~Muara Ikhtiar Cinta~
-Alidina Nur Afifah-

Perih.
Tak ingin mengawali kisah ini dengan keluhan menyakitkan. Tapi begitulah sketsa hidupku ini bermula. Setidaknya, aku ingin mereka yang juga pernah mengalami hari-hari yang sama, mereka yang pernah terpuruk dan tak tahu lagi harus bagaimana, mereka yang merana karena merasa Tuhan tak Adil padanya dapat mengerti bahwa justru sayatan ini adalah nyanyian keadilan dariNya, tiupan cinta yang takkan pernah sampai ilmu kita meraba dan melagukanNya, dan justru dari kelukaan ini aku dapat melompat lebih tinggi jauh dari yang sanggup kuduga, terjun lebih dalam ke dunia hati yang telak berbeda, terbang lebih bebas di alam yang tak lagi sama.
Sebuah nuansa telah menculik pemahamanku hingga sekedip mata saja muatan pesonanya bisa mengantar diriku menukar hidup yang telah kujalani lebih dari dua dasawarsa dengan rangkaian diorama yang asing. Keasingan yang saat itu baru kutahu bahwa sungguh inilah yang mestinya kumiliki sedari dulu. Inilah titik tolak perubahan paradigma yang ikut merevolusi seluruh sudut pandang pikirku. Pena cinta-Nya telah berbicara, memilihkanku alur tak rata yang indah dan sangat kunikmati sepanjang perjalanannya.
Mahasuci Dia, Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka hanya berkata kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah ia”
# # #
Angin Januari berhenti menghembus, seolah beresonansi dengan detak jantungku yang seketika saja lumpuh untuk beberapa saat…

Aku terhenyak. Setelah puluhan purnama setia dan percayaku menyertainya, begitu saja ia hempas diriku dari kejauhan. Lumpuh. Saat-saat seperti ini kurasakan benar habis dayaku.
Di tengah ujian akhir semester yang semestinya total kulalui dengan tiupan semangat dan dukungannya, aku malah kaku dan beku karena ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Pergi meninggalkan diriku yang hancur dan berkabung bersama hasil ujian yang menyedihkan.
Sudah sejak beberapa tahun ini, aku bimbang. Bimbang dengan pemikiranku sendiri.
Inikah yang dinamakan fase pencarian jati diri itu?
Apakah saat ini aku sedang mengalaminya?
Aku merasa tak yakin dengan apa yang aku perbuat, aku sedang mencari sebuah pembenaran yang logis dan hakiki atas setiap apa yang kuputuskan. Namun aku tak kunjung menemukannya… aku masih saja merasa abu-abu, tak ada yang hitam buatku saat itu, pula tak yakin bahwa sesuatu putih untukku di masa yang sama.
Ada yang salah, selalu merasa ada yang salah tapi aku tak tahu mengapa demikian.
Terlebih saat kucoba memaknai hubungan ini, hubungan semacam apa ini? Benarkah demikian cara yang baik untuk mencari pendamping hidup yang tepat? Aku telah tahu ini tidak benar, tapi aku tidak sanggup berlari… Aku sudah paham yang kupilih rupanya salah, tapi aku tak mampu pergi…
Entah, rasanya aku belum siap untuk kehilangan lagi. Ya, lagi. Dahulu, jauh di masa itu. Aku pernah merasakan perihnya dikhianati, aku pernah melalui masa-masa itu, masa dimana aku begitu terpuruk karena harus ditinggalkan untuk perempuan lain. Betapa waktu itu, kurasakan hidup dan kepercayaan diriku telah direnggut oleh kepergiannya. Aku sangat kecewa dan tak sedikit pun bisa menerima ribuan alasan yang disampaikannya, sampai-sampai romansaku telah berkerak menjadi benci, rasa benci yang sampai kini masih tak jua bisa kuampuni.
Susah payah aku merangkak dari kubangan. Tertatih mengais langkah yang masih tersisa dalam energiku. Kembali menghimpun kepingan yang remuk redam menjadi kekuatan seorang perempuan yang tak lagi ingin disepelekan. Hingga akhirnya dia datang menawarkan kebahagiaan versiku saat itu.

Begitulah bagaimana kebimbangan itu begitu mengusik. Lebih dari separuh perjalanan bersamanya, aku merasa mulai ada ruang-ruang hampa dan tak tersentuh di hati. Terombang-ambing di persimpangan dan gundah hendak melangkah kemana. Aku ingin segera memilih arah, tapi seperti ada yang tak rela kutinggalkan…
Pada mereka semua ada iman yang bersemayam di dalam dadanya. Kalaupun manusia bergelimang dosa, ingkar, durhaka, kafir bahkan atheis sekali pun, fitrah manusia tetap tidak berubah. Iman di dalam dada mereka tetap kekal adanya.
Aku malu, ternyata energi hijrahku saat itu belum sekuat rasa takutku. Begitu mudah mengatakan bahwa hanyalah Allah yang pantas kita takuti, tapi ragaku sangat sulit untuk mengerti sehingga ia diam dan tak kunjung bergerak. Aku sedang tertahan dalam perang pemikiranku.
Boleh jadi itulah sebab mengapa kemudian aku memintanya untuk sesegera mungkin menikahiku. Aku pikir, ini adalah jalan tengah yang bisa -sementara waktu- memfasilitasi resahku. Meski sejujurnya aku tak yakin benarkah seperti ini yang disebut terfasilitasi?
Egoku menolak untuk berpikir lebih jauh, yang paling penting bagiku adalah ia pun telah sepakat. Sehingga dalam hitungan tahun, dengan memegang komitmen yang sesungguhnya lebih layak disebut pembenaran itu kujadikan ia sebagai dalih untuk tetap bertahan pada kondisi ini. Paling tidak, dengan memiliki target mengakhiri hubungan yang tak sempurna ini ke jenjang yang halal, aku boleh merasa tenang. Hmm, Tenang? Sungguhkan aku merasa tenang??
Oh… betapa diri ini rindu mengadu. Mengadu tuk akui bahwa sekuat apapun aku menyangsikan, cahaya-Mu tetap tampak terang kulihat meski dari kejauhan. Tak dapat kupungkiri sinar-Mu itu menarik hati dan ingin segera kurengkuh dalam luas yang tak bertepi. Tapi aku terkungkung di sini, terjebak oleh rasa yang masih tak bisa kukendali. Aku ingin segera menyapa, tapi tak tahu harus bagaimana.
Hingga akhirnya, dalam kebekuan malam di atas hamparan sajadah meluncurlah harap dan pinta itu melalui aliran air mata pasrah kepada Yang Maha Menggenggam hati.
“Yang terbaik, Ya Allah”
Kata-kata yang selama ini takut sekali kuucapkan. Kalimat yang selalu saja kuhindari untuk kupanjatkan padaMu, Ya Rabb. Dalam doa-doa sebelumnya, pintaku hanya sanggup bersuara sampai dalam batas “jodohkanlah kami”, “tetapkanlah hati kami satu sama lain”, atau “mudahkanlah langkah kami”.
Karena aku masih resah bagaimana jika Engkau Mengabulkannya. Aku takkan pernah siap melepasnya. Aku tidak siap untuk menerima kenyataan jika dia bukanlah yang terbaik untukku sebagaimana kehendakMu, Allah…
Tapi malam ini, telah sampailah masanya aku melangkah, tidak lagi jalan di tempat, tidak lagi diam dalam gelisah, dengan sepenuh hati dan jiwa aku sungguh pasrah Ya Allah… Berikanlah aku petunjukMu… Aku mohonkan yang terbaik, Ya Allah…
Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagiku… Yang Terbaik…
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
* * *

Hingga tak selang dari 2 bulan sejak aku memberanikan diri mengubah kalimat doaku, Januari ini, tabir itu tersibak sudah…
“Maafkan aku”
Hanya sederet kata itulah yang bisa diucapkannya dari telepon seberang.
Aku masih tidak bisa berdamai dengan isakku yang semakin menjadi-jadi sehingga tidak sanggup bicara. Dia pun hanya terdiam, mungkin sedang bingung kalimat seperti apa yang pantas dipilihnya di saat-saat seperti ini.
“ada apa? Kenapa harus begini tiba-tiba?apakah ada yang salah denganku? katakan apa itu?aku ingin sekali memperbaikinya dan kita tidak perlu seperti ini, Iya kan? bukankah masih bisa kita bicarakan lagi?”
aku berusaha bertanya sebanyak yang aku bisa sebelum aku kembali terisak dan tidak bisa berkata lagi. Dan benar, aku tak dapat menahan tangisku lagi.
“Tidak. Tidak ada yang salah denganmu. Aku hanya…” Dia terbata, dan kembali terdiam.
“Aku hanya tidak bisa berhubungan jarak jauh seperti ini. rentang ini jauh sekali untukku…”
Keluhnya perlahan.
“kenapa baru kau katakan sekarang? Kita telah berulangkali membahasnya. Bukankah kita sama-sama telah sepakat itu adalah bagian dari resiko sebuah komitmen…”
Aku mencoba tetap berpikir logis, padahal semua juga tahu, sulit sekali bagi seorang perempuan untuk berpikir logis dalam kondisi seperti ini.
“baiklah, kuakui itu bukan semata-mata sebuah alasannya. Aku hanya… Hhhhh…Aku hanya belum siap dengan pernikahan yang sangat kau inginkan itu. Kamu tau, aku masih kuliah. Masih banyak yang harus kulakukan. Aku masih ingin bekerja empat atau lima tahun lagi sebelum aku menikah”
Kalimatnya terhenti, ada luapan hati yang coba ditahannya.
“Setahuku, kau tidak pernah keberatan dengan yang kau bilang ‘keinginanku’ itu, kupikir itu ‘keinginan kita’… ” ujarku mulai goyah.
“Hmmm… Kau harus tahu. Sejak awal, aku ingin menganggap hubungan kita ini sebatas hubungan anak muda pada umumnya. Go with the flow! Kita tidak pernah tahu apa akhir dari semua ini. Anggaplah ini sebuah kesenangan masa lajang yang bisa kita nikmati. Tidak perlu berpikir rumit tentang ini dan bagaimana di kemudian hari. Kita masih muda, Demi Tuhan! (more…)