan diri datang ke walimahan-nya. Kemarin melahirkan seorang bayi yang sehat, tapi di rumah ibunya… tanpa suami di sampingnya karena suatu sebab yang menyesakkan.

Lalu bagaimana dengan kisah kakak tingkat saya yang menjadi selingkuhan seorang lelaki berkeluarga? lalu bagaimana dengan sahabat saya yang memang secara fisik menarik digoda dengan terang2an oleh seorang dokter rumah sakit yang telah berkeluarga untuk dijadikan simpanannya?lalu bagaimana dengan kisah2 lain yang tak kalah seramnya sehingga membuat saya repot mengelus dada?

Menjelang maghrib tadi buku ini telah selesai saya baca. Dan di samping saya sekarang ada Aster dan Dina(another Dina di kos saya ^_^) yang sedang membaca buku itu bersama di atas kasur Bugs Bunny saya. Dan seperti yang saya duga, beragam keluh dan cemas itu mengalir, suara para perempuan yang juga turut terkhianati.

Perjuangan mereka, para istri yang berusaha sepenuh hati demi menjaga kehormatan suami bahkan dari keluarga besarnya sendiri sehingga menguatkan hati untuk tetap tinggal mendampingi meski hati perih dikhianati,

Perjuangan mereka, untuk tetap terlihat tak terjadi apa2 dan bersikap seperti biasa, demi melindungi anak2 dari kecemasan karena orang tua-nya yang sedang bermasalah meski tangis hampir tak tertahan ingin sepenuhnya dikeluarkan,

Perjuangan mereka, untuk berbesar hati memafkan dan kembali memberi kesempatan untuk memupuk kepercayaan pada suami meski tidak bisa semaksimal sebelumnya dengan bermodalkan keyakinan ”yang penting Allah Ridha terhadap saya…”,

Ingin rasanya saya menutup mata dan tak mengacuhkan fenomena yang demikian, karena terus terang terkadang saya lumayan kesal dengan buku-buku demikian yang semakin banyak bertebaran, yang mau tidak mau membuat saya terusik mempertanyakan kembali apakah saya benar2 berani mempercayakan diri saya sebagai istri pada seorang lelaki?apakah saya betul2 yakin dengan kepercayaan yang saya berikan sendiri?saya khawatir, paket-paket kepercayaan yang susah payah saya rangkai selama ini menjadi terkikis sedikit demi sedikit seiring dengan semakin seringnya saya mendengar kisah serupa.

Saya sadar, tidak adil rasanya mengeneralisir sesuatu, karena sebuah alasan yang cukup bisa diterima adalah tidak semua lelaki seperti itu. Lalu apakah salah ketika tiba2 para perempuan menjadi takut?bagaimanakah pendapat anda hai cucu Adam tentang semua ini?adakah sedikit yang bisa engkau katakan sehingga hati kami, putri Hawa, menjadi lega?karena itu bukan hanya sekedar cerita tapi sebuah realita…

Tapi seperti yang telah saya baca, bukan untuk kekhawatiran semacam itu buku semacam ini diterbitkan(meski memang mau tidak mau kecemasan itu tetap terpicu). Main Goal disusunnya buku ini adalah agar bisa membawa para pembaca pada kesiapan yang lebih baik ketika nanti (bukan hanya tokoh2 yang ada di dalam buku) kita juga dihadapkan pada ujian yang sama. Bukankah Allah Yang Maha Berkehendak dan hanya atas kehendakNya-lah kita hidup dan bersenyawa dengan warna2 di atas bumi ini?

terus terang, saat ini saya masih memiliki sepercik harapan. Harapan yang tersisa yang dibentuk dari kisah cinta indah kedua orang tua saya, juga kisah cinta sederhana namun sangat istimewa milik orang tua Dina(another Dina yang tadi^_^) yang dia kisahkan dengan penuh bangga, juga diskusi2 tak terlupakan dengan pakde saya yang seorang pensiunan guru tentang bagaimana cinta manis-nya bagi seorang istri tersayang(yang juga bude saya) yang telah memberinya empat anak dan 3 orang cucu itu, dan kata2 seorang laki2 yang ditawari untuk berpoligami bahwa

”kebahagiaan saya dengan istri kedua bukanlah sesuatu yang pasti, sementara luka hati istri pertama itu sudah pasti dan akan abadi, bagaimana saya melakukan suatu tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti dengan mengambil resiko yang kerusakannya sudah pasti dan permanen?”

Saya masih percaya, bahwa masih banyak kisah romantis’Muhammad dan Khadijah’di sekitar kita yang masih bisa diandalkan. Karenanya meski hampir saja saya berada pada titik nadir kepercayaan pada sosok bernama lelaki, saya masih bisa kembali bersama kebahagiaan yang mereka tularkan yang insyaAllah terekam dengan indah dalam kenangan saya.

Pun kalau itu ternyata tidak bisa saya jadikan alasan, saya sangat percaya akan janji Allah bagi seorang istri shalihah, istri yang senantiasa menjaga kehormatan dan hak suami juga dirinya sendiri sebagai bentuk pengabdiannya apapun yang terjadi. Pengabdian yang dimulai tepat setelah mitsaaqan ghaliidzaa itu dikrarkan suaminya, sebuah indikator kesetiaan dan perjuangan yang semata berasal dari kekuatan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kekuatan cinta yang menghasilkan energi yang luar biasa yang membuat para perempuan itu masih mampu bertahan hingga titik terakhir.

Ya Allah Ya Rabb, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi pada hati seorang hamba, saksikanlah kesetiaan2 yang mengagumkan itu. Semoga Engkau Memberi kekuatan dan kejernihan hati bagi semua hambaMu, khususnya para perempuan. Aamiin.

Comments (10)

HaMdaLaHkU MaSiH TeRbaTa,,,

Bahkan hamdalahku masih saja terbata…

Aku khawatir…

Kesadaran ini telah resisten hingga tak mampu lagi mendefinisi

Kehilangan sensitifitasnya akan sebuah konsep proteksi

Kalut,,,

Apakah kekalutan ini sebagai bukti bahwa deteksinya masih berfungsi?

Ataukah itu hanya sekedar apologi? Ya…apologi, Sepertinya hati dan pikirku mulai pandai ber-apologi Menyugesti diri agar lebih permisif Sebuah kecerdasan dalam mempermainkan nalar Jiwaku tersenyum miris mengakuinya Antara harus dan hina untuk berucap ‘iya’ Katakan, Itukah fleksibelitas atau justru kekuatan yang telah kronis ter-supresi ??

Oh,,,bahkan hamdalahku masih juga terbata…

Aku cemas… Tak lagi bisa membedakan antara terlalu sayang dan menyakiti Tak mampu lagi memilah antara ego dan hak aktualisasi diri Mengapa semua menjadi tampak sama, Nyaris tak terbaca dan tak jua bisa dipercaya Inikah arti ketidakpastian akan parameter normalitas dunia, atau hanya aku yang tak lagi peka?

 Tuhan, apakah hamdalahku ini masih terbata?

Maka bantulah aku untuk kembali mengingatnya, Setiap saat,,, setiap waktu,,, Selama butir darah masih berputar mengelilingiku Sepanjang batang otakku belum Kau Izinkan untuk mengkakukan jasadku

Leave a Comment

FoR yOu GuYs; The MosLem PhySiciaN acTivistS waNNa Be!

Menyusuri sepanjang koridor rumah sakit dan menelisik setiap bangsal yang penuh beragam orang yang rebah di atas ranjang dengan keluhan medisnya masing-masing, Hernia Inguinalis, Non Hodgkin Disease, Ca Mammae, Hemangioma, Megacolon CongenitaL,dll. Kasus-kasus yang selama ini hanya kita hafalkan dari diktat kuliah—terkadang dengan hati malas—ternyata benar2 terjadi di depan mata. Semua itu lebih banyak membuat kata2 dari diri ini hanya mampu dipahami secara tersirat lewat raut muka dan sorot mata, karena bibir yang kelu tak bisa lagi berbicara. ,—sedikit menyesal— kenapa kemarin hanya belajar asal-asalan saja?Subhanallah, ternyata ghirah itu kembali memacu adrenalin ini bekerja…

Maha Suci Allah,

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika kita melihat di sekeliling kita banyak yang diuji dengan kesakitan fisik sedang Allah mengaruniakan kita kesehatan yang begitu nikmat…

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika manusia tenggelam dan terlena menikmati kelezatan dunia dan mereka tiada menyadarinya, sedang Allah masih Berkenan dengan lembut Membimbing kita untuk tetap bersemangat menahan diri—meski berat dan berkali-kali terjerat—namun sungguh tiada ada kekuatan lain yang dapat menggerakkan untuk bertahan melainkan dari Allah jua…

betapa mengapa kita tidak bersyukur ketika kita diberikan kenikmatan untuk beribadah kepadaNya, dan Ia karuniakan rasa ikhlas dalam hati, pula Ia jauhkan dari rasa sombong dan riya… mampukah kita menerangkan dengan lisan betapa nikmat itu begitu indah menenteramkan…

kemudian Ia anugerahkan rasa sesal dan kehilangan yang meresahkan saat ketenteraman itu tak lagi terasa karena ulah diri kita sendiri…

Ya Allah… Fa Bi Ayyi AaLaaI Rabbikumaa Tukadzdzibaan…? maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Sahabat, dalam dunia ini banyak yang tidak bisa kita mengerti. Yah, seperti itulah…karena memang kapasitas pemikiran manusia yang serba terbatas. Manusia yang memang makhluk lemah dan tiada sempurna, dan Allahlah sebaik2nya tempat bergantung dan berlindung. Allah-lah Yang Memberi Kesembuhan, di tanganNya lah tergenggam hidup dan mati seseorang, sama sekali bukan pada dukun maupun dokter.

Manusia diuji untuk berjalan di muka bumi, dan kemudian ditentukan untuk mereka kelak ada di surga atau neraka, adapun jika surga-lah tempatnya maka tidak lain itu hanyalah berasal dari rahmat dan kasih sayang Allah semata.

Teringat sebuah konsep memukau dari seorang dokter di sebuah rumah sakit di Bandung—semoga Allah Menyayanginya—yang disampaikan Aa Gym di sebuah pengajian pagi di radio MQ;


Profesi dokter bukanlah sebuah kontrak ‘menyembuhkan’ tapi tak lain hanyalah sebuah kontrak ‘ikhtiar,subhanallah…

Sekelumit percakapan mengawali sebuah pertemuan seorang Ibu dengan sahabat lama;

“anaknya sekarang kuliah dimana,Bu?”

“Di Fakultas Kedokteran…”

“wah hebat…anak Ibu pinter yaa…saya doain deh biar kuliahnya lancar, nilainya bagus, cepet dapet kerja dan sukses, begitu…aamiin”

Percakapan seperti di atas mungkin tidak asing di telinga kita, para calon dokter. Sebuah harapan besar dari orang tua dan masyarakat;


kuliah lancar, segera jadi dokter yang sukses, kaya raya,menikah, dan mempunyai anak dan disekolahkan di sekolah favorit sampai menjadi anak yang berhasil, dan seterusnya….sungguh berat Ya Allah…

Namun Pertanyaannya, sesederhana itukah hidup di dunia sebagai seorang dokter?seorang Muslim yang dokter?


Mari kita Luruskan Niat dan Mengoreksi diri…

Menjadi sukses adalah impian semua orang. Terlebih dokter, kata ‘sukses’ tampaknya begitu melekat erat dengannya, karena salah satunya konsumen kita nanti tidak akan ribut dan ngeyel atau menawar resep yang kita berikan.

Namun cukup sampai di situkah pemikiran itu berhenti?sahabat, tentunya kita sama-sama ingat, bahwa kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang kita peroleh, sejauh mana dan di wilayah mana ilmu itu diamalkan?

Perlu kita sadari bahwa profesi dokter adalah sebuah lahan amal dan dakwah yang sangat potensial, kita mencari ridha Allah di dalamnya. Semoga itulah yang menjadi motivasi utama kita sejak mulai melangkahkan kaki di dunia medis ini, Jangan sampai iming-iming duniawi yang menumpangi menjadi lebih dominan daripada kebutuhan kita yang lebih mendasar yaitu memperjuangkan agama Allah. Sedangkan motivasi lain yang menyertai hanyalah sebagai efek samping, misalnya;membahagiakan orang tua, kemudahan mendapat kerja, prestise di masyarakat, atau bahkan agar menjadi target utama yang dicari para calon mertua!hehehehe…^_^v(ups!)

Sebagai seorang calon dokter, memang tugas kita sangat berat, kita dituntut untuk menjadi seorang manusia yang mumpuni dalam segala hal, meskipun itu tidak mungkin. Fenomena yang terjadi saat ini, seperti yang disebutkan seorang tokoh utama dalam novel Diorama Sepasang Al-Banna bahwa dalam Islam tengah terjadi krisis professionalisme. Sahabatku, sebagai mahasiswa, tugas kita yang pertama adalah berstudi dengan baik, itulah amanah dari orang tua yang tidak akan pernah bisa kita abaikan, namun secara bersinggungan selalu ada multiperan seseorang dalam hidupnya dan ke-multiperan-an itu hendaknya di-tawazun-kan, sehingga studi itu jangan sampai kita abaikan, pepatah mengatakan janganlah memetik buah sebelum ia matang, jika kematangan ini diabaikan maka kapan krisis professionalisme ini dapat kita pecahkan?

Mengenai hal ini, ada seorang dokter luar biasa yang patut kita teladani dan semoga dapat menginspirasi kita. Beliau adalah Ibnu Nafis, orang pertama yang menemukan sirkulasi darah dalam tubuh manusia sejak abad ke tujuh yang silam. Di samping mengarang karya-karya di bidang kedokteran, beliau juga mengarang kitab ushul fiqh, bahasa arab, dan hadits. Selain itu beliau juga mengajar di sekolah Al-Manshuriah Kairo.

Al-Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyidi berkata,”Alaudin Ibnu Nafis apabila hendak menulis atau mengarang menyediakan setumpuk pinsil yang sudah diraut, menghadapkan wajahnya ke dinding, lalu menulis apa yang didiktekan oleh jiwanya. Beliau menulis secepat air bah yang deras mengalir. Apabila pinsilnya tumpul, maka ia akan segera menggantinya dengan yang baru tanpa harus meraut lagi”

Dikisahkan pula oleh muridnya,”suatu hari Ibnu Nafis masuk ke kamar mandi. Di pertengahan mandi beliau keluar dan menuju ruang ganti pakaian lalu menyuruh seseorang mengambilkan pena dan kertas. Kemudian beliau menulis tentang masalah denyutan-denyutan yang terdapat dalam badan manusia hingga selesai, lalu beliau masuk kamar mandi kembali”


Kapankah seseorang itu dinilai turut berkontribusi?

Memang Idealnya, mahasiswa itu aktif dalam harakah, aktif dalam kegiatan keislaman yang tak pernah putus, mulai dari daurah sampai demo, dan dalam studi mendapat hasil yang excellent. Namun tidak bisa kita pungkiri, bahwa ternyata kapasitas dan kemampuan orang itu berbeda-beda, seperti halnya yang sudah saya tuliskan di artikel saya sebelumnya bahwa kita bukanlah Superman atau Superwoman yang sanggup melakukan segala hal. Adakalanya Memberi terlalu banyak tuntutan pada diri dapat mengakibatkan penetapan tujuan-tujuan yang tidak realistis yang sulit untuk dicapai sehingga justru akan menyakiti diri sendiri. Bukan masalah jika ambang diri kita masih bisa menerima keseluruhan pilihan itu untuk direalisasikan secara paralel dan memberikan jaminan pada kita bahwa pelaksanaan secara paralel itu tidak akan mengurangi kualitas yang dihasilkan seperti halnya jika dilakukan secara serial, lalu bagaimana jika ambang diri ini telah mengisyaratkan bahwa keparalelan itu membuat kapasitas kita overload dan akan berefek menghasilkan output yang tidak berkualitas atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali(baca-gagal)?

Selanjutnya saya bertanya2, haruskah mahasiswa muslim aktivis dakwah Islam hanya bergerak dalam kerangka Islam itu sendiri?Benarkah Dakwah harus selalu direpresentasikan dengan keanggotan Rohis?Haruskah ia menjadi seorang kader dalam gerakan tarbiyah, kemudian ketika ia menjadi anggota di organisasi yang tidak berbasic islami sebagian ikhwah mengatakan apa kalau orientasinya bukan dunia, sedangkan tidakkah disadari bahwa justru di wilayah yang tidak islami itulah sebenarnya arena dakwah berpotensi tinggi sehingga membutuhkan banyak ikhwah berafiliasi?

Memang bukan suatu hal yang urgent untuk mempermasalahkan pandangan manusia terhadap ini semua, hanya sedikit men-stabilo tanda merah di hati bahwa banyak hal yang tidak kita mengerti akan cara berpikir dan bergerak seseorang. Memang data tervalid harus kita dapatkan dari sumbernya dan tidak boleh kita mem-vonis hanya berdasarkan prasangka saja


“…dan jauhilah prasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa”

 


Kereta dakwah itu akan tetap melaju, dengan atau tanpa kita…

Ya Allah, memang tidak akan pernah selesai jika kita hanya menjadi pengamat saja. Tak cukup kita berpangku tangan menyaksikan medan perjuangan yang semakin berkobar membara. Dibutuhkan sebuah kontribusi nyata apapun bentuknya, bagaimana pun caranya asalkan tetap berada dalam koridor Quran dan Sunah, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat oleh manusia ketika kita juga menginginkan sebuah perubahan menuju kebaikan dalam tatanan masyarakat ini. Memang dakwah telah lama diserukan, keretanya terus melaju, banyak jalan yang dapat dipilih, mari segera kita ambil bagian sesuai porsi kita masing-masing, tak peduli diketahui manusia atau tidak, tak peduli dibenci atau tidak meski oleh ikhwah sekalipun. apalagi yang ditunggu selain segera menempatkan diri menjadi salah satu butir tanah tempat bangunan dakwah itu berpijak?tak ada pilihan lain…

Memang sudah seharusnya bangunan Islam dibangun melalui jiwa-jiwa yang bersinar, yang penuh hatinya oleh cahaya keimanan, yang bergema di setiap langkah kakinya alunan gerakan yang hanya dapat Didengar oleh Allah saja.—Ya Allah, betapa diri ini masih sangat jauh dari kriteria itu—, jaman silih berganti dan tantangan semakin menguat,


“pada zaman akhir nanti manusia akan beriman di pagi hari dan ingkar di sore hari”

Sebuah godaan dan ujian yang maha berat. Sungguh tidak akan mungkin bisa masuk dalam gema dakwah ini manusia-manusia yang jahat hatinya, karena di sinilah ladang bersusah payah, lahan bekerja keras, berjihad bersungguh-sungguh. Dan dengan limpahan Allah semoga kita termasuk dalam barisan itu.


 


Dari Allah-lah rezeki itu datang…

Prinsipnya kita insyaAllah menyadari bahwa kita bukanlah dokter yang dai, tapi Dai yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. tinggal kesadaran akan itu ingin kita pupuk atau tidak. tanpa kita tolong pun sebenarnya agama Allah akan tetap selalu ada yang menolong, jika kita berpaling pun maka Allah akan menggantikan kita dengan hamba Allah yang beriman yang akan terus berjuang sedangkan kita terhapus dan terganti, na’udzubillahi min dzaalik.semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yang merugi karenanya.


“hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah Mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…”

Kita mengetahui, bahwa setelah proses penciptaan manusia selama 120 hari, Allah Ta’ala mengutus malaikatNya untuk meniupkan ruh dan menyampaikan 4 perkara;Rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan akan menjadi orang sengsara atau bahagia.

Sehebat apapun gelar seseorang, professor, doctor, spesialis ini, spesialis itu, rezekinya telah diatur oleh Allah. Belum tentu yang dokter spesialis lebih laris daripada dokter umum.

Pernahkah kita membayangkan, 10 tahun lagi tetangga kita adalah dokter-dokter, atau mungkin juga kita akan tinggal di perkampungan dokter dan bila berpikir lebih lanjut, setiap tahunnya akan ada ribuan KoAss disumpah menjadi dokter di Indonesia, belum ditambah dengan akan masuknya dokter-dokter dari luar negeri akibat adanya AFTA. . Lalu rezeki datang dari mana,jika bukan Allah Maha Kuasa Yang Mengaturnya?

Oleh karena itu mari sejak sekarang kita menyiapkan mental dan meluruskan niat, karena profesi dokter adalah profesi social dan sebuah kontrak besar dengan Allah, bukan sebatas materialitas belaka. dan itu harga mati yang tidak bisa lagi ditawar bagi seorang muslim yang dokter. Percayalah, bahwa jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan Menolong kita, dan barangsiapa yang membebaskan suatu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan membebaskan kesusahan2nya di hari kiamat nanti.

Wallahu a’lamu bishshowab.

Comments (1)

How to Make Physicians as your Money’s Friend?

Hari gini, apa sih yang ga dibilang mahal?bahkan permen karet pun ada yang harganya 12 ribu!Wow!Untuk sebagian orang, kehidupan ekonomi dirasakan semakin sulit setiap harinya, termasuk dalam mengupayakan kesehatan. Dulu, kalo sakit tanpa ba-bi-bu kita langsung pergi ke dokter umum, bahkan kalo perlu ke dokter spesialis. Tapi sekarang, banyak orang yang tidak bisa selalu dapat menebus obatnya, atau bahkan hanya sekedar membayar biaya jasa dokter sendiri. Ada sebagian dokter yang memasang tarif jasa lumayan tinggi dan sulit terjangkau. Sehingga berobat ke dokter menjadi momok yang mengerikan bagi ‘kantong’ sebagian orang.

Seperti harga barang-barang lainnya, harga obat pun tak mau kalah ikut meroket ke angkasa. Sedangkan tidak mungkin dalam beberapa penyakit tertentu kita bisa mengobati sendiri, dengan membeli obat ke warung atau ke apotek tanpa resep dokter misalnya. Jika kita tidak paham betul bagaimana bersikap kritis dan rasional dalam penggunaan obat malah cenderung akan menimbulkan bahaya, salah salah akan memperparah penyakit dan justru membuat kita mengeluarkan biaya yang lebih besar karena harus opname di rumah sakit.

Namun ada sedikit tips yang tidak salah untuk dicoba sebagai panduan yang mungkin bias dimanfaatkan agar lebih efisien dalam berobat;

tidak semua keluhan penyakit memerlukan obat.

Prinsip yang harus kita pegang adalah, bagaimanapun obat bisa menjadi "racun" manakala salah alamat dan dipakai secara berlebihan. Setiap Obat pasti memiliki efek samping. seringan apapun, sudah terbukti akan memiliki efek yang buruk bagi tubuh. Misalnya efek samping Obat sakit kepala terhadap ginjal dan hati kita, sebaiknya jangan dibiasakan untuk mengkonsumsi obat sakit kepala jika masih bisa tertahankan.

Penggunaan obat sakit kepala seperti Aspirin di Amerika yang bak makan kacang goreng itu sudah cukup meresahkan dan membuat orang jera, sehingga sekarang sedang gencar2nya dikampanyekan rasionalisme dalam penggunaan aspirin.

Yang paling penting adalah menjaga kondisi dan stamina tubuh serta menjaga kualitas asupan gizi kita. Jangan malas berolahraga, dan Banyak konsumsi vitamin sebagai penangkal radikal bebas, juga mineral yang bermanfaat untuk membantu mengatur tekanan darah dan fungsi jantung, serta memelihara kelenturan otot dan memerlancar impuls saraf, tidak lupa pula untuk menyeimbangkan konsumsi asupan gizi vital seperti karbohidrat, protein, dan lemak.

Banyak upaya alternative dilakukan untuk menghindari penggunaan obat. pengobatan Homeopathy, mixobition, prana, orthomolecular medicine, acupressure, maupun akupuntur adalah suatu upaya pengobatan yang berusaha menjauhkan tubuh dari imbas bahan kimiawi obat.

Tidak semua obat bisa menyembuhkan penyakit.

Jika kita merasa sudah mengkonsumsi obat yang sama dalam waktu yang lama sedangkan tidak mengubah prognosis penyakit, mungkin obatnya memang tidak tepat. Dalam kondisi demikian, sebaiknya penggunaan obat segera dihentikan. Prinsip dalam pemakaian obat adalah memperhitungkan unsure manfaat dan menomorduakan efek samping. Jika masih memiliki manfaat maka efek sampingnya boleh dilupakan. Tapi jika mengkonsumsi obat tidak memberikan manfaat, kita hanya akan memikul efek sampingnya, sehingga ini harus dicegah.

Banyak pasien kanker tidak bersedia diberi obat, karena efek samping dari obat kanker dianggap menyengsarakan;rambut rontok, kulit jelek, dan sel darah rusak. Sedangkan manfaatnya hanya memperpanjang harapan hidup.

Rata2, obat oral sudah memberikan reaksi setelah beberapa kali diminum, juga Obat suntik segera memberikan reaksi sesaat setelah diberikan. Jika tidak ada reaksi sama sekali, maka bertanyalah pada dokternya. Melanjutkan pengobatan tanpa khasiat, selain merugikan keuangan, juga memikul efek buruk obat.

Tidak semua obat dalam resep dokter harus diterima

Dalam meresepkan obat, dokter berpola pada dua hal. Pertama, memberikan jenis obat untuk meringankan keluhan dan penderitaan pasien(terapi simptomatik), obat jenis ini sebetulnya perlu tidak perlu, karena jika pasien masih bias tahan dengan keluhan simptomatis seperti demam, nyeri, mual, atau muntah dan dokter bias memperkirakan bahwa tidak akan mengancam jiwa, maka obat pereda keluhan dan gejala menjadi tidak begitu perlu.

Yang lebih perlu tentu adalah obat pokok(terapi kausal). Obat ini berupaya untuk meniadakan sumber penyakitnya. Kalau infeksi kuman ya diberi antibiotic, kalau darah tinggi ya diputus penyebab darah tingginya,dll.

Orientasi dokter sering memihak pada permintaan pasien, banyak dari pasien mengira keluhan atau gejala yang mereda identik dengan sembuh. Karena itu pasien(dan sering juga dokter) lebih mementingkan obat simptomatik dari pada obat pokok. Dengan atau tanpa obat simptomatik, asal obatnya tepat sasaran insyaAllah akan sembuh juga.

Mutu obat tidak ditentukan oleh harganya.

Bukan sebab harganya tinggi maka obat lebih bermutu. Semua obat generic yang meniru obat aslinya, jika dibuat dengan standar pembuatan obat yang baik(CPOB), insyaAllah sama manjurnya.

Banyak juga kesembuhan pasien ditentukan oleh factor psikologisnya. Rasanya kurang tokcer kalo tidak meminum obat yang mahal. Ada saja Pasien yang dari awal sudah tidak percaya pada obat berharga murah. Sugesti demikian bias berpengaruh terhadp proses penyembuhan dan seringnya jadi tidak sembuh betulan.imbasnya, dokter yang tidak mau dianggap kurang bonafit akan cenderung untuk memberi resep yang mahal, walaupun tahu ada pilihan yang lebih murah.

semoga ini bisa menjadi koreksi bersama bagi kita, baik dari pihak pasien maupun dokter. Mari kita meluruskan niat dan mengubah paradigma pengobatan menjadi pengobatan yang lebih sehat dan efisien.

Comments (2)

BeRsAhAbAt DeNgaN KeaDaAn

Saat kesatuan inderawi mempercayai ketidakpastian itu adalah sebuah kepastian

Keyakinan itu menuntun tuk bertaruh dan berserah

tertuju pada satu titik

dan Kemudian,

ruang hati membuka pintu sekali lagi, meski sejujurnya tak ingin terjatuh kembali

akhirnya, hanya pada Allah-lah

Yang Maha Pembolak-balik hati

Alur ini dipasrahkan…

Apakah kamu pernah mengalami saat-saat ketika jerawat yang dulu dengan melegakannya telah mengucap salam perpisahan kini tiba-tiba berjamaah kembali menawarkan persahabatan?

dan rambut indahmu yang kemarin begitu membanggakan tiba-tiba mudah kusam atau rontok, juga berkali-kali kamu temukan saling berpilin bahagia di antara sela sisir kesayanganmu sehingga berhasil membuatmu berteriak histeris dan memaksamu untuk merogoh kocek lebih dalam demi paket shampoo khusus, hair tonic, conditioner, creambath yang lebih intensif, bahkan konsultansi ke hair stylist kenamaan(hiperbolis banget sih gue..,he2)?

dan kamu merasa akhir-akhir ini maag-mu lebih sering kambuh bahkan lebih dahsyat dari biasanya karena dikencani dengan nyeri di sekitar pinggang dan punggungmu yang cukup sukses membuat senyummu tergantikan dengan ringisan kesakitan sepanjang hari?

dan ketika semalam mimpimu begitu indah dan dalam mimpimu itu kamu merasa begitu bahagia tapi kemudian kamu terbangun, berpikir sejenak untuk mengembalikan diri pada dunia nyata, dan saat tersadar kamu merasa begitu kecewa karena ternyata yang semalam hanyalah mimpi, lalu kamu turun dari ranjang dengan lesu dan cemas tanpa sedikitpun sisa kebahagiaan semalam?

dan kamu merasa tiba-tiba keadaan di sekitarmu jadi menyebalkan, tidak bersahabat, dan sulit dikendalikan?

dan kamu merasa bahwa semua terjadi tidak sesuai harapan dan di luar perkiraan?

dan tiba-tiba seluruh agenda, planning dan target menjadi kacau balau tidak karuan?

dan kemudian sebagai puncak dari semuanya kamu akan menangis atau berteriak;

AaarRrggghhhHH,,,GUE STRESSSSSS!!!!!

Well sahabat, mungkin saja kita sedang menderita stress. Hmm…kenanglah saat-saat kita mengalami hal-hal seperti itu, karena jika kita mau membuka mata sedikit saja dan memandang pada sisi indahnya, akan kita temukan saratnya hikmah dan pembelajaran yang mendewasakan.

Terjadi renjatan-renjatan atau shocking therapy dalam hidup itu sudah menjadi sunatullah. Itulah stress yang secara lughawi berarti perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain. Perubahan keadaan itu berupa ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang diterima dengan kemampuan untuk mengatasinya. Sebagian orang memiliki kemampuan untuk menangani stress lebih baik dibanding orang lain. Ini karena pengaruh perkembangan kepribadian, prinsip, cara berpikir, dan ideology yang sangat menentukan cara kita secara individual dalam menghadapi stress.

Dalam Opening Ceremony Munas III FULDFK hari Senin, 5 Februari 2007 kemarin, Sekretaris Daerah Pemkot Solo yang mewakili Walikota yang berhalangan hadir, dalam sambutannya ada sebuah bahasan sederhana yang begitu menarik hati saya, beliau mengatakan;

Seorang pakar mengklasifikasikan typical orang dalam menghadapi konflik;

  1. Orang dengan konflik terdistribusi

Orang type ini cenderung insidental dalam mensikapi konflik. Dia akan memuntahkan kemarahannya saat itu juga jika dia memang marah, dan setelah itu dia akan merasa lega

  1. Orang dengan konflik terakumulasi

Orang type ini cenderung menutupi dan memilih menahan diri dalam mensikapi konflik. Namun secara disadari atau tidak, afeksi terhadap konflik itu terakumulasi dalam dirinya dan dapat meledak sewaktu-waktu.

Sahabat, dengan mengaku pada diri sendiri atau orang lain bahwa kita sedang mengalami stress atau mencari bantuan kepada orang lain bukanlah suatu kelemahan. Mengikuti kursus bahasa Inggris bukanlah pengakuan bahwa kita adalah pengguna bahasa inggris yang buruk tapi cukuplah bahwa kita ingin menjadi pemakai bahasa inggris yang lebih baik dari sebelumnya. Nah, kaitannya dengan statemen Pak Sekda di atas, saya menganalisis bahwa kebanyakan orang yang menderita stress adalah orang dengan typical konflik terakumulasi, karena itu sangatlah membantu bagi kita yang tengah menderita stress untuk sedikit jujur dan terbuka tentang ke-stress-an yang dihadapi untuk lebih mengurangi akumulasi konflik dalam diri kita. Stress ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi, stress mampu kita kendalikan jika kita dapat me-menej-nya dengan baik.

Sahabat, hidup ini tidak selamanya akan berjalan se-ideal keinginan kita. Ego kadang meracuni dengan berkata; lihatlah dia… begitu hebatnya, dia tetap bisa rutin berolahraga padahal tugas kantor yang menggunung datang padanya setiap hari, entah kapan dia melakukannya. Lihatlah dia… begitu luar biasa, dia tetap bisa menulis sebuah buku ilmiah yang menjadi best seller padahal kegiatan-kegiatan sosialnya tak pernah absen berhenti bahkan tak nampak ada waktu senggangnya. Lihatlah dia… betapa kerennya, nilai akademiknya tetap menjadi yang terunggul padahal eksistensi di berbagai organisasi sangat diakui dan dipercaya menjadi pemimpin di sana-sini. Kalau dia bisa, aku pun bisa.

Hei sahabatku, tidakkah kita sadari bahwa kita bukanlah dia. Dia adalah dia, dan kita adalah kita. Dalam beberapa hal boleh jadi terdapat persamaan yang dimiliki, tapi tetap saja kita dan dia adalah individu dengan kesatuan kompleks yang berbeda. Ada hal-hal yang sanggup dia lakukan tetapi kita tidak, begitu juga sebaliknya. Ini bukan hanya karena perbedaan kemampuan, kesempatan, dan kekuatan, tapi juga karena perbedaan beragamnya variabel kehidupan yang mempengaruhi kondisi jiwa dan raga masing-masing.

Dalam Al-Quran Allah Mengatakan; Laa Yukallifullahu Nafsan illaa wus’ahaa(QS 2;286). Mari kita telaah bersama pemilihan kata dalam ayat ini merujuk kepada maknanya. Disini penggunaan kata “Nafsan” yang berarti “seseorang”(satu orang-bentuk kata benda tunggal/mufrad) yang kemudian diikuti dengan “illaa wus’ahaa” yang berarti “sesuai kemampuannya” menjelaskan kepada kita bahwa kadar beban/ujian yang diberikan Allah kepada tiap-tiap orang adalah berbeda, hal ini terkait dengan kapasitas masing-masing yang juga berbeda sehingga Allah tidak menggunakan kata “Anfusun”(banyak orang-bentuk plural/jama’), karena penggunaan kata “Anfusun” akan cenderung termaknai menyamakan kapasitas setiap orang.

Sahabat, ini bukan masalah mengajak untuk bersikap pesimis dan underestimate terhadap diri sendiri, main point-nya tidak untuk mengatakan bahwa dia yang sanggup melakukan beberapa hal sekaligus dengan hampir sempurna lebih hebat daripada kita, sama sekali tidak! bukan soal siapa yang lebih hebat, karena kualitas pengakuan tentang kehebatan seseorang itu sangat relatif, tapi ini tentang bagaimana agar kita bersikap jujur terhadap kemampuan diri, pengakuan akan keterbatasan kapasitas, dan penghargaan yang lebih baik terhadap jiwa dan raga kita yang memiliki nilai ambang sendiri. Kita semua harus belajar untuk mendengarkan fisik dan psikis kita dan membaca serta mengambil catatan tentang pesan-pesan yang sedang dikirimkannya. Ada beberapa langkah yang tidak ada salahnya kita coba, So… mari kita simak bersama;

Sahabat, kita harus pandai melihat prioritas. Setiap hal yang kita jalani adalah pilihan yang telah kita pilih dari sekian banyak tawaran yang diberikan dalam kehidupan ini. Kita memilihnya karena kita enjoy menjalankannya, karena kita suka, karena pilihan ini adalah prinsip, karena kita merasa berkewajiban untuk memilihnya, karena kita merasa cocok, karena kita memandang itu akan menyenangkan dan menguntungkan buat kita, dan berbagai alasan lain. Bukan masalah jika ambang diri kita masih bisa menerima keseluruhan pilihan itu untuk direalisasikan secara paralel dan memberikan jaminan pada kita bahwa pelaksanaan secara paralel itu tidak akan mengurangi kualitas yang dihasilkan seperti halnya jika dilakukan secara serial, lalu bagaimana jika ambang diri ini telah mengisyaratkan bahwa keparalelan itu membuat kapasitas kita overload dan akan berefek menghasilkan output yang tidak berkualitas atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali(baca-gagal)?

Sahabat, kita bukanlah Superman atau Superwoman yang sanggup melakukan segala hal. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk dapat memuaskan semua orang, karena memang kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang, harus ada orang-orang yang kita kecewakan sebagai efek samping dari pilihan yang kita pilih. Karena itu, hendaknya kita tidak terlalu banyak menuntut pada diri kita, marilah kita berikan hak pada fisik dan psikis kita untuk lebih disayangi. Memberi terlalu banyak tuntutan pada diri dapat mengakibatkan penetapan tujuan-tujuan yang tidak realistis yang sulit untuk dicapai sehingga justru akan menyakiti diri sendiri.

Memang segala sesuatu ada resikonya, tapi jika kita pahami bahwa diantara semua pilihan-pilihan hidup yang telah kita pilih ada pilihan-pilihan yang memiliki urgensi lebih daripada yang lain, mengapa kita tidak memberi skala prioritas untuk memilah mana yang benar-benar perlu/urgen dan mana yang masih bisa dikompromikan?

mari kita coba menetapkan prioritas, mengambil catatan dan menulis sasaran dan tujuan dalam hidup, menuliskan semuanya bahkan hal-hal yang kita rasa tidak mungkin untuk dicapai. Setelah itu masing-masing item kita identifikasi kepentingannya, kita buat top priority dari mulai urgensi tertinggi hingga terendah lalu kita cermati dari skala terendah untuk berkompromi apakah perlu dihapus dari daftar pilihan atau kita perlu memutuskan pada sebuah skala waktu dalam bilangan bulanan, tahunan, per-5 tahunan, dst.

Kita buat rencana jangka pendek dan jangka panjang, boleh jadi dengan demikian kita bisa melihat bahwa ada beberapa tujuan yang hanya bisa dicapai melalui perubahan-perubahan dari pola hidup kita sebelumnya sehingga kita bisa mengalokasikan lebih banyak waktu untuk wilayah yang satu daripada yang lain.

Sahabat, kita harus belajar berkata “tidak”. Sebagian orang(termasuk saya^_^) menganggap sulit untuk menolak permintaan-permintaan dari teman-teman, partner kerja, dan dari siapapun meskipun merasa tidak mampu untuk melakukan. Kerap kali ini dilakukan karena kekhawatiran akan buruknya pendapat orang lain atau berpengaruh/merusak terhadap hubungan dg orang lain, termasuk rasa tidak enak dan kekhawatiran akan mengecewakan. Sahabat, akan sangat membantu bagi diri kita untuk bersikap jujur, jelas, dan tegas dalam menjawab, namun tetap perlu kita jelaskan  keperluan dan keberhalangan kita dalam penolakan tersebut dengan santun karena bagaimana pun juga adalah penting bagi kita untuk berkata “tidak” dengan cara yang benar. Sekali lagi, kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Apapun kondisinya, satu hal yang perlu kita cermati, jika kita melakukan suatu aktivitas lebih dari yang kita perkirakan mampu mengatasinya maka kita akan cenderung merasa tertekan, tergesa-gesa, cemas, dan kinerja kita jadi memburuk.

Sahabat, kita harus pandai mencari alternative dan melihat peluang. Adakalanya kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan agenda dan rencana yang telah susah payah kita rancang. Oleh karena itu diperlukan Plan B/rencana cadangan. Terkadang ego terselubung masih tetap keukeuh mempertahankan Plan A yang sudah sangat sulit terwujud, kita masih tidak rela untuk mengubah orientasi, ini bisa terjadi karena cara pandang yang masih terfokus pada anggapan bahwa orang kebanyakan melakukan “ini” dengan cara seperti “ini”(Plan A). Kita merasa asing, minder, dan terhina jika menempuh jalur yang berbeda dengan orang kebanyakan, padahal tidak semua cara tempuh yang berbeda akan menghasilkan output yang kualitasnya lebih buruk.

Jujurlah pada diri sendiri bahwa kita butuh re-charge. Jangan pernah terlena dengan terlalu menikmati keseolah-olahan. Kadang, tidak kita sadari bahwa kita men-suggest diri kita hidup dalam keseolah-olahan. Kita bersikap seolah-olah kita adalah orang yang taat pada aturan, padahal jika kita cermati ternyata banyak aturan yang kita langgar bahkan proporsinya lebih besar, kita bersikap seolah-olah kita adalah orang kuat dan siap untuk bertempur kapan pun, padahal kita lemah dan penakut,kita bersikap seolah-olah semua berjalan dengan baik, padahal kacau! Bukan berarti keseolah-olahan itu buruk, karena terkadang pada suatu waktu kita membutuhkannya, berlagak seolah-olah bahagia sangat membantu dalam stress recovery, tapi tidak jika kita terlalu berlebihan dalam keseolah-olahan karena yang kita hadapi adalah realitas, bukan alam seolah-olah!dan kita butuh untuk segera melakukan sesuatu, semua tidak akan berubah sampai kita mau bangkit dan berikhtiar untuk mengambil langkah-langkah mengatasi masalah.

Sahabat, tenanglah dan jangan cemas!Semua akan baik-baik saja dengan izin Allah. Yang kita butuhkan adalah relaksasi dan menenangkan diri. Berikan suplemen pada otak dan qalb kita dengan senantiasa berdzikir padaNya, sebutlah asma-Nya kapan pun!dimana pun!. Tiada sebuah pengobat hati yang lebih melegakan dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah. Sebuah sumber ketenangan dan kebahagiaan hakiki. Allah telah Menjamin, dengan selalu mengingatNya maka kecemasan, kegundahan, kekesalan, ketidakterimaan dan renjatan itu akan sirna

Akhirnya Percayalah sahabatku, dengan Ridha Allah, tiada suatu masalah yang tidak dapat kita pecahkan. Tiada gunanya terus menangis, karena pada akhirnya air mata tidak akan menyelesaikan masalah, tiada gunanya meratap dan berpangku tangan, karena kita harus segera bertindak! Janganlah terhapus senyummu oleh sayat itu karena ia begitu berharga. Mari mencari way out itu sekuat tenaga, bahu membahu menyempurnakan ikhtiar dan jangan sampai menyerah juga berputus asa. Marilah kita sikapi ketidaksempurnaan ini dengan kesyukuran dan kesabaran, karena sesungguhnya dalam syukur dan sabar itu terdapat kelapangan jiwa yang sejati, semoga Allah Senantiasa Menguatkan dan Mengizinkan semangat ini agar senantiasa berkobar tiada pernah padam, Aamiin.

Wallahu a’lam.

Leave a Comment

AllaH,pLiSs..StAy BeSiDe..aLL tHe TiMe…

Lagi…

Lagi-lagi aku kalah dalam pertempuran ini

Lagi-lagi aku dibutakan oleh deras riak-riak rasa yang menguasai

Lagi-lagi aku menyesal

tepat beberapa detik setelah ketidakmatangan itu terkirimkan

Berjuta tanya berteriak di usainya…

Mengapa kau lakukan itu!

Kenapa kau perbuat itu!

Ooooh Kasihku…Tolonglah aku…

Aku merasa begitu buruk

Aku merana dengan dosa

Aku nista dengan permainanku sendiri

Aku hampir saja putus asa dengan ujianmu ini

Aku benar-benar sekarat…aku…sekarat…sungguh sekarat…

Lagi-lagi aku menangisi kebodohan yang terus terulang

Menghinakan diri dengan kelusuhan yang sama

Apa artinya air mata yang terus kau peras saat akhirnya menyesali

Kau bertingkah lagi

Dan lalu kau menangis lagi

Kemudian bertingkah lagi

Dan masih juga menangis lagi

Penyesalan macam apa yang kau pilih itu?

OOhhh…Ya Allah,,,

Apa yang telah kulakukan…

Apa yang aku lakukan…!

Betapa aku telah begitu mengecewakanMu…

Mengecewakan diriku sendiri, aku benci!!!

Ayolah…

Tidakkah kau dengar!

Hatimu menjerit!

Ragamu sakit!

Jiwamu tercabik!

Merintih lelah oleh deru goda yang samar dan tak kasat mata

Sadarlah…kumohon…sadarlah…

bangun…bangunlah dari semua ini sayang…

Sudahi…Akhiri…Akhiri kebodohanmu!

Kendalikan…Kendalikan…Kendalikan…

kumohon kendalikan dirimu!

Sekali lagi…tak kan pernah jemu kumemohon, kendalikan…

Kendalikan dirimu!

Ken..da…li..kan…lah…

Sampai kapan…imunitas-mu ini dipertanyakan??

Hingga mana…benteng dirimu itu disangsikan??

Tidakkah kau merasa pedih,

Saat Syaitan menertawakanmu di depan wajahmu sendiri

Memperolok kadar imanmu dan meneriakkannya di telingamu

Tidakkah kau merasa tertampar,

Dengan kelemahanmu yang lalai menjaga hati

Kamu harus tegas!

Didiklah dirimu lebih keras!

Bukan ‘seperti’…tapi ‘lebih’ keras dari biasanya!

Sayangku…

jangan terlampau lemah menghadapi dirimu,

kenalilah batas kerentananmu sendiri…

pandai-pandailah memahami

sejauh mana kau mampu untuk tetap tegak berdiri

bertahan pada pijakan kakimu

sekuat apapun yang kau mampu terjagalah sebisamu

kerahkan seluruh tenagamu

berkeraslah!

memperjuangkan harga dirimu sebagai muslimah

yang beriman, berihsan, dan berislam

bukankah kau rindu dengan kebeningan itu, sayang?

Sayang…

Sadarilah dengan segenap kurang dan lebihmu

Bahwa waktu yang terbentang itu masih begitu panjang

Belum terhitung separuhnya kau lulus mengarungi,

Waspada…waspada…waspada…

Lihatlah syaitan telah mengincarmu dari segala penjuru

Jangan beri kesempatan mereka

Tuk memperbudakmu dengan nafsumu sendiri

jangan kau hinakan dirimu dengan mengabdi padanya,,,

lebih lagi jika kau bawa jiwa lain ikut terjebak kedalamnya…

Jadikanlah itu tantangan yang akan kau taklukan

Kalahkan mereka!

Jangan pernah menyerah… sekejap matapun!

Kuasailah…dan biarkan cintaNya saja yang bertindak…

Ya Allah, Engkaulah Pemilik kekuatan yang sempurna

Tiadalah kumohon lindung dan pertolongan selain daripadaMu

Jangan tinggalkan aku Kasih…

tetaplah ada disini…

disisiku

selalu…

Comments (2)

ApAkAh kaU jEnUh paDaKu,SaHaBaT?

Ada apa sahabat…

Hati ini bertanya-tanya, ada apa denganmu…

Ataukah seharusnya aku bertanya pada diriku,

Ada apa denganku?

Mengapa…diri ini merasa, kau jenuh padaku sahabat

Akukah yang terlalu perasa, ataukah itu benar adanya

Sahabat,

Bukalah mata, dan rasakanlah kegalauanku ini…

Mengapa aku merasa kau jenuh padaku sahabat,

Apakah diri ini terlalu banyak bicara…

Apakah aku terlalu sering hadir di tiap hari2mu

Apakah aku terlalu lama selalu ada di dekatmu

Maafkan aku,,,

Aku sungguh takut, jika kau harus jenuh padaku

Sungguh tiada maksudku membuatmu jenuh di tiap kemunculanku

Aku hanya,,,ingin kau merasa bahwa,

Aku ada disini, di sampingmu…

Apakah kau tidak sepakat dengan keinginanku itu, sahabatku…

Sahabat,

mengapa kau begitu jenuh padaku…

Lalu apakah yang harus kulakukan agar kau merasa nyaman?

Apakah yang kau ingin aku buat,

Haruskah aku menjauh darimu sahabat…

Haruskah itu?

Jika engkau berkenan tahu, itu sangatlah sulit bagiku…

Tapi, sungguhkah kau menginginkan itu?

Itukah yang membuatmu kembali hangat…

Sahabat,

Jika disitulah kebahagiaanmu,

Maka seharusnyalah aku pergi jauh darimu,,,

Mungkin untuk sementara, atau bahkan untuk selamanya

Sampai Kapanpun selama kau mau…

Sahabat,

Ketika suatu saat,

kau membutuhkanku, kau merindukanku,

dan kau ingin aku kembali padamu…

kabarkanlah itu padaku secepatnya,

datanglah padaku kapanpun kau mau,

dengan segera aku kan sambut dirimu dengan suka…

Sahabat,,,

Ada apa denganmu…ada apa denganku…

Mengapa aku merasa…kau tengah jenuh padaku

Katakanlah padaku sesuatu,

Agar hilang bimbang dan galauku yang begitu menyesakkan ini…

Saat winamp di kompi melantunkan I finally found someOne-nya Bryan Adams feat Barbara Streisand, cordis-ku begitu ramai berdetak…

Hingga What a Wonderful world-nya Kenny G pun habis, cordis-ku masih ramai berdetak…

Mengapa aku begitu meresahkan itu, Allah…save me please…

Leave a Comment

I ReaLLy BeG yOu ApoLogiZe…

Jika yang kuhadirkan adalah luka,

Maka Maafkanlah aku teman,,

Aku yakin dengan IzinNya kelak kau pun akan mengerti

Bukankah malam tak selamanya berbintang

Dan siang tak selalu harus berawan

Tidakkah engkau rasakan,

Betapa banyak keindahan yang belum kau kunjungi

dibalik kokoh bukit ini…

Lihatlah ia teman,

Dan jangan sedikitpun beranjak dari nuansanya…

Sehingga saat itu kau kan mengerti

Mengapa aku berkata seperti ini

Jika ku kado-kan kecewa seiring pengharapanmu

Maafkan aku teman, sungguh…maafkanlah…

Sinar mentari tak kan meminang cahya rembulan

Dan tak selamanya mentari kan tersenyum

Karena sekali dua haruslah hadir keindahan hujan

Dan Tuhan telah Memutuskan

Kali ini, mentari kah atau hujan kah yang kan menyapa bumi

Keduanya sama indah,

Tapi hanya Dia Yang Tahu, apakah yang tepat untuk bertandang

Orang bilang,,,

Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung

Begitu pulalah diriku ini,

Telah memilih sebuah regulasi tuk pagari tutur dan laku

Memilih sebuah sistem tuk menerangi mata dan hati

Yang selama ini lama kucari

Meyakini Dzat yang suci yang mengatur alur dhamirku

Aku yang mengarung sungai

Tak pernah tahu kemana sampan ini kan berujung membawaku

Tapi dengan sepenuh hatiku

pilihan itu saat ini menggiringku berkata padamu;

Sungguh maafkan aku teman,,,kelak pun engkau akan mengerti

Maafkan aku untuk Desember yang mengecewakan…Aku percaya, dengan izinNya kau kan buat Desember-mu selanjutnya menjadi sangat menyenangkan melalui cara yang lebih indah…^_^ you can make it, hey!

Leave a Comment

HaRgA sEbUaH KoNseKuEnSi

Hidup adalah konsekuensi. Pun memutuskan untuk menjadi bagian dari orang lain adalah konsekuensi, karena membutuhkan keberadaan orang lain sebagai pelaku sejarah kehidupan kita adalah bagian dari hidup yang tidak bisa ditawar.

Dalam perjalanan hidup ditemukan banyak orang dengan berbagai macam watak dan kepribadian. Pada suatu waktu, dari sekian banyak orang yang kita temui ditemukan sebuah kecocokan, persamaan rasa, kesukaan dan jalan pemikiran. Penemuan itu bisa didasari atas frekuensi pertemuan yang lebih banyak, atau hanya sekedar lewat analisis karakter.

Dengan alasan keselarasan, mempererat ikatan lebih dalam menjadi suatu prioritas pilihan. Tidak mungkin kita merasa ‘klop’ dengan semua orang, akan ada gesekan yang kita rasakan dari satu orang lebih keras daripada yang lain, sehingga menjadi fitrah memiliki kecenderungan untuk merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang tertentu lebih dari yang lainnya, karena naluri defensif kita akan selalu mencari celah untuk memberikan perlindungan, naluri itu akan berteriak sekeras mungkin pada diri kita bahwa kita tidak seperti ini sendirian, salah satu teriakan itu disampaikan dengan mengusahakan pengakuan eksistensi diri dari orang lain yang diharapkan akan banyak didapat saat menemukan orang yang ‘seirama’ dengan kita.

Dari situlah muncul sebuah hubungan eksklusif antara seseorang dengan orang lain. Bentuknya bisa diklasifikasikan menjadi dua macam;

Hubungan eksklusif karena terikat secara nasab/pertalian darah. Contohnya adalah hubungan orang tua dengan anak dan antara saudara kandung,

Hubungan eksklusif yang bukan karena ikatan nasab/pertalian darah. Contohnya antara guru dan murid, suami dan istri, dan antara sahabat dekat.

Salah satu bentuk dari contoh di atas kita sebut dengan persahabatan. Sahabat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua tahun 1995 berdefinisi ‘orang yang bersama-sama berbuat atau bekerja; yang menjadi pelengkap’ kita bisa menyimpulkan bahwa esensi dari kalimat di atas adalah sebuah persamaan. Persamaan ini melahirkan sebuah toleransi tinggi. Kita jadikan mereka sahabat karena saat kita berada bersama mereka ada perasaan untuk dimengerti lebih banyak, dihargai lebih dalam, dipahami lebih tepat. Karenanya kita tidak segan untuk mempersilakan mereka memasuki kehidupan kita lebih dalam, berbagi masalah pribadi, bertukar pikiran, meminta pendapat, dll. Kita menanamkan kepecayaan yang lebih besar, memberikan kasih sayang yang lebih banyak, memberikan perlindungan yang lebih tinggi. Keberadaan mereka menjadi istimewa dan berarti, istilah iklan mah bikin hidup menjadi lebih hidup.

Dalam sebuah karya sastranya Kahlil Gibran menulis;


Sahabat sejati mengerti ketika kamu berkata “aku lupa”

Menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”

Tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”

Membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan berkata “bolehkah saya masuk?”

Namun ada sebuah realita yang terkadang kita lupa untuk menelaah bahwa sebaik apapun sahabat kita, semengerti apapun mereka tentang diri kita, seperhatian apapun mereka terhadap kita, mereka tetaplah manusia yang tiada sempurna. Kadangkala mereka muncul sebagai orang yang sangat menyebalkan bagi kita, datang terlambat saat janji bertemu, menghilangkan barang berharga kita yang ia pinjam, bertindak bodoh di depan banyak orang saat bersama kita dan membuat kita malu, lupa merpersiapkan sesuatu yang telah kita pesan sebelumnya bahkan ketika telah kita peringatkan berkali-kali, dll. Kealpaan kita ini menuntut mereka hadir sesuai dengan persepsi sempurna kita tentang mereka. Sehingga saat mereka melakukan suatu hal diluar bingkai yang kita harapkan kita merasa pantas untuk kecewa dan marah.

Begitu pula sebaliknya, sepiawai apapun kita mengusahakan yang terbaik, ada saja kekurangan kita yang muncul dan tidak berkenan bagi mereka, adakalanya kita berbicara terlalu kasar sehingga menyakiti mereka, atau bercanda berlebihan sehingga menyinggung perasaan dan menyentuh bagian yang sensitif dari diri mereka serta masih banyak lagi, singkatnya posisi kita bagi mereka pun tidak jauh berbeda.

Kealpaan seperti ini jika tidak disiasati dengan baik kadang menimbulkan konflik yang pelik, terlebih lagi jika yang dikedepankan menjadi tameng adalah ego masing-masing maka lebih parah dari itu adalah terjadinya perpecahan bahkan permusuhan atau pemutusan hubungan, ego yang biasanya timbul misalnya saja;

Saling menyalahkan

Sikap saling menyalahkan adalah bentuk pertahanan diri, ketidakmauan dikoreksi atau ingin menunjukkan “jika aku bisa salah, maka kamu juga bisa salah”. Menyalahkan lebih dekat pada tindakan menilai negatif pada pribadinya, bukan menunjukkan pada tindakan yang keliru secara spesifik.

Tidak Melihat alternatif

Kecenderungan melihat masalah dari satu arah membuat kita tidak bisa berpikir tenang untuk mencapai yang terbaik dan bagaimana mencapai yang terbaik sehingga tidak akan nampak celah alternatif yang ditawarkan oleh sudut pandang masalah yang lain.

Terlalu sensitif terhadap kritik

Saat pihak lain menyampaikan keberatannya atas sikap atau cara kita berinteraksi diperlukan jiwa besar dan kelapangan dada dalam menerima kritik itu. Penyampaian kritik ini diperlukan untuk menciptakan atmosfir untuk saling memahami dan menjaga, namun bisa menjadi boomerang saat melihatnya dengan sudut pandang yang sempit.

Mengeneralisir

Saat dikritik satu atau beberapa orang tentang pakaian yang kita kenakan, kita mengatakan “semua orang telah mengkritik saya”. Sikap mengeneralisir hanya akan membuat problem semakin rumit bahkan malah menambah beban psikis bagi diri kita sendiri.

tidak mencari akar masalah

karena tidak mau mencari akar masalah maka kita tidak dapat memahami dengan sungguh-sungguh mengapa masalah itu muncul dan tidak segera hilang. Hal ini akan berakibat kita mengalihkan masalah kepada orang lain(mencari kambing hitam),dll

Disinilah peran Teori Konsekuensi di atas dimainkan. Saat kita memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang lain konsekuensi kita adalah melihat mereka seutuhnya sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan, kita harus konsekuen untuk siap merasa bangga dan merasa kecewa.

Dibutuhkan itikad saling memaklumi yang lebih dari sekedar paham dan mengerti. Pemakluman satu sama lain ini akan memunculkan kesadaran timbal balik bahwa kita adalah pelengkap bagi mereka dan mereka adalah pelengkap bagi kita. Jika pemakluman seperti ini telah ‘disepakati’ insyaAllah saat sahabat kita muncul dengan sikap dan karakter negatif menurut persepsi kita maka bukan lagi perasaan marah atau kecewa yang datang, tapi lebih pada keinginan untuk mengoreksi agar mereka tampil lebih baik, begitu pula sebaliknya.

Adapun sikap dan pandangan yang sebaiknya kita kedepankan sebagai tindak lanjut dari pemahaman teori konsekuensi kita adalah;

memahami bahwa sahabat kita bukan hanya milik kita saja, mereka juga memiliki kehidupan di luar interaksinya dengan kita yang juga penting dan membutuhkan banyak waktunya.

setiap orang memiliki karakteristik yang unik dan berbeda, sedapat mungkin kita menyelami lebih dalam karakteristik sahabat kita sehingga makna pemakluman tadi mendapatkan jalannya untuk direalisasikan.

jangan tanyakan apa yang telah mereka beri dan lakukan untuk kita, tapi tanyakan apa yang telah kita beri dan lakukan untuk mereka.

sahabat sebagai pelengkap yang baik bukanlah ia yang diam saat yang lain berbuat kesalahan karena sungkan, tapi ia yang berani membenarkan karena memiliki kasih sayang.

jangan ragu untuk mengucapkan terimakasih

jangan ragu untuk melakukan tindakan heroik, misalnya jemput dia sekali-kali di tempat les or ngaji saat ban motornya kempes, he2..

jangan malu untuk saling menunjukkan perasaan sayang kita, keromantisan dan keterusterangan itulah sebagai penguat ikatan dan pelega hati.

dll(ada yang mau menambahkan???)

nah sahabat sekalian, esensinya adalah bukan masalah sebanyak apa sahabat yang kita miliki, tapi sejauh apa usaha kita untuk membuat persahabatan yang sudah ada ini lebih berarti dari biasanya dan tetap terjaga keutuhannya, prinsip yang terpenting adalah punya sahabat banyak tapi utuh semuanya…(he2..he2…he2…^_^)

wallahu a’lam.

Leave a Comment

Older Posts »