Selamat Datang,…. Selamat Jalan,…


Jumat, 24 April 2009. Di bawah Langit Jakarta, dini hari menjelang adzan Shubuh berkumandang.


Ami terbangun dengan semangat. Mata kelat yang biasanya harus berkali mengerjap terlebih dahulu, seketika saja bisa berbinar dengan lincah. Karena sejak malam, Ami telah menantikan pagi ini tiba, Nak.. Seolah Ami memang berfirasat bahwa akan ada tamu agung datang :-) .

Insting keibuan, mungkin itulah pertama kali insting keibuan Ami yang sesungguhnya mulai terekspresi..

Bergegas Ami menyerbu kamar mandi sambil membawa bungkusan biru bertuliskan SENSITIF yang dibeli Ayah sore kemarin di Drug Store dekat kantor. Di antara harap dan cemas, Ami menanti gerakan urin yang merambat perlahan dari ujung stik berukuran 0,5 x 10 cm2 itu,

satu garis merah…… dada Ami makin bergemuruh….. dan.. akhirnya….. DUA garis merah!!

Alhamdulillah…! Subhanallah…!

POSITIF!^_^

POSITIF!^_^

Ami segera berlari ke kamar karena tak sabar ingin kabari Ayah tentang berita gembira yang telah lama kami nantikan ini.”Gimana, Dek?” tanya Ayah pada Ami dengan kerutan harap di dahinya. Sambil menunjukan dua garis merah di stik biru putih tadi, Ami berkata dengan senyum mengembang, ” Selamat Datang, Cinta..”. ^_______^ “Alhamdulillaaaaaaaaah…..” sahut Ayah langsung memeluk erat dan mengecup kening Ami.

Anakku sayang, melalui darah yang Ami alirkan ke dalam tubuhmu, engkau pun mungkin dapat merasakan betapa bahagianya kami saat itu menyambut kehadiranmu.

Allahu Rabbuna,, Nak...

Allahu Rabbuna,, Nak...

Di waktu ter-awal keberadaanmu ini, Ami ingin mengenalkanmu tentang Penciptamu yang Maha Agung, Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Belajarlah bersyukur padaNya senantiasa, Nak. Segala puji hanya bagi Allah, hanyalah atas IjinNya engkau hadir menyempurnakan kehidupan kami…


—————————————————————-

Sabtu, 25 April 2009. Ante Natal Care (ANC) pertama. Di Ruang Tunggu praktek Dr.Eriana Sp.OG yang cantik dan baik hati. Bertiga menikmati indahnya rinai hujan dan semilir angin Kota Surakarta. Ya.. bertiga, Ami, Ayah, dan Kamu dalam rahim Ami, Nak…

Karena sangat bersemangat, malam itu kita datang setengah jam sebelum Bu Dokter cantik itu tiba. Sehingga kita langsung dapat antrian pertama, Nak :-) . Bu Dokter datang tak lama setelah perawat melengkapi identitas Ami dan Ayah termasuk menanyakan keterangan tentang Menarche Ami yang dimulai saat usia 12 tahun, HPMT Ami tanggal 17 Maret 2009, G1AoPo, Menimbang berat badan, dsb. Setelah identitas diisi lengkap, kemudian berkas diberikan pada Bu Dokter.

Seusai Meng-anamnesa, Bu Dokter meminta Ami untuk berbaring dan diperiksa dengan USG. Sudah sangat sering melihat alat itu dan orang yang diperiksa dengannya. tapi kalau Ami yang diperiksa dan diteropong dengan USG? ini baru pengalaman pertama Ami, Nak:-)

4 minggu 6 hari...

4 minggu 6 hari...

Itulah pertama kalinya Ayah dan Ami melihatmu, begitu mungil.. terlelap di dasar kantong gestasi.. Dalam usiamu yang baru 4 minggu 6 hari, engkau telah merapat sempurna dalam rahim Ami.. di bagian yang terbaik di corpus uteri Ami di sebelah kiri..

Sayang, ternyata Bu Dokter cantik itu menemukan sebuah massa yang tergambar hitam bersekat di seberang tempatmu berbaring yang ia duga sebagai kista endometriosis ovarii dekstra berdiameter 5,3 cm.

Dag dig dug Ami mendengarnya, terlebih lagi Ayah. Tapi penjelasan Bu Dokter sangat menenangkan, ia katakan bahwa sepertinya kista ini ada sejak Ami masih gadis. Ami teringat pada materi Endometriosis yang diajarkan oleh Prof. Tedjo bahwa 90% perempuan memiliki kista endometriosis di rahimnya, seringnya terjadi pada perempuan dengan siklus menstruasi yang pendek/teratur dan masa haid yang panjang.

Ia melanjutkan bahwa biasanya perempuan dengan kista akan sulit mengalami pembuahan atau kehamilan, namun Subhanallah dalam kasus Ami, Allah telah Menghadirkan kamu di sini:-), dan dengan adanya kehamilan, kista yang hidup dengan estrogen sebagai nutrisinya akan terdesak dan hilang sendiri karena kalah oleh hormon progesteron yang meningkat pada saat kehamilan. Pada ANC selanjutnya, akan dilihat lagi kista ini apakah sudah hilang atau belum.

Bu Dokter meyakinkan kami bahwa kista ini tidak akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhanmu, jadi kami boleh merasa tenang:-).

Alhamdulillah, Senangnya melihatmu mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.. segala doa untuk kebaikanmu mengalir deras tanpa henti dari mulut dan hati kami, Nak.. semoga sehat dan kuat dirimu bertahan di dalam sana. :-)

* * *

Anakku sayang, kehadiranmu bukan hanya membahagiakan Ayah dan Ami. seluruh keluarga besar Ayah dan Ami pun turut bersuka cita menyambut kedatanganmu. Eyang Kakung dan Putri, orang tua Ami. Njid dan Jiddah, orang tua Ayah. Mbah buyut di Jogja dan Majenang. Tante Zilfa, Om Faza, juga Om kecil Nabhan, adik-adik Ami. Umi Rafie, Bunda Nayla, dan Mama Ayuri, kakak-kakak Ayah.

Ohya Nak, Ada sedikit cerita yang ingin Ami kisahkan padamu. Mengingat Ayah adalah anak bungsu dalam keluarganya, maka Ayah dan Ami sempat bingung sapaan apa yang ingin Ayah dan Ami ajarkan padamu untuk memanggil kami. Kakak pertama Ayah telah memakai Abi dan Umi. Kakak kedua Ayah sudah memilih Ayah dan Bunda. Kakak ketiga Ayah menggunakan Papa dan Mama. Harus kamu tahu bahwa trade mark panggilan itu telah begitu melekat pada diri mereka dan tidak dapat tergantikan, padahal Ami sangat tertarik untuk memilih Umi atau Bunda,hiks^^’.

Hmm,, sebenarnya Ami adalah anak sulung yang berhak memilih apapun karena Ami akan menjadi orang yang pertama memakainya, hehehe. Tapi berhubung Ayah adalah si bungsu yang mendapat ’sisa’ (hehe, piss Ayah!^____^v) maka akhirnya Ayah dan Ami harus sedikit memutar otak^^ dari mulai meng-googling di internet sampai survey ke segala wacana di berbagai media segala istilah yang sekiranya unik dipakai. namun tak ada juga yang kami anggap cocok,Nak.. hehe. what a perfectionist couple we are, Ayah!^______^’.

Setelah berbagai diskusi dengan Ayah, akhirnya kami memilih panggilan ‘Ayah’ untuk Ayah. selain kami menyukainya juga sifatnya lebih umum di keluarga karena yang memakai panggilan Ayah bukan hanya Ayah Nayla, di keluarga Tebet dan Cirebon ada beberapa yang memakainya. Kelarlah sudah satu tugas kami. hei, tunggu. bagaimana dengan Ami??

sampai terhitung berminggu-minggu usiamu Ami masih bingung dan belum juga memutuskan untuk memilih. hingga akhirnya Ami menulis note ini, Ami memutuskan untuk menggunakan ‘Ami’. Unik, bukan?^^.harus Ami akui selain bagi Ami panggilan ini adalah mixing dari ‘Umi dan Bunda’ juga karena ini terinspirasi dari Sinetron yang tak pernah absen Eyang Putri tonton setiap malam di Indosiar, hehe..^______________^’

Anakku tercinta, Semuanya bergembira dan antusias karena engkau datang. Maka berbagai nasihat dan petuah tak henti mengalir dari mereka kepada Ami demi menjaga kesehatanmu dan Ami yang melindungimu. Tidak boleh naik motor dan becak sampai selesai 4 bulan pertama, tidak boleh makan Duren, Soda, Tape, dsb.

Ami tersenyum dan senang mendapat perhatian yang luar biasa seperti ini. Saat menuruti setiap nasihat sepanjang itu baik dan syar’i, sebenarnya yang terpenting bukanlah materi dari nasihat itu karena menurut Ami itu sangat relatif sekali seperti halnya menaiki motor dan becak, hehehe (Kamu harus tahu bahwa Ami adalah Biker sejati, Nak. ^___^),

tapi yang paling utama adalah sejak dini Ami ingin mengajarimu agar engkau paham tentang seni ketaatan pada orang tua, sakralitas dari nasihat mereka, dan ketentraman hati saat bisa membuat mereka berbahagia, semampu yang kita bisa, sepanjang yang kita sanggup.

Mengingat kita dan orang tua berangkat dari generasi berbeda dan dengan pemikiran yang lain pula, maka saat berhadapan dengan mereka, kitalah sebagai yang lebih muda yang harus berperan aktif dengan hati dan pikir yang jernih memfasilitasi jarak ini agar menjadi keselarasan yang dinamis. Saat inilah akhlak menjadi dominan dibanding syariat, Insya Allah suatu saat engkau akan memahaminya, Nak..

Jadilah Anak Shalih yang taat pada Allah dan Rasul Muhammad SAW, pula bermanfaat dan menenangkan hati setiap orang di sekelilingmu^^.

Buah Hati terkasih, tak akan Ami lupa dan Ami membuatmu ingin engkau selalu mengingat bagaimana perhatian dan bantuan teman-teman terbaik Ayah dan Ami yang membantu secara moril dan fisik untuk kita bertiga. dari berbagai simpati yang mereka sampaikan setiap hari, sampai yang paling luar biasa adalah teman-teman Ami di Solo yang menjaga kamu dan Ami demikian hati-hati. Karena Ayah harus berjuang mencari nafkah di Jakarta sana, maka kecuali di akhir pekan, peran SIAGA nya digantikan oleh teman-teman dekat Ami yang baik hati itu.

Tante Nita, Tante Aster, Om Ary, Om Arifin, dan Tante Dina yang di tengah kesibukan koas mereka rela berpanas-panas mencari kontrakan yang pas dan cocok untuk Ami. Mereka yang selalu mengantar Ami kemana-mana sampai harus jauh-jauh bolak-balik kos-kontrakan Ami untuk menemani Ami yang sendirian di rumah. Membelikan makan yang paling Ami inginkan. dari nasi padang sampai rujak cingur, hehe. What a great friends, You are all guys!

Bukan hanya mereka, ada Tante Ajeng dan Tante Jeje yang mengantar Ami untuk tes TORCH di Lab Budi Sehat. Tante Moya dan Tante Shaumy yang jauh-jauh belikan Empek2 Bu Kamto sepulang dari Jogja. Tante Tyas yang menginap di rumah Ami dan membawakan Kebab Turki Baba Rafi pesanan Ami, hehe. Rekan-rekan koass Ami di stase Bedah juga tak sedikit berperan. Mereka sangat membantu, Nak.. terlalu banyak dan berarti sampai Ami tak mampu sebutkan mereka satu persatu.

Betapa beruntungnya kamu, Nak. Alhamdulillah..

Jadilah orang yang mudah berterima kasih dan menghargai setiap orang yang mencintaimu, agar hatimu menjadi peka dengan kebaikan dan cinta sehingga dapat menjadikannya cahaya menerangi sekitarmu..

Sayang, hadirmu dan semua atensi cinta ini, membuat Ami bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagimu. meski menjelang akhir minggu ke-8 Ami mulai merasakan mual sepanjang hari terlebih di kala bangun tidur dan menjelang maghrib, Ami terus memaksakan diri untuk meminum susu dan nutrisi ibu hamil di trimester pertama. Memakan makanan selengkap mungkin 3 kali sehari meski setelahnya harus menahan mual yang sangat. Semakin bertambah usiamu, Ami mulai kepayahan, pusing dan muntah-muntah air menghiasi hari-hari Ami. Pokoknya begitu Ami pulang dari rumah sakit, Ami langsung beristirahat seoptimal mungkin demi menjaga stamina.

Hmm,, sayangku.. meski kepayahan, tapi ini adalah kepayahan yang membahagiakan, sehingga Ami merasakannya dengan suka cita^_^

—————————————————————-

Selasa, 19 Mei 2009. seminggu menjelang ANC kedua.


Sepulang dari Poli Bedah, seperti biasa Ami langsung pulang. sebelum tidur siang, Ami terlebih dahulu ke kamar mandi untuk buang air kecil karena akhir- akhir ini Ami sudah mulai sering merasakan kandung kemih Ami cepat penuh. ketika di kamar mandi, tiba-tiba, Ami menemukan spotting kecil sepanjang 1 cm.

Ya Allah, Nak.. Ami panik sekali dan langsung menelpon Ayah, dan siapapun yang bisa memberi saran. ketika Eyang Putri katakan asal jangan bleeding yang deras dan merah segar, Ami sedikit lega. Eyang Putri katakan Ami cukup beristirahat saja. Namun Ayah meminta Ami untuk kontrol ke dokter pada sore harinya.

Segeralah sore itu Ami berangkat ke dokter ditemani oleh tante Aster. Setibanya di sana, Bu dokter langsung memeriksa kondisimu melalui USG. Alhamdulillah, nak.. bu dokter katakan kamu baik-baik saja. bahkan kista yang pada ANC pertama dulu bercokol di ovarium kanan Ami saat ini telah hilang. bukan hanya itu, Bu dokter mengatakan bahwa pendar detak jantungmu telah terlihat di USG. Syukurlah, Nak.. Ami lega sekali.. :-)

—————————————————————-

Sabtu, 23 Mei 2009, Ayah tiba dari Jakarta.


Sejak spotting 5 hari yang lalu, Ayah begitu resah dan ingin segera menemui kita di Solo, Nak. dan akhirnya, pagi ini Ayah tiba juga. Kita bertiga berpeluk melepas rindu. Seminggu tak bertemu seolah terasa sewindu. Melihat wajah Ayah serupa penawar gundah dan resah yang menghabiskan tenaga Ami karena kesibukan dan berbagai permasalahan Ami di stase Bedah yang rupanya cukup pelik.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan mencari dokter lain untuk second opinion. bukan karena apa-apa, tapi lebih karena ingin mencari kelegaan hati dan mencari pendapat dari ahli yang lain.

Malam itu juga, sama seperti yang sudah-sudah, di tengah gerimis, taksi yang kita naiki menembus malam kota Surakarta menuju tempat praktek Dr. Tri Budi Sp.OG. Alhamdulillah begitu kita datang, baru saja ruangan itu kosong sehingga kita bisa langsung menemui Pak Dokter.

Sama seperti yang sebelumnya, Pak Dokter mulai meng-anamnesa dan memeriksa kondisimu melalui USG. Yang paling menarik untuk kami adalah Pak Dokter yang bersahaja dan kebapakan ini menyambut pertanyaan Ayah dan Ami dengan bijak dan penuh kesabaran, segala hal yang Ayah dan Ami konsulkan dapat beliau jelaskan dengan detail dan terang sehingga Ayah dan Ami merasakan pencerahan, terlebih memang, saat itu Ayah dan Ami tengah bimbang tentang apakah sebaiknya Ami melanjutkan koass ini mengingat Ami telah menjalani stase bedah sampai separuh jalan, ataukah Ami hendaknya cuti karena sepertinya Ami butuh ketenangan, istirahat, dan juga kehadiran Ayah selalu di sisi Ami sebagai dukungan psikologis.

Pak Dokter mengatakan:

“Kalau bagi saya, kehadiran anak ini adalah amanah. karena amanah, maka saya akan berusaha menjaganya seoptimal yang saya bisa. kita tidak akan pernah tahu apakah akhirnya nanti, tapi paling tidak ada ikhtiar optimalnya. dalam kondisi ini memang harus memilih, dan dalam setiap pilihan memang ada yang harus dikorbankan.”

Ajaib, entah kenapa kata-kata Pak Dokter saat itu begitu saja membuat Ayah dan Ami seketika mantap dengan pilihan untuk cuti dulu dari kegiatan koass dan pulang ke Jakarta sampai usia kamu genap 5 bulan yang pada saat itu proses penancapan plasenta telah selesai dan kamu siap kembali Ami ajak beraktivitas.

Entahlah, sebenarnya tak ada kata-kata atau persepsi baru dalam muatan nasihat Pak Dokter bersahaja tadi, tapi mungkin petuahnya itulah yang memperkuat ghirah Ayah dan Ami untuk memberatkan timbangan pada satu pilihan.

Jika Allah berkehendak untuk memberi petunjuk pada hambaNya, maka tidak ada sesuatupun yang mampu menghalangi petunjuk itu untuk sampai kepadanya…

—————————————————————-

Senin,25 Mei 2009, Argo lawu mengantar Ami kembali pulang ke Jakarta.

ArgoLawu_eksterior2

Sampai Ami menulis paragraf ini, tak ada sedikit pun penyesalan di hati Ami telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari koass sementara waktu dan memilih untuk menghabiskan waktu denganmu sebanyak yang Ami bisa..

-sama sekali tidak menyesal… -

Yang tersisa hanyalah kelegaan. sungguh Ami merasa sangat lega telah mengambil keputusan ini. Insya Allah inilah yang terbaik bagi kita, Nak. Hm, Ami bahagia sekali,, Kita akan berkumpul dengan keluarga dan menikmati indahnya menjadi saksi setiap detik tumbuh kembangmu bersama Ayah dan juga mereka yang Ayah dan Ami cintai,,

—————————————————————-

Selasa, 26 Mei 2009, di Rumah Mereka yang tercinta…

Home Sweet Home

Home Sweet Home

Menenangkan, sungguh tentram berada di samping Bunda, terlebih di saat-saat membutuhkan perhatian optimal seperti ini.

Bunda, bahkan di saat aku telah beranjak tak lagi muda, masih saja tak hentinya diri ini merepotkanmu.

bahkan di kala aku telah bersuami dan seharusnya tak lagi membebani, aku masih saja butuh belaimu..

bahkan di saat aku mengandung dan akan segera memberimu cucu, masih saja aku butuh bantuanmu..

Bunda,, kasihmu takkan pernah lekang oleh waktu

sayangmu selalu menghangatkanku kapan pun itu..

meski kadang terhalang gengsi tuk ucapkan, sungguh tak ingin aku menyesal seumur hidupku jika tak pernah kusampaikan padamu bahwa aku sangat mencintaimu…

—————————————————————-

Sabtu, 30 Mei 2009, Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta Pusat

RSIA Bunda

RSIA Bunda

Hujan lagi, Nak.. setiap Ami kontrol Dokter untuk memantau kondisimu, pasti rinai hujan dan bau tanah basah yang sangat Ami sukai itu turut mengiringi. Menemani setiap langkah antusias Ami menyaksikan dirimu yang semakin hari semakin mendekat dalam dekapan Ami.

Bersama Eyang kakung dan Ayah, Ami menunggu antrian. Kali ini, Eyang kakung memilihkan Dr.Noroyono Wibowo, Sp.OG(K) yang rupanya salah satu dokter ahli senior di Jakarta. Dokter hebat yang juga direkomendasikan karena kepiawaiannya mendiagnosis oleh Bu Dokter yang menangani kita di Solo.

Benar saja, Nak.. hanya dengan sekali melihat gambaran kondisimu dari layar USG, beliau langsung memvonis bahwa telah sejak sepekan lalu perkembanganmu berhenti.

Beliau katakan, Engkau….. telah meninggal, Nak..

Innalillah wa inna ilaihi raaji’uun..

hanya seperti itulah kalimat yang sanggup Ayah dan Ami katakan dengan hampir bersamaan.

Mencoba tampak tegar, Ami dan Ayah mendengar penjelasan dari Dokter tentang kondisi kamu saat ini. Dokter katakan bahwa ada gambaran edema atau penimbunan cairan di bagian kepala dan badanmu dan denyut jantungmu tidak lagi bisa terdengar, karena Tes TORCH Ami negatif sehingga kemungkinan infeksi bisa disingkirkan dan juga tidak ada abortus spontan berupa perdarahan, beliau menduga ini adalah hidrop fetalis yang biasanya disebabkan karena kelainan Hematologi, kemungkinan adalah Thalassemia yang diturunkan dari orang tua.

Dhuaaar! Petir menggelegar, Thalassemia?? bagaimana mungkin.. secara genetis keluarga besar Ayah dan Ami tidak ada yang pernah menderita Thalassemia. Untuk memastikan, dokter membuatkan pengantar laboratorium untuk memeriksa darah Ami dan Ayah agar bisa melihat apakah ada kelainan dalam pembekuan darah sebagai salah satu marker Thalassemia.

Pulang dengan segala gundah, meski tampak terkendali. Ayah menenangkan Ami dalam pelukannya di sepanjang perjalanan. Bagaimana ini, kemarin kamu masih tampak baik-baik saja. bahkan tadi pun Ami melihat, tubuhmu telah terbentuk dengan sempurna.

wajahmu.. hidungmu.. matamu.. tanganmu.. kakimu.. semuanya telah lengkap kau miliki, Sayang…

Ayah, Ami merasa anak kita masih ada dan hidup di dalam sini..

dia hanya sedang lelap tertidur menikmati hangatnya rahim Ami di tubuhnya karenanya dia tak memberi respon apapun..

Lihatlah Ayah, perut Ami masih membesar dan masih melindungi ia dengan aman..

Ami masih merasakan mual-mual itu..

Ami masih rasakan pusing-pusing itu..

Anak kita baik-baik saja, Ayah.. dia masih hadir di tengah kita.. Ayah,

Ami tidak ingin begitu saja ia divonis meninggal…

—————————————————————-

Rabu, 3 Juni 2009. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat.

RSAB Harapan Kita

RSAB Harapan Kita

Senin lalu, hasil laboratorium sudah bisa diambil. setelah melihat hasilnya, Alhamdulillah baik Ayah maupun Ami tidak ada yang membawa sifat/carier Thalassemia. Hmmpppfff….syukurlah. berarti harus berikhtiar lagi untuk mencari tahu penyebab yg lain..

Anakku, semua masih optimis akan kondisimu, bukankah dengan kehendak Allah apapun bisa terjadi? Ami mengakui, Pak Dokter yang kemarin memang sangat pintar dan mendiagnosa dengan baik sesuai tanda-tanda yang kamu tunjukkan di layar USG,

tapi… tak bolehkah Ami berharap lain,,, sepintar apapun.. manusia adalah tempatnya lupa.. maka boleh kan jika sesekali Pak Dokter pintar itu melakukan kesalahan? sekali saja.. Ami berharap beliau salah..

Dengan sigap Eyang kakung menghubungi rekan-rekan seprofesi yang bisa ia kontak untuk mencari second opinion. Sempat muncul beberapa nama seperti Prof. Bambang Karsono, Sp.OG(K) di YPK Jalan Theresia, namun ternyata pasien beliau harus mengantri sebulan sebelumnya, hiks. laris sekali rupanya. lalu ada rekomendasi dari rekan Eyang di RSPAD Gatot Subroto kepada Dr.Nurwansyah Sp.OG di RSAB Harapan Kita. Akhirnya Eyang Kakung memilih RSAB Harapan Kita.

Sesampainya di rumah sakit, ternyata Dr.Nurwansyah Sp.OG sudah lama tidak berpraktek di sana dan pasiennya di rumah sakit ini ditangani Dr.Irvan Adenin Sp.OG. dengan beliau-lah akhirnya Ami berkonsultasi. Ami kembali berbaring untuk diperiksa. Harap-harap cemas, Ami dan Ayah mencoba menebak apa yang akan muncul dalam layar monitor mesin USG. Ami pasrah, Nak.. Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon pertolongan…

Ruangan itu senyap.

Ami menanti.. menanti denyut jantungmu kembali terdengar..

Ayolah Nak.. berjuanglah…

Ami melihat di layar, ukuran panjangmu hanya 2, 6 cm.. itu adalah ukuran untuk janin berumur 9 minggu 6 hari, Nak.. sedangkan usiamu sekarang adalah 11 minggu 1 hari.. seharusnya panjangmu adalah 7, 7 cm..

Ami berharap Ami salah melihat.. Ami salah menghitung.. Ami tidak memakai kaca mata minus Ami, karenanya yang Ami lihat lebih kecil daripada ukuran yang sebenarnya kan Nak? katakan lah Ami hanya salah melihat…

tapi tetap sunyi.

Ayah, Ami, Eyang Kakung, dan Pak Dokter Irvan yang ada di sini,, tidak ada seorang pun yang bisa mendengar detakmu….. ukuranmu pun tetap seperti apa yang Ami lihat, engkau tak kunjung memanjang seperti yang Ami harapkan…

selesai Nak.

usai sudah…. kesenyapan itu telah menjawabnya,,, sebelum Pak Dokter menjelaskan apapun, Ami telah mengerti apa kesimpulannya.. Ami sudah paham apa yang terjadi.. Ayah memandang Ami mencari jawaban, dalam tatapannya Ami membaca bahwa Ayah ingin mendapatkan dukungan bahwa entah apa yang Ayah simpulkan di dalam hatinya itu tidak benar bukan?

Maaf, Ayah.. tapi itu memang benar…

Anak kita telah wafat…

Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…

—————————————————————-

Kamis, 4 Juni 2009. Di Kamar menjelang tidur, beberapa jam sampai tiba menyapa pagi sebelum esok melepasmu pergi ..

Awalnya, Ami tak ingin ada air mata.. tapi… seusai menerima telpon Jiddah ba’da Isya tadi, Ami tak mampu lagi menahan derainya. Jiddah sangat kehilanganmu, Nak.. isaknya begitu memilukan hati Ami.

Maafkan saya Mama, Maafkan karena mama harus kehilangan cucu dari putra tercinta bahkan sebelum genap Mama menyaksikan kehadirannya…

stronging each other...

stronging each other...

Ayah menyeka air mata yang tak henti jatuh dari pelupuk Ami meski pipinya pun basah.. Mendekap erat Ami demi berikan kehangatan dan ketenangan yang sesungguhnya juga sedang Ayah butuhkan..

Dalam pelukan, kami saling menguatkan…

Malam ini.. adalah saat terakhir Ayah dan Ami bersamamu,

sambil mengelus perut Ami, Ayah berharap getaran belainya masih bisa sampaikan pesan padamu bahwa kami sangat menyayangimu agar kamu dapat mengingatnya selamanya…

Insya Allah, kami ikhlas dengan kepergianmu, Nak..

Tak ada yang bisa mencegah jika Allah telah Berkehendak…

Ayah dan Ami yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita bertiga..

Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak tahu,

hanyalah keyakinan akan qadar-Nya yang tersisa, sehingga hati ini dapat lapang untuk membuka tabir hamparan hikmah yang disampaikanNya..

—————————————————————-

Jumat, 5 Juni 2009, Di ruang tindakan kuretase, RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat.

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

Tepat Pukul 10 Pagi,

Ami terbaring dengan baju operasi hijau itu, Ami telah siap melepasmu, Nak.. Dokter Anestesi menyapa Ami dengan hangat, para perawat mempersiapkan alat-alat kuret dengan sigap. Pak Dokter Irvan datang dan mengucap salam pada Ami. tak lama setelah dokter anestesi memasukkan cairan pentotal ke pembuluh darah Ami, Ami mulai merasakan kesadaran Ami menurun, rupanya cepat sekali efek obat bius ini, belum genap hitungan menit Ami sudah tertidur.

Pukul 10.30,

Ami terbangun. rupanya proses kuretase telah selesai, Ami dipindahkan dari ruang tindakan ke ruang perawatan pasca tindakan. sudah ada Ayah di samping Ami. perawat datang mengantarkan hasil kuret di dalam botol bulat transparan. Ada kamu di situ, Nak.. tidak lagi di rahim Ami.. karena sudah dikuret, bentukmu tak tampak lagi seperti waktu di dalam.. hanya terlihat sebatas jaringan-jaringan tubuh yang terendam darah dan larutan fisiologis NaCl..

Pukul 13.00,

waktunya Ami dan Ayah meninggalkanmu di sini ya, Nak.. dokter ahli akan memeriksa jaringanmu untuk keterangan patologi anatomi-mu. . . . .

11 minggu 6 hari...

11 minggu 3 hari...

Di Jumat yang mulia engkau datang kepada kami,

dan di hari Jumat yang agung pula engkau pergi meninggalkan kami,

11 minggu 3 hari bersamamu,

menjadi waktu terlama dalam hidup kami terlebih di minggu-minggu terakhir saat menjelang kepergianmu..

11 minggu 3 hari denganmu,

menjadi waktu tersingkat yang pernah kami rasakan dalam hidup kami, saat mengingat rasa bahagia dan suka cita ketika menyambutmu hadir, terlebih di minggu-minggu pertama kedatanganmu..

Engkaulah kenangan terindah yang takkan pernah Ami dan Ayah lupakan

Kami sangat bangga engkau tersanding menjadi bagian dari perjalanan cinta kami..

Dinda-dindamu kelak akan mengingatmu sebagai kakanda yang kan selalu ada di tengah-tengah mereka, meski hanya dalam kata dan cerita..

Sayang.. Ami dan Ayah akan selalu merindukanmu..

kami percaya, kepergianmu bukan semata-mata hampa makna..

Engkaulah pahlawan bagi kami, yang mengajarkan kami berbagai ilmu berharga dan penuh hikmah..

Insya Allah semoga Allah mencatatmu sebagai penggugur dosa-dosa yang telah Ami dan Ayah lakukan

Kehadiranmu.. pula kepergianmu.. semoga memberi pencerahan bagi siapapun yang bisa mengambil manfaat.. Alhamdulillah.. Subhanallah.. Allahu Akbar..

Milladunnaa ‘ilmaa.

Hanya dari sisi Kami-lah pengetahuan tentangnya berada. itulah namamu..

Pulanglah, Nak.. Kembalilah ke sisiNya.

Kelak, Sambutlah kami dengan senyum terindahmu di pintu Jannah-Nya…

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan…

***

Dalam Kebahagiaan, manusia tidak akan mampu bersyukur ketika dia tidak bersabar

Dalam Kesedihan, manusia tidak akan mampu bersabar ketika dia tidak bersyukur

sungguhlah ada batas yang tak bersekat antara Sabar dan Syukur itu..


Semoga Allah Menjadikan kita bagian dari Orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam menjalankan setiap elegi cintaNya..

Aamiin….

Jakarta, 7 Juni 2009

Tanpa Editing, belum sanggup baca lagi euy! hehe

tulisan yang mengalir begitu saja, jadi maap-maap kalo ada salah tulis, salah EYD, nada-nada kalimat yang kurang merdu dan ada feel kalimat yang kurang maknyus.. hehe.

Semoga bermanfaat. ^____________^

P.S:

beberapa kali menyebutkan nama dokter dan rumah sakit tertentu, semoga ga dipenjara sayah,, heuheuu.. kan ga ngejelek2in ato memfitnah tho?^_________________^

Comments (1)

Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH, bERencaNa MeniKah, IngiN mEniKaH, AtAupuN SuDaH mENIkaH

Di Sebuah Kamar yang menjadi saksi tangis dan tawa kita, 23.45 WIB

Bismillah..

Belum bisa tidur,, padahal besok pagi harus dobel masak sekalian buat bekal makan siang kamu di kantor :) , karena hari selasa adalah jadwal pengajian tafsir ba’da dhuhur di kantor, jadi ga pulang deh siangnya. sambil nongkrongin facebook, iseng2 bikin note di samping kamu yg sudah tertidur pulas,, kamu lucu banget sih kalo lagi tidur begitu, sayang.. kayak anak kecil,hehe.

tak terasa, sudah 57 matahari terbit kita saksikan berdua setelah sekian lama melihat cerahnya sendiri saja.Sepertinya baru kemarin kamu mengikrarkan ijab qabul sambil menjabat tangan Bapak, dan ‘membeli’ kehalalanku atasmu dengan seperangkat alat shalat, surat Ar-Rahmaan, dan uang sebesar 307 Ribu Rupiah 86 Real.

Momen indah yang begitu menegangkan sekaligus mengharukan.
‘Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
subhanallah,,,betapa ayat yang kamu lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku,, ‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’.. berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaanu

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaan.. Fabiayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaan

agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _

Pernikahan itu indah dan menenangkan. Semoga tidak terlalu terburu-buru aku mengatakannya mengingat dua purnama saja belum genap aku menjadi bagian kisahnya. Namun ijinkan aku menuliskan itu untuk meyakinkan para rekan yang tengah ragu melangkah menghampirinya.
Beberapa ada yang bertanya baik dengan serius ataupun sekedar membuka obrolan tentang bagaimana rasanya menikah atau tentang apakah yang jadi berbeda antara sebelum dan sesudah menikah(hayo, ngaku.. siapa yg pernah nanya begituu?:D:D ). Karena sepertinya itu adalah the most lovable question setelah pertanyaan ‘dah isi belom?’-hmmmmm, hehe,,doakan yang terbaik yaa.. ikhtiar mah tetep insya Allah ^^- sehingga membuatku berpikir lagi untuk tidak sekedar menggugurkan kewajiban dengan menjawab:
‘yaaa.. jelas beda, ntar rasain sendiri deh pas udah nikah:)’.

Hmm, teman,, setelah menikah sebagai seorang perempuan tentu perbedaan yang paling pertama kurasakan usai mitsaaqan ghalidzaa itu terucap adalah berpindahnya pengutamaan ketaatanku setelah kepada Allah yaitu dari orang tuaku kepada beliau, suamiku.
Perginya aku ke suatu tempat adalah atas ijinnya,
memutuskannya aku atas suatu perkara adalah atas persetujuannya,
pilihanku atas busana yang kukenakan adalah atas ridhanya,
berteman aku dengan seseorang adalah dengan restunya,
bukan lagi atas orang tuaku terlebih dahulu.Jelas bukan, perbedaannya? :-)

Sejak aku mulai membuka mata di pagi hari hingga ku memejam mata pada malamnya, yang ada di sisiku bukan lagi sebuah angin sepi, tapi ada seseorang di sini. Aku telah menjadi seorang istri, ada tanggung jawab dan hak di pundakku yang tentunya sangat berbeda dibanding aku semasa sendiri saja. Ada seseorang yang harus kuurusi dan kulengkapi kebutuhannya. Aku sebagai istri bertanggung jawab untuk mengurus dirinya, dari mulai membuatkan minuman hangat di pagi hari, menyiapkan sarapan,memastikan bahwa ada pakaian matching dan telah siap ia gunakan untuk berangkat ke kantor, mengupayakan semaksimal mungkin agar ia tidak jatuh sakit, merawatnya ketika mulai flu dan bersin-bersin agar tidak menjadi parah, dsb. Aku juga bertanggungjawab mengelola tempat tinggalnya dan memenej keuangan rumah tangganya.

Hidup dengan orang yang tadinya asing di bawah satu atap yang sama selama 7×24 jam dalam sepekan bukanlah hal yang mudah, aku harus menyesuaikan kebiasaan yang telah lama kubawa sejak kecil dengan kebiasaannya yang juga telah menjadi adatnya sedari dulu.
Misalnya saja, aku tidak bisa tidur tanpa kipas angin yang menyala sedangkan suamiku sangat tidak tahan jika menghadap kipas angin selama tidur, alhasil kadang aku harus berela diri kepanasan sepanjang malam atau suamiku terpaksa kembung-kembung dan masuk angin saat bangun di pagi hari sehingga aku harus memijatnya^^.
Atau aku yang suka dengan makanan yang bergenre asin dan tidak terlalu suka manis, sedang suamiku sangat suka makanan yang manis dan berkecap, apapun masakannya harus ada kecap di meja:-) (yang awalnya sangat aneh bagiku, masa soup jagung macaroni dikecapin*__*, tapi lama-lama ya terbiasa juga, hehe) sehingga aku harus menyesuaikan saat memasak makanan, ketika kucicipi sudah terasa pas kutambah satu/dua sendok gula atau kecap sehingga menjadi pas untuk suamiku, dulu waktu belum tau trik-nya masakanku selalu dibilang kurang manis melulu, -ya kan, mas?- hehe,..

Aku katakan pernikahanku indah bukan berarti tidak ada riak-riak dalam rumah tanggaku. Ombak kecil itu biasa, orang bilang sebagai bumbu katanya, tapi sungguh ungkapan itu bukan bohong, itu benar-benar bumbu yang menyedapkan dan membuat indah.
Sejak awal memutuskan menikah dan dengan siapa akan menikah, perbedaan yang sifatnya prinsip, seperti visi, misi, komitmen yang perlu ditunaikan satu sama lain, keselarasan cara pandang,dsb sebaiknya harus telah diseleksi sedetail mungkin sehingga ke depannya nanti tidak perlu ada konflik besar yang bukan lain dan jelas pasti biasanya berasal dari perbedaan hal-hal prinsip seperti tadi. Yang tinggal hanyalah pasir-pasir dan sedikit kerikil kecil yang melengkapi pesona pernikahan itu sendiri, pesona saat saling merajuk dan meminta maaf, pesona saat berhasil memecahkan keheningan dengan rayuan dan gombalan yang membuat rindu,pesona ketika sama-sama menemukan bagaimana harus saling menyikapi saat aku sedang begini dan suamiku sedang begitu.

mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

Seni mengukir pesona dengan pasir dan kerikil,, bukankah itu layak disebut indah? ^_^

Kukatakan juga bahwa pernikahan itu menenangkan. Kadangkala, sebagian orang mendefinisikan bahwa rasa biasa, tak lagi bergejolak seperti dulu sebelum menikah,tak lagi menggebu-gebu layaknya dahulu belum saling memiliki, dsb adalah refleksi dari kebosanan yang merupakan ancaman bagi pernikahan.
Tapi kami berdua mencoba memandangnya dari sudut yang berbeda, bagi kami ketidakmenggebuan itu adalah rasa tenang, ketidakbergejolakan lagi itu adalah rasa aman, yang merupakan wujud dari sebuah anugerah dan nikmat yang luar biasa yang tiada akan dinikmati jika belum merasakan pernikahan. Karena itulah Al-Quran menyebutnya sebagai Sakinah. Rasa tenang, aman, damai karena telah ada seseorang di sisi. Rasa tentram, nyaman, dan lega yang justru menciptakan kasih sayang yang menggelora lebih daripada yang pernah kita duga.
Menenangkan bukan?^_^

Yang juga menjadi sangat berbeda bagiku setelah menikah adalah dengan gratis aku dianugerahi sebuah keluarga lagi. Sekarang aku punya 2 Ibu dan Bapak, saudara perempuanku ditambah lagi 3 orang, saudara iparku ditambah juga 3 orang, aku juga punya keponakan kandung 3 orang dalam sekejap. Menyenangkan bukan?^^.
Sebagai orang baru, aku harus pintar-pintar bersikap dan mengelola diri dalam bersosialisasi dengan mereka. Bagi papa dan mama, aku adalah anak bungsu mereka bukan lagi menantu. Saudara ipar bukan lagi ipar karena sudah menjadi kakak kandungku sendiri. Menyenangkan sekali menjadi bungsu :) -bukan kamu lagi bungsunya, mas^_^-. Tidak perlu memark-up diri di hadapan mereka, cukup menjadi diri sendiri dan menyesuaikan sebaik mungkin sehingga rasa saling mencintai itu bisa tumbuh dari hari ke hari dengan alami.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ___ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Aku selalu terkesan dengan kasih sayangmu itu setiap hari.

Every day I Love You, Mas... Insya Allah...^_^

Every day I Love You, Mas... Insya Allah...^_^

Ada saja sikapmu yang membuatku merasa menjadi yang paling berharga bagimu.

Dibuat istimewa oleh orang yang sangat istimewa membuatku tak henti bersyukur dan bertahmid bahwa Milik Allah-lah segala Puji.

Subhanallah, lindungilah kami berdua, Ya Allah..

Berikanlah kekuatan kepada kami agar bisa menciptakan keindahan dan ketenangan ini selamanya sampai kami kembali Engkau himpun dalam Surgamu..

Hasbunallah..

cukuplah Engkau sebagai Pelindung dan Penolong bagi kami.

Fawatstsiqillahumma Raabithatahaa, Wa Addim wuddahaa…

-Semoga Bermanfaat-

Comments (3)

The Original Song of Maltavista

Our Graduation...

Malagasiy:Our Graduation...

Malta Vista,,,
Kenangan indah tiada pernah usainya
Terikat kasih dan sayang
Jalinan penuh makna
Merenda persahabatan suka duka bersama

Malta Vista,
Diamku bukan arti tak cinta
Tidurku bukan arti tak bela
Sgala salahmu tak tanda pupuslah ukhuwah kita
Tak ada yang sadari, jauh di lubuk hati aku bangga

Malta Vista oh Maltaku…
Dedikasiku untukmu
Terjaga dirimu oleh jiwa kami yang bersatu
Tetap kokoh pribadimu selalu

Malta Vista oh Maltaku…
Ku kan slalu rindukanmu
Walau rintangan membentang walau godaan menghadang
Ku kan pasti tetap sayang kepadamu
Oh, Maltaku…

Comments (4)

Saat Kau Menyapa

silir angin membisik
dalam hening,
sampaikan sapamu Cinta

dan ku melihatnya
sedalam rindu yang kau rasa
melalui hati yang ku jaga
dengan ijinNya

dengarkanlah, Cinta
mereka beresonansi dengan indahnya
melantunkan irama megah
iringi tiap detik
yang selalu kuhitung
saat menantimu
di sini… di sisiku…

(Huhuhu…aku ni knapa… ko jadi  melloo banget.. huks..huks..!)

Comments (3)

Hingga Tiba Masanya…

selangkah lagi...

selangkah lagi...

karena menghitung hari hingga hadir saat itu

semua pun tampak merah jambu…

semoga takkan lagi menjadi kelabu…

terimakasih…

telah menghadirkannya

dalam ketulusan dan apa adanya

kala menikmati tiap detik yang bergulir

aku berkata dalam hatiku

belum pernah ada yang menganggapku istimewa seperti ini

karena demi Tuhan!Aku ini biasa saja…

sungguh ini sudah lebih dari cukup…

Comments (1)

Senja di Akhir Sya’ban

perjalanan masih panjang... saatnya melihat ke depan dan pulang...

perjalanan masih panjang... saatnya melihat ke depan dan pulang...

senja tersenyum anggun bersama semburat jingga dan merah tua

hadirkan untukku rangkaian slide yang terekam sepanjang perjalanan hidupku

aku terhenti bersama dahan akasia yang tak lagi melambai

meneliti barangkali ada yang luput kuamati.

sejauh ini, apa saja yang telah terjadi…


tak ada yang salah dengan masa lalu

kuharap aku akan selalu berpikir begitu

meski sisi manusiaku malu


berpikir,

begitu ruah melimpah kasih telah tercurah

meski seringkali sengaja berpaling muka

tapi tetap saja ada cinta

gundah,

menjadi takut aku jadi tak pandai bersyukur

seperti senja…

yang ingin segera mengakhiri siang namun resah menyambut keindahan malam

aku kaku di antara sebuah akhir dan awal

seperti apakah cahaya di balik gulita langit itu

ku dengar begitu menawan

tapi aku ragu mencari tahu

seperti meninggalkan Sya’ban yang berarti menyapa Ramadhan

sebuah suka cita bagi siapapun yang rindu limpah kasihNya

tak pantas lagi mengulur waktu

aku pun bergegas

menari bersama irama yang telah terbiasa menjadi melodi hidupku

Leave a Comment

KaTaKan aKu PuN LeLaKi,,,

Apakah ada yang seperti ini

Kan selalu hadir sebagai bayang-bayang

Katanya sama saja seperti pecundang

Yang kalah sebelum berperang

Tahu jawabnya hanya membuat diriku benci

benci pada diri dan merasa bodoh sendiri

Atau malah sebaliknya?

buatku bangga karena berbeda?

Sehingga ku jadi istimewa? 

Perempuan mana yang tertarik dengan rasio

nampaknya seperti terdengar,

Lelaki mana yang tak berpikir dengan rasio 

Tapi bolehkah sekali ini saja ku jadi lelaki

Kupakai otakku dan mengabaikan keabstrakan rasaku

Karenaku butuh berlindung dari luka itu

Menjadi kokoh dan tak peduli walau dilupakan

Tetap mengeras walau tahu sebuah ruang

mungkin takkan pernah ada

Aku ingin tetap tegak di barisan depan

Seperti lelaki yang pantang berperasaan 

Aku tertantang

Dan akan kubuktikan

Bahwa takkan pernah ada keluhan

Mengurai air di pelupuk hanya mengundang kelemahan

Kau harus tahu aku tidak lemah!

Tidak akan! 

Tapi sesosok bayang

Tak sedikitpun berminat dengan pengakuanku

Bersembunyi dalam gelap

menertawai membiarkanku bernyanyi semu

Rautnya mencibir meragukanku

Dia menyeringai

Lalu melemparkan sapu tangan putih biru di depan wajahku

Sebelum akhirnya menghilang

Dan meninggalkanku dalam kegamangan

Aku berdiri angkuh dan genggam erat sapu tangan itu

Mataku memerah marah

Memandang dendam ke arah sirnanya sang bayang-bayang

Tapi tubuhku tetap saja menggigil pilu 

Comments (5)

bEcaUsE YoU SaiD sO,,,

Sore itu Fatimah terhenyak di depan meja kamarnya,,, tangan kanannya tampak gelisah memainkan pena hitam dengan putaran-putaran tak menentu di atas lembar diary yang sejak tadi masih juga kosong,,,Sesekali Fatimah mencuri pandang ke arah jendela yang sengaja dibuka lebar agar leluasa memamerkan padanya rinai hujan dengan garis-garis putihnya yang amat memikat dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta…Fatimah kembali memeluk diary-nya. Tuk sekian kali terbayang sesosok pria arif dan bersahaja yang selalu dipujanya itu. Lalu Fatimah mulai menulis…

Di Seberang Jalan, 6 Januari 2008.Saat hujan yang cantik kembali datang, 16.17 Waktu Cinta Berkumandang.

Ayah…

Setiap kali mengingatmu,

selalu saja aku merasakan semangat itu

Setiap kali kupejamkan mata hingga sirna semua yang nampak di sekelilingku dan aku hanya membayangkanmu,

selalu saja tak hentinya ku mengakui betapa tampan dirimu

Setiap kali memikirkanmu dan merasakan begitu banyak cinta yang mengelilingimu,

selalu saja ada haru,,,haru yang mengiringi rasa betapa bangganya aku padamu…

Ayah…

Setiap kali merindukanmu aku begitu takut pergi jauh darimu,

Aku takut tak lagi ada yang menghalau srigala jahat yang mengganggu tidurku

Aku takut tak lagi ada yang mencabut duri mawar yang tak sengaja melukai jariku

Ayah…

Setiap kali kurasakan betapa cepatnya waktu berlalu aku begitu takut seseorang kan mengambilku darimu…

Aku telah terbiasa menikmati hujan yang kusukai bersamamu

Aku telah terbiasa memanen mangga di depan rumah denganmu

Aku telah terbiasa mendengar lantunan tilawahmu di malam hari

Aku telah terbiasa kau marahi saat aku mulai nakal dan tak mematuhi

Haruskah aku tetap pergi, Ayah?Tapi bukankah memang aku harus pergi?

Fatimah kembali menjauhkan tinta hitam dari lembaran putih di bawahnya. Kini air mata mulai menganak sungai dengan indah melintasi tulang pipinya dan bersaing dengan derasnya hujan di luar. Tubuhnya bergetar dan beresonansi dengan getaran dari rasa yang berasal dari dalam melodi jiwanya. Kemudian ia kembali mengambil pena-nya…

Ayah…

Saat itu seketika saja seseorang yang asing dari negeri asing datang kepadamu Berkendara dengan kuda putih dan menyarungkan sebuah pedang emas di pinggangnya

Serupa Sayyidina Ali yang gagah berani hendak pergi ke medan perang

Dikatakannya setelah tujuh purnama nanti dia kan datang kembali

Tuk akhirnya membuatku harus meninggalkanmu di sini…

Ayah…

Meski aku begitu berat bukankah aku tetap harus pergi?

Saat aku ingin menangis kau katakan “jangan menangis!” maka aku kan berhenti menangis

Saat aku mulai merapuh kau katakan” tetaplah tegar!” maka aku kan tegak di hadapmu

Lalu saat kau katakan” pergilah!”apakah aku tetap harus pergi, Ayah?

Meski kutahu kau begitu takut jikalau ia tak sebaik dirimu melindungiku

Meski kumengerti kau sangatlah resah jikalau ia tak sebaik dirimu menyayangiku

Meski kupahami kau amat bimbang jikalau ia tak semerdu dirimu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku,

Tak semahir dirimu membuatku tertawa,

Tak sepintar dirimu menyeka air mataku

Bagaimana jikalau ia menyakitiku?

Bagaimana jikalau ia menyia-siakanku?

Hingga kau berkata dalam hatimu seberapa mampukah ia dapat dipercaya untuk menyimpan dan membawa permatamu pergi?

Tapi, Ayah. Kemudian kau tetap berkata padaku “Pergilah!”…

Dan aku pun akan pergi…

Ayah…

Saat ini aku begitu menikmati detik-detik waktu yang tersisa untukku bersamamu sebelum purnama terakhir itu tiba

Ayah…

Aku ingin abdikan saat-saat penghujung ini tuk lakukan yang terbaik untukmu

Sebelum aku pergi harus kupastikan kau kan selalu baik-baik saja

Sebelum aku jauh mesti kuyakinkan bahwa kau kan selalu bahagia

Ayah…

Percayalah bahwa sejak dulu,,,saat ini,,,bahkan nanti meski takkan sesering ini ku memandang wajahmu, aku kan selalu mencintaimu…

Semilir angin menelusup masuk bersama percikan air hingga menyentuh wajahnya yang basah. Fatimah mengakhiri tulisannya seiring terdengarnya sayup adzan maghrib dari surau di samping rumah. Bersama itu ayahnya datang mengetuk pintu: “Segeralah berwudhu, Fatimah. Kita kan dirikan sholat maghrib berjamaah”Sambil berlari kecil Fatimah membuka pintu dan menyeka air mata sekenanya. Ia berkata dengan penuh makna: “Baik, Ayah.”.Senyumnya terkembang dengan sempurnaSang Ayah membalas senyumnya dengan binar yang menyiratkan berjuta cinta, lalu mengusap-usap kepala Fatimah yang tertutup jilbab putihnya. Fatimah memejam mata dan berdoa:

“Ya Allah, Berkahi dan Muliakanlah cinta ini seperti cinta seorang Muhammad kepada Fatimah Az-Zahra ananda yang tercinta,Aamiin”

Leave a Comment

HaRuSkaH RanGkaiaN PaKeT KePeRcaYaAn iTu TeRkiKiS?

My Homy Strawberry Room, Ba’da Isya Jumat 22 Juni 2007

Lama,,,lama sekali saya terpekur di depan layar komputer dan menatap deretan tuts keyboard dengan hampa.Untuk beberapa detik saya terdiam…untuk beberapa menit saya tidak juga menggerakkan jari jemari yang telah siap untuk menekan dan menyusun kalimat demi kalimat. Saya sangat ingin menulis, menerjemahkan bahasa perasaan yang tertahan dari seorang perempuan. Hati saya berteriak meminta untuk diekspresikan,,, tapi semakin lantang ia berteriak semakin hebat aksi dan reaksi dalam kepala saya berperang, sehingga saya seperti kehilangan aliran pikiran yang ingin saya tuangkan.

Boleh dibilang saya terlalu syok dengan apa yang ada dalam pikiran saya sendiri…syok oleh sebuah akumulasi…syok akan sebuah ketidakmengertian…syok terhadap ketidakmampuan untuk memberi alasan demi sebuah pemakluman…Mungkin hanya butuh sekian mili dosis adrenalin untuk membangunkan saya dari kataton mendadak ini, tapi saya tidak tahu seberapa mudah saya akan segera terlupa akan pemicu-pemicu kelelahan ini. Sungguh…saya teramat bimbang dari mana saya harus memulai untuk menulis tulisan ini dengan baik…

Perempuan-perempuan tersakiti itu begitu tegar, dan justru ketegaran mereka itulah yang membuat diri ini teriris-iris. Entah telah berapa kisah singgah dengan penuh kesan ke dalam ruang hati saya, baik yang saya terlibat langsung di dalamnya, atau saya sengaja dilibatkan atau saya tidak sengaja terlibat, atau hanya sekedar sebagai pendengar, penonton, pemerhati, peneropong, atau sekedar pembaca. Semua itu yang ada di sekeliling saya, baik jauh atau pun dekat adalah kisah-kisah berbeda yang hadir dengan rasa yang sama. Sebuah realita yang tidak bisa saya sanggah tapi terkadang mengingatnya begitu menyesakkan, bahwa kita tak pernah tahu apakah sebuah pernikahan itu akan langgeng hingga kematian memisahkan atau tidak, sebab cinta makhluk itu tiada abadi karena makhluk itu sendiri hakikatnya adalah tiada abadi, ia fana, dan sesuatu yang fana tidak bisa kita andalkan untuk sebuah keabadian. Karenanya perpisahan, kekecewaan, pengkhianatan, menyakiti dan tersakiti, bahkan perceraian, semua itu  memiliki peluang yang sama dengan kebahagiaan dan derivatnya dalam menghiasi warna hidup kita…

Sosok mereka, perempuan-perempuan itu, sangat kuat bagi saya, teramat kokoh…membuat saya begitu iri dengan energi luar biasa itu…

Siapkah iman di dalam dada ini menopang jika dihadapkan pada hal yang serupa?

Sungguh tak takutkah diri ini akan sebuah iman dan keikhlasan yang tak seberapa saat pergiliran ujian itu menyapa?

Sebuah perjalanan yang tidak mudah…

Tulisan ini berawal dari sebuah buku yang baru saja selesai saya baca tiga jam yang lalu. Sebuah buku yang saya beli siang tadi di sebuah toko buku ternama di kota saya. Catatan Hati Seorang Istri, sebuah karya menyentuh hati dari Asma Nadia yang dimulai dengan sebuah sajak biru;

Saat cinta berpaling

Saat rumah tangga dalam prahara

Saat ujian demi ujianNya mengguncang jiwa

Kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati terus bertasbih?

Telah kutinggalkan cemburu

Di sudut kamar gelap

Telah kuhanyutkan duka

Pada sungai kecil yang mengalir dari mataku

Telah kukabarkan lewat angin gerimis

Tentang segala catatan hati

Yang terhampar di tiap jengkal sajadah

Dalam tahajud dan sujud panjangku

Sisi melankolis saya tiba-tiba menjadi dominan saat membacanya, saya menjadi sangat sentimentil. Saya sempat khawatir karena dominannya sisi ini saya menjadi kurang objektif. Jadi cukup beralasan jika siapapun yang membaca tulisan ini mengomentari bahwa saya kurang objektif. Mungkin saya memang tidak objektif, karena di sini saya berbicara sebagai sosok seorang perempuan yang berbicara dengan naluri dan perasaan. Saya memang belum menjadi seorang istri seperti Asma Nadia dan perempuan-perempuan perkasa yang dikisahkan dalam buku ini, saat ini saya memang seorang lajang yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki suami dan menjadi seorang istri, tapi saya adalah seorang perempuan yang lebih daripada sekedar bermimpi juga ingin dan insyaAllah kelak akan menjadi seorang istri, seorang perempuan yang kurang lebih  dengan dasar nurani dan perasaan yang sama.

Maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud menjadi over feminis dan mengintimidasi laki-laki dalam keseluruhan tulisan saya. Selama ini saya mencoba mempelajari dan membaca buku-buku psikologi tentang perbedaan laki2 dan perempuan baik dari karya penulis barat seperti buku Man From Mars and Woman From Venus, atau yang dibahas dari sisi Islami seperti dari DR Thariq Kamal An-Nu’ami dalam bukunya Psikologi Suami Istri, dan berbagai ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah, kurang lebih itu cukup memberi gambaran bagi saya bahwa ternyata tabiat dasar antara laki-laki dan perempuan sungguh sangat berbeda, kita harus ingat bahwa selain perbedaan secara fisik, kebenaran ilmiah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan juga memiliki kondisi psikologis yang berbeda yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara memahami, berbuat, dan merespon. Perbedaan tersebut menjadi dasar yang jelas bahwa tidak mungkin keduanya bersandar pada dunia yang sama, keduanya akan bersandar pada dunia masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki, dan masing-masing dunia itu penuh dengan rahasia-rahasia. Inilah fitrah itu, sebuah perbedaan yang sangat mendasar yang harus kita akui.

Namun bukan berarti ketidaksamaan itu malah menjadi momok yang mengancam, Tidak, sama sekali tidak! justru dua sisi yang berbeda itu saling membutuhkan untuk dipertemukan, agar kehampaan pada satu sisi mampu ter-cover dengan baik oleh yang lain. Di sinilah peran pernikahan itu berfungsi, pernikahan yang berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dan bukan mempertentangkannya atau dengan kata lain untuk saling menerima dan melengkapi satu sama lain. Dan saya pahami ketidakmengertian dari kedua belah pihak tentang perbedaan2 mendasar itu merupakan salah satu pemicu terselubung dari berbagai perselingkuhan, perceraian dan lain sebagainya.

Akan tetapi, seiring dengan berbagai macam kisah yang mampir pada saya, dan meskipun berkali-kali saya mencoba untuk memahami, berusaha untuk mengerti dan menurunkan parameter-parameter ideal saya tentang sosok seorang laki-laki, terkadang saya masih juga tidak bisa mengerti … kemampuan saya sungguh terbatas untuk mengerti akan seorang lelaki…

Mari kita simak salah satu kisah yang saya ambil dari buku ini;

Saya tidak ingin cemburu,,,

(seperti diceritakan oleh Mbak Safitri)

Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ”spongebob”di listnya?

selama menikah, saya pikir tidak ada kamus cemburu dalam rumah tangga kami. Seperti keluarga lain yang berusaha menerapkan kehidupan religius dalam keseharian, kami percaya prinsip saling jujur dan percaya merupakan hal yang harus ada. Apakah suami saya tidak tampan(lantas tidak berpotensi membuat saya cemburu)?tentu saja bukan karena itu. Meskipun saya memilihnya bukan karena wajah dan penampilan luar, saya mengakui betapa menariknya suami. Ini terbukti dari banyak gadis di kampusnya dulu yang jatuh hati, bahkan terang-terangan mengatakan itu ketika walimahan. Di hadapan kami dua orang gadis mengatakan sempat naksir semasa di kampus.

Saya yang mendengar kalimat yang disampaikan serius meski dengan nada bergurau itu hanya tersenyum. Usia saya masih terbilang muda, hanya dua puluh tahun, tapi tidak sesedikitpun rasa cemburu menyelinap.

Apakah saya terlalu percaya diri?

Saya kira tidak. Sebaliknya saya cukup tahu diri dengan wajah yang pas-pasan. Entahlah, tetapi saya yakin suami mencintai saya apa adanya. Dan caranya mengungkapkan itu selama ini memiliki andil besar dalam ketenangan saya.

Sebelum menikah saya tidak pernah berpacaran, memang sempat dekat denan satu dua lawan jenis, tapi hubungan kami lebih seperti sahabat ketimbang pacar. Sekalipun ketika itu saya belum berjilbab, tetapi kesadaran menjaga diri saya memang cukup tinggi. Saya tidak mau berduaan di tempat sepi, bahkan ketika dibonceng motor pun, tangan saya bertahan hanya memegang bawah jok dan tidak pernah melingkar manis di pinggang teman pria.

Otomatis ketika menikah, maka suami menjadi lelaki pertama di luar keluarga yang memiliki kontak fisik. Dan saya percaya, hal inilah yang dengan cepat membangun cinta yang sebelumnya tidak ada di antara saya dan suami. Maklum kami menikah tidak melalui proses pacaran. Apalagi suami benar-benar memperlakukan saya seperti ratu. Tidak jarang dia memberi surprise dengan menyiapkan sarapan pagi ketika dia bangun lebih awal, dan kejutan-kejutan manis lainnya.

Dia adalah sosok suami dan ayah yang baik. Tipe family man yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selepas pulang kerja dan tidak pernah keluyuran.

Begitulah hingga anak ke-empat lahir. Rumah tangga tetap tentram. Demi komitmen keluarga, sejak anak pertama lahir, saya memutuskan bekerja di rumah pekerjaan saya sebagai ilustrator buku anak cukup memungkinkan untuk itu.

Semua terasa sempurna. Saya kira itu jugalah yang ada di gambaran orang luar tentang keluarga kami. Bahkan kerap saya atau suami menjadi tempat curhat keluarga lain.

Beberapa istri yang dihantui kecemburuan karena suami mereka yang sewaktu menikah cukup baik keislamannya, tetapi sekarang mulai tampak ’genit’ selalu saya nasehati untuk tetap berpikir positif dan tidak berburuk sangka.

”barangkali pekerjaan suamimu menuntut itu”

”lingkungan pergaulannya memang kalangan profesional, saya kira dia hanya berusaha tampil lebih luwes di kalangan umum”

”nikmati saja…kan bagus suami merawat diri. Istri-istri lain banyak lho yang ngeluh karena suami mereka sama sekali tidak memedulikan penampilan ketika keluar rumah”

Dan saya bahagia jika para istri yang cemburu dan khawatir suami mereka diam-diam sudah menikah lagi kemudian bisa mengusap air mata dan pulang dengan tenang.

Karir melesat

Seiring waktu karir suami melesat jauh lebih baik dari yang bisa kami harapkan. Ketika menikah, penghasilan suami hanya dua atau tiga ratus ribu rupiah perbulan, dari pekerjaannya di bidang edutaintment. Tetapi sekarang meningkat berpuluh kali lipat, seiring bertambahnya anak kami.

Beberapa teman muslimah sempat menggoda penampilan suami yang menurut mereka semakin modis. Ada juga yang membisiki saya dengan kalimat serius,

”hati-hati puber kedua suami lho,dik…”

Seperti biasa saya hanya tertawa. Tentu saja mata saya tidak luput terhadap perubahan penampilan suami. Tetapi kepercayaan saya terhadap lelaki itu tidak pernah berkurang sedikitpun. Sebab kecuali penampilan, tidak ada yang berubah. Kejutan-kejutan manisnya masih ada. Kami masih sering jalan dan makan malam berdua seperti layaknya pengantin baru.

Bicara soal ibadah, alhamdulillah suami masih menjaga ibadahnya seperti ketika dia masih aktifis rohis di kampus. Shalatnya masih tepat waktu. Tidak hanya itu, kebiasaan shalat malamnya tidak hilang. Pun puasa senin kamis. Jadi apa yang harus saya khawatirkan?setiap hari lelaki itu tetap pulang tepat waktu. Memang ada beberapa kali dalam sebulan agenda keluar kota, tetapi semua murni terkait pekerjaan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk cemburu hanya karena sekarang dia lebih rapi, memilih baju dan sepatu bermerek, atau rutin menyemprot parfum sebelum keluar rumah.

Saya tidak ingin hati mengambil alih logika. Apalagi sejauh ini perasaan saya masih temtram dan sama sekali tidak ada kecurigaan apa-apa. Sekalipun suami memegang handphone kemana-mana, saya merasa tidak perlu mencurigai apalagi terdorong untuk mengecek siapa saja yang diteleponnya seharian itu, atau mencuri2 membaca deretan SMS yang diterimanya.

Hanya istri-istri yang tidak percaya pada kekuatan hubungan dengan pasangannyalah yang melakukan hal demikian, pikir saya.

Berita suami si A selingkuh. Atau suami si B dan C berpoligami, tidak membuat saya menjadi istri yang paranoid. Cemburu bagi saya hanya akan menyesakkan hati. Sementara dengan hati suram, bagaimana saya bisa maksimal merawat anak-anak dan suami?belum lagi mengerjakan order-order ilustrasi yang sering datang tiba2?

Bisa2 gara2 istri yang ccemburuan suami menjadi pusing dan jenuh di rumah. Dan saya menjaga betul, agar suami senantiasa nyaman dan merasa teduh sepulang dari kantor.

Perempuan misterius

Alhamdulillah sejauh ini logika saya selalu menang. Konon semasa di kampus, saya termasuk muslimah yang porsi logikanya sering disamakan dengan lelaki. Ketika muslimah yang lain menangis, ngambek, dan marah-marah, daya masih bisa rasional dan melihat masalah dengan jernih. Suami tahu itu dan kerap memuji.

Suatu hari ponsel CDMA suami tertinggal. Kebetulan saya baru saja ganti handset karena handphone hilang sehari sebelumnya. Karena memerlukan beberapa kontak, tanpa ragu saya pun meraih handphone suami. Sebab biasanya suami juga menyimpan beberapa nomor kontak saya.

Awalnya saya tidak terusik untuk membuka inbox SMS suami. Hanya menelusuri deret huruf kontak yang saya perlukan. Hingga kemudian saya menatap satu nama yang menurut saya ganjil berada disana.

Suami adalah tipe laki2 serius, pendiam, dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama ‘spongebob’di listnya?

Ada sesuatu yang tiba2 berdetak di hati, namun saya lawan sebisanya. Pastilah ini hanya gurauan. Bisa jadi ketika saya buka, nomor tersebut merupakan nomor adik perempuan, sepupu, atau keponakan atau bisa jadi teman kantor. Saya bayangkan suami akan terpingkal-pingkal ketika saya ceritakan hal ini.

Saya sempat termenung beberapa lama sebelum membuka kotak SMS. Bagi saya HP dan agenda adalah hal yang private dan saya sangat menghormati privacy suami. Tapi entah ada apa hari itu, firasat seorang istrikah yang akhirnya membuat reaksi saya berbeda?

Untuk pertama kalinya logika saya kalah. Saya akhirnya tergoda untuk menggerakkan jari memencet keyphone untuk membuka baris SMS yang masuk. Debaran di hati saya bertambah kencang ketika saya menemukan empat SMS dari si ’spongebob’.

Saya membaca basmalah dan berdoa sebelum akhirnya memutuskan untuk membaca SMS misterius tersebut. SMS pertama dan kedua hanyalah kalimat resmi tentang janji bertemu. Tetapi menginjak ke SMS ketiga, saya kaget ketika menemukan kalimat2 mesra di dalamnya.

Tetapi bukankah siapa saja bisa berkata mesra?

Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana sikap suami terhadap yang bersangkutan dan bukan sebaliknya?

Nalar saya bicara. Saya tutup kotak pesan masuk dan mencoba menelusuri sent item. Kepala saya mulai berdenyut. Jari2 saya gemetar saat menemukan empat sms dari suami sebagai balasan terhadap sms si ’spongebob’

SMS pertama biasa saja. Tapi SMS kedua?

”hari ini menemani anak2 karate. Sayang sedang apa?jangan terlambat makan, ya?”

Saya periksa tanggal SMS tersebut dikirimkan. Ahad lalu, hari yang sama ketika suami menemani ketiga anak kami latihan karate. Sementara saya seharian di rumah menemani si bungsu yang sedang sakit.

Ketika membaca SMS2 balasan berikutnya perasaan saya semakin diremas2, kedua kaki saya seakan lumpuh dan tak bertenaga. Sementara kepala sontak berdenyut2.

Ahh, bagaimana mungkin?

Suami saya lelaki yang taat beribadah. Al-ma’tsurat-nya tak pernah tertinggal setiap shalat shubuh. Dia mungkin lelaki terakhir yang akan saya curigai untuk selingkuh.

Mungkinkah semua ini hanya guyonan?

Tidak, dia tipe pemikir dan amat menjaga pergaulan denan lawan jenis. Saya tidak bisa menemukan alasan suami memanggil perempuan lain dengan sebutan ’sayang’?

Kemesraan di dalam SMS2 berikutnya yang dikirim suami, semakin mengukuhkan jalinan cinta keduanya. Betapapun saya berusaha berprasangka baik, sia-sia bagi saya menemukan sudut pandang yang mungkin bisa membantah kecemasan saya.

Sesorean itu sepanjang shalat ashar dan menenangkan diri dalam tilawah. Saya menangis. Lima belas tahun pernikahan belum sekalipun suami membuat saya menangis. Tapi hari ini saya benar2 terisak.

Ketika suami pulang, saya mencoba menahan diri dan melayani seperti biasa. Tetapi tangis yang saya tahan akhirnya tumpah juga ketika kami sudah berada di tempat tidur dan siap beristirahat. Dengan lembut suami saya menanyakan apa yang membuat saya begitu sedih.

Saya tidak menjawab. Saya raih HP, membuka sent item, dan saya sodorkan sms yang diketik suami untuk ’spongebob’.

Sikap saya berubah dingin. Saya perhatikan raut wajah suami berubah, tidak lama kemudian dia terisak-isak dan merengkuh saya.

”Aa minta maaf. Aa khilaf…”

Ada air mata yang kini jatuh di pipi suami. Dia pandangi saya, dia usap2 wajah saya sraya mengulang-ulang permintaan maafnya.

”tapi belum jauh dik. Tidak ada yang terjadi.”

Berawal di dunia maya kedekatan mereka terjalin.

”usianya tiga puluh tahun, belum menikah…dia tinggal di bogor”

Gadis itu suka curhat kepada suami tentang apa saja.

”sudah berapa lama Aa?”

Suami saya diam. Matanya tampak ragu.

”saya ingin Aa jujur, tidak apa”

Lelaki itu terdiam. Menghela napas.

”tiga tahun, dik”

Saya tercenung mendengar pengakuannya. Tiga tahun… begitu lama. Bagaimana mata saya bisa dibutakan selama itu?

Pembaca, setelah dialog malam itu, sulit bagi saya membangun kepercayaan kepada suami. Saya terus menerus memikirkan angka 3 tahun itu, imajinasi saya berputar2. tiga tahun waktu yang lama, apa saja yang sudah terjadi diantara mereka?hancur hati saya membayangkannya. Sementara ini saya mengungsi ke rumah ibu. Sudah 6 bulan sejak pengkhianatannya saya ketahui(keduanya belum menikah). Saya berharap waktu bisa memberi saya kejernihan hati, untuk melakukan hal yang benar.-selesai-

Bagaimana menurutmu sahabat? ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang saya baca dari buku ini. Ini hanyalah satu dari sekian banyak realita yang terjadi di sekeliling saya. Mungkin di sekitar anda juga. Saya memang kurang sepakat dengan peniadaan cemburu dalam rumah tangga, karena dalam dosis terapi standar cemburu cukup diperlukan. Tapi cukupkah itu dijadikan sebuah alasan untuk pengkhianatan?saya lelah mendengar tangisan, saya lelah disapa keluhan, saya sesak dengan ketegaran, saya trenyuh dengan kembali memaafkan.

Bagaimana tidak mencemaskan sahabat, tiga hari yang lalu sepupu menelpon, dia mengatakan bahwa sebut saja Shinta(bukan nama sebenarnya) sahabat sepermainan saya waktu kecil yang juga tetangga sepupu saya pulang ke rumah orang tuanya sambil menggendong bayi-nya yang baru berumur 5 bulan dengan wajah yang lebam membiru di seluruh muka dan tubuh karena dipukuli suami, dia tidak tahan sehingga terpaksa kabur dari rumah suami. Demi Allah sahabatku, dia sebaya saya dan baru berusia 20 tahun!

Belum lagi jika sahabat ingat, keponakan saya yang dulu pernah saya ceritakan dalam blog ini bahwa saya memaksakan diri datang ke walimahan-nya. Kemarin melahirkan seorang bayi yang sehat, tapi di rumah ibunya… tanpa suami di sampingnya karena suatu sebab yang menyesakkan.

Lalu bagaimana dengan kisah kakak tingkat saya yang menjadi selingkuhan seorang lelaki berkeluarga? lalu bagaimana dengan sahabat saya yang memang secara fisik menarik digoda dengan terang2an oleh seorang dokter rumah sakit yang telah berkeluarga untuk dijadikan simpanannya?lalu bagaimana dengan kisah2 lain yang tak kalah seramnya sehingga membuat saya repot mengelus dada?

Menjelang maghrib tadi buku ini telah selesai saya baca. Dan di samping saya sekarang ada Aster dan Dina(another Dina di kos saya ^_^) yang sedang membaca buku itu bersama di atas kasur Bugs Bunny saya. Dan seperti yang saya duga, beragam keluh dan cemas itu mengalir, suara para perempuan yang juga turut terkhianati.

Perjuangan mereka, para istri yang berusaha sepenuh hati demi menjaga kehormatan suami bahkan dari keluarga besarnya sendiri sehingga menguatkan hati untuk tetap tinggal mendampingi meski hati perih dikhianati,

Perjuangan mereka, untuk tetap terlihat tak terjadi apa2 dan bersikap seperti biasa, demi melindungi anak2 dari kecemasan karena orang tua-nya yang sedang bermasalah meski tangis hampir tak tertahan ingin sepenuhnya dikeluarkan,

Perjuangan mereka, untuk berbesar hati memafkan dan kembali memberi kesempatan untuk memupuk kepercayaan pada suami meski tidak bisa semaksimal sebelumnya dengan bermodalkan keyakinan ”yang penting Allah Ridha terhadap saya…”,

Ingin rasanya saya menutup mata dan tak mengacuhkan fenomena yang demikian, karena terus terang terkadang saya lumayan kesal dengan buku-buku demikian yang semakin banyak bertebaran, yang mau tidak mau membuat saya terusik mempertanyakan kembali apakah saya benar2 berani mempercayakan diri saya sebagai istri pada seorang lelaki?apakah saya betul2 yakin dengan kepercayaan yang saya berikan sendiri?saya khawatir, paket-paket kepercayaan yang susah payah saya rangkai selama ini menjadi terkikis sedikit demi sedikit seiring dengan semakin seringnya saya mendengar kisah serupa.

Saya sadar, tidak adil rasanya mengeneralisir sesuatu, karena sebuah alasan yang cukup bisa diterima adalah tidak semua lelaki seperti itu. Lalu apakah salah ketika tiba2 para perempuan menjadi takut?bagaimanakah pendapat anda hai cucu Adam tentang semua ini?adakah sedikit yang bisa engkau katakan sehingga hati kami, putri Hawa, menjadi lega?karena itu bukan hanya sekedar cerita tapi sebuah realita…

Tapi seperti yang telah saya baca, bukan untuk kekhawatiran semacam itu buku semacam ini diterbitkan(meski memang mau tidak mau kecemasan itu tetap terpicu). Main Goal disusunnya buku ini adalah agar bisa membawa para pembaca pada kesiapan yang lebih baik ketika nanti (bukan hanya tokoh2 yang ada di dalam buku) kita juga dihadapkan pada ujian yang sama. Bukankah Allah Yang Maha Berkehendak dan hanya atas kehendakNya-lah kita hidup dan bersenyawa dengan warna2 di atas bumi ini?

terus terang, saat ini saya masih memiliki sepercik harapan. Harapan yang tersisa yang dibentuk dari kisah cinta indah kedua orang tua saya, juga kisah cinta sederhana namun sangat istimewa milik orang tua Dina(another Dina yang tadi^_^) yang dia kisahkan dengan penuh bangga, juga diskusi2 tak terlupakan dengan pakde saya yang seorang pensiunan guru tentang bagaimana cinta manis-nya bagi seorang istri tersayang(yang juga bude saya) yang telah memberinya empat anak dan 3 orang cucu itu, dan kata2 seorang laki2 yang ditawari untuk berpoligami bahwa

”kebahagiaan saya dengan istri kedua bukanlah sesuatu yang pasti, sementara luka hati istri pertama itu sudah pasti dan akan abadi, bagaimana saya melakukan suatu tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti dengan mengambil resiko yang kerusakannya sudah pasti dan permanen?”

Saya masih percaya, bahwa masih banyak kisah romantis’Muhammad dan Khadijah’di sekitar kita yang masih bisa diandalkan. Karenanya meski hampir saja saya berada pada titik nadir kepercayaan pada sosok bernama lelaki, saya masih bisa kembali bersama kebahagiaan yang mereka tularkan yang insyaAllah terekam dengan indah dalam kenangan saya.

Pun kalau itu ternyata tidak bisa saya jadikan alasan, saya sangat percaya akan janji Allah bagi seorang istri shalihah, istri yang senantiasa menjaga kehormatan dan hak suami juga dirinya sendiri sebagai bentuk pengabdiannya apapun yang terjadi. Pengabdian yang dimulai tepat setelah mitsaaqan ghaliidzaa itu dikrarkan suaminya, sebuah indikator kesetiaan dan perjuangan yang semata berasal dari kekuatan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kekuatan cinta yang menghasilkan energi yang luar biasa yang membuat para perempuan itu masih mampu bertahan hingga titik terakhir.

Ya Allah Ya Rabb, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi pada hati seorang hamba, saksikanlah kesetiaan2 yang mengagumkan itu. Semoga Engkau Memberi kekuatan dan kejernihan hati bagi semua hambaMu, khususnya para perempuan. Aamiin.

Comments (8)

HaMdaLaHkU MaSiH TeRbaTa,,,

Bahkan hamdalahku masih saja terbata…

Aku khawatir…

Kesadaran ini telah resisten hingga tak mampu lagi mendefinisi

Kehilangan sensitifitasnya akan sebuah konsep proteksi

Kalut,,,

Apakah kekalutan ini sebagai bukti bahwa deteksinya masih berfungsi?

Ataukah itu hanya sekedar apologi? Ya…apologi, Sepertinya hati dan pikirku mulai pandai ber-apologi Menyugesti diri agar lebih permisif Sebuah kecerdasan dalam mempermainkan nalar Jiwaku tersenyum miris mengakuinya Antara harus dan hina untuk berucap ‘iya’ Katakan, Itukah fleksibelitas atau justru kekuatan yang telah kronis ter-supresi ??

Oh,,,bahkan hamdalahku masih juga terbata…

Aku cemas… Tak lagi bisa membedakan antara terlalu sayang dan menyakiti Tak mampu lagi memilah antara ego dan hak aktualisasi diri Mengapa semua menjadi tampak sama, Nyaris tak terbaca dan tak jua bisa dipercaya Inikah arti ketidakpastian akan parameter normalitas dunia, atau hanya aku yang tak lagi peka?

 Tuhan, apakah hamdalahku ini masih terbata?

Maka bantulah aku untuk kembali mengingatnya, Setiap saat,,, setiap waktu,,, Selama butir darah masih berputar mengelilingiku Sepanjang batang otakku belum Kau Izinkan untuk mengkakukan jasadku

Leave a Comment

Older Posts »