Berbekallah,
Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa
dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.
(QS. al-Baqarah : 197)
Masih ingat lirik lagu ini ?
“Si kancil anak nakal, Suka mencuri ketimun
Ayo Lekas dikurung, jangan diberi Ampun”

Saya yakin sebagian besar para orang tua generasi saya di masa kanak-kanaknya sangat familiar dengan lagu ini dan juga kisah ceritanya. Saya sendiri, begitu hapal lirik lagunya sehapal surat al-fatihah, di luar kepala dan dinyanyanyikan dengan sangat refleks. Tentang ceritanya, alhamdulillah sejak balita saya suka sekali membaca, bercerita dan mendengar cerita, mendongeng dan didongengi ditambah pula Bapak selalu rajin membawa oleh2 buku untuk saya dan adik2 sehingga membuat passion dan atensi diri terhadap kemampuan verbal saya begitu besar sejak kecil. Karena semua itu, saya amat menyukai dongeng, termasuk yang ini, saya mengingat detail kisah kancil ini, rangkaian percakapannya, bahkan intonasi suara dan pemenggalan kata-kata saat dongeng ini diceritakan kepada saya terekam dengan baik diingatan saya sejak saya balita sampai sekarang. Begitu kuatnya memori saya mengingatnya, sampai sampai saat ini, saat saya telah dewasa dan menjadi seorang ibu, saya bertekad agar di usia balita anak-anak saya, lagu dan fabel fenomenal ini TIDAK akan saya perkenalkan.

Ya, alih alih menjadi nasihat sederhana bahwa anak yang mencuri itu anak nakal, kisah kancil ini bisa menjadi boomerang bagi anak kita sendiri jika kita membagi pada mereka tak tepat waktu. Pada usia anak-anak terutama balita apalagi batita, otak sedang berkembang dengan sangat cepat sedangkan memorinya merekam tanpa ampun semua yang dilihat didengar dan dirasakannya, karena area kritisnya belum terbentuk akibatnya belum bisa menerima penjelasan dan diskusi atas apa yang dilihat didengar dan dirasakannya itu, mereka belum mengerti tentang konsep baik dan tidak baik, sehingga seluruhnya masuk ke alam bawah sadar mereka tanpa pandang bulu, tertanam dengan kuat dalam ranah persepsi yang tak disadarinya.

Ide memberi nasihat mencuri itu tidak baik itu bagus, tapi mengingat isi dan tekstual ceritanya, saya lebih sepakat ini diberikan kepada mereka yang sudah memiliki konsep benar dan salah, bisa diajak berkomunikasi dan berdiskusi tentang hal-hal yang ditemukan di sekelilingnya. Dan yang pasti bukan pada anak-anak, apalagi Balita terlebih lagi batita kita. Sehingga orang tua tidak serta merta mengajari mereka sebuah lagu atau sekedar mendongengkan cerita, tapi juga memberi pemaknaan dan ikhtibar atas lagu dan cerita yang mereka ajarkan. Baik contoh kebaikan yang bisa diteladani, dan tidak lupa contoh ketidakbaikan yang harusnya dihindari dan ditinggalkan.
Setidaknya ada beberapa sisi negatif dari sedikit sisi positif hadirnya lagu ini yang bisa kita kritisi untuk anak sekolah maupun usia prasekolah yaitu usia balita atau batita:
1. Kancil Suka Mencuri Ketimun.

Baiklah, para pemerhati anak telah banyak mengangkat salah satu sisi negatif dari kisah si kancil yang ini yaitu menanamkan di alam bawah sadar balita bahwa ‘mencuri’ itu sebagai sekedar nyanyian, seru-seruan, lucu-lucuan, kancil digambarkan begitu ‘cerdas’ mencurangi dan berbuat licik kepada orang lain. pemikiran anak sekolah dan juga prasekolah yang belum bisa menyaring sempurna informasi yg didapatkannya menelan mentah2 merasuk ke alam bawah sadarnya bahwa mencuri itu biasa saja, mencuri itu lucu, mencuri itu senda gurau, dan lebih parah mencuri itu cerdas.

Pemikiran seperti ini yg secara tidak sadar ketika ia tumbuh menjadi anak-anak usia sekolah, remaja, dewasa, bahkan usia bekerja tertanam bahwa ‘mencuri’ dalam arti yang luas adalah hal yang biasa. okelah jika komunikasi antara orang tua dan anak terbentuk intens dan terbuka, mendiskusikan apa yang baik dan tidak baik berikut alasan dan solusinya, dsb. Tapi jika tidak maka persepsi yang telah terbentuk di kepala saat otaknya masih berkembang dengan cepat di usia balita tertanam kuat dan sulit digugurkan. Dia akan mudah mengambil barang/meminjam barang tanpa ijin, memasuki rumah tanpa salam tanpa risih, mengambil uang di dompet ortu tanpa permisi, memetik bunga di taman kota tanpa rasa bersalah, dsb. lalu yang banyak disinggung orang bahwa maraknya korupsi di negeri ini tak lain dan tak bukan salah satunya karena di saat balita para koruptor telah diperkenalkan oleh masyarakatnya tentang kisah si kancil cerdik yang suka mencuri timun.
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas dasar fithrah. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi. (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Si Kancil Anak Nakal.

Si Kancil yang masih anak-anak dengan julukan Anak Nakal. Ini dia, saya suka sekali mensosialisasikan kepada kerabat dan rekan-rekan saya tentang pentingnya hal ini, bahwa untuk ranah anak-anak terutama balita yang sekali lagi saya katakan belum bisa menyaring dengan sempurna informasi yang didapatkan dari lingkungan sekitar adalah sebaiknya tidak memberikan kepada mereka julukan-julukan negatif seperti Nakal, Bandel, Bengal, Bodoh, Jelek, Malas, kamu tidak bisa, gak bisa gak usah aja,dsb.

Intermezzo—–Ini menjadi salah satu materi diskusi tersendiri saat proses Ta’aruf saya dan suami dulu, materi ini menjadi materi yang vital dan harus selaras (dalam hal hal vital kami menjadikan keselarasan visi misi sebagai syarat wajib lanjut atau tidaknya proses Ta’aruf itu). Karena jika sudah sepakat dan satu persepsi tentangnya maka kita akan lebih mudah untuk bersinergi saat mensosialisasikannya ke lingkungan yang lebih luas yaitu kepada kakek nenek anak-anak, kepada kerabat dan saudara, kepada sahabat, kolega, pengasuh anak di rumah, khadimah rumah tangga, tetangga atau paling tidak pada mereka yang akan berinteraksi dengan anak kita harus tahu bagaimanapun caranya tentang bagaimana aturan pokok memperlakukan anak kita berlaku. Karena seberapapun matangnya rencana dan detail kita susun dalam rangka proses mendidik dan merawat anak kita, tidak akan berhasil diterapkan jika tidak ada dukungan dari orang2 sekitar. Semua harus mendukung proses ini agar output yang dihasilkan seperti yang telah kita harapkan.
Pertama, anak usia sekolah, balita apalagi batita belum benar benar tahu bahwa apa yang dilakukannya itu baik atau tidak baik. Tugas orang tua lah mengarahkan. Alam bawah sadar akan menelan mentah2 apa yang telah didengarkan, dan orang tua adalah orang yang harusnya paling sering terdengar perkataannya oleh anak. Konsekuensinya, segala perkataan orang tua dan orang-orang di dekatnya akan memiliki efek kompleks terhadap tumbuh dan kembang dirinya. Sekecil apapun, seremeh apapun perbuatan, kata dan kalimat itu yakinlah akan memiliki konsekuensi yang besar dan melekat pada dirinya.
Maka jika orang tua menyampaikan kebaikan dan berkata baik kepada dirinya, maka dia akan mengekspresikan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya yang kemudian akan terbiasa dan refleks untuk melakukan dan mengucapkan kebaikan serta menjadikan dirinya baik. Sebaliknya, jika orang tua menyampaikan keburukan dan berkata hal hal buruk kepada dirinya, maka dia akan mengekspresikan keburukan dalam perilaku sehari-harinya yang kemudian akan terbiasa dan refleks untuk melakukan dan mengucapkan keburukan serta secara tidak sadar dia mengusahakan dirinya sendiri menjadi pribadi yang buruk. Teori ini menjadi penjelasan yang realistis mengapa akhir akhir ini kita banyak mendengar dan melihat berita tentang balita yang dengan mudahnya mengumpat dengan kata kata kasar, berteriak dengan kalimat yang porno dan tidak pantas, mengapa balita mudah sekali menjuluki seseorang dengan julukan yang tidak sopan, dan sebagainya. Mari kita coba menganalisis sebuah kasus berikut:
Seorang balita yang sedang mendapat kemampuan baru yaitu memukul-mukulkan kardus bekas pasta gigi ke sekeliling, ke tembok, ke pintu, ke tivi, ke meja, dan suatu saat dia memiliki ide untuk memukulkan kardus itu ke muka ibunya, dia penasaran sekali seperti apakah sensasinya. Respon ibu ketika mendapatkan pukulan kardus bekas di mukanya bisa bermacam-macam :
a. Ibu terkaget dan dengan refleks mendorong anaknya hingga terjengkang karena sensasi perih di mukanya. Si Anak yang merasa kaget karena telah didorong ibunya kemudian menangis keras
b. Ibu terkaget karena rasa sakit di mukanya lalu dengan refleks memukul pantat si anak atau juga mencubitnya. Si anak yang terkaget atas rasa sakit yang dirasakan tubuhnya menangis sekencang kencangnya.

c. Ibu terkaget karena rasa sakit di mukanya lalu berkata pada anaknya : Kamu Nakal telah memukul Ibu. Si Anak kembali memukul mukul muka ibu dengan kardus, dan si ibu kembali berkali-kali berkata si anak nakal hingga berteriak-teriak dengan muka marah dan mata melotot.

d. Ibu terkaget menahan rasa sakit, tidak mendorong anaknya, tidak memukul atau mencubit anaknya, tapi ngeloyor pergi dengan kesal dan ngambek kepada anaknya
e. Ibu terkaget menahan rasa sakit, dengan mata perih dan berair karena goresan kardus di matanya si Ibu tersenyum, duduk setengah berlutut agar tingginya sejajar dengan si anak dan bisa menatap mata anaknya lurus lurus, kemudian ia berkata : Budi anak yang baik dan pintar, ibu beritahu ya Nak, anak baik itu tidak memukul, karena Budi anak baik maka budi tidak memukul. Orang yang dipukul seperti ibu akan merasa sedih karena dipukul itu sakit, Nak
. Lalu si anak tersenyum dan kembali memukul ibunya. Lalu ibunya kembali mengulang kata2nya kemudian mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya melihat ikan di akuarium.

Mari kita cermati bersama, orang tua yang terbiasa menggunakan fisik untuk mendidik atau menghukum anaknya, maka refleks yang ia keluarkan adalah refleks fisik entah itu mendorong, memukul, ataupun mencubit. Efeknya, anak akan tersakiti secara fisik, dan yang paling penting adalah anak akan terluka secara psikis. Luka diingatannya akan tetap membekas dan mempengaruhi pribadinya. Ia bisa mudah menggunakan kekerasan fisik terhadap orang lain, memukul atau mencubit temannya. Bukan tidak mungkin anak2 sekolah yang suka tawuran sekarang2 ini berangkat dari hukuman fisik yang dulu sering didapatkannya di masa kecil.

Anak adalah peniru yang ulung, silakan orang tua tunjukkan muka marah dan melototlah seseram-seramnya, maka jangan kaget jika anak jadi pemarah dan pintar sekali menunjukkan raut melotot dan tidak ramah kepada orang lain. orang tua yang alih alih berusaha berkomunikasi dengan anak malah ngeloyor pergi dan ngambek membuat anak menjadi bingung dan tidak bisa mendefinisikan sebab akibat dari perbuatannya.
Berbeda dengan ibu di option E, hanya dalam satu momen peristiwa kecil dengan sedikit bersabar menahan rasa sakit atas pukulan kardus di muka si ibu telah meninggalkan banyak jejak kebaikan di memori anaknya yang sedang tumbuh dan meraup segala informasi yg datang pada dirinya:
pertama, dengan tetap tersenyum ibu mengajarkan kepada anaknya untuk mudah tersenyum dan mudah membahagiakan orang lain. kedua, dengan duduk berlutut dan menyejajarkan mata dengan anaknya saat berkomunikasi si ibu memberitahukan pada anaknya bahwa dirinya terbuka untuk berdiskusi membahas sesuatu untuk anaknya tanpa menganggap anaknya berkemampuan di bawah si ibu, anak akan merasa dihargai dan akan lebih percaya diri.
Ketiga, dengan memberi penjelasan atas perbuatan yang baik dan tidak baik maka anak akan melihat sinyal demokrasi di rumahnya, ia bebas berdiskusi dan mengutarakan pendapat sehingga kelak ia akan menjadi anak yang terbuka kepada orang tuanya, dia tidak akan merasa perlu menyembunyikan sesuatu dari orang tuanya dan menjadikan orang tuanya sebagai tempat curhat dan mencari solusi yang utama.
Keempat, dengan memberi julukan anak baik dan anak pintar kepada anaknya maka secara tidak sadar saat ia tumbuh ia akan terpacu untuk menjadi pribadi yang baik dan pintar. Kelima, dengan mengatakan orang yang dipukul itu akan sedih karena merasakan sakit, ia kelak akan mudah berempati terhadap lain dan sensitifitas sosialnya akan terasah dengan baik,
Keenam, dengan memberi solusi mencari kesenangan yang lain seperti melihat ikan di akuarium, ibu mengajarkan si anak mencari alternatif dan menciptakan naluri kreatif. Anak akan melihat bahwa selalu ada solusi untuk apapun dan tidak ada jalan buntu. Anak menjadi mudah diajak melihat sesuatu yang baru dan tertanam di pikirannya banyak hal yang bisa dilihat dan menyenangkan di sekelilingnya. Si anak yang masih belum sempurna pengertiannya terhadap perkataan ibunya itu memang masih terus memukul. Tapi memorinya akan merekam dengan kuat nasihat ibunya tersebut. Paling tidak, dia seketika belajar tersenyum seperti yang dilakukan oleh ibunya.
Studi kasus yang lain :
1. “Bandel banget sih kamu, dibilangin ngeyel”

- Anak akan mencap dirinya Bandel seperti Mama yang me-label-i dirinya sebagai anak bandel. Maka secara tidak sadar dia benar benar akan berperilaku bandel
- Anak akan dengan ringannya melabeli orang lain. Dia anak bodoh, Si Anu orang miskin. Si Itu orang pelit, Si Ini orang jelek, dst.
- Gaya bahasa yang lebih baik ; “Rani anak shalihah, Ayah sedih kamu mengerjakan apa yang kamu inginkan tanpa persetujuan Ayah”
2. “sini papa aja yang bukain, kamu gak bisa nanti patah”

- Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang peragu dan krisis percaya diri, tidak berani tampil. Ini menjelaskan mengapa di sekolah bangku belakang lebih dulu penuh dibanding bangku baris depan.
- Anak cenderung menjadi individu yang memilih zona nyaman meski tahu bahwa menghadapi tantangan baru akan meningkatkan kesejahteraan dirinya.
- Anak menjadi pribadi yang kurang kreatif karena kreatifitasnya selalu dihambat sehingga lama kelamaan naluri alami kreatifnya yg seharusnya ada dan bisa berkembang lebih luas menjadi tumpul dan tidak lagi berbuah.
- Anak cenderung tidak bisa diajak kerjasama/kooperatif. Sulit melakukan pekerjaan teamwork
- Anak akan mudah merendahkan kemampuan orang lain dan sulit menghargai usaha dan kebaikan orang lain dan sudut pandang yang ia miliki adalah sudut pandang negatif
- Gaya bahasa yang lebih baik ; “Yuk dicoba, kamu pasti bisa. Kalau ada yang salah nanti kita perbaiki sama-sama”
3. “Pokoknya Bunda bilang pulang ya pulang, harus nurut”

- Anak tidak familiar dengan alternatif. Mudah putus asa. Tidak terasah untuk menyampaikan ide
- Anak meniru sikap Bunda-nya menjadi anak yang suka memaksakan kehendak
- Gaya bahasa yang lebih baik ; “boleh Bunda tahu mengapa kamu tidak ingin kita pulang sekarang? “
4. “Yuk cepetan tidur yuk, tuh tuh tuh Nanti kalo gak tidur tidur ditangkep orang gila/Polisi” atau “jangan kesitu, Nak.. gelap.. nanti ada setan lhooo” atau “Ayo makan banyak kalo gak disuntik Bu dokter lho”

- Kata2 seperti ini terbukti sukses membentuk anak menjadi penakut. Bukankah lebih menyenangkan jika anak jadi pemberani?
- Orang gila, Polisi, Dokter, Setan, Kegelapan, jarum suntik menjadi hal hal yang sangat menyeramkan dalam persepsi mereka. Apakah tidak lebih indah jika membuat hal hal tersebut menjadi sesuatu yang biasa saja untuk mereka.
- Gaya bahasa yang lebih baik : “Anak Shalih, sekarang sudah malam waktunya kita tidur yuk, esok kita main bersama lagi “ atau “Nisa, main disini saja yuk,Nak.. disitu tidak ada orang, semua berkumpul disini untuk bermain bersama kamu “
5. “adek jatuh ya.. kasian,mana sini Nenek pukul kodoknya. uuh.. kodok nakal ya bikin adek jatuh”

- Anak diajari untuk terbiasa mencari kambing hitam atas permasalahannya.
- Anak sulit untuk mengakui kesalahan dan cenderung tak mau disalahkan
- Anak sulit meminta maaf.
- Gaya bahasa yang lebih baik ; “Adek jatuh ya, sini Nenek obati.. lain kali belajar lebih hati hati agar tidak terjatuh lagi ya, Pinter.. “