Quote of The Day: 22 November 2009

Ya Allah..

Inilah kehendakMu..

Sungguh manusia hanya mampu menebak dan mengira..


maka siapakah yang mampu meragukan hadirnya segala yang terbaik dari takdirMu?

Wahai Penguasa lembar hidup dan matiku,

Jika demikian yang Engkau Inginkan.. maka hamba mohon Mudahkanlah hingga purna waktunya..


Aamiin..

4 comments December 10, 2009

~Muara Ikhtiar Cinta~

~Muara Ikhtiar Cinta~

-Alidina Nur Afifah-

SA-20040208c-MidxxxMeander

Perih.

Tak ingin mengawali kisah ini dengan keluhan menyakitkan. Tapi begitulah sketsa hidupku ini bermula. Setidaknya, aku ingin mereka yang juga pernah mengalami hari-hari yang sama, mereka yang pernah terpuruk dan tak tahu lagi harus bagaimana, mereka yang merana karena merasa Tuhan tak Adil padanya dapat mengerti bahwa justru sayatan ini adalah nyanyian keadilan dariNya, tiupan cinta yang takkan pernah sampai ilmu kita meraba dan melagukanNya, dan justru dari kelukaan ini aku dapat melompat lebih tinggi jauh dari yang sanggup kuduga, terjun lebih dalam ke dunia hati yang telak berbeda, terbang lebih bebas di alam yang tak lagi sama.

Sebuah nuansa telah menculik pemahamanku hingga sekedip mata saja muatan pesonanya bisa mengantar diriku menukar hidup yang telah kujalani lebih dari dua dasawarsa dengan rangkaian diorama yang asing. Keasingan yang saat itu baru kutahu bahwa sungguh inilah yang mestinya kumiliki sedari dulu. Inilah titik tolak perubahan paradigma yang ikut merevolusi seluruh sudut pandang pikirku. Pena cinta-Nya telah berbicara, memilihkanku alur tak rata yang indah dan sangat kunikmati sepanjang perjalanannya.

Mahasuci Dia, Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka hanya berkata kepadanya, Jadilah”, maka jadilah ia

# # #


Angin Januari berhenti menghembus, seolah beresonansi dengan detak jantungku yang seketika saja lumpuh untuk beberapa saat…

4579_1066270469650_1612700797_210116_906622_n

Aku terhenyak. Setelah puluhan purnama setia dan percayaku menyertainya, begitu saja ia hempas diriku dari kejauhan. Lumpuh. Saat-saat seperti ini kurasakan benar habis dayaku.

Di tengah ujian akhir semester yang semestinya total kulalui dengan tiupan semangat dan dukungannya, aku malah kaku dan beku karena ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Pergi meninggalkan diriku yang hancur dan berkabung bersama hasil ujian yang menyedihkan.

Sudah sejak beberapa tahun ini, aku bimbang. Bimbang dengan pemikiranku sendiri.

Inikah yang dinamakan fase pencarian jati diri itu?

Apakah saat ini aku sedang mengalaminya?

Aku merasa tak yakin dengan apa yang aku perbuat, aku sedang mencari sebuah pembenaran yang logis dan hakiki atas setiap apa yang kuputuskan. Namun aku tak kunjung menemukannya… aku masih saja merasa abu-abu, tak ada yang hitam buatku saat itu, pula tak yakin bahwa sesuatu putih untukku di masa yang sama.

Ada yang salah, selalu merasa ada yang salah tapi aku tak tahu mengapa demikian.

Terlebih saat kucoba memaknai hubungan ini, hubungan semacam apa ini? Benarkah demikian cara yang baik untuk mencari pendamping hidup yang tepat? Aku telah tahu ini tidak benar, tapi aku tidak sanggup berlari… Aku sudah paham yang kupilih rupanya salah, tapi aku tak mampu pergi…

dishonestrb-150x150Entah, rasanya aku belum siap untuk kehilangan lagi. Ya, lagi. Dahulu, jauh di masa itu. Aku pernah merasakan perihnya dikhianati, aku pernah melalui masa-masa itu, masa dimana aku begitu terpuruk karena harus ditinggalkan untuk perempuan lain. Betapa waktu itu, kurasakan hidup dan kepercayaan diriku telah direnggut oleh kepergiannya. Aku sangat kecewa dan tak sedikit pun bisa menerima ribuan alasan yang disampaikannya, sampai-sampai romansaku telah berkerak menjadi benci, rasa benci yang sampai kini masih tak jua bisa kuampuni.

Susah payah aku merangkak dari kubangan. Tertatih mengais langkah yang masih tersisa dalam energiku. Kembali menghimpun kepingan yang remuk redam menjadi kekuatan seorang perempuan yang tak lagi ingin disepelekan. Hingga akhirnya dia datang menawarkan kebahagiaan versiku saat itu.

sedih

Begitulah bagaimana kebimbangan itu begitu mengusik. Lebih dari separuh perjalanan bersamanya, aku merasa mulai ada ruang-ruang hampa dan tak tersentuh di hati. Terombang-ambing di persimpangan dan gundah hendak melangkah kemana. Aku ingin segera memilih arah, tapi seperti ada yang tak rela kutinggalkan…

Pada mereka semua ada iman yang bersemayam di dalam dadanya. Kalaupun manusia bergelimang dosa, ingkar, durhaka, kafir bahkan atheis sekali pun, fitrah manusia tetap tidak berubah. Iman di dalam dada mereka tetap kekal adanya.

Aku malu, ternyata energi hijrahku saat itu belum sekuat rasa takutku. Begitu mudah mengatakan bahwa hanyalah Allah yang pantas kita takuti, tapi ragaku sangat sulit untuk mengerti sehingga ia diam dan tak kunjung bergerak. Aku sedang tertahan dalam perang pemikiranku.

Boleh jadi itulah sebab mengapa kemudian aku memintanya untuk sesegera mungkin menikahiku. Aku pikir, ini adalah jalan tengah yang bisa -sementara waktu- memfasilitasi resahku. Meski sejujurnya aku tak yakin benarkah seperti ini yang disebut terfasilitasi?

Egoku menolak untuk berpikir lebih jauh, yang paling penting bagiku adalah ia pun telah sepakat. Sehingga dalam hitungan tahun, dengan memegang komitmen yang sesungguhnya lebih layak disebut pembenaran itu kujadikan ia sebagai dalih untuk tetap bertahan pada kondisi ini. Paling tidak, dengan memiliki target mengakhiri hubungan yang tak sempurna ini ke jenjang yang halal, aku boleh merasa tenang. Hmm, Tenang? Sungguhkan aku merasa tenang??

1017207995_2d477b3f90_m1Oh… betapa diri ini rindu mengadu. Mengadu tuk akui bahwa sekuat apapun aku menyangsikan, cahaya-Mu tetap tampak terang kulihat meski dari kejauhan. Tak dapat kupungkiri sinar-Mu itu menarik hati dan ingin segera kurengkuh dalam luas yang tak bertepi. Tapi aku terkungkung di sini, terjebak oleh rasa yang masih tak bisa kukendali. Aku ingin segera menyapa, tapi tak tahu harus bagaimana.

Hingga akhirnya, dalam kebekuan malam di atas hamparan sajadah meluncurlah harap dan pinta itu melalui aliran air mata pasrah kepada Yang Maha Menggenggam hati.

“Yang terbaik, Ya Allah”

Kata-kata yang selama ini takut sekali kuucapkan. Kalimat yang selalu saja kuhindari untuk kupanjatkan padaMu, Ya Rabb. Dalam doa-doa sebelumnya, pintaku hanya sanggup bersuara sampai dalam batas “jodohkanlah kami”, “tetapkanlah hati kami satu sama lain”, atau “mudahkanlah langkah kami”.

Karena aku masih resah bagaimana jika Engkau Mengabulkannya. Aku takkan pernah siap melepasnya. Aku tidak siap untuk menerima kenyataan jika dia bukanlah yang terbaik untukku sebagaimana kehendakMu, Allah…

Tapi malam ini, telah sampailah masanya aku melangkah, tidak lagi jalan di tempat, tidak lagi diam dalam gelisah, dengan sepenuh hati dan jiwa aku sungguh pasrah Ya Allah… Berikanlah aku petunjukMu… Aku mohonkan yang terbaik, Ya Allah…

Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagiku… Yang Terbaik…

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


* * *

flawlesswhite4

Hingga tak selang dari 2 bulan sejak aku memberanikan diri mengubah kalimat doaku, Januari ini, tabir itu tersibak sudah…

“Maafkan aku”

Hanya sederet kata itulah yang bisa diucapkannya dari telepon seberang.

Aku masih tidak bisa berdamai dengan isakku yang semakin menjadi-jadi sehingga tidak sanggup bicara. Dia pun hanya terdiam, mungkin sedang bingung kalimat seperti apa yang pantas dipilihnya di saat-saat seperti ini.

“ada apa? Kenapa harus begini tiba-tiba?apakah ada yang salah denganku? katakan apa itu?aku ingin sekali memperbaikinya dan kita tidak perlu seperti ini, Iya kan? bukankah masih bisa kita bicarakan lagi?”

aku berusaha bertanya sebanyak yang aku bisa sebelum aku kembali terisak dan tidak bisa berkata lagi.  Dan benar, aku tak dapat menahan tangisku lagi.

“Tidak. Tidak ada yang salah denganmu. Aku hanya…” Dia terbata, dan kembali terdiam.

“Aku hanya tidak bisa berhubungan jarak jauh seperti ini. rentang ini jauh sekali untukku…”

Keluhnya perlahan.

“kenapa baru kau katakan sekarang? Kita telah berulangkali membahasnya. Bukankah kita sama-sama telah sepakat itu adalah bagian dari resiko sebuah komitmen…”

Aku mencoba tetap berpikir logis, padahal semua juga tahu, sulit sekali bagi seorang perempuan untuk berpikir logis dalam kondisi seperti ini.

patah-hati“baiklah, kuakui itu bukan semata-mata sebuah alasannya. Aku hanya… Hhhhh…Aku hanya belum siap dengan pernikahan yang sangat kau inginkan itu. Kamu tau, aku masih kuliah. Masih banyak yang harus kulakukan. Aku masih ingin bekerja empat atau lima tahun lagi sebelum aku menikah”

Kalimatnya terhenti, ada luapan hati yang coba ditahannya.

“Setahuku, kau tidak pernah keberatan dengan yang kau bilang ‘keinginanku’ itu, kupikir itu ‘keinginan kita’… ” ujarku mulai goyah.

“Hmmm… Kau harus tahu. Sejak awal, aku ingin menganggap hubungan kita ini sebatas hubungan anak muda pada umumnya. Go with the flow! Kita tidak pernah tahu apa akhir dari semua ini. Anggaplah ini sebuah kesenangan masa lajang yang bisa kita nikmati. Tidak perlu berpikir rumit tentang ini dan bagaimana di kemudian hari. Kita masih muda,  Demi Tuhan! (more…)

8 comments October 26, 2009

Kuingin Kau Tahu…

Selama aku pergi
Ku akan mengingatmu
Tak hanya sementara
Selalu dan selalu kurindukan
Senyummu untukku di sini

Ku ingin kau tahu
Meski pun ku jauh
Ku ada di hatimu
Ku ingin kau tahu
Meski pun kau jauh
Kau tetap milikku
Selamanya
Ku bernyanyi untukmu
Untukmu yang kurindukan
Tetaplah setia menungguku
‘Kan kembali

Ku ingin kau tahu
Meski pun ku jauh
Kau ada di hatiku
Ku ingin kau tahu
Meski pun kau jauh
Kau tetap milikku
Selamanya

6089_112965214474_789964474_2256393_1682103_n-001

Add comment October 18, 2009

Day 1~Memulai Tisikan Awal Sulaman Cinta

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

Berdiri melihat keretamu berlari menuju Jakarta meninggalkan stasiun ini bersamaku. Teriring lambaian tanganmu di balik jendela dengan bunyi gesekan rel dan roda yang semakin lama semakin terdengar cepat saja.

Entahlah.. rasa-rasanya air mata di pelupuk ini telah menggenang dan tak tahan untuk berebut dilampiaskan. Jika bukan karena malu dilihat orang, tentunya sejak tadi mataku telah basah, merah dan membengkak karenanya.. (more…)

Add comment August 18, 2009

~Ia Tercipta untuk Tegar~

Hmmmm…

sekencang apapun riuh angin menyapa, pohon yg tercipta untuk tegar tak akan rela mencabut akarnya demi menyerah begitu saja…  sebanyak apapun daunnya tergugur, tiada pernah akan membuatnya tumbang dan jera…

ia tak pernah mengerti mengapa Allah memilihnya utk melalui semua ini…  tapi apapun pendapat hatinya, entah ujian, cobaan, ataukah azab…  alih-alih mengeluh ” why it should be me ? ” ia malah berserah dan hanya mengharap… bahwa semoga penghujung dari semua ini hanyalah cinta-Nya semata…

ada yang bertanya, lalu bagaimana jika yang dilaluinya adalah hembusan angin topan skala lima?

jikalau memang ada pohon yang ditakdirkan untuk melalui topan skala lima tentulah ia adalah pohon yang demikian hebat.. karena pohon yang hebat diciptakan untuk menghadapi hal-hal yang hebat…

~Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan…

jika pun pohon itu harus tumbang, siapakah kita yang berani menghakimi bahwa pohon itu telah menyerah dan kalah…

boleh jadi angin membuatnya tumbang untuk membawa sang pohon hidup di tempat lain yang lebih elok dan bermanfaat menyimpankan air untuk hilangkan dahaga makhluk Allah di sekitarnya..

atau boleh jadi pula.. bahwa tumbangnya ia adalah hal yang terbaik baginya karena ia mendapat kebun yang jauh lebih indah di Surga..

~Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak tahu… ^^

Ia Tercipta untuk Tegar...

Ia Tercipta untuk Tegar...

Add comment August 13, 2009

Selamat Datang,…. Selamat Jalan,…


Jumat, 24 April 2009. Di bawah Langit Jakarta, dini hari menjelang adzan Shubuh berkumandang.


Ami terbangun dengan semangat. Mata kelat yang biasanya harus berkali mengerjap terlebih dahulu, seketika saja bisa berbinar dengan lincah. Karena sejak malam, Ami telah menantikan pagi ini tiba, Nak.. Seolah Ami memang berfirasat bahwa akan ada tamu agung datang :-) .

Insting keibuan, mungkin itulah pertama kali insting keibuan Ami yang sesungguhnya mulai terekspresi..

Bergegas Ami menyerbu kamar mandi sambil membawa bungkusan biru bertuliskan SENSITIF yang dibeli Ayah sore kemarin di Drug Store dekat kantor. Di antara harap dan cemas, Ami menanti gerakan urin yang merambat perlahan dari ujung stik berukuran 0,5 x 10 cm2 itu,

satu garis merah…… dada Ami makin bergemuruh….. dan.. akhirnya….. DUA garis merah!!

Alhamdulillah…! Subhanallah…!

POSITIF!^_^

POSITIF!^_^

Ami segera berlari ke kamar karena tak sabar ingin kabari Ayah tentang berita gembira yang telah lama kami nantikan ini.”Gimana, Dek?” tanya Ayah pada Ami dengan kerutan harap di dahinya. Sambil menunjukan dua garis merah di stik biru putih tadi, Ami berkata dengan senyum mengembang, ” Selamat Datang, Cinta..”. ^_______^ “Alhamdulillaaaaaaaaah…..” sahut Ayah langsung memeluk erat dan mengecup kening Ami.

Anakku sayang, melalui darah yang Ami alirkan ke dalam tubuhmu, engkau pun mungkin dapat merasakan betapa bahagianya kami saat itu menyambut kehadiranmu.

Allahu Rabbuna,, Nak...

Allahu Rabbuna,, Nak...

Di waktu ter-awal keberadaanmu ini, Ami ingin mengenalkanmu tentang Penciptamu yang Maha Agung, Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Belajarlah bersyukur padaNya senantiasa, Nak. Segala puji hanya bagi Allah, hanyalah atas IjinNya engkau hadir menyempurnakan kehidupan kami…


—————————————————————-

Sabtu, 25 April 2009. Ante Natal Care (ANC) pertama. Di Ruang Tunggu praktek Dr.Eriana Sp.OG yang cantik dan baik hati. Bertiga menikmati indahnya rinai hujan dan semilir angin Kota Surakarta. Ya.. bertiga, Ami, Ayah, dan Kamu dalam rahim Ami, Nak…

Karena sangat bersemangat, malam itu kita datang setengah jam sebelum Bu Dokter cantik itu tiba. Sehingga kita langsung dapat antrian pertama, Nak :-) . Bu Dokter datang tak lama setelah perawat melengkapi identitas Ami dan Ayah termasuk menanyakan keterangan tentang Menarche Ami yang dimulai saat usia 12 tahun, HPMT Ami tanggal 17 Maret 2009, G1AoPo, Menimbang berat badan, dsb. Setelah identitas diisi lengkap, kemudian berkas diberikan pada Bu Dokter.

Seusai Meng-anamnesa, Bu Dokter meminta Ami untuk berbaring dan diperiksa dengan USG. Sudah sangat sering melihat alat itu dan orang yang diperiksa dengannya. tapi kalau Ami yang diperiksa dan diteropong dengan USG? ini baru pengalaman pertama Ami, Nak:-)

4 minggu 6 hari...

4 minggu 6 hari...

Itulah pertama kalinya Ayah dan Ami melihatmu, begitu mungil.. terlelap di dasar kantong gestasi.. Dalam usiamu yang baru 4 minggu 6 hari, engkau telah merapat sempurna dalam rahim Ami.. di bagian yang terbaik di corpus uteri Ami di sebelah kiri..

Sayang, ternyata Bu Dokter cantik itu menemukan sebuah massa yang tergambar hitam bersekat di seberang tempatmu berbaring yang ia duga sebagai kista endometriosis ovarii dekstra berdiameter 5,3 cm.

Dag dig dug Ami mendengarnya, terlebih lagi Ayah. Tapi penjelasan Bu Dokter sangat menenangkan, ia katakan bahwa sepertinya kista ini ada sejak Ami masih gadis. Ami teringat pada materi Endometriosis yang diajarkan oleh Prof. Tedjo bahwa 90% perempuan memiliki kista endometriosis di rahimnya, seringnya terjadi pada perempuan dengan siklus menstruasi yang pendek/teratur dan masa haid yang panjang.

Ia melanjutkan bahwa biasanya perempuan dengan kista akan sulit mengalami pembuahan atau kehamilan, namun Subhanallah dalam kasus Ami, Allah telah Menghadirkan kamu di sini:-), dan dengan adanya kehamilan, kista yang hidup dengan estrogen sebagai nutrisinya akan terdesak dan hilang sendiri karena kalah oleh hormon progesteron yang meningkat pada saat kehamilan. Pada ANC selanjutnya, akan dilihat lagi kista ini apakah sudah hilang atau belum.

Bu Dokter meyakinkan kami bahwa kista ini tidak akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhanmu, jadi kami boleh merasa tenang:-).

Alhamdulillah, Senangnya melihatmu mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.. segala doa untuk kebaikanmu mengalir deras tanpa henti dari mulut dan hati kami, Nak.. semoga sehat dan kuat dirimu bertahan di dalam sana. :-)

* * *

Anakku sayang, kehadiranmu bukan hanya membahagiakan Ayah dan Ami. seluruh keluarga besar Ayah dan Ami pun turut bersuka cita menyambut kedatanganmu. Eyang Kakung dan Putri, orang tua Ami. Njid dan Jiddah, orang tua Ayah. Mbah buyut di Jogja dan Majenang. Tante Zilfa, Om Faza, juga Om kecil Nabhan, adik-adik Ami. Umi Rafie, Bunda Nayla, dan Mama Ayuri, kakak-kakak Ayah.

Ohya Nak, Ada sedikit cerita yang ingin Ami kisahkan padamu. Mengingat Ayah adalah anak bungsu dalam keluarganya, maka Ayah dan Ami sempat bingung sapaan apa yang ingin Ayah dan Ami ajarkan padamu untuk memanggil kami. Kakak pertama Ayah telah memakai Abi dan Umi. Kakak kedua Ayah sudah memilih Ayah dan Bunda. Kakak ketiga Ayah menggunakan Papa dan Mama. Harus kamu tahu bahwa trade mark panggilan itu telah begitu melekat pada diri mereka dan tidak dapat tergantikan, padahal Ami sangat tertarik untuk memilih Umi atau Bunda,hiks^^’.

Hmm,, sebenarnya Ami adalah anak sulung yang berhak memilih apapun karena Ami akan menjadi orang yang pertama memakainya, hehehe. Tapi berhubung Ayah adalah si bungsu yang mendapat ’sisa’ (hehe, piss Ayah!^____^v) maka akhirnya Ayah dan Ami harus sedikit memutar otak^^ dari mulai meng-googling di internet sampai survey ke segala wacana di berbagai media segala istilah yang sekiranya unik dipakai. namun tak ada juga yang kami anggap cocok,Nak.. hehe. what a perfectionist couple we are, Ayah!^______^’.

Setelah berbagai diskusi dengan Ayah, akhirnya kami memilih panggilan ‘Ayah’ untuk Ayah. selain kami menyukainya juga sifatnya lebih umum di keluarga karena yang memakai panggilan Ayah bukan hanya Ayah Nayla, di keluarga Tebet dan Cirebon ada beberapa yang memakainya. Kelarlah sudah satu tugas kami. hei, tunggu. bagaimana dengan Ami??

sampai terhitung berminggu-minggu usiamu Ami masih bingung dan belum juga memutuskan untuk memilih. hingga akhirnya Ami menulis note ini, Ami memutuskan untuk menggunakan ‘Ami’. Unik, bukan?^^.harus Ami akui selain bagi Ami panggilan ini adalah mixing dari ‘Umi dan Bunda’ juga karena ini terinspirasi dari Sinetron yang tak pernah absen Eyang Putri tonton setiap malam di Indosiar, hehe..^______________^’

Anakku tercinta, Semuanya bergembira dan antusias karena engkau datang. Maka berbagai nasihat dan petuah tak henti mengalir dari mereka kepada Ami demi menjaga kesehatanmu dan Ami yang melindungimu. Tidak boleh naik motor dan becak sampai selesai 4 bulan pertama, tidak boleh makan Duren, Soda, Tape, dsb.

Ami tersenyum dan senang mendapat perhatian yang luar biasa seperti ini. Saat menuruti setiap nasihat sepanjang itu baik dan syar’i, sebenarnya yang terpenting bukanlah materi dari nasihat itu karena menurut Ami itu sangat relatif sekali seperti halnya menaiki motor dan becak, hehehe (Kamu harus tahu bahwa Ami adalah Biker sejati, Nak. ^___^),

tapi yang paling utama adalah sejak dini Ami ingin mengajarimu agar engkau paham tentang seni ketaatan pada orang tua, sakralitas dari nasihat mereka, dan ketentraman hati saat bisa membuat mereka berbahagia, semampu yang kita bisa, sepanjang yang kita sanggup.

Mengingat kita dan orang tua berangkat dari generasi berbeda dan dengan pemikiran yang lain pula, maka saat berhadapan dengan mereka, kitalah sebagai yang lebih muda yang harus berperan aktif dengan hati dan pikir yang jernih memfasilitasi jarak ini agar menjadi keselarasan yang dinamis. Saat inilah akhlak menjadi dominan dibanding syariat, Insya Allah suatu saat engkau akan memahaminya, Nak..

Jadilah Anak Shalih yang taat pada Allah dan Rasul Muhammad SAW, pula bermanfaat dan menenangkan hati setiap orang di sekelilingmu^^. (more…)

6 comments June 11, 2009

Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH, bERencaNa MeniKah, IngiN mEniKaH, AtAupuN SuDaH mENIkaH

Di Sebuah Kamar yang menjadi saksi tangis dan tawa kita, 23.45 WIB

Bismillah..

Belum bisa tidur,, padahal besok pagi harus dobel masak sekalian buat bekal makan siang kamu di kantor :) , karena hari selasa adalah jadwal pengajian tafsir ba’da dhuhur di kantor, jadi ga pulang deh siangnya. sambil nongkrongin facebook, iseng2 bikin note di samping kamu yg sudah tertidur pulas,, kamu lucu banget sih kalo lagi tidur begitu, sayang.. kayak anak kecil,hehe.

tak terasa, sudah 57 matahari terbit kita saksikan berdua setelah sekian lama melihat cerahnya sendiri saja.Sepertinya baru kemarin kamu mengikrarkan ijab qabul sambil menjabat tangan Bapak, dan ‘membeli’ kehalalanku atasmu dengan seperangkat alat shalat, surat Ar-Rahmaan, dan uang sebesar 307 Ribu Rupiah 86 Real.

Momen indah yang begitu menegangkan sekaligus mengharukan.
‘Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
subhanallah,,,betapa ayat yang kamu lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku,, ‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’.. berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaanu

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaan.. Fabiayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaan

agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin.. (more…)

15 comments March 18, 2009

The Original Song of Maltavista

Our Graduation...

Malagasiy:Our Graduation...

Malta Vista,,,
Kenangan indah tiada pernah usainya
Terikat kasih dan sayang
Jalinan penuh makna
Merenda persahabatan suka duka bersama

Malta Vista,
Diamku bukan arti tak cinta
Tidurku bukan arti tak bela
Sgala salahmu tak tanda pupuslah ukhuwah kita
Tak ada yang sadari, jauh di lubuk hati aku bangga

Malta Vista oh Maltaku…
Dedikasiku untukmu
Terjaga dirimu oleh jiwa kami yang bersatu
Tetap kokoh pribadimu selalu

Malta Vista oh Maltaku…
Ku kan slalu rindukanmu
Walau rintangan membentang walau godaan menghadang
Ku kan pasti tetap sayang kepadamu
Oh, Maltaku…

4 comments September 4, 2008

Saat Kau Menyapa

silir angin membisik
dalam hening,
sampaikan sapamu Cinta

dan ku melihatnya
sedalam rindu yang kau rasa
melalui hati yang ku jaga
dengan ijinNya

dengarkanlah, Cinta
mereka beresonansi dengan indahnya
melantunkan irama megah
iringi tiap detik
yang selalu kuhitung
saat menantimu
di sini… di sisiku…

(Huhuhu…aku ni knapa… ko jadi  melloo banget.. huks..huks..!)

3 comments September 2, 2008

Hingga Tiba Masanya…

selangkah lagi...

selangkah lagi...

karena menghitung hari hingga hadir saat itu

semua pun tampak merah jambu…

semoga takkan lagi menjadi kelabu…

terimakasih… (more…)

1 comment September 2, 2008

Previous Posts


Ada Yang BaRu LhOo..

Nge-Fans Nih Yee...

wul on ~Muara Ikhtiar Cinta~
wul on Quote of The Day: 22 November…
Alwi on Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH…
Alwi on Tentang Aku dan Hidupku
Alwi on Tentang Aku dan Hidupku
alids on Quote of The Day: 22 November…
alids on Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH…
alids on Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH…
alids on Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH…
alids on Tentang Aku dan Hidupku
Nisa on Tentang Aku dan Hidupku
Nisa on Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH…
Ukh nita on Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH…
akhnurhadi on Quote of The Day: 22 November…
akhnurhadi on Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH…

Partisi Hati

TunG-iTunG

PalinG diGemari

BoleH DiLiriK DEH..

aL-MaNaK

February 2010
M T W T F S S
« Dec    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

ReaCh Me CloSer..

BeningKan Hati diSiNi

ClicK aJaH..

RuPA ruPa AsiK Lhoo..^^

SaPa DoKter Kita:Haii..!

YanG iNi boLeH juGa!

yOu!InsPiRinG Me...

Pages

Archives

Ahlan wa SaHlan..^_^