~Muara Ikhtiar Cinta~

~Muara Ikhtiar Cinta~

-Alidina Nur Afifah-

SA-20040208c-MidxxxMeander

Perih.

Tak ingin mengawali kisah ini dengan keluhan menyakitkan. Tapi begitulah sketsa hidupku ini bermula. Setidaknya, aku ingin mereka yang juga pernah mengalami hari-hari yang sama, mereka yang pernah terpuruk dan tak tahu lagi harus bagaimana, mereka yang merana karena merasa Tuhan tak Adil padanya dapat mengerti bahwa justru sayatan ini adalah nyanyian keadilan dariNya, tiupan cinta yang takkan pernah sampai ilmu kita meraba dan melagukanNya, dan justru dari kelukaan ini aku dapat melompat lebih tinggi jauh dari yang sanggup kuduga, terjun lebih dalam ke dunia hati yang telak berbeda, terbang lebih bebas di alam yang tak lagi sama.

Sebuah nuansa telah menculik pemahamanku hingga sekedip mata saja muatan pesonanya bisa mengantar diriku menukar hidup yang telah kujalani lebih dari dua dasawarsa dengan rangkaian diorama yang asing. Keasingan yang saat itu baru kutahu bahwa sungguh inilah yang mestinya kumiliki sedari dulu. Inilah titik tolak perubahan paradigma yang ikut merevolusi seluruh sudut pandang pikirku. Pena cinta-Nya telah berbicara, memilihkanku alur tak rata yang indah dan sangat kunikmati sepanjang perjalanannya.

Mahasuci Dia, Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka hanya berkata kepadanya, Jadilah”, maka jadilah ia

# # #


Angin Januari berhenti menghembus, seolah beresonansi dengan detak jantungku yang seketika saja lumpuh untuk beberapa saat…

4579_1066270469650_1612700797_210116_906622_n

Aku terhenyak. Setelah puluhan purnama setia dan percayaku menyertainya, begitu saja ia hempas diriku dari kejauhan. Lumpuh. Saat-saat seperti ini kurasakan benar habis dayaku.

Di tengah ujian akhir semester yang semestinya total kulalui dengan tiupan semangat dan dukungannya, aku malah kaku dan beku karena ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Pergi meninggalkan diriku yang hancur dan berkabung bersama hasil ujian yang menyedihkan.

Sudah sejak beberapa tahun ini, aku bimbang. Bimbang dengan pemikiranku sendiri.

Inikah yang dinamakan fase pencarian jati diri itu?

Apakah saat ini aku sedang mengalaminya?

Aku merasa tak yakin dengan apa yang aku perbuat, aku sedang mencari sebuah pembenaran yang logis dan hakiki atas setiap apa yang kuputuskan. Namun aku tak kunjung menemukannya… aku masih saja merasa abu-abu, tak ada yang hitam buatku saat itu, pula tak yakin bahwa sesuatu putih untukku di masa yang sama.

Ada yang salah, selalu merasa ada yang salah tapi aku tak tahu mengapa demikian.

Terlebih saat kucoba memaknai hubungan ini, hubungan semacam apa ini? Benarkah demikian cara yang baik untuk mencari pendamping hidup yang tepat? Aku telah tahu ini tidak benar, tapi aku tidak sanggup berlari… Aku sudah paham yang kupilih rupanya salah, tapi aku tak mampu pergi…

dishonestrb-150x150Entah, rasanya aku belum siap untuk kehilangan lagi. Ya, lagi. Dahulu, jauh di masa itu. Aku pernah merasakan perihnya dikhianati, aku pernah melalui masa-masa itu, masa dimana aku begitu terpuruk karena harus ditinggalkan untuk perempuan lain. Betapa waktu itu, kurasakan hidup dan kepercayaan diriku telah direnggut oleh kepergiannya. Aku sangat kecewa dan tak sedikit pun bisa menerima ribuan alasan yang disampaikannya, sampai-sampai romansaku telah berkerak menjadi benci, rasa benci yang sampai kini masih tak jua bisa kuampuni.

Susah payah aku merangkak dari kubangan. Tertatih mengais langkah yang masih tersisa dalam energiku. Kembali menghimpun kepingan yang remuk redam menjadi kekuatan seorang perempuan yang tak lagi ingin disepelekan. Hingga akhirnya dia datang menawarkan kebahagiaan versiku saat itu.

sedih

Begitulah bagaimana kebimbangan itu begitu mengusik. Lebih dari separuh perjalanan bersamanya, aku merasa mulai ada ruang-ruang hampa dan tak tersentuh di hati. Terombang-ambing di persimpangan dan gundah hendak melangkah kemana. Aku ingin segera memilih arah, tapi seperti ada yang tak rela kutinggalkan…

Pada mereka semua ada iman yang bersemayam di dalam dadanya. Kalaupun manusia bergelimang dosa, ingkar, durhaka, kafir bahkan atheis sekali pun, fitrah manusia tetap tidak berubah. Iman di dalam dada mereka tetap kekal adanya.

Aku malu, ternyata energi hijrahku saat itu belum sekuat rasa takutku. Begitu mudah mengatakan bahwa hanyalah Allah yang pantas kita takuti, tapi ragaku sangat sulit untuk mengerti sehingga ia diam dan tak kunjung bergerak. Aku sedang tertahan dalam perang pemikiranku.

Boleh jadi itulah sebab mengapa kemudian aku memintanya untuk sesegera mungkin menikahiku. Aku pikir, ini adalah jalan tengah yang bisa -sementara waktu- memfasilitasi resahku. Meski sejujurnya aku tak yakin benarkah seperti ini yang disebut terfasilitasi?

Egoku menolak untuk berpikir lebih jauh, yang paling penting bagiku adalah ia pun telah sepakat. Sehingga dalam hitungan tahun, dengan memegang komitmen yang sesungguhnya lebih layak disebut pembenaran itu kujadikan ia sebagai dalih untuk tetap bertahan pada kondisi ini. Paling tidak, dengan memiliki target mengakhiri hubungan yang tak sempurna ini ke jenjang yang halal, aku boleh merasa tenang. Hmm, Tenang? Sungguhkan aku merasa tenang??

1017207995_2d477b3f90_m1Oh… betapa diri ini rindu mengadu. Mengadu tuk akui bahwa sekuat apapun aku menyangsikan, cahaya-Mu tetap tampak terang kulihat meski dari kejauhan. Tak dapat kupungkiri sinar-Mu itu menarik hati dan ingin segera kurengkuh dalam luas yang tak bertepi. Tapi aku terkungkung di sini, terjebak oleh rasa yang masih tak bisa kukendali. Aku ingin segera menyapa, tapi tak tahu harus bagaimana.

Hingga akhirnya, dalam kebekuan malam di atas hamparan sajadah meluncurlah harap dan pinta itu melalui aliran air mata pasrah kepada Yang Maha Menggenggam hati.

“Yang terbaik, Ya Allah”

Kata-kata yang selama ini takut sekali kuucapkan. Kalimat yang selalu saja kuhindari untuk kupanjatkan padaMu, Ya Rabb. Dalam doa-doa sebelumnya, pintaku hanya sanggup bersuara sampai dalam batas “jodohkanlah kami”, “tetapkanlah hati kami satu sama lain”, atau “mudahkanlah langkah kami”.

Karena aku masih resah bagaimana jika Engkau Mengabulkannya. Aku takkan pernah siap melepasnya. Aku tidak siap untuk menerima kenyataan jika dia bukanlah yang terbaik untukku sebagaimana kehendakMu, Allah…

Tapi malam ini, telah sampailah masanya aku melangkah, tidak lagi jalan di tempat, tidak lagi diam dalam gelisah, dengan sepenuh hati dan jiwa aku sungguh pasrah Ya Allah… Berikanlah aku petunjukMu… Aku mohonkan yang terbaik, Ya Allah…

Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagiku… Yang Terbaik…

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


* * *

flawlesswhite4

Hingga tak selang dari 2 bulan sejak aku memberanikan diri mengubah kalimat doaku, Januari ini, tabir itu tersibak sudah…

“Maafkan aku”

Hanya sederet kata itulah yang bisa diucapkannya dari telepon seberang.

Aku masih tidak bisa berdamai dengan isakku yang semakin menjadi-jadi sehingga tidak sanggup bicara. Dia pun hanya terdiam, mungkin sedang bingung kalimat seperti apa yang pantas dipilihnya di saat-saat seperti ini.

“ada apa? Kenapa harus begini tiba-tiba?apakah ada yang salah denganku? katakan apa itu?aku ingin sekali memperbaikinya dan kita tidak perlu seperti ini, Iya kan? bukankah masih bisa kita bicarakan lagi?”

aku berusaha bertanya sebanyak yang aku bisa sebelum aku kembali terisak dan tidak bisa berkata lagi.  Dan benar, aku tak dapat menahan tangisku lagi.

“Tidak. Tidak ada yang salah denganmu. Aku hanya…” Dia terbata, dan kembali terdiam.

“Aku hanya tidak bisa berhubungan jarak jauh seperti ini. rentang ini jauh sekali untukku…”

Keluhnya perlahan.

“kenapa baru kau katakan sekarang? Kita telah berulangkali membahasnya. Bukankah kita sama-sama telah sepakat itu adalah bagian dari resiko sebuah komitmen…”

Aku mencoba tetap berpikir logis, padahal semua juga tahu, sulit sekali bagi seorang perempuan untuk berpikir logis dalam kondisi seperti ini.

patah-hati“baiklah, kuakui itu bukan semata-mata sebuah alasannya. Aku hanya… Hhhhh…Aku hanya belum siap dengan pernikahan yang sangat kau inginkan itu. Kamu tau, aku masih kuliah. Masih banyak yang harus kulakukan. Aku masih ingin bekerja empat atau lima tahun lagi sebelum aku menikah”

Kalimatnya terhenti, ada luapan hati yang coba ditahannya.

“Setahuku, kau tidak pernah keberatan dengan yang kau bilang ‘keinginanku’ itu, kupikir itu ‘keinginan kita’… ” ujarku mulai goyah.

“Hmmm… Kau harus tahu. Sejak awal, aku ingin menganggap hubungan kita ini sebatas hubungan anak muda pada umumnya. Go with the flow! Kita tidak pernah tahu apa akhir dari semua ini. Anggaplah ini sebuah kesenangan masa lajang yang bisa kita nikmati. Tidak perlu berpikir rumit tentang ini dan bagaimana di kemudian hari. Kita masih muda,  Demi Tuhan! Kita masih 20 tahun! Kenapa harus cepat-cepat menikah??”

Dia menghela napas.

“Saat dulu pertama kali kau katakan ingin segera menikah seusai kita sarjana nanti, kau tidak pernah tahu betapa bimbangnya aku saat itu. Antara ketidakinginanku menyakitimu, memupuskan impianmu dan ketidakinginanku memusnahkan karir dan kesuksesanku hanya karena aku telah menikah!”

Aku tak percaya dengan apa yang dia katakan. Seketika saja, semua pondasi yang telah dibangun sejak lama runtuh begitu saja dalam sekejap oleh alasan-alasannya tadi. Aku menertawakan diriku dalam aliran air mataku. Selama ini, aku benar-benar menganggap kami mempunyai prinsip dan memandang dari sudut yang sama dalam menyikapinya. Tapi ternyata aku salah. Padahal, poin yang ini adalah bagian paling vital. Setiap pasangan harus memiliki kesepahaman yang sama tentangnya. Sesak sekali rasanya mengetahui bahwa sesungguhnya kami tak memiliki keselarasan itu.

Ia mengembalikan keputusannya kepadaku. Jika aku masih ingin melangkah bersamanya dengan rasa dalam dirinya yang tidak sama, dia katakan takkan berkeberatan. Oh.. demi Tuhan! Apa dia pikir aku gila?! buat apa aku meneruskan sebuah hubungan yang katamu sudah tak ada lagi rasa? Kau pikir aku perempuan seperti apa? perempuan lemah yang mau begitu saja dikasihani hanya karena aku cinta dan kamu tidak lagi??

disini_kita_berpisah

Kau harus tahu, harga diriku lebih tinggi dibanding rasa cinta yang salah ini! Kenapa kamu masih bertanya lagi apa keputusanku? Sudah jelas dan pasti aku memilih untuk mengakhiri semua ini!

# # #


Temaram sinar rembulan di malam-malam Februari menemani rana dan sepi di tepian hariku…perlahan terang sinarNya menghampiri, membawa bahagia yang takkan pernah kulepas lagi…

Rembulan Belakang Rumah

Tak gampang untuk pulih, mengingat aku adalah perempuan melankolis yang sangat mudah terlarut dalam warna-warni rasa hati. Mengingat aku adalah perempuan yang terlalu bodoh dengan memberikan perasaanku seutuhnya ketika mencintai seseorang, seorang makhluk, seorang ciptaan.

Dua kali. Disakiti dua kali adalah kebodohanku. Mengapa sejak luka yang pertama aku masih memberi kesempatan kedua untuk lelaki? Baiklah, adalah fitrah untuk merasakan kecenderungan pada lelaki. Aku telah memelihara dan menanamkan setiaku sedalam-dalamnya.

Tapi mengapa mereka begitu tega menghancurkan asa seorang perempuan yang menaruh harapan besar?

Tak sadarkah mereka bahwa bunda-nya adalah pula perempuan?

Tak ingatkah mereka saudari kandungnya pun adalah seorang perempuan yang juga bisa terluka oleh lelaki lain kapan saja?

Jika diri ini serupa mereka yang tak punya iman di hati, tentu saja sumpah serapah bertabur benci telah kuteriakkan demi rasa sakit hati ini…

gelas-kaca

Pecahan kaca itu menusuk sangat dalam, hingga jiwaku berdarah. Entah bagaimana aku bisa merapikan kembali koyakannya seperti semula. Entah sampai kapan aku sembuh dari kelukaan yang kurasakan seolah tak ada ujungnya.

Karena ulah lelaki itu aku kehilangan diriku. Aku merasa sendiri, sendiri dalam kepedihan yang memilukan. Yang kulihat hanyalah semua orang kini tengah mengolok-olok penderitaanku. Semua orang sedang mengasihani hidupku yang merana dan tersiakan, Aku tidak suka dikasihani! Aku tidak ingin dianggap lemah, aku tidak mau dituduh menyedihkan…

Hei, tunggu dulu!

Tapi Bukankah inilah jawaban yang kutunggu-tunggu sejak dulu? Tidakkah ini sebuah penjelasan dari kebimbangan yang meresahkanku itu?

Kupejamkan mata dan mencoba bernapas lebih dalam… kuselami sebuah sisi hati yang tersimpan jauh di dasar peraduan. Kurasakan getar-getar tersembunyi yang bernyanyi bersama tangisku.

Ajaib, sesungguhnya ada rasa ringan yang menjalar seiring desiran alir darahku. Beban berat yang membuat puluhan otot bahagiaku lumpuh bertahun-tahun ini seketika saja terangkat, sehingga tanpa kusadari jauh di balik alam bawah sadarku ada bagian dari diriku yang tersenyum riang merayakan kebebasan dan kesenangan sejati yang rupanya lambat kupahami.

Inilah aku, Ya Rabb..aku telah pulang bersama segenap jiwaku !

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.

sujud-tahajud

# # #

Irama seruling mengiring geliat Maret yang menari sibuk sekali, laju langkahku terpacu mengikuti alunan yang kian hari kian cepat saja, letih tak dirasa, karena lelahku kini telah bermakna…

_RAIN__by_Maozi

Mungkin luka itu masih ada. Tapi aku tak lagi ingin mendefinisikan bahkan di dalam hatiku. Karena mengingatnya hanya memanggil perih itu hadir kembali. Aku telah baik-baik saja, bahkan lebih baik dari yang sanggup kuduga. Meski kini, masa lalu membuatku jadi cenderung apatis. Tanpa kusadari, selalu saja ada picingan mata dan kerutan dahi terhadap setiap tindakan lelaki, siapa pun. Sebagai bentuk proteksi diri dari alam bawah sadarku yang tak mau lagi ditipu. Aku akan bela mati-matian dengan caraku sendiri siapapun perempuan di sekitarku yang hatinya tertoreh karena lelaki. Terdengar feminis memang, tapi tetap ada yang harus membayar setiap air mata yang tumpah dari pelupuk perempuan-perempuan itu.

1_758755715lSyukurlah semua terjadi di puncak karir organisasiku, segala kegundahan yang telah terurai kini bertransformasi menjadi sebuah energi dahsyat untuk mengoptimalkan potensi. Setiap goresan luka yg menyayat terobati dengan letupan semangat yang menghabiskan setiap detikku bergulir demi mengais kembali kasih Allah yang tanpa sadar kubiar saja berserak di depan mataku selama ini sebelumnya. Tak lagi ragu aku melangkah pasrah dan meneriakkan pinta di setiap masa yang terlewati akan datangnya segala hal yang terbaik bagi hidup dan matiku, pula kehidupan setelah kematianku. Yang terbaik seperti yang Allah Mau.

Aku sungguh menikmati ringannya rasa dan semilir cinta yang menyejukkan raga dan jiwa. Kumohon padaMu Allah, Jangan Biarkan lagi aku menjauhiMu. Jangan kau Ijinkan kebodohanku merenggut lagi keindahan saat-saat aku bahagia bercumbu denganMu. Jangan pernah Kau Bolehkan lagi aku merampas sendiri senyumku hanya karena kehilangan energi yang tak sanggup kuraih kecuali dengan kasih dariMu…

smileAku telah lupa, bahwa sebelum hari-hari yang sekarang ini aku pernah menangis pilu di pelukan sahabat-sahabatku karena sedih yang tak perlu..

Aku telah lupa, bahwa sebelum pelangi menemaniku sepanjang waktuku ini aku pernah diguyur hujan deras bertubi yang membuatku menggigil kedinginan padahal aku bisa berteduh tapi aku enggan..

Aku telah lupa, bahwa beberapa bulan yang lalu aku sedang terpuruk namun kini aku tengah berdiri dengan senyum yang terkembang…

Aku telah lupa bahwa di masa kelam yang tampaknya dulu tak kuanggap hitam itu aku selalu terbangun dengan mimpi buruk yang tak pernah kusadari sedang kini aku selalu menikmati tidur nyenyak dengan rasa bahagia saat bangun di pagi hari karena yakin Allah akan senantiasa Menjaga diriku meski aku lengah tak mengerti…

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Dekat, Aku Mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu

# # #

Kupu-kupu di bulan Mei menggodaku dengan butir-butir lembutnya, aku melihatnya tertawa riang dan bersenda gurau bersama ayunan ilalang, mengekspresikan cinta Ilahi yang hadir di antaranya.. tulus.. tanpa syarat..

new_life_by_irondoomdesign

Segalanya terasa begitu cepat, mungkin juga karena aku terlalu bersemangat menyibukkan diri. Hingga akhirnya datanglah malam itu. Setelah hari yang luar biasa padat memaksaku baru pulang seusai maghrib. Tak sempat aku melepas segala atribut yang melekat dan langsung saja menikmati nyamannya pelukan kasur di kamar kosku yang terasa bagai pijatan di tubuh ini. Dan akhirnya telepon itu berbunyi. Sebuah telepon yang membawaku melompat ke dalam fase hidupku selanjutnya tanpa permisi…

telepon“Beberapa waktu lalu mengobrol dengan seorang alumni laki-laki, rupanya siap menikah dan sedang mencari istri, dan saya menawarkan antum untuknya, namanya…”

Suara guru Aqidahku semasa di SMU dulu membahana di telinga. Mengabarkan sebuah nama yang tentu saja sangat kukenal.

“Segera buat CV ya, dikirimkan ke email saya. Nanti saya kirimkan CV-nya juga ke email antum”

Aku terbangun dari diamku. Masih tertegun sampai-sampai aku terlambat menjawab salam penutup dari seberang yang terlebih dulu telah mengakhiri sambungan telepon.

bayang1

Lelaki itu?

Seketika saja jantungku berdebar. Bagaimana mungkin.

Ah, guruku… engkau sedang bercanda denganku kan? Kuingat engkau yang paling riang saat kukabarkan aku putus Januari lalu sampai-sampai mengucap “Alhamdulillah”. Sejenak kuabaikan kabar melalui telepon penting itu. Segera kubergegas ke kamar mandi menikmati guyuran air mencari kesegaran yang kurindukan sejak tadi.

Menjelang tidur, pikiranku melayang mengingat-ingat. dia, lelaki itu. Hingga detik ini, sebelumnya belum pernah aku berpikir dan mengenang detail tentangnya sampai seserius ini. Sebagai orang yang belum pernah bertemu, aku cukup tahu banyak. Biasalah perempuan di asrama, pasti ada saja cerita tentang lelaki dibahasnya, apalagi dia. Tentu saja orang seperti dia tidak akan luput dari pembicaraan.

Padahal dia ada di sekolah ini jauh sebelum aku menjadi murid di sini. Dan yang paling kuingat dari pembicaraan itu, mereka bilang dia sosok suami idaman, Apa iya? Boleh jadi benar adanya.

Katanya dia bersuara merdu, qira’ah qur’annya fashih dan meluluhkan relung siapa saja yang menjadi makmum-nya.  Berperangai baik, lembut dan ramah. Murid yang rajin, pintar, dan menjadi siswa teladan di jamannya. Mantan Ketua OSIS dan .. ehm, tampan pula wajahnya, jauh di atas rata-rata.

168782129_0e663a49cf

Hei, tunggu sebentar. Aku ingat! Kami pernah bertemu sebelumnya. Ya, hari itu kami bertemu. Tak ada seperempat jam, mungkin hanya terhitung 10 menit, entahlah aku tak ingat banyak. Tapi hari itu kami sungguh-sungguh bertemu. Dia menjadi wakil Ikatan Alumni yang mengadakan acara bekerjasama dengan pihak siswa yang diwakili olehku, kami mengadakan rapat koordinasi waktu itu. Aku tersenyum mengingatnya, Itu sudah terhitung 5 tahun yang lalu. Ah, dia rupanya.

Tapi sekenal apapun aku dengannya saat ini, pastilah itu hanya hal-hal superfisial saja, masih banyak yang tentunya belum kuketahui dan tersembunyi. Ini kan urusan menikah, bagaimana mungkin aku menikah hanya dengan mengandalkan hal-hal yg superfisial? Bagaimana bisa aku menikah hanya bertaruh pada atribut-atribut islami yg berkibar di luar saja?

Aku tak akan gegabah, ini kan urusan menikah. Kata itu menikamku, Aku terdiam. Hmm.. sedari tadi aku berpikir banyak, mengapa seperti ada yang terlewat. Ah, Menikah?? Oh, kenapa aku lambat berpikir seperti ini, aku baru menyadari kalo urusannya sepenting ini, Menikah.

roseb018Menikah?

Harus secepat ini kah?

Baru saja beberapa bulan yang lalu aku dikecewakan oleh laki-laki setelah beberapa tahun sebelumnya juga mengalami hal yang sama. Dan untuk bangun dari ketakberdayaanku sampai bisa tegar berdiri seperti kini, butuh banyak modal dan energi yang menguras habis perbekalan yang kusimpan. Lalu saat ini, aku harus masuk ke dalam fase hidupku untuk membahas urusan yang teramat penting dengan Tuhanku, dan ini harus melibatkan laki-laki?

Aku gelisah. Sungguhkah aku telah berani melangkah sekarang? Baru beberapa bulan, apakah aku telah selesai berkompromi dengan diriku perihal kesakitan yang lalu?

Apakah aku siap?

Siapakah dia? dia bukanlah malaikat tak berhawa tapi dia adalah manusia, seorang lelaki yang selain bisa saja berhati baik dan peka bahwa dengan seorang perempuan lah dia sedang berurusan, tapi juga memiliki potensi yang sama dengan lelaki-lelaki lainnya untuk menyakitiku.

Aku tahu siapa diriku, Aku bisa mengukur seperti apa karakterku, Aku paham seberapa sensitif dan pekanya perasaanku. Konsekuensinya bukan hanya sekedar tersanding bahagia di pelaminan pada akhirnya, tapi juga puing-puing yang baru saja lekat akan kembali retak, lalu terserak dengan kepingan yang lebih kecil dan rumit. Aku harus mengukur diri, siapkah aku untuk kembali merangkainya jika itu nantilah yang menjadi penghujung?

Hatiku tiba-tiba lelah, pikirku penat, jiwaku resah. Tak henti relung ini meminta, Ya Allah, Tenangkanlah hati ini, Liputilah kegalauannya dengan kebesaranMu Yang Menguasai. Sampai akhirnya kuterlelap dalam buaian malam yang serupa peluk menghangatkan sang bunda.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

# # #

Dinginnya air di penghujung malam dan pagi terawal hari ini menyentuh wajahku, kesejukannya menelusup ke dalam pori-pori dan merefleksikan kedamaiannya sampai ke dasar bilik-bilik hati. Jadikanlah aku bagian dari hamba-hambaMu yang bertaubat dan senantiasa menyucikan diri…

drop

Ya Allah, apapun pendapat hatiku untuk kejutan cintaMu kali ini…kupercaya yang ada hanyalah keindahan pada akhirnya, entah senyum ataukah air mata yang menghias wajahku kelak…entah apakah proses ini benar-benar Engkau Ridhai tuk berujung pada Mitsaaqan Ghaliidzaa yang diikrarkan,,,

Apapun yang kukatakan, entah terlampau cepat atau tak siap. Seperti inilah yang seharusnya benar berlaku. Bukankah ini jalan yang Engkau Ridha untukku menemukan separuh nafasku? Inilah yang sebenarnya. Lantas mengapa aku harus ragu dan ketakutan? Bukankah Engkau Yang Maha Menyembuhkan kesakitan?

Ya Allah, terima kasih atas warna-warna yang indah ini,

apapun warnanya, semoga senyum dan semangat ini senantiasa merekah menyambutnya…

apapun warnanya, semoga rasa cinta teragung ini membuat lelah dan gundah menjadi tak terasa adanya…

apapun warnanya, semoga nurani ini jeli memakna pesan cinta yang Kau Simpan di setiap celahnya…

apapun warnanya, semoga tak sekali-kali berani menghapus asmara dan pasrah serahku yang hanya padaMu, hanya padaMu saja Kasihku…tiada lagi yang lain…

Bismillah, Aku siap dengan IjinMu!

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.

# # #

Deru cintaMu mengalir dan menyelimuti butir butir darah merahku. Detak yang semakin mengeras saat detik terus bertambah tetap tertata oleh penjagaanMu. TabirMu kian memamerkan padaku akan binar kilaunya. Pendar cahaya yang telah mempesona. Riang dan Resah silih berganti menyapa.

dan-collier-bright-star-smile-moon

Ah, siapakah dia? Semakin hari semakin menarik hati. Sungguh aku hanyalah perempuan biasa yang sangat bisa kapan saja dibelai asmara. Tak ada yang meminta, tak ada yang memaksa. Dia datang dengan sendirinya tanpa permisi. Tapi, kuingat ini belumlah waktunya. Belum saatnya diriku bersemangat memupuk dan menyiraminya. Bahkan mendefinisikan apa kiranya yang tengah berlaku dalam hatiku ini aku tak berani. Tapi tetap saja, tak ingin menafikan harum wewangiannya menari-nari sampai di depan indera penciumanku…

Wahai…
Hati yang lemah dan rentan berpaling ini…
Tak sadarkah jiwamu mudah sekali ternoda,
Terayu bujuk duniawi yang menyilap mata…
Duhai,,,
Tak kah kau rasakan lara,,
Lara merindu kebeningan diri yang tak jua menyapa,
Hingga mana kau biarkan titik hitam itu mulai menggunung menyelimuti…
Tak kah pula kau dengar rintih ini,,
Rintih lelah oleh permainan jiwa dan perasaan…
Betapa batas goda itu samar dan tak kasat mata,,
Batas yang justru dimulai dari hatimu sendiri…
Tak sanggupkah kau atur kendali itu,,
Tak kuasakah kau sedikit tegas dengan dirimu sendiri,,,
Tak mampukah kau menjadi pentitah indah bagi jiwamu sendiri…
Kumohon wahai hatiku…tariklah erat pelana itu…
Agar tak kau berikan sedikit pun kesempatan,,
Untuk serahkan diri pada nafsumu walau sekejap mata..
Wahai diriku,,,yang sangat kusayangi,,,
Sejenak…Rasa yang indah itu memang sangat menggoda…
Sekilas…kilaunya amat sangat memikat jiwa,,
Namun Bukankah,,, sangat kau pahami,
Itu hanya akan meracuni jika tak kau bijaki
jangan kau hinakan dirimu dengan mengabdi padanya,,,
lebih lagi jika kau bawa jiwa lain ikut terjebak kedalamnya…
Jangan…
Kumohon jangan…
Bersabarlah…
Kuasailah…dan biarkan waktu yang akan menjawabnya…
Kau tahu semua punya masanya sendiri…
Tinta telah mengering dan lembaran telah dilipat,,,
Allah telah Menuliskan keindahanmu jauh-jauh hari,,,
Dan kau akan menemuinya,,, dengan sendirinya,
Tak perlu seperti yang kau minta…
Tapi sesuai apa yang Allah Punya untukmu,
karena itulah yang terbaik, dan akan selalu menjadi yang terbaik…
bukankah seperti itu yang kau yakini…

Apakah kau melupakan itu wahai diriku yang kusayangi…
Siapakah yang bisa menyembuhkan kesakitanmu?
Bukankah hanya Allah melalui ikhtiarmu sendiri,,
Tiada makhluk yang bisa menopangmu,,
tersenyumlah duhai diriku…
percayalah…kau tidak seburuk itu,,,
janganlah putus asa dengan kerikil yang menyandungmu…
karena Allah tlah Menciptamu dengan segala kurang dan lebihmu…

# # #

Insan Cendekia, sebuah wujud nyata terawal. Menjadi saksi bahwa cinta ini telah berikhtiar semampunya. Di sanalah, suara dan cerita menghimpun kemantapan untuk merapat lebih dekat…

logo_masjid-ic1

Hm, lama sekali rupanya tak datang menyapa. Sudah banyak yang berubah, perubahan yang indah dan megah. Insan Cendekia, selalu saja ada rindu untuknya. Di sana, kutitipkan berjuta kenangan. Kehadirannya dalam rangkaian puzzle hidupku takkan pernah tergantikan oleh kepingan yang lain. Aku telah melalui proses yang mengagumkan bersamanya. Dan kini, seolah ingin kembali ikut terukir dalam jejak-jejak penting hidupku ia turut menyaksikan slide kali ini.

Kemarin dia sudah mendahului datang menemui guruku, dan sekarang adalah giliranku. Karena jarak yang jauh dan waktu yang sama-sama tak banyak luangnya, kami tidak bisa menyempatkan datang dalam waktu yang sama.

Ruangan perpustakaan begitu sunyi. Padahal banyak sekali siswa di sini, bangga-nya melihat adik-adik tertib seperti ini. Semakin keren saja perpustakaan ini sekarang, seingatku dulu tidak ada koneksi internet di sini.

Akhirnya obrolan serius tapi santai itu dimulai. Kudengar dari sang guru tentang dia yang berkisah perihalku, beberapa diskusi online kami, juga keinginannya untuk segera menemui orang tuaku. Kami menyepakati tidak ingin membuat proses ini terlalu kaku. Baik interaksi maupun waktu. Demi eksistensi seni melukis akhlak dengan sebuah kompromi antara kebiasaan, etika, syariat, juga kepekaan terhadap harapan keluarga dan lingkungan sekitar.

Setelah diskusi siang itu, insya Allah langkahku semakin mantap. Ya Allah, semoga kemantapan hati ini adalah jawabanMu atas istikharahku. Jika inilah yang Engkau Perkenankan, maka Mudahkanlah jalanNya, Aamiin..

# # #

Hari ini, waktu tiba baginya mengunjungi kedua orang tuaku untuk pertama kali. Dan tentu saja adalah kali pertama pula dia bertemu denganku. Seperti apa kiranya dia yang seutuhnya nyata? Bukan hanya sekedar tulisan dan hasil bidikan kamera yang menjadi bayangan di mataku selama ini…

Dia berada tepat di kursi seberang. Memakai setelan koko putih dan celana kain panjang abu-abu. Terlihat sedang asyik sekali mengobrol dengan Ayah dan Ibu. Oh, seperti ini rupanya dia. Aku tersenyum, tampan dan santun seperti yang kuduga. Ups, semoga tidak ada yang membaca apa yang kutulis di pikiranku, aku malu.

Senangnya melihatnya begitu cepat akrab dengan orang tuaku, Alhamdulillah. Aku lega dia mahir mengambil hati mereka. Bagiku, selain persamaan fikrah, prinsip, dan pola pikir, itulah salah satu syarat bagi lelaki yang akan menjadi suamiku kelak. Keluargaku, terutama Ayah dan Ibu harus nyaman berada di sisinya.

Mengingat pengalaman tak menyenangkan yang sudah-sudah, kini sejak awal telah kuniatkan, jika pada pandangan pertama orang tuaku mengatakan “ tidak”, maka selesai lah sampai di sini. Karena kadangkala, aku merasa bahwa mereka yang telah membesarkanku hingga kini itu lebih mengerti tentang diriku daripada aku sendiri.

Tentunya sebelum menghadirkannya kepada orang tua, aku lah yang menjadi penyaring pertama yang menimbang dan mengira-ngira apakah dia akan cocok dengan keluargaku juga keluarga besarku. Setelah itu, aku bertugas mensosialisasikan dia seutuhnya pada mereka, aku harus berjuang bagaimana agar rasa sayang itu tumbuh di hati mereka sebelum saling bertatap muka, dengan cara yang elegan pastinya. Untuk kemudian saat dipertemukan mereka telah menyimpan cinta bagi dia. Cinta yang menggiring pikiran positif dan kompromi atas apapun yang berlaku saat itu.

Memang membuat proses ini memakan waktu yang lebih lama, tapi bagiku. Kenyamanan mereka sangatlah penting.

Kemana kaki akan dilangkahkan adalah pilihan masing-masing, dan tak harus setiap orang mengarahkannya pada alur yang sama. Dan inilah pilihanku. Aku tak mau keluarga kecil yang kubangun nanti akan mengalami kesulitan-kesulitan yang seharusnya bisa diseleksi sejak awal.

Bismillah!

# # #

Duh, inilah masa bagiku menyapa mereka. Orang-orang terkasihnya yang ingin melihatku lebih daripada sekedar cerita. Inilah pertaruhan itu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Memiliki cinta. Semaikan benih kasih itu di antara kami, Ijinkan mereka mencintaiku, dan kumohon kenyamanan dan bahagiaku hadir di antaranya…

Kereta Argo Bima membawaku dari keheningan malam Jogja menuju hingar bingar Jakarta. Kulihat Paman yang turut mengantarku sudah tertidur pulas karena aktivitas-nya seharian. Terimakasih pamanku yang baik telah repot-repot mengantar.

Alih-alih pulas seperti Paman, aku tak bisa sedikit pun memejam mata. Padahal, siang tadi aku pun baru saja tiba di Jogja dari Solo. Aku sedang mencoba meraba apa kiranya yang akan terjadi esok. Terlalu banyak menonton film korea membuatku merasa bahwa pertemuan antara calon menantu dan calon mertua selalu terjadi dramatis dan memilukan. Naudzubillahi min dzaalik, semoga kali ini menjadi pengecualian untukku.

Ya Allah, Jauhkanlah pertemuan esok dari segala yang tidak mengenakkan hati. Mudahkanlah… Lancarkanlah…

Pagi ini kereta tiba terlambat satu jam, hmm.. memprihatinkan, kereta argo sekarang tak seperti dulu lagi, selalu saja terlambat datang. Segera kami menyewa taksi untuk meluncur ke sebuah rumah milik kantor paman yang boleh dipakai olehnya ketika datang ke Jakarta. Seusai mandi dan menata diri, kami berangkat.

Semakin mendekat ke tujuan membuat gemuruh dadaku kian riuh. Terlebih saat mobil yang kunaiki ini berhenti di depan sebuah rumah berpagar hitam yang berarti mengatakan padaku bahwa kami telah sampai. Hooossshhh… Bismillah…

Menyenangkan, meski masih canggung tapi aku merasa nyaman. Obrolan superfisial terangkai akrab. Pamanku yang lebih kerap bersuara sedang aku sepertinya banyak diam, menjawab seperlunya dan tersenyum malu-malu.

Ada sebuah suasana yang terselip dalam kunjunganku, sangat mengesankan dan indah kukenang sampai kini. Ah, baiklah.. mari kita sebut itu dramatis, paling tidak dramatis menurut persepsiku. Sebuah cerita singkat yang sangat menegangkan bagiku.

Entahlah, mungkin aku terlalu sensitif dan hanya perasaanku saja, tapi jika coba kuhitung-hitung sejak awal datang aku merasa bunda-nya tak menanyaiku sedikit pun. Sedih sekali, interaksiku dengan beliau hanya sebatas bersalaman dan cium tangan saat datang. Sebelum pertemuan, aku memang telah dikabari oleh dia tentang karakter keluarganya masing-masing termasuk jurus-jurus jitu untuk menghadapi. Jadi, sepertinya aku cukup paham mengapa sang bunda bersikap demikian. Kita pasti sama-sama mengerti tentang berbagai rasa yang terbingkai di hati seorang bunda yang hendak melepaskan putera lelaki satu-satunya yang bungsu pula itu seperti apa. Siapapun yang ada dalam posisi beliau akan melakukan hal yang sama, selektif dan teliti terhadap ia yang akan mengambil alih sebagian besar peran dirinya atas putera tercinta.

Terlebih kali ini, sang bunda belum pernah mengenalku sebelumnya, sungguh aku memaklumi jika sepanjang pertemuan ini beliau manfaatkan segenap waktu yang terbilang cukup singkat ini untuk mengamati dan memberi penilaian padaku dari mulai hal yang paling remeh sekalipun. Ini hanya masalah waktu,

mertua

Tapi sepertinya Tuhan Yang Maha Penyayang Memilih untuk Menghapus gundahku saat itu juga. Di kala jam makan siang tiba, tak dinyana sang bunda menempati tempat duduk kosong di sampingku dan mulai dengan hangat menanyaiku ini itu. Takkan pernah kulupa saat beliau mengisi piringku yang sepi dan malu-malu dengan sepotong Ayam Kuali yang sebenarnya telah kuincar sejak tadi. Dunia boleh tertawa karena aku begitu terpesona dengan hal sesepele ini. Tapi bagiku, momen ini sangatlah berharga dibanding apapun yang kubutuhkan saat itu…

# # #

Langit September Jakarta coba membaca apa yang tersembunyi di hati-hati kami. Setelah pinangan itu cahaya lorong yang semula gulita kini mulai samar menampakkan relief-relief dindingnya. Dan gemericik aliran-aliran kecil riang menemukan rangkaian nadanya. Ah, riuhnya nyanyian yang berdendang di sudut hatiku saat ini, semoga ia tak membuatku malu karena terdengar oleh mereka…

windowslivewritermemaknaisebuahpernikahan-751bpernikahan-2

# # #

Januari menjadi akhir sebuah penantian dan awal rangkaian perjalanan panjang. Segala Puji BagiNya Yang Menciptakan rasa cinta dan kecenderungan dalam hati manusia. Lalu Menghimpun mereka untuk berdampingan bersama di bawah naungan kasih sayang-Nya. Purna sudah ikhtiar cinta ini bermuara…

78137490

Malam sebelum hari itu tiba, Ibu bilang aku harus lekas tidur, sepupu bilang aku harus memakai masker es batu sebelum tidur, Bude bilang aku jangan banyak ngobrol. Hm.. aku sangat menikmati setiap wejangan dan nasihat yang mampir dari mereka yang sudah berpengalaman itu.

Ditemani kedua sahabatku yang cantik dan baik hati di sampingku, aku mulai melemaskan tubuh dan berbaring. Sedikit mengenang bersama bagaimana proses ini berlangsung hingga aku telah berpijak sampai pada tahap ini dan akhirnya datang hari penting itu esok hari, Insya Allah.

Allah, betapa beruntungnya aku memiliki sahabat seperti mereka. Seperti apapun takdir kami masing-masing nanti, sejauh apapun Engkau Bentangkan jarak perjalanan kami nanti, tetap dekatkanlah hati kami satu ini, seperti malam ini.. saat kami saling menguatkan dan mendekap satu sama lain..

* * *

Aku didudukkan di samping Ayah yang berhadap-hadapan dengan dia yang beberapa menit lagi akan sah menikahiku. Mendengarkannya menguntai tiap ayat surat Ar-Rahman sebagai mahar bagiku seolah menyaksikannya melantunkan sebuah pertaruhan diri akan kesungguhannya untuk kelak akan berlaku ma’ruf dan berkasih sayang terhadapku.

Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
Subhanallah… betapa ayat yang dia lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku..

‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’

berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’
agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..

# # #

Bahasa Tuhan Memberitahuku bahwa seperti inilah aku yang seharusnya. Dia, lelaki tercinta, menjadi wasilah-Nya untukku menemukan jati diri yang sebenarnya. Mengeksplorasi lebih dalam potensiku, jauh lebih dalam hingga menyapa sudut lekukan-lekukan tersembunyi yang bahkan tak pernah kusentuh sebelumnya.

Aku bersyukur,

dialah separuh jiwaku yang menemukannya.. membuat aliran hidupku yg lelah mengembara bermuara dalam hangat peluknya…

P7050748

Comments (7)

Kuingin Kau Tahu…

Selama aku pergi
Ku akan mengingatmu
Tak hanya sementara
Selalu dan selalu kurindukan
Senyummu untukku di sini

Ku ingin kau tahu
Meski pun ku jauh
Ku ada di hatimu
Ku ingin kau tahu
Meski pun kau jauh
Kau tetap milikku
Selamanya
Ku bernyanyi untukmu
Untukmu yang kurindukan
Tetaplah setia menungguku
‘Kan kembali

Ku ingin kau tahu
Meski pun ku jauh
Kau ada di hatiku
Ku ingin kau tahu
Meski pun kau jauh
Kau tetap milikku
Selamanya

6089_112965214474_789964474_2256393_1682103_n-001

Leave a Comment

Day 1~Memulai Tisikan Awal Sulaman Cinta

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

kita kan lalui jalan terjal ini bersama...

Berdiri melihat keretamu berlari menuju Jakarta meninggalkan stasiun ini bersamaku. Teriring lambaian tanganmu di balik jendela dengan bunyi gesekan rel dan roda yang semakin lama semakin terdengar cepat saja.

Entahlah.. rasa-rasanya air mata di pelupuk ini telah menggenang dan tak tahan untuk berebut dilampiaskan. Jika bukan karena malu dilihat orang, tentunya sejak tadi mataku telah basah, merah dan membengkak karenanya..

Terserah orang mau bilang apa, tapi aku sungguh sulit melalui momen ini. Sehingga harus berjalan cepat-cepat menuju pintu taksi yang membawaku pulang agar tak nampak rundung kesedihan yang menggelayuti hatiku.

Tapi, selalu percaya bahwa perpisahan ini hanyalah untuk sementara dan kelak akan ada suatu masa ketika aku kan berada di sisimu, selamanya…

Saat merasa berat, mencoba berpikir bahwa jarak yang jauh terbentang ini bukanlah hanya kita yang punya. ada mereka yang juga merasakan rasa sulit ini, ada mereka yang pula menyimpan kerinduan ini, begitu banyak rupanya yang harus berela hati menitipkan separuh jiwanya di negeri lain..

Sebagian dari mereka telah berhasil melalui masa-masa rumit itu, dan kita pun harus demikian:)

Semoga Allah Menghitung setiap air mata dan rindu ini sebagai pahala.

Semoga Allah Menulis sabar kita ini sebagai ikhtiar di jalan-Nya.

Baik-baik jadi ‘bujangan’ di Jakarta, Cinta.. jangan telat bangun sahur mentang-mentang ga ada adek :D

I Love You…

Leave a Comment

~Ia Tercipta untuk Tegar~

Hmmmm…

sekencang apapun riuh angin menyapa, pohon yg tercipta untuk tegar tak akan rela mencabut akarnya demi menyerah begitu saja…  sebanyak apapun daunnya tergugur, tiada pernah akan membuatnya tumbang dan jera…

ia tak pernah mengerti mengapa Allah memilihnya utk melalui semua ini…  tapi apapun pendapat hatinya, entah ujian, cobaan, ataukah azab…  alih-alih mengeluh ” why it should be me ? ” ia malah berserah dan hanya mengharap… bahwa semoga penghujung dari semua ini hanyalah cinta-Nya semata…

ada yang bertanya, lalu bagaimana jika yang dilaluinya adalah hembusan angin topan skala lima?

jikalau memang ada pohon yang ditakdirkan untuk melalui topan skala lima tentulah ia adalah pohon yang demikian hebat.. karena pohon yang hebat diciptakan untuk menghadapi hal-hal yang hebat…

~Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan…

jika pun pohon itu harus tumbang, siapakah kita yang berani menghakimi bahwa pohon itu telah menyerah dan kalah…

boleh jadi angin membuatnya tumbang untuk membawa sang pohon hidup di tempat lain yang lebih elok dan bermanfaat menyimpankan air untuk hilangkan dahaga makhluk Allah di sekitarnya..

atau boleh jadi pula.. bahwa tumbangnya ia adalah hal yang terbaik baginya karena ia mendapat kebun yang jauh lebih indah di Surga..

~Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak tahu… ^^

Ia Tercipta untuk Tegar...

Ia Tercipta untuk Tegar...

Leave a Comment

Selamat Datang,…. Selamat Jalan,…


Jumat, 24 April 2009. Di bawah Langit Jakarta, dini hari menjelang adzan Shubuh berkumandang.


Ami terbangun dengan semangat. Mata kelat yang biasanya harus berkali mengerjap terlebih dahulu, seketika saja bisa berbinar dengan lincah. Karena sejak malam, Ami telah menantikan pagi ini tiba, Nak.. Seolah Ami memang berfirasat bahwa akan ada tamu agung datang :-) .

Insting keibuan, mungkin itulah pertama kali insting keibuan Ami yang sesungguhnya mulai terekspresi..

Bergegas Ami menyerbu kamar mandi sambil membawa bungkusan biru bertuliskan SENSITIF yang dibeli Ayah sore kemarin di Drug Store dekat kantor. Di antara harap dan cemas, Ami menanti gerakan urin yang merambat perlahan dari ujung stik berukuran 0,5 x 10 cm2 itu,

satu garis merah…… dada Ami makin bergemuruh….. dan.. akhirnya….. DUA garis merah!!

Alhamdulillah…! Subhanallah…!

POSITIF!^_^

POSITIF!^_^

Ami segera berlari ke kamar karena tak sabar ingin kabari Ayah tentang berita gembira yang telah lama kami nantikan ini.”Gimana, Dek?” tanya Ayah pada Ami dengan kerutan harap di dahinya. Sambil menunjukan dua garis merah di stik biru putih tadi, Ami berkata dengan senyum mengembang, ” Selamat Datang, Cinta..”. ^_______^ “Alhamdulillaaaaaaaaah…..” sahut Ayah langsung memeluk erat dan mengecup kening Ami.

Anakku sayang, melalui darah yang Ami alirkan ke dalam tubuhmu, engkau pun mungkin dapat merasakan betapa bahagianya kami saat itu menyambut kehadiranmu.

Allahu Rabbuna,, Nak...

Allahu Rabbuna,, Nak...

Di waktu ter-awal keberadaanmu ini, Ami ingin mengenalkanmu tentang Penciptamu yang Maha Agung, Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Belajarlah bersyukur padaNya senantiasa, Nak. Segala puji hanya bagi Allah, hanyalah atas IjinNya engkau hadir menyempurnakan kehidupan kami…


—————————————————————-

Sabtu, 25 April 2009. Ante Natal Care (ANC) pertama. Di Ruang Tunggu praktek Dr.Eriana Sp.OG yang cantik dan baik hati. Bertiga menikmati indahnya rinai hujan dan semilir angin Kota Surakarta. Ya.. bertiga, Ami, Ayah, dan Kamu dalam rahim Ami, Nak…

Karena sangat bersemangat, malam itu kita datang setengah jam sebelum Bu Dokter cantik itu tiba. Sehingga kita langsung dapat antrian pertama, Nak :-) . Bu Dokter datang tak lama setelah perawat melengkapi identitas Ami dan Ayah termasuk menanyakan keterangan tentang Menarche Ami yang dimulai saat usia 12 tahun, HPMT Ami tanggal 17 Maret 2009, G1AoPo, Menimbang berat badan, dsb. Setelah identitas diisi lengkap, kemudian berkas diberikan pada Bu Dokter.

Seusai Meng-anamnesa, Bu Dokter meminta Ami untuk berbaring dan diperiksa dengan USG. Sudah sangat sering melihat alat itu dan orang yang diperiksa dengannya. tapi kalau Ami yang diperiksa dan diteropong dengan USG? ini baru pengalaman pertama Ami, Nak:-)

4 minggu 6 hari...

4 minggu 6 hari...

Itulah pertama kalinya Ayah dan Ami melihatmu, begitu mungil.. terlelap di dasar kantong gestasi.. Dalam usiamu yang baru 4 minggu 6 hari, engkau telah merapat sempurna dalam rahim Ami.. di bagian yang terbaik di corpus uteri Ami di sebelah kiri..

Sayang, ternyata Bu Dokter cantik itu menemukan sebuah massa yang tergambar hitam bersekat di seberang tempatmu berbaring yang ia duga sebagai kista endometriosis ovarii dekstra berdiameter 5,3 cm.

Dag dig dug Ami mendengarnya, terlebih lagi Ayah. Tapi penjelasan Bu Dokter sangat menenangkan, ia katakan bahwa sepertinya kista ini ada sejak Ami masih gadis. Ami teringat pada materi Endometriosis yang diajarkan oleh Prof. Tedjo bahwa 90% perempuan memiliki kista endometriosis di rahimnya, seringnya terjadi pada perempuan dengan siklus menstruasi yang pendek/teratur dan masa haid yang panjang.

Ia melanjutkan bahwa biasanya perempuan dengan kista akan sulit mengalami pembuahan atau kehamilan, namun Subhanallah dalam kasus Ami, Allah telah Menghadirkan kamu di sini:-), dan dengan adanya kehamilan, kista yang hidup dengan estrogen sebagai nutrisinya akan terdesak dan hilang sendiri karena kalah oleh hormon progesteron yang meningkat pada saat kehamilan. Pada ANC selanjutnya, akan dilihat lagi kista ini apakah sudah hilang atau belum.

Bu Dokter meyakinkan kami bahwa kista ini tidak akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhanmu, jadi kami boleh merasa tenang:-).

Alhamdulillah, Senangnya melihatmu mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.. segala doa untuk kebaikanmu mengalir deras tanpa henti dari mulut dan hati kami, Nak.. semoga sehat dan kuat dirimu bertahan di dalam sana. :-)

* * *

Anakku sayang, kehadiranmu bukan hanya membahagiakan Ayah dan Ami. seluruh keluarga besar Ayah dan Ami pun turut bersuka cita menyambut kedatanganmu. Eyang Kakung dan Putri, orang tua Ami. Njid dan Jiddah, orang tua Ayah. Mbah buyut di Jogja dan Majenang. Tante Zilfa, Om Faza, juga Om kecil Nabhan, adik-adik Ami. Umi Rafie, Bunda Nayla, dan Mama Ayuri, kakak-kakak Ayah.

Ohya Nak, Ada sedikit cerita yang ingin Ami kisahkan padamu. Mengingat Ayah adalah anak bungsu dalam keluarganya, maka Ayah dan Ami sempat bingung sapaan apa yang ingin Ayah dan Ami ajarkan padamu untuk memanggil kami. Kakak pertama Ayah telah memakai Abi dan Umi. Kakak kedua Ayah sudah memilih Ayah dan Bunda. Kakak ketiga Ayah menggunakan Papa dan Mama. Harus kamu tahu bahwa trade mark panggilan itu telah begitu melekat pada diri mereka dan tidak dapat tergantikan, padahal Ami sangat tertarik untuk memilih Umi atau Bunda,hiks^^’.

Hmm,, sebenarnya Ami adalah anak sulung yang berhak memilih apapun karena Ami akan menjadi orang yang pertama memakainya, hehehe. Tapi berhubung Ayah adalah si bungsu yang mendapat ’sisa’ (hehe, piss Ayah!^____^v) maka akhirnya Ayah dan Ami harus sedikit memutar otak^^ dari mulai meng-googling di internet sampai survey ke segala wacana di berbagai media segala istilah yang sekiranya unik dipakai. namun tak ada juga yang kami anggap cocok,Nak.. hehe. what a perfectionist couple we are, Ayah!^______^’.

Setelah berbagai diskusi dengan Ayah, akhirnya kami memilih panggilan ‘Ayah’ untuk Ayah. selain kami menyukainya juga sifatnya lebih umum di keluarga karena yang memakai panggilan Ayah bukan hanya Ayah Nayla, di keluarga Tebet dan Cirebon ada beberapa yang memakainya. Kelarlah sudah satu tugas kami. hei, tunggu. bagaimana dengan Ami??

sampai terhitung berminggu-minggu usiamu Ami masih bingung dan belum juga memutuskan untuk memilih. hingga akhirnya Ami menulis note ini, Ami memutuskan untuk menggunakan ‘Ami’. Unik, bukan?^^.harus Ami akui selain bagi Ami panggilan ini adalah mixing dari ‘Umi dan Bunda’ juga karena ini terinspirasi dari Sinetron yang tak pernah absen Eyang Putri tonton setiap malam di Indosiar, hehe..^______________^’

Anakku tercinta, Semuanya bergembira dan antusias karena engkau datang. Maka berbagai nasihat dan petuah tak henti mengalir dari mereka kepada Ami demi menjaga kesehatanmu dan Ami yang melindungimu. Tidak boleh naik motor dan becak sampai selesai 4 bulan pertama, tidak boleh makan Duren, Soda, Tape, dsb.

Ami tersenyum dan senang mendapat perhatian yang luar biasa seperti ini. Saat menuruti setiap nasihat sepanjang itu baik dan syar’i, sebenarnya yang terpenting bukanlah materi dari nasihat itu karena menurut Ami itu sangat relatif sekali seperti halnya menaiki motor dan becak, hehehe (Kamu harus tahu bahwa Ami adalah Biker sejati, Nak. ^___^),

tapi yang paling utama adalah sejak dini Ami ingin mengajarimu agar engkau paham tentang seni ketaatan pada orang tua, sakralitas dari nasihat mereka, dan ketentraman hati saat bisa membuat mereka berbahagia, semampu yang kita bisa, sepanjang yang kita sanggup.

Mengingat kita dan orang tua berangkat dari generasi berbeda dan dengan pemikiran yang lain pula, maka saat berhadapan dengan mereka, kitalah sebagai yang lebih muda yang harus berperan aktif dengan hati dan pikir yang jernih memfasilitasi jarak ini agar menjadi keselarasan yang dinamis. Saat inilah akhlak menjadi dominan dibanding syariat, Insya Allah suatu saat engkau akan memahaminya, Nak..

Jadilah Anak Shalih yang taat pada Allah dan Rasul Muhammad SAW, pula bermanfaat dan menenangkan hati setiap orang di sekelilingmu^^.

Buah Hati terkasih, tak akan Ami lupa dan Ami membuatmu ingin engkau selalu mengingat bagaimana perhatian dan bantuan teman-teman terbaik Ayah dan Ami yang membantu secara moril dan fisik untuk kita bertiga. dari berbagai simpati yang mereka sampaikan setiap hari, sampai yang paling luar biasa adalah teman-teman Ami di Solo yang menjaga kamu dan Ami demikian hati-hati. Karena Ayah harus berjuang mencari nafkah di Jakarta sana, maka kecuali di akhir pekan, peran SIAGA nya digantikan oleh teman-teman dekat Ami yang baik hati itu.

Tante Nita, Tante Aster, Om Ary, Om Arifin, dan Tante Dina yang di tengah kesibukan koas mereka rela berpanas-panas mencari kontrakan yang pas dan cocok untuk Ami. Mereka yang selalu mengantar Ami kemana-mana sampai harus jauh-jauh bolak-balik kos-kontrakan Ami untuk menemani Ami yang sendirian di rumah. Membelikan makan yang paling Ami inginkan. dari nasi padang sampai rujak cingur, hehe. What a great friends, You are all guys!

Bukan hanya mereka, ada Tante Ajeng dan Tante Jeje yang mengantar Ami untuk tes TORCH di Lab Budi Sehat. Tante Moya dan Tante Shaumy yang jauh-jauh belikan Empek2 Bu Kamto sepulang dari Jogja. Tante Tyas yang menginap di rumah Ami dan membawakan Kebab Turki Baba Rafi pesanan Ami, hehe. Rekan-rekan koass Ami di stase Bedah juga tak sedikit berperan. Mereka sangat membantu, Nak.. terlalu banyak dan berarti sampai Ami tak mampu sebutkan mereka satu persatu.

Betapa beruntungnya kamu, Nak. Alhamdulillah..

Jadilah orang yang mudah berterima kasih dan menghargai setiap orang yang mencintaimu, agar hatimu menjadi peka dengan kebaikan dan cinta sehingga dapat menjadikannya cahaya menerangi sekitarmu..

Sayang, hadirmu dan semua atensi cinta ini, membuat Ami bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagimu. meski menjelang akhir minggu ke-8 Ami mulai merasakan mual sepanjang hari terlebih di kala bangun tidur dan menjelang maghrib, Ami terus memaksakan diri untuk meminum susu dan nutrisi ibu hamil di trimester pertama. Memakan makanan selengkap mungkin 3 kali sehari meski setelahnya harus menahan mual yang sangat. Semakin bertambah usiamu, Ami mulai kepayahan, pusing dan muntah-muntah air menghiasi hari-hari Ami. Pokoknya begitu Ami pulang dari rumah sakit, Ami langsung beristirahat seoptimal mungkin demi menjaga stamina.

Hmm,, sayangku.. meski kepayahan, tapi ini adalah kepayahan yang membahagiakan, sehingga Ami merasakannya dengan suka cita^_^

—————————————————————-

Selasa, 19 Mei 2009. seminggu menjelang ANC kedua.


Sepulang dari Poli Bedah, seperti biasa Ami langsung pulang. sebelum tidur siang, Ami terlebih dahulu ke kamar mandi untuk buang air kecil karena akhir- akhir ini Ami sudah mulai sering merasakan kandung kemih Ami cepat penuh. ketika di kamar mandi, tiba-tiba, Ami menemukan spotting kecil sepanjang 1 cm.

Ya Allah, Nak.. Ami panik sekali dan langsung menelpon Ayah, dan siapapun yang bisa memberi saran. ketika Eyang Putri katakan asal jangan bleeding yang deras dan merah segar, Ami sedikit lega. Eyang Putri katakan Ami cukup beristirahat saja. Namun Ayah meminta Ami untuk kontrol ke dokter pada sore harinya.

Segeralah sore itu Ami berangkat ke dokter ditemani oleh tante Aster. Setibanya di sana, Bu dokter langsung memeriksa kondisimu melalui USG. Alhamdulillah, nak.. bu dokter katakan kamu baik-baik saja. bahkan kista yang pada ANC pertama dulu bercokol di ovarium kanan Ami saat ini telah hilang. bukan hanya itu, Bu dokter mengatakan bahwa pendar detak jantungmu telah terlihat di USG. Syukurlah, Nak.. Ami lega sekali.. :-)

—————————————————————-

Sabtu, 23 Mei 2009, Ayah tiba dari Jakarta.


Sejak spotting 5 hari yang lalu, Ayah begitu resah dan ingin segera menemui kita di Solo, Nak. dan akhirnya, pagi ini Ayah tiba juga. Kita bertiga berpeluk melepas rindu. Seminggu tak bertemu seolah terasa sewindu. Melihat wajah Ayah serupa penawar gundah dan resah yang menghabiskan tenaga Ami karena kesibukan dan berbagai permasalahan Ami di stase Bedah yang rupanya cukup pelik.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan mencari dokter lain untuk second opinion. bukan karena apa-apa, tapi lebih karena ingin mencari kelegaan hati dan mencari pendapat dari ahli yang lain.

Malam itu juga, sama seperti yang sudah-sudah, di tengah gerimis, taksi yang kita naiki menembus malam kota Surakarta menuju tempat praktek Dr. Tri Budi Sp.OG. Alhamdulillah begitu kita datang, baru saja ruangan itu kosong sehingga kita bisa langsung menemui Pak Dokter.

Sama seperti yang sebelumnya, Pak Dokter mulai meng-anamnesa dan memeriksa kondisimu melalui USG. Yang paling menarik untuk kami adalah Pak Dokter yang bersahaja dan kebapakan ini menyambut pertanyaan Ayah dan Ami dengan bijak dan penuh kesabaran, segala hal yang Ayah dan Ami konsulkan dapat beliau jelaskan dengan detail dan terang sehingga Ayah dan Ami merasakan pencerahan, terlebih memang, saat itu Ayah dan Ami tengah bimbang tentang apakah sebaiknya Ami melanjutkan koass ini mengingat Ami telah menjalani stase bedah sampai separuh jalan, ataukah Ami hendaknya cuti karena sepertinya Ami butuh ketenangan, istirahat, dan juga kehadiran Ayah selalu di sisi Ami sebagai dukungan psikologis.

Pak Dokter mengatakan:

“Kalau bagi saya, kehadiran anak ini adalah amanah. karena amanah, maka saya akan berusaha menjaganya seoptimal yang saya bisa. kita tidak akan pernah tahu apakah akhirnya nanti, tapi paling tidak ada ikhtiar optimalnya. dalam kondisi ini memang harus memilih, dan dalam setiap pilihan memang ada yang harus dikorbankan.”

Ajaib, entah kenapa kata-kata Pak Dokter saat itu begitu saja membuat Ayah dan Ami seketika mantap dengan pilihan untuk cuti dulu dari kegiatan koass dan pulang ke Jakarta sampai usia kamu genap 5 bulan yang pada saat itu proses penancapan plasenta telah selesai dan kamu siap kembali Ami ajak beraktivitas.

Entahlah, sebenarnya tak ada kata-kata atau persepsi baru dalam muatan nasihat Pak Dokter bersahaja tadi, tapi mungkin petuahnya itulah yang memperkuat ghirah Ayah dan Ami untuk memberatkan timbangan pada satu pilihan.

Jika Allah berkehendak untuk memberi petunjuk pada hambaNya, maka tidak ada sesuatupun yang mampu menghalangi petunjuk itu untuk sampai kepadanya…

—————————————————————-

Senin,25 Mei 2009, Argo lawu mengantar Ami kembali pulang ke Jakarta.

ArgoLawu_eksterior2

Sampai Ami menulis paragraf ini, tak ada sedikit pun penyesalan di hati Ami telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari koass sementara waktu dan memilih untuk menghabiskan waktu denganmu sebanyak yang Ami bisa..

-sama sekali tidak menyesal… -

Yang tersisa hanyalah kelegaan. sungguh Ami merasa sangat lega telah mengambil keputusan ini. Insya Allah inilah yang terbaik bagi kita, Nak. Hm, Ami bahagia sekali,, Kita akan berkumpul dengan keluarga dan menikmati indahnya menjadi saksi setiap detik tumbuh kembangmu bersama Ayah dan juga mereka yang Ayah dan Ami cintai,,

—————————————————————-

Selasa, 26 Mei 2009, di Rumah Mereka yang tercinta…

Home Sweet Home

Home Sweet Home

Menenangkan, sungguh tentram berada di samping Bunda, terlebih di saat-saat membutuhkan perhatian optimal seperti ini.

Bunda, bahkan di saat aku telah beranjak tak lagi muda, masih saja tak hentinya diri ini merepotkanmu.

bahkan di kala aku telah bersuami dan seharusnya tak lagi membebani, aku masih saja butuh belaimu..

bahkan di saat aku mengandung dan akan segera memberimu cucu, masih saja aku butuh bantuanmu..

Bunda,, kasihmu takkan pernah lekang oleh waktu

sayangmu selalu menghangatkanku kapan pun itu..

meski kadang terhalang gengsi tuk ucapkan, sungguh tak ingin aku menyesal seumur hidupku jika tak pernah kusampaikan padamu bahwa aku sangat mencintaimu…

—————————————————————-

Sabtu, 30 Mei 2009, Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta Pusat

RSIA Bunda

RSIA Bunda

Hujan lagi, Nak.. setiap Ami kontrol Dokter untuk memantau kondisimu, pasti rinai hujan dan bau tanah basah yang sangat Ami sukai itu turut mengiringi. Menemani setiap langkah antusias Ami menyaksikan dirimu yang semakin hari semakin mendekat dalam dekapan Ami.

Bersama Eyang kakung dan Ayah, Ami menunggu antrian. Kali ini, Eyang kakung memilihkan Dr.Noroyono Wibowo, Sp.OG(K) yang rupanya salah satu dokter ahli senior di Jakarta. Dokter hebat yang juga direkomendasikan karena kepiawaiannya mendiagnosis oleh Bu Dokter yang menangani kita di Solo.

Benar saja, Nak.. hanya dengan sekali melihat gambaran kondisimu dari layar USG, beliau langsung memvonis bahwa telah sejak sepekan lalu perkembanganmu berhenti.

Beliau katakan, Engkau….. telah meninggal, Nak..

Innalillah wa inna ilaihi raaji’uun..

hanya seperti itulah kalimat yang sanggup Ayah dan Ami katakan dengan hampir bersamaan.

Mencoba tampak tegar, Ami dan Ayah mendengar penjelasan dari Dokter tentang kondisi kamu saat ini. Dokter katakan bahwa ada gambaran edema atau penimbunan cairan di bagian kepala dan badanmu dan denyut jantungmu tidak lagi bisa terdengar, karena Tes TORCH Ami negatif sehingga kemungkinan infeksi bisa disingkirkan dan juga tidak ada abortus spontan berupa perdarahan, beliau menduga ini adalah hidrop fetalis yang biasanya disebabkan karena kelainan Hematologi, kemungkinan adalah Thalassemia yang diturunkan dari orang tua.

Dhuaaar! Petir menggelegar, Thalassemia?? bagaimana mungkin.. secara genetis keluarga besar Ayah dan Ami tidak ada yang pernah menderita Thalassemia. Untuk memastikan, dokter membuatkan pengantar laboratorium untuk memeriksa darah Ami dan Ayah agar bisa melihat apakah ada kelainan dalam pembekuan darah sebagai salah satu marker Thalassemia.

Pulang dengan segala gundah, meski tampak terkendali. Ayah menenangkan Ami dalam pelukannya di sepanjang perjalanan. Bagaimana ini, kemarin kamu masih tampak baik-baik saja. bahkan tadi pun Ami melihat, tubuhmu telah terbentuk dengan sempurna.

wajahmu.. hidungmu.. matamu.. tanganmu.. kakimu.. semuanya telah lengkap kau miliki, Sayang…

Ayah, Ami merasa anak kita masih ada dan hidup di dalam sini..

dia hanya sedang lelap tertidur menikmati hangatnya rahim Ami di tubuhnya karenanya dia tak memberi respon apapun..

Lihatlah Ayah, perut Ami masih membesar dan masih melindungi ia dengan aman..

Ami masih merasakan mual-mual itu..

Ami masih rasakan pusing-pusing itu..

Anak kita baik-baik saja, Ayah.. dia masih hadir di tengah kita.. Ayah,

Ami tidak ingin begitu saja ia divonis meninggal…

—————————————————————-

Rabu, 3 Juni 2009. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat.

RSAB Harapan Kita

RSAB Harapan Kita

Senin lalu, hasil laboratorium sudah bisa diambil. setelah melihat hasilnya, Alhamdulillah baik Ayah maupun Ami tidak ada yang membawa sifat/carier Thalassemia. Hmmpppfff….syukurlah. berarti harus berikhtiar lagi untuk mencari tahu penyebab yg lain..

Anakku, semua masih optimis akan kondisimu, bukankah dengan kehendak Allah apapun bisa terjadi? Ami mengakui, Pak Dokter yang kemarin memang sangat pintar dan mendiagnosa dengan baik sesuai tanda-tanda yang kamu tunjukkan di layar USG,

tapi… tak bolehkah Ami berharap lain,,, sepintar apapun.. manusia adalah tempatnya lupa.. maka boleh kan jika sesekali Pak Dokter pintar itu melakukan kesalahan? sekali saja.. Ami berharap beliau salah..

Dengan sigap Eyang kakung menghubungi rekan-rekan seprofesi yang bisa ia kontak untuk mencari second opinion. Sempat muncul beberapa nama seperti Prof. Bambang Karsono, Sp.OG(K) di YPK Jalan Theresia, namun ternyata pasien beliau harus mengantri sebulan sebelumnya, hiks. laris sekali rupanya. lalu ada rekomendasi dari rekan Eyang di RSPAD Gatot Subroto kepada Dr.Nurwansyah Sp.OG di RSAB Harapan Kita. Akhirnya Eyang Kakung memilih RSAB Harapan Kita.

Sesampainya di rumah sakit, ternyata Dr.Nurwansyah Sp.OG sudah lama tidak berpraktek di sana dan pasiennya di rumah sakit ini ditangani Dr.Irvan Adenin Sp.OG. dengan beliau-lah akhirnya Ami berkonsultasi. Ami kembali berbaring untuk diperiksa. Harap-harap cemas, Ami dan Ayah mencoba menebak apa yang akan muncul dalam layar monitor mesin USG. Ami pasrah, Nak.. Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon pertolongan…

Ruangan itu senyap.

Ami menanti.. menanti denyut jantungmu kembali terdengar..

Ayolah Nak.. berjuanglah…

Ami melihat di layar, ukuran panjangmu hanya 2, 6 cm.. itu adalah ukuran untuk janin berumur 9 minggu 6 hari, Nak.. sedangkan usiamu sekarang adalah 11 minggu 1 hari.. seharusnya panjangmu adalah 7, 7 cm..

Ami berharap Ami salah melihat.. Ami salah menghitung.. Ami tidak memakai kaca mata minus Ami, karenanya yang Ami lihat lebih kecil daripada ukuran yang sebenarnya kan Nak? katakan lah Ami hanya salah melihat…

tapi tetap sunyi.

Ayah, Ami, Eyang Kakung, dan Pak Dokter Irvan yang ada di sini,, tidak ada seorang pun yang bisa mendengar detakmu….. ukuranmu pun tetap seperti apa yang Ami lihat, engkau tak kunjung memanjang seperti yang Ami harapkan…

selesai Nak.

usai sudah…. kesenyapan itu telah menjawabnya,,, sebelum Pak Dokter menjelaskan apapun, Ami telah mengerti apa kesimpulannya.. Ami sudah paham apa yang terjadi.. Ayah memandang Ami mencari jawaban, dalam tatapannya Ami membaca bahwa Ayah ingin mendapatkan dukungan bahwa entah apa yang Ayah simpulkan di dalam hatinya itu tidak benar bukan?

Maaf, Ayah.. tapi itu memang benar…

Anak kita telah wafat…

Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…

—————————————————————-

Kamis, 4 Juni 2009. Di Kamar menjelang tidur, beberapa jam sampai tiba menyapa pagi sebelum esok melepasmu pergi ..

Awalnya, Ami tak ingin ada air mata.. tapi… seusai menerima telpon Jiddah ba’da Isya tadi, Ami tak mampu lagi menahan derainya. Jiddah sangat kehilanganmu, Nak.. isaknya begitu memilukan hati Ami.

Maafkan saya Mama, Maafkan karena mama harus kehilangan cucu dari putra tercinta bahkan sebelum genap Mama menyaksikan kehadirannya…

stronging each other...

stronging each other...

Ayah menyeka air mata yang tak henti jatuh dari pelupuk Ami meski pipinya pun basah.. Mendekap erat Ami demi berikan kehangatan dan ketenangan yang sesungguhnya juga sedang Ayah butuhkan..

Dalam pelukan, kami saling menguatkan…

Malam ini.. adalah saat terakhir Ayah dan Ami bersamamu,

sambil mengelus perut Ami, Ayah berharap getaran belainya masih bisa sampaikan pesan padamu bahwa kami sangat menyayangimu agar kamu dapat mengingatnya selamanya…

Insya Allah, kami ikhlas dengan kepergianmu, Nak..

Tak ada yang bisa mencegah jika Allah telah Berkehendak…

Ayah dan Ami yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita bertiga..

Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak tahu,

hanyalah keyakinan akan qadar-Nya yang tersisa, sehingga hati ini dapat lapang untuk membuka tabir hamparan hikmah yang disampaikanNya..

—————————————————————-

Jumat, 5 Juni 2009, Di ruang tindakan kuretase, RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat.

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

di ruang kuretase, ami melepasmu dari pelukan...

Tepat Pukul 10 Pagi,

Ami terbaring dengan baju operasi hijau itu, Ami telah siap melepasmu, Nak.. Dokter Anestesi menyapa Ami dengan hangat, para perawat mempersiapkan alat-alat kuret dengan sigap. Pak Dokter Irvan datang dan mengucap salam pada Ami. tak lama setelah dokter anestesi memasukkan cairan pentotal ke pembuluh darah Ami, Ami mulai merasakan kesadaran Ami menurun, rupanya cepat sekali efek obat bius ini, belum genap hitungan menit Ami sudah tertidur.

Pukul 10.30,

Ami terbangun. rupanya proses kuretase telah selesai, Ami dipindahkan dari ruang tindakan ke ruang perawatan pasca tindakan. sudah ada Ayah di samping Ami. perawat datang mengantarkan hasil kuret di dalam botol bulat transparan. Ada kamu di situ, Nak.. tidak lagi di rahim Ami.. karena sudah dikuret, bentukmu tak tampak lagi seperti waktu di dalam.. hanya terlihat sebatas jaringan-jaringan tubuh yang terendam darah dan larutan fisiologis NaCl..

Pukul 13.00,

waktunya Ami dan Ayah meninggalkanmu di sini ya, Nak.. dokter ahli akan memeriksa jaringanmu untuk keterangan patologi anatomi-mu. . . . .

11 minggu 6 hari...

11 minggu 3 hari...

Di Jumat yang mulia engkau datang kepada kami,

dan di hari Jumat yang agung pula engkau pergi meninggalkan kami,

11 minggu 3 hari bersamamu,

menjadi waktu terlama dalam hidup kami terlebih di minggu-minggu terakhir saat menjelang kepergianmu..

11 minggu 3 hari denganmu,

menjadi waktu tersingkat yang pernah kami rasakan dalam hidup kami, saat mengingat rasa bahagia dan suka cita ketika menyambutmu hadir, terlebih di minggu-minggu pertama kedatanganmu..

Engkaulah kenangan terindah yang takkan pernah Ami dan Ayah lupakan

Kami sangat bangga engkau tersanding menjadi bagian dari perjalanan cinta kami..

Dinda-dindamu kelak akan mengingatmu sebagai kakanda yang kan selalu ada di tengah-tengah mereka, meski hanya dalam kata dan cerita..

Sayang.. Ami dan Ayah akan selalu merindukanmu..

kami percaya, kepergianmu bukan semata-mata hampa makna..

Engkaulah pahlawan bagi kami, yang mengajarkan kami berbagai ilmu berharga dan penuh hikmah..

Insya Allah semoga Allah mencatatmu sebagai penggugur dosa-dosa yang telah Ami dan Ayah lakukan

Kehadiranmu.. pula kepergianmu.. semoga memberi pencerahan bagi siapapun yang bisa mengambil manfaat.. Alhamdulillah.. Subhanallah.. Allahu Akbar..

Milladunnaa ‘ilmaa.

Hanya dari sisi Kami-lah pengetahuan tentangnya berada. itulah namamu..

Pulanglah, Nak.. Kembalilah ke sisiNya.

Kelak, Sambutlah kami dengan senyum terindahmu di pintu Jannah-Nya…

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan, Sayang...

Selamat Jalan…

***

Dalam Kebahagiaan, manusia tidak akan mampu bersyukur ketika dia tidak bersabar

Dalam Kesedihan, manusia tidak akan mampu bersabar ketika dia tidak bersyukur

sungguhlah ada batas yang tak bersekat antara Sabar dan Syukur itu..


Semoga Allah Menjadikan kita bagian dari Orang-orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam menjalankan setiap elegi cintaNya..

Aamiin….

Jakarta, 7 Juni 2009

Tanpa Editing, belum sanggup baca lagi euy! hehe

tulisan yang mengalir begitu saja, jadi maap-maap kalo ada salah tulis, salah EYD, nada-nada kalimat yang kurang merdu dan ada feel kalimat yang kurang maknyus.. hehe.

Semoga bermanfaat. ^____________^

P.S:

beberapa kali menyebutkan nama dokter dan rumah sakit tertentu, semoga ga dipenjara sayah,, heuheuu.. kan ga ngejelek2in ato memfitnah tho?^_________________^

Comments (6)

Untuk YanG AkaN sEgeRa MeniKaH, bERencaNa MeniKah, IngiN mEniKaH, AtAupuN SuDaH mENIkaH

Di Sebuah Kamar yang menjadi saksi tangis dan tawa kita, 23.45 WIB

Bismillah..

Belum bisa tidur,, padahal besok pagi harus dobel masak sekalian buat bekal makan siang kamu di kantor :) , karena hari selasa adalah jadwal pengajian tafsir ba’da dhuhur di kantor, jadi ga pulang deh siangnya. sambil nongkrongin facebook, iseng2 bikin note di samping kamu yg sudah tertidur pulas,, kamu lucu banget sih kalo lagi tidur begitu, sayang.. kayak anak kecil,hehe.

tak terasa, sudah 57 matahari terbit kita saksikan berdua setelah sekian lama melihat cerahnya sendiri saja.Sepertinya baru kemarin kamu mengikrarkan ijab qabul sambil menjabat tangan Bapak, dan ‘membeli’ kehalalanku atasmu dengan seperangkat alat shalat, surat Ar-Rahmaan, dan uang sebesar 307 Ribu Rupiah 86 Real.

Momen indah yang begitu menegangkan sekaligus mengharukan.
‘Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
subhanallah,,,betapa ayat yang kamu lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku,, ‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’.. berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaanu

Hal Jazaa'ul Ihsaani illaa Al-Ihsaan.. Fabiayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaan

agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _

Pernikahan itu indah dan menenangkan. Semoga tidak terlalu terburu-buru aku mengatakannya mengingat dua purnama saja belum genap aku menjadi bagian kisahnya. Namun ijinkan aku menuliskan itu untuk meyakinkan para rekan yang tengah ragu melangkah menghampirinya.
Beberapa ada yang bertanya baik dengan serius ataupun sekedar membuka obrolan tentang bagaimana rasanya menikah atau tentang apakah yang jadi berbeda antara sebelum dan sesudah menikah(hayo, ngaku.. siapa yg pernah nanya begituu?:D:D ). Karena sepertinya itu adalah the most lovable question setelah pertanyaan ‘dah isi belom?’-hmmmmm, hehe,,doakan yang terbaik yaa.. ikhtiar mah tetep insya Allah ^^- sehingga membuatku berpikir lagi untuk tidak sekedar menggugurkan kewajiban dengan menjawab:
‘yaaa.. jelas beda, ntar rasain sendiri deh pas udah nikah:)’.

Hmm, teman,, setelah menikah sebagai seorang perempuan tentu perbedaan yang paling pertama kurasakan usai mitsaaqan ghalidzaa itu terucap adalah berpindahnya pengutamaan ketaatanku setelah kepada Allah yaitu dari orang tuaku kepada beliau, suamiku.
Perginya aku ke suatu tempat adalah atas ijinnya,
memutuskannya aku atas suatu perkara adalah atas persetujuannya,
pilihanku atas busana yang kukenakan adalah atas ridhanya,
berteman aku dengan seseorang adalah dengan restunya,
bukan lagi atas orang tuaku terlebih dahulu.Jelas bukan, perbedaannya? :-)

Sejak aku mulai membuka mata di pagi hari hingga ku memejam mata pada malamnya, yang ada di sisiku bukan lagi sebuah angin sepi, tapi ada seseorang di sini. Aku telah menjadi seorang istri, ada tanggung jawab dan hak di pundakku yang tentunya sangat berbeda dibanding aku semasa sendiri saja. Ada seseorang yang harus kuurusi dan kulengkapi kebutuhannya. Aku sebagai istri bertanggung jawab untuk mengurus dirinya, dari mulai membuatkan minuman hangat di pagi hari, menyiapkan sarapan,memastikan bahwa ada pakaian matching dan telah siap ia gunakan untuk berangkat ke kantor, mengupayakan semaksimal mungkin agar ia tidak jatuh sakit, merawatnya ketika mulai flu dan bersin-bersin agar tidak menjadi parah, dsb. Aku juga bertanggungjawab mengelola tempat tinggalnya dan memenej keuangan rumah tangganya.

Hidup dengan orang yang tadinya asing di bawah satu atap yang sama selama 7×24 jam dalam sepekan bukanlah hal yang mudah, aku harus menyesuaikan kebiasaan yang telah lama kubawa sejak kecil dengan kebiasaannya yang juga telah menjadi adatnya sedari dulu.
Misalnya saja, aku tidak bisa tidur tanpa kipas angin yang menyala sedangkan suamiku sangat tidak tahan jika menghadap kipas angin selama tidur, alhasil kadang aku harus berela diri kepanasan sepanjang malam atau suamiku terpaksa kembung-kembung dan masuk angin saat bangun di pagi hari sehingga aku harus memijatnya^^.
Atau aku yang suka dengan makanan yang bergenre asin dan tidak terlalu suka manis, sedang suamiku sangat suka makanan yang manis dan berkecap, apapun masakannya harus ada kecap di meja:-) (yang awalnya sangat aneh bagiku, masa soup jagung macaroni dikecapin*__*, tapi lama-lama ya terbiasa juga, hehe) sehingga aku harus menyesuaikan saat memasak makanan, ketika kucicipi sudah terasa pas kutambah satu/dua sendok gula atau kecap sehingga menjadi pas untuk suamiku, dulu waktu belum tau trik-nya masakanku selalu dibilang kurang manis melulu, -ya kan, mas?- hehe,..

Aku katakan pernikahanku indah bukan berarti tidak ada riak-riak dalam rumah tanggaku. Ombak kecil itu biasa, orang bilang sebagai bumbu katanya, tapi sungguh ungkapan itu bukan bohong, itu benar-benar bumbu yang menyedapkan dan membuat indah.
Sejak awal memutuskan menikah dan dengan siapa akan menikah, perbedaan yang sifatnya prinsip, seperti visi, misi, komitmen yang perlu ditunaikan satu sama lain, keselarasan cara pandang,dsb sebaiknya harus telah diseleksi sedetail mungkin sehingga ke depannya nanti tidak perlu ada konflik besar yang bukan lain dan jelas pasti biasanya berasal dari perbedaan hal-hal prinsip seperti tadi. Yang tinggal hanyalah pasir-pasir dan sedikit kerikil kecil yang melengkapi pesona pernikahan itu sendiri, pesona saat saling merajuk dan meminta maaf, pesona saat berhasil memecahkan keheningan dengan rayuan dan gombalan yang membuat rindu,pesona ketika sama-sama menemukan bagaimana harus saling menyikapi saat aku sedang begini dan suamiku sedang begitu.

mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

Seni mengukir pesona dengan pasir dan kerikil,, bukankah itu layak disebut indah? ^_^

Kukatakan juga bahwa pernikahan itu menenangkan. Kadangkala, sebagian orang mendefinisikan bahwa rasa biasa, tak lagi bergejolak seperti dulu sebelum menikah,tak lagi menggebu-gebu layaknya dahulu belum saling memiliki, dsb adalah refleksi dari kebosanan yang merupakan ancaman bagi pernikahan.
Tapi kami berdua mencoba memandangnya dari sudut yang berbeda, bagi kami ketidakmenggebuan itu adalah rasa tenang, ketidakbergejolakan lagi itu adalah rasa aman, yang merupakan wujud dari sebuah anugerah dan nikmat yang luar biasa yang tiada akan dinikmati jika belum merasakan pernikahan. Karena itulah Al-Quran menyebutnya sebagai Sakinah. Rasa tenang, aman, damai karena telah ada seseorang di sisi. Rasa tentram, nyaman, dan lega yang justru menciptakan kasih sayang yang menggelora lebih daripada yang pernah kita duga.
Menenangkan bukan?^_^

Yang juga menjadi sangat berbeda bagiku setelah menikah adalah dengan gratis aku dianugerahi sebuah keluarga lagi. Sekarang aku punya 2 Ibu dan Bapak, saudara perempuanku ditambah lagi 3 orang, saudara iparku ditambah juga 3 orang, aku juga punya keponakan kandung 3 orang dalam sekejap. Menyenangkan bukan?^^.
Sebagai orang baru, aku harus pintar-pintar bersikap dan mengelola diri dalam bersosialisasi dengan mereka. Bagi papa dan mama, aku adalah anak bungsu mereka bukan lagi menantu. Saudara ipar bukan lagi ipar karena sudah menjadi kakak kandungku sendiri. Menyenangkan sekali menjadi bungsu :) -bukan kamu lagi bungsunya, mas^_^-. Tidak perlu memark-up diri di hadapan mereka, cukup menjadi diri sendiri dan menyesuaikan sebaik mungkin sehingga rasa saling mencintai itu bisa tumbuh dari hari ke hari dengan alami.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ___ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Aku selalu terkesan dengan kasih sayangmu itu setiap hari.

Every day I Love You, Mas... Insya Allah...^_^

Every day I Love You, Mas... Insya Allah...^_^

Ada saja sikapmu yang membuatku merasa menjadi yang paling berharga bagimu.

Dibuat istimewa oleh orang yang sangat istimewa membuatku tak henti bersyukur dan bertahmid bahwa Milik Allah-lah segala Puji.

Subhanallah, lindungilah kami berdua, Ya Allah..

Berikanlah kekuatan kepada kami agar bisa menciptakan keindahan dan ketenangan ini selamanya sampai kami kembali Engkau himpun dalam Surgamu..

Hasbunallah..

cukuplah Engkau sebagai Pelindung dan Penolong bagi kami.

Fawatstsiqillahumma Raabithatahaa, Wa Addim wuddahaa…

-Semoga Bermanfaat-

Comments (8)

The Original Song of Maltavista

Our Graduation...

Malagasiy:Our Graduation...

Malta Vista,,,
Kenangan indah tiada pernah usainya
Terikat kasih dan sayang
Jalinan penuh makna
Merenda persahabatan suka duka bersama

Malta Vista,
Diamku bukan arti tak cinta
Tidurku bukan arti tak bela
Sgala salahmu tak tanda pupuslah ukhuwah kita
Tak ada yang sadari, jauh di lubuk hati aku bangga

Malta Vista oh Maltaku…
Dedikasiku untukmu
Terjaga dirimu oleh jiwa kami yang bersatu
Tetap kokoh pribadimu selalu

Malta Vista oh Maltaku…
Ku kan slalu rindukanmu
Walau rintangan membentang walau godaan menghadang
Ku kan pasti tetap sayang kepadamu
Oh, Maltaku…

Comments (4)

Saat Kau Menyapa

silir angin membisik
dalam hening,
sampaikan sapamu Cinta

dan ku melihatnya
sedalam rindu yang kau rasa
melalui hati yang ku jaga
dengan ijinNya

dengarkanlah, Cinta
mereka beresonansi dengan indahnya
melantunkan irama megah
iringi tiap detik
yang selalu kuhitung
saat menantimu
di sini… di sisiku…

(Huhuhu…aku ni knapa… ko jadi  melloo banget.. huks..huks..!)

Comments (3)

Hingga Tiba Masanya…

selangkah lagi...

selangkah lagi...

karena menghitung hari hingga hadir saat itu

semua pun tampak merah jambu…

semoga takkan lagi menjadi kelabu…

terimakasih…

telah menghadirkannya

dalam ketulusan dan apa adanya

kala menikmati tiap detik yang bergulir

aku berkata dalam hatiku

belum pernah ada yang menganggapku istimewa seperti ini

karena demi Tuhan!Aku ini biasa saja…

sungguh ini sudah lebih dari cukup…

Comments (1)

Senja di Akhir Sya’ban

perjalanan masih panjang... saatnya melihat ke depan dan pulang...

perjalanan masih panjang... saatnya melihat ke depan dan pulang...

senja tersenyum anggun bersama semburat jingga dan merah tua

hadirkan untukku rangkaian slide yang terekam sepanjang perjalanan hidupku

aku terhenti bersama dahan akasia yang tak lagi melambai

meneliti barangkali ada yang luput kuamati.

sejauh ini, apa saja yang telah terjadi…


tak ada yang salah dengan masa lalu

kuharap aku akan selalu berpikir begitu

meski sisi manusiaku malu


berpikir,

begitu ruah melimpah kasih telah tercurah

meski seringkali sengaja berpaling muka

tapi tetap saja ada cinta

gundah,

menjadi takut aku jadi tak pandai bersyukur

seperti senja…

yang ingin segera mengakhiri siang namun resah menyambut keindahan malam

aku kaku di antara sebuah akhir dan awal

seperti apakah cahaya di balik gulita langit itu

ku dengar begitu menawan

tapi aku ragu mencari tahu

seperti meninggalkan Sya’ban yang berarti menyapa Ramadhan

sebuah suka cita bagi siapapun yang rindu limpah kasihNya

tak pantas lagi mengulur waktu

aku pun bergegas

menari bersama irama yang telah terbiasa menjadi melodi hidupku

Leave a Comment

Older Posts »